Waktu berlalu dengan pesat. Tiga tahun sudah Chien Wan menimba ilmu di Lembah Nada. Selama itu, tak pernah terpikirkan olehnya untuk meninggalkan tempat yang dicintainya ini. Tempat yang selalu menimbulkan perasaan damai di hatinya, membuatnya bahagia hanya dengan mendengarkan bunyi angin yang mengalun bagai musik.
Kini ia sudah berusia sembilan belas tahun. Secara keseluruhan, penampilannya tidak banyak berubah. Ia masih tetap suka mengenakan busana serba hitam. Ia masih pendiam dan tak banyak bicara. Ia masih tidak suka menonjolkan diri. Namun sekarang kemampuannya dalam hal musik sangat menakjubkan.
Hubungannya dengan Ouwyang Ping yang saat itu telah berusia enam belas tahun semakin erat. Mereka memang tak pernah membicarakan perasaan mereka secara terang-terangan. Chien Wan selalu diam dan tak bicara apa-apa. Gadis itu pun tak pernah berlebihan dalam menunjukkan perasaan, namun sinar matanya tak dapat berdusta. Siapa pun yang melihat akan dapat dengan mudah melihat cinta mereka.
Setelah tiga tahun, Tuan Ouwyang Cu merasa ia sudah cukup mengajarkan pengetahuannya pada Chien Wan. Saat ini kemampuan Chien Wan sudah cukup tinggi, baik dalam ilmu silat maupun musik. Khusus dalam hal musik, Tuan Ouwyang Cu merasa yakin bahwa saat ini kemampuan Chien Wan sudah nyaris melampauinya.
Yang kurang sekarang hanyalah pengalaman.
Beberapa hari yang lalu, Lembah Nada kedatangan seorang kurir yang mengantarkan surat undangan dari Ketua Persilatan. Dalam surat itu disebutkan permohonan agar Lembah Nada mau mengirimkan wakilnya untuk menghadiri pertemuan para pendekar yang diadakan setiap lima tahun sekali.
Biasanya Lembah Nada selalu mengabaikan surat undangan itu, dan hanya mengirimkan surat permohonan maaf karena tak dapat hadir. Namun kali ini Tuan Ouwyang Cu sudah berunding dengan putranya untuk mengirim Chien Wan sebagai wakil.
“Sudah tiga tahun kau berlatih. Sekarang kemampuanmu sudah lumayan, sudah pantas untuk mewakili Lembah Nada. Aku mengutusmu untuk mewakili Lembah Nada menghadiri pertemuan para pendekar yang diadakan di Kota Lok Yang bulan depan. Ini undangannya!” Tuan Ouwyang Cu mengulurkan undangan berwarna kuning itu.
Chien Wan menerimanya dengan patuh walau hatinya berat. Bukan karena akan menunaikan tugas pertamanya. Dengan senang hati ia akan menunaikan tugas yang diberikan padanya betapa pun beratnya. Namun ia merasa sedih karena menyadari bahwa ia akan berpisah dengan Ouwyang Ping.
Tuan Ouwyang Cu mengambil sesuatu dari balik jubahnya. Chien Wan terbelalak. Benda yang dikeluarkan gurunya adalah Suling Bambu Hitam miliknya! Selama tiga tahun ini, tak pernah sekali pun ia melupakannya. Tadinya ia tak berani berharap akan dapat melihat sulingnya lagi. Tetapi kini....
“Dengan kemampuanmu sekarang, tak mungkin kau terus memakai suling besi itu. Aku sengaja menyimpan suling ini karena dulu kau belum layak memiliki suling sebagus ini. Sekarang kemampuanmu sudah semakin meningkat dan suling ini sudah pantas kaumiliki. Ambillah!” Tuan Ouwyang Cu mengulurkan Suling Bambu Hitam kepada Chien Wan.
Chien Wan memandang Tuan Ouwyang Cu dengan tak percaya. Saat ini, wajah Tuan Ouwyang memang masih sesinis dan seangkuh dulu. Namun ada yang berubah dari sorot matanya. Tampak lebih ramah dan tulus. Chien Wan pun menerima suling itu dengan tangan sedikit gemetar.
“Terima kasih, Guru.”
“Bagus. Pergilah menghadap anakku sekarang!” suruh Tuan Ouwyang.
Chien Wan memberi hormat. Hatinya terharu. Selama ini, tak pernah gurunya memujinya sekali saja. Kini Tuan Ouwyang begitu baik padanya. Hati Chien Wan sungguh bahagia.
Chien Wan tak tahu bahwa ketika ia berbalik, Tuan Ouwyang Cu memandanginya dengan mata berkaca-kaca diiringi senyum bangga. Ia tak pernah mempunyai murid seperti Chien Wan. Dari sekian banyak orang yang pernah datang ke Lembah Nada untuk belajar darinya, hanya Chien Wan-lah yang begitu tekun dan memiliki bakat yang sangat luar biasa. Ia yakin bahwa suatu saat nanti Chien Wan memiliki reputasi yang jauh lebih hebat dari dirinya sendiri.
Sementara itu, Chien Wan melangkah meninggalkan ruang tapa gurunya. Ia bingung memikirkan kata-kata yang akan diucapkannya untuk mengatakan selamat tinggal pada Ouwyang Ping. Apa yang harus dikatakannya? Ia memang tidak akan lama meninggalkan Lembah Nada, hanya beberapa bulan saja. Namun Ouwyang Ping pernah mengatakan akan selalu pergi ke mana pun Chien Wan pergi. Apa katanya kalau tahu dia tidak diajak?
“Kakak Wan!” panggil gadis yang tengah dipikirkannya itu. Senyum menawan tersungging di bibirnya.
Chien Wan menatap gadis itu dengan perasaan hangat. Selama ini ia selalu bersama Ouwyang Ping. Perubahan demi perubahan yang terjadi dalam diri gadis itu tak luput dari pengamatannya. Ouwyang Ping telah berubah dari seorang anak yang lincah dan sedikit nakal menjadi gadis remaja yang anggun dan rupawan. Semakin lama ia semakin cantik dan menawan hati.
Senyum Ouwyang Ping semakin lebar melihat tatapan Chien Wan. “Kakak Wan, kenapa melihatku seperti itu? Ada yang aneh di wajahku? Apakah wajahku kotor?” tanyanya sambil memegang-megang wajahnya.
“Tidak,” geleng Chien Wan sambil tersenyum kecil.
Ouwyang Ping mengulurkan tangan dan memegang lengan Chien Wan. “Kakak Wan, ayo kita ke kaki bukit!” ajaknya.
“Sebentar, Ping-er. Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan.” Chien Wan mencabut Suling Bambu Hitam dari ikat pinggangnya. Diulurkannya pada Ouwyang Ping.
Ouwyang Ping menatapnya dengan terbelalak. Wajahnya berseri-seri. “Kau mendapatkannya kembali! Kakek mengembalikannya padamu?” serunya gembira. Diraihnya suling itu dan didekapnya di dada dengan lembut, meluapkan perasaan gembiranya.
“Sekarang aku bisa meniup dengan lebih baik.”
“Dengan suling yang bagaimana pun kau tetap hebat!” puji gadis itu.
Chien Wan tersenyum. Diterimanya kembali sulingnya sambil melirik Ouwyang Ping. Agaknya kecemburuan gadis itu terhadap tali sutra putih sudah hilang, pikirnya lega. Ia tidak suka jika Ouwyang Ping bersedih dan marah padanya.
Mereka melangkah besama menuju kaki bukit. Angin bertiup sepoi-sepoi mengumandangkan bunyi musik samar yang indah. Pakaian mereka berkibar-kibar. Ouwyang Ping mengenakan pakaian berwarna emas dan Chien Wan berbusana hitam.
Ouwyang Ping duduk di atas gundukan tanah berumput sambil memangku harpa di pangkuannya. “Kakak Wan....”
Chien Wan mengerti apa maksud gadis itu. Ia mengangkat sulingnya, lalu dengan penuh perasaan ia menempelkan ujung suling ke bibirnya. Perlahan Chien Wan meniupnya, maka suara indah pun berkumandang. Chien Wan memejamkan mata meresapi suara yang dibuatnya, bunyi merdu yang selama tiga tahun tak didengarnya. Kini suara suling itu semakin jernih dan bagus. Chien Wan takjub, menyangka gurunya telah menyempurnakan suling itu. Padahal kenyataannya Tuan Ouwyang tak pernah melakukan apa pun terhadap suling itu. Suara itu semakin baik karena kemampuan Chien Wan sendiri kini sudah semakin tinggi.
Ouwyang Ping memetik harpanya. Gadis itu pun semakin pandai. Petikan harpanya benar-benar memikat hati siapa saja yang mendengar. Nada-nada rumit pun dimainkannya dengan mudah. Jari-jarinya yang lentik dan lentur memetik harpa dengan sedemikian lihay hingga menghasilkan musik yang mampu membekukan sukma.
Perpaduan kedua alat musik itu benar-benar sangat luar biasa! Lagu yang diciptakan oleh Chien Wan dan disempurnakan oleh iringan harpa Ouwyang Ping seolah-oleh memang telah diberkati oleh para dewa.
Lembah Nada seakan hanyut dalam irama permainan musik mereka. Burung-burung berhenti berkicau, gemericik mata air berhenti mengalir, dedaunan tak mengeluarkan bunyi ketika saling bergesek, kupu-kupu tak berani mengepakkan sayap. Irama kehidupan di Lembah Nada berhenti untuk sesaat.
Seolah kehidupan lenyap dan baru kembali saat mereka menyudahi permainan mereka.
Ouwyang Ping menatap Chien Wan dengan penuh perasaan. “Kakak Wan, suatu saat nanti kita akan melanglang buana berdua. Kita akan berhenti sejenak di tempat-tempat indah dan sunyi untuk memainkan lagu ini. Kau dengan sulingmu, aku dengan harpaku. Kita akan selalu bersama,” kata gadis itu setengah berkhayal, matanya terpejam.
Chien Wan menghela napas. Kini ia semakin berat menyampaikan berita kepergiannya pada gadis itu. Ouwyang Ping selalu beranggapan mereka takkan pernah berpisah walau untuk sedetik lamanya. Bagaimana pun mereka akan berpisah untuk beberapa saat.
“Kakak Wan tidak suka gagasanku?” tanya Ouwyang Ping kecewa mendengar Chien Wan diam saja.
“Bukan itu.”
“Lalu?”
Mata Chien Wan tampak murung saat menatap Ouwyang Ping. “Guru menyuruhku mewakili Lembah Nada ke pertemuan para pendekar bulan depan. Karena jarak Lembah Nada dengan tempat pertemuan itu jauh, aku harus berangkat dalam beberapa hari ini,” katanya.
Ouwyang Ping ternganga. “Jadi kita akan berpisah?”
“Hanya selama beberapa minggu, Ping-er. Paling lama dua bulan.” Chien Wan berusaha menenangkan.
“Dua bulan?!” seru Ouwyang Ping. “Itu lama sekali!”
Mau tak mau Chien Wan tersenyum. “Dua bulan itu tidak lama, Ping-er,” ucapnya sabar.
Namun Ouwyang Ping seolah tak mendengarkan. Ia melompat berdiri dan berlari meninggalkan Chien Wan. Chien Wan menghela napas. Ia sudah menduga ke mana perginya gadis itu. Ia melangkah menyusulnya.
Ouwyang Ping pergi ke ruang tapa kakeknya.
“Kakek! Kakek di mana?” serunya.
Hauw Lam, orang keempat dari Empat Tambur Perak muncul dari dalam ruangan. “Nona Ping-er, kakekmu sedang di ruang utama bersama ayahmu,” bilangnya.
Ouwyang Ping langsung pergi ke ruang utama meninggalkan Hauw Lam yang tercengang.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 182 Episodes
Comments
Eros Hariyadi
Lanjuuuutt Thor..😝😄💪👍👍👍
2024-01-15
0
Eros Hariyadi
Mewakili Lêmbah Nads di Pertemuan yang diselenggarakan oleh Ketua Persilatan di Kota Lok-Yang ...😝😄💪👍👍👍
2024-01-15
0
Andy Prayitna
teringat kho phing ho, cerita nya sederhana tapi memikat, tidak banyak basa basi
2023-11-02
1