Keesokkan harinya mereka pergi ke kediaman Pendekar Sung.
Chien Wan membawa sulingnya yang diselipkan di ikat pinggangnya. Tidak ada yang bisa melihat suling itu karena tersembunyi oleh jubahnya. Ouwyang Ping menenteng harpanya. Sen Khang tak membawa apa-apa. Meng Huan dan Ting Ting membawa pedang mereka.
Anak buah Pendekar Sung menghadang mereka di pintu gerbang. Sikapnya sopan, namun tegas.
“Maaf, Tuan dan Nona. Peraturan melarang tamu membawa senjata. Jadi tolong dititipkan di sini,” ujarnya tegas.
Meng Huan dan Ting Ting menyerahkan pedang mereka. Namun Ouwyang Ping keberatan melepas harpanya.
“Nona, sebaiknya alat musik Nona dititipkan juga.”
Ouwyang Ping menggeleng tegas. “Aku tak bisa meninggalkan harpaku,” tolaknya.
“Nona, ini peraturan.”
“Aku tidak mau,” tolak Ouwyang Ping.
“Lagi pula itu kan hanya alat musik, bukan senjata,” sela Sen Khang membela.
“Maaf, itu memang peraturannya. Jika Nona tidak mau menitipkannya, Nona tidak boleh masuk ke ruang pertemuan.”
“Peraturan dibuat kan untuk dilanggar, A Te.”
Semua menoleh ke asal suara riang di pintu masuk. Seorang gadis remaja berpakaian serba biru melangkah keluar dari dalam rumah. Ia mengangkat alisnya dengan konyol. Wajahnya manis dan lucu. Ia tampak masih sangat muda, mungkin usianya baru sekitar tiga atau empat belas tahun.
“Nona Siu Hung! Apa maksud perkataanmu? Peraturan itu ayahmu yang membuatnya,” kata A Te putus asa. Wajahnya agak ngeri melihat remaja itu.
Gadis itu tersenyum sangat lebar. “Aku suka melihat harpa itu. Kau tahu kan, kau berhutang padaku, A Te. Izinkan mereka masuk, atau aku beritahu ayahku....”
“Baiklah! Baiklah!” sergah A Te memotong perkataan gadis itu. Ia kembali memandang Ouwyang Ping. “Nona boleh masuk. Tidak usah menitipkan harpa.”
“A Te...!” Temannya sesama penjaga memprotes, namun langsung bungkam begitu gadis remaja itu menatapnya.
Chien Wan dan kawan-kawan masuk.
Ouwyang Ping menatap si gadis remaja dengan penuh rasa terima kasih. “Terima kasih, Nona.”
Gadis itu tersenyum nakal. “Namaku Sung Siu Hung. Kalian masuk saja terus. Di dalam sudah banyak orang. Aku mau pergi dulu. Saat ayahku sibuk adalah saatnya aku bersenang-senang. Sampai jumpa!”
Semua tercengang melihat Sung Siu Hung yang berlenggang santai meninggalkan tempat itu diiringi teriakan putus asa para penjaga pintu yang melarangnya pergi.
“Astaga, nakal sekali anak itu!” seru Sen Khang.
“Dia lucu sekali.” Ting Ting tertawa geli.
Meng Huan meringis. “Pasti ayahnya sudah kewalahan menghadapinya.”
Chien Wan dan Ouwyang Ping tidak berkata apa-apa. Mereka hanya tersenyum kecil.
Mereka melangkah masuk melewati taman yang menghubungkan pintu gerbang dengan pintu masuk kediaman Pendekar Sung. Semua memandang dengan kagum karena tempat itu indah dan berseni sekali. Mereka pernah mendengar bahwa Ketua Persilatan adalah seorang yang kaya raya. Ayah Pendekar Sung merupakan saudagar kaya yang memiliki usaha perdagangan dan pengawalan. Pendekar Sung, selain memiliki ilmu silat yang tangguh, juga memiliki jiwa bisnis yang kuat.
Sebelum mereka melangkah masuk, seorang pria setengah baya keluar dengan wajah kesal. Ia menghela napas dalam-dalam saat melihat rombongan anak muda di hadapannya. Dirangkapkannya kedua tangannya untuk memberi salam cara pendekar.
“Apa kabar, Saudara sekalian? Aku Sung Han. Apakah Anda sekalian datang untuk menghadiri pertemuan ini?” sapanya ramah.
Sen Khang yang menjawab, “Benar, Pendekar Sung. Namaku Luo Sen Khang. Aku datang dengan adikku Ting Ting dan adik seperguruanku Chi Meng Huan.” Ia menunjuk Ting Ting dan Meng Huan yang memberi salam dengan cara yang sama. “Kami mewakili Wisma Bambu. Ayahku berhalangan datang, maka beliau mengutus kami.”
Wajah Pendekar Sung berseri. “Ternyata Saudara Luo mempunyai putra dan putri yang sudah dewasa,” ujarnya senang. Lalu pandangannya beralih pada Chien Wan dan Ouwyang Ping. “Dan kalian berdua....”
“Saya Chien Wan dan ini Ouwyang Ping,” jawab Chien Wan.
Pendekar Sung mengerutkan kening. “Ouwyang? Apakah kalian datang mewakili Lembah Nada?”
“Benar,” jawab Ouwyang Ping. “Tuan Ouwyang Kuan adalah ayahku. Kami diminta mewakili Lembah Nada dalam pertemuan ini.”
Pendekar Sung senang sekali. “Sungguh luar biasa pertemuan kali ini! Pada pertemuan sebelumnya, undanganku selalu diabaikan oleh Keluarga Ouwyang. Aku sempat mengira, sampai masa jabatanku berakhir, takkan sempat bagiku bertemu dengan orang Lembah Nada. Ternyata kali ini kalian menanggapi undangan kami.”
“Kami minta maaf....”
“Sudahlah!” tukas Pendekar Sung tertawa. “Aku hanya bergurau. Aku sangat gembira bisa berjumpa dengan para pendekar muda yang gagah dari Wisma Bambu dan Lembah Nada.” Wajahnya kembali kesal. “Hari ini sangat istimewa kalau saja putriku tidak melarikan diri dari kamarnya,” gerutunya.
“Apakah dia Nona Sung Siu Hung?” tanya Meng Huan.
Pendekar Sung kaget. “Kalian sudah bertemu dengannya?”
“Tadi dia yang menyuruh kami masuk.”
“Ke mana dia sekarang...?” gumam Pendekar Sung muram. “Anakku itu sangat nakal. Hari ini sebenarnya dia sedang dihukum tidak boleh keluar kamar.”
Semua berpandangan geli.
“Kalian masuk saja dulu. Aku akan menugaskan pengawalku untuk mencari anakku. Setelah itu aku akan segera memulai pertemuan.” Pendekar Sung memberi salam kembali dengan ramah sebelum pergi ke pintu gerbang.
Kelima anak muda itu masuk ke dalam ruang tengah yang berfungsi juga sebagai ruang pertemuan. Di dalam, keadaannya sudah ramai. Pertemuan para pendekar dihadiri oleh pendekar-pendekar kenamaan dari seluruh penjuru negeri. Wakil-wakil dari berbagai perkumpulan silat telah menempati tempat duduk mereka masing-masing dan sedang mengobrol dengan serius.
Kehadiran mereka tidak begitu mengundang perhatian karena banyaknya orang yang ada. Hanya beberapa orang yang memandang mereka dengan penuh kekaguman, itu pun hanya karena kehadiran dua dara cantik—Ouwyang Ping dan Luo Ting Ting.
Tak lama kemudian, Pendekar Sung memasuki ruangan. Pertemuan pun dimulai.
“Saudara-saudara sekalian, selamat datang pada pertemuan kali ini.” Demikian sambutan Pendekar Sung mengawali pertemuan itu.
Pertemuan kali ini membahas tentang dua masalah yang tengah dihadapi oleh Dunia Persilatan akhir-akhir ini. Belakangan ini, muncul enam tokoh misterius dari Khitan yang mulai menimbulkan masalah. Mereka menyerang perkumpulan silat dengan tujuan untuk menaklukkan mereka agar tunduk pada perintah mereka. Entah apa tujuan mereka sebenarnya. Yang pasti, setiap perkumpulan silat yang kalah harus menjadi anggota mereka.
Masalah kedua tidak terlalu serius. Ada seorang tokoh yang dijuluki Kelelawar Hitam. Dijuluki demikian karena ia selalu mengenakan busana serba hitam dan selalu bergerak di malam hari. Gerakannya sangat cepat dan tangkas sehingga sulit ditemukan, apalagi ditaklukkan. Sesungguhnya Kelelawar Hitam tidak pernah menimbulkan korban jiwa. Hanya saja setiap kemunculannya selalu dibarengi dengan raibnya sesuatu.
Chien Wan mendengarkannya dengan penuh minat. Masalah pertama tidak terlalu mengundang perhatiannya. Kelelawar Hitam lebih menarik baginya. Jika seseorang dijuluki kelelawar, gerakannya pastilah sangat cepat dan tangkas.
Pertemuan diisi dengan perdebatan-perdebatan, juga adu pendapat antara para pendekar. Jika perdebatan mulai memanas, Pendekar Sung akan menengahi dengan bijak dan adil.
Sen Khang berpikir, tidaklah heran apabila Pendekar Sung diangkat menjadi Ketua Persilatan. Ia sangat mengagumi kebijaksanaan Pendekar Sung. Diam-diam, ia berharap menjadi seperti Pendekar Sung. Sejak dahulu ia memang sudah mengagumi reputasi Pendekar Sung. Kini kekagumannya semakin menjadi.
Di tengah-tengah perdebatan antara para pendekar, tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat dan berdiri di tangah-tengah mereka semua. Gerakannya sungguh cepat karena sebelumnya tak ada tanda-tanda kemuculannya, pertanda ilmu meringankan tubuhnya sangat luar biasa. Kehadirannya mengejutkan semua yang hadir di sana karena orang itu dikenal sebagai tokoh yang memiliki reputasi kurang baik di kalangan para pendekar.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 182 Episodes
Comments
Yanka Raga
misteriii 😇
2024-02-15
0
Eros Hariyadi
Lanjuuuutt 😝😄💪👍 u
2024-01-15
0
Eros Hariyadi
😝😄💪👍👍
2024-01-15
0