Tuan Ouwyang Cu dan Ouwyang Kuan tengah berbincang-bincang.
“Menurut Ayah, Chien Wan sudah cukup mampu mengemban tugas ini?” tanya Ouwyang Kuan.
“Aku takkan menyuruhnya kalau dia tak mampu!” dengus ayahnya.
Ouwyang Kuan sudah sangat mengenal ayahnya, maka ia diam saja sambil tersenyum.
Saat itulah Ouwyang Ping masuk.
“Kakek!”
Ouwyang Kuan mengerutkan kening melihat kelakuan putrinya yang tak seperti biasa. “Ping-er, ada apa?”
“Maaf, Ayah. Aku ingin bicara pada Kakek,” sahut Ouwyang Ping sambil menatap tajam kakeknya.
Tuan Ouwyang Cu tersenyum pada cucunya namun dibalas dengan wajah cemberut gadis itu. Ia merasa heran. “Ping-er, mengapa wajahmu masam begitu? Kau tidak mau membalas senyum kakek?” tanyanya.
“Kakek menyuruh Kakak Wan pergi ke Kota Lok Yang, kan?”
“Memang,” angguk Tuan Ouwyang Cu. “Dia kusuruh mewakili Lembah Nada dalam pertemuan para pendekar. Hitung-hitung mencari pengalaman.”
“Kakek jahat!” tuduh Ouwyang Ping.
“Lho? Chien Wan kan tak bisa selamanya berdiam di sini. Kalau dia tidak pergi ke dunia luar, apa gunanya dia berlatih selama ini?” bantah Tuan Ouwyang Cu.
Ouwyang Ping melipat tangan di depan dada. “Kalau begitu, aku juga pergi!” putusnya mantap.
“Tidak boleh,” sela Ouwyang Kuan. “Kau masih terlalu muda.”
“Kakak Wan juga hanya tiga tahun lebih tua dariku. Kenapa dia pergi dan aku tidak?” seru Ouwyang Ping kesal. “Pokoknya aku mau ikut Kakak Wan! Aku tidak mau diam di sini seorang diri!”
“Ping-er....”
“Biarkan dia kalau memang dia mau pergi, A Kuan!” potong Tuan Ouwyang Cu.
“Tapi, Ayah....”
Tuan Ouwyang Cu berdiri dan berkacak pinggang. “Anakmu ini sangat manja! Dia bahkan berani mencemberuti aku. Aku! Kakeknya sendiri! Ini karena kau yang selalu memanjakannya. Biarkan dia pergi. Aku mau lihat, apa dia bisa mandiri tanpa ayahnya yang selalu melindunginya.”
“Kakak Wan akan melindungiku,” cibir Ouwyang Ping.
Sang kakek hanya mendengus.
Ouwyang Kuan menghela napas berat. “Ping-er, kau memang keras kepala.”
“Ayah?” panggil Ouwyang Ping memelas sambil menatap ayahnya.
“Ya, sudahlah. Kalau itu maumu.”
Seketika wajah Ouwyang Ping berseri-seri. Ia menghampiri ayahnya dan merangkul lengannya. “Terima kasih, Ayah.”
Tuan Ouwyang Cu mendengus. “Cuma kepada ayahmu saja? Kau tidak berterima kasih pada kakekmu?”
Ouwyang Ping tersipu, lalu menghampiri Tuan Ouwyang Cu. Ditatapnya kakeknya dengan penuh sayang. “Terima kasih, Kek.”
“Masih mau bilang kakekmu jahat?” sindir Tuan Ouwyang Cu.
Wajah Ouwyang Ping memerah. “Tidak, Kek. Kakek adalah orang yang baik sekali. Paling baik di dunia!”
Saat itu, Chien Wan sudah tiba di ruangan. Ia terpaku di luar pintu mendengarkan pembicaraan ketiga orang bermarga Ouwyang itu. Hatinya gembira mendengar Ouwyang Ping akan ikut bersamanya.
Tuan Ouwyang Cu melihatnya dan melambai menyuruhnya masuk.
“Kalian sebaiknya berangkat besok pagi saja,” perintahnya.
“Berkemaslah, Ping-er,” suruh Ouwyang Kuan.
“Iya!” Dengan penuh semangat, Ouwyang Ping berlari pergi. Sekilas dilayangkannya pandangannya ke wajah Chien Wan. Dilontarkannya seulas senyum penuh bahagia yang memukau hati pemuda itu.
“Chien Wan.”
Suara Ouwyang Kuan mengejutkannya, membuatnya menoleh. “Ya, Paman?”
“Besok kau akan pergi bersama Ping-er. Aku tahu kalian sama-sama masih muda dan masih asing dengan kehidupan di luar sana. Namun aku yakin kau akan mampu mengatasi semua masalah. Kau lebih dewasa daripada Ping-er. Jagalah dia baik-baik. Kuharap kau selalu bersamanya dan melindunginya. Maukah kau?” tanya Ouwyang Kuan bersungguh-sungguh.
“Paman tak perlu memintaku melakukannya. Tanpa Paman minta pun, aku akan menjaga Ping-er baik-baik karena aku memang bertanggung jawab atas dirinya,” jawab Chien Wan.
Jawaban Chien Wan ini sangat melegakan hati Ouwyang Kuan. Ia sangat percaya pada Chien Wan. Selama tinggal di Lembah Nada, pemuda itu telah membuktikan tanggung jawab dan kejujurannya. Kasih sayang Chien Wan pada Ouwyang Ping tak perlu diragukan lagi. Ouwyang Kuan dapat merasakan bahwa Chien Wan begitu tulus menyayangi putrinya. Dan ia merestui mereka.
***
Esok harinya, Chien Wan dan Ouwyang Ping berangkat meninggalkan Lembah Nada. Mereka membawa pakaian dan uang secukupnya.
Chien Wan menyelipkan suling di ikat pinggangnya, dengan begitu keberadaan benda itu menjadi agak tersembunyi. Namun Ouwyang Ping tak bisa menyimpan harpanya di mana-mana karena ukurannya cukup besar. Ia selalu memegangnya di tangan.
Karena harpa emas itu, penampilan mereka menjadi agak mencolok dan mengundang perhatian. Namun walaupun demikian, tak ada yang menduga bahwa sebenarnya mereka adalah orang-orang muda yang memiliki kepandaian tinggi. Orang-orang yang berpapasan dengan mereka mengira mereka adalah seniman jalanan.
Mereka melangkah menuju Kota Lok Yang. Kota itu terletak cukup jauh dari Lembah Nada, oleh sebab itu bisa memakan waktu berhari-hari. Apalagi mereka memutuskan untuk berjalan kaki saja, tidak menunggang kuda. Mereka tahu bahwa pertemuan baru akan berlangsung bulan depan. Untuk apa terburu-buru?
Jalan yang mereka lalui merupakan jalan yang sepi. Tak tampak satu pun rumah penduduk, apalagi penginapan. Mulanya mereka berjalan terus dengan harapan akan menemukan tempat untuk menginap, kuil atau apa saja, asal memiliki atap sehingga mereka tidak basah jika turun hujan. Namun tak satu pun rumah atau kuil yang tampak. Hanya terdapat semak dan pohon-pohon besar yang rindang. Mereka pun menyerah dan terpaksa harus tidur di bawah pohon yang berdaun rindang. Untungnya, tak jauh dari tempat mereka memutuskan untuk bermalam, ada kolam kecil berair jernih.
Chien Wan mengumpulkan ranting-ranting kering yang berserakan, kemudian membuat api unggun. Api menyala dengan cepat karena ranting itu sangat kering. Nayal api menhangatkan suasana malam yang cerah. Langit hitam dipenuhi bintang yang berkelip-kelip semarak.
Ouwyang Ping memandang langit dengan senang. “Lihat, Kak! Langitnya penuh bintang. Artinya malam ini tidak akan turun hujan.”
Chien Wan mengangguk.
Ouwyang Ping membuka bungkusan bekal mereka dan mengeluarkan dua buah roti. “Mari makan, Kakak Wan.”
Mereka makan dalam keheningan. Chien Wan diam saja sambil mengunyah rotinya. Ouwyang Ping tidak mengusiknya. Gadis itu sudah terlalu mengenal Chien Wan, dan memahami sifatnya yang penyendiri. Jika Chien Wan sedang berdiam diri, gadis itu tidak pernah mengusiknya.
“Ping-er,” akhirnya Chien Wan-lah yang memecah keheningan, “kau tak apa-apa kan tidur di tempat ini?” Ouwyang Ping terbiasa hidup nyaman karena ia seorang nona besar, putri pemilik Lembah Nada. Tentunya akan menderita jika harus tidur di tempat seperti itu.
Ouwyang Ping tersenyum manis. “Tidak apa-apa, Kakak Wan. Aku ingin ikut denganmu, maka aku tak akan mengeluh,” jawabnya tulus. “Lagi pula...,” tambahnya malu-malu, “bila bersama Kakak Wan, apa pun keadaannya, itu tak masalah. Aku rela.”
Chien Wan terpana. Ia menarik napas dan menyunggingkan senyum haru di bibirnya. Betapa besarnya rasa cinta gadis itu kepadanya, berdosalah dia jika menyakitinya. Chien Wan mencabut sulingnya.
“Makanmu sudah?”
Ouwyang Ping mengangguk.
“Tidurlah. Aku akan meniup suling untukmu sampai kau tertidur,” suruh Chien Wan lembut.
Ouwyang Ping mengangguk, lalu ia merebahkan tubuhnya di tanah berumput yang dialasi selimut. Kepalanya berbantalkan buntalan pakaian. Harpanya tergeletak di sisinya. Ia tidak langsung tidur, malah memandangi Chien Wan yang mulai meniup sulingnya melantunkan sebuah lagu lembut.
Betapa hebat dan gagahnya Kakak Wan! pikir Ouwyang Ping penuh kekaguman. Wajah Chien Wan kelihatan begitu bersinar, memancarkan kasih sayang yang luar biasa. Hati Ouwyang Ping begitu hangat kala meresapi irama lagu yang dimainkan Chien Wan. Saat itu, ia ingin waktu berhenti berputar.
Tak lama kemudian, matanya terasa berat. Ia pun tertidur.
Chien Wan memasang telinganya dan menangkap irama napas Ouwyang Ping yang pelan dan teratur tanda gadis itu sudah pulas. Ia menghentikan tiupan sulingnya dan dengan perlahan-lahan mendekati gadis itu. Dengan hati-hati, diselimutinya tubuh Ouwyang Ping dengan jubah hitamnya.
Ia tidak tidur karena tidak mengantuk sama sekali. Bahkan seandainya mengantuk pun, ia tetap tak akan tidur. Ia harus menjaga gadis itu. Ia harus memastikan bahwa tak akan ada yang mengganggu gadis itu.
Waktu berlalu dan pagi pun tiba. Mentari menampakkan sinarnya di ufuk timur. Sedikit demi sedikit seolah enggan terbangun dan menjalankan tugasnya. Cahaya yang perlahan-lahan muncul itu amat menakjubkan. Alangkah indahnya pemandangan di pagi hari itu. Namun bagi Chien Wan, tak ada yang lebih indah selain pemandangan seorang gadis yang tertidur disinari oleh cahaya mentari pagi. Sinar mentari memantul ketika mengenai pakaian Ouwyang Ping yang berwarna emas. Gadis itu tampak begitu bercahaya, seolah-olah sinar itu keluar dari sekujur tubuh Ouwyang Ping sendiri.
Chien Wan memandangi gadis itu tanpa ada niat sedikit pun untuk mengusik tidurnya.
Ouwyang Ping menggeliat, lalu membuka matanya. Sosok pertama yang dilihatnya adalah Chien Wan yang duduk tak jauh darinya, tengah menatapnya. Ia tersipu-sipu. Sudah berapa lamakah Chien Wan memandanginya seperti itu?
“Kakak Wan, kau sudah lama bangunnya?”
Chien Wan mengangguk. Ia jujur. Tentu saja ia sudah lama bangun, ia sama sekali tidak tidur.
Ouwyang Ping bangkit berdiri. “Kakak Wan, aku mau cuci muka di kolam dulu,” pamitnya. Lalu ia melangkah menuju kolam kecil yang terletak tak jauh dari tempat mereka bermalam. Ia menemukan tempat yang agak tersembunyi di balik batu-batu besar dan semak. Air yang sangat jernih membuatnya ingin mandi karena ia merasa tidak segar dan berdebu.
Selama menunggu Ouwyang Ping membersihkan diri, Chien Wan berburu dan dengan mudah berhasil menangkap seekor kelinci. Ia menguliti kelinci itu dan menusukkannya pada sebatang ranting. Ia mulai membakar kelinci itu di atas api.
Tiba-tiba....
“Aaaaaa!!”
Terdengar teriakan panik dari arah kolam.
“Ping-er!” Chien Wan melompat berdiri dan tanpa pikir panjang segera berlari menuju kolam. Kelincinya tak digubris lagi.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 182 Episodes
Comments
Eros Hariyadi
Lanjuuuutt 😝😎💪👍🙏
2024-01-15
0
Eros Hariyadi
Bepergian bersama Ouwyang-Ping ke Kota Lok-Yang menghadiri Undangan Pertemuan Ketua Persilatan...😝😄💪👍👍👍
2024-01-15
0
Ismaeni
lanjut thor,makin menarik ceritanya. .
2023-06-23
2