Diangkat Menjadi Murid

Ouwyang Ping menepati janjinya. Ia selalu menghormati Chien Wan. Chien Wan yang pendiam hampir-hampir tak pernah berbicara. Namun sekali saja ia mengatakan sesuatu, Ouwyang Ping akan mendengar dan mematuhinya.

Setelah beberapa lama, Ouwyang Ping akhirnya tahu akan keanehan indera pengecap Chien Wan. Ia tahu bahwa Chien Wan tak bisa membedakan rasa karena indera pengecapnya tak berfungsi. Ouwyang Ping belajar untuk memahami perasaan Chien Wan dan menyesuaikan diri. Ia tidak pernah berkomentar soal rasa masakan. Kini ia akan memakan hidangan apa pun yang disajikan tanpa banyak protes, karena ia bertoleransi terhadap Chien Wan yang tak pernah tahu apakah makanan itu enak atau tidak.

Mereka semakin dekat. Ke mana-mana selalu berdua. Entah itu latihan, atau sekadar bermain di lembah, selalu dilakukan bersama.

Suatu hari, Chien Wan dan Ouwyang Ping sedang berada di kaki bukit tempat mereka pertama kali berjumpa. Ouwyang Ping duduk di atas gundukan tanah berumput tebal dan Chien Wan berdiri bersandar di batu besar.

Pandangan Chien Wan terpaku pada wajah Ouwyang Ping yang halus dan bersemu merah. Rambut gadis itu panjang dan halus, dijalin sederhana. Anak-anak rambut yang mengelilingi wajah cantiknya berkibar lembut tertiup angin yang sejuk. Saat ini gadis itu terlihat begitu anggun dan menawan.

Ouwyang Ping menengadah. Bibirnya tersenyum. “Kakak Wan, coba kita mainkan lagumu itu,” pintanya.

Tanpa berkata apa-apa, Chien Wan mencabut suling dari ikat pinggangnya.

“Sulingmu bagus sekali,” puji Ouwyang Ping, baru memperhatikan. “Kau membelinya?”

Chien Wan menggeleng. “Dibuatkan oleh Paman Khung, pelayan senior di Wisma Bambu.”

“Oh? Dia pembuat suling? Apakah kalian dekat?”

“Aku menganggapnya sebagai pengganti ayahku.”

Ouwyang Ping berdiri untuk melihat suling itu lebih jelas. Matanya tertumbuk pada tali sutra putih yang mengikat ujung suling itu. “Paman Khung itu suka keindahan, ya? Dia tahu tali itu terlihat cocok di sulingmu.”

Chien Wan melirik tali sutra itu. “Oh, ini bukan dari Paman Khung.”

Perkataan itu membuat Ouwyang Ping tertegun. Kalau bukan Paman Khung, lantas siapa? Ia tahu Chien Wan sendiri takkan terpikir untuk menghiasi sulingnya seperti itu.

“Siapa yang mengikatkan tali itu?”

“Nona Ting Ting.”

Nama yang indah, pikir Ouwyang Ping. Seketika suasana hatinya menjadi kelabu. “Memangnya di Wisma Bambu kau punya saudara seperguruan yang bernama Ting Ting? Kenapa kau memanggilnya nona?”

Chien Wan mengangguk. “Tuan Luo mempunyai dua orang anak; Sen Khang dan Ting Ting. Kemudian ada lagi Chi Meng Huan, putra sahabat Tuan Luo,” jawabnya tanpa curiga. “Aku memanggil nona karena sejak awal sudah begitu. Tidak enak mengubah panggilan.”

Ouwyang Ping menunduk dalam-dalam.

Kening Chien Wan berkerut. Mengapa gadis yang biasanya begitu ceria itu menjadi murung?

“Mengapa Ting Ting mengikatkan tali itu pada sulingmu?” tanya Ouwyang Ping lirih.

Chien Wan mengangkat bahu. “Aku tidak tahu. Dia tidak bilang apa-apa.”

Ouwyang Ping menggigit bibirnya. “Mmm... dia pasti sayang sekali padamu, ya?”

Perasaan Chien Wan tidak enak. Ada apa dengan gadis ini?

“Apa dia cantik?”

Pertanyaan ini membuat Chien Wan sadar. Walau ia tidak berpengalaman, ia sudah cukup dewasa untuk memahami perasaan antara laki-laki dan perempuan. Ia menyadari maksud gadis ini.

“Ya, dia cantik.” Chien Wan melirik sekilas dan mendapati gadis itu cemberut.

“Kau suka padanya?”

“Dia putri Tuan Luo. Aku menghormatinya.”

Jawaban itu membuat wajah Ouwyang Ping langsung berseri-seri. Menghormati. Itu berbeda dengan menyukai. Ia duduk kembali dan mulai memetik harpanya.

“Ayo kita latihan!” ajak gadis itu dengan suara riang.

Chien Wan harus menyembunyikan senyumnya melihat betapa cepatnya sikap gadis itu berubah. Setelah menarik napas dalam, ia mulai meniup sulingnya, memainkan lagu ciptaannya yang telah diperbaharui dengan iringan petikan harpa Ouwyang Ping.

“Huh! Cara meniup suling yang buruk!”

Chien Wan dan Ouwyang Ping menghentikan latihan mereka. Cemoohan ini membuat hati Chien Wan gusar sekaligus kecewa. Mereka menoleh ke arah suara.

Tampak seorang pria tua yang usianya sekitar enam puluh lima tahun. Pakaiannya berwarna keemasan seperti layaknya penghuni Lembah Nada umumnya. Pria tua itu memiliki wajah yang ditumbuhi rambut putih, mulai dari alis, kumis, sampai jenggotnya yang panjang. Rambutnya pun berwarna putih tanpa ada sehelai pun rambut hitam. Ekspresi wajahnya sinis dan ketus. Tangannya memegang sebatang suling yang terbuat dari emas. Gerakannya luar biasa ringan seolah tanpa bobot.

Yang lebih mengherankan, Ouwyang Ping tertawa gembira sambil menghampiri pria tua itu.

“Kakek! Kakek sudah pulang!” seru Ouwyang Ping riang.

Pria tua itu menepuk-nepuk kepala Ouwyang Ping. “Kau bertambah besar, Ping-er.”

“Tentu saja, Kek. Kakek kan sudah bertahun-tahun tidak melihatku!”

Chien Wan berdiri terpaku di tempatnya. Jadi inilah Tuan Ouwyang Cu yang terkenal itu! Ia sama sekali tak menduga bahwa hari ini ia akan bertemu dengan sesepuh Lembah Nada yang terkenal sakti.

Tuan Ouwyang Cu memandang tajam pada Chien Wan. “Ping-er, siapa dia? Permainan sulingnya begitu buruk!” celanya tajam.

Ouwyang Ping cemberut. “Kakek jangan keterlaluan begitu!”

“Aku mengatakan hal yang sebenarnya!” dengus Tuan Ouwyang Cu. “Permainan sulingnya sama sekali tidak bagus! Bahkan dibanding pemusik jalanan pun masih kalah jauh.”

“Mungkin sekarang dia belum sehebat Kakek. Tapi sekitar sepuluh tahun lagi dia pasti akan melebihi Kakek,” bela Ouwyang Ping.

Tuan Ouwyang Cu mengangkat alisnya yang putih. “O ya?” dengusnya lagi. Dipandangnya Chien Wan. “Siapa namamu?”

“Chien Wan, Tuan.”

Tuan Ouwyang Cu meneliti Chien Wan mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki. Lalu ia melihat Suling Bambu Hitam yang tengah digenggam oleh Chien Wan.

“Itu sulingmu?” tanya Tuan Ouwyang Cu.

Chien Wan mengangguk.

“Coba kulihat!”

Chien Wan menyerahkan sulingnya pada Tuan Ouwyang Cu. Tuan Ouwyang Cu meraihnya, kemudian memeriksanya dengan sangat teliti. Wajahnya berubah serius. Matanya menyipit. Lalu ia mengangguk-angguk.

“Kau bisa bermain musik cuma karena sulingmu bagus. Coba kalau sulingmu hanya suling biasa. Aku yakin musik yang kauhasilkan pasti buruk sekali!” hina Tuan Ouwyang Cu.

Chien Wan diam saja mendengar hinaan itu. Dalam hati, ia merasa sakit dan terhina. Selama ini ia hidup sebagai orang kecil, namun tak ada yang menghinanya sampai begitu rupa.

Ouwyang Ping memandang kakeknya dengan marah.

Tuan Ouwyang Cu mendengus melihat ekspresi wajah kedua remaja itu. “Tak ada jawaban? Kalau begitu aku benar!” ejeknya. Ditatapnya Chien Wan dengan angkuh, “Kau tahu? Dengan permainan sulingku, aku telah mengguncang Dunia Persilatan. Siapa yang tidak kenal Ouwyang Cu dari Lembah Nada! Kau takkan bisa menyamai prestasiku.”

“Kakek memang hebat dalam hal meniup suling. Tetapi itu kan karena guru Kakek juga seorang ahli suling yang hebat! Kakak Wan ini tidak punya guru sehebat itu. Dia belajar suling juga baru beberapa tahun. Jelas saja dia tak sebanding dengan Kakek!” bantah Ouwyang Ping sambil menatap kakeknya dengan sengit.

Tuan Ouwyang Cu mengerutkan dahi. “Jadi, kaupikir kalau dia mendapat didikan yang baik dia akan melebihiku, begitu?”

“Benar!”

Pria tua itu melirik cucunya, lalu tersenyum mengejek manakala menyadari maksud cucunya.

“Kaupikir kau bisa menjebakku, memancing kemarahanku, lalu setelah itu aku akan mengajarinya? Ping-er, jangan harap kau bisa menjebak kakekmu,” cibir Tuan Ouwyang Cu.

Wajah Ouwyang Ping memerah. Isi hatinya telah diketahui oleh kakeknya dengan begitu mudah.

Chien Wan yang diam saja sejak tadi, memberanikan diri menghampiri Tuan Ouwyang Cu. “Tuan, tolong kembalikan sulingku,” pintanya.

Tuan Ouwyang Cu melirik suling itu, lalu ia mengangkat bahu. Dilemparnya suling itu dengan asal-asalan ke arah Chien Wan. Chien Wan bersiap-siap menangkapnya. Suling itu nyaris sampai di tangannya, namun ia kaget sekali karena tiba-tiba suling itu tertarik kembali oleh suatu kekuatan dahsyat. Dan sedetik kemudian suling itu sudah ada di tangan Tuan Ouwyang Cu.

“Tuan Ouwyang?” seru Chien Wan gusar.

“Kakek!”

“Kaupikir aku akan membiarkan suling sebagus ini dimiliki oleh peniup suling seburuk kau? Suling ini akan kusimpan!” dengus Tuan Ouwyang Cu.

“Tapi itu suling milikku!” bantah Chien Wan keras.

“Ini kuganti sulingmu!” Tuan Ouwyang Cu melemparkan sebatang suling berwarna abu-abu yang tampak berkilat. Chien Wan menangkapnya dengan gerakan yang lebih merupakan gerak refleks ketimbang sigap. Ia sangat terkejut merasakan betapa beratnya suling itu.

Suling itu terbuat dari besi baja!

“Kakek jahat! Kembalikan suling Kakak Wan!” teriak Ouwyang Ping marah.

“Eh, Anak Bodoh! Kakak Wan-mu itu sudah menerima ganti sulingnya. Dia harus membiasakan diri berlatih dengan suling itu!” hardik Tuan Ouwyang Cu.

“Kenapa?” tanya Chien Wan.

Tuan Ouwyang Cu berkacak pinggang. “Seorang murid tidak berhak menanyakan keputusan gurunya. Ini perintah!”

Chien Wan terkejut mendengarnya. Tuan Ouwyang Cu mengangkatnya menjadi murid?

Wajah Ouwyang Ping berseri-seri. “Kakak Wan, sekarang kau murid Kakek!”

Chien Wan menatap Tuan Ouwyang Cu dengan penuh keheranan. Pria tua itu melipat tangannya di dada dan memandang angkuh. Dengan gerakan cepat, Chien Wan berlutut. “Guru,” sapanya.

Tuan Ouwyang mengibaskan tangan. “Ayya! Jangan berbasa-basi denganku. Aku tidak suka!” decaknya. Namun sepasang matanya berkilat jahil.

Chien Wan bangkit. Ouwyang Ping mendekati Chien Wan dan menggenggam tangan pemuda itu dengan hangat. Chien Wan menoleh dan tersenyum kecil pada gadis itu. Perasaannya sangat bahagia.

Bersambung.

Terpopuler

Comments

Eros Hariyadi

Eros Hariyadi

Lanjuuuutt Yhor 😝😄💪👍🙏

2024-01-14

1

Eros Hariyadi

Eros Hariyadi

Menjadi murid Ouwyang-Cu, Sang Ketua Lama Lembah Nada...😝😄💪👍👍👍

2024-01-14

0

Jimmy Avolution

Jimmy Avolution

nice

2023-10-26

1

lihat semua
Episodes
1 Wisma Bambu
2 Paviliun Taman Belakang
3 Paman Khung
4 Chi Meng Huan
5 Suling Bambu Hitam
6 Ting Ting Diculik
7 Ketua Persilatan
8 Misi ke Lembah Nada
9 Empat Tambur Perak
10 Ouwyang Ping
11 Diangkat Menjadi Murid
12 Latihan Keras
13 Dilema Cinta Pertama
14 Bahagia di Lembah Nada
15 Berpetualang Bersama
16 Tiba di Kota Lok Yang
17 Reuni
18 Pertemuan Para Pendekar
19 Tuan Muda Chang
20 Penampilan Perdana
21 Hati ke Hati
22 Hati yang Luka
23 Di Bukit Merak
24 Dewa Seribu Wajah
25 Mencari Chi Meng Huan
26 Terperangkap
27 Rencana Chang Fei Yu
28 Kelelawar Hitam
29 Bebas
30 Melarikan Diri
31 Pertarungan
32 Pertarungan di Perbatasan
33 Menuju Wisma Bambu
34 Berjumpa Paman Khung
35 Penolakan Paman Khung
36 Kemball ke Lembah Nada
37 Pulang
38 Paman Khung Sakit Keras
39 Menuju Wisma Bambu
40 Mengurus Paman Khung
41 Luo Sui She Sembuh!
42 Ibu?
43 Leontin Penguak Rahasia
44 Terkuaknya Rahasia Masa Lalu
45 Dia Adikku
46 Berpisah
47 Kewajiban
48 Merindukannya
49 Harpa Kencana
50 Masa Lalu Sung Cen I
51 Masa Lalu Sung Cen II
52 Masa Lalu Sung Cen III
53 Keputusan A Ming
54 Dua Tahun Kemudian
55 Partai Kupu-Kupu
56 Luo Sen Khang Bertemu Ouwyang Ping
57 Pulang ke Lembah Nada
58 Kenangan Masa Silam
59 Reuni Dengan Sung Siu Hung
60 Di Lembah Nada
61 Cemburu
62 Rencana Tuan Ouwyang Cu
63 Berseteru
64 Perjodohan
65 Amarah Chang Fei Yu
66 Perjalanan Luo Sen Khang dan Ouwyang Ping
67 Di Partai Kupu Kupu
68 Pengkhianatan Cheng Sam
69 Penyelidikan
70 Berita Tentang Bukit Merak
71 Berselisih Jalan
72 Awal Bencana
73 Prahara di Wisma Bambu
74 Amarah dan Nestapa
75 Duka Hati Chien Wan
76 Wisma Bambu Berkabung
77 Kebencian dan Amarah
78 Isu di Dunia Persilatan
79 Berpisah Dengan Kui Fang
80 Wu Kui Fang Mencari Bukti
81 Rencana Pendekar Sung
82 Ke Lembah Nada
83 Ouwyang Kuan dan Luo Sui She ke Wisma Bambu
84 Mencari Kamus Silat Tung Pei
85 Orangtua Chien Wan Disandera
86 Luo Sen Khang Gusar
87 Para Pendekar di Wisma Bambu
88 Luo Sen Khang Menyandera Ouwyang Ping
89 Luo Sen Khang Terjebak
90 Dua Luo Sen Khang
91 Derita Luo Ting Ting
92 Penyesalan Luo Sen Khang
93 Pertengkaran Dua Pecinta
94 Luo Ting Ting Mengandung
95 Wu Kui Fang Bertemu Chien Wan
96 Di Partai Kupu Kupu
97 Wu Kui Fang Diculik
98 Selamat
99 Mendiskusikan Bukti yang Didapat
100 Cheng Sam Kembali Berulah
101 Upaya Mencari Jejak Cheng Sam
102 Hati yang Berbunga
103 Perguruan Elang Merah
104 Keluarga Kam
105 Cheng Sam Kembali Lolos
106 Masa Lalu Cheng Sam
107 Niat Luo Sui She
108 Kedatangan Chien Wan
109 Kasih Persaudaraan
110 Kesalahpahaman
111 Kegelisahan Wu Kui Fang
112 Kisah Masa Lalu
113 Rencana Pertunangan
114 Cinta Chi Meng Huan
115 Dua Hati Menyatu
116 Perjanjian di Kotaraja
117 Perjalanan Chang Fei Yu
118 Kabar Pernikahan Luo Ting Ting
119 Kedatangan Tuan Ouwyang Cu
120 Kehamilan A Ming
121 Musuh yang Sebenarnya
122 Kebencian yang Mendalam
123 Chien Wan Terluka
124 Ketulusan Hati Chang Fei Yu
125 Chien Wan Sadarkan Diri
126 Rencana Keberangkatan
127 Menuju Pulau Ginseng
128 Guru Chi Meng Huan
129 Tiba di Pulau Ginseng
130 Menetap Sementara di Pulau Ginseng
131 Berlatih di Pulau Ginseng
132 Chien Wan Sembuh
133 Janji Tuan Ouwyang Cu
134 Bakat Sung Siu Hung
135 Kesedihan A Ming
136 Derita Luo Ting Ting
137 Tuan Chang Mengunjungi Putranya
138 Chang Fei Yu Melamar
139 Hari-Hari Bahagia di Pulau Ginseng
140 Buah Dewa
141 Janji Tuan Ouwyang Cu
142 Pulang
143 Pernikahan
144 Amarah Chi Meng Huan
145 Penyusup
146 Masalah di Partai Kupu-Kupu
147 Wu Kui Fang Membela Sam Hui
148 Sam Hui Diserang
149 Pertemuan Tahunan
150 Pengkhianatan Wie Yun Cun
151 Kemunculan Para Pendekar
152 Pertempuran
153 Luo Sen Khang Galau
154 Ketua Persilatan Mengundurkan Diri
155 Tuan Ouwyang Melamar
156 Kelelawar Hitam Membawa Berita
157 Chi Sien Lung
158 Kelahiran Anak Ting Ting
159 Menjenguk Ting Ting
160 Meninggalkan Partai Kupu-Kupu
161 Bukit Ayam Emas
162 Nyaris Celaka
163 Serangan Chi Meng Huan
164 Ketua Persilatan yang Baru
165 Kembali ke Wisma Bambu
166 A Ming Melarikan Diri
167 A Ming Terkena Racun
168 Peringatan Setahun Kematian Tuan dan Nyonya Luo
169 A Ming Pergi
170 Bencana di Partai Kupu-Kupu
171 Duka yang Mendalam
172 Kelelawar Hitam
173 Chang Yi Hang Diculik
174 Usaha Pencarian
175 Menitipkan Sien Lung
176 Pertempuran
177 Tuan Ouwyang Cu Tewas
178 Terbersit Penyesalan
179 Akhir Hidup Chi Meng Huan
180 Pernikahan di Lembah Nada (End)
181 Terima Kasih
182 Epilog
Episodes

Updated 182 Episodes

1
Wisma Bambu
2
Paviliun Taman Belakang
3
Paman Khung
4
Chi Meng Huan
5
Suling Bambu Hitam
6
Ting Ting Diculik
7
Ketua Persilatan
8
Misi ke Lembah Nada
9
Empat Tambur Perak
10
Ouwyang Ping
11
Diangkat Menjadi Murid
12
Latihan Keras
13
Dilema Cinta Pertama
14
Bahagia di Lembah Nada
15
Berpetualang Bersama
16
Tiba di Kota Lok Yang
17
Reuni
18
Pertemuan Para Pendekar
19
Tuan Muda Chang
20
Penampilan Perdana
21
Hati ke Hati
22
Hati yang Luka
23
Di Bukit Merak
24
Dewa Seribu Wajah
25
Mencari Chi Meng Huan
26
Terperangkap
27
Rencana Chang Fei Yu
28
Kelelawar Hitam
29
Bebas
30
Melarikan Diri
31
Pertarungan
32
Pertarungan di Perbatasan
33
Menuju Wisma Bambu
34
Berjumpa Paman Khung
35
Penolakan Paman Khung
36
Kemball ke Lembah Nada
37
Pulang
38
Paman Khung Sakit Keras
39
Menuju Wisma Bambu
40
Mengurus Paman Khung
41
Luo Sui She Sembuh!
42
Ibu?
43
Leontin Penguak Rahasia
44
Terkuaknya Rahasia Masa Lalu
45
Dia Adikku
46
Berpisah
47
Kewajiban
48
Merindukannya
49
Harpa Kencana
50
Masa Lalu Sung Cen I
51
Masa Lalu Sung Cen II
52
Masa Lalu Sung Cen III
53
Keputusan A Ming
54
Dua Tahun Kemudian
55
Partai Kupu-Kupu
56
Luo Sen Khang Bertemu Ouwyang Ping
57
Pulang ke Lembah Nada
58
Kenangan Masa Silam
59
Reuni Dengan Sung Siu Hung
60
Di Lembah Nada
61
Cemburu
62
Rencana Tuan Ouwyang Cu
63
Berseteru
64
Perjodohan
65
Amarah Chang Fei Yu
66
Perjalanan Luo Sen Khang dan Ouwyang Ping
67
Di Partai Kupu Kupu
68
Pengkhianatan Cheng Sam
69
Penyelidikan
70
Berita Tentang Bukit Merak
71
Berselisih Jalan
72
Awal Bencana
73
Prahara di Wisma Bambu
74
Amarah dan Nestapa
75
Duka Hati Chien Wan
76
Wisma Bambu Berkabung
77
Kebencian dan Amarah
78
Isu di Dunia Persilatan
79
Berpisah Dengan Kui Fang
80
Wu Kui Fang Mencari Bukti
81
Rencana Pendekar Sung
82
Ke Lembah Nada
83
Ouwyang Kuan dan Luo Sui She ke Wisma Bambu
84
Mencari Kamus Silat Tung Pei
85
Orangtua Chien Wan Disandera
86
Luo Sen Khang Gusar
87
Para Pendekar di Wisma Bambu
88
Luo Sen Khang Menyandera Ouwyang Ping
89
Luo Sen Khang Terjebak
90
Dua Luo Sen Khang
91
Derita Luo Ting Ting
92
Penyesalan Luo Sen Khang
93
Pertengkaran Dua Pecinta
94
Luo Ting Ting Mengandung
95
Wu Kui Fang Bertemu Chien Wan
96
Di Partai Kupu Kupu
97
Wu Kui Fang Diculik
98
Selamat
99
Mendiskusikan Bukti yang Didapat
100
Cheng Sam Kembali Berulah
101
Upaya Mencari Jejak Cheng Sam
102
Hati yang Berbunga
103
Perguruan Elang Merah
104
Keluarga Kam
105
Cheng Sam Kembali Lolos
106
Masa Lalu Cheng Sam
107
Niat Luo Sui She
108
Kedatangan Chien Wan
109
Kasih Persaudaraan
110
Kesalahpahaman
111
Kegelisahan Wu Kui Fang
112
Kisah Masa Lalu
113
Rencana Pertunangan
114
Cinta Chi Meng Huan
115
Dua Hati Menyatu
116
Perjanjian di Kotaraja
117
Perjalanan Chang Fei Yu
118
Kabar Pernikahan Luo Ting Ting
119
Kedatangan Tuan Ouwyang Cu
120
Kehamilan A Ming
121
Musuh yang Sebenarnya
122
Kebencian yang Mendalam
123
Chien Wan Terluka
124
Ketulusan Hati Chang Fei Yu
125
Chien Wan Sadarkan Diri
126
Rencana Keberangkatan
127
Menuju Pulau Ginseng
128
Guru Chi Meng Huan
129
Tiba di Pulau Ginseng
130
Menetap Sementara di Pulau Ginseng
131
Berlatih di Pulau Ginseng
132
Chien Wan Sembuh
133
Janji Tuan Ouwyang Cu
134
Bakat Sung Siu Hung
135
Kesedihan A Ming
136
Derita Luo Ting Ting
137
Tuan Chang Mengunjungi Putranya
138
Chang Fei Yu Melamar
139
Hari-Hari Bahagia di Pulau Ginseng
140
Buah Dewa
141
Janji Tuan Ouwyang Cu
142
Pulang
143
Pernikahan
144
Amarah Chi Meng Huan
145
Penyusup
146
Masalah di Partai Kupu-Kupu
147
Wu Kui Fang Membela Sam Hui
148
Sam Hui Diserang
149
Pertemuan Tahunan
150
Pengkhianatan Wie Yun Cun
151
Kemunculan Para Pendekar
152
Pertempuran
153
Luo Sen Khang Galau
154
Ketua Persilatan Mengundurkan Diri
155
Tuan Ouwyang Melamar
156
Kelelawar Hitam Membawa Berita
157
Chi Sien Lung
158
Kelahiran Anak Ting Ting
159
Menjenguk Ting Ting
160
Meninggalkan Partai Kupu-Kupu
161
Bukit Ayam Emas
162
Nyaris Celaka
163
Serangan Chi Meng Huan
164
Ketua Persilatan yang Baru
165
Kembali ke Wisma Bambu
166
A Ming Melarikan Diri
167
A Ming Terkena Racun
168
Peringatan Setahun Kematian Tuan dan Nyonya Luo
169
A Ming Pergi
170
Bencana di Partai Kupu-Kupu
171
Duka yang Mendalam
172
Kelelawar Hitam
173
Chang Yi Hang Diculik
174
Usaha Pencarian
175
Menitipkan Sien Lung
176
Pertempuran
177
Tuan Ouwyang Cu Tewas
178
Terbersit Penyesalan
179
Akhir Hidup Chi Meng Huan
180
Pernikahan di Lembah Nada (End)
181
Terima Kasih
182
Epilog

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!