Tuan Luo akan mengantar Chien Wan ke Lembah Nada. Kepergiannya kali ini menuai banyak protes dari Sen Khang, Meng Huan, dan Ting Ting. Terutama sekali Ting Ting. Gadis itu merengek pada ayahnya supaya jangan membawa Chien Wan ke Lembah Nada. Namun tentu saja rengekannya tidak ditanggapi oleh ayahnya.
Chien Wan tengah mengemasi pakaiannya ketika Ting Ting masuk ke kamarnya. Ting Ting tampak sedih dan kesal. Ia tidak suka Chien Wan pergi.
“Kakak Wan.”
Chien Wan menoleh. Ia tersenyum kecil melihat gadis remaja nan jelita itu. “Nona Ting Ting,” sapanya.
Ting Ting tidak tersenyum manis seperti biasanya, ia cemberut. “Mengapa Kakak Wan harus pergi?” tanyanya dengan nada menuntut.
“Aku harus belajar di sana, Nona.” Chien Wan melipat pakaiannya.
“Apa pelajaran dari Ayah tidak cukup?”
Chien Wan menarik napas. “Aku ingin mempelajari musik, Nona.”
“Tapi Kakak Wan akan terpisah jauh dariku!” tukas Ting Ting.
“Nona....”
“Aku tak mau Kakak Wan pergi!” potong Ting Ting. “Kalau Kakak Wan pergi, pasti akan melupakan aku. Aku tak mau itu!”
Chien Wan menggeleng. “Aku tak akan melupakanmu, Nona. Juga Sen Khang dan Meng Huan.”
“Tapi tetap saja Kakak Wan akan meninggalkanku!” tuduh Ting Ting.
Chien Wan diam saja.
“Kakak Wan jahat!” Ting Ting menangis kesal sambil membanting kakinya. Lalu berlari meninggalkan kamar Chien Wan. Nyaris bertabrakan dengan Meng Huan di pintu kamar, namun ia menghindar dan berlari pergi.
“Kenapa Ting Ting?” tanya Meng Huan pada Chien Wan.
Chien Wan mengangkat bahu dengan pasrah.
“Dia suka padamu,” bilang Meng Huan. “Dia merasa kehilangan kamu. Kenapa sih kau harus pergi? Bilang saja pada Guru bahwa kau ingin tinggal di sini.”
“Aku harus pergi.”
Meng Huan mendesis kesal. “Kenapa sih kau selalu begitu? Kau tidak kasihan pada Ting Ting?”
“Nona akan baik-baik saja.”
“Huh!” Meng Huan mendengus. “Kau ini tidak pernah berubah!”
Chien Wan memandangi kepergian Meng Huan. Meng Huan dan Ting Ting tak akan mengerti. Pergi ke Lembah Nada merupakan impiannya. Bahkan tugas yang membebaninya pun tidak akan sanggup menghalanginya.
Masuklah Sen Khang. Ia menyeringai melihat buntalan pakaian di atas pembaringan Chien Wan. Tekad Chien Wan untuk pergi rupanya sudah bulat. Usaha yang bagaimana pun tidak bisa mencegah kepergiannya.
“Tadi Ting Ting berlari sambil menangis. Dia membujukmu untuk tidak pergi, kan?” terka Sen Khang.
Chien Wan mengangguk.
“Tidak berhasil, kan?”
Chien Wan mengangguk lagi.
“Kau memang kepala batu.”
Chien Wan mengangkat buntalannya. “Aku ditunggu ayahmu.”
Sen Khang mengikuti Chien Wan yang berjalan keluar dan langsung menuju ruang depan. Dugaan Chien Wan benar, Tuan Luo dan istrinya tengah duduk di ruang depan dan tengah membicarakan sesuatu.
“Tuan, Nyonya,” sapa Chien Wan.
Tuan Luo berdiri. “Kau sudah siap?”
Chien Wan mengangguk.
Paman Khung menghampiri. “Jaga dirimu baik-baik.”
Chien Wan menatap orang tua yang dikasihinya sebagai pengganti ayah itu. Lalu ia menoleh pada Sen Khang. “Aku minta tolong.”
“Katakan saja.”
“Setelah aku pergi, tolong jaga Paman Khung. Kau mau?”
Sen Khang meninju lengan Chien Wan dengan main-main. “Kau ini. Tentu saja aku akan menjaga Paman Khung. Kau tak usah meminta.”
Mata Paman Khung mengerjap menahan air mata. Ia terharu mendengar kata-kata Chien Wan. Baik dirinya maupun Chien Wan bukanlah orang yang suka menampakkan perasaan. Namun dengan satu kalimat, Chien Wan menunjukkan betapa ia menyayanginya. Ia juga menyayangi anak itu. Ia juga berat berpisah dengan Chien Wan. Namun Chien Wan harus pergi! Ini berkaitan erat dengan masa depannya.
“Belajarlah dengan baik,” kata Paman Khung.
Chien Wan mengangguk.
“Jaga dirimu baik-baik, Chien Wan,” ujar Nyonya Luo lembut. “Dan jangan pernah kaulupakan bahwa kau masih tetap anggota Wisma Bambu.”
“Ya, Nyonya,” sahut Chien Wan dengan suara lirih.
Sen Khang menepuk bahu sahabatnya. “Kembalilah bila segalanya sudah selesai!” perintahnya sambil menatap Chien Wan dengan penuh arti.
Chien Wan mengangguk lagi.
Tuan Luo menggamit lengan Chien Wan. “Ayo berangkat.”
Chien Wan menggendong buntalan pakaiannya dan melangkah mengikuti Tuan Luo. Namun langkahnya dihentikan oleh suara nyaring Ting Ting.
“Kakak Wan!!”
Chien Wan menoleh dan melihat Ting Ting berlari mendekat dengan napas tersengal-sengal. Tangannya yang mungil menggenggam sesuatu.
“Mana sulingmu?”
Chien Wan mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaan Ting Ting, namun ia mengambil juga sulingnya dari ikat pinggang. Dalam hati ia bertanya-tanya heran, bagaimana Ting Ting bisa tahu tentang sulingnya?
Ting Ting meraih suling tesebut, lalu ia mengikat ujung bawah suling itu dengan benda yang sejak tadi digenggamnya demikian erat. Benda itu ternyata adalah tali sutra putih yang telah dijalin sedemikian rupa hingga membentuk jalinan berjumbai yang indah. Ting Ting mengikatnya dengan simpul mati sehingga tidak dapat dilepas sama sekali. Setelah selesai, gadis itu mengembalikan suling pada Chien Wan. Dengan tajam, ia menatap Chien Wan. Sepasang mata beningnya berkaca-kaca.
Chien Wan menatap sulingnya yang memang jadi kelihatan bagus setelah diberi simpul tali sutra putih. Sama sekali tak disadarinya bahwa Ting Ting telah menyatakan perasaannya melalui penyimpulan tali itu—bahwa cintanya yang putih dan suci telah diberikannya pada Chien Wan.
“Terima kasih, Nona.”
Ting Ting memandang Chien Wan dengan sedih. Kemudian ia berbalik dan berlari pergi. Chien Wan diam saja dengan perasaan tidak enak.
Tuan Luo menggamit bahunya, mengajaknya pergi.
***
Tuan Luo dan Chien Wan melakukan perjalanan ke Lembah Nada dengan berjalan kaki. Jalan yang harus dilalui untuk dapat mencapai Lembah Nada cukup sukar dilalui. Mereka harus melewati hutan belukar dan bukit yang terjal. Itulah sebabnya mereka tidak menggunakan kereta atau menunggang kuda.
Mereka terpaksa makan dan tidur seadanya. Lembah Nada merupakan daerah yang agak terpencil dan jarang dikunjungi orang. Karena itu jarang sekali dijumpai tempat persinggahan. Kalaupun ada, hanya berupa kedai minum yang sangat sederhana. Bahkan penginapan pun tak ada. Terpaksalah mereka tidur di jalan—di pinggir sungai atau di bawah pohon yang rindang.
Beberapa hari kemudian tibalah mereka di Lembah Nada.
Tuan Luo menyeka peluhnya. “Inilah Lembah Nada, Chien Wan. Ini gerbang utara.”
“Gerbang utara?”
“Ada empat pintu masuk di Lembah Nada. Letak Lembah Nada memang sangat terpencil, namun orang bisa mencapainya dari mana saja asal tahu jalannya. Semua jalan sama sukarnya dengan jalan yang kita lalui beberapa hari ini. Namun jalan yang kita lalui adalah yang paling dekat dengan Wisma Bambu,” jelas Tuan Luo.
Chien Wan memandangi jalan setapak di hadapannya. Di kiri-kanan jalan setapak itu terdapat semak belukar yang rimbun dan berduri sehingga mustahil untuk dilalui, tebalnya kira-kira dua meter. Satu-satunya cara masuk hanya melalui jalan setapak.
Mereka melangkah masuk. Namun baru beberapa langkah mereka berjalan, terdengar bunyi gemuruh tambur dipukul. Sesosok bayangan muncul menyusul suara itu.
“Berhenti!”
Seorang pria berusia empat puluhan berdiri tegap menghadang mereka. Pria itu memakai busana serba perak, mulai dari ikat kepala sampai sepatunya. Ia membawa tambur kecil di punggungnya. Wajahnya yang berjanggut tampak gagah.
Tuan Luo memberi hormat dengan cara pendekar, yakni merangkapkan kedua tangannya di depan dada. “Aku Luo Siu Man dari Wisma Bambu, ini muridku Chien Wan. Kami ingin menemui Tuan Ouwyang Cu.”
Mendengar nama Tuan Luo, kegarangan orang berbaju perak itu berkurang.
“Oh, ternyata Tuan Luo dari Wisma Bambu. Maafkan kekasaranku. Aku Fu Ming, salah satu dari empat pelindung Lembah Nada,” kata pria itu sambil balas menghormat.
“Rupanya aku berhadapan dengan orang pertama dari Empat Tambur Perak yang terkenal. Aku sangat beruntung bisa bertemu dengan Anda,” senyum Tuan Luo.
“Tadi Anda berkata ingin menemui Tuan Ouwyang Cu. Sayang sekali Tuan Ouwyang Cu sudah mengasingkan diri sejak sepuluh tahun yang lalu. Beliau sekarang pergi mengembara entah ke mana. Sekarang Lembah Nada diwakili oleh Tuan Ouwyang Kuan, putra beliau.”
“Tidak apa-apa. Dengan Tuan Ouwyang Kuan pun boleh.”
“Baiklah. Ikut aku.”
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 182 Episodes
Comments
Eros Hariyadi
Lanjuuuutt 😝😄💪👍🙏
2024-01-14
0
Eros Hariyadi
Akhirnya sampai juga ke Lembah Nada yang dijaga oleh 4 Tambur Pérak yang tertua....😝😄💪👍👍👍
2024-01-14
0
Jimmy Avolution
terus
2023-10-26
2