Apa yang terjadi dengan Ouwyang Ping?
Ouwyang Ping tengah mandi di kolam yang berair amat jernih. Ia merasa gembira sekali dan tak ragu-ragu mandi dengan melepas seluruh pakaiannya. Ia merendam seluruh tubuhnya dan membiarkan hanya kepalanya saja yang tampak di permukaan. Saat itulah seseorang datang.
Orang itu adalah seorang pria bertubuh tinggi besar dan kasar. Mulutnya menyeringai melihat Ouwyang Ping. Matanya tampak buas sewaktu melihat tubuh indah yang terlihat samar di bawah air yang bening.
Ouwyang Ping menjerit kaget dan takut sambil berusaha menutupi tubuhnya. Ia tak dapat berenang ke tepi dan mengambil pakaiannya karena pria itu justru berdiri di dekat pakaiannya.
“Naiklah ke sini, Nona cantik,” kata pria itu dengan suara serak.
Wajah Ouwyang Ping pucat pasi. “Pe... pergi kau!” serunya marah.
“He he he! Mana mungkin aku meninggalkan gadis secantik kau? Ayolah, aku akan baik padamu,” bujuk pria itu dengan seringai kurang ajar. Ia maju semakin ke tepi dan mulai melepaskan ikatan jubahnya.
“Jangan mendekat!” teriak Ouwyang Ping panik.
Pria itu terus bergerak. Namun....
“Kurang ajar!” bentak seseorang.
Baik pria itu maupun Ouwyang Ping menoleh, pria itu dengan marah dan Ouwyang Ping dengan penuh rasa syukur. Gadis itu hampir menangis karena lega. Sejak tadi ia ketakutan. Ia tidak rela jika orang yang kurang ajar itu menyentuhnya sekejap pun.
“Kakak Wan!” seru gadis itu penuh kelegaan.
Pria kurang ajar itu mendelik marah. “Siapa kau? Dasar pengganggu!” makinya.
“Kau sendiri siapa?” geram Chien Wan. “Yang pengganggu itu kau sendiri. Sungguh tak tahu malu mengganggu gadis baik-baik!” bentaknya dengan nada tajam dan sinar mata buas memancarkan amarah.
“Keparat!” hardik orang itu. “Pemuda lemah, beraninya kau mengatakan aku demikian! Kau tahu siapa aku? Aku adalah Hao Sing Yat, Pendekar Bertenaga Harimau dari Kang Lam!”
Chien Wan tak pernah mendengar nama itu. Ia mendengus dingin. “Kausebut dirimu ‘pendekar’? Orang yang suka mengganggu perempuan tak pantas menyebut dirinya pendekar!”
“Keparat cilik!!” raung Hao Sing Yat sambil menyerang Chien Wan tiba-tiba.
Chien Wan mengelak dari serangan itu. Lalu ia membalas serangan itu dengan gerakan silat yang luar biasa lincah dan kuat. Tuan Ouwyang Cu telah melatihnya dengan ilmu silat tingkat tinggi khas Lembah Nada. Orang-orang di Lembah Nada memiliki ciri tersendiri. Gerakan kungfu mereka sangat lentur. Mereka bersilat seperti sedang menari. Sangat ringan dan berirama, seolah-olah melayang.
Hao Sing Yat terkejut mengenali ciri khas itu. Ia melompat mundur.
“Kau... kau... kau dari Lembah Nada?” serunya terbata-bata.
“Benar!” jawab Chien Wan tegas.
Mendengar jawaban itu, Hao Sing Yat melompat pergi tanpa berkata apa-apa lagi. Chien Wan tak mengejarnya. Ia lebih mengkhawatirkan Ouwyang Ping. Dihampirinya gadis yang masih ada di bawah air itu. Bibir gadis itu menggeletar kedinginan.
“Ping-er, kau baik-baik saja?” tanya Chien Wan prihatin.
Ouwyang Ping mengangguk dengan wajah memerah malu. Mulanya Chien Wan tak mengerti mengapa gadis itu tersipu-sipu seperti itu. Ia memperhatikan gadis itu dan pandangannya terarah ke bawah air. Seketika ia sadar bahwa gadis itu dalam keadaan polos. Chien Wan cepat-cepat berbalik membelakangi Ouwyang Ping.
“Kau... kau berpakaian dulu. Aku... aku harus mengurus sarapan kita....” suara Chien Wan terbata. Ia berkelebat pergi sambil berusaha menenangkan jantungnya yang berdebar tak keruan.
Setelah Chien Wan pergi, Ouwyang Ping melihat ke segala arah dan melompat keluar setelah yakin bahwa di sana tak ada siapa pun. Ia cepat-cepat berpakaian. Ia segera meninggalkan kolam itu.
Ketika Ouwyang Ping tiba, Chien Wan tengah duduk sambil membalik-balik kelinci di atas api unggun.
“Kakak Wan....”
“Dagingnya belum matang. Kau duduk saja dulu,” ucap Chien Wan tanpa menoleh. Ia masih harus mengendalikan debaran jantungnya yang memukul bertalu-talu. Ia telah melihat apa yang seharusnya tak boleh dilihatnya. Walau hanya samar-samar dan tak begitu jelas, ia merasa bersalah. Ia sama sekali tak berniat buruk tadi.
Ouwyang Ping duduk di hadapan Chien Wan tanpa mengatakan apa-apa. Ia hanya *******-***** jarinya dengan gelisah.
Chien Wan melirik gadis itu dan menghela napas. Ia mengangkat kelinci panggangnya dari api dan menghampiri gadis itu. Ia duduk di hadapan Ouwyang Ping dan menyodorkan kelinci itu. “Makanlah, Ping-er. Setelah ini kita harus segera melanjutkan perjalanan.”
Ouwyang Ping mengangguk, lega. Kelihatannya Chien Wan sudah biasa lagi, maka ia pun bersikap seperti biasa lagi. Ia tersenyum dan menyobek sedikit daging kelinci, lalu mulai menyantapnya. Chien Wan juga mengunyah bagiannya. Rasa daging itu hambar dan sedikit pahit karena agak hangus. Ouwyang Ping hampir saja berkomentar, namun ditahannya karena teringat bahwa indera pengecap Chien Wan tak berfungsi.
Setelah selesai sarapan, mereka membereskan barang-barang dan pergi meninggalkan tempat itu.
***
Kota Lok Yang merupakan kota yang cukup besar dan ramai. Penduduknya cukup padat dan kebanyakan dari mereka berprofesi sebagai pedagang. Jalanan kota nyaris tak pernah sepi dari keramaian karena selalu ada orang melintas di sana. Rumah-rumah makan juga selalu penuh—terutama pada jam makan. Namun pada kesempatan kali ini, kota tersebut tampak jauh lebih ramai dari biasanya. Pertemuan para pendekar yang diadakan di kediaman Pendekar Sung adalah penyebabnya.
Di jalan-jalan kota, tampak melintas orang-orang berpakaian ringkas. Mereka berbaur dengan pedagang dan masyarakat kota yang ada di sana. Penampilan mereka cukup mencolok dan mengundang perhatian masyarakat karena banyak yang membawa senjata, mulai dari pedang, tombak, toya dan sebagainya. Ada juga yang tak terlalu mencolok karena hanya membawa kipas, namun kipas juga dapat digunaka sebagai senjata yang tangguh.
Ketika Chien Wan dan Ouwyang Ping tiba, tak banyak orang yang memperhatikan. Alat musik yang mereka bawa membuat orang mengira mereka hanyalah pemusik biasa. Kecantikan Ouwyang Ping-lah sebenarnya yang lebih banyak mengundang perhatian.
“Kakak Wan, kota ini ramai sekali!” desah Ouwyang Ping—yang terbiasa dengan kesunyian Lembah Nada.
Chien Wan diam saja. Sebenarnya ia tak terlalu menyukai tempat-tempat yang ramai. Kalau saja ia tidak berkewajiban menjalankan perintah gurunya, ia jauh lebih suka diam di Lembah Nada.
“Aku lapar, Kak. Bagaimana kalau kita makan dulu?” usul Ouwyang Ping.
Saat itu memang sudah waktunya makan siang, maka Chien Wan mengangguk. Mereka menuju rumah makan yang terdekat, yang ramai oleh orang-orang berpakaian khas Dunia Persilatan.
Seorang pelayan mengajak mereka ke satu-satunya tempat yang tersisa, yakni di sudut. Pelayan itu menuangkan teh panas dan bertanya, “Mau pesan apa, Tuan?”
“Nasi dan dua macam sayur,” sahut Ouwyang Ping.
“Bawakan juga sup pangsit,” tambah Chien Wan.
Si pelayan mengangguk dan meninggalkan mereka dengan terburu-buru untuk mengambilkan pesanan mereka.
Ouwyang Ping memandang Chien Wan dengan heran. Chien Wan tak pernah menginginkan makanan yang macam-macam sebab menurutnya itu percuma saja. Makanan selezat apa pun tak akan bisa dinikmatinya sebab terasa hambar di lidahnya. Jadi mengapa sekarang....
Chien Wan menoleh dan melihat keheranan di mata gadis itu. “Sup itu bukan untukku, tapi untukmu. Kau suka sup pangsit, kan?”
Ouwyang Ping semakin heran, namun kini ditambah dengan rasa haru. Ia memang sangat menyukai sup pangsit, namun ia tak pernah mengatakannya pada Chien Wan. Bagaimana Chien Wan bisa tahu?
“Sewaktu di Lembah Nada, saat kita makan bersama, yang selalu kau tanyakan pertama kali adalah: apakah juru masak membuat sup pangsit. Jadi aku menarik kesimpulan bahwa makanan kesukaanmu adalah sup pangsit,” kata Chien Wan, menjawab keheranan gadis itu.
“Jadi..., selama ini Kakak Wan memperhatikan kelakuanku di meja makan, ya?” seru Ouwyang Ping dengan wajah merah.
Chien Wan hanya tersenyum kecil.
Pelayan datang membawakan pesanan mereka. “Silakan, Tuan, Nona.”
“Terima kasih,” ujar Chien Wan. “Apakah kau tahu di mana kediaman Pendekar Sung?”
“Di ujung jalan ini, Tuan.”
Sepeninggal pelayan, mereka menyantap makanan itu. Ouwyang Ping menghirup kuah supnya dengan nikmat, membuat Chien Wan menunduk menyembunyikan senyumnya. Dalam berbagai hal, gadis itu selalu menampakkan kedewasaannya. Namun seringkali Chien Wan melihat kelakuannya yang menunjukkan bahwa sebenarnya ia masih remaja yang kekanak-kanakkan.
Setelah selesai mereka membayar makanan dan pergi meninggalkan rumah makan itu. Lalu mereka menuju kediaman Pendekar Sung. Namun pertemuan para pendekar baru akan dilangsungkan esok harinya. Berarti malam ini mereka harus mencari penginapan. Mereka pergi ke penginapan yang terletak tak jauh dari kediaman Pendekar Sung.
“Tuan, kami hendak memesan kamar,” bilang Ouwyang Ping.
Pemilik penginapan memandang mereka dengan wajah menyesal. “Wah, semua kamar telah terisi, Nona. Sekarang sedang diadakan pertemuan para pendekar. Semua penginapan di kota ini penuh,” beritahunya.
Ouwyang Ping memandang Chien Wan dengan penuh tanda tanya.
Saat itu, masuklah tiga orang muda-mudi ke dalam penginapan. Kebetulan juga, Chien Wan tengah melihat ke arah pintu masuk.
Mereka sama-sama terkejut.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 182 Episodes
Comments
Eros Hariyadi
Lanjuuuutt 😝😎💪👍🙏
2024-01-15
0
Eros Hariyadi
Akhirnya sampai juga laaahh...ke Kota Lok-Yang, setelah makan kenyang di restoran, giliran mo mencari penginapan penuh semuanya...saat itulah Chien-Wan bertemu dengan ketiga sahabatnya dari keluarga Luo....😝😄💪👍👍👍
2024-01-15
0
Pasaribu Hengky
semangat thor 👍👍👍💪✍️✍️✍️
2023-06-25
2