Semua orang menyukai Chi Meng Huan; anak itu pandai, ramah dan bisa membawa dirinya dengan sangat baik. Hanya Paman Khung yang sejak awal bersikap dingin pada Meng Huan. Namun tidak ada yang memperhatikan hal ini karena Paman Khung memang bukan orang yang ramah.
Chien Wan-lah satu-satunya orang yang menyadari hal ini. “Mengapa Paman tidak suka padanya? Dia kan baik.”
Paman Khung mengangkat bahu. “Entahlah. Ada sesuatu yang tidak kusukai pada diri anak itu,” kilahnya. “Sudahlah. Daripada membicarakan anak itu, lebih baik coba kau mainkan lagu yang baru kau ciptakan itu!”
Chien Wan mengangguk. Setelah dua tahun ia tinggal di Wisma Bambu, dan hampir dua tahun pula ia mempelajari suling dari Paman Khung, ia sudah berhasil menciptakan sebuah lagu yang indah. Ia berkonsentrasi sejenak, lalu membawa suling ke bibirnya. Perlahan-lahan ditiupnya suling itu.
Lagu yang dimainkan Chien Wan sungguh luar biasa! Bunyi yang dihasilkan bermacam-macam dan berpadu menjadi alunan nada yang mempesona. Kadang seperti terdengar suara gemericik air, kadang terdengar kicauan burung, bahkan suara gemerisik daun-daunan yang digoyangkan oleh angin. Alunan nada yang sungguh menggetarkan hati.
Alunan nada itu membuat Paman Khung nyaris tak sanggup menahan luapan air mata haru dan pedih yang melanda hatinya. Ia harus mengakui bahwa anak ini berbakat lebih besar darinya. Jauh lebih besar! Dalam usia yang baru dua belas tahun, sudah berhasil menciptakan lagu seperti itu. Dadanya terasa sesak. Apa ini namanya kalau bukan takdir?
Ketika Chien Wan menyudahi permainannya, Paman Khung memegang kedua bahunya dan berkata dengan sungguh-sungguh, “Chien Wan, rasanya sia-sia kalau bakatmu yang luar biasa ini dibiarkan begitu saja. Kau harus mendapat didikan dari ahlinya!”
Chien Wan tercengang mendengar kata-kata Paman Khung.
“Apa menurut Paman, saya berbakat?”
“Tentu saja!” seru Paman Khung. “Kau berbakat. Sangat berbakat!”
“Lalu, siapa yang Paman maksud dengan ‘ahlinya’?” tanya Chien Wan bingung.
Paman Khung tampak bimbang. Sepasang matanya yang tajam menatap Chien Wan dengan pandangan aneh. Lalu ia memejamkan mata dan menghela napas. “Chien Wan, kau pernah mendengar tentang Lembah Nada?”
Chien Wan mengerutkan keningnya. “Sepertinya Tuan Besar pernah menyebutnya sekali. Tetapi....” Ia terdiam, berpikir apakah pantas baginya mengungkapkan keheranannya akan sikap Tuan Luo waktu menyebut soal Lembah Nada.
“Apa, Chien Wan?”
“Sepertinya Tuan Besar tidak suka pada tempat itu,” bilang Chien Wan pelan.
Paman Khung menggeleng-geleng. “Ini memang masalah berat,” gumamnya.
“Masalah?”
“Sudahlah.” Paman Khung mengubah sikap sedihnya menjadi kaku seperti biasa. “Lembah Nada adalah tempat yang cocok untuk mengembangkan bakatmu! Di sana terdapat ahli-ahli musik yang berhasil memadukan kemampuan bermusik dengan ilmu silat tingkat tinggi. Cuma orang-orang yang berbakat luar biasalah yang mampu melakukannya,” jelasnya.
“Apakah orang-orang di sana ada yang sehebat Paman?” tanya Chien Wan lugu.
Paman Khung mendengus tertawa. “Dengar, Chien Wan,” ucapnya setelah tawanya reda, “aku ini sama sekali tidak ada artinya jika dibandingkan dengan mereka. Terutama Tuan Ouwyang Cu, sang majikan. Kebetulan beliau juga seorang peniup suling yang luar biasa. Hanya saja sekarang beliau sudah mengundurkan diri dari jabatan itu. Penggantinya adalah putranya, Tuan Ouwyang Kuan yang ahli harpa. Orang-orang di Lembah Nada biasanya terlatih untuk menguasai bermacam alat musik, namun harus menentukan satu alat musik yang menjadi andalannya.”
Chien Wan terpukau. Ketertarikannya terhadap Lembah Nada semenjak pertama kali mendengar tentang tempat itu menjadi semakin dalam.
“Kau harus mencari cara supaya bisa menjadi anggota Lembah Nada!”
Chien Wan terperanjat. “Tapi, bagaimana caranya?” serunya. “Saya ini hanya seorang pelayan. Mana mungkin diizinkan meninggalkan Wisma Bambu untuk menimba ilmu di... di tempat yang dibenci Tuan Besar?”
Sikap Paman Khung menjadi waspada. “Apa Tuan Luo bilang bahwa dia membenci Lembah Nada?”
Chien Wan menggeleng. “Bukan begitu. Hanya saja... saat Nona Ting Ting bertanya, Tuan Besar menjadi marah dan tidak mau menyebutnya lagi.”
Suasana menjadi hening. Selama beberapa saat mereka berdiam diri. Masing-masing tenggelam dalam pikirannya. Chien Wan menatap Paman Khung, heran melihat kening orang tua itu berkerut dalam. Ia ingin bertanya, namun tidak ingin mengusik pikiran Paman Khung.
Akhirnya Paman Khung kembali menatapnya. Ia mengeluarkan sesuatu dari balik lengan bajunya. Benda itu langsing dan panjang, berwarna hitam pekat dan mengilap. Sebatang suling!
Mata Chien Wan terbelalak. Alangkah menakjubkannya suling itu!
“Beberapa minggu yang lalu aku menemukan sebatang bambu yang aneh dari rumpun bambu di sebelah utara Hutan Bambu. Batang bambu ini berwarna hitam, berbeda dari batang-batang lainnya. Mulanya kukira batang ini hangus atau apa, namun ternyata tidak. Warna yang hitam hanyalah karena keajaiban alam semata,” kisah Paman Khung. Lalu ia memandang Chien Wan dengan lembut. “Bambu ini mengingatkanku padamu. Kau selalu memakai pakaian berwarna hitam, dan selalu kelihatan berbeda dibanding teman-temanmu. Kupikir bambu ini cocok dibuat menjadi suling.”
Chien Wan terbelalak.
Paman Khung mengulurkan suling itu ke hadapan Chien Wan. “Ini untukmu. Ambillah!”
Dengan tangan gemetar karena takjub, Chien Wan mengambilnya. “Untuk saya?”
“Ya.”
Paman Khung berdiri. Ia menepuk-nepuk bahu Chien Wan, lalu pergi meninggalkan tempat itu untuk masuk ke dalam gubuknya sendiri.
Chien Wan memandangi Suling Bambu Hitam dengan terpesona. Ia mengangkat suling itu ke bibirnya, lalu mulai meniupnya. Nada yang terdengar benar-benar membuatnya terkejut. Bunyinya begitu jernih dan nyaring. Suling ini benar-benar hebat!
“Sulingku... suling milikku sendiri...!” gumam Chien Wan sambil menggenggam suling itu erat-erat.
\*\*\*
“Apa maksud Paman Khung?!” seru Tuan Luo gusar.
“Tuan sudah dengar permintaan saya,” bilang Paman Khung rendah hati.
“Mengirimkan seseorang untuk mencaritahu apa yang terjadi dengan adikku di masa lalu!” dengus Tuan Luo. “Tak masuk akal!”
“Tentu saja masuk akal, Tuan,” kilah Paman Khung.
Saat itu mereka berbicara di ruang kerja Tuan Luo. Tadi Paman Khung menemuinya dan mengatakan hendak membicarakan suatu masalah dengannya, maka ia menyuruh anak-anak untuk memulai latihan tanpa dirinya. Betapa kagetnya Tuan Luo karena yang dibicarakan oleh Paman Khung adalah tentang mengutus mata-mata ke Lembah Nada.
“Jelaskan maksud Paman Khung!”
“Bukankah selama ini Tuan selalu mengupayakan pengobatan untuk Nona Sui She? Sepengetahuan saya, penyakit kejiwaan tak dapat disembuhkan tanpa mengetahui akar permasalahan yang menyebabkan dia jadi seperti ini. Nah, apa salahnya kalau kita mengirimkan seseorang untuk menyelidiki masalah ini? Seseorang yang dengan mudah akan mendapat kepercayaan mereka. Seseorang yang memiliki persyaratan untuk diterima di Lembah Nada.”
Mata Tuan Luo membelalak. Hal ini tak pernah terpikirkan olehnya.
“Empat belas tahun yang lalu Nona Sui She pergi untuk menjadi anggota Lembah Nada. Dua tahun kemudian pulang dalam keadaan lupa ingatan. Kita tak pernah tahu apa yang terjadi karena orang Lembah Nada tidak memberikan penjelasan, sementara kita terlalu sedih dan sakit hati untuk datang ke sana meminta pertanggungjawaban. Sekaranglah saatnya,” bilang Paman Khung panjang lebar.
“Tetapi....”
“Nona Sui She sakit terlalu lama. Ia menderita, Tuan. Apa Tuan tega terus menerus melihatnya seperti itu?”
Tuan Luo menggebrak meja kerjanya. “Tentu saja tidak! Aku amat menyayangi Sui She. Melihatnya seperti itu membuat hatiku hancur.”
“Kalau begitu, kita harus melakukannya.”
“Siapa yang sebaiknya mengemban tugas ini?” Tuan Luo duduk di kursi kerjanya dengan lesu. Paman Khung benar. Tak ada jalan lain selain melaksanakan usulan ini.
“Chien Wan.”
Kelesuan Tuan Luo lenyap. Keningnya berkerut. “Chien Wan?” serunya.
“Anak itu cocok mengemban tugas ini, Tuan.”
“Tapi dia masih kecil dan tidak memiliki keistimewaan apa-apa. Mana mungkin aku tega menyuruhnya masuk ke sarang macan?”
“Chien Wan berbakat musik.”
“Dari mana kau tahu?” Mata Tuan Luo menyipit.
“Saya mengajarinya meniup suling,” aku Paman Khung.
Tuan Luo semakin heran. “Aku tidak tahu Paman Khung bisa meniup suling.”
“Kemampuan saya sangat rendah. Permainan saya tidak istimewa, mana mungkin saya memamerkannya pada Tuan?” kilah Paman Khung. “Chien Wan pernah melihat saya meniup suling dan minta saya mengajarkan padanya. Ternyata dia memang benar-benar menyukai dan pandai memainkan alat musik itu.”
Tuan Luo mengangguk. “Baiklah. Seandainya pun aku setuju, bukankah Lembah Nada hanya mau menerima anggota dari luar jika orang itu sudah berusia lebih dari enam belas tahun?”
“Kalau begitu, kita punya waktu empat tahun lagi untuk menggembleng Chien Wan dengan ilmu silat supaya dia bisa menjaga diri.”
Tuan Luo berpikir-pikir.
Saat itulah terdengar suara jeritan dari pekarangan.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 182 Episodes
Comments
Alex Kawun
koq jadi nya kyk kisah misteri kyk ceritera detektif
2025-03-04
0
Yanka Raga
kereeen 🤩
2024-02-14
0
Eros Hariyadi
Lanjuuuutt Thor 😝😄💪👍🙏
2024-01-14
0