Bahagia di Lembah Nada

Waktu berlalu dengan pesat. Tiga tahun sudah Chien Wan menimba ilmu di Lembah Nada. Selama itu, tak pernah terpikirkan olehnya untuk meninggalkan tempat yang dicintainya ini. Tempat yang selalu menimbulkan perasaan damai di hatinya, membuatnya bahagia hanya dengan mendengarkan bunyi angin yang mengalun bagai musik.

Kini ia sudah berusia sembilan belas tahun. Secara keseluruhan, penampilannya tidak banyak berubah. Ia masih tetap suka mengenakan busana serba hitam. Ia masih pendiam dan tak banyak bicara. Ia masih tidak suka menonjolkan diri. Namun sekarang kemampuannya dalam hal musik sangat menakjubkan.

Hubungannya dengan Ouwyang Ping yang saat itu telah berusia enam belas tahun semakin erat. Mereka memang tak pernah membicarakan perasaan mereka secara terang-terangan. Chien Wan selalu diam dan tak bicara apa-apa. Gadis itu pun tak pernah berlebihan dalam menunjukkan perasaan, namun sinar matanya tak dapat berdusta. Siapa pun yang melihat akan dapat dengan mudah melihat cinta mereka.

Setelah tiga tahun, Tuan Ouwyang Cu merasa ia sudah cukup mengajarkan pengetahuannya pada Chien Wan. Saat ini kemampuan Chien Wan sudah cukup tinggi, baik dalam ilmu silat maupun musik. Khusus dalam hal musik, Tuan Ouwyang Cu merasa yakin bahwa saat ini kemampuan Chien Wan sudah nyaris melampauinya.

Yang kurang sekarang hanyalah pengalaman.

Beberapa hari yang lalu, Lembah Nada kedatangan seorang kurir yang mengantarkan surat undangan dari Ketua Persilatan. Dalam surat itu disebutkan permohonan agar Lembah Nada mau mengirimkan wakilnya untuk menghadiri pertemuan para pendekar yang diadakan setiap lima tahun sekali.

Biasanya Lembah Nada selalu mengabaikan surat undangan itu, dan hanya mengirimkan surat permohonan maaf karena tak dapat hadir. Namun kali ini Tuan Ouwyang Cu sudah berunding dengan putranya untuk mengirim Chien Wan sebagai wakil.

“Sudah tiga tahun kau berlatih. Sekarang kemampuanmu sudah lumayan, sudah pantas untuk mewakili Lembah Nada. Aku mengutusmu untuk mewakili Lembah Nada menghadiri pertemuan para pendekar yang diadakan di Kota Lok Yang bulan depan. Ini undangannya!” Tuan Ouwyang Cu mengulurkan undangan berwarna kuning itu.

Chien Wan menerimanya dengan patuh walau hatinya berat. Bukan karena akan menunaikan tugas pertamanya. Dengan senang hati ia akan menunaikan tugas yang diberikan padanya betapa pun beratnya. Namun ia merasa sedih karena menyadari bahwa ia akan berpisah dengan Ouwyang Ping.

Tuan Ouwyang Cu mengambil sesuatu dari balik jubahnya. Chien Wan terbelalak. Benda yang dikeluarkan gurunya adalah Suling Bambu Hitam miliknya! Selama tiga tahun ini, tak pernah sekali pun ia melupakannya. Tadinya ia tak berani berharap akan dapat melihat sulingnya lagi. Tetapi kini....

“Dengan kemampuanmu sekarang, tak mungkin kau terus memakai suling besi itu. Aku sengaja menyimpan suling ini karena dulu kau belum layak memiliki suling sebagus ini. Sekarang kemampuanmu sudah semakin meningkat dan suling ini sudah pantas kaumiliki. Ambillah!” Tuan Ouwyang Cu mengulurkan Suling Bambu Hitam kepada Chien Wan.

Chien Wan memandang Tuan Ouwyang Cu dengan tak percaya. Saat ini, wajah Tuan Ouwyang memang masih sesinis dan seangkuh dulu. Namun ada yang berubah dari sorot matanya. Tampak lebih ramah dan tulus. Chien Wan pun menerima suling itu dengan tangan sedikit gemetar.

“Terima kasih, Guru.”

“Bagus. Pergilah menghadap anakku sekarang!” suruh Tuan Ouwyang.

Chien Wan memberi hormat. Hatinya terharu. Selama ini, tak pernah gurunya memujinya sekali saja. Kini Tuan Ouwyang begitu baik padanya. Hati Chien Wan sungguh bahagia.

Chien Wan tak tahu bahwa ketika ia berbalik, Tuan Ouwyang Cu memandanginya dengan mata berkaca-kaca diiringi senyum bangga. Ia tak pernah mempunyai murid seperti Chien Wan. Dari sekian banyak orang yang pernah datang ke Lembah Nada untuk belajar darinya, hanya Chien Wan-lah yang begitu tekun dan memiliki bakat yang sangat luar biasa. Ia yakin bahwa suatu saat nanti Chien Wan memiliki reputasi yang jauh lebih hebat dari dirinya sendiri.

Sementara itu, Chien Wan melangkah meninggalkan ruang tapa gurunya. Ia bingung memikirkan kata-kata yang akan diucapkannya untuk mengatakan selamat tinggal pada Ouwyang Ping. Apa yang harus dikatakannya? Ia memang tidak akan lama meninggalkan Lembah Nada, hanya beberapa bulan saja. Namun Ouwyang Ping pernah mengatakan akan selalu pergi ke mana pun Chien Wan pergi. Apa katanya kalau tahu dia tidak diajak?

“Kakak Wan!” panggil gadis yang tengah dipikirkannya itu. Senyum menawan tersungging di bibirnya.

Chien Wan menatap gadis itu dengan perasaan hangat. Selama ini ia selalu bersama Ouwyang Ping. Perubahan demi perubahan yang terjadi dalam diri gadis itu tak luput dari pengamatannya. Ouwyang Ping telah berubah dari seorang anak yang lincah dan sedikit nakal menjadi gadis remaja yang anggun dan rupawan. Semakin lama ia semakin cantik dan menawan hati.

Senyum Ouwyang Ping semakin lebar melihat tatapan Chien Wan. “Kakak Wan, kenapa melihatku seperti itu? Ada yang aneh di wajahku? Apakah wajahku kotor?” tanyanya sambil memegang-megang wajahnya.

“Tidak,” geleng Chien Wan sambil tersenyum kecil.

Ouwyang Ping mengulurkan tangan dan memegang lengan Chien Wan. “Kakak Wan, ayo kita ke kaki bukit!” ajaknya.

“Sebentar, Ping-er. Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan.” Chien Wan mencabut Suling Bambu Hitam dari ikat pinggangnya. Diulurkannya pada Ouwyang Ping.

Ouwyang Ping menatapnya dengan terbelalak. Wajahnya berseri-seri. “Kau mendapatkannya kembali! Kakek mengembalikannya padamu?” serunya gembira. Diraihnya suling itu dan didekapnya di dada dengan lembut, meluapkan perasaan gembiranya.

“Sekarang aku bisa meniup dengan lebih baik.”

“Dengan suling yang bagaimana pun kau tetap hebat!” puji gadis itu.

Chien Wan tersenyum. Diterimanya kembali sulingnya sambil melirik Ouwyang Ping. Agaknya kecemburuan gadis itu terhadap tali sutra putih sudah hilang, pikirnya lega. Ia tidak suka jika Ouwyang Ping bersedih dan marah padanya.

Mereka melangkah besama menuju kaki bukit. Angin bertiup sepoi-sepoi mengumandangkan bunyi musik samar yang indah. Pakaian mereka berkibar-kibar. Ouwyang Ping mengenakan pakaian berwarna emas dan Chien Wan berbusana hitam.

Ouwyang Ping duduk di atas gundukan tanah berumput sambil memangku harpa di pangkuannya. “Kakak Wan....”

Chien Wan mengerti apa maksud gadis itu. Ia mengangkat sulingnya, lalu dengan penuh perasaan ia menempelkan ujung suling ke bibirnya. Perlahan Chien Wan meniupnya, maka suara indah pun berkumandang. Chien Wan memejamkan mata meresapi suara yang dibuatnya, bunyi merdu yang selama tiga tahun tak didengarnya. Kini suara suling itu semakin jernih dan bagus. Chien Wan takjub, menyangka gurunya telah menyempurnakan suling itu. Padahal kenyataannya Tuan Ouwyang tak pernah melakukan apa pun terhadap suling itu. Suara itu semakin baik karena kemampuan Chien Wan sendiri kini sudah semakin tinggi.

Ouwyang Ping memetik harpanya. Gadis itu pun semakin pandai. Petikan harpanya benar-benar memikat hati siapa saja yang mendengar. Nada-nada rumit pun dimainkannya dengan mudah. Jari-jarinya yang lentik dan lentur memetik harpa dengan sedemikian lihay hingga menghasilkan musik yang mampu membekukan sukma.

Perpaduan kedua alat musik itu benar-benar sangat luar biasa! Lagu yang diciptakan oleh Chien Wan dan disempurnakan oleh iringan harpa Ouwyang Ping seolah-oleh memang telah diberkati oleh para dewa.

Lembah Nada seakan hanyut dalam irama permainan musik mereka. Burung-burung berhenti berkicau, gemericik mata air berhenti mengalir, dedaunan tak mengeluarkan bunyi ketika saling bergesek, kupu-kupu tak berani mengepakkan sayap. Irama kehidupan di Lembah Nada berhenti untuk sesaat.

Seolah kehidupan lenyap dan baru kembali saat mereka menyudahi permainan mereka.

Ouwyang Ping menatap Chien Wan dengan penuh perasaan. “Kakak Wan, suatu saat nanti kita akan melanglang buana berdua. Kita akan berhenti sejenak di tempat-tempat indah dan sunyi untuk memainkan lagu ini. Kau dengan sulingmu, aku dengan harpaku. Kita akan selalu bersama,” kata gadis itu setengah berkhayal, matanya terpejam.

Chien Wan menghela napas. Kini ia semakin berat menyampaikan berita kepergiannya pada gadis itu. Ouwyang Ping selalu beranggapan mereka takkan pernah berpisah walau untuk sedetik lamanya. Bagaimana pun mereka akan berpisah untuk beberapa saat.

“Kakak Wan tidak suka gagasanku?” tanya Ouwyang Ping kecewa mendengar Chien Wan diam saja.

“Bukan itu.”

“Lalu?”

Mata Chien Wan tampak murung saat menatap Ouwyang Ping. “Guru menyuruhku mewakili Lembah Nada ke pertemuan para pendekar bulan depan. Karena jarak Lembah Nada dengan tempat pertemuan itu jauh, aku harus berangkat dalam beberapa hari ini,” katanya.

Ouwyang Ping ternganga. “Jadi kita akan berpisah?”

“Hanya selama beberapa minggu, Ping-er. Paling lama dua bulan.” Chien Wan berusaha menenangkan.

“Dua bulan?!” seru Ouwyang Ping. “Itu lama sekali!”

Mau tak mau Chien Wan tersenyum. “Dua bulan itu tidak lama, Ping-er,” ucapnya sabar.

Namun Ouwyang Ping seolah tak mendengarkan. Ia melompat berdiri dan berlari meninggalkan Chien Wan. Chien Wan menghela napas. Ia sudah menduga ke mana perginya gadis itu. Ia melangkah menyusulnya.

Ouwyang Ping pergi ke ruang tapa kakeknya.

“Kakek! Kakek di mana?” serunya.

Hauw Lam, orang keempat dari Empat Tambur Perak muncul dari dalam ruangan. “Nona Ping-er, kakekmu sedang di ruang utama bersama ayahmu,” bilangnya.

Ouwyang Ping langsung pergi ke ruang utama meninggalkan Hauw Lam yang tercengang.

Bersambung.

Terpopuler

Comments

Eros Hariyadi

Eros Hariyadi

Lanjuuuutt Thor..😝😄💪👍👍👍

2024-01-15

0

Eros Hariyadi

Eros Hariyadi

Mewakili Lêmbah Nads di Pertemuan yang diselenggarakan oleh Ketua Persilatan di Kota Lok-Yang ...😝😄💪👍👍👍

2024-01-15

0

Andy Prayitna

Andy Prayitna

teringat kho phing ho, cerita nya sederhana tapi memikat, tidak banyak basa basi

2023-11-02

1

lihat semua
Episodes
1 Wisma Bambu
2 Paviliun Taman Belakang
3 Paman Khung
4 Chi Meng Huan
5 Suling Bambu Hitam
6 Ting Ting Diculik
7 Ketua Persilatan
8 Misi ke Lembah Nada
9 Empat Tambur Perak
10 Ouwyang Ping
11 Diangkat Menjadi Murid
12 Latihan Keras
13 Dilema Cinta Pertama
14 Bahagia di Lembah Nada
15 Berpetualang Bersama
16 Tiba di Kota Lok Yang
17 Reuni
18 Pertemuan Para Pendekar
19 Tuan Muda Chang
20 Penampilan Perdana
21 Hati ke Hati
22 Hati yang Luka
23 Di Bukit Merak
24 Dewa Seribu Wajah
25 Mencari Chi Meng Huan
26 Terperangkap
27 Rencana Chang Fei Yu
28 Kelelawar Hitam
29 Bebas
30 Melarikan Diri
31 Pertarungan
32 Pertarungan di Perbatasan
33 Menuju Wisma Bambu
34 Berjumpa Paman Khung
35 Penolakan Paman Khung
36 Kemball ke Lembah Nada
37 Pulang
38 Paman Khung Sakit Keras
39 Menuju Wisma Bambu
40 Mengurus Paman Khung
41 Luo Sui She Sembuh!
42 Ibu?
43 Leontin Penguak Rahasia
44 Terkuaknya Rahasia Masa Lalu
45 Dia Adikku
46 Berpisah
47 Kewajiban
48 Merindukannya
49 Harpa Kencana
50 Masa Lalu Sung Cen I
51 Masa Lalu Sung Cen II
52 Masa Lalu Sung Cen III
53 Keputusan A Ming
54 Dua Tahun Kemudian
55 Partai Kupu-Kupu
56 Luo Sen Khang Bertemu Ouwyang Ping
57 Pulang ke Lembah Nada
58 Kenangan Masa Silam
59 Reuni Dengan Sung Siu Hung
60 Di Lembah Nada
61 Cemburu
62 Rencana Tuan Ouwyang Cu
63 Berseteru
64 Perjodohan
65 Amarah Chang Fei Yu
66 Perjalanan Luo Sen Khang dan Ouwyang Ping
67 Di Partai Kupu Kupu
68 Pengkhianatan Cheng Sam
69 Penyelidikan
70 Berita Tentang Bukit Merak
71 Berselisih Jalan
72 Awal Bencana
73 Prahara di Wisma Bambu
74 Amarah dan Nestapa
75 Duka Hati Chien Wan
76 Wisma Bambu Berkabung
77 Kebencian dan Amarah
78 Isu di Dunia Persilatan
79 Berpisah Dengan Kui Fang
80 Wu Kui Fang Mencari Bukti
81 Rencana Pendekar Sung
82 Ke Lembah Nada
83 Ouwyang Kuan dan Luo Sui She ke Wisma Bambu
84 Mencari Kamus Silat Tung Pei
85 Orangtua Chien Wan Disandera
86 Luo Sen Khang Gusar
87 Para Pendekar di Wisma Bambu
88 Luo Sen Khang Menyandera Ouwyang Ping
89 Luo Sen Khang Terjebak
90 Dua Luo Sen Khang
91 Derita Luo Ting Ting
92 Penyesalan Luo Sen Khang
93 Pertengkaran Dua Pecinta
94 Luo Ting Ting Mengandung
95 Wu Kui Fang Bertemu Chien Wan
96 Di Partai Kupu Kupu
97 Wu Kui Fang Diculik
98 Selamat
99 Mendiskusikan Bukti yang Didapat
100 Cheng Sam Kembali Berulah
101 Upaya Mencari Jejak Cheng Sam
102 Hati yang Berbunga
103 Perguruan Elang Merah
104 Keluarga Kam
105 Cheng Sam Kembali Lolos
106 Masa Lalu Cheng Sam
107 Niat Luo Sui She
108 Kedatangan Chien Wan
109 Kasih Persaudaraan
110 Kesalahpahaman
111 Kegelisahan Wu Kui Fang
112 Kisah Masa Lalu
113 Rencana Pertunangan
114 Cinta Chi Meng Huan
115 Dua Hati Menyatu
116 Perjanjian di Kotaraja
117 Perjalanan Chang Fei Yu
118 Kabar Pernikahan Luo Ting Ting
119 Kedatangan Tuan Ouwyang Cu
120 Kehamilan A Ming
121 Musuh yang Sebenarnya
122 Kebencian yang Mendalam
123 Chien Wan Terluka
124 Ketulusan Hati Chang Fei Yu
125 Chien Wan Sadarkan Diri
126 Rencana Keberangkatan
127 Menuju Pulau Ginseng
128 Guru Chi Meng Huan
129 Tiba di Pulau Ginseng
130 Menetap Sementara di Pulau Ginseng
131 Berlatih di Pulau Ginseng
132 Chien Wan Sembuh
133 Janji Tuan Ouwyang Cu
134 Bakat Sung Siu Hung
135 Kesedihan A Ming
136 Derita Luo Ting Ting
137 Tuan Chang Mengunjungi Putranya
138 Chang Fei Yu Melamar
139 Hari-Hari Bahagia di Pulau Ginseng
140 Buah Dewa
141 Janji Tuan Ouwyang Cu
142 Pulang
143 Pernikahan
144 Amarah Chi Meng Huan
145 Penyusup
146 Masalah di Partai Kupu-Kupu
147 Wu Kui Fang Membela Sam Hui
148 Sam Hui Diserang
149 Pertemuan Tahunan
150 Pengkhianatan Wie Yun Cun
151 Kemunculan Para Pendekar
152 Pertempuran
153 Luo Sen Khang Galau
154 Ketua Persilatan Mengundurkan Diri
155 Tuan Ouwyang Melamar
156 Kelelawar Hitam Membawa Berita
157 Chi Sien Lung
158 Kelahiran Anak Ting Ting
159 Menjenguk Ting Ting
160 Meninggalkan Partai Kupu-Kupu
161 Bukit Ayam Emas
162 Nyaris Celaka
163 Serangan Chi Meng Huan
164 Ketua Persilatan yang Baru
165 Kembali ke Wisma Bambu
166 A Ming Melarikan Diri
167 A Ming Terkena Racun
168 Peringatan Setahun Kematian Tuan dan Nyonya Luo
169 A Ming Pergi
170 Bencana di Partai Kupu-Kupu
171 Duka yang Mendalam
172 Kelelawar Hitam
173 Chang Yi Hang Diculik
174 Usaha Pencarian
175 Menitipkan Sien Lung
176 Pertempuran
177 Tuan Ouwyang Cu Tewas
178 Terbersit Penyesalan
179 Akhir Hidup Chi Meng Huan
180 Pernikahan di Lembah Nada (End)
181 Terima Kasih
182 Epilog
Episodes

Updated 182 Episodes

1
Wisma Bambu
2
Paviliun Taman Belakang
3
Paman Khung
4
Chi Meng Huan
5
Suling Bambu Hitam
6
Ting Ting Diculik
7
Ketua Persilatan
8
Misi ke Lembah Nada
9
Empat Tambur Perak
10
Ouwyang Ping
11
Diangkat Menjadi Murid
12
Latihan Keras
13
Dilema Cinta Pertama
14
Bahagia di Lembah Nada
15
Berpetualang Bersama
16
Tiba di Kota Lok Yang
17
Reuni
18
Pertemuan Para Pendekar
19
Tuan Muda Chang
20
Penampilan Perdana
21
Hati ke Hati
22
Hati yang Luka
23
Di Bukit Merak
24
Dewa Seribu Wajah
25
Mencari Chi Meng Huan
26
Terperangkap
27
Rencana Chang Fei Yu
28
Kelelawar Hitam
29
Bebas
30
Melarikan Diri
31
Pertarungan
32
Pertarungan di Perbatasan
33
Menuju Wisma Bambu
34
Berjumpa Paman Khung
35
Penolakan Paman Khung
36
Kemball ke Lembah Nada
37
Pulang
38
Paman Khung Sakit Keras
39
Menuju Wisma Bambu
40
Mengurus Paman Khung
41
Luo Sui She Sembuh!
42
Ibu?
43
Leontin Penguak Rahasia
44
Terkuaknya Rahasia Masa Lalu
45
Dia Adikku
46
Berpisah
47
Kewajiban
48
Merindukannya
49
Harpa Kencana
50
Masa Lalu Sung Cen I
51
Masa Lalu Sung Cen II
52
Masa Lalu Sung Cen III
53
Keputusan A Ming
54
Dua Tahun Kemudian
55
Partai Kupu-Kupu
56
Luo Sen Khang Bertemu Ouwyang Ping
57
Pulang ke Lembah Nada
58
Kenangan Masa Silam
59
Reuni Dengan Sung Siu Hung
60
Di Lembah Nada
61
Cemburu
62
Rencana Tuan Ouwyang Cu
63
Berseteru
64
Perjodohan
65
Amarah Chang Fei Yu
66
Perjalanan Luo Sen Khang dan Ouwyang Ping
67
Di Partai Kupu Kupu
68
Pengkhianatan Cheng Sam
69
Penyelidikan
70
Berita Tentang Bukit Merak
71
Berselisih Jalan
72
Awal Bencana
73
Prahara di Wisma Bambu
74
Amarah dan Nestapa
75
Duka Hati Chien Wan
76
Wisma Bambu Berkabung
77
Kebencian dan Amarah
78
Isu di Dunia Persilatan
79
Berpisah Dengan Kui Fang
80
Wu Kui Fang Mencari Bukti
81
Rencana Pendekar Sung
82
Ke Lembah Nada
83
Ouwyang Kuan dan Luo Sui She ke Wisma Bambu
84
Mencari Kamus Silat Tung Pei
85
Orangtua Chien Wan Disandera
86
Luo Sen Khang Gusar
87
Para Pendekar di Wisma Bambu
88
Luo Sen Khang Menyandera Ouwyang Ping
89
Luo Sen Khang Terjebak
90
Dua Luo Sen Khang
91
Derita Luo Ting Ting
92
Penyesalan Luo Sen Khang
93
Pertengkaran Dua Pecinta
94
Luo Ting Ting Mengandung
95
Wu Kui Fang Bertemu Chien Wan
96
Di Partai Kupu Kupu
97
Wu Kui Fang Diculik
98
Selamat
99
Mendiskusikan Bukti yang Didapat
100
Cheng Sam Kembali Berulah
101
Upaya Mencari Jejak Cheng Sam
102
Hati yang Berbunga
103
Perguruan Elang Merah
104
Keluarga Kam
105
Cheng Sam Kembali Lolos
106
Masa Lalu Cheng Sam
107
Niat Luo Sui She
108
Kedatangan Chien Wan
109
Kasih Persaudaraan
110
Kesalahpahaman
111
Kegelisahan Wu Kui Fang
112
Kisah Masa Lalu
113
Rencana Pertunangan
114
Cinta Chi Meng Huan
115
Dua Hati Menyatu
116
Perjanjian di Kotaraja
117
Perjalanan Chang Fei Yu
118
Kabar Pernikahan Luo Ting Ting
119
Kedatangan Tuan Ouwyang Cu
120
Kehamilan A Ming
121
Musuh yang Sebenarnya
122
Kebencian yang Mendalam
123
Chien Wan Terluka
124
Ketulusan Hati Chang Fei Yu
125
Chien Wan Sadarkan Diri
126
Rencana Keberangkatan
127
Menuju Pulau Ginseng
128
Guru Chi Meng Huan
129
Tiba di Pulau Ginseng
130
Menetap Sementara di Pulau Ginseng
131
Berlatih di Pulau Ginseng
132
Chien Wan Sembuh
133
Janji Tuan Ouwyang Cu
134
Bakat Sung Siu Hung
135
Kesedihan A Ming
136
Derita Luo Ting Ting
137
Tuan Chang Mengunjungi Putranya
138
Chang Fei Yu Melamar
139
Hari-Hari Bahagia di Pulau Ginseng
140
Buah Dewa
141
Janji Tuan Ouwyang Cu
142
Pulang
143
Pernikahan
144
Amarah Chi Meng Huan
145
Penyusup
146
Masalah di Partai Kupu-Kupu
147
Wu Kui Fang Membela Sam Hui
148
Sam Hui Diserang
149
Pertemuan Tahunan
150
Pengkhianatan Wie Yun Cun
151
Kemunculan Para Pendekar
152
Pertempuran
153
Luo Sen Khang Galau
154
Ketua Persilatan Mengundurkan Diri
155
Tuan Ouwyang Melamar
156
Kelelawar Hitam Membawa Berita
157
Chi Sien Lung
158
Kelahiran Anak Ting Ting
159
Menjenguk Ting Ting
160
Meninggalkan Partai Kupu-Kupu
161
Bukit Ayam Emas
162
Nyaris Celaka
163
Serangan Chi Meng Huan
164
Ketua Persilatan yang Baru
165
Kembali ke Wisma Bambu
166
A Ming Melarikan Diri
167
A Ming Terkena Racun
168
Peringatan Setahun Kematian Tuan dan Nyonya Luo
169
A Ming Pergi
170
Bencana di Partai Kupu-Kupu
171
Duka yang Mendalam
172
Kelelawar Hitam
173
Chang Yi Hang Diculik
174
Usaha Pencarian
175
Menitipkan Sien Lung
176
Pertempuran
177
Tuan Ouwyang Cu Tewas
178
Terbersit Penyesalan
179
Akhir Hidup Chi Meng Huan
180
Pernikahan di Lembah Nada (End)
181
Terima Kasih
182
Epilog

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!