Ouwyang Ping menepati janjinya. Ia selalu menghormati Chien Wan. Chien Wan yang pendiam hampir-hampir tak pernah berbicara. Namun sekali saja ia mengatakan sesuatu, Ouwyang Ping akan mendengar dan mematuhinya.
Setelah beberapa lama, Ouwyang Ping akhirnya tahu akan keanehan indera pengecap Chien Wan. Ia tahu bahwa Chien Wan tak bisa membedakan rasa karena indera pengecapnya tak berfungsi. Ouwyang Ping belajar untuk memahami perasaan Chien Wan dan menyesuaikan diri. Ia tidak pernah berkomentar soal rasa masakan. Kini ia akan memakan hidangan apa pun yang disajikan tanpa banyak protes, karena ia bertoleransi terhadap Chien Wan yang tak pernah tahu apakah makanan itu enak atau tidak.
Mereka semakin dekat. Ke mana-mana selalu berdua. Entah itu latihan, atau sekadar bermain di lembah, selalu dilakukan bersama.
Suatu hari, Chien Wan dan Ouwyang Ping sedang berada di kaki bukit tempat mereka pertama kali berjumpa. Ouwyang Ping duduk di atas gundukan tanah berumput tebal dan Chien Wan berdiri bersandar di batu besar.
Pandangan Chien Wan terpaku pada wajah Ouwyang Ping yang halus dan bersemu merah. Rambut gadis itu panjang dan halus, dijalin sederhana. Anak-anak rambut yang mengelilingi wajah cantiknya berkibar lembut tertiup angin yang sejuk. Saat ini gadis itu terlihat begitu anggun dan menawan.
Ouwyang Ping menengadah. Bibirnya tersenyum. “Kakak Wan, coba kita mainkan lagumu itu,” pintanya.
Tanpa berkata apa-apa, Chien Wan mencabut suling dari ikat pinggangnya.
“Sulingmu bagus sekali,” puji Ouwyang Ping, baru memperhatikan. “Kau membelinya?”
Chien Wan menggeleng. “Dibuatkan oleh Paman Khung, pelayan senior di Wisma Bambu.”
“Oh? Dia pembuat suling? Apakah kalian dekat?”
“Aku menganggapnya sebagai pengganti ayahku.”
Ouwyang Ping berdiri untuk melihat suling itu lebih jelas. Matanya tertumbuk pada tali sutra putih yang mengikat ujung suling itu. “Paman Khung itu suka keindahan, ya? Dia tahu tali itu terlihat cocok di sulingmu.”
Chien Wan melirik tali sutra itu. “Oh, ini bukan dari Paman Khung.”
Perkataan itu membuat Ouwyang Ping tertegun. Kalau bukan Paman Khung, lantas siapa? Ia tahu Chien Wan sendiri takkan terpikir untuk menghiasi sulingnya seperti itu.
“Siapa yang mengikatkan tali itu?”
“Nona Ting Ting.”
Nama yang indah, pikir Ouwyang Ping. Seketika suasana hatinya menjadi kelabu. “Memangnya di Wisma Bambu kau punya saudara seperguruan yang bernama Ting Ting? Kenapa kau memanggilnya nona?”
Chien Wan mengangguk. “Tuan Luo mempunyai dua orang anak; Sen Khang dan Ting Ting. Kemudian ada lagi Chi Meng Huan, putra sahabat Tuan Luo,” jawabnya tanpa curiga. “Aku memanggil nona karena sejak awal sudah begitu. Tidak enak mengubah panggilan.”
Ouwyang Ping menunduk dalam-dalam.
Kening Chien Wan berkerut. Mengapa gadis yang biasanya begitu ceria itu menjadi murung?
“Mengapa Ting Ting mengikatkan tali itu pada sulingmu?” tanya Ouwyang Ping lirih.
Chien Wan mengangkat bahu. “Aku tidak tahu. Dia tidak bilang apa-apa.”
Ouwyang Ping menggigit bibirnya. “Mmm... dia pasti sayang sekali padamu, ya?”
Perasaan Chien Wan tidak enak. Ada apa dengan gadis ini?
“Apa dia cantik?”
Pertanyaan ini membuat Chien Wan sadar. Walau ia tidak berpengalaman, ia sudah cukup dewasa untuk memahami perasaan antara laki-laki dan perempuan. Ia menyadari maksud gadis ini.
“Ya, dia cantik.” Chien Wan melirik sekilas dan mendapati gadis itu cemberut.
“Kau suka padanya?”
“Dia putri Tuan Luo. Aku menghormatinya.”
Jawaban itu membuat wajah Ouwyang Ping langsung berseri-seri. Menghormati. Itu berbeda dengan menyukai. Ia duduk kembali dan mulai memetik harpanya.
“Ayo kita latihan!” ajak gadis itu dengan suara riang.
Chien Wan harus menyembunyikan senyumnya melihat betapa cepatnya sikap gadis itu berubah. Setelah menarik napas dalam, ia mulai meniup sulingnya, memainkan lagu ciptaannya yang telah diperbaharui dengan iringan petikan harpa Ouwyang Ping.
“Huh! Cara meniup suling yang buruk!”
Chien Wan dan Ouwyang Ping menghentikan latihan mereka. Cemoohan ini membuat hati Chien Wan gusar sekaligus kecewa. Mereka menoleh ke arah suara.
Tampak seorang pria tua yang usianya sekitar enam puluh lima tahun. Pakaiannya berwarna keemasan seperti layaknya penghuni Lembah Nada umumnya. Pria tua itu memiliki wajah yang ditumbuhi rambut putih, mulai dari alis, kumis, sampai jenggotnya yang panjang. Rambutnya pun berwarna putih tanpa ada sehelai pun rambut hitam. Ekspresi wajahnya sinis dan ketus. Tangannya memegang sebatang suling yang terbuat dari emas. Gerakannya luar biasa ringan seolah tanpa bobot.
Yang lebih mengherankan, Ouwyang Ping tertawa gembira sambil menghampiri pria tua itu.
“Kakek! Kakek sudah pulang!” seru Ouwyang Ping riang.
Pria tua itu menepuk-nepuk kepala Ouwyang Ping. “Kau bertambah besar, Ping-er.”
“Tentu saja, Kek. Kakek kan sudah bertahun-tahun tidak melihatku!”
Chien Wan berdiri terpaku di tempatnya. Jadi inilah Tuan Ouwyang Cu yang terkenal itu! Ia sama sekali tak menduga bahwa hari ini ia akan bertemu dengan sesepuh Lembah Nada yang terkenal sakti.
Tuan Ouwyang Cu memandang tajam pada Chien Wan. “Ping-er, siapa dia? Permainan sulingnya begitu buruk!” celanya tajam.
Ouwyang Ping cemberut. “Kakek jangan keterlaluan begitu!”
“Aku mengatakan hal yang sebenarnya!” dengus Tuan Ouwyang Cu. “Permainan sulingnya sama sekali tidak bagus! Bahkan dibanding pemusik jalanan pun masih kalah jauh.”
“Mungkin sekarang dia belum sehebat Kakek. Tapi sekitar sepuluh tahun lagi dia pasti akan melebihi Kakek,” bela Ouwyang Ping.
Tuan Ouwyang Cu mengangkat alisnya yang putih. “O ya?” dengusnya lagi. Dipandangnya Chien Wan. “Siapa namamu?”
“Chien Wan, Tuan.”
Tuan Ouwyang Cu meneliti Chien Wan mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki. Lalu ia melihat Suling Bambu Hitam yang tengah digenggam oleh Chien Wan.
“Itu sulingmu?” tanya Tuan Ouwyang Cu.
Chien Wan mengangguk.
“Coba kulihat!”
Chien Wan menyerahkan sulingnya pada Tuan Ouwyang Cu. Tuan Ouwyang Cu meraihnya, kemudian memeriksanya dengan sangat teliti. Wajahnya berubah serius. Matanya menyipit. Lalu ia mengangguk-angguk.
“Kau bisa bermain musik cuma karena sulingmu bagus. Coba kalau sulingmu hanya suling biasa. Aku yakin musik yang kauhasilkan pasti buruk sekali!” hina Tuan Ouwyang Cu.
Chien Wan diam saja mendengar hinaan itu. Dalam hati, ia merasa sakit dan terhina. Selama ini ia hidup sebagai orang kecil, namun tak ada yang menghinanya sampai begitu rupa.
Ouwyang Ping memandang kakeknya dengan marah.
Tuan Ouwyang Cu mendengus melihat ekspresi wajah kedua remaja itu. “Tak ada jawaban? Kalau begitu aku benar!” ejeknya. Ditatapnya Chien Wan dengan angkuh, “Kau tahu? Dengan permainan sulingku, aku telah mengguncang Dunia Persilatan. Siapa yang tidak kenal Ouwyang Cu dari Lembah Nada! Kau takkan bisa menyamai prestasiku.”
“Kakek memang hebat dalam hal meniup suling. Tetapi itu kan karena guru Kakek juga seorang ahli suling yang hebat! Kakak Wan ini tidak punya guru sehebat itu. Dia belajar suling juga baru beberapa tahun. Jelas saja dia tak sebanding dengan Kakek!” bantah Ouwyang Ping sambil menatap kakeknya dengan sengit.
Tuan Ouwyang Cu mengerutkan dahi. “Jadi, kaupikir kalau dia mendapat didikan yang baik dia akan melebihiku, begitu?”
“Benar!”
Pria tua itu melirik cucunya, lalu tersenyum mengejek manakala menyadari maksud cucunya.
“Kaupikir kau bisa menjebakku, memancing kemarahanku, lalu setelah itu aku akan mengajarinya? Ping-er, jangan harap kau bisa menjebak kakekmu,” cibir Tuan Ouwyang Cu.
Wajah Ouwyang Ping memerah. Isi hatinya telah diketahui oleh kakeknya dengan begitu mudah.
Chien Wan yang diam saja sejak tadi, memberanikan diri menghampiri Tuan Ouwyang Cu. “Tuan, tolong kembalikan sulingku,” pintanya.
Tuan Ouwyang Cu melirik suling itu, lalu ia mengangkat bahu. Dilemparnya suling itu dengan asal-asalan ke arah Chien Wan. Chien Wan bersiap-siap menangkapnya. Suling itu nyaris sampai di tangannya, namun ia kaget sekali karena tiba-tiba suling itu tertarik kembali oleh suatu kekuatan dahsyat. Dan sedetik kemudian suling itu sudah ada di tangan Tuan Ouwyang Cu.
“Tuan Ouwyang?” seru Chien Wan gusar.
“Kakek!”
“Kaupikir aku akan membiarkan suling sebagus ini dimiliki oleh peniup suling seburuk kau? Suling ini akan kusimpan!” dengus Tuan Ouwyang Cu.
“Tapi itu suling milikku!” bantah Chien Wan keras.
“Ini kuganti sulingmu!” Tuan Ouwyang Cu melemparkan sebatang suling berwarna abu-abu yang tampak berkilat. Chien Wan menangkapnya dengan gerakan yang lebih merupakan gerak refleks ketimbang sigap. Ia sangat terkejut merasakan betapa beratnya suling itu.
Suling itu terbuat dari besi baja!
“Kakek jahat! Kembalikan suling Kakak Wan!” teriak Ouwyang Ping marah.
“Eh, Anak Bodoh! Kakak Wan-mu itu sudah menerima ganti sulingnya. Dia harus membiasakan diri berlatih dengan suling itu!” hardik Tuan Ouwyang Cu.
“Kenapa?” tanya Chien Wan.
Tuan Ouwyang Cu berkacak pinggang. “Seorang murid tidak berhak menanyakan keputusan gurunya. Ini perintah!”
Chien Wan terkejut mendengarnya. Tuan Ouwyang Cu mengangkatnya menjadi murid?
Wajah Ouwyang Ping berseri-seri. “Kakak Wan, sekarang kau murid Kakek!”
Chien Wan menatap Tuan Ouwyang Cu dengan penuh keheranan. Pria tua itu melipat tangannya di dada dan memandang angkuh. Dengan gerakan cepat, Chien Wan berlutut. “Guru,” sapanya.
Tuan Ouwyang mengibaskan tangan. “Ayya! Jangan berbasa-basi denganku. Aku tidak suka!” decaknya. Namun sepasang matanya berkilat jahil.
Chien Wan bangkit. Ouwyang Ping mendekati Chien Wan dan menggenggam tangan pemuda itu dengan hangat. Chien Wan menoleh dan tersenyum kecil pada gadis itu. Perasaannya sangat bahagia.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 182 Episodes
Comments
Eros Hariyadi
Lanjuuuutt Yhor 😝😄💪👍🙏
2024-01-14
1
Eros Hariyadi
Menjadi murid Ouwyang-Cu, Sang Ketua Lama Lembah Nada...😝😄💪👍👍👍
2024-01-14
0
Jimmy Avolution
nice
2023-10-26
1