Para pelayan sedih melihat kemurungan anak-anak. Untuk menyenangkan hati mereka, pelayan yang bertugas berbelanja ke pasar desa—yakni A Sam dan A Hui, mengajak mereka bertiga. Namun Ting Ting tidak diizinkan pergi oleh ibunya yang masih merasa waswas sejak kejadian itu.
Maka pergilah Sen Khang dan Chien Wan ke pasar desa.
Suasana pasar desa sangat ramai dan menyenangkan bagi kedua anak yang sehari-hari tinggal dalam keheningan. Suara pedagang yang berteriak-teriak menawarkan dagangannya, pelanggan yang sibuk menawar harga yang menurut mereka terlalu mahal, suara pisau daging yang terus membacoki potongan daging dan ikan, serta suara penghibur jalanan yang sedang memamerkan atraksinya.
“Tuan Muda, Chien Wan, kami mau berbelanja dulu. Kalian boleh melihat-lihat. Nanti kalau sudah selesai, pergilah ke kedai teh di ujung jalan itu. Kita makan dulu sedikit sebelum pulang,” pesan A Sam.
“Baik, Paman Sam.”
Sen Khang dan Chien Wan berjalan mengelilingi pasar. Mereka menonton penghibur jalanan yang melakukan atraksi menelan pedang, atraksi kungfu, dan sebagainya.
Chien Wan sedang terpesona pada pemusik jalanan yang memainkan lagu dengan erhu—alat musik gesek khas Tiongkok, ketika sesosok tubuh kecil menabraknya dan dengan cepat mencabut suling di pinggangnya.
“Hei!” Chien Wan mengejar sosok kecil itu.
“Chien Wan, ada apa?” seru Sen Khang heran karena melihat tiba-tiba saja Chien Wan melesat melewatinya. Cepat-cepat ia menyusul.
Chien Wan berlari cepat dan heran sekali karena anak sekecil itu ternyata dapat berlari sangat cepat. Dan setelah beberapa lama, ia berhasil mencekal lengan anak itu. Anak itu menangkis dan menyerangnya dengan gerakan lincah. Chien Wan mengelak dan cekalannya terlepas. Tubuh kecil itu terjatuh.
“Aduh!”
Chien Wan cepat berlutut. Dilihatnya seorang bocah perempuan yang mungil dan lucu tengah duduk di jalan sambil memegangi sikunya. Bocah itu paling banyak baru berusia sekitar enam tahun, mengenakan pakaian berwarna biru tua. Rambutnya dikuncir dengan ikat rambut berwarna perak .
“Kau tidak apa-apa?” tanya Chien Wan serius.
Bocah itu menengadah dan tersenyum riang. “Ah, cuma sedikit. Tidak sakit, kok!”
“Mana sulingku?”
“Ini!” Bocah itu mengulurkan suling yang langsung secepat mungkin diselipkan Chien Wan ke balik pakaiannya. Dan saat Sen Khang datang dengan napas tersengal-sengal, ia tidak melihat lagi suling itu.
“Chien....” Sen Khang tertegun melihat bocah perempuan itu dalam posisi duduk di tanah dan Chien Wan berlutut di depannya.
Chien Wan menatap bocah itu berdiri dengan riang, menepuk-nepuk pakaiannya yang berlumur debu. Mulutnya mengoceh tanpa merasa bersalah. “Aku kan sedang jalan-jalan, eh kulihat ada yang menarik. Aku ambil saja... “ Ucapannya terhenti kala melihat wajah Chien Wan yang dingin. Ia langsung mundur. “Aku kan cuma main-main,” lanjutnya takut.
Sen Khang menghampiri dan ikut berlutut sambil tertawa gemas melihat kelucuan anak itu. “Siapa namamu, Dik?”
“Sung Siu Hung. Aku putri Pendekar Sung, Ketua Persilatan,” jawabnya pongah, lupa akan rasa takutnya. “Kamu siapa?”
“Wah, putri Ketua Persilatan!” seru Sen Khang kagum. “Aku Luo Sen Khang, dan dia Chien Wan.”
“Kalian dari mana?”
“Kami dari Wisma Bambu.”
Siu Hung mengangguk-angguk. “Oh, begitu.”
Saat itu, dua orang pria berlari tergopoh-gopoh ke arah mereka.
“Nona! Nona Siu Hung!”
Siu Hung cemberut. “Huh! Mereka lagi. Merusak kesenanganku saja!” gerutunya. Ia berkacak pinggang dengan pongah. “Mau apa kalian?”
“Aduh, Nona! Tuan bilang, Nona harus tinggal di penginapan. Jangan keluyuran,” ucap salah seorang pria yang ternyata adalah pengawal Siu Hung.
“Dan jangan nakal...” sambung temannya takut-takut sambil melirik Chien Wan dan Sen Khang.
“Ah, aku tidak nakal, kok. Cuma main-main sedikit,” kata Siu Hung sambil tersenyum-senyum riang. Ia melirik Chien Wan sambil mengedipkan matanya dengan gaya bersekongkol. “Iya kan, Kak?”
Chien Wan diam saja.
Sen Khang tertawa geli. “Astaga, kau mencoba mengajak Chien Wan bersekongkol? Sama saja kau bicara dengan tembok. Dia itu galak, lho,” godanya.
Siu Hung mundur dan meringis. “Huaaa...! Tak ada bedanya dengan ayah!” serunya sambil berbalik dan melesat pergi tanpa sanggup dicegah kedua pengawalnya yang langsung lari mengejar. Mereka bahkan tak sempat berpamitan pada Chien Wan dan Sen Khang.
Sen Khang tertawa terpingkal-pingkal. “Wah anak itu! Bandel sekali dia. Pasti ayahnya kewalahan mengurusinya.”
Chien Wan pun akhirnya tersenyum kecil.
Kelak, anak kecil yang lucu dan luar biasa bandel itu akan menjadi salah seorang yang sangat berpengaruh dalam perjalanan hidup mereka. Namun itu baru terjadi sepuluh tahun kemudian.
\*\*\*
Pendekar Sung memang hendak berkunjung ke Wisma Bambu. Ia ingin bertemu dengan Tuan Luo untuk meminta bantuan dalam menengahi pertentangan dua perguruan silat yang cukup berpengaruh di Dunia Persilatan. Pertentangan itu awalnya tidak terlalu serius, namun sekarang bisa menjadi sumber perpecahan di kalangan mereka.
“Sayang sekali, Pendekar Sung. Suamiku saat ini tidak ada di tempat,” kata Nyonya Luo ketika menyambutnya.
Pendekar Sung tampak kecewa. “Oh, begitu.”
“Masalahnya, saudara seperguruan suamiku meninggal dunia. Ia pergi ke tempat saudara seperguruannya untuk menghadiri pemakamannya,” jelas Nyonya Luo.
“Boleh aku tahu siapa yang meninggal?”
“Pejabat Chi.”
Pendekar Sung tampak kaget. Ia tidak pernah berurusan dengan masalah politik serta orang-orang yang terlibat di dalamnya. Namun ia kenal dengan Pejabat Chi. Sebelum berkecimpung di dunia politik, Pejabat Chi pernah juga bergaul dengan orang kalangan persilatan.
“Kebetulan putra tunggal Pejabat Chi adalah murid suamiku. Selain pergi untuk berbela sungkawa, suamiku sekalian mengantarkan muridnya.”
“Jadi begitu. Baiklah, Nyonya Luo. Sampaikan saja maksud kedatanganku pada Saudara Luo. Aku permisi dulu.” Pendekar Sung bangkit dari duduknya.
“Anda sudah berjalan jauh. Lebih baik Anda beristirahat dulu,” usul Nyonya Luo.
“Tidak usah. Terima kasih atas kebaikan Anda. Tapi aku masih harus menemui beberapa orang lagi untuk membantuku. Aku tidak boleh membuang waktu. Permisi.”
Tepat saat Pendekar Sung meninggalkan Hutan Bambu, Sen Khang dan yang lainnya tiba di sana. Sen Khang langsung berlari pulang diikuti oleh Chien Wan.
“Sen Khang, kenapa kau berlari-lari seperti itu?” tegur Nyonya Luo.
“Apakah Ketua Persilatan tadi datang ke sini, Bu?” tanya Sen Khang bergairah.
“Ya, tapi sekarang sudah pergi lagi.”
Sen Khang membanting kakinya dengan kecewa. “Yaaah! Padahal aku ingin sekali bertemu dengannya!”
Ibunya tertawa geli.
Chien Wan mohon diri untuk pergi ke belakang. Dari sana, ia langsung menuju gubuk Paman Khung. Seperti biasa, ia lewat jalan pintas. Biasanya tak ada seorang pun yang memperhatikannya. Namun kini ia lengah, tak tahu ada seseorang mengikutinya.
Paman Khung sudah menunggunya di depan gubuknya.
“Kau terlambat.”
“Maaf, Paman. Tadi aku dan Sen Khang diajak ke pasar desa,” jawab Chien Wan. “Tadi Ketua Persilatan datang ke sini, Paman.”
Paman Khung terperanjat. “Sung Han?!”
Chien Wan menatap heran. “Paman kenal dia?”
Cepat-cepat Paman Khung mengubah sikapnya. “Tentu saja. Dia kan sangat terkenal.”
“Sen Khang ingin sekali bertemu dengannya. Tapi waktu kami tiba, dia sudah pergi.”
“Dia datang sendiri?”
“Tidak juga. Tadi di pasar, aku bertemu dengan putrinya.”
Wajah Paman Khung berbinar. “Putrinya? Dia sebaya denganmu?”
Chien Wan menggeleng. “Tidak, Paman. Gadis itu masih sangat kecil. Bahkan dia lebih muda dari Nona Ting Ting. Sekitar enam tahun.”
Ekspresi Paman Khung berubah kembali seperti semula.
“Kenapa, Paman?”
Paman Khung mengibaskan tangannya. “Sudahlah. Coba kau mainkan lagu ciptaanmu sekali lagi. Kita lihat apa bisa lebih disempurnakan lagi.”
Chien Wan pun mulai meniup.
***
Sepasang mata yang bening itu membelalak kala mendengarkan lagu yang luar biasa indah dan merdu yang keluar dari suling milik Chien Wan. Ia terpukau memandangi pemuda cilik itu begitu berkonsentrasi dalam permainannya yang memukau. Ia tidak mengerti apa-apa tentang musik, namun alunan nada yang demikian indah itu membuat air matanya tak bisa dibendung lagi.
Ting Ting-lah yang diam-diam mengikuti Chien Wan. Ia selalu penasaran karena setiap senja Chien Wan selalu menyelinap pergi meninggalkan rumah. Sejak lama ia ingin tahu apa saja yang dilakukan Chien Wan. Maka ketika tadi ia melihat Chien Wan pergi, secara sembunyi-sembunyi ia mengikutinya.
Alangkah hebatnya Kakak Wan!
Ting Ting tidak menyangka Chien Wan bisa meniup suling dan menghasilkan nada-nada yang begitu indah seperti itu. Dan ciptaan sendiri pula!
Perasaan Ting Ting girang manakala menyadari bahwa dirinyalah satu-satunya orang yang tahu akan hal ini. Itu membuatnya merasa istimewa. Hanya dirinya yang tahu kemampuan Chien Wan yang sesungguhnya. Bahkan kakaknya pun tidak tahu!
Gadis kecil itu bertekad merahasiakan pengetahuannya ini dari siapa pun.
Saat suara suling lenyap, Ting Ting segera pergi. Ia tidak ingin ketahuan sedang mengintip.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 182 Episodes
Comments
Eros Hariyadi
Lanjuuuutt Thor 😝😄💪👍🙏
2024-01-14
0
Eros Hariyadi
Selalu tinggalkan jejak petualang baca 👣👣👣😄💪👍
2024-01-14
0
Jimmy Avolution
gaskeun
2023-10-26
2