Ketua Persilatan

Para pelayan sedih melihat kemurungan anak-anak. Untuk menyenangkan hati mereka, pelayan yang bertugas berbelanja ke pasar desa—yakni A Sam dan A Hui, mengajak mereka bertiga. Namun Ting Ting tidak diizinkan pergi oleh ibunya yang masih merasa waswas sejak kejadian itu.

Maka pergilah Sen Khang dan Chien Wan ke pasar desa.

Suasana pasar desa sangat ramai dan menyenangkan bagi kedua anak yang sehari-hari tinggal dalam keheningan. Suara pedagang yang berteriak-teriak menawarkan dagangannya, pelanggan yang sibuk menawar harga yang menurut mereka terlalu mahal, suara pisau daging yang terus membacoki potongan daging dan ikan, serta suara penghibur jalanan yang sedang memamerkan atraksinya.

“Tuan Muda, Chien Wan, kami mau berbelanja dulu. Kalian boleh melihat-lihat. Nanti kalau sudah selesai, pergilah ke kedai teh di ujung jalan itu. Kita makan dulu sedikit sebelum pulang,” pesan A Sam.

“Baik, Paman Sam.”

Sen Khang dan Chien Wan berjalan mengelilingi pasar. Mereka menonton penghibur jalanan yang melakukan atraksi menelan pedang, atraksi kungfu, dan sebagainya.

Chien Wan sedang terpesona pada pemusik jalanan yang memainkan lagu dengan erhu—alat musik gesek khas Tiongkok, ketika sesosok tubuh kecil menabraknya dan dengan cepat mencabut suling di pinggangnya.

“Hei!” Chien Wan mengejar sosok kecil itu.

“Chien Wan, ada apa?” seru Sen Khang heran karena melihat tiba-tiba saja Chien Wan melesat melewatinya. Cepat-cepat ia menyusul.

Chien Wan berlari cepat dan heran sekali karena anak sekecil itu ternyata dapat berlari sangat cepat. Dan setelah beberapa lama, ia berhasil mencekal lengan anak itu. Anak itu menangkis dan menyerangnya dengan gerakan lincah. Chien Wan mengelak dan cekalannya terlepas. Tubuh kecil itu terjatuh.

“Aduh!”

Chien Wan cepat berlutut. Dilihatnya seorang bocah perempuan yang mungil dan lucu tengah duduk di jalan sambil memegangi sikunya. Bocah itu paling banyak baru berusia sekitar enam tahun, mengenakan pakaian berwarna biru tua. Rambutnya dikuncir dengan ikat rambut berwarna perak .

“Kau tidak apa-apa?” tanya Chien Wan serius.

Bocah itu menengadah dan tersenyum riang. “Ah, cuma sedikit. Tidak sakit, kok!”

“Mana sulingku?”

“Ini!” Bocah itu mengulurkan suling yang langsung secepat mungkin diselipkan Chien Wan ke balik pakaiannya. Dan saat Sen Khang datang dengan napas tersengal-sengal, ia tidak melihat lagi suling itu.

“Chien....” Sen Khang tertegun melihat bocah perempuan itu dalam posisi duduk di tanah dan Chien Wan berlutut di depannya.

Chien Wan menatap bocah itu berdiri dengan riang, menepuk-nepuk pakaiannya yang berlumur debu. Mulutnya mengoceh tanpa merasa bersalah. “Aku kan sedang jalan-jalan, eh kulihat ada yang menarik. Aku ambil saja... “ Ucapannya terhenti kala melihat wajah Chien Wan yang dingin. Ia langsung mundur. “Aku kan cuma main-main,” lanjutnya takut.

Sen Khang menghampiri dan ikut berlutut sambil tertawa gemas melihat kelucuan anak itu. “Siapa namamu, Dik?”

“Sung Siu Hung. Aku putri Pendekar Sung, Ketua Persilatan,” jawabnya pongah, lupa akan rasa takutnya. “Kamu siapa?”

“Wah, putri Ketua Persilatan!” seru Sen Khang kagum. “Aku Luo Sen Khang, dan dia Chien Wan.”

“Kalian dari mana?”

“Kami dari Wisma Bambu.”

Siu Hung mengangguk-angguk. “Oh, begitu.”

Saat itu, dua orang pria berlari tergopoh-gopoh ke arah mereka.

“Nona! Nona Siu Hung!”

Siu Hung cemberut. “Huh! Mereka lagi. Merusak kesenanganku saja!” gerutunya. Ia berkacak pinggang dengan pongah. “Mau apa kalian?”

“Aduh, Nona! Tuan bilang, Nona harus tinggal di penginapan. Jangan keluyuran,” ucap salah seorang pria yang ternyata adalah pengawal Siu Hung.

“Dan jangan nakal...” sambung temannya takut-takut sambil melirik Chien Wan dan Sen Khang.

“Ah, aku tidak nakal, kok. Cuma main-main sedikit,” kata Siu Hung sambil tersenyum-senyum riang. Ia melirik Chien Wan sambil mengedipkan matanya dengan gaya bersekongkol. “Iya kan, Kak?”

Chien Wan diam saja.

Sen Khang tertawa geli. “Astaga, kau mencoba mengajak Chien Wan bersekongkol? Sama saja kau bicara dengan tembok. Dia itu galak, lho,” godanya.

Siu Hung mundur dan meringis. “Huaaa...! Tak ada bedanya dengan ayah!” serunya sambil berbalik dan melesat pergi tanpa sanggup dicegah kedua pengawalnya yang langsung lari mengejar. Mereka bahkan tak sempat berpamitan pada Chien Wan dan Sen Khang.

Sen Khang tertawa terpingkal-pingkal. “Wah anak itu! Bandel sekali dia. Pasti ayahnya kewalahan mengurusinya.”

Chien Wan pun akhirnya tersenyum kecil.

Kelak, anak kecil yang lucu dan luar biasa bandel itu akan menjadi salah seorang yang sangat berpengaruh dalam perjalanan hidup mereka. Namun itu baru terjadi sepuluh tahun kemudian.

\*\*\*

Pendekar Sung memang hendak berkunjung ke Wisma Bambu. Ia ingin bertemu dengan Tuan Luo untuk meminta bantuan dalam menengahi pertentangan dua perguruan silat yang cukup berpengaruh di Dunia Persilatan. Pertentangan itu awalnya tidak terlalu serius, namun sekarang bisa menjadi sumber perpecahan di kalangan mereka.

“Sayang sekali, Pendekar Sung. Suamiku saat ini tidak ada di tempat,” kata Nyonya Luo ketika menyambutnya.

Pendekar Sung tampak kecewa. “Oh, begitu.”

“Masalahnya, saudara seperguruan suamiku meninggal dunia. Ia pergi ke tempat saudara seperguruannya untuk menghadiri pemakamannya,” jelas Nyonya Luo.

“Boleh aku tahu siapa yang meninggal?”

“Pejabat Chi.”

Pendekar Sung tampak kaget. Ia tidak pernah berurusan dengan masalah politik serta orang-orang yang terlibat di dalamnya. Namun ia kenal dengan Pejabat Chi. Sebelum berkecimpung di dunia politik, Pejabat Chi pernah juga bergaul dengan orang kalangan persilatan.

“Kebetulan putra tunggal Pejabat Chi adalah murid suamiku. Selain pergi untuk berbela sungkawa, suamiku sekalian mengantarkan muridnya.”

“Jadi begitu. Baiklah, Nyonya Luo. Sampaikan saja maksud kedatanganku pada Saudara Luo. Aku permisi dulu.” Pendekar Sung bangkit dari duduknya.

“Anda sudah berjalan jauh. Lebih baik Anda beristirahat dulu,” usul Nyonya Luo.

“Tidak usah. Terima kasih atas kebaikan Anda. Tapi aku masih harus menemui beberapa orang lagi untuk membantuku. Aku tidak boleh membuang waktu. Permisi.”

Tepat saat Pendekar Sung meninggalkan Hutan Bambu, Sen Khang dan yang lainnya tiba di sana. Sen Khang langsung berlari pulang diikuti oleh Chien Wan.

“Sen Khang, kenapa kau berlari-lari seperti itu?” tegur Nyonya Luo.

“Apakah Ketua Persilatan tadi datang ke sini, Bu?” tanya Sen Khang bergairah.

“Ya, tapi sekarang sudah pergi lagi.”

Sen Khang membanting kakinya dengan kecewa. “Yaaah! Padahal aku ingin sekali bertemu dengannya!”

Ibunya tertawa geli.

Chien Wan mohon diri untuk pergi ke belakang. Dari sana, ia langsung menuju gubuk Paman Khung. Seperti biasa, ia lewat jalan pintas. Biasanya tak ada seorang pun yang memperhatikannya. Namun kini ia lengah, tak tahu ada seseorang mengikutinya.

Paman Khung sudah menunggunya di depan gubuknya.

“Kau terlambat.”

“Maaf, Paman. Tadi aku dan Sen Khang diajak ke pasar desa,” jawab Chien Wan. “Tadi Ketua Persilatan datang ke sini, Paman.”

Paman Khung terperanjat. “Sung Han?!”

Chien Wan menatap heran. “Paman kenal dia?”

Cepat-cepat Paman Khung mengubah sikapnya. “Tentu saja. Dia kan sangat terkenal.”

“Sen Khang ingin sekali bertemu dengannya. Tapi waktu kami tiba, dia sudah pergi.”

“Dia datang sendiri?”

“Tidak juga. Tadi di pasar, aku bertemu dengan putrinya.”

Wajah Paman Khung berbinar. “Putrinya? Dia sebaya denganmu?”

Chien Wan menggeleng. “Tidak, Paman. Gadis itu masih sangat kecil. Bahkan dia lebih muda dari Nona Ting Ting. Sekitar enam tahun.”

Ekspresi Paman Khung berubah kembali seperti semula.

“Kenapa, Paman?”

Paman Khung mengibaskan tangannya. “Sudahlah. Coba kau mainkan lagu ciptaanmu sekali lagi. Kita lihat apa bisa lebih disempurnakan lagi.”

Chien Wan pun mulai meniup.

***

Sepasang mata yang bening itu membelalak kala mendengarkan lagu yang luar biasa indah dan merdu yang keluar dari suling milik Chien Wan. Ia terpukau memandangi pemuda cilik itu begitu berkonsentrasi dalam permainannya yang memukau. Ia tidak mengerti apa-apa tentang musik, namun alunan nada yang demikian indah itu membuat air matanya tak bisa dibendung lagi.

Ting Ting-lah yang diam-diam mengikuti Chien Wan. Ia selalu penasaran karena setiap senja Chien Wan selalu menyelinap pergi meninggalkan rumah. Sejak lama ia ingin tahu apa saja yang dilakukan Chien Wan. Maka ketika tadi ia melihat Chien Wan pergi, secara sembunyi-sembunyi ia mengikutinya.

Alangkah hebatnya Kakak Wan!

Ting Ting tidak menyangka Chien Wan bisa meniup suling dan menghasilkan nada-nada yang begitu indah seperti itu. Dan ciptaan sendiri pula!

Perasaan Ting Ting girang manakala menyadari bahwa dirinyalah satu-satunya orang yang tahu akan hal ini. Itu membuatnya merasa istimewa. Hanya dirinya yang tahu kemampuan Chien Wan yang sesungguhnya. Bahkan kakaknya pun tidak tahu!

Gadis kecil itu bertekad merahasiakan pengetahuannya ini dari siapa pun.

Saat suara suling lenyap, Ting Ting segera pergi. Ia tidak ingin ketahuan sedang mengintip.

Bersambung.

Terpopuler

Comments

Eros Hariyadi

Eros Hariyadi

Lanjuuuutt Thor 😝😄💪👍🙏

2024-01-14

0

Eros Hariyadi

Eros Hariyadi

Selalu tinggalkan jejak petualang baca 👣👣👣😄💪👍

2024-01-14

0

Jimmy Avolution

Jimmy Avolution

gaskeun

2023-10-26

2

lihat semua
Episodes
1 Wisma Bambu
2 Paviliun Taman Belakang
3 Paman Khung
4 Chi Meng Huan
5 Suling Bambu Hitam
6 Ting Ting Diculik
7 Ketua Persilatan
8 Misi ke Lembah Nada
9 Empat Tambur Perak
10 Ouwyang Ping
11 Diangkat Menjadi Murid
12 Latihan Keras
13 Dilema Cinta Pertama
14 Bahagia di Lembah Nada
15 Berpetualang Bersama
16 Tiba di Kota Lok Yang
17 Reuni
18 Pertemuan Para Pendekar
19 Tuan Muda Chang
20 Penampilan Perdana
21 Hati ke Hati
22 Hati yang Luka
23 Di Bukit Merak
24 Dewa Seribu Wajah
25 Mencari Chi Meng Huan
26 Terperangkap
27 Rencana Chang Fei Yu
28 Kelelawar Hitam
29 Bebas
30 Melarikan Diri
31 Pertarungan
32 Pertarungan di Perbatasan
33 Menuju Wisma Bambu
34 Berjumpa Paman Khung
35 Penolakan Paman Khung
36 Kemball ke Lembah Nada
37 Pulang
38 Paman Khung Sakit Keras
39 Menuju Wisma Bambu
40 Mengurus Paman Khung
41 Luo Sui She Sembuh!
42 Ibu?
43 Leontin Penguak Rahasia
44 Terkuaknya Rahasia Masa Lalu
45 Dia Adikku
46 Berpisah
47 Kewajiban
48 Merindukannya
49 Harpa Kencana
50 Masa Lalu Sung Cen I
51 Masa Lalu Sung Cen II
52 Masa Lalu Sung Cen III
53 Keputusan A Ming
54 Dua Tahun Kemudian
55 Partai Kupu-Kupu
56 Luo Sen Khang Bertemu Ouwyang Ping
57 Pulang ke Lembah Nada
58 Kenangan Masa Silam
59 Reuni Dengan Sung Siu Hung
60 Di Lembah Nada
61 Cemburu
62 Rencana Tuan Ouwyang Cu
63 Berseteru
64 Perjodohan
65 Amarah Chang Fei Yu
66 Perjalanan Luo Sen Khang dan Ouwyang Ping
67 Di Partai Kupu Kupu
68 Pengkhianatan Cheng Sam
69 Penyelidikan
70 Berita Tentang Bukit Merak
71 Berselisih Jalan
72 Awal Bencana
73 Prahara di Wisma Bambu
74 Amarah dan Nestapa
75 Duka Hati Chien Wan
76 Wisma Bambu Berkabung
77 Kebencian dan Amarah
78 Isu di Dunia Persilatan
79 Berpisah Dengan Kui Fang
80 Wu Kui Fang Mencari Bukti
81 Rencana Pendekar Sung
82 Ke Lembah Nada
83 Ouwyang Kuan dan Luo Sui She ke Wisma Bambu
84 Mencari Kamus Silat Tung Pei
85 Orangtua Chien Wan Disandera
86 Luo Sen Khang Gusar
87 Para Pendekar di Wisma Bambu
88 Luo Sen Khang Menyandera Ouwyang Ping
89 Luo Sen Khang Terjebak
90 Dua Luo Sen Khang
91 Derita Luo Ting Ting
92 Penyesalan Luo Sen Khang
93 Pertengkaran Dua Pecinta
94 Luo Ting Ting Mengandung
95 Wu Kui Fang Bertemu Chien Wan
96 Di Partai Kupu Kupu
97 Wu Kui Fang Diculik
98 Selamat
99 Mendiskusikan Bukti yang Didapat
100 Cheng Sam Kembali Berulah
101 Upaya Mencari Jejak Cheng Sam
102 Hati yang Berbunga
103 Perguruan Elang Merah
104 Keluarga Kam
105 Cheng Sam Kembali Lolos
106 Masa Lalu Cheng Sam
107 Niat Luo Sui She
108 Kedatangan Chien Wan
109 Kasih Persaudaraan
110 Kesalahpahaman
111 Kegelisahan Wu Kui Fang
112 Kisah Masa Lalu
113 Rencana Pertunangan
114 Cinta Chi Meng Huan
115 Dua Hati Menyatu
116 Perjanjian di Kotaraja
117 Perjalanan Chang Fei Yu
118 Kabar Pernikahan Luo Ting Ting
119 Kedatangan Tuan Ouwyang Cu
120 Kehamilan A Ming
121 Musuh yang Sebenarnya
122 Kebencian yang Mendalam
123 Chien Wan Terluka
124 Ketulusan Hati Chang Fei Yu
125 Chien Wan Sadarkan Diri
126 Rencana Keberangkatan
127 Menuju Pulau Ginseng
128 Guru Chi Meng Huan
129 Tiba di Pulau Ginseng
130 Menetap Sementara di Pulau Ginseng
131 Berlatih di Pulau Ginseng
132 Chien Wan Sembuh
133 Janji Tuan Ouwyang Cu
134 Bakat Sung Siu Hung
135 Kesedihan A Ming
136 Derita Luo Ting Ting
137 Tuan Chang Mengunjungi Putranya
138 Chang Fei Yu Melamar
139 Hari-Hari Bahagia di Pulau Ginseng
140 Buah Dewa
141 Janji Tuan Ouwyang Cu
142 Pulang
143 Pernikahan
144 Amarah Chi Meng Huan
145 Penyusup
146 Masalah di Partai Kupu-Kupu
147 Wu Kui Fang Membela Sam Hui
148 Sam Hui Diserang
149 Pertemuan Tahunan
150 Pengkhianatan Wie Yun Cun
151 Kemunculan Para Pendekar
152 Pertempuran
153 Luo Sen Khang Galau
154 Ketua Persilatan Mengundurkan Diri
155 Tuan Ouwyang Melamar
156 Kelelawar Hitam Membawa Berita
157 Chi Sien Lung
158 Kelahiran Anak Ting Ting
159 Menjenguk Ting Ting
160 Meninggalkan Partai Kupu-Kupu
161 Bukit Ayam Emas
162 Nyaris Celaka
163 Serangan Chi Meng Huan
164 Ketua Persilatan yang Baru
165 Kembali ke Wisma Bambu
166 A Ming Melarikan Diri
167 A Ming Terkena Racun
168 Peringatan Setahun Kematian Tuan dan Nyonya Luo
169 A Ming Pergi
170 Bencana di Partai Kupu-Kupu
171 Duka yang Mendalam
172 Kelelawar Hitam
173 Chang Yi Hang Diculik
174 Usaha Pencarian
175 Menitipkan Sien Lung
176 Pertempuran
177 Tuan Ouwyang Cu Tewas
178 Terbersit Penyesalan
179 Akhir Hidup Chi Meng Huan
180 Pernikahan di Lembah Nada (End)
181 Terima Kasih
182 Epilog
Episodes

Updated 182 Episodes

1
Wisma Bambu
2
Paviliun Taman Belakang
3
Paman Khung
4
Chi Meng Huan
5
Suling Bambu Hitam
6
Ting Ting Diculik
7
Ketua Persilatan
8
Misi ke Lembah Nada
9
Empat Tambur Perak
10
Ouwyang Ping
11
Diangkat Menjadi Murid
12
Latihan Keras
13
Dilema Cinta Pertama
14
Bahagia di Lembah Nada
15
Berpetualang Bersama
16
Tiba di Kota Lok Yang
17
Reuni
18
Pertemuan Para Pendekar
19
Tuan Muda Chang
20
Penampilan Perdana
21
Hati ke Hati
22
Hati yang Luka
23
Di Bukit Merak
24
Dewa Seribu Wajah
25
Mencari Chi Meng Huan
26
Terperangkap
27
Rencana Chang Fei Yu
28
Kelelawar Hitam
29
Bebas
30
Melarikan Diri
31
Pertarungan
32
Pertarungan di Perbatasan
33
Menuju Wisma Bambu
34
Berjumpa Paman Khung
35
Penolakan Paman Khung
36
Kemball ke Lembah Nada
37
Pulang
38
Paman Khung Sakit Keras
39
Menuju Wisma Bambu
40
Mengurus Paman Khung
41
Luo Sui She Sembuh!
42
Ibu?
43
Leontin Penguak Rahasia
44
Terkuaknya Rahasia Masa Lalu
45
Dia Adikku
46
Berpisah
47
Kewajiban
48
Merindukannya
49
Harpa Kencana
50
Masa Lalu Sung Cen I
51
Masa Lalu Sung Cen II
52
Masa Lalu Sung Cen III
53
Keputusan A Ming
54
Dua Tahun Kemudian
55
Partai Kupu-Kupu
56
Luo Sen Khang Bertemu Ouwyang Ping
57
Pulang ke Lembah Nada
58
Kenangan Masa Silam
59
Reuni Dengan Sung Siu Hung
60
Di Lembah Nada
61
Cemburu
62
Rencana Tuan Ouwyang Cu
63
Berseteru
64
Perjodohan
65
Amarah Chang Fei Yu
66
Perjalanan Luo Sen Khang dan Ouwyang Ping
67
Di Partai Kupu Kupu
68
Pengkhianatan Cheng Sam
69
Penyelidikan
70
Berita Tentang Bukit Merak
71
Berselisih Jalan
72
Awal Bencana
73
Prahara di Wisma Bambu
74
Amarah dan Nestapa
75
Duka Hati Chien Wan
76
Wisma Bambu Berkabung
77
Kebencian dan Amarah
78
Isu di Dunia Persilatan
79
Berpisah Dengan Kui Fang
80
Wu Kui Fang Mencari Bukti
81
Rencana Pendekar Sung
82
Ke Lembah Nada
83
Ouwyang Kuan dan Luo Sui She ke Wisma Bambu
84
Mencari Kamus Silat Tung Pei
85
Orangtua Chien Wan Disandera
86
Luo Sen Khang Gusar
87
Para Pendekar di Wisma Bambu
88
Luo Sen Khang Menyandera Ouwyang Ping
89
Luo Sen Khang Terjebak
90
Dua Luo Sen Khang
91
Derita Luo Ting Ting
92
Penyesalan Luo Sen Khang
93
Pertengkaran Dua Pecinta
94
Luo Ting Ting Mengandung
95
Wu Kui Fang Bertemu Chien Wan
96
Di Partai Kupu Kupu
97
Wu Kui Fang Diculik
98
Selamat
99
Mendiskusikan Bukti yang Didapat
100
Cheng Sam Kembali Berulah
101
Upaya Mencari Jejak Cheng Sam
102
Hati yang Berbunga
103
Perguruan Elang Merah
104
Keluarga Kam
105
Cheng Sam Kembali Lolos
106
Masa Lalu Cheng Sam
107
Niat Luo Sui She
108
Kedatangan Chien Wan
109
Kasih Persaudaraan
110
Kesalahpahaman
111
Kegelisahan Wu Kui Fang
112
Kisah Masa Lalu
113
Rencana Pertunangan
114
Cinta Chi Meng Huan
115
Dua Hati Menyatu
116
Perjanjian di Kotaraja
117
Perjalanan Chang Fei Yu
118
Kabar Pernikahan Luo Ting Ting
119
Kedatangan Tuan Ouwyang Cu
120
Kehamilan A Ming
121
Musuh yang Sebenarnya
122
Kebencian yang Mendalam
123
Chien Wan Terluka
124
Ketulusan Hati Chang Fei Yu
125
Chien Wan Sadarkan Diri
126
Rencana Keberangkatan
127
Menuju Pulau Ginseng
128
Guru Chi Meng Huan
129
Tiba di Pulau Ginseng
130
Menetap Sementara di Pulau Ginseng
131
Berlatih di Pulau Ginseng
132
Chien Wan Sembuh
133
Janji Tuan Ouwyang Cu
134
Bakat Sung Siu Hung
135
Kesedihan A Ming
136
Derita Luo Ting Ting
137
Tuan Chang Mengunjungi Putranya
138
Chang Fei Yu Melamar
139
Hari-Hari Bahagia di Pulau Ginseng
140
Buah Dewa
141
Janji Tuan Ouwyang Cu
142
Pulang
143
Pernikahan
144
Amarah Chi Meng Huan
145
Penyusup
146
Masalah di Partai Kupu-Kupu
147
Wu Kui Fang Membela Sam Hui
148
Sam Hui Diserang
149
Pertemuan Tahunan
150
Pengkhianatan Wie Yun Cun
151
Kemunculan Para Pendekar
152
Pertempuran
153
Luo Sen Khang Galau
154
Ketua Persilatan Mengundurkan Diri
155
Tuan Ouwyang Melamar
156
Kelelawar Hitam Membawa Berita
157
Chi Sien Lung
158
Kelahiran Anak Ting Ting
159
Menjenguk Ting Ting
160
Meninggalkan Partai Kupu-Kupu
161
Bukit Ayam Emas
162
Nyaris Celaka
163
Serangan Chi Meng Huan
164
Ketua Persilatan yang Baru
165
Kembali ke Wisma Bambu
166
A Ming Melarikan Diri
167
A Ming Terkena Racun
168
Peringatan Setahun Kematian Tuan dan Nyonya Luo
169
A Ming Pergi
170
Bencana di Partai Kupu-Kupu
171
Duka yang Mendalam
172
Kelelawar Hitam
173
Chang Yi Hang Diculik
174
Usaha Pencarian
175
Menitipkan Sien Lung
176
Pertempuran
177
Tuan Ouwyang Cu Tewas
178
Terbersit Penyesalan
179
Akhir Hidup Chi Meng Huan
180
Pernikahan di Lembah Nada (End)
181
Terima Kasih
182
Epilog

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!