Tokoh yang baru hadir itu memakai pakaian berwarna putih polos dengan potongan mewah seperti pakaian bangsawan. Ia membawa kipas yang dibentangkan di depan dadanya. Kipas itu memiliki lukisan yang indah. Wajahnya tampan dan gagah. Matanya bersinar sinis dan bibirnya menyeringai penuh ejekan. Pemuda itu berusia sekitar sembilan belas sampai dua puluh tahun.
“Tuan Muda Chang!” seru seorang pendekar yang hadir.
Tuan Muda Chang menutup kipasnya dan memberi hormat kepada Ketua Persilatan. “Pendekar Sung,” sapanya.
Pendekar Sung membalas penghormatan itu. “Selamat datang, Tuan Muda Chang. Silakan mengambil tempat.”
“Kurasa itu tidak perlu,” senyum Tuan Muda Chang dengan sinis. “Bukankah kami dari Bukit Merak tidak pernah masuk dalam jajaran pendekar golongan putih? Dan ayahku, Dewa Seribu Wajah, juga terkenal sebagai datuk sesat, yang karenanya tidak pantas menghadiri pertemuan antar sesama orang golongan putih?”
“Bukan begitu, Tuan Muda Chang.” Pendekar Sung berusaha menenangkan.
“Lagi pula, pertemuan para pendekar cuma omong kosong belaka. Yang kalian lakukan hanya berkumpul dan berbicara. Tapi kalian tak pernah melakukan apa-apa untuk melaksanakan yang kalian bicarakan,” ejek Tuan Muda Chang. Semua yang hadir langsung mendesis marah.
Wajah Pendekar Sung merah padam. “Tuan Muda Chang, jika Anda tidak berkenan dengan pertemuan ini, silakan keluar.”
“Tidak!” Tuan Muda Chang melangkah ke hadapan Pendekar Sung dengan berani. “Aku tidak datang untuk menghadiri pertemuan, melainkan untuk bertarung dengan Anda!”
Pendekar Sung terkejut. Para pendekar yang hadir di sana dan mendengar kata-kata Tuan Muda Chang menjadi sangat marah.
“Hai, Tuan Chang! Cobalah sopan sedikit!” seru Pendekar Fu.
“Pendekar Sung adalah Ketua Persilatan. Beliau mengalahkan banyak orang dalam pertarungan yang adil. Dibandingkan dirinya, kau hanya anak ingusan!” dengus Pendekar Phan.
Tuan Muda Chang yang sejak tadi hanya tersenyum-senyum mengejek sambil mengipas-ngipas pelan, menjadi gusar. Senyumnya menghilang dan ia menutup kipasnya dengan cepat. “Aku ingin bertarung dengan Pendekar Sung! Aku yakin sebenarnya ketua kalian itu tidak bisa apa-apa!” serunya pongah.
Mendengar hinaan ini, semua pendekar serentak berdiri. Namun Pendekar Sung segera mengangkat tangan dan meminta supaya hadirin tenang kembali. “Tenanglah, Saudara sekalian!” serunya penuh wibawa.
Para hadirin pun duduk kembali.
Pendekar Sung kembali menghadapi Tuan Muda Chang. “Tuan Chang, saat ini aku sedang membicarakan masalah serius dengan para tamu. Harap Anda mengerti dan kita bisa bertanding di lain waktu.”
Tuan Muda Chang mencibir. “Pendekar Sung, kalau kau takut padaku sebaiknya kau terus terang saja! Jangan menggunakan tamu-tamumu sebagai alasan!”
Rona merah di wajah Pendekar Sung semakin terang. Sesabar-sabarnya dia, tetap saja ia seorang manusia biasa, yang kesabarannya terbatas. Kemarahannya sudah menggelegak sampai ke ubun-ubun. Sejak kedatangannya, Tuan Muda Chang ini terus saja menghinanya di hadapan orang banyak.
“Pendekar Sung yang gagah ternyata hanya seorang pengecut!”
Kali ini, hinaan Tuan Muda Chang betul-betul sudah kelewatan. Pendekar Sung tak dapat lagi menahan kesabarannya. Lalu ia melangkah maju ke tengah ruangan.
“Baiklah,” ucap Pendekar Sung dengan mengusahakan supaya suaranya tetap tenang. “jika Anda menginginkan pertandingan di antara kita ini diadakan sekarang, aku akan melayaninya!”
Tuan Muda Chang tersenyum gembira. Ia melompat maju. Sekarang dirinya sudah berhadapan dengan Pendekar Sung. Ia menggenggam kipasnya. “Ayo kita mulai!”
Pendekar Sung mencabut pedangnya.
Tuan Muda Chang menyerang dengan kipasnya. Siapa yang menyangka jika gerakan pemuda yang tampak lemah lembut itu ternyata begitu lihay dan mengandung kecepatan sempurna dalam setiap serangan. Ilmu ringan tubuhnya luar biasa, gerakan silatnya mengandung tenaga dalam yang hebat sekali. Kipasnya beradu berkali-kali dengan pedang milik Pendekar Sung, namun kipas itu tidak rusak. Padahal pedang Pendekar Sung terkenal sakti dan terbuat dari baja terbaik.
Pendekar Sung sangat terkejut merasakan kelihayan pemuda itu. Ia memandang Tuan Muda Chang dan pemuda itu pun tengah menatapnya dengan senyum mengejek. Pendekar Sung menggertakkan giginya dengan geram. Kemarahannya semakin menjadi dan ia terpancing oleh taktik Tuan Muda Chang. Ia begitu bernafsu hendak mengalahkan Tuan Muda Chang sehingga gerakannya menjadi terburu-buru dan tak beraturan.
Lambat-laun, Pendekar Sung mulai terdesak. Saat itulah Tuan Muda Chang melakukan lompatan yang luar biasa dan maju untuk menotok jalan darah Pendekar Sung dengan ujung kipasnya. Pendekar Sung terpana dan tak mampu menghindar.
Untung saja, secara tiba-tiba seseorang menarik Pendekar Sung sehingga totokan itu tidak mengenainya. Orang itu tidak lain adalah Sen Khang! Sen Khang tidak ingin melihat orang yang dikaguminya dilukai oleh orang sombung macam Tuan Muda Chang.
Tuan Muda Chang menatap geram. “Siapa kau? Mengapa kau mencampuri pertarungan kami?”
“Aku tak mau kau melukai Pendekar Sung,” bilang Sen Khang tenang. “Tanganmu tak cukup berharga untuk itu.”
“Keparat!” bentak Tuan Muda Chang marah. “Apa kepandaianku tak cukup berharga bagimu? Kalau kauanggap demikian, bertarunglah denganku!”
“Baik!” jawab Sen Khang.
Saat itu, belasan orang berpakaian hitam bermunculan dari luar pintu. Mereka dipimpin oleh seorang pria setengah baya bertubuh sedang. Pria itu berwajah licik dan menyebalkan. Ia langsung menghampiri Tuan Muda Chang dan memberi hormat dengan gaya menjilat. “Hormatku, Tuan Muda.”
Tuan Muda Chang membelalak. “Cheng Sam! Siapa suruh kau mengikutiku?!” hardiknya.
“Untuk berjaga-jaga, Tuan Muda. Seandainya Tuan Muda kalah, aku sudah menyuruh orang-orang kita mengurung tempat ini dan membunuh mereka semua.”
“Kurang ajar!” Tuan Muda Chang melayangkan tangannya yang memegang kipas.
Plak! Kipas itu tepat menghajar wajah Cheng Sam.
“Tuan Muda!” Wajah Cheng Sam merah padam. Pipinya yang kena tampar tampak memar.
“Minggir kau! Jangan ikut campur urusanku,” geram Tuan Muda Chang. Lalu ia kembali memandang Sen Khang. “Jangan pedulikan mereka. Ayo kita bertarung!”
Sedetik kemudian, Tuan Muda Chang menyerang Sen Khang dengan kipasnya. Totokan kipas itu mengarah pada jalan darah utama Sen Khang. Sen Khang mengelak dan membalas serangannya.
Pertempuran di antara mereka berlangsung dengan seru. Masing-masing mengeluarkan jurus andalannya. Keduanya memiliki kepandaian yang setara. Diam-diam mereka saling mengagumi kepandaian lawannya. Tuan Muda Chang dengan ilmu kipasnya dibarengi dengan kelincahannya, Sen Khang dengan ilmu tangan kosong dan tenaga dalamnya yang kuat dan mantap.
Semua menyaksikan jalannya pertarungan dengan was-was. Cheng Sam dan anak buahnya memperhatikan dengan tersenyum-senyum.
Chien Wan memperhatikan keduanya. Ia sama sekali tidak mempedulikan kepungan Cheng Sam dan anak buahnya. Ilmu silat Tuan Muda Chang tidak mengandung unsur ilmu sesat, namun juga tidak mengandung unsur aliran putih. Ilmu silat Tuan Muda Chang aneh dan tampak unik. Chien Wan sangat tertarik akan kepandaian orang itu.
Setelah beberapa saat bertarung, agaknya baik Sen Khang maupun Tuan Muda Chang harus mengakui kelihayan lawan. Mereka mundur bersamaan.
“Kau boleh juga!” puji Tuan Muda Chang.
Sen Khang tersenyum. “Kau juga.”
“Tapi aku ke sini bukan untuk berkelahi denganmu. Aku datang untuk bertarung dengan dia!” Tuan Muda Chang menunjuk Pendekar Sung.
“Kenapa kau begitu penasaran?” Sen Khang mengerutkan kening.
“Aku hanya ingin membuktikan kalau dia sebenarnya tidak bagus!”
“Kau sudah bertarung dengannya.”
“Memang,” angguk Tuan Muda Chang bangga. “Dan aku menang, bukan?”
“Jadi?”
“Itu membuktikan bahwa aku lebih hebat darinya!”
“Astaga!” seru Meng Huan tak sengaja. Ia kesal sekali melihat kesombongan Tuan Muda Chang.
Tuan Muda Chang menoleh dan melihat Meng Huan yang tengah menatapnya dengan pandangan sebal. Lalu ia beralih memandang gadis berbaju merah di samping Meng Huan, yang bukan lain adalah Ting Ting. Tuan Muda Chang termangu. Hatinya sungguh terpesona menatap wajah yang amat mungil dan cantik itu.
Namun Ting Ting melengos sebal.
Tuan Muda Chang menjadi gusar. Dilampiaskannya kegusarannya itu pada Meng Huan. “Siapa kau? Mengapa ikut campur urusanku?”
Serta-merta Meng Huan bangkit berdiri, namun salah seorang anak buah Cheng Sam menahannya.
“Biarkan dia!” seru Tuan Muda Chang.
Anak buahnya mundur dengan patuh.
Meng Huan maju dengan hati mendongkol. “Aku Chi Meng Huan, adik seperguruannya,” jawabnya atas pertanyaan Tuan Muda Chang tadi sambil mengerling pada Sen Khang.
“Oh,” cibir Tuan Muda Chang. “Ternyata masih bersaudara denganmu, pantas sama usilnya!”
Wajah Meng Huan merah padam. Namun Sen Khang hanya tertawa saja. “Yah, setidaknya kami tidak seusil kau yang berani mengganggu acara besar begini,” balasnya tenang.
Tuan Muda Chang mendengus kesal. Baru kali ini ia menemui orang seperti Sen Khang, yang tidak tampak gusar meski sudah dihina dan diejek berkali-kali. Tuan Muda Chang tak bisa lagi membalas kata-kata Sen Khang. Ia cuma melengos jengkel.
Cheng Sam menghampiri tuan mudanya. “Tuan Muda, kita harus menghancurkan mereka sekarang!”
Semua orang yang hadir di sana terkejut mendengar kata-kata itu.
“Siapa di antara kita yang menjadi pimpinan?” bentak Tuan Muda Chang sambil memelototinya.
“Ten... tentu saja... Tuan Muda...,” jawab Cheng Sam tergagap dengan muka merah.
“Kalau kau sudah tahu, kenapa berani memerintahku?!” dengus Tuan Muda Chang.
“Maaf, Tuan Muda.” Cheng Sam membungkuk dengan hati mendongkol. Ia merupakan orang kepercayaan Dewa Seribu Wajah. Selain itu, sebagian besar tanggung jawab di Bukit Merak telah menjadi pekerjaannya. Itulah sebabnya ia sangat marah saat dibentak oleh anak ingusan ini. hanya saja karena Tuan Muda Chang putra majikannya, ia terpaksa mematuhinya.
Tuan Muda Chang menatap Pendekar Sung. “Urusanku di sini sudah selesai. Aku pergi!”
“Tapi, Tuan Muda....”
“Diam! Ini merupakan urusanku. Siapa suruh kau datang mengikutiku?” hardik Tuan Muda Chang. Lalu ia memberi hormat dengan asal-asalan pada semua yang hadir di sana. Sedetik kemudian ia berkelebat pergi.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 182 Episodes
Comments
Eros Hariyadi
Awal ceritanya bagus, makin lama dibaca jadi membosankan...kurang menarik...bye..bye...😝😄🙏
2024-01-15
0
Eros Hariyadi
Ketua Persilatan masa kemampuannya rendah getoo...sama anak muda usia 19 tahun yang kepandaiannya biasa² ajaahh...dah Keok... mendingan jadi Ketua Preman Pasar ajaaahh... memalukan....🤔🙄😠👎👎👎
2024-01-15
0
Rimueng Buloh
saya kasih kopi biar Dina ngga ngantuk
2024-01-07
0