Latihan Keras

Berita bahwa Chien Wan diangkat murid oleh Tuan Ouwyang Cu benar-benar mengejutkan. Masalahnya Tuan Ouwyang Cu pernah berkata bahwa ia tak mau menerima murid kalau tidak ada orang yang bakatnya melebihi dirinya sendiri. Ini jelas mustahil karena semua orang tahu, bakat Tuan Ouwyang Cu dalam hal musik sangat memukau. Sekarang dengan diterimanya Chien Wan menjadi murid, membuktikan bahwa bakat Chien Wan benar-benar luar biasa!

Tuan Ouwyang Cu melatih Chien Wan dengan keras. Chien Wan diharuskan melatih tiupannya. Pertama-tama, dia harus meniup daun-daun sejauh mungkin. Mudah jika yang ditiup hanya daun-daunan, namun lama-lama perintah Tuan Ouwyang Cu makin tidak masuk akal. Benda yang harus ditiup Chien Wan semakin lama semakin berat. Mulai dari buah sampai batu! Mustahil bagi Chien Wan untuk meniup batu. Jangankan melayang, bergerak saja tidak.

“Latihanmu kurang keras!” omel Tuan Ouwyang Cu selalu.

Chien Wan tidak membantah sedikit pun. Ia semakin giat berusaha.

Awalnya Ouwyang Ping selalu menemani Chien Wan latihan. Namun ia tidak tega melihat perjuangan Chien Wan yang seolah mustahil. Ia menghadap kakeknya dan memprotes.

“Kakek, jangan sekejam itu pada Kakak Wan. Mana mungkin dia bisa meniup batu sampai melayang?” sungut gadis itu kesal.

“Kalau ingin menjadi peniup suling yang hebat, dia harus melakukannya!” kata Tuan Ouwyang Cu tegas dan tajam. Lalu ia menatap cucunya dengan kesal. “Kau sendiri, kenapa ada di sini? Sana latihan dengan harpamu!” usirnya sambil mengibaskan tangan.

Ouwyang Ping cemberut lalu berlari meninggalkan kakeknya.

Chien Wan menghabiskan waktu berbulan-bulan sebelum akhirnya ia berhasil membuat batu bergeser sejauh lima senti dengan tiupannya. Keberhasilannya tidak ditanggapi dengan gembira oleh gurunya. Tuan Ouwyang malah menambahi siksaannya. Ia memaksa Chien Wan melatih jari-jarinya dengan cara menusuk-nusukkannya di sekuali pasir panas.

Jari-jari Chien Wan melepuh dan terasa sangat nyeri. Sakitnya sampai ke ulu hati! Namun tak sedikit pun Chien Wan mengeluh. Ia latihan setiap hari dalam waktu yang sangat lama. Lama-kelamaan jari-jarinya menjadi kuat dan kebal.

Delapan bulan lamanya Chien Wan dilatih dengan siksaan seperti itu. Setelah itu pun latihannya diperberat lagi. Tuan Ouwyang mengajak Chien Wan ke kolam besar di sebelah barat Lembah Nada.

“Mulai sekarang kau latihan di sini. Menyelamlah dan tahan napasmu selama mungkin di dalam air. Di dalam air kau juga harus bertahan untuk melatih pendengaran dan penglihatanmu. Karena indera pengecapmu tidak berfungsi, indera yang lain harus kaupertajam. Itu satu-satunya cara untuk menjadi pendekar tangguh!” perintah Tuan Ouwyang.

Tanpa banyak bicara, Chien Wan langsung mematuhinya. Ia membuka pakaian atasnya lalu melangkah masuk ke kolam. Air kolam itu sangat dingin! Tubuhnya menggeletar, namun ia bertahan. Lalu ia menarik napas panjang dan mulai menyelam.

Tuan Ouwyang duduk di tepi kolam.

Baru beberapa saat, kepala Chien Wan muncul di permukaan air. Ia terbatuk-batuk dan wajahnya merah sekali karena terlalu lama menahan napas.

“Bodoh! Tolol!” maki Tuan Ouwyang Cu. “Kau harus bisa menahan napasmu paling tidak selama setengah jam!”

Kembali Chien Wan menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara sebanyak-banyaknya. Kemudian ia menyelam lagi.

Hal itu terus dilakukannya berulang-ulang. Makin lama ia makin mampu menahan napasnya lebih lama. Selama berminggu-minggu ia latihan dengan diawasi oleh gurunya. Akhirnya ia mampu memenuhi target gurunya yang menginginkannya bertahan di bawah air paling tidak setengah jam.

Ketiga latihan itu; meniup batu, memukul pasir panas dengan jari, dan menyelam, tetap mesti dilakukannya setiap hari. Setelah ia makin mampu bertahan dengan ketiga latihan itu, Tuan Ouwyang menyuruhnya membunyikan nada-nada sederhana dengan suling besinya. Anehnya, Chien Wan kembali menjadi sebodoh ketika ia baru memulainya. Nada-nada yang dihasilkan oleh tiupan sulingnya jauh lebih buruk daripada dulu. Ia bahkan tak dapat memainkan lagu ciptaannya lagi. Bahkan lagu sederhana sekali pun tak dapat dimainkannya.

Mulanya Chien Wan sangat frustasi.

“Sekarang aku bahkan tak bisa memainkan lagu yang paling sederhana sekali pun,” ujar Chien Wan pada Ouwyang Ping yang duduk di sisinya, mendengarkan keluhannya dengan penuh perhatian.

“Kakak Wan jangan putus asa,” hibur Ouwyang Ping lembut.

Chien Wan menunduk menatap jari-jarinya.

Ouwyang Ping memandang iba. Diraihnya tangan Chien Wan. Tangan itu tampak rusak, terutama jari-jarinya. Jari-jari itu melepuh dan luka-luka. Padahal jari adalah harta berharga bagi seorang pemusik, terutama peniup suling. Mengapa Tuan Ouwyang menyuruhnya melakukan semua itu?

Dengan lembut, gadis itu membawa jari-jari yang melepuh itu ke dekat mulutnya. Lalu ditiupinya jari-jari itu.

Udara yang ditimbulkan oleh tiupan Ouwyang Ping sangat menyejukkan. Kesejukkan itu menyelusup sampai ke ulu hati, menimbulkan kebahagiaan yang tak terkira. Chien Wan membiarkan kehangatan gadis itu menyelimuti dirinya.

“Masih sakit?” tanya Ouwyang Ping lirih.

Chien Wan menggeleng.

“Suatu hari nanti Kakak Wan akan berhasil.”

“Bagaimana kalau aku tak bisa lagi memainkan lagu itu?” tanya Chien Wan sambil menghela napas.

“Aku tak peduli!” tukas Ouwyang Ping. “Kau tetap Kakak Wan, bagaimana pun keadaanmu.”

Kehangatan itu semakin terasa dalam hati Chien Wan. Kata-kata gadis itu semakin membuatnya tenang. Belum pernah ia merasakan kedamaian seperti ini saat sedang bersama orang lain. Dengan lembut dipandangnya gadis itu.

Ouwyang Ping balas menatap Chien Wan. Pipinya memerah karena ia melihat ada sesuatu yang aneh dalam pandangan Chien Wan. Cara Chien Wan menatapnya membuat hati gadis remaja itu tersentuh. Ouwyang Ping melepas tangan Chien Wan.

Chien Wan berdiri. “Aku harus latihan lagi.”

“Aku ikut!”

“Jangan,” geleng Chien Wan. “Kau juga harus latihan. Nanti Guru akan memarahimu.”

Ouwyang Ping merengut. “Kakek memang terlalu.”

“Guru ingin kita berlatih supaya cepat bisa,” senyum Chien Wan.

“Berusahalah, Kakak Wan!” seru Ouwyang Ping sambil menepuk bahu Chien Wan.

Chien Wan mengangguk.

***

Hari-hari Chien Wan kembali dipenuhi latihan yang keras dan menyiksa. Ia memainkan nada-nada sederhana dengan suling besinya berulang-ulang. Setiap kali ia meniup, ia selalu mendapat cemoohan gurunya. Jangankan memuji, bilang lumayan pun tak pernah. Hal ini terus berlangsung selama setahun masa latihannya.

Chien Wan tak menyerah. Berniat menyerah tak pernah terpikir olehnya. Ia adalah pejuang, yang akan terus berusaha sampai titik darah penghabisan. Ia selalu giat berlatih. Bahkan pada malam hari di saat semua orang—termasuk gurunya, sudah terlelap. Mulanya ia selalu latihan tanpa diketahui oleh siapa pun. Namun suatu malam....

Ouwyang Ping terjaga dari tidurnya karena mendengar suara suling yang membunyikan nada-nada sederhana berulang-ulang. Ia keluar dari kamarnya dan menghampiri asal suara.

Di taman, dilihatnya Chien Wan tengah duduk sambil mencoba berlatih meniup suling.

“Kakak Wan.”

Chien Wan menoleh kaget. “Eh, Ping-er.”

Ouwyang Ping menghampiri. “Sudah malam, mengapa kau belum tidur?”

Chien Wan mengangkat suling besinya. “Aku harus berlatih. Sampai sekarang aku belum bisa menguasai suling ini. Ah, entah apa sebabnya.”

Ouwyang Ping menatap iba. Ia ingin bisa merasakan kesulitan Chien Wan, namun tak bisa. Selama ini tak ada masalah dengan harpanya. Ia mengerutkan keningnya, berpikir-pikir.

“Kakak Wan, dengan sulingmu yang dulu itu... apakah ada kesulitan?” tanya gadis itu.

Chien Wan menggeleng.

“Kalau begitu, mungkin masalahnya terletak pada sulingnya,” kata Ouwyang Ping. Ia merenung dan berpikir. Seketika ia tersentak dan matanya menjadi muram. “Apakah karena suling ini tidak memiliki tali sutra putih?” bisiknya sambil menundukkan kepala.

Chien Wan kaget. “Tentu saja ti....” Saat itu terasa ada sengatan di otaknya. Ia teringat dahulu Paman Khung pernah berkata, “Jaga dan cintai sulingmu seperti kau menjaga dan mencintai nyawamu.” Kata-kata itu terngiang-ngiang jelas di telinganya, membuatnya seperti ditampar.

Itu yang selama ini tak dilakukannya. Ia bisa memainkan lagu yang indah dari Suling Bambu Hitam karena ia sangat mencintai suling itu. Tapi ia tidak menyukai suling besinya, bahkan membencinya! Selama ini ia tidak meniup suling dengan sepenuh hati. Ya, pasti itu sebabnya! Masalah yang utama bukan terletak pada suling, tapi pada dirinya sendiri. Ia tak pernah berusaha mencintai suling besi itu.

Ouwyang Ping melihat Chien Wan terdiam dengan ekspresi tercengang seperti itu, ia mengira kalau dugaannya benar.

“Benar, kan?’ tanya Ouwyang Ping dengan suara lirih dan sedih.

Malangnya, pertanyaan itu sama sekali tidak didengar oleh Chien Wan karena pemuda itu sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia diam sambil memandangi sulingnya dan bertanya-tanya dalam hati; bagaimana caranya supaya ia bisa mencintai sulingnya?

Ouwyang Ping merasa terpukul karena pertanyaannya sama sekali tak diindahkan oleh Chien Wan. Dengan hati patah, ia berbalik dan melangkah menuju kamarnya.

Saat itu Chien Wan sadar kembali dari lamunannya. Ia terkejut melihat Ouwyang Ping melangkah meninggalkannya. Chien Wan hendak memanggil dan mengejarnya, namun ia ragu. Ia takut gadis itu akan marah kepadanya, maka ia diam saja dan tidak melakukan apa-apa selain memandangi punggung gadis itu menjauh.

Ouwyang Ping menggigit bibirnya dengan kecewa. Sebenarnya ia berharap Chien Wan akan mengejar dan mengatakan bahwa dugaannya sama sekali tidak benar. Karena Chien Wan tidak mengejarnya, berarti itu semua benar.

Bersambung.

Terpopuler

Comments

Yanka Raga

Yanka Raga

🎼🎧

2024-02-14

0

Eros Hariyadi

Eros Hariyadi

Lanjuuuutt Thor...😝😄💪👍🙏

2024-01-14

0

Eros Hariyadi

Eros Hariyadi

Chien-Wan digembleng sécara luar biasa oleh Gurunya si Kakek Ouwyang-Cu untuk menjadi Peniup Suling yang handal....😝😄💪👍👍👍

2024-01-14

0

lihat semua
Episodes
1 Wisma Bambu
2 Paviliun Taman Belakang
3 Paman Khung
4 Chi Meng Huan
5 Suling Bambu Hitam
6 Ting Ting Diculik
7 Ketua Persilatan
8 Misi ke Lembah Nada
9 Empat Tambur Perak
10 Ouwyang Ping
11 Diangkat Menjadi Murid
12 Latihan Keras
13 Dilema Cinta Pertama
14 Bahagia di Lembah Nada
15 Berpetualang Bersama
16 Tiba di Kota Lok Yang
17 Reuni
18 Pertemuan Para Pendekar
19 Tuan Muda Chang
20 Penampilan Perdana
21 Hati ke Hati
22 Hati yang Luka
23 Di Bukit Merak
24 Dewa Seribu Wajah
25 Mencari Chi Meng Huan
26 Terperangkap
27 Rencana Chang Fei Yu
28 Kelelawar Hitam
29 Bebas
30 Melarikan Diri
31 Pertarungan
32 Pertarungan di Perbatasan
33 Menuju Wisma Bambu
34 Berjumpa Paman Khung
35 Penolakan Paman Khung
36 Kemball ke Lembah Nada
37 Pulang
38 Paman Khung Sakit Keras
39 Menuju Wisma Bambu
40 Mengurus Paman Khung
41 Luo Sui She Sembuh!
42 Ibu?
43 Leontin Penguak Rahasia
44 Terkuaknya Rahasia Masa Lalu
45 Dia Adikku
46 Berpisah
47 Kewajiban
48 Merindukannya
49 Harpa Kencana
50 Masa Lalu Sung Cen I
51 Masa Lalu Sung Cen II
52 Masa Lalu Sung Cen III
53 Keputusan A Ming
54 Dua Tahun Kemudian
55 Partai Kupu-Kupu
56 Luo Sen Khang Bertemu Ouwyang Ping
57 Pulang ke Lembah Nada
58 Kenangan Masa Silam
59 Reuni Dengan Sung Siu Hung
60 Di Lembah Nada
61 Cemburu
62 Rencana Tuan Ouwyang Cu
63 Berseteru
64 Perjodohan
65 Amarah Chang Fei Yu
66 Perjalanan Luo Sen Khang dan Ouwyang Ping
67 Di Partai Kupu Kupu
68 Pengkhianatan Cheng Sam
69 Penyelidikan
70 Berita Tentang Bukit Merak
71 Berselisih Jalan
72 Awal Bencana
73 Prahara di Wisma Bambu
74 Amarah dan Nestapa
75 Duka Hati Chien Wan
76 Wisma Bambu Berkabung
77 Kebencian dan Amarah
78 Isu di Dunia Persilatan
79 Berpisah Dengan Kui Fang
80 Wu Kui Fang Mencari Bukti
81 Rencana Pendekar Sung
82 Ke Lembah Nada
83 Ouwyang Kuan dan Luo Sui She ke Wisma Bambu
84 Mencari Kamus Silat Tung Pei
85 Orangtua Chien Wan Disandera
86 Luo Sen Khang Gusar
87 Para Pendekar di Wisma Bambu
88 Luo Sen Khang Menyandera Ouwyang Ping
89 Luo Sen Khang Terjebak
90 Dua Luo Sen Khang
91 Derita Luo Ting Ting
92 Penyesalan Luo Sen Khang
93 Pertengkaran Dua Pecinta
94 Luo Ting Ting Mengandung
95 Wu Kui Fang Bertemu Chien Wan
96 Di Partai Kupu Kupu
97 Wu Kui Fang Diculik
98 Selamat
99 Mendiskusikan Bukti yang Didapat
100 Cheng Sam Kembali Berulah
101 Upaya Mencari Jejak Cheng Sam
102 Hati yang Berbunga
103 Perguruan Elang Merah
104 Keluarga Kam
105 Cheng Sam Kembali Lolos
106 Masa Lalu Cheng Sam
107 Niat Luo Sui She
108 Kedatangan Chien Wan
109 Kasih Persaudaraan
110 Kesalahpahaman
111 Kegelisahan Wu Kui Fang
112 Kisah Masa Lalu
113 Rencana Pertunangan
114 Cinta Chi Meng Huan
115 Dua Hati Menyatu
116 Perjanjian di Kotaraja
117 Perjalanan Chang Fei Yu
118 Kabar Pernikahan Luo Ting Ting
119 Kedatangan Tuan Ouwyang Cu
120 Kehamilan A Ming
121 Musuh yang Sebenarnya
122 Kebencian yang Mendalam
123 Chien Wan Terluka
124 Ketulusan Hati Chang Fei Yu
125 Chien Wan Sadarkan Diri
126 Rencana Keberangkatan
127 Menuju Pulau Ginseng
128 Guru Chi Meng Huan
129 Tiba di Pulau Ginseng
130 Menetap Sementara di Pulau Ginseng
131 Berlatih di Pulau Ginseng
132 Chien Wan Sembuh
133 Janji Tuan Ouwyang Cu
134 Bakat Sung Siu Hung
135 Kesedihan A Ming
136 Derita Luo Ting Ting
137 Tuan Chang Mengunjungi Putranya
138 Chang Fei Yu Melamar
139 Hari-Hari Bahagia di Pulau Ginseng
140 Buah Dewa
141 Janji Tuan Ouwyang Cu
142 Pulang
143 Pernikahan
144 Amarah Chi Meng Huan
145 Penyusup
146 Masalah di Partai Kupu-Kupu
147 Wu Kui Fang Membela Sam Hui
148 Sam Hui Diserang
149 Pertemuan Tahunan
150 Pengkhianatan Wie Yun Cun
151 Kemunculan Para Pendekar
152 Pertempuran
153 Luo Sen Khang Galau
154 Ketua Persilatan Mengundurkan Diri
155 Tuan Ouwyang Melamar
156 Kelelawar Hitam Membawa Berita
157 Chi Sien Lung
158 Kelahiran Anak Ting Ting
159 Menjenguk Ting Ting
160 Meninggalkan Partai Kupu-Kupu
161 Bukit Ayam Emas
162 Nyaris Celaka
163 Serangan Chi Meng Huan
164 Ketua Persilatan yang Baru
165 Kembali ke Wisma Bambu
166 A Ming Melarikan Diri
167 A Ming Terkena Racun
168 Peringatan Setahun Kematian Tuan dan Nyonya Luo
169 A Ming Pergi
170 Bencana di Partai Kupu-Kupu
171 Duka yang Mendalam
172 Kelelawar Hitam
173 Chang Yi Hang Diculik
174 Usaha Pencarian
175 Menitipkan Sien Lung
176 Pertempuran
177 Tuan Ouwyang Cu Tewas
178 Terbersit Penyesalan
179 Akhir Hidup Chi Meng Huan
180 Pernikahan di Lembah Nada (End)
181 Terima Kasih
182 Epilog
Episodes

Updated 182 Episodes

1
Wisma Bambu
2
Paviliun Taman Belakang
3
Paman Khung
4
Chi Meng Huan
5
Suling Bambu Hitam
6
Ting Ting Diculik
7
Ketua Persilatan
8
Misi ke Lembah Nada
9
Empat Tambur Perak
10
Ouwyang Ping
11
Diangkat Menjadi Murid
12
Latihan Keras
13
Dilema Cinta Pertama
14
Bahagia di Lembah Nada
15
Berpetualang Bersama
16
Tiba di Kota Lok Yang
17
Reuni
18
Pertemuan Para Pendekar
19
Tuan Muda Chang
20
Penampilan Perdana
21
Hati ke Hati
22
Hati yang Luka
23
Di Bukit Merak
24
Dewa Seribu Wajah
25
Mencari Chi Meng Huan
26
Terperangkap
27
Rencana Chang Fei Yu
28
Kelelawar Hitam
29
Bebas
30
Melarikan Diri
31
Pertarungan
32
Pertarungan di Perbatasan
33
Menuju Wisma Bambu
34
Berjumpa Paman Khung
35
Penolakan Paman Khung
36
Kemball ke Lembah Nada
37
Pulang
38
Paman Khung Sakit Keras
39
Menuju Wisma Bambu
40
Mengurus Paman Khung
41
Luo Sui She Sembuh!
42
Ibu?
43
Leontin Penguak Rahasia
44
Terkuaknya Rahasia Masa Lalu
45
Dia Adikku
46
Berpisah
47
Kewajiban
48
Merindukannya
49
Harpa Kencana
50
Masa Lalu Sung Cen I
51
Masa Lalu Sung Cen II
52
Masa Lalu Sung Cen III
53
Keputusan A Ming
54
Dua Tahun Kemudian
55
Partai Kupu-Kupu
56
Luo Sen Khang Bertemu Ouwyang Ping
57
Pulang ke Lembah Nada
58
Kenangan Masa Silam
59
Reuni Dengan Sung Siu Hung
60
Di Lembah Nada
61
Cemburu
62
Rencana Tuan Ouwyang Cu
63
Berseteru
64
Perjodohan
65
Amarah Chang Fei Yu
66
Perjalanan Luo Sen Khang dan Ouwyang Ping
67
Di Partai Kupu Kupu
68
Pengkhianatan Cheng Sam
69
Penyelidikan
70
Berita Tentang Bukit Merak
71
Berselisih Jalan
72
Awal Bencana
73
Prahara di Wisma Bambu
74
Amarah dan Nestapa
75
Duka Hati Chien Wan
76
Wisma Bambu Berkabung
77
Kebencian dan Amarah
78
Isu di Dunia Persilatan
79
Berpisah Dengan Kui Fang
80
Wu Kui Fang Mencari Bukti
81
Rencana Pendekar Sung
82
Ke Lembah Nada
83
Ouwyang Kuan dan Luo Sui She ke Wisma Bambu
84
Mencari Kamus Silat Tung Pei
85
Orangtua Chien Wan Disandera
86
Luo Sen Khang Gusar
87
Para Pendekar di Wisma Bambu
88
Luo Sen Khang Menyandera Ouwyang Ping
89
Luo Sen Khang Terjebak
90
Dua Luo Sen Khang
91
Derita Luo Ting Ting
92
Penyesalan Luo Sen Khang
93
Pertengkaran Dua Pecinta
94
Luo Ting Ting Mengandung
95
Wu Kui Fang Bertemu Chien Wan
96
Di Partai Kupu Kupu
97
Wu Kui Fang Diculik
98
Selamat
99
Mendiskusikan Bukti yang Didapat
100
Cheng Sam Kembali Berulah
101
Upaya Mencari Jejak Cheng Sam
102
Hati yang Berbunga
103
Perguruan Elang Merah
104
Keluarga Kam
105
Cheng Sam Kembali Lolos
106
Masa Lalu Cheng Sam
107
Niat Luo Sui She
108
Kedatangan Chien Wan
109
Kasih Persaudaraan
110
Kesalahpahaman
111
Kegelisahan Wu Kui Fang
112
Kisah Masa Lalu
113
Rencana Pertunangan
114
Cinta Chi Meng Huan
115
Dua Hati Menyatu
116
Perjanjian di Kotaraja
117
Perjalanan Chang Fei Yu
118
Kabar Pernikahan Luo Ting Ting
119
Kedatangan Tuan Ouwyang Cu
120
Kehamilan A Ming
121
Musuh yang Sebenarnya
122
Kebencian yang Mendalam
123
Chien Wan Terluka
124
Ketulusan Hati Chang Fei Yu
125
Chien Wan Sadarkan Diri
126
Rencana Keberangkatan
127
Menuju Pulau Ginseng
128
Guru Chi Meng Huan
129
Tiba di Pulau Ginseng
130
Menetap Sementara di Pulau Ginseng
131
Berlatih di Pulau Ginseng
132
Chien Wan Sembuh
133
Janji Tuan Ouwyang Cu
134
Bakat Sung Siu Hung
135
Kesedihan A Ming
136
Derita Luo Ting Ting
137
Tuan Chang Mengunjungi Putranya
138
Chang Fei Yu Melamar
139
Hari-Hari Bahagia di Pulau Ginseng
140
Buah Dewa
141
Janji Tuan Ouwyang Cu
142
Pulang
143
Pernikahan
144
Amarah Chi Meng Huan
145
Penyusup
146
Masalah di Partai Kupu-Kupu
147
Wu Kui Fang Membela Sam Hui
148
Sam Hui Diserang
149
Pertemuan Tahunan
150
Pengkhianatan Wie Yun Cun
151
Kemunculan Para Pendekar
152
Pertempuran
153
Luo Sen Khang Galau
154
Ketua Persilatan Mengundurkan Diri
155
Tuan Ouwyang Melamar
156
Kelelawar Hitam Membawa Berita
157
Chi Sien Lung
158
Kelahiran Anak Ting Ting
159
Menjenguk Ting Ting
160
Meninggalkan Partai Kupu-Kupu
161
Bukit Ayam Emas
162
Nyaris Celaka
163
Serangan Chi Meng Huan
164
Ketua Persilatan yang Baru
165
Kembali ke Wisma Bambu
166
A Ming Melarikan Diri
167
A Ming Terkena Racun
168
Peringatan Setahun Kematian Tuan dan Nyonya Luo
169
A Ming Pergi
170
Bencana di Partai Kupu-Kupu
171
Duka yang Mendalam
172
Kelelawar Hitam
173
Chang Yi Hang Diculik
174
Usaha Pencarian
175
Menitipkan Sien Lung
176
Pertempuran
177
Tuan Ouwyang Cu Tewas
178
Terbersit Penyesalan
179
Akhir Hidup Chi Meng Huan
180
Pernikahan di Lembah Nada (End)
181
Terima Kasih
182
Epilog

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!