Empat Tambur Perak

Tuan Luo akan mengantar Chien Wan ke Lembah Nada. Kepergiannya kali ini menuai banyak protes dari Sen Khang, Meng Huan, dan Ting Ting. Terutama sekali Ting Ting. Gadis itu merengek pada ayahnya supaya jangan membawa Chien Wan ke Lembah Nada. Namun tentu saja rengekannya tidak ditanggapi oleh ayahnya.

Chien Wan tengah mengemasi pakaiannya ketika Ting Ting masuk ke kamarnya. Ting Ting tampak sedih dan kesal. Ia tidak suka Chien Wan pergi.

“Kakak Wan.”

Chien Wan menoleh. Ia tersenyum kecil melihat gadis remaja nan jelita itu. “Nona Ting Ting,” sapanya.

Ting Ting tidak tersenyum manis seperti biasanya, ia cemberut. “Mengapa Kakak Wan harus pergi?” tanyanya dengan nada menuntut.

“Aku harus belajar di sana, Nona.” Chien Wan melipat pakaiannya.

“Apa pelajaran dari Ayah tidak cukup?”

Chien Wan menarik napas. “Aku ingin mempelajari musik, Nona.”

“Tapi Kakak Wan akan terpisah jauh dariku!” tukas Ting Ting.

“Nona....”

“Aku tak mau Kakak Wan pergi!” potong Ting Ting. “Kalau Kakak Wan pergi, pasti akan melupakan aku. Aku tak mau itu!”

Chien Wan menggeleng. “Aku tak akan melupakanmu, Nona. Juga Sen Khang dan Meng Huan.”

“Tapi tetap saja Kakak Wan akan meninggalkanku!” tuduh Ting Ting.

Chien Wan diam saja.

“Kakak Wan jahat!” Ting Ting menangis kesal sambil membanting kakinya. Lalu berlari meninggalkan kamar Chien Wan. Nyaris bertabrakan dengan Meng Huan di pintu kamar, namun ia menghindar dan berlari pergi.

“Kenapa Ting Ting?” tanya Meng Huan pada Chien Wan.

Chien Wan mengangkat bahu dengan pasrah.

“Dia suka padamu,” bilang Meng Huan. “Dia merasa kehilangan kamu. Kenapa sih kau harus pergi? Bilang saja pada Guru bahwa kau ingin tinggal di sini.”

“Aku harus pergi.”

Meng Huan mendesis kesal. “Kenapa sih kau selalu begitu? Kau tidak kasihan pada Ting Ting?”

“Nona akan baik-baik saja.”

“Huh!” Meng Huan mendengus. “Kau ini tidak pernah berubah!”

Chien Wan memandangi kepergian Meng Huan. Meng Huan dan Ting Ting tak akan mengerti. Pergi ke Lembah Nada merupakan impiannya. Bahkan tugas yang membebaninya pun tidak akan sanggup menghalanginya.

Masuklah Sen Khang. Ia menyeringai melihat buntalan pakaian di atas pembaringan Chien Wan. Tekad Chien Wan untuk pergi rupanya sudah bulat. Usaha yang bagaimana pun tidak bisa mencegah kepergiannya.

“Tadi Ting Ting berlari sambil menangis. Dia membujukmu untuk tidak pergi, kan?” terka Sen Khang.

Chien Wan mengangguk.

“Tidak berhasil, kan?”

Chien Wan mengangguk lagi.

“Kau memang kepala batu.”

Chien Wan mengangkat buntalannya. “Aku ditunggu ayahmu.”

Sen Khang mengikuti Chien Wan yang berjalan keluar dan langsung menuju ruang depan. Dugaan Chien Wan benar, Tuan Luo dan istrinya tengah duduk di ruang depan dan tengah membicarakan sesuatu.

“Tuan, Nyonya,” sapa Chien Wan.

Tuan Luo berdiri. “Kau sudah siap?”

Chien Wan mengangguk.

Paman Khung menghampiri. “Jaga dirimu baik-baik.”

Chien Wan menatap orang tua yang dikasihinya sebagai pengganti ayah itu. Lalu ia menoleh pada Sen Khang. “Aku minta tolong.”

“Katakan saja.”

“Setelah aku pergi, tolong jaga Paman Khung. Kau mau?”

Sen Khang meninju lengan Chien Wan dengan main-main. “Kau ini. Tentu saja aku akan menjaga Paman Khung. Kau tak usah meminta.”

Mata Paman Khung mengerjap menahan air mata. Ia terharu mendengar kata-kata Chien Wan. Baik dirinya maupun Chien Wan bukanlah orang yang suka menampakkan perasaan. Namun dengan satu kalimat, Chien Wan menunjukkan betapa ia menyayanginya. Ia juga menyayangi anak itu. Ia juga berat berpisah dengan Chien Wan. Namun Chien Wan harus pergi! Ini berkaitan erat dengan masa depannya.

“Belajarlah dengan baik,” kata Paman Khung.

Chien Wan mengangguk.

“Jaga dirimu baik-baik, Chien Wan,” ujar Nyonya Luo lembut. “Dan jangan pernah kaulupakan bahwa kau masih tetap anggota Wisma Bambu.”

“Ya, Nyonya,” sahut Chien Wan dengan suara lirih.

Sen Khang menepuk bahu sahabatnya. “Kembalilah bila segalanya sudah selesai!” perintahnya sambil menatap Chien Wan dengan penuh arti.

Chien Wan mengangguk lagi.

Tuan Luo menggamit lengan Chien Wan. “Ayo berangkat.”

Chien Wan menggendong buntalan pakaiannya dan melangkah mengikuti Tuan Luo. Namun langkahnya dihentikan oleh suara nyaring Ting Ting.

“Kakak Wan!!”

Chien Wan menoleh dan melihat Ting Ting berlari mendekat dengan napas tersengal-sengal. Tangannya yang mungil menggenggam sesuatu.

“Mana sulingmu?”

Chien Wan mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaan Ting Ting, namun ia mengambil juga sulingnya dari ikat pinggang. Dalam hati ia bertanya-tanya heran, bagaimana Ting Ting bisa tahu tentang sulingnya?

Ting Ting meraih suling tesebut, lalu ia mengikat ujung bawah suling itu dengan benda yang sejak tadi digenggamnya demikian erat. Benda itu ternyata adalah tali sutra putih yang telah dijalin sedemikian rupa hingga membentuk jalinan berjumbai yang indah. Ting Ting mengikatnya dengan simpul mati sehingga tidak dapat dilepas sama sekali. Setelah selesai, gadis itu mengembalikan suling pada Chien Wan. Dengan tajam, ia menatap Chien Wan. Sepasang mata beningnya berkaca-kaca.

Chien Wan menatap sulingnya yang memang jadi kelihatan bagus setelah diberi simpul tali sutra putih. Sama sekali tak disadarinya bahwa Ting Ting telah menyatakan perasaannya melalui penyimpulan tali itu—bahwa cintanya yang putih dan suci telah diberikannya pada Chien Wan.

“Terima kasih, Nona.”

Ting Ting memandang Chien Wan dengan sedih. Kemudian ia berbalik dan berlari pergi. Chien Wan diam saja dengan perasaan tidak enak.

Tuan Luo menggamit bahunya, mengajaknya pergi.

***

Tuan Luo dan Chien Wan melakukan perjalanan ke Lembah Nada dengan berjalan kaki. Jalan yang harus dilalui untuk dapat mencapai Lembah Nada cukup sukar dilalui. Mereka harus melewati hutan belukar dan bukit yang terjal. Itulah sebabnya mereka tidak menggunakan kereta atau menunggang kuda.

Mereka terpaksa makan dan tidur seadanya. Lembah Nada merupakan daerah yang agak terpencil dan jarang dikunjungi orang. Karena itu jarang sekali dijumpai tempat persinggahan. Kalaupun ada, hanya berupa kedai minum yang sangat sederhana. Bahkan penginapan pun tak ada. Terpaksalah mereka tidur di jalan—di pinggir sungai atau di bawah pohon yang rindang.

Beberapa hari kemudian tibalah mereka di Lembah Nada.

Tuan Luo menyeka peluhnya. “Inilah Lembah Nada, Chien Wan. Ini gerbang utara.”

“Gerbang utara?”

“Ada empat pintu masuk di Lembah Nada. Letak Lembah Nada memang sangat terpencil, namun orang bisa mencapainya dari mana saja asal tahu jalannya. Semua jalan sama sukarnya dengan jalan yang kita lalui beberapa hari ini. Namun jalan yang kita lalui adalah yang paling dekat dengan Wisma Bambu,” jelas Tuan Luo.

Chien Wan memandangi jalan setapak di hadapannya. Di kiri-kanan jalan setapak itu terdapat semak belukar yang rimbun dan berduri sehingga mustahil untuk dilalui, tebalnya kira-kira dua meter. Satu-satunya cara masuk hanya melalui jalan setapak.

Mereka melangkah masuk. Namun baru beberapa langkah mereka berjalan, terdengar bunyi gemuruh tambur dipukul. Sesosok bayangan muncul menyusul suara itu.

“Berhenti!”

Seorang pria berusia empat puluhan berdiri tegap menghadang mereka. Pria itu memakai busana serba perak, mulai dari ikat kepala sampai sepatunya. Ia membawa tambur kecil di punggungnya. Wajahnya yang berjanggut tampak gagah.

Tuan Luo memberi hormat dengan cara pendekar, yakni merangkapkan kedua tangannya di depan dada. “Aku Luo Siu Man dari Wisma Bambu, ini muridku Chien Wan. Kami ingin menemui Tuan Ouwyang Cu.”

Mendengar nama Tuan Luo, kegarangan orang berbaju perak itu berkurang.

“Oh, ternyata Tuan Luo dari Wisma Bambu. Maafkan kekasaranku. Aku Fu Ming, salah satu dari empat pelindung Lembah Nada,” kata pria itu sambil balas menghormat.

“Rupanya aku berhadapan dengan orang pertama dari Empat Tambur Perak yang terkenal. Aku sangat beruntung bisa bertemu dengan Anda,” senyum Tuan Luo.

“Tadi Anda berkata ingin menemui Tuan Ouwyang Cu. Sayang sekali Tuan Ouwyang Cu sudah mengasingkan diri sejak sepuluh tahun yang lalu. Beliau sekarang pergi mengembara entah ke mana. Sekarang Lembah Nada diwakili oleh Tuan Ouwyang Kuan, putra beliau.”

“Tidak apa-apa. Dengan Tuan Ouwyang Kuan pun boleh.”

“Baiklah. Ikut aku.”

Bersambung.

Terpopuler

Comments

Eros Hariyadi

Eros Hariyadi

Lanjuuuutt 😝😄💪👍🙏

2024-01-14

0

Eros Hariyadi

Eros Hariyadi

Akhirnya sampai juga ke Lembah Nada yang dijaga oleh 4 Tambur Pérak yang tertua....😝😄💪👍👍👍

2024-01-14

0

Jimmy Avolution

Jimmy Avolution

terus

2023-10-26

2

lihat semua
Episodes
1 Wisma Bambu
2 Paviliun Taman Belakang
3 Paman Khung
4 Chi Meng Huan
5 Suling Bambu Hitam
6 Ting Ting Diculik
7 Ketua Persilatan
8 Misi ke Lembah Nada
9 Empat Tambur Perak
10 Ouwyang Ping
11 Diangkat Menjadi Murid
12 Latihan Keras
13 Dilema Cinta Pertama
14 Bahagia di Lembah Nada
15 Berpetualang Bersama
16 Tiba di Kota Lok Yang
17 Reuni
18 Pertemuan Para Pendekar
19 Tuan Muda Chang
20 Penampilan Perdana
21 Hati ke Hati
22 Hati yang Luka
23 Di Bukit Merak
24 Dewa Seribu Wajah
25 Mencari Chi Meng Huan
26 Terperangkap
27 Rencana Chang Fei Yu
28 Kelelawar Hitam
29 Bebas
30 Melarikan Diri
31 Pertarungan
32 Pertarungan di Perbatasan
33 Menuju Wisma Bambu
34 Berjumpa Paman Khung
35 Penolakan Paman Khung
36 Kemball ke Lembah Nada
37 Pulang
38 Paman Khung Sakit Keras
39 Menuju Wisma Bambu
40 Mengurus Paman Khung
41 Luo Sui She Sembuh!
42 Ibu?
43 Leontin Penguak Rahasia
44 Terkuaknya Rahasia Masa Lalu
45 Dia Adikku
46 Berpisah
47 Kewajiban
48 Merindukannya
49 Harpa Kencana
50 Masa Lalu Sung Cen I
51 Masa Lalu Sung Cen II
52 Masa Lalu Sung Cen III
53 Keputusan A Ming
54 Dua Tahun Kemudian
55 Partai Kupu-Kupu
56 Luo Sen Khang Bertemu Ouwyang Ping
57 Pulang ke Lembah Nada
58 Kenangan Masa Silam
59 Reuni Dengan Sung Siu Hung
60 Di Lembah Nada
61 Cemburu
62 Rencana Tuan Ouwyang Cu
63 Berseteru
64 Perjodohan
65 Amarah Chang Fei Yu
66 Perjalanan Luo Sen Khang dan Ouwyang Ping
67 Di Partai Kupu Kupu
68 Pengkhianatan Cheng Sam
69 Penyelidikan
70 Berita Tentang Bukit Merak
71 Berselisih Jalan
72 Awal Bencana
73 Prahara di Wisma Bambu
74 Amarah dan Nestapa
75 Duka Hati Chien Wan
76 Wisma Bambu Berkabung
77 Kebencian dan Amarah
78 Isu di Dunia Persilatan
79 Berpisah Dengan Kui Fang
80 Wu Kui Fang Mencari Bukti
81 Rencana Pendekar Sung
82 Ke Lembah Nada
83 Ouwyang Kuan dan Luo Sui She ke Wisma Bambu
84 Mencari Kamus Silat Tung Pei
85 Orangtua Chien Wan Disandera
86 Luo Sen Khang Gusar
87 Para Pendekar di Wisma Bambu
88 Luo Sen Khang Menyandera Ouwyang Ping
89 Luo Sen Khang Terjebak
90 Dua Luo Sen Khang
91 Derita Luo Ting Ting
92 Penyesalan Luo Sen Khang
93 Pertengkaran Dua Pecinta
94 Luo Ting Ting Mengandung
95 Wu Kui Fang Bertemu Chien Wan
96 Di Partai Kupu Kupu
97 Wu Kui Fang Diculik
98 Selamat
99 Mendiskusikan Bukti yang Didapat
100 Cheng Sam Kembali Berulah
101 Upaya Mencari Jejak Cheng Sam
102 Hati yang Berbunga
103 Perguruan Elang Merah
104 Keluarga Kam
105 Cheng Sam Kembali Lolos
106 Masa Lalu Cheng Sam
107 Niat Luo Sui She
108 Kedatangan Chien Wan
109 Kasih Persaudaraan
110 Kesalahpahaman
111 Kegelisahan Wu Kui Fang
112 Kisah Masa Lalu
113 Rencana Pertunangan
114 Cinta Chi Meng Huan
115 Dua Hati Menyatu
116 Perjanjian di Kotaraja
117 Perjalanan Chang Fei Yu
118 Kabar Pernikahan Luo Ting Ting
119 Kedatangan Tuan Ouwyang Cu
120 Kehamilan A Ming
121 Musuh yang Sebenarnya
122 Kebencian yang Mendalam
123 Chien Wan Terluka
124 Ketulusan Hati Chang Fei Yu
125 Chien Wan Sadarkan Diri
126 Rencana Keberangkatan
127 Menuju Pulau Ginseng
128 Guru Chi Meng Huan
129 Tiba di Pulau Ginseng
130 Menetap Sementara di Pulau Ginseng
131 Berlatih di Pulau Ginseng
132 Chien Wan Sembuh
133 Janji Tuan Ouwyang Cu
134 Bakat Sung Siu Hung
135 Kesedihan A Ming
136 Derita Luo Ting Ting
137 Tuan Chang Mengunjungi Putranya
138 Chang Fei Yu Melamar
139 Hari-Hari Bahagia di Pulau Ginseng
140 Buah Dewa
141 Janji Tuan Ouwyang Cu
142 Pulang
143 Pernikahan
144 Amarah Chi Meng Huan
145 Penyusup
146 Masalah di Partai Kupu-Kupu
147 Wu Kui Fang Membela Sam Hui
148 Sam Hui Diserang
149 Pertemuan Tahunan
150 Pengkhianatan Wie Yun Cun
151 Kemunculan Para Pendekar
152 Pertempuran
153 Luo Sen Khang Galau
154 Ketua Persilatan Mengundurkan Diri
155 Tuan Ouwyang Melamar
156 Kelelawar Hitam Membawa Berita
157 Chi Sien Lung
158 Kelahiran Anak Ting Ting
159 Menjenguk Ting Ting
160 Meninggalkan Partai Kupu-Kupu
161 Bukit Ayam Emas
162 Nyaris Celaka
163 Serangan Chi Meng Huan
164 Ketua Persilatan yang Baru
165 Kembali ke Wisma Bambu
166 A Ming Melarikan Diri
167 A Ming Terkena Racun
168 Peringatan Setahun Kematian Tuan dan Nyonya Luo
169 A Ming Pergi
170 Bencana di Partai Kupu-Kupu
171 Duka yang Mendalam
172 Kelelawar Hitam
173 Chang Yi Hang Diculik
174 Usaha Pencarian
175 Menitipkan Sien Lung
176 Pertempuran
177 Tuan Ouwyang Cu Tewas
178 Terbersit Penyesalan
179 Akhir Hidup Chi Meng Huan
180 Pernikahan di Lembah Nada (End)
181 Terima Kasih
182 Epilog
Episodes

Updated 182 Episodes

1
Wisma Bambu
2
Paviliun Taman Belakang
3
Paman Khung
4
Chi Meng Huan
5
Suling Bambu Hitam
6
Ting Ting Diculik
7
Ketua Persilatan
8
Misi ke Lembah Nada
9
Empat Tambur Perak
10
Ouwyang Ping
11
Diangkat Menjadi Murid
12
Latihan Keras
13
Dilema Cinta Pertama
14
Bahagia di Lembah Nada
15
Berpetualang Bersama
16
Tiba di Kota Lok Yang
17
Reuni
18
Pertemuan Para Pendekar
19
Tuan Muda Chang
20
Penampilan Perdana
21
Hati ke Hati
22
Hati yang Luka
23
Di Bukit Merak
24
Dewa Seribu Wajah
25
Mencari Chi Meng Huan
26
Terperangkap
27
Rencana Chang Fei Yu
28
Kelelawar Hitam
29
Bebas
30
Melarikan Diri
31
Pertarungan
32
Pertarungan di Perbatasan
33
Menuju Wisma Bambu
34
Berjumpa Paman Khung
35
Penolakan Paman Khung
36
Kemball ke Lembah Nada
37
Pulang
38
Paman Khung Sakit Keras
39
Menuju Wisma Bambu
40
Mengurus Paman Khung
41
Luo Sui She Sembuh!
42
Ibu?
43
Leontin Penguak Rahasia
44
Terkuaknya Rahasia Masa Lalu
45
Dia Adikku
46
Berpisah
47
Kewajiban
48
Merindukannya
49
Harpa Kencana
50
Masa Lalu Sung Cen I
51
Masa Lalu Sung Cen II
52
Masa Lalu Sung Cen III
53
Keputusan A Ming
54
Dua Tahun Kemudian
55
Partai Kupu-Kupu
56
Luo Sen Khang Bertemu Ouwyang Ping
57
Pulang ke Lembah Nada
58
Kenangan Masa Silam
59
Reuni Dengan Sung Siu Hung
60
Di Lembah Nada
61
Cemburu
62
Rencana Tuan Ouwyang Cu
63
Berseteru
64
Perjodohan
65
Amarah Chang Fei Yu
66
Perjalanan Luo Sen Khang dan Ouwyang Ping
67
Di Partai Kupu Kupu
68
Pengkhianatan Cheng Sam
69
Penyelidikan
70
Berita Tentang Bukit Merak
71
Berselisih Jalan
72
Awal Bencana
73
Prahara di Wisma Bambu
74
Amarah dan Nestapa
75
Duka Hati Chien Wan
76
Wisma Bambu Berkabung
77
Kebencian dan Amarah
78
Isu di Dunia Persilatan
79
Berpisah Dengan Kui Fang
80
Wu Kui Fang Mencari Bukti
81
Rencana Pendekar Sung
82
Ke Lembah Nada
83
Ouwyang Kuan dan Luo Sui She ke Wisma Bambu
84
Mencari Kamus Silat Tung Pei
85
Orangtua Chien Wan Disandera
86
Luo Sen Khang Gusar
87
Para Pendekar di Wisma Bambu
88
Luo Sen Khang Menyandera Ouwyang Ping
89
Luo Sen Khang Terjebak
90
Dua Luo Sen Khang
91
Derita Luo Ting Ting
92
Penyesalan Luo Sen Khang
93
Pertengkaran Dua Pecinta
94
Luo Ting Ting Mengandung
95
Wu Kui Fang Bertemu Chien Wan
96
Di Partai Kupu Kupu
97
Wu Kui Fang Diculik
98
Selamat
99
Mendiskusikan Bukti yang Didapat
100
Cheng Sam Kembali Berulah
101
Upaya Mencari Jejak Cheng Sam
102
Hati yang Berbunga
103
Perguruan Elang Merah
104
Keluarga Kam
105
Cheng Sam Kembali Lolos
106
Masa Lalu Cheng Sam
107
Niat Luo Sui She
108
Kedatangan Chien Wan
109
Kasih Persaudaraan
110
Kesalahpahaman
111
Kegelisahan Wu Kui Fang
112
Kisah Masa Lalu
113
Rencana Pertunangan
114
Cinta Chi Meng Huan
115
Dua Hati Menyatu
116
Perjanjian di Kotaraja
117
Perjalanan Chang Fei Yu
118
Kabar Pernikahan Luo Ting Ting
119
Kedatangan Tuan Ouwyang Cu
120
Kehamilan A Ming
121
Musuh yang Sebenarnya
122
Kebencian yang Mendalam
123
Chien Wan Terluka
124
Ketulusan Hati Chang Fei Yu
125
Chien Wan Sadarkan Diri
126
Rencana Keberangkatan
127
Menuju Pulau Ginseng
128
Guru Chi Meng Huan
129
Tiba di Pulau Ginseng
130
Menetap Sementara di Pulau Ginseng
131
Berlatih di Pulau Ginseng
132
Chien Wan Sembuh
133
Janji Tuan Ouwyang Cu
134
Bakat Sung Siu Hung
135
Kesedihan A Ming
136
Derita Luo Ting Ting
137
Tuan Chang Mengunjungi Putranya
138
Chang Fei Yu Melamar
139
Hari-Hari Bahagia di Pulau Ginseng
140
Buah Dewa
141
Janji Tuan Ouwyang Cu
142
Pulang
143
Pernikahan
144
Amarah Chi Meng Huan
145
Penyusup
146
Masalah di Partai Kupu-Kupu
147
Wu Kui Fang Membela Sam Hui
148
Sam Hui Diserang
149
Pertemuan Tahunan
150
Pengkhianatan Wie Yun Cun
151
Kemunculan Para Pendekar
152
Pertempuran
153
Luo Sen Khang Galau
154
Ketua Persilatan Mengundurkan Diri
155
Tuan Ouwyang Melamar
156
Kelelawar Hitam Membawa Berita
157
Chi Sien Lung
158
Kelahiran Anak Ting Ting
159
Menjenguk Ting Ting
160
Meninggalkan Partai Kupu-Kupu
161
Bukit Ayam Emas
162
Nyaris Celaka
163
Serangan Chi Meng Huan
164
Ketua Persilatan yang Baru
165
Kembali ke Wisma Bambu
166
A Ming Melarikan Diri
167
A Ming Terkena Racun
168
Peringatan Setahun Kematian Tuan dan Nyonya Luo
169
A Ming Pergi
170
Bencana di Partai Kupu-Kupu
171
Duka yang Mendalam
172
Kelelawar Hitam
173
Chang Yi Hang Diculik
174
Usaha Pencarian
175
Menitipkan Sien Lung
176
Pertempuran
177
Tuan Ouwyang Cu Tewas
178
Terbersit Penyesalan
179
Akhir Hidup Chi Meng Huan
180
Pernikahan di Lembah Nada (End)
181
Terima Kasih
182
Epilog

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!