Misi ke Lembah Nada

Dua minggu kemudian, Tuan Luo kembali bersama Meng Huan.

Awalnya pihak keluarga berkeras supaya Meng Huan tetap tinggal bersama mereka. Namun Meng Huan sendiri yang memutuskan untuk ikut dengan gurunya. Ia tidak mau tinggal di tempat yang mengingatkannya akan kenangan manisnya bersama orangtuanya. Lagi pula ia ingin belajar ilmu silat dengan tekun supaya kelak bisa membalaskan dendam orangtuanya.

Maka Tuan Luo membawanya ke Wisma Bambu.

Kedatangan Meng Huan disambut dengan penuh kasih oleh teman-temannya. Meng Huan sangat terharu akan penyambutan mereka. Mereka membuatnya dapat sedikit melupakan kesedihan hatinya.

Persahabatan mereka berempat terjalin dengan sangat erat. Masing-masing rela berkorban untuk yang lainnya. Dan karena Ting Ting satu-satunya anak perempuan, ketiga lainnya selalu berusaha melindunginya.

Tuan Luo melatih mereka dengan keras, dan mereka berlatih dengan giat. Kepandaian mereka kian hari kian bertambah. Tuan Luo tidak pilih kasih dalam memberi ilmu. Masing-masing dilatih dengan jurus yang sesuai dengan karakternya,

Sen Khang memiliki tenaga dalam yang paling besar. Ia lebih berbakat menggunakan tangan kosong daripada senjata. Maka Tuan Luo menekankan latihan tangan kosong padanya.

Meng Huan lincah. Ia berbakat menggunakan kakinya dalam setiap gerakan. Keseimbangannya mengagumkan. Tendangannya keras dan tajam. Maka Tuan Luo melatihnya dengan ilmu tendangan.

Ting Ting dilatih dengan ilmu yang menggunakan senjata. Ia berbakat menggunakan sepasang pedang.

Hanya Chien Wan yang membuat pusing Tuan Luo. Chien Wan tekun berlatih, namun semangatnya kurang. Ia juga tidak menunjukkan ketertarikan terhadap apa pun yang berhubungan dengan senjata tajam. Ilmu tangan kosongnya bagus, namun tidak sesempurna Sen Khang. Tendangannya baik, namun tidak sebagus Meng Huan. Hanya ketekunannya sajalah yang membuatnya dapat latihan bersama teman-temannya.

Baik Tuan Luo maupun Paman Khung tak pernah lagi menyinggung-nyinggung soal pembicaraan mereka yang terputus saat peristiwa penculikan Meng Huan dulu. Mereka seolah menganggap pembicaraan dulu itu tak pernah ada.

\*\*\*

Waktu berlalu dengan sangat cepat. Tanpa terasa, anak-anak itu sudah beranjak remaja. Kepolosan dan keluguan khas anak kecil berubah menjadi kehangatan dan keceriaan khas remaja. Perubahan yang biasa dialami oleh siapa saja, namun tidak mengubah sifat dasar yang memang sudah menjadi karakter masing-masing orang.

Sen Khang dan Chien Wan tumbuh menjadi pemuda berumur enam belas tahun. Mereka memiliki penampilan dan karakter yang bertolak belakang, namun hal itu tidak menghalangi mereka untuk bersahabat baik. Perbedaan mereka menjadi lelucon sendiri di kalangan penghuni Wisma Bambu.

Sen Khang memiliki sifat riang dan suka bercanda, namun menampakkan kharisma seorang pemimpin karena ia juga tegas dan bersemangat. Wajahnya tampan dan sorot matanya yang tajam diperlembut oleh kebiasaannya selalu menyunggingkan senyum ramah. Tubuhnya tinggi tegap, namun gerakannya ringan dan anggun.

Sepintas, Chien Wan tidaklah seistimewa Sen Khang. Ia bertubuh tinggi dan agak kurus, dan wajahnya juga agak pucat. Sebenarnya ia tampan kalau saja mau tersenyum lebih sering. Ia seorang yang pendiam dan tidak banyak bicara. Ia tidak pernah memperlihatkan luapan perasaan yang berlebihan. Tak ada yang bisa membedakan apakah ia sedang marah atau sedang gembira.

Kekontrasan ini juga terlihat jelas dalam penampilan mereka. Sen Khang suka mengenakan segala sesuatu berwarna putih. Sedangkan Chien Wan lebih suka mengenakan pakaian berwarna hitam atau kelabu, sesuai dengan sifatnya yang tak ingin menjadi pusat perhatian.

Chi Meng Huan berusia lima belas tahun. Ia tipe pemuda pesolek, senang memakai pakaian yang berbahan halus seperti sutra dan menggunakan wewangian. Ia senang terlihat bersih dan rapi serta harum. Wajahnya tampan dan lembut. Tinggi tubuhnya sama dengan Chien Wan, sedikit lebih pendek dari Sen Khang. Sifatnya ramah dan menyenangkan. Semua orang yang pernah berbicara dengannya pasti menyukainya.

Ting Ting pun sudah menginjak awal usia remaja, yakni tiga belas tahun. Namun karena ia yang paling kecil, ia sering tidak dianggap sudah remaja. Orangtuanya memperlakukannya bagaikan sekuntum bunga yang mudah rusak, karena itu dilindungi dengan hati-hati. Terutama karena ia begitu jelita.

Dalam usia yang baru tiga belas tahun, kecantikan Ting Ting memang sudah sangat menonjol. Ia memiliki kulit yang luar biasa putih dan merona di tempat-tempat tertentu, menambah cahaya kecantikannya. Sepasang matanya bening dan bersinar. Hidungnya berbentuk indah, dan sepasang bibirnya mungil berwarna merah. Tubuhnya langsing dengan sepasang kaki dan tangan yang lentur berjemari lentik.

Ting Ting suka memakai pakaian berwarna merah yang berpotongan indah bak putri bangsawan. Ia menyukai hal-hal yang unik dan tidak terpikirkan oleh orang lain. Sifatnya manja namun menggemaskan. Ia tidak suka bertengkar dengan orang lain, namun terkadang bisa sangat keras kepala. Jika ia sudah menyukai sesuatu, ia akan berkeras supaya bisa memilikinya.

Akhir-akhir ini, Tuan Luo sering tampak termenung. Sepertinya, penyakit adiknya sudah tak bisa disembuhkan lagi. Selama bertahun-tahun ia telah mengundang puluhan, bahkan ratusan tabib dan orang pintar untuk mengobati sakit jiwa yang diderita Sui She. Namun hasilnya nihil. Ia sudah putus asa.

Belakangan ini ia sering memikirkan pembicaraannya dengan Paman Khung empat tahun yang lalu, tentang mengutus orang untuk menyelidiki peristiwa ketika Sui She belajar di Lembah Nada. Ia makin serius memikirkan kebenaran ucapan Paman Khung. Penyakit jiwa baru bisa disembuhkan jika akar permasalahannya ditemukan dan dipecahkan.

Namun mengutus Chien Wan?

Tuan Luo belum pernah sekali pun melihat maupun mendengar Chien Wan memainkan alat musik. Paman Khung bilang Chien Wan berbakat, namun sampai saat ini Chien Wan belum pernah meniup sulingnya di depan umum.

Seandainya memang benar Chien Wan mampu dan berbakat memainkan alat musik, mampukah ia menjalankan tugas mata-mata seperti itu? Ia mengenal tabiat Chien Wan. Pemuda itu tidak pernah suka ikut campur urusan yang bukan urusannya. Bagaimana caranya meyakinkan dia supaya mau menjadi penyelidik baginya?

Dalam kegalauannya, Tuan Luo melangkah keluar dari ruang kerjanya.

Saat itu sudah senja, bahkan menjelang malam. Sebelum ini ia tidak pernah keluar dari ruang kerjanya pada saat seeprti ini. Orang di Wisma Bambu tidak suka keluar malam-malam, termasuk dirinya. Kali ini ia sengaja keluar untuk menjernihkan pikirannya.

Ketika itulah ia melihat Chien Wan keluar dari kamarnya dan berjalan dengan gerakan ringan menuju jalan setapak yang sempit, yang merupakan jalan pintas menuju Hutan Bambu.

Ia penasaran, lalu mengikuti Chien Wan.

Yang ia tidak sadari, Sen Khang pun mengikuti Chien Wan.

Sudah lama Sen Khang curiga dengan kelakuan Chien Wan yang suka keluar malam-malam. Awalnya ia tidak terlalu mempedulikannya karena merasa itu bukan urusannya. Namun karena Chien Wan melakukannya hampir tiap malam, rasa penasarannya tergelitik juga di samping rasa kesalnya karena tidak diikutsertakan dalam rahasia Chien Wan. Baginya Chien Wan adalah sahabat baiknya, dan di antara sahabat tidak ada rahasia.

Sen Khang berusaha bergerak dengan sangat hati-hati supaya Chien Wan tidak mendengarnya. Karena indera perasa Chien Wan tidak berfungsi, indera lainnya menjadi lebih tajam dua kali lipat—termasuk indera pendengarannya. Namun langkahnya sudah terlatih sehingga gerakannya menjadi sangat ringan.

Namun tiba-tiba, ia mendengar gesekan ranting tak jauh darinya. Dengan terkejut ia menoleh. Matanya membelalak.

Mulutnya terbuka hendak menyerukan, “Ayah!” namun sang ayah meletakkan telunjuknya di bibir dan menggeleng pelan. Sen Khang pun bungkam. Kini mereka berdua mengendap-endap bersama.

Chien Wan tidak curiga sedikit pun bahwa dirinya tengah diikuti. Karena tidak waspada, ia tidak memasang telinga. Dengan tenang ia terus saja berjalan menuju gubuk Paman Khung. Sudah setahun ini waktu pertemuan mereka diadakan lebih malam. Akhir-akhir ini gerak-gerik Chien Wan terbatas sesuai dengan pertumbuhan tubuhnya. Ia tidak bisa dengan mudah menyembunyikan diri jika ada orang, seperti yang dilakukannya dulu.

“Paman Khung,” sapanya kala melihat Paman Khung yang tengah berdiri di depan gubuknya.

Paman Khung memberi isyarat agar Chien Wan berdiri di sampingnya. Lalu ia melirik ke arah datangnya Chien Wan, senyum tipis tersungging di sudut bibirnya.

“Mainkan lagumu!”

Chien Wan mengangguk. Ia telah terbiasa dengan sikap Paman Khung yang tak suka berbasa-basi. Ia mengangkat suling ke bibirnya dan mulai meniup, memainkan lagu ciptaannya yang kian hari kian sempurna.

Tuan Luo dan Sen Khang yang tengah bersembunyi di balik rumpun bambu yang lebat terperangah melihatnya. Mereka terpukau mendengarkan irama yang begitu indah. Irama yang seolah sanggup membawa mereka ke alam khayal yang tak pernah dapat digapai. Irama yang membuai baik telinga dan pikiran mereka. Irama yang amat luar biasa!

Bagaimana mungkin, pikir Tuan Luo, anak desa yang tidak pernah mendapat pelajaran musik dari para ahli ini sanggup memainkan lagu semegah ini? Sebagai orang yang telah cukup merasakan asam garam dunia, Tuan Luo menyadari bahwa kemampuan bermusik tidak hanya didapat dari latihan keras semata. Harus ada bakat yang menyertainya. Dan jelas sekali Paman Khung tidak mengada-ada. Chien Wan memiliki bakat itu. Secara luar biasa!

Mulut Sen Khang ternganga. Dari semua hal yang ia pikirkan mengenai rahasia sahabatnya, musik tak pernah terlintas di benaknya. Ia tak menduga sama sekali bahwa Chien Wan sanggup meniup suling, apalagi memainkan lagu seperti itu.

Dan Chien Wan pun selesai memainkan lagunya.

Paman Khung mengangguk puas. “Bagus.”

Wajah Chien Wan bercahaya mendengarnya.

Tiba-tiba Paman Khung mengalihkan pandang ke arah rumpun bambu rimbun yang menutupi jalan setapak rahasia yang digunakan Chien Wan untuk menyelinap keluar dari Wisma Bambu. Bibirnya tersenyum simpul.

“Apakah Anda sependapat denganku, Tuan Besar?”

Chien Wan menoleh kaget.

Tuan Luo menghela napas. Ia memberi isyarat pada Sen Khang agar keluar.

“Sen Khang,” gumam Chien Wan pelan.

Sen Khang menyeringai. “Ternyata ini rahasia yang kausembunyikan. Kenapa kau tidak pernah bilang padaku, sih? Aku kan sahabatmu!” protesnya.

“Maaf.”

Tuan Luo memandang Chien Wan dengan pandangan baru. “Ternyata kau berbakat musik, Chien Wan.”

Chien Wan tak menyahut, hanya menunduk dengan perasaan tidak nyaman.

“Jadi, Tuan sudah mempertimbangkan usulku empat tahun lalu?” sela Paman Khung.

Dengan helaan napas panjang, Tuan Luo mengangguk.

Sen Khang menatap Chien Wan dengan alis terangkat. Temannya cuma mengangkat bahu.

“Chien Wan,” Tuan Luo memulai, “aku akan mengantarmu ke Lembah Nada untuk memperdalam musik.”

Jantung Chien Wan seolah berhenti berdetak. Lembah Nada adalah tempat yang selalu diidamkannya semenjak mendengar namanya untuk pertama kali. Mempelajari musik di Lembah Nada adalah impiannya. Ternyata mimpinya akan menjadi kenyataan!

“Tapi, Yah...!”

“Sia-sia jika Chien Wan terus berada di sini sementara di Lembah Nada ia dapat belajar banyak. Aku tidak mempunyai kemampuan sedikit pun dalam hal musik. Seseorang dengan bakat seperti Chien Wan sudah selayaknya mendapat kesempatan,” potong Tuan Luo.

“Aku boleh ikut?” tanya Sen Khang antusias. “Aku dapat berlatih bersama Chien Wan!”

Tuan Luo tertawa. “Apa yang bisa kaulatih di sana, Sen Khang? Setahuku kau bahkan tidak bisa membedakan harpa dengan kecapi!”

Sen Khang merengut.

Tuan Luo kembali menghadap Chien Wan. “Kau akan kuantar ke sana tiga hari lagi, Chien Wan.”

“Terima kasih, Tuan,” bilang Chien Wan lirih.

“Tetapi aku juga ingin kau melakukan sesuatu untukku setibanya kau di sana.”

Nada bicara Tuan Luo berubah menjadi lebih tajam dan serius. Chien Wan langsung waspada mendengarnya.

“Kau sudah lihat keadaan adikku Sui She, bukan? Kau melihat penderitaannya. Sekarang akan kujelaskan. Penderitaannya disebabkan oleh orang Lembah Nada!”

Chien Wan ternganga.

“Benarkah? Bibi disakiti oleh orang Lembah Nada?” seru Sen Khang. “Lalu mengapa Ayah menyuruh Chien Wan ke sana? Bagaimana jika mereka juga menyakiti Chien Wan? Tidak, Yah! Jangan bawa Chien Wan ke sana.”

“Bukan seperti bayanganmu, Tuan Muda,” sela Paman Khung cepat. “Orang di Lembah Nada bukanlah orang kejam seperti bayanganmu. Mereka orang-orang yang beradab dan bijaksana. Namun ada suatu hal yang kebetulan menyebabkan Nona Sui She kehilangan akal sehat. Kejadian itu terjadi sekitar tujuh belas tahun yang lalu dan sampai saat ini tak ada seorang pun yang tahu.”

“Nah, tugas Chien Wan adalah menyelidiki kejadian tujuh belas tahun lalu. Apa yang meyebabkan adikku seperti itu,” sambung Tuan Luo dengan nada lebih tenang.

Chien Wan menggigit-gigit bibirnya. Tugas ini sungguh berat.

“Bagaimana, Chien Wan? Maukah kau melakukannya demi aku?” tanya Tuan Luo.

Demi Tuan Luo. Demi penolong jiwanya.

Ia mengangkat wajah sehingga matanya bertatapan dengan mata Tuan Luo. Tuan Luo menampungnya kala ia membutuhkan tempat tinggal, memberinya makan kala ia kelaparan, mengobatinya saat ia sakit keras, mengajarinya segala hal yang perlu diketahuinya. Dan jauh di atas semua itu, Keluarga Luo telah memberinya persahabatan yang tulus dan tiada duanya. Sekarang mereka memerlukan bantuannya. Namun bantuan ini juga bukan merupakan hal yang percuma karena ia juga mendapat kesempatan untuk mempelajari musik yang sangat dicintainya.

“Saya bersedia, Tuan.”

Tuan Luo menghela napas lega.

Bersambung.

Terpopuler

Comments

Yanka Raga

Yanka Raga

gaz🤓

2024-02-14

0

Yanka Raga

Yanka Raga

wooow ,,,, misi perdana

2024-02-14

0

Eros Hariyadi

Eros Hariyadi

Lanjuuuutt 😝😎💪👍🙏

2024-01-14

0

lihat semua
Episodes
1 Wisma Bambu
2 Paviliun Taman Belakang
3 Paman Khung
4 Chi Meng Huan
5 Suling Bambu Hitam
6 Ting Ting Diculik
7 Ketua Persilatan
8 Misi ke Lembah Nada
9 Empat Tambur Perak
10 Ouwyang Ping
11 Diangkat Menjadi Murid
12 Latihan Keras
13 Dilema Cinta Pertama
14 Bahagia di Lembah Nada
15 Berpetualang Bersama
16 Tiba di Kota Lok Yang
17 Reuni
18 Pertemuan Para Pendekar
19 Tuan Muda Chang
20 Penampilan Perdana
21 Hati ke Hati
22 Hati yang Luka
23 Di Bukit Merak
24 Dewa Seribu Wajah
25 Mencari Chi Meng Huan
26 Terperangkap
27 Rencana Chang Fei Yu
28 Kelelawar Hitam
29 Bebas
30 Melarikan Diri
31 Pertarungan
32 Pertarungan di Perbatasan
33 Menuju Wisma Bambu
34 Berjumpa Paman Khung
35 Penolakan Paman Khung
36 Kemball ke Lembah Nada
37 Pulang
38 Paman Khung Sakit Keras
39 Menuju Wisma Bambu
40 Mengurus Paman Khung
41 Luo Sui She Sembuh!
42 Ibu?
43 Leontin Penguak Rahasia
44 Terkuaknya Rahasia Masa Lalu
45 Dia Adikku
46 Berpisah
47 Kewajiban
48 Merindukannya
49 Harpa Kencana
50 Masa Lalu Sung Cen I
51 Masa Lalu Sung Cen II
52 Masa Lalu Sung Cen III
53 Keputusan A Ming
54 Dua Tahun Kemudian
55 Partai Kupu-Kupu
56 Luo Sen Khang Bertemu Ouwyang Ping
57 Pulang ke Lembah Nada
58 Kenangan Masa Silam
59 Reuni Dengan Sung Siu Hung
60 Di Lembah Nada
61 Cemburu
62 Rencana Tuan Ouwyang Cu
63 Berseteru
64 Perjodohan
65 Amarah Chang Fei Yu
66 Perjalanan Luo Sen Khang dan Ouwyang Ping
67 Di Partai Kupu Kupu
68 Pengkhianatan Cheng Sam
69 Penyelidikan
70 Berita Tentang Bukit Merak
71 Berselisih Jalan
72 Awal Bencana
73 Prahara di Wisma Bambu
74 Amarah dan Nestapa
75 Duka Hati Chien Wan
76 Wisma Bambu Berkabung
77 Kebencian dan Amarah
78 Isu di Dunia Persilatan
79 Berpisah Dengan Kui Fang
80 Wu Kui Fang Mencari Bukti
81 Rencana Pendekar Sung
82 Ke Lembah Nada
83 Ouwyang Kuan dan Luo Sui She ke Wisma Bambu
84 Mencari Kamus Silat Tung Pei
85 Orangtua Chien Wan Disandera
86 Luo Sen Khang Gusar
87 Para Pendekar di Wisma Bambu
88 Luo Sen Khang Menyandera Ouwyang Ping
89 Luo Sen Khang Terjebak
90 Dua Luo Sen Khang
91 Derita Luo Ting Ting
92 Penyesalan Luo Sen Khang
93 Pertengkaran Dua Pecinta
94 Luo Ting Ting Mengandung
95 Wu Kui Fang Bertemu Chien Wan
96 Di Partai Kupu Kupu
97 Wu Kui Fang Diculik
98 Selamat
99 Mendiskusikan Bukti yang Didapat
100 Cheng Sam Kembali Berulah
101 Upaya Mencari Jejak Cheng Sam
102 Hati yang Berbunga
103 Perguruan Elang Merah
104 Keluarga Kam
105 Cheng Sam Kembali Lolos
106 Masa Lalu Cheng Sam
107 Niat Luo Sui She
108 Kedatangan Chien Wan
109 Kasih Persaudaraan
110 Kesalahpahaman
111 Kegelisahan Wu Kui Fang
112 Kisah Masa Lalu
113 Rencana Pertunangan
114 Cinta Chi Meng Huan
115 Dua Hati Menyatu
116 Perjanjian di Kotaraja
117 Perjalanan Chang Fei Yu
118 Kabar Pernikahan Luo Ting Ting
119 Kedatangan Tuan Ouwyang Cu
120 Kehamilan A Ming
121 Musuh yang Sebenarnya
122 Kebencian yang Mendalam
123 Chien Wan Terluka
124 Ketulusan Hati Chang Fei Yu
125 Chien Wan Sadarkan Diri
126 Rencana Keberangkatan
127 Menuju Pulau Ginseng
128 Guru Chi Meng Huan
129 Tiba di Pulau Ginseng
130 Menetap Sementara di Pulau Ginseng
131 Berlatih di Pulau Ginseng
132 Chien Wan Sembuh
133 Janji Tuan Ouwyang Cu
134 Bakat Sung Siu Hung
135 Kesedihan A Ming
136 Derita Luo Ting Ting
137 Tuan Chang Mengunjungi Putranya
138 Chang Fei Yu Melamar
139 Hari-Hari Bahagia di Pulau Ginseng
140 Buah Dewa
141 Janji Tuan Ouwyang Cu
142 Pulang
143 Pernikahan
144 Amarah Chi Meng Huan
145 Penyusup
146 Masalah di Partai Kupu-Kupu
147 Wu Kui Fang Membela Sam Hui
148 Sam Hui Diserang
149 Pertemuan Tahunan
150 Pengkhianatan Wie Yun Cun
151 Kemunculan Para Pendekar
152 Pertempuran
153 Luo Sen Khang Galau
154 Ketua Persilatan Mengundurkan Diri
155 Tuan Ouwyang Melamar
156 Kelelawar Hitam Membawa Berita
157 Chi Sien Lung
158 Kelahiran Anak Ting Ting
159 Menjenguk Ting Ting
160 Meninggalkan Partai Kupu-Kupu
161 Bukit Ayam Emas
162 Nyaris Celaka
163 Serangan Chi Meng Huan
164 Ketua Persilatan yang Baru
165 Kembali ke Wisma Bambu
166 A Ming Melarikan Diri
167 A Ming Terkena Racun
168 Peringatan Setahun Kematian Tuan dan Nyonya Luo
169 A Ming Pergi
170 Bencana di Partai Kupu-Kupu
171 Duka yang Mendalam
172 Kelelawar Hitam
173 Chang Yi Hang Diculik
174 Usaha Pencarian
175 Menitipkan Sien Lung
176 Pertempuran
177 Tuan Ouwyang Cu Tewas
178 Terbersit Penyesalan
179 Akhir Hidup Chi Meng Huan
180 Pernikahan di Lembah Nada (End)
181 Terima Kasih
182 Epilog
Episodes

Updated 182 Episodes

1
Wisma Bambu
2
Paviliun Taman Belakang
3
Paman Khung
4
Chi Meng Huan
5
Suling Bambu Hitam
6
Ting Ting Diculik
7
Ketua Persilatan
8
Misi ke Lembah Nada
9
Empat Tambur Perak
10
Ouwyang Ping
11
Diangkat Menjadi Murid
12
Latihan Keras
13
Dilema Cinta Pertama
14
Bahagia di Lembah Nada
15
Berpetualang Bersama
16
Tiba di Kota Lok Yang
17
Reuni
18
Pertemuan Para Pendekar
19
Tuan Muda Chang
20
Penampilan Perdana
21
Hati ke Hati
22
Hati yang Luka
23
Di Bukit Merak
24
Dewa Seribu Wajah
25
Mencari Chi Meng Huan
26
Terperangkap
27
Rencana Chang Fei Yu
28
Kelelawar Hitam
29
Bebas
30
Melarikan Diri
31
Pertarungan
32
Pertarungan di Perbatasan
33
Menuju Wisma Bambu
34
Berjumpa Paman Khung
35
Penolakan Paman Khung
36
Kemball ke Lembah Nada
37
Pulang
38
Paman Khung Sakit Keras
39
Menuju Wisma Bambu
40
Mengurus Paman Khung
41
Luo Sui She Sembuh!
42
Ibu?
43
Leontin Penguak Rahasia
44
Terkuaknya Rahasia Masa Lalu
45
Dia Adikku
46
Berpisah
47
Kewajiban
48
Merindukannya
49
Harpa Kencana
50
Masa Lalu Sung Cen I
51
Masa Lalu Sung Cen II
52
Masa Lalu Sung Cen III
53
Keputusan A Ming
54
Dua Tahun Kemudian
55
Partai Kupu-Kupu
56
Luo Sen Khang Bertemu Ouwyang Ping
57
Pulang ke Lembah Nada
58
Kenangan Masa Silam
59
Reuni Dengan Sung Siu Hung
60
Di Lembah Nada
61
Cemburu
62
Rencana Tuan Ouwyang Cu
63
Berseteru
64
Perjodohan
65
Amarah Chang Fei Yu
66
Perjalanan Luo Sen Khang dan Ouwyang Ping
67
Di Partai Kupu Kupu
68
Pengkhianatan Cheng Sam
69
Penyelidikan
70
Berita Tentang Bukit Merak
71
Berselisih Jalan
72
Awal Bencana
73
Prahara di Wisma Bambu
74
Amarah dan Nestapa
75
Duka Hati Chien Wan
76
Wisma Bambu Berkabung
77
Kebencian dan Amarah
78
Isu di Dunia Persilatan
79
Berpisah Dengan Kui Fang
80
Wu Kui Fang Mencari Bukti
81
Rencana Pendekar Sung
82
Ke Lembah Nada
83
Ouwyang Kuan dan Luo Sui She ke Wisma Bambu
84
Mencari Kamus Silat Tung Pei
85
Orangtua Chien Wan Disandera
86
Luo Sen Khang Gusar
87
Para Pendekar di Wisma Bambu
88
Luo Sen Khang Menyandera Ouwyang Ping
89
Luo Sen Khang Terjebak
90
Dua Luo Sen Khang
91
Derita Luo Ting Ting
92
Penyesalan Luo Sen Khang
93
Pertengkaran Dua Pecinta
94
Luo Ting Ting Mengandung
95
Wu Kui Fang Bertemu Chien Wan
96
Di Partai Kupu Kupu
97
Wu Kui Fang Diculik
98
Selamat
99
Mendiskusikan Bukti yang Didapat
100
Cheng Sam Kembali Berulah
101
Upaya Mencari Jejak Cheng Sam
102
Hati yang Berbunga
103
Perguruan Elang Merah
104
Keluarga Kam
105
Cheng Sam Kembali Lolos
106
Masa Lalu Cheng Sam
107
Niat Luo Sui She
108
Kedatangan Chien Wan
109
Kasih Persaudaraan
110
Kesalahpahaman
111
Kegelisahan Wu Kui Fang
112
Kisah Masa Lalu
113
Rencana Pertunangan
114
Cinta Chi Meng Huan
115
Dua Hati Menyatu
116
Perjanjian di Kotaraja
117
Perjalanan Chang Fei Yu
118
Kabar Pernikahan Luo Ting Ting
119
Kedatangan Tuan Ouwyang Cu
120
Kehamilan A Ming
121
Musuh yang Sebenarnya
122
Kebencian yang Mendalam
123
Chien Wan Terluka
124
Ketulusan Hati Chang Fei Yu
125
Chien Wan Sadarkan Diri
126
Rencana Keberangkatan
127
Menuju Pulau Ginseng
128
Guru Chi Meng Huan
129
Tiba di Pulau Ginseng
130
Menetap Sementara di Pulau Ginseng
131
Berlatih di Pulau Ginseng
132
Chien Wan Sembuh
133
Janji Tuan Ouwyang Cu
134
Bakat Sung Siu Hung
135
Kesedihan A Ming
136
Derita Luo Ting Ting
137
Tuan Chang Mengunjungi Putranya
138
Chang Fei Yu Melamar
139
Hari-Hari Bahagia di Pulau Ginseng
140
Buah Dewa
141
Janji Tuan Ouwyang Cu
142
Pulang
143
Pernikahan
144
Amarah Chi Meng Huan
145
Penyusup
146
Masalah di Partai Kupu-Kupu
147
Wu Kui Fang Membela Sam Hui
148
Sam Hui Diserang
149
Pertemuan Tahunan
150
Pengkhianatan Wie Yun Cun
151
Kemunculan Para Pendekar
152
Pertempuran
153
Luo Sen Khang Galau
154
Ketua Persilatan Mengundurkan Diri
155
Tuan Ouwyang Melamar
156
Kelelawar Hitam Membawa Berita
157
Chi Sien Lung
158
Kelahiran Anak Ting Ting
159
Menjenguk Ting Ting
160
Meninggalkan Partai Kupu-Kupu
161
Bukit Ayam Emas
162
Nyaris Celaka
163
Serangan Chi Meng Huan
164
Ketua Persilatan yang Baru
165
Kembali ke Wisma Bambu
166
A Ming Melarikan Diri
167
A Ming Terkena Racun
168
Peringatan Setahun Kematian Tuan dan Nyonya Luo
169
A Ming Pergi
170
Bencana di Partai Kupu-Kupu
171
Duka yang Mendalam
172
Kelelawar Hitam
173
Chang Yi Hang Diculik
174
Usaha Pencarian
175
Menitipkan Sien Lung
176
Pertempuran
177
Tuan Ouwyang Cu Tewas
178
Terbersit Penyesalan
179
Akhir Hidup Chi Meng Huan
180
Pernikahan di Lembah Nada (End)
181
Terima Kasih
182
Epilog

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!