Tuan Luo ternyata sangat serius dengan niatnya mengajarkan ilmu silat pada Chien Wan. Ia melatih Chien Wan dengan cara yang sama seperti ketika ia melatih kedua anaknya. Maka mulailah Chien Wan berlatih kuda-kuda dan dasar-dasar ilmu silat bersama Ting Ting dan Sen Khang.
Di antara mereka bertiga, Sen Khang-lah yang paling mahir. Ia yang paling paling dulu belajar ilmu silat dan ia sangat cerdas. Maka ia maju mengungguli kedua anak lainnya. Ia sudah mulai melatih jurus yang lebih rumit.
Chien Wan berlatih dengan tekun walau sejujurnya ia kurang suka mempelajari ilmu silat. Sebenarnya ia kurang antusias dengan tawaran Tuan Luo, namun ia harus menerimanya supaya tidak dianggap tidak tahu terima kasih. Meskipun demikian, ternyata ia memang sangat cerdas dan berbakat. Mata Tuan Luo sungguh tidak salah kala menilainya.
Suatu sore, Chien Wan tengah mencari ranting untuk kayu bakar. Ia tetap melakukan tugasnya seperti biasa—membantu pelayan dapur. Walau ia telah diangkat menjadi murid, ia tetap menganggap dirinya pelayan di Wisma Bambu. Ia bahkan tetap memanggil ‘tuan dan nyonya’ pada Tuan dan Nyonya Luo, bukan ‘guru dan bibi’ seperti semestinya.
Hari sudah gelap karena selain sudah sore, cuaca hari itu juga agak mendung. Chien Wan cepat-cepat mengumpulkan ranting-ranting menjadi satu dan mengikatnya. Sekilas ia melihat sekelilingnya. Namanya memang Hutan Bambu, namun pepohonan di sini tidak melulu bambu. Ada pohon-pohon besar nan rimbun, membuat keadaan di dalam hutan ini menjadi gelap.
Angin bertiup lumayan kencang. Chien Wan cepat-cepat mengangkat ranting-ranting yang telah diikat itu dan memanggulnya. Ia berbalik dan beranjak hendak menuju Wisma Bambu.
Saat itulah ia mendengar suara yang amat indah.
Chien Wan menghentikan langkah. Diturunkannya ranting-ranting kayu itu dan ia tertegun di tempat. Betapa merdunya suara itu. Tinggi melengking, berganti-ganti nada. Iramanya sangat indah. Chien Wan mengenalinya sebagai lagu rakyat yang biasa dinyanyikan gadis-gadis di desanya dulu. Hanya saja lagu ini terdengar jauh lebih indah daripada ketika dinyanyikan gadis-gadis itu.
Tanpa disadarinya, ia melangkahkan kakinya mencari asal suara. Tak jauh dari tempatnya mencari kayu bakar, seseorang duduk di bawah pohon. Ternyata orang itu Paman Khung.
Chien Wan terpukau. Paman Khung-lah yang menimbulkan suara yang demikian menggugah perasaannya itu. Paman Khung meniup sebatang bambu langsing panjang yang tebalnya kira-kira sama dengan ibu jari orang dewasa. Ternyata benda itu yang mengeluarkan irama yang sedemikian menyentuh.
Paman Khung tidak mengacuhkannya. Ia ganti memainkan lagu lain. Kalau tadi lagunya berirama riang, kali ini lagu yang dimainkannya begitu memilukan.
Chien Wan terperangah mendengar untaian nada yang menyayat-nyayat itu. Nadanya kadang lembut, kadang keras, kadang cuma menyerupai *******. Lagu itu menyuarakan jeritan hati si peniup, menyuarakan kesedihan, kemarahan, kebencian, dan juga kesepian. Sungguh mengharukan!
Kaki Chien Wan seolah bergerak dengan sendirinya, melangkah mendekati Paman Khung. Ia tidak berniat mengusik Paman Khung sedikit pun. Ia hanya ingin memandangi Paman Khung yang terus meniup sulingnya, menatap jari-jari Paman Khung yang bergerak-gerak di sekitar lubang-lubang kecil pada batang suling.
Paman Khung menyudahi permainannya, lalu menurunkan sulingnya dan menarik napas dalam-dalam. Ia menoleh dan baru menyadari kehadiran Chien Wan. Matanya menyipit. “Apa yang kaulakukan di sini? Sebentar lagi akan ada badai, sana pulang!” usirnya galak. Ia menyelipkan sulingnya ke ikat pinggang.
Wajah Chien Wan memerah. Ia tergagap-gagap, “Maaf, Paman... Saya cuma ingin mendengarkan musik....”
Saat itu, seberkas cahaya menyambar di kejauhan disusul oleh suara geledek yang menggelegar. Dan sebelum Chien Wan dan Paman Khung sempat melakukan apa-apa, hujan sudah turun dengan sangat deras dan tiba-tiba.
Secepat kilat Paman Khung menarik lengan Chien Wan dan menyeretnya pergi. Chien Wan tak mampu berontak walau lengannya nyeri, karena cekalan Paman Khung begitu kuat—hal yang agak mengherankan untuk orang seusianya. Karena hujan lebat, penglihatan Chien Wan pun kabur sehingga ia tidak tahu hendak dibawa ke mana.
Paman Khung tahu pasti arah yang hendak ditujunya, yakni gubuknya sendiri yang letaknya tidak jauh dari kediaman utama Wisma Bambu. Tangan kanannya masih mencekal lengan Chien Wan sementara tangannya yang bebas mendorong pintu gubuk itu. Lalu ia menggiring Chien Wan masuk.
Chien Wan berdiri di tengah ruangan kecil itu dengan tubuh menggeletar menahan dingin. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Paman Khung masuk ke dalam ruangan kecil yang tampaknya merupakan kamar tidurnya, lalu tak lama kemudian keluar lagi dengan membawa sehelai selimut tebal.
“Buka bajumu! Nanti kau bisa sakit.”
Dengan patuh, Chien Wan membuka pakaiannya. Tubuhnya yang telanjang dari pinggang ke atas tampak kurus, namun sudah tak terlalu menyedihkan seperti waktu pertama kali ia datang ke Wisma Bambu. Di lehernya tergantung kalung berleontin burung hong yang tak pernah dilepasnya semenjak ibunya menyerahkannya padanya.
Mata Paman Khung melebar menatapnya. Dengan cepat ia mencekal kedua bahu Chien Wan dan membalikkan tubuh anak itu.
“Pa... Paman Khung...!”
Suara Chien Wan yang panik menyadarkan Paman Khung. Seketika, ia melepaskan cekalan tangannya dari bahu Chien Wan. Sepasang matanya bersinar aneh. Lalu ia mengambil selimut tebal yang dibawanya tadi dan menyelubungi tubuh Chien Wan dengan itu.
“Paman?”
“Kau suka musik, Chien Wan?” sela Paman Khung.
Chien Wan terperanjat. Kali ini Paman Khung berbicara dengan nada ramah. Raut wajah yang biasanya kaku itu melembut dan penuh sayang.
“Kalau suka,” lanjut Paman Khung tanpa merasa perlu untuk mendengarkan jawaban Chien Wan, “aku bisa mengajarimu meniup suling.”
Suling! Sepasang mata Chien Wan yang murung berubah bercahaya. Meniup suling! Memainkan lagu seperti yang tadi Paman Khung mainkan!
“Bagaimana?”
“Mau, Paman! Saya suka sekali musik! Dulu sewaktu di desa, ada orang yang pandai memainkan kecapi, saya suka datang untuk mendengarkannya,” cerita Chien Wan penuh semangat. Ini pertama kalinya ia berbicara sepanjang dan penuh semangat seperti itu.
Mata Paman Khung berkaca-kaca. “Takdir... ini memang takdir....”
Chien Wan bingung sekali mendengarnya. “Takdir apa, Paman?”
Paman Khung menggeleng kuat-kuat untuk mengusir air mata di pelupuk matanya. Sikapnya berubah, kembali seperti semula. “Kalau memang mau belajar meniup suling, kau harus berlatih dengan keras. Apa kau sanggup?”
Ketegasan suara Paman Khung membuat Chien Wan menegakkan tubuh. “Sanggup, Paman!”
“Bagus!” angguk Paman Khung puas. “Mulai besok, saat matahari terbenam, kau datang ke gubuk ini. Kita mulai pelajaranmu secepatnya. Kau harus mengejar ketinggalanmu.”
Chien Wan mendengarkannya dengan separuh bingung. Ketinggalan bagaimana yang dimaksud oleh Paman Khung? Namun ia tidak menanyakan lebih lanjut. Ia mengangguk patuh.
“Dan ada satu hal lagi, Chien Wan,” tambah Paman Khung. Suaranya begitu tegas membuat Chien Wan waspada. “Kau tidak boleh memberitahukan perihal latihanmu kepada siapa pun. Nanti jika saatnya sudah tiba, akan kukatakan kapan kau boleh berterus terang. Paham?”
Ini sama sekali tidak sulit bagi Chien Wan. Ia tidak pernah banyak bicara. Yang agak sulit adalah mencegah Sen Khang dan Ting Ting mengikutinya. Namun semua itu bisa diatur. Chien Wan benar-benar ingin belajar meniup suling. “Baiklah, Paman.”
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 182 Episodes
Comments
Eros Hariyadi
Lanjuuuutt 😝😎💪👍🙏
2024-01-14
0
Eros Hariyadi
memperoleh pelajaran meniup Seruling dari Paman Khung....😝😄💪👍👍👍
2024-01-14
0
Jimmy Avolution
terus
2023-10-26
1