Tiba di Kota Lok Yang

Apa yang terjadi dengan Ouwyang Ping?

Ouwyang Ping tengah mandi di kolam yang berair amat jernih. Ia merasa gembira sekali dan tak ragu-ragu mandi dengan melepas seluruh pakaiannya. Ia merendam seluruh tubuhnya dan membiarkan hanya kepalanya saja yang tampak di permukaan. Saat itulah seseorang datang.

Orang itu adalah seorang pria bertubuh tinggi besar dan kasar. Mulutnya menyeringai melihat Ouwyang Ping. Matanya tampak buas sewaktu melihat tubuh indah yang terlihat samar di bawah air yang bening.

Ouwyang Ping menjerit kaget dan takut sambil berusaha menutupi tubuhnya. Ia tak dapat berenang ke tepi dan mengambil pakaiannya karena pria itu justru berdiri di dekat pakaiannya.

“Naiklah ke sini, Nona cantik,” kata pria itu dengan suara serak.

Wajah Ouwyang Ping pucat pasi. “Pe... pergi kau!” serunya marah.

“He he he! Mana mungkin aku meninggalkan gadis secantik kau? Ayolah, aku akan baik padamu,” bujuk pria itu dengan seringai kurang ajar. Ia maju semakin ke tepi dan mulai melepaskan ikatan jubahnya.

“Jangan mendekat!” teriak Ouwyang Ping panik.

Pria itu terus bergerak. Namun....

“Kurang ajar!” bentak seseorang.

Baik pria itu maupun Ouwyang Ping menoleh, pria itu dengan marah dan Ouwyang Ping dengan penuh rasa syukur. Gadis itu hampir menangis karena lega. Sejak tadi ia ketakutan. Ia tidak rela jika orang yang kurang ajar itu menyentuhnya sekejap pun.

“Kakak Wan!” seru gadis itu penuh kelegaan.

Pria kurang ajar itu mendelik marah. “Siapa kau? Dasar pengganggu!” makinya.

“Kau sendiri siapa?” geram Chien Wan. “Yang pengganggu itu kau sendiri. Sungguh tak tahu malu mengganggu gadis baik-baik!” bentaknya dengan nada tajam dan sinar mata buas memancarkan amarah.

“Keparat!” hardik orang itu. “Pemuda lemah, beraninya kau mengatakan aku demikian! Kau tahu siapa aku? Aku adalah Hao Sing Yat, Pendekar Bertenaga Harimau dari Kang Lam!”

Chien Wan tak pernah mendengar nama itu. Ia mendengus dingin. “Kausebut dirimu ‘pendekar’? Orang yang suka mengganggu perempuan tak pantas menyebut dirinya pendekar!”

“Keparat cilik!!” raung Hao Sing Yat sambil menyerang Chien Wan tiba-tiba.

Chien Wan mengelak dari serangan itu. Lalu ia membalas serangan itu dengan gerakan silat yang luar biasa lincah dan kuat. Tuan Ouwyang Cu telah melatihnya dengan ilmu silat tingkat tinggi khas Lembah Nada. Orang-orang di Lembah Nada memiliki ciri tersendiri. Gerakan kungfu mereka sangat lentur. Mereka bersilat seperti sedang menari. Sangat ringan dan berirama, seolah-olah melayang.

Hao Sing Yat terkejut mengenali ciri khas itu. Ia melompat mundur.

“Kau... kau... kau dari Lembah Nada?” serunya terbata-bata.

“Benar!” jawab Chien Wan tegas.

Mendengar jawaban itu, Hao Sing Yat melompat pergi tanpa berkata apa-apa lagi. Chien Wan tak mengejarnya. Ia lebih mengkhawatirkan Ouwyang Ping. Dihampirinya gadis yang masih ada di bawah air itu. Bibir gadis itu menggeletar kedinginan.

“Ping-er, kau baik-baik saja?” tanya Chien Wan prihatin.

Ouwyang Ping mengangguk dengan wajah memerah malu. Mulanya Chien Wan tak mengerti mengapa gadis itu tersipu-sipu seperti itu. Ia memperhatikan gadis itu dan pandangannya terarah ke bawah air. Seketika ia sadar bahwa gadis itu dalam keadaan polos. Chien Wan cepat-cepat berbalik membelakangi Ouwyang Ping.

“Kau... kau berpakaian dulu. Aku... aku harus mengurus sarapan kita....” suara Chien Wan terbata. Ia berkelebat pergi sambil berusaha menenangkan jantungnya yang berdebar tak keruan.

Setelah Chien Wan pergi, Ouwyang Ping melihat ke segala arah dan melompat keluar setelah yakin bahwa di sana tak ada siapa pun. Ia cepat-cepat berpakaian. Ia segera meninggalkan kolam itu.

Ketika Ouwyang Ping tiba, Chien Wan tengah duduk sambil membalik-balik kelinci di atas api unggun.

“Kakak Wan....”

“Dagingnya belum matang. Kau duduk saja dulu,” ucap Chien Wan tanpa menoleh. Ia masih harus mengendalikan debaran jantungnya yang memukul bertalu-talu. Ia telah melihat apa yang seharusnya tak boleh dilihatnya. Walau hanya samar-samar dan tak begitu jelas, ia merasa bersalah. Ia sama sekali tak berniat buruk tadi.

Ouwyang Ping duduk di hadapan Chien Wan tanpa mengatakan apa-apa. Ia hanya *******-***** jarinya dengan gelisah.

Chien Wan melirik gadis itu dan menghela napas. Ia mengangkat kelinci panggangnya dari api dan menghampiri gadis itu. Ia duduk di hadapan Ouwyang Ping dan menyodorkan kelinci itu. “Makanlah, Ping-er. Setelah ini kita harus segera melanjutkan perjalanan.”

Ouwyang Ping mengangguk, lega. Kelihatannya Chien Wan sudah biasa lagi, maka ia pun bersikap seperti biasa lagi. Ia tersenyum dan menyobek sedikit daging kelinci, lalu mulai menyantapnya. Chien Wan juga mengunyah bagiannya. Rasa daging itu hambar dan sedikit pahit karena agak hangus. Ouwyang Ping hampir saja berkomentar, namun ditahannya karena teringat bahwa indera pengecap Chien Wan tak berfungsi.

Setelah selesai sarapan, mereka membereskan barang-barang dan pergi meninggalkan tempat itu.

***

Kota Lok Yang merupakan kota yang cukup besar dan ramai. Penduduknya cukup padat dan kebanyakan dari mereka berprofesi sebagai pedagang. Jalanan kota nyaris tak pernah sepi dari keramaian karena selalu ada orang melintas di sana. Rumah-rumah makan juga selalu penuh—terutama pada jam makan. Namun pada kesempatan kali ini, kota tersebut tampak jauh lebih ramai dari biasanya. Pertemuan para pendekar yang diadakan di kediaman Pendekar Sung adalah penyebabnya.

Di jalan-jalan kota, tampak melintas orang-orang berpakaian ringkas. Mereka berbaur dengan pedagang dan masyarakat kota yang ada di sana. Penampilan mereka cukup mencolok dan mengundang perhatian masyarakat karena banyak yang membawa senjata, mulai dari pedang, tombak, toya dan sebagainya. Ada juga yang tak terlalu mencolok karena hanya membawa kipas, namun kipas juga dapat digunaka sebagai senjata yang tangguh.

Ketika Chien Wan dan Ouwyang Ping tiba, tak banyak orang yang memperhatikan. Alat musik yang mereka bawa membuat orang mengira mereka hanyalah pemusik biasa. Kecantikan Ouwyang Ping-lah sebenarnya yang lebih banyak mengundang perhatian.

“Kakak Wan, kota ini ramai sekali!” desah Ouwyang Ping—yang terbiasa dengan kesunyian Lembah Nada.

Chien Wan diam saja. Sebenarnya ia tak terlalu menyukai tempat-tempat yang ramai. Kalau saja ia tidak berkewajiban menjalankan perintah gurunya, ia jauh lebih suka diam di Lembah Nada.

“Aku lapar, Kak. Bagaimana kalau kita makan dulu?” usul Ouwyang Ping.

Saat itu memang sudah waktunya makan siang, maka Chien Wan mengangguk. Mereka menuju rumah makan yang terdekat, yang ramai oleh orang-orang berpakaian khas Dunia Persilatan.

Seorang pelayan mengajak mereka ke satu-satunya tempat yang tersisa, yakni di sudut. Pelayan itu menuangkan teh panas dan bertanya, “Mau pesan apa, Tuan?”

“Nasi dan dua macam sayur,” sahut Ouwyang Ping.

“Bawakan juga sup pangsit,” tambah Chien Wan.

Si pelayan mengangguk dan meninggalkan mereka dengan terburu-buru untuk mengambilkan pesanan mereka.

Ouwyang Ping memandang Chien Wan dengan heran. Chien Wan tak pernah menginginkan makanan yang macam-macam sebab menurutnya itu percuma saja. Makanan selezat apa pun tak akan bisa dinikmatinya sebab terasa hambar di lidahnya. Jadi mengapa sekarang....

Chien Wan menoleh dan melihat keheranan di mata gadis itu. “Sup itu bukan untukku, tapi untukmu. Kau suka sup pangsit, kan?”

Ouwyang Ping semakin heran, namun kini ditambah dengan rasa haru. Ia memang sangat menyukai sup pangsit, namun ia tak pernah mengatakannya pada Chien Wan. Bagaimana Chien Wan bisa tahu?

“Sewaktu di Lembah Nada, saat kita makan bersama, yang selalu kau tanyakan pertama kali adalah: apakah juru masak membuat sup pangsit. Jadi aku menarik kesimpulan bahwa makanan kesukaanmu adalah sup pangsit,” kata Chien Wan, menjawab keheranan gadis itu.

“Jadi..., selama ini Kakak Wan memperhatikan kelakuanku di meja makan, ya?” seru Ouwyang Ping dengan wajah merah.

Chien Wan hanya tersenyum kecil.

Pelayan datang membawakan pesanan mereka. “Silakan, Tuan, Nona.”

“Terima kasih,” ujar Chien Wan. “Apakah kau tahu di mana kediaman Pendekar Sung?”

“Di ujung jalan ini, Tuan.”

Sepeninggal pelayan, mereka menyantap makanan itu. Ouwyang Ping menghirup kuah supnya dengan nikmat, membuat Chien Wan menunduk menyembunyikan senyumnya. Dalam berbagai hal, gadis itu selalu menampakkan kedewasaannya. Namun seringkali Chien Wan melihat kelakuannya yang menunjukkan bahwa sebenarnya ia masih remaja yang kekanak-kanakkan.

Setelah selesai mereka membayar makanan dan pergi meninggalkan rumah makan itu. Lalu mereka menuju kediaman Pendekar Sung. Namun pertemuan para pendekar baru akan dilangsungkan esok harinya. Berarti malam ini mereka harus mencari penginapan. Mereka pergi ke penginapan yang terletak tak jauh dari kediaman Pendekar Sung.

“Tuan, kami hendak memesan kamar,” bilang Ouwyang Ping.

Pemilik penginapan memandang mereka dengan wajah menyesal. “Wah, semua kamar telah terisi, Nona. Sekarang sedang diadakan pertemuan para pendekar. Semua penginapan di kota ini penuh,” beritahunya.

Ouwyang Ping memandang Chien Wan dengan penuh tanda tanya.

Saat itu, masuklah tiga orang muda-mudi ke dalam penginapan. Kebetulan juga, Chien Wan tengah melihat ke arah pintu masuk.

Mereka sama-sama terkejut.

Bersambung.

Terpopuler

Comments

Eros Hariyadi

Eros Hariyadi

Lanjuuuutt 😝😎💪👍🙏

2024-01-15

0

Eros Hariyadi

Eros Hariyadi

Akhirnya sampai juga laaahh...ke Kota Lok-Yang, setelah makan kenyang di restoran, giliran mo mencari penginapan penuh semuanya...saat itulah Chien-Wan bertemu dengan ketiga sahabatnya dari keluarga Luo....😝😄💪👍👍👍

2024-01-15

0

Pasaribu Hengky

Pasaribu Hengky

semangat thor 👍👍👍💪✍️✍️✍️

2023-06-25

2

lihat semua
Episodes
1 Wisma Bambu
2 Paviliun Taman Belakang
3 Paman Khung
4 Chi Meng Huan
5 Suling Bambu Hitam
6 Ting Ting Diculik
7 Ketua Persilatan
8 Misi ke Lembah Nada
9 Empat Tambur Perak
10 Ouwyang Ping
11 Diangkat Menjadi Murid
12 Latihan Keras
13 Dilema Cinta Pertama
14 Bahagia di Lembah Nada
15 Berpetualang Bersama
16 Tiba di Kota Lok Yang
17 Reuni
18 Pertemuan Para Pendekar
19 Tuan Muda Chang
20 Penampilan Perdana
21 Hati ke Hati
22 Hati yang Luka
23 Di Bukit Merak
24 Dewa Seribu Wajah
25 Mencari Chi Meng Huan
26 Terperangkap
27 Rencana Chang Fei Yu
28 Kelelawar Hitam
29 Bebas
30 Melarikan Diri
31 Pertarungan
32 Pertarungan di Perbatasan
33 Menuju Wisma Bambu
34 Berjumpa Paman Khung
35 Penolakan Paman Khung
36 Kemball ke Lembah Nada
37 Pulang
38 Paman Khung Sakit Keras
39 Menuju Wisma Bambu
40 Mengurus Paman Khung
41 Luo Sui She Sembuh!
42 Ibu?
43 Leontin Penguak Rahasia
44 Terkuaknya Rahasia Masa Lalu
45 Dia Adikku
46 Berpisah
47 Kewajiban
48 Merindukannya
49 Harpa Kencana
50 Masa Lalu Sung Cen I
51 Masa Lalu Sung Cen II
52 Masa Lalu Sung Cen III
53 Keputusan A Ming
54 Dua Tahun Kemudian
55 Partai Kupu-Kupu
56 Luo Sen Khang Bertemu Ouwyang Ping
57 Pulang ke Lembah Nada
58 Kenangan Masa Silam
59 Reuni Dengan Sung Siu Hung
60 Di Lembah Nada
61 Cemburu
62 Rencana Tuan Ouwyang Cu
63 Berseteru
64 Perjodohan
65 Amarah Chang Fei Yu
66 Perjalanan Luo Sen Khang dan Ouwyang Ping
67 Di Partai Kupu Kupu
68 Pengkhianatan Cheng Sam
69 Penyelidikan
70 Berita Tentang Bukit Merak
71 Berselisih Jalan
72 Awal Bencana
73 Prahara di Wisma Bambu
74 Amarah dan Nestapa
75 Duka Hati Chien Wan
76 Wisma Bambu Berkabung
77 Kebencian dan Amarah
78 Isu di Dunia Persilatan
79 Berpisah Dengan Kui Fang
80 Wu Kui Fang Mencari Bukti
81 Rencana Pendekar Sung
82 Ke Lembah Nada
83 Ouwyang Kuan dan Luo Sui She ke Wisma Bambu
84 Mencari Kamus Silat Tung Pei
85 Orangtua Chien Wan Disandera
86 Luo Sen Khang Gusar
87 Para Pendekar di Wisma Bambu
88 Luo Sen Khang Menyandera Ouwyang Ping
89 Luo Sen Khang Terjebak
90 Dua Luo Sen Khang
91 Derita Luo Ting Ting
92 Penyesalan Luo Sen Khang
93 Pertengkaran Dua Pecinta
94 Luo Ting Ting Mengandung
95 Wu Kui Fang Bertemu Chien Wan
96 Di Partai Kupu Kupu
97 Wu Kui Fang Diculik
98 Selamat
99 Mendiskusikan Bukti yang Didapat
100 Cheng Sam Kembali Berulah
101 Upaya Mencari Jejak Cheng Sam
102 Hati yang Berbunga
103 Perguruan Elang Merah
104 Keluarga Kam
105 Cheng Sam Kembali Lolos
106 Masa Lalu Cheng Sam
107 Niat Luo Sui She
108 Kedatangan Chien Wan
109 Kasih Persaudaraan
110 Kesalahpahaman
111 Kegelisahan Wu Kui Fang
112 Kisah Masa Lalu
113 Rencana Pertunangan
114 Cinta Chi Meng Huan
115 Dua Hati Menyatu
116 Perjanjian di Kotaraja
117 Perjalanan Chang Fei Yu
118 Kabar Pernikahan Luo Ting Ting
119 Kedatangan Tuan Ouwyang Cu
120 Kehamilan A Ming
121 Musuh yang Sebenarnya
122 Kebencian yang Mendalam
123 Chien Wan Terluka
124 Ketulusan Hati Chang Fei Yu
125 Chien Wan Sadarkan Diri
126 Rencana Keberangkatan
127 Menuju Pulau Ginseng
128 Guru Chi Meng Huan
129 Tiba di Pulau Ginseng
130 Menetap Sementara di Pulau Ginseng
131 Berlatih di Pulau Ginseng
132 Chien Wan Sembuh
133 Janji Tuan Ouwyang Cu
134 Bakat Sung Siu Hung
135 Kesedihan A Ming
136 Derita Luo Ting Ting
137 Tuan Chang Mengunjungi Putranya
138 Chang Fei Yu Melamar
139 Hari-Hari Bahagia di Pulau Ginseng
140 Buah Dewa
141 Janji Tuan Ouwyang Cu
142 Pulang
143 Pernikahan
144 Amarah Chi Meng Huan
145 Penyusup
146 Masalah di Partai Kupu-Kupu
147 Wu Kui Fang Membela Sam Hui
148 Sam Hui Diserang
149 Pertemuan Tahunan
150 Pengkhianatan Wie Yun Cun
151 Kemunculan Para Pendekar
152 Pertempuran
153 Luo Sen Khang Galau
154 Ketua Persilatan Mengundurkan Diri
155 Tuan Ouwyang Melamar
156 Kelelawar Hitam Membawa Berita
157 Chi Sien Lung
158 Kelahiran Anak Ting Ting
159 Menjenguk Ting Ting
160 Meninggalkan Partai Kupu-Kupu
161 Bukit Ayam Emas
162 Nyaris Celaka
163 Serangan Chi Meng Huan
164 Ketua Persilatan yang Baru
165 Kembali ke Wisma Bambu
166 A Ming Melarikan Diri
167 A Ming Terkena Racun
168 Peringatan Setahun Kematian Tuan dan Nyonya Luo
169 A Ming Pergi
170 Bencana di Partai Kupu-Kupu
171 Duka yang Mendalam
172 Kelelawar Hitam
173 Chang Yi Hang Diculik
174 Usaha Pencarian
175 Menitipkan Sien Lung
176 Pertempuran
177 Tuan Ouwyang Cu Tewas
178 Terbersit Penyesalan
179 Akhir Hidup Chi Meng Huan
180 Pernikahan di Lembah Nada (End)
181 Terima Kasih
182 Epilog
Episodes

Updated 182 Episodes

1
Wisma Bambu
2
Paviliun Taman Belakang
3
Paman Khung
4
Chi Meng Huan
5
Suling Bambu Hitam
6
Ting Ting Diculik
7
Ketua Persilatan
8
Misi ke Lembah Nada
9
Empat Tambur Perak
10
Ouwyang Ping
11
Diangkat Menjadi Murid
12
Latihan Keras
13
Dilema Cinta Pertama
14
Bahagia di Lembah Nada
15
Berpetualang Bersama
16
Tiba di Kota Lok Yang
17
Reuni
18
Pertemuan Para Pendekar
19
Tuan Muda Chang
20
Penampilan Perdana
21
Hati ke Hati
22
Hati yang Luka
23
Di Bukit Merak
24
Dewa Seribu Wajah
25
Mencari Chi Meng Huan
26
Terperangkap
27
Rencana Chang Fei Yu
28
Kelelawar Hitam
29
Bebas
30
Melarikan Diri
31
Pertarungan
32
Pertarungan di Perbatasan
33
Menuju Wisma Bambu
34
Berjumpa Paman Khung
35
Penolakan Paman Khung
36
Kemball ke Lembah Nada
37
Pulang
38
Paman Khung Sakit Keras
39
Menuju Wisma Bambu
40
Mengurus Paman Khung
41
Luo Sui She Sembuh!
42
Ibu?
43
Leontin Penguak Rahasia
44
Terkuaknya Rahasia Masa Lalu
45
Dia Adikku
46
Berpisah
47
Kewajiban
48
Merindukannya
49
Harpa Kencana
50
Masa Lalu Sung Cen I
51
Masa Lalu Sung Cen II
52
Masa Lalu Sung Cen III
53
Keputusan A Ming
54
Dua Tahun Kemudian
55
Partai Kupu-Kupu
56
Luo Sen Khang Bertemu Ouwyang Ping
57
Pulang ke Lembah Nada
58
Kenangan Masa Silam
59
Reuni Dengan Sung Siu Hung
60
Di Lembah Nada
61
Cemburu
62
Rencana Tuan Ouwyang Cu
63
Berseteru
64
Perjodohan
65
Amarah Chang Fei Yu
66
Perjalanan Luo Sen Khang dan Ouwyang Ping
67
Di Partai Kupu Kupu
68
Pengkhianatan Cheng Sam
69
Penyelidikan
70
Berita Tentang Bukit Merak
71
Berselisih Jalan
72
Awal Bencana
73
Prahara di Wisma Bambu
74
Amarah dan Nestapa
75
Duka Hati Chien Wan
76
Wisma Bambu Berkabung
77
Kebencian dan Amarah
78
Isu di Dunia Persilatan
79
Berpisah Dengan Kui Fang
80
Wu Kui Fang Mencari Bukti
81
Rencana Pendekar Sung
82
Ke Lembah Nada
83
Ouwyang Kuan dan Luo Sui She ke Wisma Bambu
84
Mencari Kamus Silat Tung Pei
85
Orangtua Chien Wan Disandera
86
Luo Sen Khang Gusar
87
Para Pendekar di Wisma Bambu
88
Luo Sen Khang Menyandera Ouwyang Ping
89
Luo Sen Khang Terjebak
90
Dua Luo Sen Khang
91
Derita Luo Ting Ting
92
Penyesalan Luo Sen Khang
93
Pertengkaran Dua Pecinta
94
Luo Ting Ting Mengandung
95
Wu Kui Fang Bertemu Chien Wan
96
Di Partai Kupu Kupu
97
Wu Kui Fang Diculik
98
Selamat
99
Mendiskusikan Bukti yang Didapat
100
Cheng Sam Kembali Berulah
101
Upaya Mencari Jejak Cheng Sam
102
Hati yang Berbunga
103
Perguruan Elang Merah
104
Keluarga Kam
105
Cheng Sam Kembali Lolos
106
Masa Lalu Cheng Sam
107
Niat Luo Sui She
108
Kedatangan Chien Wan
109
Kasih Persaudaraan
110
Kesalahpahaman
111
Kegelisahan Wu Kui Fang
112
Kisah Masa Lalu
113
Rencana Pertunangan
114
Cinta Chi Meng Huan
115
Dua Hati Menyatu
116
Perjanjian di Kotaraja
117
Perjalanan Chang Fei Yu
118
Kabar Pernikahan Luo Ting Ting
119
Kedatangan Tuan Ouwyang Cu
120
Kehamilan A Ming
121
Musuh yang Sebenarnya
122
Kebencian yang Mendalam
123
Chien Wan Terluka
124
Ketulusan Hati Chang Fei Yu
125
Chien Wan Sadarkan Diri
126
Rencana Keberangkatan
127
Menuju Pulau Ginseng
128
Guru Chi Meng Huan
129
Tiba di Pulau Ginseng
130
Menetap Sementara di Pulau Ginseng
131
Berlatih di Pulau Ginseng
132
Chien Wan Sembuh
133
Janji Tuan Ouwyang Cu
134
Bakat Sung Siu Hung
135
Kesedihan A Ming
136
Derita Luo Ting Ting
137
Tuan Chang Mengunjungi Putranya
138
Chang Fei Yu Melamar
139
Hari-Hari Bahagia di Pulau Ginseng
140
Buah Dewa
141
Janji Tuan Ouwyang Cu
142
Pulang
143
Pernikahan
144
Amarah Chi Meng Huan
145
Penyusup
146
Masalah di Partai Kupu-Kupu
147
Wu Kui Fang Membela Sam Hui
148
Sam Hui Diserang
149
Pertemuan Tahunan
150
Pengkhianatan Wie Yun Cun
151
Kemunculan Para Pendekar
152
Pertempuran
153
Luo Sen Khang Galau
154
Ketua Persilatan Mengundurkan Diri
155
Tuan Ouwyang Melamar
156
Kelelawar Hitam Membawa Berita
157
Chi Sien Lung
158
Kelahiran Anak Ting Ting
159
Menjenguk Ting Ting
160
Meninggalkan Partai Kupu-Kupu
161
Bukit Ayam Emas
162
Nyaris Celaka
163
Serangan Chi Meng Huan
164
Ketua Persilatan yang Baru
165
Kembali ke Wisma Bambu
166
A Ming Melarikan Diri
167
A Ming Terkena Racun
168
Peringatan Setahun Kematian Tuan dan Nyonya Luo
169
A Ming Pergi
170
Bencana di Partai Kupu-Kupu
171
Duka yang Mendalam
172
Kelelawar Hitam
173
Chang Yi Hang Diculik
174
Usaha Pencarian
175
Menitipkan Sien Lung
176
Pertempuran
177
Tuan Ouwyang Cu Tewas
178
Terbersit Penyesalan
179
Akhir Hidup Chi Meng Huan
180
Pernikahan di Lembah Nada (End)
181
Terima Kasih
182
Epilog

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!