Berita bahwa Chien Wan diangkat murid oleh Tuan Ouwyang Cu benar-benar mengejutkan. Masalahnya Tuan Ouwyang Cu pernah berkata bahwa ia tak mau menerima murid kalau tidak ada orang yang bakatnya melebihi dirinya sendiri. Ini jelas mustahil karena semua orang tahu, bakat Tuan Ouwyang Cu dalam hal musik sangat memukau. Sekarang dengan diterimanya Chien Wan menjadi murid, membuktikan bahwa bakat Chien Wan benar-benar luar biasa!
Tuan Ouwyang Cu melatih Chien Wan dengan keras. Chien Wan diharuskan melatih tiupannya. Pertama-tama, dia harus meniup daun-daun sejauh mungkin. Mudah jika yang ditiup hanya daun-daunan, namun lama-lama perintah Tuan Ouwyang Cu makin tidak masuk akal. Benda yang harus ditiup Chien Wan semakin lama semakin berat. Mulai dari buah sampai batu! Mustahil bagi Chien Wan untuk meniup batu. Jangankan melayang, bergerak saja tidak.
“Latihanmu kurang keras!” omel Tuan Ouwyang Cu selalu.
Chien Wan tidak membantah sedikit pun. Ia semakin giat berusaha.
Awalnya Ouwyang Ping selalu menemani Chien Wan latihan. Namun ia tidak tega melihat perjuangan Chien Wan yang seolah mustahil. Ia menghadap kakeknya dan memprotes.
“Kakek, jangan sekejam itu pada Kakak Wan. Mana mungkin dia bisa meniup batu sampai melayang?” sungut gadis itu kesal.
“Kalau ingin menjadi peniup suling yang hebat, dia harus melakukannya!” kata Tuan Ouwyang Cu tegas dan tajam. Lalu ia menatap cucunya dengan kesal. “Kau sendiri, kenapa ada di sini? Sana latihan dengan harpamu!” usirnya sambil mengibaskan tangan.
Ouwyang Ping cemberut lalu berlari meninggalkan kakeknya.
Chien Wan menghabiskan waktu berbulan-bulan sebelum akhirnya ia berhasil membuat batu bergeser sejauh lima senti dengan tiupannya. Keberhasilannya tidak ditanggapi dengan gembira oleh gurunya. Tuan Ouwyang malah menambahi siksaannya. Ia memaksa Chien Wan melatih jari-jarinya dengan cara menusuk-nusukkannya di sekuali pasir panas.
Jari-jari Chien Wan melepuh dan terasa sangat nyeri. Sakitnya sampai ke ulu hati! Namun tak sedikit pun Chien Wan mengeluh. Ia latihan setiap hari dalam waktu yang sangat lama. Lama-kelamaan jari-jarinya menjadi kuat dan kebal.
Delapan bulan lamanya Chien Wan dilatih dengan siksaan seperti itu. Setelah itu pun latihannya diperberat lagi. Tuan Ouwyang mengajak Chien Wan ke kolam besar di sebelah barat Lembah Nada.
“Mulai sekarang kau latihan di sini. Menyelamlah dan tahan napasmu selama mungkin di dalam air. Di dalam air kau juga harus bertahan untuk melatih pendengaran dan penglihatanmu. Karena indera pengecapmu tidak berfungsi, indera yang lain harus kaupertajam. Itu satu-satunya cara untuk menjadi pendekar tangguh!” perintah Tuan Ouwyang.
Tanpa banyak bicara, Chien Wan langsung mematuhinya. Ia membuka pakaian atasnya lalu melangkah masuk ke kolam. Air kolam itu sangat dingin! Tubuhnya menggeletar, namun ia bertahan. Lalu ia menarik napas panjang dan mulai menyelam.
Tuan Ouwyang duduk di tepi kolam.
Baru beberapa saat, kepala Chien Wan muncul di permukaan air. Ia terbatuk-batuk dan wajahnya merah sekali karena terlalu lama menahan napas.
“Bodoh! Tolol!” maki Tuan Ouwyang Cu. “Kau harus bisa menahan napasmu paling tidak selama setengah jam!”
Kembali Chien Wan menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara sebanyak-banyaknya. Kemudian ia menyelam lagi.
Hal itu terus dilakukannya berulang-ulang. Makin lama ia makin mampu menahan napasnya lebih lama. Selama berminggu-minggu ia latihan dengan diawasi oleh gurunya. Akhirnya ia mampu memenuhi target gurunya yang menginginkannya bertahan di bawah air paling tidak setengah jam.
Ketiga latihan itu; meniup batu, memukul pasir panas dengan jari, dan menyelam, tetap mesti dilakukannya setiap hari. Setelah ia makin mampu bertahan dengan ketiga latihan itu, Tuan Ouwyang menyuruhnya membunyikan nada-nada sederhana dengan suling besinya. Anehnya, Chien Wan kembali menjadi sebodoh ketika ia baru memulainya. Nada-nada yang dihasilkan oleh tiupan sulingnya jauh lebih buruk daripada dulu. Ia bahkan tak dapat memainkan lagu ciptaannya lagi. Bahkan lagu sederhana sekali pun tak dapat dimainkannya.
Mulanya Chien Wan sangat frustasi.
“Sekarang aku bahkan tak bisa memainkan lagu yang paling sederhana sekali pun,” ujar Chien Wan pada Ouwyang Ping yang duduk di sisinya, mendengarkan keluhannya dengan penuh perhatian.
“Kakak Wan jangan putus asa,” hibur Ouwyang Ping lembut.
Chien Wan menunduk menatap jari-jarinya.
Ouwyang Ping memandang iba. Diraihnya tangan Chien Wan. Tangan itu tampak rusak, terutama jari-jarinya. Jari-jari itu melepuh dan luka-luka. Padahal jari adalah harta berharga bagi seorang pemusik, terutama peniup suling. Mengapa Tuan Ouwyang menyuruhnya melakukan semua itu?
Dengan lembut, gadis itu membawa jari-jari yang melepuh itu ke dekat mulutnya. Lalu ditiupinya jari-jari itu.
Udara yang ditimbulkan oleh tiupan Ouwyang Ping sangat menyejukkan. Kesejukkan itu menyelusup sampai ke ulu hati, menimbulkan kebahagiaan yang tak terkira. Chien Wan membiarkan kehangatan gadis itu menyelimuti dirinya.
“Masih sakit?” tanya Ouwyang Ping lirih.
Chien Wan menggeleng.
“Suatu hari nanti Kakak Wan akan berhasil.”
“Bagaimana kalau aku tak bisa lagi memainkan lagu itu?” tanya Chien Wan sambil menghela napas.
“Aku tak peduli!” tukas Ouwyang Ping. “Kau tetap Kakak Wan, bagaimana pun keadaanmu.”
Kehangatan itu semakin terasa dalam hati Chien Wan. Kata-kata gadis itu semakin membuatnya tenang. Belum pernah ia merasakan kedamaian seperti ini saat sedang bersama orang lain. Dengan lembut dipandangnya gadis itu.
Ouwyang Ping balas menatap Chien Wan. Pipinya memerah karena ia melihat ada sesuatu yang aneh dalam pandangan Chien Wan. Cara Chien Wan menatapnya membuat hati gadis remaja itu tersentuh. Ouwyang Ping melepas tangan Chien Wan.
Chien Wan berdiri. “Aku harus latihan lagi.”
“Aku ikut!”
“Jangan,” geleng Chien Wan. “Kau juga harus latihan. Nanti Guru akan memarahimu.”
Ouwyang Ping merengut. “Kakek memang terlalu.”
“Guru ingin kita berlatih supaya cepat bisa,” senyum Chien Wan.
“Berusahalah, Kakak Wan!” seru Ouwyang Ping sambil menepuk bahu Chien Wan.
Chien Wan mengangguk.
***
Hari-hari Chien Wan kembali dipenuhi latihan yang keras dan menyiksa. Ia memainkan nada-nada sederhana dengan suling besinya berulang-ulang. Setiap kali ia meniup, ia selalu mendapat cemoohan gurunya. Jangankan memuji, bilang lumayan pun tak pernah. Hal ini terus berlangsung selama setahun masa latihannya.
Chien Wan tak menyerah. Berniat menyerah tak pernah terpikir olehnya. Ia adalah pejuang, yang akan terus berusaha sampai titik darah penghabisan. Ia selalu giat berlatih. Bahkan pada malam hari di saat semua orang—termasuk gurunya, sudah terlelap. Mulanya ia selalu latihan tanpa diketahui oleh siapa pun. Namun suatu malam....
Ouwyang Ping terjaga dari tidurnya karena mendengar suara suling yang membunyikan nada-nada sederhana berulang-ulang. Ia keluar dari kamarnya dan menghampiri asal suara.
Di taman, dilihatnya Chien Wan tengah duduk sambil mencoba berlatih meniup suling.
“Kakak Wan.”
Chien Wan menoleh kaget. “Eh, Ping-er.”
Ouwyang Ping menghampiri. “Sudah malam, mengapa kau belum tidur?”
Chien Wan mengangkat suling besinya. “Aku harus berlatih. Sampai sekarang aku belum bisa menguasai suling ini. Ah, entah apa sebabnya.”
Ouwyang Ping menatap iba. Ia ingin bisa merasakan kesulitan Chien Wan, namun tak bisa. Selama ini tak ada masalah dengan harpanya. Ia mengerutkan keningnya, berpikir-pikir.
“Kakak Wan, dengan sulingmu yang dulu itu... apakah ada kesulitan?” tanya gadis itu.
Chien Wan menggeleng.
“Kalau begitu, mungkin masalahnya terletak pada sulingnya,” kata Ouwyang Ping. Ia merenung dan berpikir. Seketika ia tersentak dan matanya menjadi muram. “Apakah karena suling ini tidak memiliki tali sutra putih?” bisiknya sambil menundukkan kepala.
Chien Wan kaget. “Tentu saja ti....” Saat itu terasa ada sengatan di otaknya. Ia teringat dahulu Paman Khung pernah berkata, “Jaga dan cintai sulingmu seperti kau menjaga dan mencintai nyawamu.” Kata-kata itu terngiang-ngiang jelas di telinganya, membuatnya seperti ditampar.
Itu yang selama ini tak dilakukannya. Ia bisa memainkan lagu yang indah dari Suling Bambu Hitam karena ia sangat mencintai suling itu. Tapi ia tidak menyukai suling besinya, bahkan membencinya! Selama ini ia tidak meniup suling dengan sepenuh hati. Ya, pasti itu sebabnya! Masalah yang utama bukan terletak pada suling, tapi pada dirinya sendiri. Ia tak pernah berusaha mencintai suling besi itu.
Ouwyang Ping melihat Chien Wan terdiam dengan ekspresi tercengang seperti itu, ia mengira kalau dugaannya benar.
“Benar, kan?’ tanya Ouwyang Ping dengan suara lirih dan sedih.
Malangnya, pertanyaan itu sama sekali tidak didengar oleh Chien Wan karena pemuda itu sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia diam sambil memandangi sulingnya dan bertanya-tanya dalam hati; bagaimana caranya supaya ia bisa mencintai sulingnya?
Ouwyang Ping merasa terpukul karena pertanyaannya sama sekali tak diindahkan oleh Chien Wan. Dengan hati patah, ia berbalik dan melangkah menuju kamarnya.
Saat itu Chien Wan sadar kembali dari lamunannya. Ia terkejut melihat Ouwyang Ping melangkah meninggalkannya. Chien Wan hendak memanggil dan mengejarnya, namun ia ragu. Ia takut gadis itu akan marah kepadanya, maka ia diam saja dan tidak melakukan apa-apa selain memandangi punggung gadis itu menjauh.
Ouwyang Ping menggigit bibirnya dengan kecewa. Sebenarnya ia berharap Chien Wan akan mengejar dan mengatakan bahwa dugaannya sama sekali tidak benar. Karena Chien Wan tidak mengejarnya, berarti itu semua benar.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 182 Episodes
Comments
Yanka Raga
🎼🎧
2024-02-14
0
Eros Hariyadi
Lanjuuuutt Thor...😝😄💪👍🙏
2024-01-14
0
Eros Hariyadi
Chien-Wan digembleng sécara luar biasa oleh Gurunya si Kakek Ouwyang-Cu untuk menjadi Peniup Suling yang handal....😝😄💪👍👍👍
2024-01-14
0