Paviliun Taman Belakang

Berkat rawatan yang diberikan oleh para penghuni Wisma Bambu, keadaan Chien Wan berangsur-angsur membaik. Ia mulai bekerja membantu-bantu di dapur. Tugas Chien Wan adalah membelah-belah kayu bakar dan mengangkutnya ke dapur. Chien Wan mengerjakan tugasnya dengan baik. Tampak sekali kalau ia memang sudah terbiasa bekerja keras.

Chien Wan anak yang pendiam, tidak banyak bicara. Akan tetapi ia rajin dan selalu mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik. Pelayan-pelayan yang lain menyukainya.

Sen Khang dan Ting Ting baik padanya. Sen Khang selalu mengajaknya berlatih bersama-sama. Chien Wan tak pernah menolak ajakan Sen Khang, namun ia tak pernah ikut berlatih. Ia hanya melihat saja. Ia cukup tahu diri. Ia sadar bahwa dirinya bukanlah anggota keluarga ataupun murid Tuan Luo, melainkan hanya pelayan saja.

“Chien Wan, lihat gerakanku!” seru Sen Khang, memamerkan jurus baru yang diajarkan ayahnya.

Chien Wan tidak menyahut. Ia memang melihat gerakan-gerakan silat Sen Khang, namun ia tidak memperhatikannya. Pikirannya melayang pada peristiwa waktu ibunya meninggal.

Waktu itu ibunya terbaring sakit karena demam yang amat tinggi sementara mereka tidak punya uang untuk membeli obat.

“Anakku... ini diberikan oleh ayah kandungmu....” desah ibunya dengan suara lemah sambil mengulurkan seuntai kalung dengan leontin berukir burung hong. Tangannya gemetar hebat.

Chien Wan terpana. “A... ayah kandung?”

“Be... benar, Nak. Waktu itu... aku sedang mencari kayu di pinggir Hutan Bambu. Aku melihat seorang... laki-laki terbaring hampir mati. Kau ada di pelukannya, keadaanmu... juga lemah. Aku berusaha menolong, tapi dia sudah hampir mati. Aku mengambilmu dari tangannya. Dia juga memberikan leontin yang kau... kenakan. Katanya, itu pemberian dari ayahmu. Lalu dia... mengatakan Wisma Bambu. Setelah itu dia mati.”

Chien Wan ternganga.

“Maaf, aku tidak menceritakan ini dari dulu, Nak.” Air mata meleleh di pipi perempuan tua itu. “Aku takut kau meninggalkanku.”

“Ibu....” Bibir Chien Wan bergetar menahan tangis.

“Anakku, aku menceritakan semua ini sekarang karena aku tahu... sebentar lagi aku akan mati. Aku tidak... ingin kau sebatang kara karena tidak mengetahui asal usulmu. Aku... tidak mau... kau sendirian di dunia ini....”

Sampai sini, lamunan Chien Wan terputus karena Sen Khang tiba-tiba memanggilnya, “Chien Wan!”

Chien Wan terkejut. “Eh, ya?”

Sen Khang menghampiri sambil bersungut-sungut. “Kau ini bagaimana sih? Kusuruh perhatikan malah melamun!”

“Maaf...,” ujar Chien Wan pelan.

Sen Khang duduk di samping Chien Wan sambil mengelap keringatnya. “Ada apa sih? Kau kelihatan sedih.”

Chien Wan menggeleng. “Tak apa-apa,” jawabnya. Ia anak yang tertutup, tak terbiasa mengungkapkan perasaannya.

Sen Khang kesal melihatnya karena ia sendiri adalah seorang anak yang terbuka, selalu berterus-terang, dan tak bisa menyembunyikan sesuatu. Sejak pertama kali bertemu Chien Wan, ia selalu bercerita mengenai dirinya dan keluarganya kepada Chien Wan. Tetapi Chien Wan sama sekali tidak pernah bercerita apa-apa padanya.

“Kakak!” seru sebuah suara merdu kekanak-kanakkan.

Sen Khang menoleh dan tersenyum melihat adiknya berlari-lari sambil membawa tiga tusuk manisan berwarna merah.

“Ting Ting, apa yang kaubawa?”

Ting Ting mengacungkan ketiga tusuk manisan itu dengan wajah berseri-seri. “Tadi Paman A Fuk pulang dari pasar desa dan membawa ini untuk kita!” lapornya bersemangat. Gadis kecil itu jadi terlihat lucu sekali.

“Waaah!” Sen Khang menggosok-gosok tangannya dengan gembira. “Manisan! Sudah lama kita tidak memakannya.”

Ting Ting menyerahkan manisan itu pada Sen Khang dan Chien Wan masing-masing satu. Sen Khang langsung mencicipi.

“Wah enaknya!” serunya.

“Hm... ya, enak!” sambung Ting Ting.

Chien Wan tidak memakan manisannya, melainkan hanya memandanginya saja. Tercium olehnya harum manisan itu begitu semerbak.

Ting Ting memandang heran. “Kakak Wan, mengapa manisannya tidak dimakan?” tanyanya.

Chien Wan tersenyum pahit. “Aku tak bisa merasakan apa-apa. Jadi percuma saja kalau manisan ini kumakan,” ujarnya ringan. Lalu ia kembali menyerahkan manisan itu pada Ting Ting. “Untuk Nona saja.”

Ting Ting terpana.

Sen Khang menelan ludahnya. Ia lupa indera pengecap Chien Wan tidak berfungsi. Ia jadi merasa bersalah.

Chien Wan berdiri. “Aku ke belakang dulu,” pamitnya.

Sen Khang dan Ting Ting saling berpandangan.

Chien Wan pergi ke belakang untuk menimba air. Ia berpapasan dengan seorang tua yang merupakan pelayan senior di Wisma Bambu, Paman Khung panggilannya. Chien Wan menepi untuk membiarkan Paman Khung lewat. Paman Khung menatapnya sekilas, lalu berjalan melewatinya.

* * *

Waktu bergulir dan sudah genap dua bulan Chien Wan tinggal di sana.

Selama ini, diam-diam Tuan Luo mengamati anak itu. Segala gerak-gerik Chien Wan diperhatikan olehnya. Dari luar Chien Wan tampak lemah. Tubuhnya agak kurus dan kulit wajahnya pucat. Sorot matanya tampak murung dan tak bersemangat. Tetapi Tuan Luo tahu, di balik penampilannya yang ringkih itu tersembunyi tekad dan semangat membaja. Chien Wan seorang anak yang keras hati dan pantang menyerah, dua sifat yang selayaknya dimiliki para pendekar.

Tuan Luo berniat mengangkatnya sebagai murid.

Chien Wan tak tahu menahu akan niat Tuan Luo. Ia tak berminat belajar silat. Ia hanya ingin terus menjalani hidup yang damai sebagai pelayan Keluarga Luo.

Pada suatu hari, Chien Wan hendak mengantar makanan ke kamar Sen Khang yang saat itu sedang kurang sehat. Ia mengambil jalan memutar lewat taman belakang. Dari dapur ke kamar Sen Khang agak jauh jika harus lewat depan, akan lebih dekat lewat taman belakang.

Sebelumnya ia tak pernah masuk ke taman belakang, tapi kali ini ia nekat memasukinya. Ia sudah terlambat dan sebentar lagi waktu makan malam. Ia tak mau Sen Khang kelaparan menunggunya.

Tiba-tiba langkahnya terhenti mendapati sebuah paviliun kecil di dalam taman belakang itu. Paviliun itu kecil, besarnya hanya sekitar tiga kali kamar Chien Wan. Namun bagi Chien Wan paviliun itu sangat indah, berukir-ukir menawan dan dilengkapi dengan tirai-tirai sutra yang halus dan melambai-lambai tertiup angin malam. Semuanya berwarna putih. Keharuman yang anggun menerpa penciuman Chien Wan yang tajam.

Chien Wan menatap penuh kekaguman.

Saat itu, sesuatu berkelebat keluar dari dalam paviliun. Sesosok bayangan berwarna putih bagaikan kabut. Chien Wan merasa ngeri dan bergegas kabur, namun sosok itu menghadangnya.

Chien Wan terbelalak. Sosok itu adalah seorang perempuan bergaun putih. Perempuan itu begitu cantik dan anggun, rambutnya panjang terurai sampai pinggul tanpa hiasan apa pun, dan warnanya hitam pekat. Wajahnya halus dan mempesona seperti dewi-dewi dalam lukisan di ruang kerja Tuan Luo. Namun sayang, sepasang mata yang sebenarnya sangat indah itu tampak beku dan tak ada sinar kehidupan. Kesan yang ditimbulkan olehnya, mengerikan sekaligus menakjubkan!

“Siapa kau?” tanya perempuan itu. Suaranya merdu, namun dingin dan menyeramkan.

Chien Wan menelan ludah. “Sa... saya Chien Wan, pelayan baru...,” jawabnya.

“Kau dikirim olehnya? Bagaimana keadaannya?” tanya perempuan itu dengan suara melembut.

“Siapa?” tanya Chien Wan bingung.

“Keparaaat!!” Tiba-tiba saja perempuan itu menjerit. “Kau begitu tega! Kau tinggalkan aku demi dia. Padahal aku begitu mencintaimu!!!”

Chien Wan mundur-mundur. Dadanya berdebar kencang, ia merasa ngeri melihat sinar kegilaan pada perempuan itu.

Perempuan itu menatap Chien Wan dengan tajam.

“Kau tak boleh pergi!” bentaknya. Ia mengulurkan tangannya hendak menangkap Chien Wan. Chien Wan melempar nampan berisi makanan ke arah perempuan itu. Perempuan itu mengibaskan lengan bajunya, lalu dikejarnya Chien Wan yang berlari dengan perasaan ngeri.

Perempuan itu hampir berhasil menangkap Chien Wan kalau saja tidak ada orang yang datang menolong.

“Sui She, hentikan!” hardik orang itu yang ternyata adalah Tuan Luo.

Perempuan itu menghentikan langkahnya, lalu ia terjatuh sambil menangis tersedu-sedu. Air mata mengaliri wajahnya yang putih pucat dan sehalus pualam. “Kakak Kuan... Kakak Kuan... kau kejam sekali padaku! Kejam!” tangisnya pilu.

Chien Wan tampak pucat sekali. Lututnya gemetaran.

Tuan Luo segera bertindak. Dengan cepat ia menghampiri perempuan yang dipanggil Sui She tersebut dan menotok jalan darahnya. Kemudian, dengan hati-hati Tuan Luo memondong tubuh Sui She ke dalam paviliun.

Ketika Tuan Luo keluar, ia melihat Chien Wan masih berdiri termangu-mangu di depan paviliun. Ia menghampiri Chien Wan dengan maksud hendak memarahinya. Namun melihat betapa pucat dan terguncangnya Chien Wan, amarahnya mereda.

“Chien Wan, mengapa kau masuk taman ini? Apa mereka tak memberitahumu bahwa tak seorang pun boleh memasuki taman ini?” tegur Tuan Luo serius.

Chien Wan menjawab gugup, “Ma... maafkan saya, Tuan! Saya tak bermaksud memasuki taman. Saya cuma memotong jalan karena takut Sen Khang terlambat makan malam....”

Saat itu datanglah Nyonya Luo, Sen Khang, dan Ting Ting. Tetapi mereka cuma sampai di pintu taman, tak berani melangkah masuk. Rupanya taman itu benar-benar terlarang.

“Suamiku, ada apa?” tanya Nyonya Luo.

Tuan Luo tidak menjawab. Ia hanya memandang Chien Wan dengan serius. “Lain kali kau tak boleh masuk ke sini.”

“Ya, Tuan.”

Tuan Luo menghela napas. “Baiklah. Ayo kita ke luar,” ajaknya sambil menggandeng bahu Chien Wan. Ia merasakan bahu anak itu gemetaran. Perasaan iba menyelimuti hatinya.

Nyonya Luo memandang wajah Chien Wan yang pucat. Ia khawatir. “Chien Wan, kau tak apa-apa?” tanyanya.

Chien Wan menggeleng. “Saya tak apa-apa, Nyonya.”

“Ayo kita masuk ke dalam saja,” ajak Tuan Luo. Lalu ia menoleh pada Sen Khang. “Sen Khang, kau sedang sakit. Kenapa ikut-ikut keluar?” tegurnya.

“Aku mendengar jeritan, Ayah,” ujar Sen Khang membela diri.

Chien Wan merasa bersalah. Gara-gara kelancangannya semua orang menjadi repot. Ia menunduk.

Mereka semua masuk ke dalam rumah dan menuju ruang tengah. Seorang pelayan mengambilkan makanan dan minuman untuk Sen Khang yang memang belum makan.

“Kau sudah makan, Chien Wan?” tanya Nyonya Luo.

Chien Wan mengangguk. Padahal ia belum makan malam.

“Ini menjadi peringatan bagi kalian semua. Taman itu terlarang bagi siapa saja. Hanya aku dan pelayan terpercaya yang boleh memasukinya,” kata Tuan Luo tegas. Lalu ia menoleh pada Chien Wan. “Kau masih baru di sini jadi mungkin kau belum tahu larangan itu. Ketahuilah, Chien Wan. Perempuan di taman itu adalah adikku, namanya Luo Sui She. Dia menderita gangguan jiwa selama bertahun-tahun. Dia bisa melukai orang, makanya aku menempatkannya di taman belakang.”

“Ayah, ada sesuatu yang membuatku heran,” sela Sen Khang.

“Apa itu?”

“Taman belakang tidak pernah dikunci. Mengapa Bibi Sui She tidak melarikan diri? Bukankah dia tidak sadar akan dirinya? Kok dia tenang-tenang saja di sana dan baru menyerang orang yang masuk ke sana?” tanya Sen Khang.

Tuan Luo menghela napas. “Taman belakang sudah menjadi tempat kesayangan Sui She sejak kecil. Dia sendiri yang menempatkan dirinya di sana dan tidak pernah mencoba untuk pergi. Aku sendiri juga tidak tahu mengapa.” Ia mengepalkan kedua tangannya dengan geram. “Semua ini gara-gara orang Lembah Nada!”

“Lembah Nada?” tanya Ting Ting polos. “Tempat apa itu?”

Diam-diam Chien Wan juga penasaran. Entah mengapa, mendengar nama itu membuatnya hatinya tergerak.

“Bukan apa-apa!” sergah Tuan Luo galak, membuat putrinya segera berlindung di pelukan ibunya.

“Sudahlah,” sela Nyonya Luo lembut. “Itu tidak penting. Yang penting, kalian jangan sampai melarang pantangan itu. Mengerti?”

Ketiga bocah itu mengangguk.

Tuan Luo kembali menatap Chien Wan. “Ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu, Chien Wan.”

Jantung Chien Wan berdegup kencang. Apakah aku akan diusir dari tempat ini? pikirnya gelisah. Ia sungguh takut jika hal itu sampai terjadi.

“Apa kau mau belajar silat?”

Chien Wan tercengang. Pertanyaan itu sama sekali tidak seperti yang dipikirkannya. Sesaat lamanya, ia hanya mampu ternganga memandangi Tuan Luo. Tampangnya saat itu terlihat bodoh sekali, membuat Tuan Luo tersenyum geli.

“Hei, Chien Wan!” seru Sen Khang tertawa. “Jawab pertanyaan ayahku, jangan cuma bengong begitu!”

“Eh, iya Tuan.” Chien Wan akhirnya mengangguk-angguk.

“Bagus!” angguk Tuan Luo puas.

Bersambung.

Terpopuler

Comments

Yanka Raga

Yanka Raga

start 😎

2024-02-14

0

Eros Hariyadi

Eros Hariyadi

Lanjutkan Thor 😝😄💪👍🙏

2024-01-14

0

Eros Hariyadi

Eros Hariyadi

Like and Favorit 😝😄💪👍👍👍

2024-01-14

0

lihat semua
Episodes
1 Wisma Bambu
2 Paviliun Taman Belakang
3 Paman Khung
4 Chi Meng Huan
5 Suling Bambu Hitam
6 Ting Ting Diculik
7 Ketua Persilatan
8 Misi ke Lembah Nada
9 Empat Tambur Perak
10 Ouwyang Ping
11 Diangkat Menjadi Murid
12 Latihan Keras
13 Dilema Cinta Pertama
14 Bahagia di Lembah Nada
15 Berpetualang Bersama
16 Tiba di Kota Lok Yang
17 Reuni
18 Pertemuan Para Pendekar
19 Tuan Muda Chang
20 Penampilan Perdana
21 Hati ke Hati
22 Hati yang Luka
23 Di Bukit Merak
24 Dewa Seribu Wajah
25 Mencari Chi Meng Huan
26 Terperangkap
27 Rencana Chang Fei Yu
28 Kelelawar Hitam
29 Bebas
30 Melarikan Diri
31 Pertarungan
32 Pertarungan di Perbatasan
33 Menuju Wisma Bambu
34 Berjumpa Paman Khung
35 Penolakan Paman Khung
36 Kemball ke Lembah Nada
37 Pulang
38 Paman Khung Sakit Keras
39 Menuju Wisma Bambu
40 Mengurus Paman Khung
41 Luo Sui She Sembuh!
42 Ibu?
43 Leontin Penguak Rahasia
44 Terkuaknya Rahasia Masa Lalu
45 Dia Adikku
46 Berpisah
47 Kewajiban
48 Merindukannya
49 Harpa Kencana
50 Masa Lalu Sung Cen I
51 Masa Lalu Sung Cen II
52 Masa Lalu Sung Cen III
53 Keputusan A Ming
54 Dua Tahun Kemudian
55 Partai Kupu-Kupu
56 Luo Sen Khang Bertemu Ouwyang Ping
57 Pulang ke Lembah Nada
58 Kenangan Masa Silam
59 Reuni Dengan Sung Siu Hung
60 Di Lembah Nada
61 Cemburu
62 Rencana Tuan Ouwyang Cu
63 Berseteru
64 Perjodohan
65 Amarah Chang Fei Yu
66 Perjalanan Luo Sen Khang dan Ouwyang Ping
67 Di Partai Kupu Kupu
68 Pengkhianatan Cheng Sam
69 Penyelidikan
70 Berita Tentang Bukit Merak
71 Berselisih Jalan
72 Awal Bencana
73 Prahara di Wisma Bambu
74 Amarah dan Nestapa
75 Duka Hati Chien Wan
76 Wisma Bambu Berkabung
77 Kebencian dan Amarah
78 Isu di Dunia Persilatan
79 Berpisah Dengan Kui Fang
80 Wu Kui Fang Mencari Bukti
81 Rencana Pendekar Sung
82 Ke Lembah Nada
83 Ouwyang Kuan dan Luo Sui She ke Wisma Bambu
84 Mencari Kamus Silat Tung Pei
85 Orangtua Chien Wan Disandera
86 Luo Sen Khang Gusar
87 Para Pendekar di Wisma Bambu
88 Luo Sen Khang Menyandera Ouwyang Ping
89 Luo Sen Khang Terjebak
90 Dua Luo Sen Khang
91 Derita Luo Ting Ting
92 Penyesalan Luo Sen Khang
93 Pertengkaran Dua Pecinta
94 Luo Ting Ting Mengandung
95 Wu Kui Fang Bertemu Chien Wan
96 Di Partai Kupu Kupu
97 Wu Kui Fang Diculik
98 Selamat
99 Mendiskusikan Bukti yang Didapat
100 Cheng Sam Kembali Berulah
101 Upaya Mencari Jejak Cheng Sam
102 Hati yang Berbunga
103 Perguruan Elang Merah
104 Keluarga Kam
105 Cheng Sam Kembali Lolos
106 Masa Lalu Cheng Sam
107 Niat Luo Sui She
108 Kedatangan Chien Wan
109 Kasih Persaudaraan
110 Kesalahpahaman
111 Kegelisahan Wu Kui Fang
112 Kisah Masa Lalu
113 Rencana Pertunangan
114 Cinta Chi Meng Huan
115 Dua Hati Menyatu
116 Perjanjian di Kotaraja
117 Perjalanan Chang Fei Yu
118 Kabar Pernikahan Luo Ting Ting
119 Kedatangan Tuan Ouwyang Cu
120 Kehamilan A Ming
121 Musuh yang Sebenarnya
122 Kebencian yang Mendalam
123 Chien Wan Terluka
124 Ketulusan Hati Chang Fei Yu
125 Chien Wan Sadarkan Diri
126 Rencana Keberangkatan
127 Menuju Pulau Ginseng
128 Guru Chi Meng Huan
129 Tiba di Pulau Ginseng
130 Menetap Sementara di Pulau Ginseng
131 Berlatih di Pulau Ginseng
132 Chien Wan Sembuh
133 Janji Tuan Ouwyang Cu
134 Bakat Sung Siu Hung
135 Kesedihan A Ming
136 Derita Luo Ting Ting
137 Tuan Chang Mengunjungi Putranya
138 Chang Fei Yu Melamar
139 Hari-Hari Bahagia di Pulau Ginseng
140 Buah Dewa
141 Janji Tuan Ouwyang Cu
142 Pulang
143 Pernikahan
144 Amarah Chi Meng Huan
145 Penyusup
146 Masalah di Partai Kupu-Kupu
147 Wu Kui Fang Membela Sam Hui
148 Sam Hui Diserang
149 Pertemuan Tahunan
150 Pengkhianatan Wie Yun Cun
151 Kemunculan Para Pendekar
152 Pertempuran
153 Luo Sen Khang Galau
154 Ketua Persilatan Mengundurkan Diri
155 Tuan Ouwyang Melamar
156 Kelelawar Hitam Membawa Berita
157 Chi Sien Lung
158 Kelahiran Anak Ting Ting
159 Menjenguk Ting Ting
160 Meninggalkan Partai Kupu-Kupu
161 Bukit Ayam Emas
162 Nyaris Celaka
163 Serangan Chi Meng Huan
164 Ketua Persilatan yang Baru
165 Kembali ke Wisma Bambu
166 A Ming Melarikan Diri
167 A Ming Terkena Racun
168 Peringatan Setahun Kematian Tuan dan Nyonya Luo
169 A Ming Pergi
170 Bencana di Partai Kupu-Kupu
171 Duka yang Mendalam
172 Kelelawar Hitam
173 Chang Yi Hang Diculik
174 Usaha Pencarian
175 Menitipkan Sien Lung
176 Pertempuran
177 Tuan Ouwyang Cu Tewas
178 Terbersit Penyesalan
179 Akhir Hidup Chi Meng Huan
180 Pernikahan di Lembah Nada (End)
181 Terima Kasih
182 Epilog
Episodes

Updated 182 Episodes

1
Wisma Bambu
2
Paviliun Taman Belakang
3
Paman Khung
4
Chi Meng Huan
5
Suling Bambu Hitam
6
Ting Ting Diculik
7
Ketua Persilatan
8
Misi ke Lembah Nada
9
Empat Tambur Perak
10
Ouwyang Ping
11
Diangkat Menjadi Murid
12
Latihan Keras
13
Dilema Cinta Pertama
14
Bahagia di Lembah Nada
15
Berpetualang Bersama
16
Tiba di Kota Lok Yang
17
Reuni
18
Pertemuan Para Pendekar
19
Tuan Muda Chang
20
Penampilan Perdana
21
Hati ke Hati
22
Hati yang Luka
23
Di Bukit Merak
24
Dewa Seribu Wajah
25
Mencari Chi Meng Huan
26
Terperangkap
27
Rencana Chang Fei Yu
28
Kelelawar Hitam
29
Bebas
30
Melarikan Diri
31
Pertarungan
32
Pertarungan di Perbatasan
33
Menuju Wisma Bambu
34
Berjumpa Paman Khung
35
Penolakan Paman Khung
36
Kemball ke Lembah Nada
37
Pulang
38
Paman Khung Sakit Keras
39
Menuju Wisma Bambu
40
Mengurus Paman Khung
41
Luo Sui She Sembuh!
42
Ibu?
43
Leontin Penguak Rahasia
44
Terkuaknya Rahasia Masa Lalu
45
Dia Adikku
46
Berpisah
47
Kewajiban
48
Merindukannya
49
Harpa Kencana
50
Masa Lalu Sung Cen I
51
Masa Lalu Sung Cen II
52
Masa Lalu Sung Cen III
53
Keputusan A Ming
54
Dua Tahun Kemudian
55
Partai Kupu-Kupu
56
Luo Sen Khang Bertemu Ouwyang Ping
57
Pulang ke Lembah Nada
58
Kenangan Masa Silam
59
Reuni Dengan Sung Siu Hung
60
Di Lembah Nada
61
Cemburu
62
Rencana Tuan Ouwyang Cu
63
Berseteru
64
Perjodohan
65
Amarah Chang Fei Yu
66
Perjalanan Luo Sen Khang dan Ouwyang Ping
67
Di Partai Kupu Kupu
68
Pengkhianatan Cheng Sam
69
Penyelidikan
70
Berita Tentang Bukit Merak
71
Berselisih Jalan
72
Awal Bencana
73
Prahara di Wisma Bambu
74
Amarah dan Nestapa
75
Duka Hati Chien Wan
76
Wisma Bambu Berkabung
77
Kebencian dan Amarah
78
Isu di Dunia Persilatan
79
Berpisah Dengan Kui Fang
80
Wu Kui Fang Mencari Bukti
81
Rencana Pendekar Sung
82
Ke Lembah Nada
83
Ouwyang Kuan dan Luo Sui She ke Wisma Bambu
84
Mencari Kamus Silat Tung Pei
85
Orangtua Chien Wan Disandera
86
Luo Sen Khang Gusar
87
Para Pendekar di Wisma Bambu
88
Luo Sen Khang Menyandera Ouwyang Ping
89
Luo Sen Khang Terjebak
90
Dua Luo Sen Khang
91
Derita Luo Ting Ting
92
Penyesalan Luo Sen Khang
93
Pertengkaran Dua Pecinta
94
Luo Ting Ting Mengandung
95
Wu Kui Fang Bertemu Chien Wan
96
Di Partai Kupu Kupu
97
Wu Kui Fang Diculik
98
Selamat
99
Mendiskusikan Bukti yang Didapat
100
Cheng Sam Kembali Berulah
101
Upaya Mencari Jejak Cheng Sam
102
Hati yang Berbunga
103
Perguruan Elang Merah
104
Keluarga Kam
105
Cheng Sam Kembali Lolos
106
Masa Lalu Cheng Sam
107
Niat Luo Sui She
108
Kedatangan Chien Wan
109
Kasih Persaudaraan
110
Kesalahpahaman
111
Kegelisahan Wu Kui Fang
112
Kisah Masa Lalu
113
Rencana Pertunangan
114
Cinta Chi Meng Huan
115
Dua Hati Menyatu
116
Perjanjian di Kotaraja
117
Perjalanan Chang Fei Yu
118
Kabar Pernikahan Luo Ting Ting
119
Kedatangan Tuan Ouwyang Cu
120
Kehamilan A Ming
121
Musuh yang Sebenarnya
122
Kebencian yang Mendalam
123
Chien Wan Terluka
124
Ketulusan Hati Chang Fei Yu
125
Chien Wan Sadarkan Diri
126
Rencana Keberangkatan
127
Menuju Pulau Ginseng
128
Guru Chi Meng Huan
129
Tiba di Pulau Ginseng
130
Menetap Sementara di Pulau Ginseng
131
Berlatih di Pulau Ginseng
132
Chien Wan Sembuh
133
Janji Tuan Ouwyang Cu
134
Bakat Sung Siu Hung
135
Kesedihan A Ming
136
Derita Luo Ting Ting
137
Tuan Chang Mengunjungi Putranya
138
Chang Fei Yu Melamar
139
Hari-Hari Bahagia di Pulau Ginseng
140
Buah Dewa
141
Janji Tuan Ouwyang Cu
142
Pulang
143
Pernikahan
144
Amarah Chi Meng Huan
145
Penyusup
146
Masalah di Partai Kupu-Kupu
147
Wu Kui Fang Membela Sam Hui
148
Sam Hui Diserang
149
Pertemuan Tahunan
150
Pengkhianatan Wie Yun Cun
151
Kemunculan Para Pendekar
152
Pertempuran
153
Luo Sen Khang Galau
154
Ketua Persilatan Mengundurkan Diri
155
Tuan Ouwyang Melamar
156
Kelelawar Hitam Membawa Berita
157
Chi Sien Lung
158
Kelahiran Anak Ting Ting
159
Menjenguk Ting Ting
160
Meninggalkan Partai Kupu-Kupu
161
Bukit Ayam Emas
162
Nyaris Celaka
163
Serangan Chi Meng Huan
164
Ketua Persilatan yang Baru
165
Kembali ke Wisma Bambu
166
A Ming Melarikan Diri
167
A Ming Terkena Racun
168
Peringatan Setahun Kematian Tuan dan Nyonya Luo
169
A Ming Pergi
170
Bencana di Partai Kupu-Kupu
171
Duka yang Mendalam
172
Kelelawar Hitam
173
Chang Yi Hang Diculik
174
Usaha Pencarian
175
Menitipkan Sien Lung
176
Pertempuran
177
Tuan Ouwyang Cu Tewas
178
Terbersit Penyesalan
179
Akhir Hidup Chi Meng Huan
180
Pernikahan di Lembah Nada (End)
181
Terima Kasih
182
Epilog

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!