Reuni

“Chien Wan?” seru salah seorang dari mereka, seorang pemuda sebaya Chien Wan.

Chien Wan tersenyum kecil. “Sen Khang,” sapanya. Ia langsung paham mengapa Sen Khang, Meng Huan, dan Ting Ting ada di sana. Mereka pasti akan menghadiri pertemuan para pendekar mewakili Tuan dan Nyonya Luo.

“Kakak Wan!” Dengan gembira, Ting Ting bergegas menghampiri Chien Wan. Sepasang mata indahnya tampak berbinar-binar. Namun langkahnya terhenti saat pandangannya tertumbuk pada gadis berpakaian keemasan yang berdiri di samping Chien Wan. Keningnya langsung berkerut.

“Nona, Meng Huan, apa kabar?” sapa Chien Wan.

Ouwyang Ping memandang ketiga orang muda itu dengan penuh minat. Jadi, mereka-lah saudara-saudara seperguruan Chien Wan sewaktu masih tinggal di Wisma Bambu.

Luo Sen Khang sebaya dengan Chien Wan. Wajahnya tampan dan berseri-seri. Ia tampak ramah dan sekaligus berwibawa. Pakaiannya berwarna putih dengan garis-garis perak. Ia tak membawa senjata apa pun, Ouwyang Ping menyimpulkan bahwa pemuda itu menguasai ilmu silat tangan kosong. Ia kelihatan amat senang bertemu kembali dengan Chien Wan.

Chi Meng Huan berpakaian warna merah kecoklatan. Ia membawa pedang dalam pegangannya. Ia merupakan pemuda yang tampan dan lembut. Kelihatannya ia sangat baik hati dan ramah, serta sangat penuh perhatian. Tipe orang yang menyenangkan untuk diajak berteman.

Walau kedua pemuda itu merupakan orang-orang yang menarik, yang paling menarik perhatian Ouwyang Ping adalah Luo Ting Ting.

Ting Ting berwajah sangat cantik dan ceria. Kecantikannya dipertajam oleh caranya berpakaian. Pakaian yang dikenakannya sangat indah bagai pakaian gadis bangsawan, warnanya merah muda. Ia membawa pedang beronce indah di tangannya. Hiasan rambutnya pun bagai seorang putri bangsawan, dengan hiasan berupa tusuk rambut mutiara dan bunga-bunga merah muda.

Namun tak ada yang lebih menarik perhatian Ouwyang Ping selain sorot mata kesal Ting Ting saat menatapnya. Memang. Setelah sekian lama berlalu, rasa suka Ting Ting terhadap Chien Wan tidak berkurang sedikit pun. Malah semakin bertambah besar. Tiada hari dilewatkannya tanpa memikirkan Chien Wan. Tentu saja sekarang ia cemburu pada keberadaan gadis di samping Chien Wan.

Chien Wan menoleh pada Ouwyang Ping. “Ping-er, mereka adalah saudara-saudara seperguruanku di Wisma Bambu.” Kemudian pandangannya beralih pada ketiga temannya. “Sen Khang, Meng Huan, dan Nona Ting Ting, ini adalah Ouwyang Ping. Dia putri tunggal Tuan Ouwyang Kuan.”

Mereka saling memberi hormat.

“Jadi, Nona adalah putri penguasa Lembah Nada?” tanya Meng Huan dengan pandangan penuh kekaguman. Sejujurnya, kecantikan gadis itu memang tak seistimewa Ting Ting, namun keanggunan penampilannya sangat menarik perhatian.

Ouwyang Ping mengangguk sambil tersenyum.

“Kalian menginap di mana?” tanya Sen Khang.

“Semua penginapan di kota ini penuh. Kami belum mendapat tempat,” aku Chien Wan.

Sen Khang mengangguk senang. “Bagus. Kalau begitu kau bisa tidur bersamaku dan Meng Huan. Nona Ouwyang bisa sekamar dengan Ting Ting. Kebetulan kami menginap di sini sejak kemarin.”

Chien Wan melirik Ouwyang Ping, meminta persetujuannya. Ouwyang Ping mengangkat bahu.

“Memang itu satu-satunya cara,” bilang gadis itu.

Sen Khang tersenyum gembira. “Ayolah kalau begitu!” ajaknya.

Chien Wan dan Ouwyang Ping mengikuti mereka menuju kamar-kamar mereka. Chien Wan berjalan beriringan dengan Sen Khang. Ia membawa dua buntalan pakaian, miliknya dan milik Ouwyang Ping. Ia memang selalu membawakan buntalan pakaian Ouwyang Ping karena tidak tega melihat gadis itu membawa benda lain di samping harpanya yang berat itu.

Ouwyang Ping berjalan di samping Ting Ting, sepenuhnya menyadari bahwa sejak tadi Ting Ting berulangkali meliriknya dengan pandangan ingin tahu.

Mereka tiba di kamar Ting Ting.

“Nah, Nona Ouwyang. Ini kamar Ting Ting. Kau istirahat saja di sini,” kata Sen Khang ramah.

“Terima kasih, Kakak Luo.” Ouwyang Ping tersenyum manis.

Sen Khang merasa jantungnya berdebar menerima senyum menawan itu ditujukan padanya. Namun ia cepat-cepat menutupi keterpesonaannya dengan senyum lebar.

Chien Wan mendekati Ouwyang Ping dan menyodorkan buntalan pakaian gadis itu.

Ouwyang Ping menerimanya dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya menggenggam harpa. “Terima kasih, Kakak Wan.”

Ting Ting memperhatikan semua itu dengan hati panas. Betapa lembutnya tatapan Ouwyang Ping pada Chien Wan! Dan betapa intimnya panggilan Chien Wan pada Ouwyang Ping! Sedang terhadapnya? Chien Wan memanggilnya nona, seolah ingin menciptakan jarak di antara mereka.

Ia membuka pintu kamarnya. Sejak tadi tak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya yang ditujukan pada Ouwyang Ping. Ia masuk mendahului Ouwyang Ping yang terdiam di depan pintu karena Ting Ting tidak mempersilakannya masuk.

Ting Ting meliriknya. “Mengapa kau diam saja? Masuklah.”

Ouwyang Ping mengangguk, lalu masuk dan menutup pintu kamar. Ia meletakkan harpanya di atas meja dan menaruh buntalan di lemari kecil, di samping buntalan Ting Ting yang berwarna merah. Lalu ia duduk di kursi dekat meja. Tangannya meraih kain sutra dari dalam saku dan mulai mengelap harpa emasnya. Ia tetap membisu karena tak tahu harus berkata apa.

Ting Ting-lah yang kemudian tak tahan dengan kesunyian itu.

“Jadi kau saudara seperguruan Kakak Wan, ya?”

Ouwyang Ping menoleh dan tersenyum. “Benar.”

“Pasti hubungan kalian erat sekali,” terka Ting Ting dengan nada cemburu yang tak bisa disembunyikan.

Ouwyang Ping merasakan kecemburuan yang demikian besar itu. Rupanya dugaannya selama ini tidak meleset. Ting Ting memang menyukai Chien Wan lebih dari perasaan seorang adik terhadap kakaknya. Ia teringat saat dirinya sendiri merasakan kecemburuan yang teramat dalam terhadap tali sutra putih yang diikatkan Ting Ting di suling Chien Wan.

“Kami... biasa latihan bersama,” jawab Ouwyang Ping hati-hati.

Ting Ting merengut. Lalu ia mengalihkan pandang ke arah harpa emas Ouwyang Ping.

“Harpamu bagus. Kelihatannya berat sekali. Apa kau tidak capek membawanya ke mana-mana?”

Ouwyang Ping menggeleng. “Bagi seorang pemusik, alat musik adalah nyawanya. Tanpa harpa ini hidupku tak ada artinya. Jika aku sampai kehilangan harpa ini, aku lebih baik mati!” jawabnya dengan nada mantap.

Ting Ting bergidik ngeri. Kesungguhan gadis ini begitu menakutkan! Sorot matanya begitu mantap dan tak ragu-ragu saat mengucapkan pernyataan tadi. Ting Ting teringat bahwa dulu ia pernah melihat sorot mata yang sama. Ya. Tiga tahun lalu saat Chien Wan berkeras untuk pergi ke Lembah Nada. Tak ada siapa pun yang bisa menggoyahkan niatnya. Chien Wan juga, sama seperti Ouwyang Ping, menganggap sulingnya sebagai nyawanya.

Suka atau tidak, Ting Ting terpaksa mengakui kecocokkan mereka.

***

“Ceritakanlah pengalamanmu, Chien Wan!” pinta Meng Huan antusias.

“Ya, bagaimana kehidupanmu di Lembah Nada?” tambah Sen Khang penuh minat.

Chien Wan mengangguk kecil. Lalu ia menceritakan semua yang telah dialaminya di Lembah Nada. Mulai dari saat kedatangannya di Lembah Nada, kemudian pertemuannya dengan seluruh penghuni Lembah Nada, sampai pertemuannya beberapa hari kemudian dengan Ouwyang Ping. Dikisahkannya pula perjumpaannya dengan Tuan Ouwyang Cu yang lalu mengangkatnya sebagai murid.

Berbagai peristiwa yang dialaminya di sana, latihan-latihannya yang berat dan aneh, penderitaannya kala melaksanakan semua latihannya. Semua itu diceritakannya pada kedua pendengarnya yang membelalakkan mata dengan takjub.

“Wuahhh!!” seru Sen Khang setelah Chien Wan mengakhiri kisahnya. “Pengalamanmu sungguh luar biasa!”

Chien Wan mengangkat bahu dengan risih. Ia tak terbiasa berbicara panjang lebar seperti itu.

“Hanya untuk melatih suling saja bisa seberat itu?” seru Meng Huan.

Chien Wan mengangguk.

“Nona Ouwyang juga berlatih seberat kau?” tanya Sen Khang.

Chien Wan mengangguk. “Hanya saja dia dilatih oleh ayahnya. Aku tidak tahu bagaimana awalnya. Saat bertemu denganku, ia sudah sangat menguasai permainan harpa. Ia cuma tinggal mendalaminya.”

Sen Khang tersenyum menggoda. “Hubunganmu dengannya sangat erat, bukan?”

“Apa maksudmu?” Chien Wan kaget digoda begitu.

“Ah, ayolah! Jangan pura-pura,” senyum Sen Khang. “Kaupikir aku buta sehingga tak bisa melihat sikap kalian? Dia kelihatan sayang sekali padamu. Kau juga begitu penuh perhatian padanya!”

Chien Wan diam saja.

“Aku tahu itu!” seru Sen Khang sambil tergelak penuh kemenangan. “Iya, kan?” usiknya sambil menyodok lengan Chien Wan penuh canda.

Chien Wan melirik sekilas. “Katanya sudah tahu, mengapa masih tanya?”

“Wah! Kau benar-benar beruntung,” puji Sen Khang sambil menggaruk-garuk keningnya.

Meng Huan memandang Chien Wan dengan serius, sama sekali tidak tersenyum. “Lantas, Ting Ting bagaimana?”

Chien Wan kaget. “Maksudmu?”

Meng Huan mendecak. “Kau ini!” sergahnya. “Kau kan tahu, sejak dulu Ting Ting menyukaimu. Sekarang kau berhubungan dengan gadis lain. Bagaimana perasaannya kalau dia tahu?”

Chien Wan terdiam. Ia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Sejak dahulu ia tak pernah menyukai Ting Ting lebih dari sekadar adik. Ia tidak memiliki perasaan romantis sedikit pun terhadap Ting Ting.

“Chien Wan, kenapa diam saja?” kata Meng Huan kesal.

“Kau mau dengar pengalaman kami, Chien Wan?” sela Sen Khang cepat-cepat. Ia tak mau mereka bertengkar saat mereka baru saja berjumpa lagi.

Chien Wan mengangguk lega. Meng Huan agak kesal, namun tidak membantah.

“Setelah kau pergi ke Lembah Nada, kami berlatih di bawah bimbingan ayahku. Namun ayahku merasa ilmu yang diajarkannya masih belum cukup. Saat itulah kami kedatangan seorang pendekar tua yang ternyata masih satu perguruan dengan ayahku. Beliau masih terhitung paman guru ayahku. Kami bertiga diangkatnya menjadi muridnya.

“Guru melatih kami sesuai dengan bakat kami. Aku dilatih dengan ilmu tangan kosong karena Guru bilang aku memiliki tenaga yang kuat. Sedangkan Meng Huan dan Ting Ting diajari ilmu pedang, karena mereka lincah.

“Guru tinggal di Wisma Bambu selama hampir dua tahun untuk melatih kami. Setelah itu beliau pergi. Beliau terbiasa berkelana dan tak kerasan jika harus lama-lama di satu tempat. Beliau bilang, dua tahun menetap di satu tempat merupakan keajaiban untuknya.” Sen Khang mengakhiri ceritanya sambil tertawa terkekeh-kekeh.

“Guru orang yang periang dan lucu,” sambung Meng Huan, yang agaknya sudah melupakan kekesalan hatinya. “Kami semua menyayanginya. Sayang sekali kau tidak ikut belajar darinya.”

“O ya. Kau ke sini untuk menghadiri pertemuan para pendekar, bukan?” sela Sen Khang.

Chien Wan mengangguk. “Guruku menyuruh kami mewakili Lembah Nada.”

“Kalau begitu sama. Ayahku juga berhalangan, jadi kami yang disuruh pergi. Kebetulan, sejak dulu aku ingin bertemu dengan Ketua Persilatan. Kauingat, Chien Wan? Dulu kita pernah berpapasan dengannya di kedai teh?” kenang Sen Khang.

Chien Wan mengangguk.

“Kapan?” tanya Meng Huan penuh minat.

“Dulu, sewaktu... kau pulang untuk menghadiri pemakaman ayahmu,” ujar Sen Khang hati-hati.

Wajah Meng Huan agak suram mengenang kejadian menyedihkan itu.

“Apa kabar Paman khung?” tanya Chien Wan.

“Paman Khung baik-baik saja. Dia masih tetap pendiam seperti dulu. Tidak mau bicara jika tak ada yang penting,” bilang Meng Huan.

“Persis kau!”

Celetukan Sen Khang membuat tawa Meng Huan meledak.

“Apa kabar Tuan dan Nyonya?”

“Baik. Mereka sehat-sehat saja.”

“Dan... bibimu?”

Tawa Sen Khang lenyap. Keningnya berkerut saat teringat tugas yang diberikan ayahnya pada Chien Wan. Tugas rahasia yang tak ada seorang pun yang tahu selain Chien Wan, ayahnya, Paman Khung, dan dia sendiri. Ia tak mungkin bertanya tentang tugas itu di hadapan Meng Huan karena mereka tak ingin siapa pun tahu.

“Masih sama,” ucapnya pelan.

Meng Huan tak merasa curiga. Ia tahu soal Luo Sui She. Menurutnya tak ada yang aneh jika Chien Wan menanyakan keadaan Sui She. Bagaimana pun Chien Wan pernah tinggal di Wisma Bambu, jadi pasti memiliki keprihatinan juga terhadap seluruh penghuninya.

Bersambung.

Terpopuler

Comments

Atek Jong

Atek Jong

waktu itu belum ada cincin ruang ya. pantesan pake buntelan segala/Grievance/

2024-08-10

0

Eros Hariyadi

Eros Hariyadi

Lanjuuuutt Thor...😝😄💪👍🙏

2024-01-15

0

Eros Hariyadi

Eros Hariyadi

Bagaimana tuuhh... menyelesaikan cinta segitiga tanpa harus merusak tali persahabatan diantara mereka...😄😝💪👍👍👍

2024-01-15

0

lihat semua
Episodes
1 Wisma Bambu
2 Paviliun Taman Belakang
3 Paman Khung
4 Chi Meng Huan
5 Suling Bambu Hitam
6 Ting Ting Diculik
7 Ketua Persilatan
8 Misi ke Lembah Nada
9 Empat Tambur Perak
10 Ouwyang Ping
11 Diangkat Menjadi Murid
12 Latihan Keras
13 Dilema Cinta Pertama
14 Bahagia di Lembah Nada
15 Berpetualang Bersama
16 Tiba di Kota Lok Yang
17 Reuni
18 Pertemuan Para Pendekar
19 Tuan Muda Chang
20 Penampilan Perdana
21 Hati ke Hati
22 Hati yang Luka
23 Di Bukit Merak
24 Dewa Seribu Wajah
25 Mencari Chi Meng Huan
26 Terperangkap
27 Rencana Chang Fei Yu
28 Kelelawar Hitam
29 Bebas
30 Melarikan Diri
31 Pertarungan
32 Pertarungan di Perbatasan
33 Menuju Wisma Bambu
34 Berjumpa Paman Khung
35 Penolakan Paman Khung
36 Kemball ke Lembah Nada
37 Pulang
38 Paman Khung Sakit Keras
39 Menuju Wisma Bambu
40 Mengurus Paman Khung
41 Luo Sui She Sembuh!
42 Ibu?
43 Leontin Penguak Rahasia
44 Terkuaknya Rahasia Masa Lalu
45 Dia Adikku
46 Berpisah
47 Kewajiban
48 Merindukannya
49 Harpa Kencana
50 Masa Lalu Sung Cen I
51 Masa Lalu Sung Cen II
52 Masa Lalu Sung Cen III
53 Keputusan A Ming
54 Dua Tahun Kemudian
55 Partai Kupu-Kupu
56 Luo Sen Khang Bertemu Ouwyang Ping
57 Pulang ke Lembah Nada
58 Kenangan Masa Silam
59 Reuni Dengan Sung Siu Hung
60 Di Lembah Nada
61 Cemburu
62 Rencana Tuan Ouwyang Cu
63 Berseteru
64 Perjodohan
65 Amarah Chang Fei Yu
66 Perjalanan Luo Sen Khang dan Ouwyang Ping
67 Di Partai Kupu Kupu
68 Pengkhianatan Cheng Sam
69 Penyelidikan
70 Berita Tentang Bukit Merak
71 Berselisih Jalan
72 Awal Bencana
73 Prahara di Wisma Bambu
74 Amarah dan Nestapa
75 Duka Hati Chien Wan
76 Wisma Bambu Berkabung
77 Kebencian dan Amarah
78 Isu di Dunia Persilatan
79 Berpisah Dengan Kui Fang
80 Wu Kui Fang Mencari Bukti
81 Rencana Pendekar Sung
82 Ke Lembah Nada
83 Ouwyang Kuan dan Luo Sui She ke Wisma Bambu
84 Mencari Kamus Silat Tung Pei
85 Orangtua Chien Wan Disandera
86 Luo Sen Khang Gusar
87 Para Pendekar di Wisma Bambu
88 Luo Sen Khang Menyandera Ouwyang Ping
89 Luo Sen Khang Terjebak
90 Dua Luo Sen Khang
91 Derita Luo Ting Ting
92 Penyesalan Luo Sen Khang
93 Pertengkaran Dua Pecinta
94 Luo Ting Ting Mengandung
95 Wu Kui Fang Bertemu Chien Wan
96 Di Partai Kupu Kupu
97 Wu Kui Fang Diculik
98 Selamat
99 Mendiskusikan Bukti yang Didapat
100 Cheng Sam Kembali Berulah
101 Upaya Mencari Jejak Cheng Sam
102 Hati yang Berbunga
103 Perguruan Elang Merah
104 Keluarga Kam
105 Cheng Sam Kembali Lolos
106 Masa Lalu Cheng Sam
107 Niat Luo Sui She
108 Kedatangan Chien Wan
109 Kasih Persaudaraan
110 Kesalahpahaman
111 Kegelisahan Wu Kui Fang
112 Kisah Masa Lalu
113 Rencana Pertunangan
114 Cinta Chi Meng Huan
115 Dua Hati Menyatu
116 Perjanjian di Kotaraja
117 Perjalanan Chang Fei Yu
118 Kabar Pernikahan Luo Ting Ting
119 Kedatangan Tuan Ouwyang Cu
120 Kehamilan A Ming
121 Musuh yang Sebenarnya
122 Kebencian yang Mendalam
123 Chien Wan Terluka
124 Ketulusan Hati Chang Fei Yu
125 Chien Wan Sadarkan Diri
126 Rencana Keberangkatan
127 Menuju Pulau Ginseng
128 Guru Chi Meng Huan
129 Tiba di Pulau Ginseng
130 Menetap Sementara di Pulau Ginseng
131 Berlatih di Pulau Ginseng
132 Chien Wan Sembuh
133 Janji Tuan Ouwyang Cu
134 Bakat Sung Siu Hung
135 Kesedihan A Ming
136 Derita Luo Ting Ting
137 Tuan Chang Mengunjungi Putranya
138 Chang Fei Yu Melamar
139 Hari-Hari Bahagia di Pulau Ginseng
140 Buah Dewa
141 Janji Tuan Ouwyang Cu
142 Pulang
143 Pernikahan
144 Amarah Chi Meng Huan
145 Penyusup
146 Masalah di Partai Kupu-Kupu
147 Wu Kui Fang Membela Sam Hui
148 Sam Hui Diserang
149 Pertemuan Tahunan
150 Pengkhianatan Wie Yun Cun
151 Kemunculan Para Pendekar
152 Pertempuran
153 Luo Sen Khang Galau
154 Ketua Persilatan Mengundurkan Diri
155 Tuan Ouwyang Melamar
156 Kelelawar Hitam Membawa Berita
157 Chi Sien Lung
158 Kelahiran Anak Ting Ting
159 Menjenguk Ting Ting
160 Meninggalkan Partai Kupu-Kupu
161 Bukit Ayam Emas
162 Nyaris Celaka
163 Serangan Chi Meng Huan
164 Ketua Persilatan yang Baru
165 Kembali ke Wisma Bambu
166 A Ming Melarikan Diri
167 A Ming Terkena Racun
168 Peringatan Setahun Kematian Tuan dan Nyonya Luo
169 A Ming Pergi
170 Bencana di Partai Kupu-Kupu
171 Duka yang Mendalam
172 Kelelawar Hitam
173 Chang Yi Hang Diculik
174 Usaha Pencarian
175 Menitipkan Sien Lung
176 Pertempuran
177 Tuan Ouwyang Cu Tewas
178 Terbersit Penyesalan
179 Akhir Hidup Chi Meng Huan
180 Pernikahan di Lembah Nada (End)
181 Terima Kasih
182 Epilog
Episodes

Updated 182 Episodes

1
Wisma Bambu
2
Paviliun Taman Belakang
3
Paman Khung
4
Chi Meng Huan
5
Suling Bambu Hitam
6
Ting Ting Diculik
7
Ketua Persilatan
8
Misi ke Lembah Nada
9
Empat Tambur Perak
10
Ouwyang Ping
11
Diangkat Menjadi Murid
12
Latihan Keras
13
Dilema Cinta Pertama
14
Bahagia di Lembah Nada
15
Berpetualang Bersama
16
Tiba di Kota Lok Yang
17
Reuni
18
Pertemuan Para Pendekar
19
Tuan Muda Chang
20
Penampilan Perdana
21
Hati ke Hati
22
Hati yang Luka
23
Di Bukit Merak
24
Dewa Seribu Wajah
25
Mencari Chi Meng Huan
26
Terperangkap
27
Rencana Chang Fei Yu
28
Kelelawar Hitam
29
Bebas
30
Melarikan Diri
31
Pertarungan
32
Pertarungan di Perbatasan
33
Menuju Wisma Bambu
34
Berjumpa Paman Khung
35
Penolakan Paman Khung
36
Kemball ke Lembah Nada
37
Pulang
38
Paman Khung Sakit Keras
39
Menuju Wisma Bambu
40
Mengurus Paman Khung
41
Luo Sui She Sembuh!
42
Ibu?
43
Leontin Penguak Rahasia
44
Terkuaknya Rahasia Masa Lalu
45
Dia Adikku
46
Berpisah
47
Kewajiban
48
Merindukannya
49
Harpa Kencana
50
Masa Lalu Sung Cen I
51
Masa Lalu Sung Cen II
52
Masa Lalu Sung Cen III
53
Keputusan A Ming
54
Dua Tahun Kemudian
55
Partai Kupu-Kupu
56
Luo Sen Khang Bertemu Ouwyang Ping
57
Pulang ke Lembah Nada
58
Kenangan Masa Silam
59
Reuni Dengan Sung Siu Hung
60
Di Lembah Nada
61
Cemburu
62
Rencana Tuan Ouwyang Cu
63
Berseteru
64
Perjodohan
65
Amarah Chang Fei Yu
66
Perjalanan Luo Sen Khang dan Ouwyang Ping
67
Di Partai Kupu Kupu
68
Pengkhianatan Cheng Sam
69
Penyelidikan
70
Berita Tentang Bukit Merak
71
Berselisih Jalan
72
Awal Bencana
73
Prahara di Wisma Bambu
74
Amarah dan Nestapa
75
Duka Hati Chien Wan
76
Wisma Bambu Berkabung
77
Kebencian dan Amarah
78
Isu di Dunia Persilatan
79
Berpisah Dengan Kui Fang
80
Wu Kui Fang Mencari Bukti
81
Rencana Pendekar Sung
82
Ke Lembah Nada
83
Ouwyang Kuan dan Luo Sui She ke Wisma Bambu
84
Mencari Kamus Silat Tung Pei
85
Orangtua Chien Wan Disandera
86
Luo Sen Khang Gusar
87
Para Pendekar di Wisma Bambu
88
Luo Sen Khang Menyandera Ouwyang Ping
89
Luo Sen Khang Terjebak
90
Dua Luo Sen Khang
91
Derita Luo Ting Ting
92
Penyesalan Luo Sen Khang
93
Pertengkaran Dua Pecinta
94
Luo Ting Ting Mengandung
95
Wu Kui Fang Bertemu Chien Wan
96
Di Partai Kupu Kupu
97
Wu Kui Fang Diculik
98
Selamat
99
Mendiskusikan Bukti yang Didapat
100
Cheng Sam Kembali Berulah
101
Upaya Mencari Jejak Cheng Sam
102
Hati yang Berbunga
103
Perguruan Elang Merah
104
Keluarga Kam
105
Cheng Sam Kembali Lolos
106
Masa Lalu Cheng Sam
107
Niat Luo Sui She
108
Kedatangan Chien Wan
109
Kasih Persaudaraan
110
Kesalahpahaman
111
Kegelisahan Wu Kui Fang
112
Kisah Masa Lalu
113
Rencana Pertunangan
114
Cinta Chi Meng Huan
115
Dua Hati Menyatu
116
Perjanjian di Kotaraja
117
Perjalanan Chang Fei Yu
118
Kabar Pernikahan Luo Ting Ting
119
Kedatangan Tuan Ouwyang Cu
120
Kehamilan A Ming
121
Musuh yang Sebenarnya
122
Kebencian yang Mendalam
123
Chien Wan Terluka
124
Ketulusan Hati Chang Fei Yu
125
Chien Wan Sadarkan Diri
126
Rencana Keberangkatan
127
Menuju Pulau Ginseng
128
Guru Chi Meng Huan
129
Tiba di Pulau Ginseng
130
Menetap Sementara di Pulau Ginseng
131
Berlatih di Pulau Ginseng
132
Chien Wan Sembuh
133
Janji Tuan Ouwyang Cu
134
Bakat Sung Siu Hung
135
Kesedihan A Ming
136
Derita Luo Ting Ting
137
Tuan Chang Mengunjungi Putranya
138
Chang Fei Yu Melamar
139
Hari-Hari Bahagia di Pulau Ginseng
140
Buah Dewa
141
Janji Tuan Ouwyang Cu
142
Pulang
143
Pernikahan
144
Amarah Chi Meng Huan
145
Penyusup
146
Masalah di Partai Kupu-Kupu
147
Wu Kui Fang Membela Sam Hui
148
Sam Hui Diserang
149
Pertemuan Tahunan
150
Pengkhianatan Wie Yun Cun
151
Kemunculan Para Pendekar
152
Pertempuran
153
Luo Sen Khang Galau
154
Ketua Persilatan Mengundurkan Diri
155
Tuan Ouwyang Melamar
156
Kelelawar Hitam Membawa Berita
157
Chi Sien Lung
158
Kelahiran Anak Ting Ting
159
Menjenguk Ting Ting
160
Meninggalkan Partai Kupu-Kupu
161
Bukit Ayam Emas
162
Nyaris Celaka
163
Serangan Chi Meng Huan
164
Ketua Persilatan yang Baru
165
Kembali ke Wisma Bambu
166
A Ming Melarikan Diri
167
A Ming Terkena Racun
168
Peringatan Setahun Kematian Tuan dan Nyonya Luo
169
A Ming Pergi
170
Bencana di Partai Kupu-Kupu
171
Duka yang Mendalam
172
Kelelawar Hitam
173
Chang Yi Hang Diculik
174
Usaha Pencarian
175
Menitipkan Sien Lung
176
Pertempuran
177
Tuan Ouwyang Cu Tewas
178
Terbersit Penyesalan
179
Akhir Hidup Chi Meng Huan
180
Pernikahan di Lembah Nada (End)
181
Terima Kasih
182
Epilog

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!