Sejak hari itu, Chien Wan berlatih meniup suling dari Paman Khung. Ternyata belajar meniup suling lebih sulit daripada berlatih kungfu. Dalam latihan kungfu, gerakan yang berbeda sedikit dari gerakan yang dilatih tidak menjadi masalah. Asal sesuai dengan gerakan selanjutnya, sedikit perbedaan tidak akan mengakibatkan kekeliruan. Namun dalam hal musik, sedikit salah akan menyebabkan kekeliruan fatal.
Misalnya dalam hal meniup suling. Jika jari tidak tepat menutupi lubang, suara yang dihasilkan akan jauh dari yang diharapkan. Jari-jari yang tepat harus diletakkan pada lubang yang tepat, jika tidak maka bunyi yang dihasilkan akan menjadi kacau balau. Demikian pula halnya dengan cara meniup. Suara lembut hanya bisa dihasilkan oleh tiupan yang lembut dengan kedua bibir hampir menutup. Sebaliknya, tiupan yang keras akan menghasilkan bunyi yang melengking dan tidak enak didengar.
Pada awal latihan, Paman Khung memberikan Chien Wan setumpuk buku tentang teori meniup suling. Di bawah pengawasan mata Paman Khung yang tajam, Chien Wan mempelajarinya dengan seksama. Chien Wan harus berlatih ilmu pernapasan, melemaskan jari-jarinya, serta harus belajar menguasai gerakan bibir.
Ada satu hal yang selalu ditekankan oleh Paman Khung:
“Jika kau ingin bisa meniup suling dengan baik dan menghasilkan musik yang indah darinya, kau harus mencintai dan menjaga sulingmu seperti kau mencintai dan menjaga nyawamu!”
Kalimat itu ditanamkan Chien Wan dengan sepenuh hati.
Hari-hari pertama berlatih adalah hari-hari menyebalkan bagi Chien Wan. Ia selalu salah membunyikan nada, atau salah meletakan jarinya. Kalau ia ingin membunyikan nada lembut, yang keluar malah bunyi yang memekakkan telinga. Kalau ia ingin membunyikan nada yang penuh semangat, malah sama sekali tidak keluar bunyinya.
Paman Khung sering harus menahan senyum gelinya menyaksikan kekonyolan-kekonyolan yang dibuat Chien Wan. Walau begitu, ia kagum pada semangat Chien Wan. Rupanya anak itu memang sangat menyukai musik dan ingin sekali bisa memainkan suling dengan baik.
Setelah berlatih beberapa lama, akhirnya Chien Wan sudah mampu memainkan lagu-lagu sederhana dengan sulingnya. Selama ini ia berlatih menggunakan suling buatan Paman Khung yang sederhana.
“Kau sudah maju, Chien Wan,” ujar Paman Khung pada suatu senja yang temaram di pekarangan gubuk kediamannya.
“Tapi saya ingin bisa memainkan lagu seperti yang Paman mainkan hari itu,” kata Chien Wan. “Rasanya saya sudah lama sekali berlatih, tapi lagu yang saya bisa baru lagu seperti ini.”
Paman Khung mendengus. “Enam bulan tidak bisa dibilang lama sekali!”
“Tapi....”
“Tentu saja kau akan bisa memainkan lagu itu, juga lagu-lagu lain yang lebih indah. Itu baru bisa kaulakukan setelah kau menguasai teknik-teknik meniup suling dengan mendalam. Kau harus banyak berlatih!”
Chien Wan menunduk.
“Atau kau mau menyerah saja?”
Kepala Chien Wan langsung terangkat. “Tidak, Paman! Saya ingin bisa meniup suling dengan sempurna!”
“Makanya, kau tidak boleh putus asa.”
“Saya berjanji akan berlatih terus, Paman.”
Paman Khung mengangguk puas.
Saat berada di depan Paman Khung, Chien Wan berubah menjadi lebih ceria dan bersemangat. Berbeda dengan sikapnya di hadapan orang lain. Chien Wan menganggap Paman Khung seperti ayahnya sendiri. Sejak kecil, Chien Wan tak pernah punya figur seorang ayah. Ia cuma hidup berdua dengan ibunya. Kini ia mendapatkan gambaran seorang ayah dalam diri Paman Khung.
Paman Khung pun memperlakukan Chien Wan dengan baik. Sikapnya dingin dan penyendiri, mirip dengan sikap Chien Wan sendiri. Namun kadang-kadang, jika ia yakin tak ada seorang pun yang memperhatikan, ia suka memandangi Chien Wan dengan penuh kehangatan.
\*\*\*
Persahabatan di antara Sen Khang, Chien Wan, dan Ting Ting sudah terjalin dengan erat. Di antara ketiganya, Sen Khang memiliki kepandaian silat yang paling unggul. Ia sering bertindak sebagai pelatih bagi kedua anak lainnya, terutama jika ayahnya tidak punya waktu untuk melatih mereka.
Suatu hari, Tuan Luo mengumumkan bahwa dia akan pergi ke Ibukota untuk menemui sahabatnya yang menjadi pejabat istana. Ia dan Pejabat Chi Kian sudah bersahabat semenjak sama-sama menjadi murid di Perguruan Kun Lun.
“Memangnya apa yang dialami Kakak Chi sehingga harus menyuruhmu ke tempatnya, Suamiku?” tanya Nyonya Luo.
Tuan Luo menggeleng. “Aku juga tidak tahu pasti. Sebaiknya aku segera pergi.”
Sementara Tuan Luo bergegas berkemas-kemas dibantu istrinya, Sen Khang mengajak adik dan sahabatnya pergi ke tempat latihan. Wajahnya muram. Sebenarnya ayahnya sudah menjanjikan akan mengajarkannya dasar ilmu pedang keluarga mereka. Namun rupanya keperluan untuk pergi menemui Pejabat Chi lebih mendesak. Mereka bertiga duduk di sana sambil membisu.
“Memangnya Paman Chi ada perlu apa sih, Kak?” Suara Ting Ting yang merdu memecah keheningan.
Sen Khang mengangkat bahu. “Entahlah. Setahuku, tadi pagi Ayah menerima tamu. Entah apa yang mereka bicarakan. Pokoknya setelah orang itu pergi, Ayah langsung mengumumkan kepergiannya.”
Tak ada yang tahu apa yang terjadi kemudian. Setelah pergi selama hampir sepuluh hari, Tuan Luo pulang bersama seorang bocah lelaki yang tampan. Usia bocah itu kira-kira sebaya dengan Chien Wan dan Sen Khang, mungkin hanya sedikit lebih muda.
“Ayah!” seru Ting Ting sambil berlari menubruk ayahnya. Tuan Luo tertawa sambil mengangkat putrinya ke dalam gendongannya. Bocah lelaki itu menatap Ting Ting dengan penuh kekaguman.
Nyonya Luo menghampiri suaminya sambil tersenyum bahagia.
Setelah Tuan Luo dan bocah itu pergi mandi dan makan, mereka semua—termasuk Chien Wan—duduk di ruang tengah. Bersiap mendengarkan cerita Tuan Luo.
Tuan Luo menggandeng bahu bocah lelaki yang bersamanya. “Anak ini adalah putra Kakak Chi, namanya Chi Meng Huan,” bilangnya pada istrinya.
Chi Meng Huan berdiri dan merangkapkan kedua tangannya, memberi salam dengan sopan. “Apa kabar, Bibi?” sapanya pada Nyonya Luo. “Apa kabar, Teman-teman?” sapanya kepada ketiga anak lain.
“Baik, Meng Huan. Duduklah.” Dengan lembut, Nyonya Luo menepuk bahu anak itu.
“Kakak Chi memintaku mengajak Meng Huan ke rumah kita supaya aku dapat melatihnya,” kata Tuan Luo. Lalu ia mengalihkan pandang pada Sen Khang. “Sen Khang, ayah harap kau bisa membantunya berlatih. Meng Huan belum pernah belajar silat sebelumnya. Dia butuh bantuan.”
“Baik, Ayah.”
“Nah, ajaklah Meng Huan ke ruang berlatih. Aku menyusul sebentar lagi,” perintah Tuan Luo.
Setelah keempat anak itu pergi ke ruang berlatih, barulah Tuan Luo menceritakan kisah sesungguhnya pada istrinya. Sebenarnya Pejabat Chi tengah mendapat ancaman. Seseorang dari masa lalu istrinya datang meneror keluarga mereka.
Istri Pejabat Chi semasa gadisnya bernama Ho Chui Lan. Ia sangat cantik dan putri seorang pendekar yang yang mengepalai sebuah perguruan silat. Ia menjalin hubungan yang tidak bijaksana dengan kakak seperguruannya, padahal ia telah dijodohkan dengan Chi Kian yang merupakan putra pejabat istana. Hubungan itu putus dan Ho Chui Lan menikah dengan Chi Kian. Namun ternyata, kakak seperguruannya marah sekali karena dikhianati. Setahun lalu, Nyonya Chi ditemukan tewas di kamarnya saat Pejabat Chi sedang dipanggil ke istana. Pejabat Chi sangat terpukul, namun berusaha melindungi perasaan putranya dengan mengatakan bahwa ibunya meninggal karena sakit mendadak, padahal jelas sekali Nyonya Chi tewas dibunuh.
Sekarang pria itu menebar ancaman bahwa ia akan menculik putra Pejabat Chi dan akan membunuhnya. Oleh sebab itulah, Pejabat Chi menghubungi Tuan Luo—yang diketahuinya memiliki kepandaian yang tinggi—untuk melindungi Meng Huan.
“Astaga!” Nyonya Luo menutupi mulutnya karena ngeri. Ia pernah bertemu dengan Nyonya Chi, dan mengakui bahwa perempuan itu memang cantik sekali. Tak disangka masa lalunya seperti itu.
“Hal ini harus kita rahasiakan dari anak-anak,” tegas Tuan Luo.
“Tentu saja, Suamiku. Tapi sebenarnya aku lebih mengkhawatirkan Kakak Chi. Bagaimana kalau orang itu malah semakin marah setelah tidak menemukan Meng Huan, dan akhirnya mencelakakan Kakak Chi? Kau sendiri pernah bilang, Kakak Chi sangat hebat dalam ilmu tata negara tapi kurang tangkas dalam ilmu silat.”
“Aku juga mengatakan itu padanya, tapi katanya ia dilindungi oleh pengawal istana yang terlatih. Dia hanya mencemaskan Meng Huan.”
Sementara kedua orangtuanya berdiskusi, anak-anak saling memperkenalkan diri.
“Namaku Luo Sen Khang, ini adik perempuanku Ting Ting, dan yang baju hitam itu sahabat kami Chien Wan.”
“Senangnya bisa bersama-sama. Aku anak tunggal, jadi selalu kesepian. Ibuku meninggal setahun yang lalu. Ayah bilang, ibu sakit parah.” Meng Huan menunduk.
“Jangan sedih, Kakak Huan,” Ting Ting menyentuh lengan Meng Huan dengan iba.
Senyum Meng Huan tersungging. “Tak apa.”
“Berapa usiamu, Meng Huan?” tanya Sen Khang. “Aku dua belas tahun, Chien Wan sama denganku. Ting Ting baru sembilan tahun.”
“Aku sebelas tahun.”
Hanya dalam waktu singkat, mereka berempat sudah akrab dan saling bercerita. Tentu saja Chien Wan yang paling sedikit bicara. Namun ia sudah cukup senang mendengarkan percakapan ketiga anak yang lain.
Sejak saat itu, Meng Huan menjadi anggota keluarga Wisma Bambu. Berbeda dengan Chien Wan yang ketika datang menganggap dirinya pelayan, Meng Huan menganggap dirinya sama dengan Sen Khang. Karena itu, ia tidak merasa canggung bergaul dengan semua orang di Wisma Bambu. Meng Huan anak yang ramah, lembut, dan baik terhadap siapa saja. Walau ia anak pejabat, ia tidak menganggap dirinya lebih dari siapa pun. Semua menyukainya.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 182 Episodes
Comments
Yanka Raga
siiiep 🙂
2024-02-14
0
Eros Hariyadi
Lanjuuuutt Thor...😝😄💪👍🙏
2024-01-14
0
Eros Hariyadi
Mendapatkan teman baru Chi Meng-Huan dari ibukota, sehingga di wisma bambu sekarang ada 4 anak...😝😄💪👍👍👍
2024-01-14
0