Berkat rawatan yang diberikan oleh para penghuni Wisma Bambu, keadaan Chien Wan berangsur-angsur membaik. Ia mulai bekerja membantu-bantu di dapur. Tugas Chien Wan adalah membelah-belah kayu bakar dan mengangkutnya ke dapur. Chien Wan mengerjakan tugasnya dengan baik. Tampak sekali kalau ia memang sudah terbiasa bekerja keras.
Chien Wan anak yang pendiam, tidak banyak bicara. Akan tetapi ia rajin dan selalu mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik. Pelayan-pelayan yang lain menyukainya.
Sen Khang dan Ting Ting baik padanya. Sen Khang selalu mengajaknya berlatih bersama-sama. Chien Wan tak pernah menolak ajakan Sen Khang, namun ia tak pernah ikut berlatih. Ia hanya melihat saja. Ia cukup tahu diri. Ia sadar bahwa dirinya bukanlah anggota keluarga ataupun murid Tuan Luo, melainkan hanya pelayan saja.
“Chien Wan, lihat gerakanku!” seru Sen Khang, memamerkan jurus baru yang diajarkan ayahnya.
Chien Wan tidak menyahut. Ia memang melihat gerakan-gerakan silat Sen Khang, namun ia tidak memperhatikannya. Pikirannya melayang pada peristiwa waktu ibunya meninggal.
Waktu itu ibunya terbaring sakit karena demam yang amat tinggi sementara mereka tidak punya uang untuk membeli obat.
“Anakku... ini diberikan oleh ayah kandungmu....” desah ibunya dengan suara lemah sambil mengulurkan seuntai kalung dengan leontin berukir burung hong. Tangannya gemetar hebat.
Chien Wan terpana. “A... ayah kandung?”
“Be... benar, Nak. Waktu itu... aku sedang mencari kayu di pinggir Hutan Bambu. Aku melihat seorang... laki-laki terbaring hampir mati. Kau ada di pelukannya, keadaanmu... juga lemah. Aku berusaha menolong, tapi dia sudah hampir mati. Aku mengambilmu dari tangannya. Dia juga memberikan leontin yang kau... kenakan. Katanya, itu pemberian dari ayahmu. Lalu dia... mengatakan Wisma Bambu. Setelah itu dia mati.”
Chien Wan ternganga.
“Maaf, aku tidak menceritakan ini dari dulu, Nak.” Air mata meleleh di pipi perempuan tua itu. “Aku takut kau meninggalkanku.”
“Ibu....” Bibir Chien Wan bergetar menahan tangis.
“Anakku, aku menceritakan semua ini sekarang karena aku tahu... sebentar lagi aku akan mati. Aku tidak... ingin kau sebatang kara karena tidak mengetahui asal usulmu. Aku... tidak mau... kau sendirian di dunia ini....”
Sampai sini, lamunan Chien Wan terputus karena Sen Khang tiba-tiba memanggilnya, “Chien Wan!”
Chien Wan terkejut. “Eh, ya?”
Sen Khang menghampiri sambil bersungut-sungut. “Kau ini bagaimana sih? Kusuruh perhatikan malah melamun!”
“Maaf...,” ujar Chien Wan pelan.
Sen Khang duduk di samping Chien Wan sambil mengelap keringatnya. “Ada apa sih? Kau kelihatan sedih.”
Chien Wan menggeleng. “Tak apa-apa,” jawabnya. Ia anak yang tertutup, tak terbiasa mengungkapkan perasaannya.
Sen Khang kesal melihatnya karena ia sendiri adalah seorang anak yang terbuka, selalu berterus-terang, dan tak bisa menyembunyikan sesuatu. Sejak pertama kali bertemu Chien Wan, ia selalu bercerita mengenai dirinya dan keluarganya kepada Chien Wan. Tetapi Chien Wan sama sekali tidak pernah bercerita apa-apa padanya.
“Kakak!” seru sebuah suara merdu kekanak-kanakkan.
Sen Khang menoleh dan tersenyum melihat adiknya berlari-lari sambil membawa tiga tusuk manisan berwarna merah.
“Ting Ting, apa yang kaubawa?”
Ting Ting mengacungkan ketiga tusuk manisan itu dengan wajah berseri-seri. “Tadi Paman A Fuk pulang dari pasar desa dan membawa ini untuk kita!” lapornya bersemangat. Gadis kecil itu jadi terlihat lucu sekali.
“Waaah!” Sen Khang menggosok-gosok tangannya dengan gembira. “Manisan! Sudah lama kita tidak memakannya.”
Ting Ting menyerahkan manisan itu pada Sen Khang dan Chien Wan masing-masing satu. Sen Khang langsung mencicipi.
“Wah enaknya!” serunya.
“Hm... ya, enak!” sambung Ting Ting.
Chien Wan tidak memakan manisannya, melainkan hanya memandanginya saja. Tercium olehnya harum manisan itu begitu semerbak.
Ting Ting memandang heran. “Kakak Wan, mengapa manisannya tidak dimakan?” tanyanya.
Chien Wan tersenyum pahit. “Aku tak bisa merasakan apa-apa. Jadi percuma saja kalau manisan ini kumakan,” ujarnya ringan. Lalu ia kembali menyerahkan manisan itu pada Ting Ting. “Untuk Nona saja.”
Ting Ting terpana.
Sen Khang menelan ludahnya. Ia lupa indera pengecap Chien Wan tidak berfungsi. Ia jadi merasa bersalah.
Chien Wan berdiri. “Aku ke belakang dulu,” pamitnya.
Sen Khang dan Ting Ting saling berpandangan.
Chien Wan pergi ke belakang untuk menimba air. Ia berpapasan dengan seorang tua yang merupakan pelayan senior di Wisma Bambu, Paman Khung panggilannya. Chien Wan menepi untuk membiarkan Paman Khung lewat. Paman Khung menatapnya sekilas, lalu berjalan melewatinya.
* * *
Waktu bergulir dan sudah genap dua bulan Chien Wan tinggal di sana.
Selama ini, diam-diam Tuan Luo mengamati anak itu. Segala gerak-gerik Chien Wan diperhatikan olehnya. Dari luar Chien Wan tampak lemah. Tubuhnya agak kurus dan kulit wajahnya pucat. Sorot matanya tampak murung dan tak bersemangat. Tetapi Tuan Luo tahu, di balik penampilannya yang ringkih itu tersembunyi tekad dan semangat membaja. Chien Wan seorang anak yang keras hati dan pantang menyerah, dua sifat yang selayaknya dimiliki para pendekar.
Tuan Luo berniat mengangkatnya sebagai murid.
Chien Wan tak tahu menahu akan niat Tuan Luo. Ia tak berminat belajar silat. Ia hanya ingin terus menjalani hidup yang damai sebagai pelayan Keluarga Luo.
Pada suatu hari, Chien Wan hendak mengantar makanan ke kamar Sen Khang yang saat itu sedang kurang sehat. Ia mengambil jalan memutar lewat taman belakang. Dari dapur ke kamar Sen Khang agak jauh jika harus lewat depan, akan lebih dekat lewat taman belakang.
Sebelumnya ia tak pernah masuk ke taman belakang, tapi kali ini ia nekat memasukinya. Ia sudah terlambat dan sebentar lagi waktu makan malam. Ia tak mau Sen Khang kelaparan menunggunya.
Tiba-tiba langkahnya terhenti mendapati sebuah paviliun kecil di dalam taman belakang itu. Paviliun itu kecil, besarnya hanya sekitar tiga kali kamar Chien Wan. Namun bagi Chien Wan paviliun itu sangat indah, berukir-ukir menawan dan dilengkapi dengan tirai-tirai sutra yang halus dan melambai-lambai tertiup angin malam. Semuanya berwarna putih. Keharuman yang anggun menerpa penciuman Chien Wan yang tajam.
Chien Wan menatap penuh kekaguman.
Saat itu, sesuatu berkelebat keluar dari dalam paviliun. Sesosok bayangan berwarna putih bagaikan kabut. Chien Wan merasa ngeri dan bergegas kabur, namun sosok itu menghadangnya.
Chien Wan terbelalak. Sosok itu adalah seorang perempuan bergaun putih. Perempuan itu begitu cantik dan anggun, rambutnya panjang terurai sampai pinggul tanpa hiasan apa pun, dan warnanya hitam pekat. Wajahnya halus dan mempesona seperti dewi-dewi dalam lukisan di ruang kerja Tuan Luo. Namun sayang, sepasang mata yang sebenarnya sangat indah itu tampak beku dan tak ada sinar kehidupan. Kesan yang ditimbulkan olehnya, mengerikan sekaligus menakjubkan!
“Siapa kau?” tanya perempuan itu. Suaranya merdu, namun dingin dan menyeramkan.
Chien Wan menelan ludah. “Sa... saya Chien Wan, pelayan baru...,” jawabnya.
“Kau dikirim olehnya? Bagaimana keadaannya?” tanya perempuan itu dengan suara melembut.
“Siapa?” tanya Chien Wan bingung.
“Keparaaat!!” Tiba-tiba saja perempuan itu menjerit. “Kau begitu tega! Kau tinggalkan aku demi dia. Padahal aku begitu mencintaimu!!!”
Chien Wan mundur-mundur. Dadanya berdebar kencang, ia merasa ngeri melihat sinar kegilaan pada perempuan itu.
Perempuan itu menatap Chien Wan dengan tajam.
“Kau tak boleh pergi!” bentaknya. Ia mengulurkan tangannya hendak menangkap Chien Wan. Chien Wan melempar nampan berisi makanan ke arah perempuan itu. Perempuan itu mengibaskan lengan bajunya, lalu dikejarnya Chien Wan yang berlari dengan perasaan ngeri.
Perempuan itu hampir berhasil menangkap Chien Wan kalau saja tidak ada orang yang datang menolong.
“Sui She, hentikan!” hardik orang itu yang ternyata adalah Tuan Luo.
Perempuan itu menghentikan langkahnya, lalu ia terjatuh sambil menangis tersedu-sedu. Air mata mengaliri wajahnya yang putih pucat dan sehalus pualam. “Kakak Kuan... Kakak Kuan... kau kejam sekali padaku! Kejam!” tangisnya pilu.
Chien Wan tampak pucat sekali. Lututnya gemetaran.
Tuan Luo segera bertindak. Dengan cepat ia menghampiri perempuan yang dipanggil Sui She tersebut dan menotok jalan darahnya. Kemudian, dengan hati-hati Tuan Luo memondong tubuh Sui She ke dalam paviliun.
Ketika Tuan Luo keluar, ia melihat Chien Wan masih berdiri termangu-mangu di depan paviliun. Ia menghampiri Chien Wan dengan maksud hendak memarahinya. Namun melihat betapa pucat dan terguncangnya Chien Wan, amarahnya mereda.
“Chien Wan, mengapa kau masuk taman ini? Apa mereka tak memberitahumu bahwa tak seorang pun boleh memasuki taman ini?” tegur Tuan Luo serius.
Chien Wan menjawab gugup, “Ma... maafkan saya, Tuan! Saya tak bermaksud memasuki taman. Saya cuma memotong jalan karena takut Sen Khang terlambat makan malam....”
Saat itu datanglah Nyonya Luo, Sen Khang, dan Ting Ting. Tetapi mereka cuma sampai di pintu taman, tak berani melangkah masuk. Rupanya taman itu benar-benar terlarang.
“Suamiku, ada apa?” tanya Nyonya Luo.
Tuan Luo tidak menjawab. Ia hanya memandang Chien Wan dengan serius. “Lain kali kau tak boleh masuk ke sini.”
“Ya, Tuan.”
Tuan Luo menghela napas. “Baiklah. Ayo kita ke luar,” ajaknya sambil menggandeng bahu Chien Wan. Ia merasakan bahu anak itu gemetaran. Perasaan iba menyelimuti hatinya.
Nyonya Luo memandang wajah Chien Wan yang pucat. Ia khawatir. “Chien Wan, kau tak apa-apa?” tanyanya.
Chien Wan menggeleng. “Saya tak apa-apa, Nyonya.”
“Ayo kita masuk ke dalam saja,” ajak Tuan Luo. Lalu ia menoleh pada Sen Khang. “Sen Khang, kau sedang sakit. Kenapa ikut-ikut keluar?” tegurnya.
“Aku mendengar jeritan, Ayah,” ujar Sen Khang membela diri.
Chien Wan merasa bersalah. Gara-gara kelancangannya semua orang menjadi repot. Ia menunduk.
Mereka semua masuk ke dalam rumah dan menuju ruang tengah. Seorang pelayan mengambilkan makanan dan minuman untuk Sen Khang yang memang belum makan.
“Kau sudah makan, Chien Wan?” tanya Nyonya Luo.
Chien Wan mengangguk. Padahal ia belum makan malam.
“Ini menjadi peringatan bagi kalian semua. Taman itu terlarang bagi siapa saja. Hanya aku dan pelayan terpercaya yang boleh memasukinya,” kata Tuan Luo tegas. Lalu ia menoleh pada Chien Wan. “Kau masih baru di sini jadi mungkin kau belum tahu larangan itu. Ketahuilah, Chien Wan. Perempuan di taman itu adalah adikku, namanya Luo Sui She. Dia menderita gangguan jiwa selama bertahun-tahun. Dia bisa melukai orang, makanya aku menempatkannya di taman belakang.”
“Ayah, ada sesuatu yang membuatku heran,” sela Sen Khang.
“Apa itu?”
“Taman belakang tidak pernah dikunci. Mengapa Bibi Sui She tidak melarikan diri? Bukankah dia tidak sadar akan dirinya? Kok dia tenang-tenang saja di sana dan baru menyerang orang yang masuk ke sana?” tanya Sen Khang.
Tuan Luo menghela napas. “Taman belakang sudah menjadi tempat kesayangan Sui She sejak kecil. Dia sendiri yang menempatkan dirinya di sana dan tidak pernah mencoba untuk pergi. Aku sendiri juga tidak tahu mengapa.” Ia mengepalkan kedua tangannya dengan geram. “Semua ini gara-gara orang Lembah Nada!”
“Lembah Nada?” tanya Ting Ting polos. “Tempat apa itu?”
Diam-diam Chien Wan juga penasaran. Entah mengapa, mendengar nama itu membuatnya hatinya tergerak.
“Bukan apa-apa!” sergah Tuan Luo galak, membuat putrinya segera berlindung di pelukan ibunya.
“Sudahlah,” sela Nyonya Luo lembut. “Itu tidak penting. Yang penting, kalian jangan sampai melarang pantangan itu. Mengerti?”
Ketiga bocah itu mengangguk.
Tuan Luo kembali menatap Chien Wan. “Ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu, Chien Wan.”
Jantung Chien Wan berdegup kencang. Apakah aku akan diusir dari tempat ini? pikirnya gelisah. Ia sungguh takut jika hal itu sampai terjadi.
“Apa kau mau belajar silat?”
Chien Wan tercengang. Pertanyaan itu sama sekali tidak seperti yang dipikirkannya. Sesaat lamanya, ia hanya mampu ternganga memandangi Tuan Luo. Tampangnya saat itu terlihat bodoh sekali, membuat Tuan Luo tersenyum geli.
“Hei, Chien Wan!” seru Sen Khang tertawa. “Jawab pertanyaan ayahku, jangan cuma bengong begitu!”
“Eh, iya Tuan.” Chien Wan akhirnya mengangguk-angguk.
“Bagus!” angguk Tuan Luo puas.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 182 Episodes
Comments
Yanka Raga
start 😎
2024-02-14
0
Eros Hariyadi
Lanjutkan Thor 😝😄💪👍🙏
2024-01-14
0
Eros Hariyadi
Like and Favorit 😝😄💪👍👍👍
2024-01-14
0