Berpetualang Bersama

Tuan Ouwyang Cu dan Ouwyang Kuan tengah berbincang-bincang.

“Menurut Ayah, Chien Wan sudah cukup mampu mengemban tugas ini?” tanya Ouwyang Kuan.

“Aku takkan menyuruhnya kalau dia tak mampu!” dengus ayahnya.

Ouwyang Kuan sudah sangat mengenal ayahnya, maka ia diam saja sambil tersenyum.

Saat itulah Ouwyang Ping masuk.

“Kakek!”

Ouwyang Kuan mengerutkan kening melihat kelakuan putrinya yang tak seperti biasa. “Ping-er, ada apa?”

“Maaf, Ayah. Aku ingin bicara pada Kakek,” sahut Ouwyang Ping sambil menatap tajam kakeknya.

Tuan Ouwyang Cu tersenyum pada cucunya namun dibalas dengan wajah cemberut gadis itu. Ia merasa heran. “Ping-er, mengapa wajahmu masam begitu? Kau tidak mau membalas senyum kakek?” tanyanya.

“Kakek menyuruh Kakak Wan pergi ke Kota Lok Yang, kan?”

“Memang,” angguk Tuan Ouwyang Cu. “Dia kusuruh mewakili Lembah Nada dalam pertemuan para pendekar. Hitung-hitung mencari pengalaman.”

“Kakek jahat!” tuduh Ouwyang Ping.

“Lho? Chien Wan kan tak bisa selamanya berdiam di sini. Kalau dia tidak pergi ke dunia luar, apa gunanya dia berlatih selama ini?” bantah Tuan Ouwyang Cu.

Ouwyang Ping melipat tangan di depan dada. “Kalau begitu, aku juga pergi!” putusnya mantap.

“Tidak boleh,” sela Ouwyang Kuan. “Kau masih terlalu muda.”

“Kakak Wan juga hanya tiga tahun lebih tua dariku. Kenapa dia pergi dan aku tidak?” seru Ouwyang Ping kesal. “Pokoknya aku mau ikut Kakak Wan! Aku tidak mau diam di sini seorang diri!”

“Ping-er....”

“Biarkan dia kalau memang dia mau pergi, A Kuan!” potong Tuan Ouwyang Cu.

“Tapi, Ayah....”

Tuan Ouwyang Cu berdiri dan berkacak pinggang. “Anakmu ini sangat manja! Dia bahkan berani mencemberuti aku. Aku! Kakeknya sendiri! Ini karena kau yang selalu memanjakannya. Biarkan dia pergi. Aku mau lihat, apa dia bisa mandiri tanpa ayahnya yang selalu melindunginya.”

“Kakak Wan akan melindungiku,” cibir Ouwyang Ping.

Sang kakek hanya mendengus.

Ouwyang Kuan menghela napas berat. “Ping-er, kau memang keras kepala.”

“Ayah?” panggil Ouwyang Ping memelas sambil menatap ayahnya.

“Ya, sudahlah. Kalau itu maumu.”

Seketika wajah Ouwyang Ping berseri-seri. Ia menghampiri ayahnya dan merangkul lengannya. “Terima kasih, Ayah.”

Tuan Ouwyang Cu mendengus. “Cuma kepada ayahmu saja? Kau tidak berterima kasih pada kakekmu?”

Ouwyang Ping tersipu, lalu menghampiri Tuan Ouwyang Cu. Ditatapnya kakeknya dengan penuh sayang. “Terima kasih, Kek.”

“Masih mau bilang kakekmu jahat?” sindir Tuan Ouwyang Cu.

Wajah Ouwyang Ping memerah. “Tidak, Kek. Kakek adalah orang yang baik sekali. Paling baik di dunia!”

Saat itu, Chien Wan sudah tiba di ruangan. Ia terpaku di luar pintu mendengarkan pembicaraan ketiga orang bermarga Ouwyang itu. Hatinya gembira mendengar Ouwyang Ping akan ikut bersamanya.

Tuan Ouwyang Cu melihatnya dan melambai menyuruhnya masuk.

“Kalian sebaiknya berangkat besok pagi saja,” perintahnya.

“Berkemaslah, Ping-er,” suruh Ouwyang Kuan.

“Iya!” Dengan penuh semangat, Ouwyang Ping berlari pergi. Sekilas dilayangkannya pandangannya ke wajah Chien Wan. Dilontarkannya seulas senyum penuh bahagia yang memukau hati pemuda itu.

“Chien Wan.”

Suara Ouwyang Kuan mengejutkannya, membuatnya menoleh. “Ya, Paman?”

“Besok kau akan pergi bersama Ping-er. Aku tahu kalian sama-sama masih muda dan masih asing dengan kehidupan di luar sana. Namun aku yakin kau akan mampu mengatasi semua masalah. Kau lebih dewasa daripada Ping-er. Jagalah dia baik-baik. Kuharap kau selalu bersamanya dan melindunginya. Maukah kau?” tanya Ouwyang Kuan bersungguh-sungguh.

“Paman tak perlu memintaku melakukannya. Tanpa Paman minta pun, aku akan menjaga Ping-er baik-baik karena aku memang bertanggung jawab atas dirinya,” jawab Chien Wan.

Jawaban Chien Wan ini sangat melegakan hati Ouwyang Kuan. Ia sangat percaya pada Chien Wan. Selama tinggal di Lembah Nada, pemuda itu telah membuktikan tanggung jawab dan kejujurannya. Kasih sayang Chien Wan pada Ouwyang Ping tak perlu diragukan lagi. Ouwyang Kuan dapat merasakan bahwa Chien Wan begitu tulus menyayangi putrinya. Dan ia merestui mereka.

***

Esok harinya, Chien Wan dan Ouwyang Ping berangkat meninggalkan Lembah Nada. Mereka membawa pakaian dan uang secukupnya.

Chien Wan menyelipkan suling di ikat pinggangnya, dengan begitu keberadaan benda itu menjadi agak tersembunyi. Namun Ouwyang Ping tak bisa menyimpan harpanya di mana-mana karena ukurannya cukup besar. Ia selalu memegangnya di tangan.

Karena harpa emas itu, penampilan mereka menjadi agak mencolok dan mengundang perhatian. Namun walaupun demikian, tak ada yang menduga bahwa sebenarnya mereka adalah orang-orang muda yang memiliki kepandaian tinggi. Orang-orang yang berpapasan dengan mereka mengira mereka adalah seniman jalanan.

Mereka melangkah menuju Kota Lok Yang. Kota itu terletak cukup jauh dari Lembah Nada, oleh sebab itu bisa memakan waktu berhari-hari. Apalagi mereka memutuskan untuk berjalan kaki saja, tidak menunggang kuda. Mereka tahu bahwa pertemuan baru akan berlangsung bulan depan. Untuk apa terburu-buru?

Jalan yang mereka lalui merupakan jalan yang sepi. Tak tampak satu pun rumah penduduk, apalagi penginapan. Mulanya mereka berjalan terus dengan harapan akan menemukan tempat untuk menginap, kuil atau apa saja, asal memiliki atap sehingga mereka tidak basah jika turun hujan. Namun tak satu pun rumah atau kuil yang tampak. Hanya terdapat semak dan pohon-pohon besar yang rindang. Mereka pun menyerah dan terpaksa harus tidur di bawah pohon yang berdaun rindang. Untungnya, tak jauh dari tempat mereka memutuskan untuk bermalam, ada kolam kecil berair jernih.

Chien Wan mengumpulkan ranting-ranting kering yang berserakan, kemudian membuat api unggun. Api menyala dengan cepat karena ranting itu sangat kering. Nayal api menhangatkan suasana malam yang cerah. Langit hitam dipenuhi bintang yang berkelip-kelip semarak.

Ouwyang Ping memandang langit dengan senang. “Lihat, Kak! Langitnya penuh bintang. Artinya malam ini tidak akan turun hujan.”

Chien Wan mengangguk.

Ouwyang Ping membuka bungkusan bekal mereka dan mengeluarkan dua buah roti. “Mari makan, Kakak Wan.”

Mereka makan dalam keheningan. Chien Wan diam saja sambil mengunyah rotinya. Ouwyang Ping tidak mengusiknya. Gadis itu sudah terlalu mengenal Chien Wan, dan memahami sifatnya yang penyendiri. Jika Chien Wan sedang berdiam diri, gadis itu tidak pernah mengusiknya.

“Ping-er,” akhirnya Chien Wan-lah yang memecah keheningan, “kau tak apa-apa kan tidur di tempat ini?” Ouwyang Ping terbiasa hidup nyaman karena ia seorang nona besar, putri pemilik Lembah Nada. Tentunya akan menderita jika harus tidur di tempat seperti itu.

Ouwyang Ping tersenyum manis. “Tidak apa-apa, Kakak Wan. Aku ingin ikut denganmu, maka aku tak akan mengeluh,” jawabnya tulus. “Lagi pula...,” tambahnya malu-malu, “bila bersama Kakak Wan, apa pun keadaannya, itu tak masalah. Aku rela.”

Chien Wan terpana. Ia menarik napas dan menyunggingkan senyum haru di bibirnya. Betapa besarnya rasa cinta gadis itu kepadanya, berdosalah dia jika menyakitinya. Chien Wan mencabut sulingnya.

“Makanmu sudah?”

Ouwyang Ping mengangguk.

“Tidurlah. Aku akan meniup suling untukmu sampai kau tertidur,” suruh Chien Wan lembut.

Ouwyang Ping mengangguk, lalu ia merebahkan tubuhnya di tanah berumput yang dialasi selimut. Kepalanya berbantalkan buntalan pakaian. Harpanya tergeletak di sisinya. Ia tidak langsung tidur, malah memandangi Chien Wan yang mulai meniup sulingnya melantunkan sebuah lagu lembut.

Betapa hebat dan gagahnya Kakak Wan! pikir Ouwyang Ping penuh kekaguman. Wajah Chien Wan kelihatan begitu bersinar, memancarkan kasih sayang yang luar biasa. Hati Ouwyang Ping begitu hangat kala meresapi irama lagu yang dimainkan Chien Wan. Saat itu, ia ingin waktu berhenti berputar.

Tak lama kemudian, matanya terasa berat. Ia pun tertidur.

Chien Wan memasang telinganya dan menangkap irama napas Ouwyang Ping yang pelan dan teratur tanda gadis itu sudah pulas. Ia menghentikan tiupan sulingnya dan dengan perlahan-lahan mendekati gadis itu. Dengan hati-hati, diselimutinya tubuh Ouwyang Ping dengan jubah hitamnya.

Ia tidak tidur karena tidak mengantuk sama sekali. Bahkan seandainya mengantuk pun, ia tetap tak akan tidur. Ia harus menjaga gadis itu. Ia harus memastikan bahwa tak akan ada yang mengganggu gadis itu.

Waktu berlalu dan pagi pun tiba. Mentari menampakkan sinarnya di ufuk timur. Sedikit demi sedikit seolah enggan terbangun dan menjalankan tugasnya. Cahaya yang perlahan-lahan muncul itu amat menakjubkan. Alangkah indahnya pemandangan di pagi hari itu. Namun bagi Chien Wan, tak ada yang lebih indah selain pemandangan seorang gadis yang tertidur disinari oleh cahaya mentari pagi. Sinar mentari memantul ketika mengenai pakaian Ouwyang Ping yang berwarna emas. Gadis itu tampak begitu bercahaya, seolah-olah sinar itu keluar dari sekujur tubuh Ouwyang Ping sendiri.

Chien Wan memandangi gadis itu tanpa ada niat sedikit pun untuk mengusik tidurnya.

Ouwyang Ping menggeliat, lalu membuka matanya. Sosok pertama yang dilihatnya adalah Chien Wan yang duduk tak jauh darinya, tengah menatapnya. Ia tersipu-sipu. Sudah berapa lamakah Chien Wan memandanginya seperti itu?

“Kakak Wan, kau sudah lama bangunnya?”

Chien Wan mengangguk. Ia jujur. Tentu saja ia sudah lama bangun, ia sama sekali tidak tidur.

Ouwyang Ping bangkit berdiri. “Kakak Wan, aku mau cuci muka di kolam dulu,” pamitnya. Lalu ia melangkah menuju kolam kecil yang terletak tak jauh dari tempat mereka bermalam. Ia menemukan tempat yang agak tersembunyi di balik batu-batu besar dan semak. Air yang sangat jernih membuatnya ingin mandi karena ia merasa tidak segar dan berdebu.

Selama menunggu Ouwyang Ping membersihkan diri, Chien Wan berburu dan dengan mudah berhasil menangkap seekor kelinci. Ia menguliti kelinci itu dan menusukkannya pada sebatang ranting. Ia mulai membakar kelinci itu di atas api.

Tiba-tiba....

“Aaaaaa!!”

Terdengar teriakan panik dari arah kolam.

“Ping-er!” Chien Wan melompat berdiri dan tanpa pikir panjang segera berlari menuju kolam. Kelincinya tak digubris lagi.

Bersambung.

Terpopuler

Comments

Eros Hariyadi

Eros Hariyadi

Lanjuuuutt 😝😎💪👍🙏

2024-01-15

0

Eros Hariyadi

Eros Hariyadi

Bepergian bersama Ouwyang-Ping ke Kota Lok-Yang menghadiri Undangan Pertemuan Ketua Persilatan...😝😄💪👍👍👍

2024-01-15

0

Ismaeni

Ismaeni

lanjut thor,makin menarik ceritanya. .

2023-06-23

2

lihat semua
Episodes
1 Wisma Bambu
2 Paviliun Taman Belakang
3 Paman Khung
4 Chi Meng Huan
5 Suling Bambu Hitam
6 Ting Ting Diculik
7 Ketua Persilatan
8 Misi ke Lembah Nada
9 Empat Tambur Perak
10 Ouwyang Ping
11 Diangkat Menjadi Murid
12 Latihan Keras
13 Dilema Cinta Pertama
14 Bahagia di Lembah Nada
15 Berpetualang Bersama
16 Tiba di Kota Lok Yang
17 Reuni
18 Pertemuan Para Pendekar
19 Tuan Muda Chang
20 Penampilan Perdana
21 Hati ke Hati
22 Hati yang Luka
23 Di Bukit Merak
24 Dewa Seribu Wajah
25 Mencari Chi Meng Huan
26 Terperangkap
27 Rencana Chang Fei Yu
28 Kelelawar Hitam
29 Bebas
30 Melarikan Diri
31 Pertarungan
32 Pertarungan di Perbatasan
33 Menuju Wisma Bambu
34 Berjumpa Paman Khung
35 Penolakan Paman Khung
36 Kemball ke Lembah Nada
37 Pulang
38 Paman Khung Sakit Keras
39 Menuju Wisma Bambu
40 Mengurus Paman Khung
41 Luo Sui She Sembuh!
42 Ibu?
43 Leontin Penguak Rahasia
44 Terkuaknya Rahasia Masa Lalu
45 Dia Adikku
46 Berpisah
47 Kewajiban
48 Merindukannya
49 Harpa Kencana
50 Masa Lalu Sung Cen I
51 Masa Lalu Sung Cen II
52 Masa Lalu Sung Cen III
53 Keputusan A Ming
54 Dua Tahun Kemudian
55 Partai Kupu-Kupu
56 Luo Sen Khang Bertemu Ouwyang Ping
57 Pulang ke Lembah Nada
58 Kenangan Masa Silam
59 Reuni Dengan Sung Siu Hung
60 Di Lembah Nada
61 Cemburu
62 Rencana Tuan Ouwyang Cu
63 Berseteru
64 Perjodohan
65 Amarah Chang Fei Yu
66 Perjalanan Luo Sen Khang dan Ouwyang Ping
67 Di Partai Kupu Kupu
68 Pengkhianatan Cheng Sam
69 Penyelidikan
70 Berita Tentang Bukit Merak
71 Berselisih Jalan
72 Awal Bencana
73 Prahara di Wisma Bambu
74 Amarah dan Nestapa
75 Duka Hati Chien Wan
76 Wisma Bambu Berkabung
77 Kebencian dan Amarah
78 Isu di Dunia Persilatan
79 Berpisah Dengan Kui Fang
80 Wu Kui Fang Mencari Bukti
81 Rencana Pendekar Sung
82 Ke Lembah Nada
83 Ouwyang Kuan dan Luo Sui She ke Wisma Bambu
84 Mencari Kamus Silat Tung Pei
85 Orangtua Chien Wan Disandera
86 Luo Sen Khang Gusar
87 Para Pendekar di Wisma Bambu
88 Luo Sen Khang Menyandera Ouwyang Ping
89 Luo Sen Khang Terjebak
90 Dua Luo Sen Khang
91 Derita Luo Ting Ting
92 Penyesalan Luo Sen Khang
93 Pertengkaran Dua Pecinta
94 Luo Ting Ting Mengandung
95 Wu Kui Fang Bertemu Chien Wan
96 Di Partai Kupu Kupu
97 Wu Kui Fang Diculik
98 Selamat
99 Mendiskusikan Bukti yang Didapat
100 Cheng Sam Kembali Berulah
101 Upaya Mencari Jejak Cheng Sam
102 Hati yang Berbunga
103 Perguruan Elang Merah
104 Keluarga Kam
105 Cheng Sam Kembali Lolos
106 Masa Lalu Cheng Sam
107 Niat Luo Sui She
108 Kedatangan Chien Wan
109 Kasih Persaudaraan
110 Kesalahpahaman
111 Kegelisahan Wu Kui Fang
112 Kisah Masa Lalu
113 Rencana Pertunangan
114 Cinta Chi Meng Huan
115 Dua Hati Menyatu
116 Perjanjian di Kotaraja
117 Perjalanan Chang Fei Yu
118 Kabar Pernikahan Luo Ting Ting
119 Kedatangan Tuan Ouwyang Cu
120 Kehamilan A Ming
121 Musuh yang Sebenarnya
122 Kebencian yang Mendalam
123 Chien Wan Terluka
124 Ketulusan Hati Chang Fei Yu
125 Chien Wan Sadarkan Diri
126 Rencana Keberangkatan
127 Menuju Pulau Ginseng
128 Guru Chi Meng Huan
129 Tiba di Pulau Ginseng
130 Menetap Sementara di Pulau Ginseng
131 Berlatih di Pulau Ginseng
132 Chien Wan Sembuh
133 Janji Tuan Ouwyang Cu
134 Bakat Sung Siu Hung
135 Kesedihan A Ming
136 Derita Luo Ting Ting
137 Tuan Chang Mengunjungi Putranya
138 Chang Fei Yu Melamar
139 Hari-Hari Bahagia di Pulau Ginseng
140 Buah Dewa
141 Janji Tuan Ouwyang Cu
142 Pulang
143 Pernikahan
144 Amarah Chi Meng Huan
145 Penyusup
146 Masalah di Partai Kupu-Kupu
147 Wu Kui Fang Membela Sam Hui
148 Sam Hui Diserang
149 Pertemuan Tahunan
150 Pengkhianatan Wie Yun Cun
151 Kemunculan Para Pendekar
152 Pertempuran
153 Luo Sen Khang Galau
154 Ketua Persilatan Mengundurkan Diri
155 Tuan Ouwyang Melamar
156 Kelelawar Hitam Membawa Berita
157 Chi Sien Lung
158 Kelahiran Anak Ting Ting
159 Menjenguk Ting Ting
160 Meninggalkan Partai Kupu-Kupu
161 Bukit Ayam Emas
162 Nyaris Celaka
163 Serangan Chi Meng Huan
164 Ketua Persilatan yang Baru
165 Kembali ke Wisma Bambu
166 A Ming Melarikan Diri
167 A Ming Terkena Racun
168 Peringatan Setahun Kematian Tuan dan Nyonya Luo
169 A Ming Pergi
170 Bencana di Partai Kupu-Kupu
171 Duka yang Mendalam
172 Kelelawar Hitam
173 Chang Yi Hang Diculik
174 Usaha Pencarian
175 Menitipkan Sien Lung
176 Pertempuran
177 Tuan Ouwyang Cu Tewas
178 Terbersit Penyesalan
179 Akhir Hidup Chi Meng Huan
180 Pernikahan di Lembah Nada (End)
181 Terima Kasih
182 Epilog
Episodes

Updated 182 Episodes

1
Wisma Bambu
2
Paviliun Taman Belakang
3
Paman Khung
4
Chi Meng Huan
5
Suling Bambu Hitam
6
Ting Ting Diculik
7
Ketua Persilatan
8
Misi ke Lembah Nada
9
Empat Tambur Perak
10
Ouwyang Ping
11
Diangkat Menjadi Murid
12
Latihan Keras
13
Dilema Cinta Pertama
14
Bahagia di Lembah Nada
15
Berpetualang Bersama
16
Tiba di Kota Lok Yang
17
Reuni
18
Pertemuan Para Pendekar
19
Tuan Muda Chang
20
Penampilan Perdana
21
Hati ke Hati
22
Hati yang Luka
23
Di Bukit Merak
24
Dewa Seribu Wajah
25
Mencari Chi Meng Huan
26
Terperangkap
27
Rencana Chang Fei Yu
28
Kelelawar Hitam
29
Bebas
30
Melarikan Diri
31
Pertarungan
32
Pertarungan di Perbatasan
33
Menuju Wisma Bambu
34
Berjumpa Paman Khung
35
Penolakan Paman Khung
36
Kemball ke Lembah Nada
37
Pulang
38
Paman Khung Sakit Keras
39
Menuju Wisma Bambu
40
Mengurus Paman Khung
41
Luo Sui She Sembuh!
42
Ibu?
43
Leontin Penguak Rahasia
44
Terkuaknya Rahasia Masa Lalu
45
Dia Adikku
46
Berpisah
47
Kewajiban
48
Merindukannya
49
Harpa Kencana
50
Masa Lalu Sung Cen I
51
Masa Lalu Sung Cen II
52
Masa Lalu Sung Cen III
53
Keputusan A Ming
54
Dua Tahun Kemudian
55
Partai Kupu-Kupu
56
Luo Sen Khang Bertemu Ouwyang Ping
57
Pulang ke Lembah Nada
58
Kenangan Masa Silam
59
Reuni Dengan Sung Siu Hung
60
Di Lembah Nada
61
Cemburu
62
Rencana Tuan Ouwyang Cu
63
Berseteru
64
Perjodohan
65
Amarah Chang Fei Yu
66
Perjalanan Luo Sen Khang dan Ouwyang Ping
67
Di Partai Kupu Kupu
68
Pengkhianatan Cheng Sam
69
Penyelidikan
70
Berita Tentang Bukit Merak
71
Berselisih Jalan
72
Awal Bencana
73
Prahara di Wisma Bambu
74
Amarah dan Nestapa
75
Duka Hati Chien Wan
76
Wisma Bambu Berkabung
77
Kebencian dan Amarah
78
Isu di Dunia Persilatan
79
Berpisah Dengan Kui Fang
80
Wu Kui Fang Mencari Bukti
81
Rencana Pendekar Sung
82
Ke Lembah Nada
83
Ouwyang Kuan dan Luo Sui She ke Wisma Bambu
84
Mencari Kamus Silat Tung Pei
85
Orangtua Chien Wan Disandera
86
Luo Sen Khang Gusar
87
Para Pendekar di Wisma Bambu
88
Luo Sen Khang Menyandera Ouwyang Ping
89
Luo Sen Khang Terjebak
90
Dua Luo Sen Khang
91
Derita Luo Ting Ting
92
Penyesalan Luo Sen Khang
93
Pertengkaran Dua Pecinta
94
Luo Ting Ting Mengandung
95
Wu Kui Fang Bertemu Chien Wan
96
Di Partai Kupu Kupu
97
Wu Kui Fang Diculik
98
Selamat
99
Mendiskusikan Bukti yang Didapat
100
Cheng Sam Kembali Berulah
101
Upaya Mencari Jejak Cheng Sam
102
Hati yang Berbunga
103
Perguruan Elang Merah
104
Keluarga Kam
105
Cheng Sam Kembali Lolos
106
Masa Lalu Cheng Sam
107
Niat Luo Sui She
108
Kedatangan Chien Wan
109
Kasih Persaudaraan
110
Kesalahpahaman
111
Kegelisahan Wu Kui Fang
112
Kisah Masa Lalu
113
Rencana Pertunangan
114
Cinta Chi Meng Huan
115
Dua Hati Menyatu
116
Perjanjian di Kotaraja
117
Perjalanan Chang Fei Yu
118
Kabar Pernikahan Luo Ting Ting
119
Kedatangan Tuan Ouwyang Cu
120
Kehamilan A Ming
121
Musuh yang Sebenarnya
122
Kebencian yang Mendalam
123
Chien Wan Terluka
124
Ketulusan Hati Chang Fei Yu
125
Chien Wan Sadarkan Diri
126
Rencana Keberangkatan
127
Menuju Pulau Ginseng
128
Guru Chi Meng Huan
129
Tiba di Pulau Ginseng
130
Menetap Sementara di Pulau Ginseng
131
Berlatih di Pulau Ginseng
132
Chien Wan Sembuh
133
Janji Tuan Ouwyang Cu
134
Bakat Sung Siu Hung
135
Kesedihan A Ming
136
Derita Luo Ting Ting
137
Tuan Chang Mengunjungi Putranya
138
Chang Fei Yu Melamar
139
Hari-Hari Bahagia di Pulau Ginseng
140
Buah Dewa
141
Janji Tuan Ouwyang Cu
142
Pulang
143
Pernikahan
144
Amarah Chi Meng Huan
145
Penyusup
146
Masalah di Partai Kupu-Kupu
147
Wu Kui Fang Membela Sam Hui
148
Sam Hui Diserang
149
Pertemuan Tahunan
150
Pengkhianatan Wie Yun Cun
151
Kemunculan Para Pendekar
152
Pertempuran
153
Luo Sen Khang Galau
154
Ketua Persilatan Mengundurkan Diri
155
Tuan Ouwyang Melamar
156
Kelelawar Hitam Membawa Berita
157
Chi Sien Lung
158
Kelahiran Anak Ting Ting
159
Menjenguk Ting Ting
160
Meninggalkan Partai Kupu-Kupu
161
Bukit Ayam Emas
162
Nyaris Celaka
163
Serangan Chi Meng Huan
164
Ketua Persilatan yang Baru
165
Kembali ke Wisma Bambu
166
A Ming Melarikan Diri
167
A Ming Terkena Racun
168
Peringatan Setahun Kematian Tuan dan Nyonya Luo
169
A Ming Pergi
170
Bencana di Partai Kupu-Kupu
171
Duka yang Mendalam
172
Kelelawar Hitam
173
Chang Yi Hang Diculik
174
Usaha Pencarian
175
Menitipkan Sien Lung
176
Pertempuran
177
Tuan Ouwyang Cu Tewas
178
Terbersit Penyesalan
179
Akhir Hidup Chi Meng Huan
180
Pernikahan di Lembah Nada (End)
181
Terima Kasih
182
Epilog

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!