Chi Meng Huan benar-benar pandai membawa diri. Ia ramah dan selalu siap menolong siapa saja. Pembawaannya memikat. Semua orang di Wisma Bambu semakin menyukainya. Ia pintar membuat suasana menjadi ceria, ia juga cepat tanggap. Dengan mudah, ia telah mengambil hati Tuan dan Nyonya Luo sehingga mereka berdua semakin menyayanginya.
Kini keempat anak itu—Sen Khang, Chien Wan, Meng Huan, dan Ting Ting—selalu berlatih dan bermain bersama. Dan ternyata Meng Huan sangat cerdas. Ia mampu mengimbangi teman-temannya dengan cepat. Dalam waktu singkat ia sudah mampu menandingi Chien Wan.
Saat latihan bersama, Chien Wan dan Meng Huan disuruh oleh Sen Khang untuk bertanding. Saat ini Tuan Luo sedang tidak ada, jadi Sen Khang-lah yang bertindak sebagai pelatih. Mereka menuruti kata-kata Sen Khang dan mulai bertanding. Meng Huan melakukannya dengan serius dan sepenuh hati. Sementara Chien Wan hanya mengelak-elak terus.
Meng Huan terus merangsek maju dan pukulannya mengincar dada Chien Wan. Chien Wan menangkis dan menghindar, namun tak pernah balas mengincar bagian tubuh lawannya.
“Cukup!” perintah Sen Khang.
Chien Wan dan Meng Huan sama-sama mundur dan memberi hormat.
“Kakak Huan pintar sekali!” puji Ting Ting kagum.
Meng Huan tersipu. “Ah, kau bisa saja.”
“Itu benar,” sela Sen Khang. Lalu ia menoleh pada Chien Wan. “Kenapa yang kaulakukan tadi hanya menghindar saja? Apa kau lupa bagaimana jurus selanjutnya?”
“Bukan,” geleng Chien Wan pelan.
“Agaknya pikiran Chien Wan sedang melayang ke mana-mana,” goda Meng Huan disambut tawa manis Ting Ting.
Sen Khang menghampiri Chien Wan sambil berkacak pinggang. “Apa sebenarnya yang kausembunyikan dari kami, Chien Wan?”
“Tidak ada,” elak Chien Wan.
“Jangan bohong.”
Belum sempat Chien Wan mengelak lagi, tiba-tiba sesosok bayangan muncul dan menyambar Meng Huan serta Ting Ting yang berdiri berdampingan.
“Kakaaaaaaak!!!” jerit Ting Ting.
“Tolooong!!!” teriak Meng Huan.
Tanpa pikir panjang, Chien Wan berlari mengejar orang yang telah menculik kedua temannya. Ia dapat berlari dengan sangat cepat melebihi Sen Khang. Ia juga tahu bahwa untuk keluar dari Wisma Bambu hanya ada satu jalan, yakni melewati Hutan Bambu. Maka ia bergegas menuju Hutan Bambu lewat jalan pintas yang ditemukannya saat menyelinap menuju gubuk Paman Khung.
Sen Khang baru hendak menyusul saat ayahnya datang dengan tergopoh-gopoh.
“Sen Khang, siapa yang berteriak? Ada apa?”
“Ayah, ada orang menculik Meng Huan dan Ting Ting!” lapor Sen Khang. Wajahnya pucat. “Chien Wan sedang mengejarnya.”
“Ting Ting!” pekik Nyonya Luo yang baru tiba dan mendengar laporan putranya. Ia terhuyung dan langsung dipegangi oleh pelayannya.
“Ayo, Tuan!” seru Paman Khung. “Dia pasti lewat Hutan Bambu!”
Segera mereka berdua, dan juga Sen Khang berlari menyusul.
\*\*\*
Laki-laki yang menculik Meng Huan dan Ting Ting itu bertubuh tidak terlalu tinggi, namun kekar. Wajahnya tidak jelas karena tertutup kain hitam dari batang hidung sampai dagu. Sepasang matanya licik dan jahat. Ia agak kerepotan karena kedua anak yang digendongnya meronta-ronta terus.
“Diam! DIAM!” bentaknya.
“Penjahat! Lepaskan kami!” seru Meng Huan sambil menggigit, mencakar, memukul, dan menendang-nendang.
Ting Ting juga melakukan hal yang sama. Namun ia melakukannya sambil menangis.
Penjahat itu berhenti berlari, lalu melemparkan tubuh Ting Ting ke tanah keras.
“Aduh!” raung Ting Ting kesakitan.
“Ting Ting!” Meng Huan meronta semakin keras.
Penjahat itu tidak melepaskan Meng Huan. Ia menggeram, “Diam, Anak Bodoh! Aku tidak ingin membunuhmu. Tapi kalau kau tidak berhenti meronta, kau akan bernasib sama dengan Chi Kian!”
Rontaan Meng Huan terhenti. “Apa maksudmu? Kauapakan ayahku!” jeritnya.
“Dia sudah mampus!”
“Apa? Tidak! Tidaaaaaaak!!!!”
“DIAM!!!”
Chien Wan muncul dari balik rumpun bambu. Ia berlari mendekat.
Ting Ting melihatnya. “Kakak Waaaaan!”
Pekikan gadis kecil itu membuat si penjahat segera kabur sambil masih memondong Meng Huan yang masih dalam keadaan shock akibat berita ini.
Segera Chien Wan menolong Ting Ting dan membangunkannya. “Nona tak apa-apa?”
“Kakiku sakit sekali....” Ting Ting tersedu.
Saat itu tibalah Tuan Luo, Sen Khang, dan Paman Khung.
“Ting Ting!” Tuan Luo menghampiri.
“Orang itu membawa Meng Huan ke arah sana, Tuan,” lapor Chien Wan menunjuk ke arah timur.
“Kau bawa Ting Ting pulang, Chien Wan. Kami akan mengejarnya.”
Sepeninggal ketiga orang itu, Chien Wan memapah Ting Ting. “Nona bisa jalan?” tanyanya prihatin.
Ting Ting mencoba berjalan, lalu ia menangis kesakitan. “Kakiku... kakiku sakit sekali, Kak.”
“Ya sudah. Kugendong di belakang.”
Chien Wan membalikkan tubuhnya dan mengangkat gadis kecil itu ke punggungnya. Lalu ia berjalan meninggalkan Hutan Bambu. Ting Ting melingkarkan tangannya di seputar leher Chien Wan dan perlahan-lahan menghentikan tangisnya. Kakinya sangat sakit, namun ia merasa nyaman berada seperti ini dengan Chien Wan. Ia tidak tahu perasaan apa yang melandanya sebab ia masih terlalu kecil. Namun saat ini ia merasa begitu dekat dengan Chien Wan.
Sementara itu, Tuan Luo, Sen Khang, dan Paman Khung telah berhasil menyusul penculik itu.
“Berhenti!” bentak Tuan Luo.
Penculik itu tidak menghentikan larinya, membuat Tuan Luo tidak sabar. Tuan Luo melompat melewati kepala si penculik dan menghadangnya.
“Jangan halangi aku! Putrimu sudah kukembalikan. Anak ini bukan urusanmu!” bentak si penculik.
“Tentu saja ini urusanku. Kau menculik seorang anak yang berada dalam perlindunganku. Kembalikan anak itu, maka kau akau kubiarkan pergi,” janji Tuan Luo.
“Guru! Dia membunuh ayahku!” teriak Meng Huan sambil menangis.
Tuan Luo terperanjat. “Apa?”
Penculik itu tertawa terbahak-bahak. “Chi Kian sudah mati! Dia pantas mati karena sudah merebut kekasihku!”
“Kau keparat!” Tuan Luo menyerang si penculik dengan gerakan dahsyat.
Si penculik kaget dan refleks menggunakan tubuh Meng Huan sebagai tameng. Tuan Luo kaget dan menarik serangannya yang nyaris mengenai Meng Huan. Ia mundur beberapa langkah.
“Biarkan aku pergi, atau kubunuh anak ini!” ancam si penculik.
Tuan Luo tak berani bergerak.
Tanpa disadari oleh si penculik, Paman Khung berada dalam posisi yang menguntungkan. Ia berada tepat di belakang si penculik, yang memang kurang memperhitungkan kehadirannya karena dianggap hanya orang tua yang ringkih. Dengan gerakan cepat, Paman Khung melayangkan tendangan kilat ke punggung si penculik yang kurang waspada.
Penculik itu tersentak kesakitan, sehingga pegangannya atas diri Meng Huan mengendur. Hal itu memungkinkan Tuan Luo merenggut Meng Huan lepas dari tangan si penculik.
Penculik itu melihat bahwa kini dirinya telah terpojok. Ia meraih sesuatu dari saku bajunya dan membantingnya ke tanah. Mendadak asap tebal menyelubungi tempat itu. Dan ketika asap memudar, si penculik telah pergi dari tempat itu.
Segeralah Meng Huan dibawa pulang.
Setibanya di rumah, Tuan Luo mengecek kebenaran berita tewasnya Pejabat Chi dengan mengirimkan pelayannya ke Ibukota. Ternyata kabar itu memang benar adanya. Tuan Luo pun segera mengajak Meng Huan ke Ibukota. Pemakaman sudah diurus oleh pihak keluarga Pejabat Chi. Keluarga Pejabat Chi tidak menghubungi Tuan Luo dan Meng Huan karena mereka memang tidak tahu kalau Meng Huan dititipkan di Wisma Bambu. Mereka malah berduka karena mengira Meng Huan juga sudah tewas.
Selama Tuan Luo dan Meng Huan pergi ke Ibukota, suasana di Wisma Bambu sunyi dan tidak menyenangkan. Ketiga anak itu murung karena iba memikirkan kemalangan nasib Meng Huan.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 182 Episodes
Comments
Yanka Raga
🤬
2024-02-14
0
Eros Hariyadi
Lanjuuuutt Thor 😝😄💪👍🙏
2024-01-14
0
Eros Hariyadi
Berhasil menyelamatkan Ting-ting , sedangkan Meng-Huan diselamatkan oleh Paman Khung...😝😄💪👍👍👍
2024-01-14
0