Suling Bambu Hitam

Semua orang menyukai Chi Meng Huan; anak itu pandai, ramah dan bisa membawa dirinya dengan sangat baik. Hanya Paman Khung yang sejak awal bersikap dingin pada Meng Huan. Namun tidak ada yang memperhatikan hal ini karena Paman Khung memang bukan orang yang ramah.

Chien Wan-lah satu-satunya orang yang menyadari hal ini. “Mengapa Paman tidak suka padanya? Dia kan baik.”

Paman Khung mengangkat bahu. “Entahlah. Ada sesuatu yang tidak kusukai pada diri anak itu,” kilahnya. “Sudahlah. Daripada membicarakan anak itu, lebih baik coba kau mainkan lagu yang baru kau ciptakan itu!”

Chien Wan mengangguk. Setelah dua tahun ia tinggal di Wisma Bambu, dan hampir dua tahun pula ia mempelajari suling dari Paman Khung, ia sudah berhasil menciptakan sebuah lagu yang indah. Ia berkonsentrasi sejenak, lalu membawa suling ke bibirnya. Perlahan-lahan ditiupnya suling itu.

Lagu yang dimainkan Chien Wan sungguh luar biasa! Bunyi yang dihasilkan bermacam-macam dan berpadu menjadi alunan nada yang mempesona. Kadang seperti terdengar suara gemericik air, kadang terdengar kicauan burung, bahkan suara gemerisik daun-daunan yang digoyangkan oleh angin. Alunan nada yang sungguh menggetarkan hati.

Alunan nada itu membuat Paman Khung nyaris tak sanggup menahan luapan air mata haru dan pedih yang melanda hatinya. Ia harus mengakui bahwa anak ini berbakat lebih besar darinya. Jauh lebih besar! Dalam usia yang baru dua belas tahun, sudah berhasil menciptakan lagu seperti itu. Dadanya terasa sesak. Apa ini namanya kalau bukan takdir?

Ketika Chien Wan menyudahi permainannya, Paman Khung memegang kedua bahunya dan berkata dengan sungguh-sungguh, “Chien Wan, rasanya sia-sia kalau bakatmu yang luar biasa ini dibiarkan begitu saja. Kau harus mendapat didikan dari ahlinya!”

Chien Wan tercengang mendengar kata-kata Paman Khung.

“Apa menurut Paman, saya berbakat?”

“Tentu saja!” seru Paman Khung. “Kau berbakat. Sangat berbakat!”

“Lalu, siapa yang Paman maksud dengan ‘ahlinya’?” tanya Chien Wan bingung.

Paman Khung tampak bimbang. Sepasang matanya yang tajam menatap Chien Wan dengan pandangan aneh. Lalu ia memejamkan mata dan menghela napas. “Chien Wan, kau pernah mendengar tentang Lembah Nada?”

Chien Wan mengerutkan keningnya. “Sepertinya Tuan Besar pernah menyebutnya sekali. Tetapi....” Ia terdiam, berpikir apakah pantas baginya mengungkapkan keheranannya akan sikap Tuan Luo waktu menyebut soal Lembah Nada.

“Apa, Chien Wan?”

“Sepertinya Tuan Besar tidak suka pada tempat itu,” bilang Chien Wan pelan.

Paman Khung menggeleng-geleng. “Ini memang masalah berat,” gumamnya.

“Masalah?”

“Sudahlah.” Paman Khung mengubah sikap sedihnya menjadi kaku seperti biasa. “Lembah Nada adalah tempat yang cocok untuk mengembangkan bakatmu! Di sana terdapat ahli-ahli musik yang berhasil memadukan kemampuan bermusik dengan ilmu silat tingkat tinggi. Cuma orang-orang yang berbakat luar biasalah yang mampu melakukannya,” jelasnya.

“Apakah orang-orang di sana ada yang sehebat Paman?” tanya Chien Wan lugu.

Paman Khung mendengus tertawa. “Dengar, Chien Wan,” ucapnya setelah tawanya reda, “aku ini sama sekali tidak ada artinya jika dibandingkan dengan mereka. Terutama Tuan Ouwyang Cu, sang majikan. Kebetulan beliau juga seorang peniup suling yang luar biasa. Hanya saja sekarang beliau sudah mengundurkan diri dari jabatan itu. Penggantinya adalah putranya, Tuan Ouwyang Kuan yang ahli harpa. Orang-orang di Lembah Nada biasanya terlatih untuk menguasai bermacam alat musik, namun harus menentukan satu alat musik yang menjadi andalannya.”

Chien Wan terpukau. Ketertarikannya terhadap Lembah Nada semenjak pertama kali mendengar tentang tempat itu menjadi semakin dalam.

“Kau harus mencari cara supaya bisa menjadi anggota Lembah Nada!”

Chien Wan terperanjat. “Tapi, bagaimana caranya?” serunya. “Saya ini hanya seorang pelayan. Mana mungkin diizinkan meninggalkan Wisma Bambu untuk menimba ilmu di... di tempat yang dibenci Tuan Besar?”

Sikap Paman Khung menjadi waspada. “Apa Tuan Luo bilang bahwa dia membenci Lembah Nada?”

Chien Wan menggeleng. “Bukan begitu. Hanya saja... saat Nona Ting Ting bertanya, Tuan Besar menjadi marah dan tidak mau menyebutnya lagi.”

Suasana menjadi hening. Selama beberapa saat mereka berdiam diri. Masing-masing tenggelam dalam pikirannya. Chien Wan menatap Paman Khung, heran melihat kening orang tua itu berkerut dalam. Ia ingin bertanya, namun tidak ingin mengusik pikiran Paman Khung.

Akhirnya Paman Khung kembali menatapnya. Ia mengeluarkan sesuatu dari balik lengan bajunya. Benda itu langsing dan panjang, berwarna hitam pekat dan mengilap. Sebatang suling!

Mata Chien Wan terbelalak. Alangkah menakjubkannya suling itu!

“Beberapa minggu yang lalu aku menemukan sebatang bambu yang aneh dari rumpun bambu di sebelah utara Hutan Bambu. Batang bambu ini berwarna hitam, berbeda dari batang-batang lainnya. Mulanya kukira batang ini hangus atau apa, namun ternyata tidak. Warna yang hitam hanyalah karena keajaiban alam semata,” kisah Paman Khung. Lalu ia memandang Chien Wan dengan lembut. “Bambu ini mengingatkanku padamu. Kau selalu memakai pakaian berwarna hitam, dan selalu kelihatan berbeda dibanding teman-temanmu. Kupikir bambu ini cocok dibuat menjadi suling.”

Chien Wan terbelalak.

Paman Khung mengulurkan suling itu ke hadapan Chien Wan. “Ini untukmu. Ambillah!”

Dengan tangan gemetar karena takjub, Chien Wan mengambilnya. “Untuk saya?”

“Ya.”

Paman Khung berdiri. Ia menepuk-nepuk bahu Chien Wan, lalu pergi meninggalkan tempat itu untuk masuk ke dalam gubuknya sendiri.

Chien Wan memandangi Suling Bambu Hitam dengan terpesona. Ia mengangkat suling itu ke bibirnya, lalu mulai meniupnya. Nada yang terdengar benar-benar membuatnya terkejut. Bunyinya begitu jernih dan nyaring. Suling ini benar-benar hebat!

“Sulingku... suling milikku sendiri...!” gumam Chien Wan sambil menggenggam suling itu erat-erat.

\*\*\*

“Apa maksud Paman Khung?!” seru Tuan Luo gusar.

“Tuan sudah dengar permintaan saya,” bilang Paman Khung rendah hati.

“Mengirimkan seseorang untuk mencaritahu apa yang terjadi dengan adikku di masa lalu!” dengus Tuan Luo. “Tak masuk akal!”

“Tentu saja masuk akal, Tuan,” kilah Paman Khung.

Saat itu mereka berbicara di ruang kerja Tuan Luo. Tadi Paman Khung menemuinya dan mengatakan hendak membicarakan suatu masalah dengannya, maka ia menyuruh anak-anak untuk memulai latihan tanpa dirinya. Betapa kagetnya Tuan Luo karena yang dibicarakan oleh Paman Khung adalah tentang mengutus mata-mata ke Lembah Nada.

“Jelaskan maksud Paman Khung!”

“Bukankah selama ini Tuan selalu mengupayakan pengobatan untuk Nona Sui She? Sepengetahuan saya, penyakit kejiwaan tak dapat disembuhkan tanpa mengetahui akar permasalahan yang menyebabkan dia jadi seperti ini. Nah, apa salahnya kalau kita mengirimkan seseorang untuk menyelidiki masalah ini? Seseorang yang dengan mudah akan mendapat kepercayaan mereka. Seseorang yang memiliki persyaratan untuk diterima di Lembah Nada.”

Mata Tuan Luo membelalak. Hal ini tak pernah terpikirkan olehnya.

“Empat belas tahun yang lalu Nona Sui She pergi untuk menjadi anggota Lembah Nada. Dua tahun kemudian pulang dalam keadaan lupa ingatan. Kita tak pernah tahu apa yang terjadi karena orang Lembah Nada tidak memberikan penjelasan, sementara kita terlalu sedih dan sakit hati untuk datang ke sana meminta pertanggungjawaban. Sekaranglah saatnya,” bilang Paman Khung panjang lebar.

“Tetapi....”

“Nona Sui She sakit terlalu lama. Ia menderita, Tuan. Apa Tuan tega terus menerus melihatnya seperti itu?”

Tuan Luo menggebrak meja kerjanya. “Tentu saja tidak! Aku amat menyayangi Sui She. Melihatnya seperti itu membuat hatiku hancur.”

“Kalau begitu, kita harus melakukannya.”

“Siapa yang sebaiknya mengemban tugas ini?” Tuan Luo duduk di kursi kerjanya dengan lesu. Paman Khung benar. Tak ada jalan lain selain melaksanakan usulan ini.

“Chien Wan.”

Kelesuan Tuan Luo lenyap. Keningnya berkerut. “Chien Wan?” serunya.

“Anak itu cocok mengemban tugas ini, Tuan.”

“Tapi dia masih kecil dan tidak memiliki keistimewaan apa-apa. Mana mungkin aku tega menyuruhnya masuk ke sarang macan?”

“Chien Wan berbakat musik.”

“Dari mana kau tahu?” Mata Tuan Luo menyipit.

“Saya mengajarinya meniup suling,” aku Paman Khung.

Tuan Luo semakin heran. “Aku tidak tahu Paman Khung bisa meniup suling.”

“Kemampuan saya sangat rendah. Permainan saya tidak istimewa, mana mungkin saya memamerkannya pada Tuan?” kilah Paman Khung. “Chien Wan pernah melihat saya meniup suling dan minta saya mengajarkan padanya. Ternyata dia memang benar-benar menyukai dan pandai memainkan alat musik itu.”

Tuan Luo mengangguk. “Baiklah. Seandainya pun aku setuju, bukankah Lembah Nada hanya mau menerima anggota dari luar jika orang itu sudah berusia lebih dari enam belas tahun?”

“Kalau begitu, kita punya waktu empat tahun lagi untuk menggembleng Chien Wan dengan ilmu silat supaya dia bisa menjaga diri.”

Tuan Luo berpikir-pikir.

Saat itulah terdengar suara jeritan dari pekarangan.

Bersambung.

Terpopuler

Comments

Alex Kawun

Alex Kawun

koq jadi nya kyk kisah misteri kyk ceritera detektif

2025-03-04

0

Yanka Raga

Yanka Raga

kereeen 🤩

2024-02-14

0

Eros Hariyadi

Eros Hariyadi

Lanjuuuutt Thor 😝😄💪👍🙏

2024-01-14

0

lihat semua
Episodes
1 Wisma Bambu
2 Paviliun Taman Belakang
3 Paman Khung
4 Chi Meng Huan
5 Suling Bambu Hitam
6 Ting Ting Diculik
7 Ketua Persilatan
8 Misi ke Lembah Nada
9 Empat Tambur Perak
10 Ouwyang Ping
11 Diangkat Menjadi Murid
12 Latihan Keras
13 Dilema Cinta Pertama
14 Bahagia di Lembah Nada
15 Berpetualang Bersama
16 Tiba di Kota Lok Yang
17 Reuni
18 Pertemuan Para Pendekar
19 Tuan Muda Chang
20 Penampilan Perdana
21 Hati ke Hati
22 Hati yang Luka
23 Di Bukit Merak
24 Dewa Seribu Wajah
25 Mencari Chi Meng Huan
26 Terperangkap
27 Rencana Chang Fei Yu
28 Kelelawar Hitam
29 Bebas
30 Melarikan Diri
31 Pertarungan
32 Pertarungan di Perbatasan
33 Menuju Wisma Bambu
34 Berjumpa Paman Khung
35 Penolakan Paman Khung
36 Kemball ke Lembah Nada
37 Pulang
38 Paman Khung Sakit Keras
39 Menuju Wisma Bambu
40 Mengurus Paman Khung
41 Luo Sui She Sembuh!
42 Ibu?
43 Leontin Penguak Rahasia
44 Terkuaknya Rahasia Masa Lalu
45 Dia Adikku
46 Berpisah
47 Kewajiban
48 Merindukannya
49 Harpa Kencana
50 Masa Lalu Sung Cen I
51 Masa Lalu Sung Cen II
52 Masa Lalu Sung Cen III
53 Keputusan A Ming
54 Dua Tahun Kemudian
55 Partai Kupu-Kupu
56 Luo Sen Khang Bertemu Ouwyang Ping
57 Pulang ke Lembah Nada
58 Kenangan Masa Silam
59 Reuni Dengan Sung Siu Hung
60 Di Lembah Nada
61 Cemburu
62 Rencana Tuan Ouwyang Cu
63 Berseteru
64 Perjodohan
65 Amarah Chang Fei Yu
66 Perjalanan Luo Sen Khang dan Ouwyang Ping
67 Di Partai Kupu Kupu
68 Pengkhianatan Cheng Sam
69 Penyelidikan
70 Berita Tentang Bukit Merak
71 Berselisih Jalan
72 Awal Bencana
73 Prahara di Wisma Bambu
74 Amarah dan Nestapa
75 Duka Hati Chien Wan
76 Wisma Bambu Berkabung
77 Kebencian dan Amarah
78 Isu di Dunia Persilatan
79 Berpisah Dengan Kui Fang
80 Wu Kui Fang Mencari Bukti
81 Rencana Pendekar Sung
82 Ke Lembah Nada
83 Ouwyang Kuan dan Luo Sui She ke Wisma Bambu
84 Mencari Kamus Silat Tung Pei
85 Orangtua Chien Wan Disandera
86 Luo Sen Khang Gusar
87 Para Pendekar di Wisma Bambu
88 Luo Sen Khang Menyandera Ouwyang Ping
89 Luo Sen Khang Terjebak
90 Dua Luo Sen Khang
91 Derita Luo Ting Ting
92 Penyesalan Luo Sen Khang
93 Pertengkaran Dua Pecinta
94 Luo Ting Ting Mengandung
95 Wu Kui Fang Bertemu Chien Wan
96 Di Partai Kupu Kupu
97 Wu Kui Fang Diculik
98 Selamat
99 Mendiskusikan Bukti yang Didapat
100 Cheng Sam Kembali Berulah
101 Upaya Mencari Jejak Cheng Sam
102 Hati yang Berbunga
103 Perguruan Elang Merah
104 Keluarga Kam
105 Cheng Sam Kembali Lolos
106 Masa Lalu Cheng Sam
107 Niat Luo Sui She
108 Kedatangan Chien Wan
109 Kasih Persaudaraan
110 Kesalahpahaman
111 Kegelisahan Wu Kui Fang
112 Kisah Masa Lalu
113 Rencana Pertunangan
114 Cinta Chi Meng Huan
115 Dua Hati Menyatu
116 Perjanjian di Kotaraja
117 Perjalanan Chang Fei Yu
118 Kabar Pernikahan Luo Ting Ting
119 Kedatangan Tuan Ouwyang Cu
120 Kehamilan A Ming
121 Musuh yang Sebenarnya
122 Kebencian yang Mendalam
123 Chien Wan Terluka
124 Ketulusan Hati Chang Fei Yu
125 Chien Wan Sadarkan Diri
126 Rencana Keberangkatan
127 Menuju Pulau Ginseng
128 Guru Chi Meng Huan
129 Tiba di Pulau Ginseng
130 Menetap Sementara di Pulau Ginseng
131 Berlatih di Pulau Ginseng
132 Chien Wan Sembuh
133 Janji Tuan Ouwyang Cu
134 Bakat Sung Siu Hung
135 Kesedihan A Ming
136 Derita Luo Ting Ting
137 Tuan Chang Mengunjungi Putranya
138 Chang Fei Yu Melamar
139 Hari-Hari Bahagia di Pulau Ginseng
140 Buah Dewa
141 Janji Tuan Ouwyang Cu
142 Pulang
143 Pernikahan
144 Amarah Chi Meng Huan
145 Penyusup
146 Masalah di Partai Kupu-Kupu
147 Wu Kui Fang Membela Sam Hui
148 Sam Hui Diserang
149 Pertemuan Tahunan
150 Pengkhianatan Wie Yun Cun
151 Kemunculan Para Pendekar
152 Pertempuran
153 Luo Sen Khang Galau
154 Ketua Persilatan Mengundurkan Diri
155 Tuan Ouwyang Melamar
156 Kelelawar Hitam Membawa Berita
157 Chi Sien Lung
158 Kelahiran Anak Ting Ting
159 Menjenguk Ting Ting
160 Meninggalkan Partai Kupu-Kupu
161 Bukit Ayam Emas
162 Nyaris Celaka
163 Serangan Chi Meng Huan
164 Ketua Persilatan yang Baru
165 Kembali ke Wisma Bambu
166 A Ming Melarikan Diri
167 A Ming Terkena Racun
168 Peringatan Setahun Kematian Tuan dan Nyonya Luo
169 A Ming Pergi
170 Bencana di Partai Kupu-Kupu
171 Duka yang Mendalam
172 Kelelawar Hitam
173 Chang Yi Hang Diculik
174 Usaha Pencarian
175 Menitipkan Sien Lung
176 Pertempuran
177 Tuan Ouwyang Cu Tewas
178 Terbersit Penyesalan
179 Akhir Hidup Chi Meng Huan
180 Pernikahan di Lembah Nada (End)
181 Terima Kasih
182 Epilog
Episodes

Updated 182 Episodes

1
Wisma Bambu
2
Paviliun Taman Belakang
3
Paman Khung
4
Chi Meng Huan
5
Suling Bambu Hitam
6
Ting Ting Diculik
7
Ketua Persilatan
8
Misi ke Lembah Nada
9
Empat Tambur Perak
10
Ouwyang Ping
11
Diangkat Menjadi Murid
12
Latihan Keras
13
Dilema Cinta Pertama
14
Bahagia di Lembah Nada
15
Berpetualang Bersama
16
Tiba di Kota Lok Yang
17
Reuni
18
Pertemuan Para Pendekar
19
Tuan Muda Chang
20
Penampilan Perdana
21
Hati ke Hati
22
Hati yang Luka
23
Di Bukit Merak
24
Dewa Seribu Wajah
25
Mencari Chi Meng Huan
26
Terperangkap
27
Rencana Chang Fei Yu
28
Kelelawar Hitam
29
Bebas
30
Melarikan Diri
31
Pertarungan
32
Pertarungan di Perbatasan
33
Menuju Wisma Bambu
34
Berjumpa Paman Khung
35
Penolakan Paman Khung
36
Kemball ke Lembah Nada
37
Pulang
38
Paman Khung Sakit Keras
39
Menuju Wisma Bambu
40
Mengurus Paman Khung
41
Luo Sui She Sembuh!
42
Ibu?
43
Leontin Penguak Rahasia
44
Terkuaknya Rahasia Masa Lalu
45
Dia Adikku
46
Berpisah
47
Kewajiban
48
Merindukannya
49
Harpa Kencana
50
Masa Lalu Sung Cen I
51
Masa Lalu Sung Cen II
52
Masa Lalu Sung Cen III
53
Keputusan A Ming
54
Dua Tahun Kemudian
55
Partai Kupu-Kupu
56
Luo Sen Khang Bertemu Ouwyang Ping
57
Pulang ke Lembah Nada
58
Kenangan Masa Silam
59
Reuni Dengan Sung Siu Hung
60
Di Lembah Nada
61
Cemburu
62
Rencana Tuan Ouwyang Cu
63
Berseteru
64
Perjodohan
65
Amarah Chang Fei Yu
66
Perjalanan Luo Sen Khang dan Ouwyang Ping
67
Di Partai Kupu Kupu
68
Pengkhianatan Cheng Sam
69
Penyelidikan
70
Berita Tentang Bukit Merak
71
Berselisih Jalan
72
Awal Bencana
73
Prahara di Wisma Bambu
74
Amarah dan Nestapa
75
Duka Hati Chien Wan
76
Wisma Bambu Berkabung
77
Kebencian dan Amarah
78
Isu di Dunia Persilatan
79
Berpisah Dengan Kui Fang
80
Wu Kui Fang Mencari Bukti
81
Rencana Pendekar Sung
82
Ke Lembah Nada
83
Ouwyang Kuan dan Luo Sui She ke Wisma Bambu
84
Mencari Kamus Silat Tung Pei
85
Orangtua Chien Wan Disandera
86
Luo Sen Khang Gusar
87
Para Pendekar di Wisma Bambu
88
Luo Sen Khang Menyandera Ouwyang Ping
89
Luo Sen Khang Terjebak
90
Dua Luo Sen Khang
91
Derita Luo Ting Ting
92
Penyesalan Luo Sen Khang
93
Pertengkaran Dua Pecinta
94
Luo Ting Ting Mengandung
95
Wu Kui Fang Bertemu Chien Wan
96
Di Partai Kupu Kupu
97
Wu Kui Fang Diculik
98
Selamat
99
Mendiskusikan Bukti yang Didapat
100
Cheng Sam Kembali Berulah
101
Upaya Mencari Jejak Cheng Sam
102
Hati yang Berbunga
103
Perguruan Elang Merah
104
Keluarga Kam
105
Cheng Sam Kembali Lolos
106
Masa Lalu Cheng Sam
107
Niat Luo Sui She
108
Kedatangan Chien Wan
109
Kasih Persaudaraan
110
Kesalahpahaman
111
Kegelisahan Wu Kui Fang
112
Kisah Masa Lalu
113
Rencana Pertunangan
114
Cinta Chi Meng Huan
115
Dua Hati Menyatu
116
Perjanjian di Kotaraja
117
Perjalanan Chang Fei Yu
118
Kabar Pernikahan Luo Ting Ting
119
Kedatangan Tuan Ouwyang Cu
120
Kehamilan A Ming
121
Musuh yang Sebenarnya
122
Kebencian yang Mendalam
123
Chien Wan Terluka
124
Ketulusan Hati Chang Fei Yu
125
Chien Wan Sadarkan Diri
126
Rencana Keberangkatan
127
Menuju Pulau Ginseng
128
Guru Chi Meng Huan
129
Tiba di Pulau Ginseng
130
Menetap Sementara di Pulau Ginseng
131
Berlatih di Pulau Ginseng
132
Chien Wan Sembuh
133
Janji Tuan Ouwyang Cu
134
Bakat Sung Siu Hung
135
Kesedihan A Ming
136
Derita Luo Ting Ting
137
Tuan Chang Mengunjungi Putranya
138
Chang Fei Yu Melamar
139
Hari-Hari Bahagia di Pulau Ginseng
140
Buah Dewa
141
Janji Tuan Ouwyang Cu
142
Pulang
143
Pernikahan
144
Amarah Chi Meng Huan
145
Penyusup
146
Masalah di Partai Kupu-Kupu
147
Wu Kui Fang Membela Sam Hui
148
Sam Hui Diserang
149
Pertemuan Tahunan
150
Pengkhianatan Wie Yun Cun
151
Kemunculan Para Pendekar
152
Pertempuran
153
Luo Sen Khang Galau
154
Ketua Persilatan Mengundurkan Diri
155
Tuan Ouwyang Melamar
156
Kelelawar Hitam Membawa Berita
157
Chi Sien Lung
158
Kelahiran Anak Ting Ting
159
Menjenguk Ting Ting
160
Meninggalkan Partai Kupu-Kupu
161
Bukit Ayam Emas
162
Nyaris Celaka
163
Serangan Chi Meng Huan
164
Ketua Persilatan yang Baru
165
Kembali ke Wisma Bambu
166
A Ming Melarikan Diri
167
A Ming Terkena Racun
168
Peringatan Setahun Kematian Tuan dan Nyonya Luo
169
A Ming Pergi
170
Bencana di Partai Kupu-Kupu
171
Duka yang Mendalam
172
Kelelawar Hitam
173
Chang Yi Hang Diculik
174
Usaha Pencarian
175
Menitipkan Sien Lung
176
Pertempuran
177
Tuan Ouwyang Cu Tewas
178
Terbersit Penyesalan
179
Akhir Hidup Chi Meng Huan
180
Pernikahan di Lembah Nada (End)
181
Terima Kasih
182
Epilog

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!