Dua minggu kemudian, Tuan Luo kembali bersama Meng Huan.
Awalnya pihak keluarga berkeras supaya Meng Huan tetap tinggal bersama mereka. Namun Meng Huan sendiri yang memutuskan untuk ikut dengan gurunya. Ia tidak mau tinggal di tempat yang mengingatkannya akan kenangan manisnya bersama orangtuanya. Lagi pula ia ingin belajar ilmu silat dengan tekun supaya kelak bisa membalaskan dendam orangtuanya.
Maka Tuan Luo membawanya ke Wisma Bambu.
Kedatangan Meng Huan disambut dengan penuh kasih oleh teman-temannya. Meng Huan sangat terharu akan penyambutan mereka. Mereka membuatnya dapat sedikit melupakan kesedihan hatinya.
Persahabatan mereka berempat terjalin dengan sangat erat. Masing-masing rela berkorban untuk yang lainnya. Dan karena Ting Ting satu-satunya anak perempuan, ketiga lainnya selalu berusaha melindunginya.
Tuan Luo melatih mereka dengan keras, dan mereka berlatih dengan giat. Kepandaian mereka kian hari kian bertambah. Tuan Luo tidak pilih kasih dalam memberi ilmu. Masing-masing dilatih dengan jurus yang sesuai dengan karakternya,
Sen Khang memiliki tenaga dalam yang paling besar. Ia lebih berbakat menggunakan tangan kosong daripada senjata. Maka Tuan Luo menekankan latihan tangan kosong padanya.
Meng Huan lincah. Ia berbakat menggunakan kakinya dalam setiap gerakan. Keseimbangannya mengagumkan. Tendangannya keras dan tajam. Maka Tuan Luo melatihnya dengan ilmu tendangan.
Ting Ting dilatih dengan ilmu yang menggunakan senjata. Ia berbakat menggunakan sepasang pedang.
Hanya Chien Wan yang membuat pusing Tuan Luo. Chien Wan tekun berlatih, namun semangatnya kurang. Ia juga tidak menunjukkan ketertarikan terhadap apa pun yang berhubungan dengan senjata tajam. Ilmu tangan kosongnya bagus, namun tidak sesempurna Sen Khang. Tendangannya baik, namun tidak sebagus Meng Huan. Hanya ketekunannya sajalah yang membuatnya dapat latihan bersama teman-temannya.
Baik Tuan Luo maupun Paman Khung tak pernah lagi menyinggung-nyinggung soal pembicaraan mereka yang terputus saat peristiwa penculikan Meng Huan dulu. Mereka seolah menganggap pembicaraan dulu itu tak pernah ada.
\*\*\*
Waktu berlalu dengan sangat cepat. Tanpa terasa, anak-anak itu sudah beranjak remaja. Kepolosan dan keluguan khas anak kecil berubah menjadi kehangatan dan keceriaan khas remaja. Perubahan yang biasa dialami oleh siapa saja, namun tidak mengubah sifat dasar yang memang sudah menjadi karakter masing-masing orang.
Sen Khang dan Chien Wan tumbuh menjadi pemuda berumur enam belas tahun. Mereka memiliki penampilan dan karakter yang bertolak belakang, namun hal itu tidak menghalangi mereka untuk bersahabat baik. Perbedaan mereka menjadi lelucon sendiri di kalangan penghuni Wisma Bambu.
Sen Khang memiliki sifat riang dan suka bercanda, namun menampakkan kharisma seorang pemimpin karena ia juga tegas dan bersemangat. Wajahnya tampan dan sorot matanya yang tajam diperlembut oleh kebiasaannya selalu menyunggingkan senyum ramah. Tubuhnya tinggi tegap, namun gerakannya ringan dan anggun.
Sepintas, Chien Wan tidaklah seistimewa Sen Khang. Ia bertubuh tinggi dan agak kurus, dan wajahnya juga agak pucat. Sebenarnya ia tampan kalau saja mau tersenyum lebih sering. Ia seorang yang pendiam dan tidak banyak bicara. Ia tidak pernah memperlihatkan luapan perasaan yang berlebihan. Tak ada yang bisa membedakan apakah ia sedang marah atau sedang gembira.
Kekontrasan ini juga terlihat jelas dalam penampilan mereka. Sen Khang suka mengenakan segala sesuatu berwarna putih. Sedangkan Chien Wan lebih suka mengenakan pakaian berwarna hitam atau kelabu, sesuai dengan sifatnya yang tak ingin menjadi pusat perhatian.
Chi Meng Huan berusia lima belas tahun. Ia tipe pemuda pesolek, senang memakai pakaian yang berbahan halus seperti sutra dan menggunakan wewangian. Ia senang terlihat bersih dan rapi serta harum. Wajahnya tampan dan lembut. Tinggi tubuhnya sama dengan Chien Wan, sedikit lebih pendek dari Sen Khang. Sifatnya ramah dan menyenangkan. Semua orang yang pernah berbicara dengannya pasti menyukainya.
Ting Ting pun sudah menginjak awal usia remaja, yakni tiga belas tahun. Namun karena ia yang paling kecil, ia sering tidak dianggap sudah remaja. Orangtuanya memperlakukannya bagaikan sekuntum bunga yang mudah rusak, karena itu dilindungi dengan hati-hati. Terutama karena ia begitu jelita.
Dalam usia yang baru tiga belas tahun, kecantikan Ting Ting memang sudah sangat menonjol. Ia memiliki kulit yang luar biasa putih dan merona di tempat-tempat tertentu, menambah cahaya kecantikannya. Sepasang matanya bening dan bersinar. Hidungnya berbentuk indah, dan sepasang bibirnya mungil berwarna merah. Tubuhnya langsing dengan sepasang kaki dan tangan yang lentur berjemari lentik.
Ting Ting suka memakai pakaian berwarna merah yang berpotongan indah bak putri bangsawan. Ia menyukai hal-hal yang unik dan tidak terpikirkan oleh orang lain. Sifatnya manja namun menggemaskan. Ia tidak suka bertengkar dengan orang lain, namun terkadang bisa sangat keras kepala. Jika ia sudah menyukai sesuatu, ia akan berkeras supaya bisa memilikinya.
Akhir-akhir ini, Tuan Luo sering tampak termenung. Sepertinya, penyakit adiknya sudah tak bisa disembuhkan lagi. Selama bertahun-tahun ia telah mengundang puluhan, bahkan ratusan tabib dan orang pintar untuk mengobati sakit jiwa yang diderita Sui She. Namun hasilnya nihil. Ia sudah putus asa.
Belakangan ini ia sering memikirkan pembicaraannya dengan Paman Khung empat tahun yang lalu, tentang mengutus orang untuk menyelidiki peristiwa ketika Sui She belajar di Lembah Nada. Ia makin serius memikirkan kebenaran ucapan Paman Khung. Penyakit jiwa baru bisa disembuhkan jika akar permasalahannya ditemukan dan dipecahkan.
Namun mengutus Chien Wan?
Tuan Luo belum pernah sekali pun melihat maupun mendengar Chien Wan memainkan alat musik. Paman Khung bilang Chien Wan berbakat, namun sampai saat ini Chien Wan belum pernah meniup sulingnya di depan umum.
Seandainya memang benar Chien Wan mampu dan berbakat memainkan alat musik, mampukah ia menjalankan tugas mata-mata seperti itu? Ia mengenal tabiat Chien Wan. Pemuda itu tidak pernah suka ikut campur urusan yang bukan urusannya. Bagaimana caranya meyakinkan dia supaya mau menjadi penyelidik baginya?
Dalam kegalauannya, Tuan Luo melangkah keluar dari ruang kerjanya.
Saat itu sudah senja, bahkan menjelang malam. Sebelum ini ia tidak pernah keluar dari ruang kerjanya pada saat seeprti ini. Orang di Wisma Bambu tidak suka keluar malam-malam, termasuk dirinya. Kali ini ia sengaja keluar untuk menjernihkan pikirannya.
Ketika itulah ia melihat Chien Wan keluar dari kamarnya dan berjalan dengan gerakan ringan menuju jalan setapak yang sempit, yang merupakan jalan pintas menuju Hutan Bambu.
Ia penasaran, lalu mengikuti Chien Wan.
Yang ia tidak sadari, Sen Khang pun mengikuti Chien Wan.
Sudah lama Sen Khang curiga dengan kelakuan Chien Wan yang suka keluar malam-malam. Awalnya ia tidak terlalu mempedulikannya karena merasa itu bukan urusannya. Namun karena Chien Wan melakukannya hampir tiap malam, rasa penasarannya tergelitik juga di samping rasa kesalnya karena tidak diikutsertakan dalam rahasia Chien Wan. Baginya Chien Wan adalah sahabat baiknya, dan di antara sahabat tidak ada rahasia.
Sen Khang berusaha bergerak dengan sangat hati-hati supaya Chien Wan tidak mendengarnya. Karena indera perasa Chien Wan tidak berfungsi, indera lainnya menjadi lebih tajam dua kali lipat—termasuk indera pendengarannya. Namun langkahnya sudah terlatih sehingga gerakannya menjadi sangat ringan.
Namun tiba-tiba, ia mendengar gesekan ranting tak jauh darinya. Dengan terkejut ia menoleh. Matanya membelalak.
Mulutnya terbuka hendak menyerukan, “Ayah!” namun sang ayah meletakkan telunjuknya di bibir dan menggeleng pelan. Sen Khang pun bungkam. Kini mereka berdua mengendap-endap bersama.
Chien Wan tidak curiga sedikit pun bahwa dirinya tengah diikuti. Karena tidak waspada, ia tidak memasang telinga. Dengan tenang ia terus saja berjalan menuju gubuk Paman Khung. Sudah setahun ini waktu pertemuan mereka diadakan lebih malam. Akhir-akhir ini gerak-gerik Chien Wan terbatas sesuai dengan pertumbuhan tubuhnya. Ia tidak bisa dengan mudah menyembunyikan diri jika ada orang, seperti yang dilakukannya dulu.
“Paman Khung,” sapanya kala melihat Paman Khung yang tengah berdiri di depan gubuknya.
Paman Khung memberi isyarat agar Chien Wan berdiri di sampingnya. Lalu ia melirik ke arah datangnya Chien Wan, senyum tipis tersungging di sudut bibirnya.
“Mainkan lagumu!”
Chien Wan mengangguk. Ia telah terbiasa dengan sikap Paman Khung yang tak suka berbasa-basi. Ia mengangkat suling ke bibirnya dan mulai meniup, memainkan lagu ciptaannya yang kian hari kian sempurna.
Tuan Luo dan Sen Khang yang tengah bersembunyi di balik rumpun bambu yang lebat terperangah melihatnya. Mereka terpukau mendengarkan irama yang begitu indah. Irama yang seolah sanggup membawa mereka ke alam khayal yang tak pernah dapat digapai. Irama yang membuai baik telinga dan pikiran mereka. Irama yang amat luar biasa!
Bagaimana mungkin, pikir Tuan Luo, anak desa yang tidak pernah mendapat pelajaran musik dari para ahli ini sanggup memainkan lagu semegah ini? Sebagai orang yang telah cukup merasakan asam garam dunia, Tuan Luo menyadari bahwa kemampuan bermusik tidak hanya didapat dari latihan keras semata. Harus ada bakat yang menyertainya. Dan jelas sekali Paman Khung tidak mengada-ada. Chien Wan memiliki bakat itu. Secara luar biasa!
Mulut Sen Khang ternganga. Dari semua hal yang ia pikirkan mengenai rahasia sahabatnya, musik tak pernah terlintas di benaknya. Ia tak menduga sama sekali bahwa Chien Wan sanggup meniup suling, apalagi memainkan lagu seperti itu.
Dan Chien Wan pun selesai memainkan lagunya.
Paman Khung mengangguk puas. “Bagus.”
Wajah Chien Wan bercahaya mendengarnya.
Tiba-tiba Paman Khung mengalihkan pandang ke arah rumpun bambu rimbun yang menutupi jalan setapak rahasia yang digunakan Chien Wan untuk menyelinap keluar dari Wisma Bambu. Bibirnya tersenyum simpul.
“Apakah Anda sependapat denganku, Tuan Besar?”
Chien Wan menoleh kaget.
Tuan Luo menghela napas. Ia memberi isyarat pada Sen Khang agar keluar.
“Sen Khang,” gumam Chien Wan pelan.
Sen Khang menyeringai. “Ternyata ini rahasia yang kausembunyikan. Kenapa kau tidak pernah bilang padaku, sih? Aku kan sahabatmu!” protesnya.
“Maaf.”
Tuan Luo memandang Chien Wan dengan pandangan baru. “Ternyata kau berbakat musik, Chien Wan.”
Chien Wan tak menyahut, hanya menunduk dengan perasaan tidak nyaman.
“Jadi, Tuan sudah mempertimbangkan usulku empat tahun lalu?” sela Paman Khung.
Dengan helaan napas panjang, Tuan Luo mengangguk.
Sen Khang menatap Chien Wan dengan alis terangkat. Temannya cuma mengangkat bahu.
“Chien Wan,” Tuan Luo memulai, “aku akan mengantarmu ke Lembah Nada untuk memperdalam musik.”
Jantung Chien Wan seolah berhenti berdetak. Lembah Nada adalah tempat yang selalu diidamkannya semenjak mendengar namanya untuk pertama kali. Mempelajari musik di Lembah Nada adalah impiannya. Ternyata mimpinya akan menjadi kenyataan!
“Tapi, Yah...!”
“Sia-sia jika Chien Wan terus berada di sini sementara di Lembah Nada ia dapat belajar banyak. Aku tidak mempunyai kemampuan sedikit pun dalam hal musik. Seseorang dengan bakat seperti Chien Wan sudah selayaknya mendapat kesempatan,” potong Tuan Luo.
“Aku boleh ikut?” tanya Sen Khang antusias. “Aku dapat berlatih bersama Chien Wan!”
Tuan Luo tertawa. “Apa yang bisa kaulatih di sana, Sen Khang? Setahuku kau bahkan tidak bisa membedakan harpa dengan kecapi!”
Sen Khang merengut.
Tuan Luo kembali menghadap Chien Wan. “Kau akan kuantar ke sana tiga hari lagi, Chien Wan.”
“Terima kasih, Tuan,” bilang Chien Wan lirih.
“Tetapi aku juga ingin kau melakukan sesuatu untukku setibanya kau di sana.”
Nada bicara Tuan Luo berubah menjadi lebih tajam dan serius. Chien Wan langsung waspada mendengarnya.
“Kau sudah lihat keadaan adikku Sui She, bukan? Kau melihat penderitaannya. Sekarang akan kujelaskan. Penderitaannya disebabkan oleh orang Lembah Nada!”
Chien Wan ternganga.
“Benarkah? Bibi disakiti oleh orang Lembah Nada?” seru Sen Khang. “Lalu mengapa Ayah menyuruh Chien Wan ke sana? Bagaimana jika mereka juga menyakiti Chien Wan? Tidak, Yah! Jangan bawa Chien Wan ke sana.”
“Bukan seperti bayanganmu, Tuan Muda,” sela Paman Khung cepat. “Orang di Lembah Nada bukanlah orang kejam seperti bayanganmu. Mereka orang-orang yang beradab dan bijaksana. Namun ada suatu hal yang kebetulan menyebabkan Nona Sui She kehilangan akal sehat. Kejadian itu terjadi sekitar tujuh belas tahun yang lalu dan sampai saat ini tak ada seorang pun yang tahu.”
“Nah, tugas Chien Wan adalah menyelidiki kejadian tujuh belas tahun lalu. Apa yang meyebabkan adikku seperti itu,” sambung Tuan Luo dengan nada lebih tenang.
Chien Wan menggigit-gigit bibirnya. Tugas ini sungguh berat.
“Bagaimana, Chien Wan? Maukah kau melakukannya demi aku?” tanya Tuan Luo.
Demi Tuan Luo. Demi penolong jiwanya.
Ia mengangkat wajah sehingga matanya bertatapan dengan mata Tuan Luo. Tuan Luo menampungnya kala ia membutuhkan tempat tinggal, memberinya makan kala ia kelaparan, mengobatinya saat ia sakit keras, mengajarinya segala hal yang perlu diketahuinya. Dan jauh di atas semua itu, Keluarga Luo telah memberinya persahabatan yang tulus dan tiada duanya. Sekarang mereka memerlukan bantuannya. Namun bantuan ini juga bukan merupakan hal yang percuma karena ia juga mendapat kesempatan untuk mempelajari musik yang sangat dicintainya.
“Saya bersedia, Tuan.”
Tuan Luo menghela napas lega.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 182 Episodes
Comments
Yanka Raga
gaz🤓
2024-02-14
0
Yanka Raga
wooow ,,,, misi perdana
2024-02-14
0
Eros Hariyadi
Lanjuuuutt 😝😎💪👍🙏
2024-01-14
0