“Chien Wan?” seru salah seorang dari mereka, seorang pemuda sebaya Chien Wan.
Chien Wan tersenyum kecil. “Sen Khang,” sapanya. Ia langsung paham mengapa Sen Khang, Meng Huan, dan Ting Ting ada di sana. Mereka pasti akan menghadiri pertemuan para pendekar mewakili Tuan dan Nyonya Luo.
“Kakak Wan!” Dengan gembira, Ting Ting bergegas menghampiri Chien Wan. Sepasang mata indahnya tampak berbinar-binar. Namun langkahnya terhenti saat pandangannya tertumbuk pada gadis berpakaian keemasan yang berdiri di samping Chien Wan. Keningnya langsung berkerut.
“Nona, Meng Huan, apa kabar?” sapa Chien Wan.
Ouwyang Ping memandang ketiga orang muda itu dengan penuh minat. Jadi, mereka-lah saudara-saudara seperguruan Chien Wan sewaktu masih tinggal di Wisma Bambu.
Luo Sen Khang sebaya dengan Chien Wan. Wajahnya tampan dan berseri-seri. Ia tampak ramah dan sekaligus berwibawa. Pakaiannya berwarna putih dengan garis-garis perak. Ia tak membawa senjata apa pun, Ouwyang Ping menyimpulkan bahwa pemuda itu menguasai ilmu silat tangan kosong. Ia kelihatan amat senang bertemu kembali dengan Chien Wan.
Chi Meng Huan berpakaian warna merah kecoklatan. Ia membawa pedang dalam pegangannya. Ia merupakan pemuda yang tampan dan lembut. Kelihatannya ia sangat baik hati dan ramah, serta sangat penuh perhatian. Tipe orang yang menyenangkan untuk diajak berteman.
Walau kedua pemuda itu merupakan orang-orang yang menarik, yang paling menarik perhatian Ouwyang Ping adalah Luo Ting Ting.
Ting Ting berwajah sangat cantik dan ceria. Kecantikannya dipertajam oleh caranya berpakaian. Pakaian yang dikenakannya sangat indah bagai pakaian gadis bangsawan, warnanya merah muda. Ia membawa pedang beronce indah di tangannya. Hiasan rambutnya pun bagai seorang putri bangsawan, dengan hiasan berupa tusuk rambut mutiara dan bunga-bunga merah muda.
Namun tak ada yang lebih menarik perhatian Ouwyang Ping selain sorot mata kesal Ting Ting saat menatapnya. Memang. Setelah sekian lama berlalu, rasa suka Ting Ting terhadap Chien Wan tidak berkurang sedikit pun. Malah semakin bertambah besar. Tiada hari dilewatkannya tanpa memikirkan Chien Wan. Tentu saja sekarang ia cemburu pada keberadaan gadis di samping Chien Wan.
Chien Wan menoleh pada Ouwyang Ping. “Ping-er, mereka adalah saudara-saudara seperguruanku di Wisma Bambu.” Kemudian pandangannya beralih pada ketiga temannya. “Sen Khang, Meng Huan, dan Nona Ting Ting, ini adalah Ouwyang Ping. Dia putri tunggal Tuan Ouwyang Kuan.”
Mereka saling memberi hormat.
“Jadi, Nona adalah putri penguasa Lembah Nada?” tanya Meng Huan dengan pandangan penuh kekaguman. Sejujurnya, kecantikan gadis itu memang tak seistimewa Ting Ting, namun keanggunan penampilannya sangat menarik perhatian.
Ouwyang Ping mengangguk sambil tersenyum.
“Kalian menginap di mana?” tanya Sen Khang.
“Semua penginapan di kota ini penuh. Kami belum mendapat tempat,” aku Chien Wan.
Sen Khang mengangguk senang. “Bagus. Kalau begitu kau bisa tidur bersamaku dan Meng Huan. Nona Ouwyang bisa sekamar dengan Ting Ting. Kebetulan kami menginap di sini sejak kemarin.”
Chien Wan melirik Ouwyang Ping, meminta persetujuannya. Ouwyang Ping mengangkat bahu.
“Memang itu satu-satunya cara,” bilang gadis itu.
Sen Khang tersenyum gembira. “Ayolah kalau begitu!” ajaknya.
Chien Wan dan Ouwyang Ping mengikuti mereka menuju kamar-kamar mereka. Chien Wan berjalan beriringan dengan Sen Khang. Ia membawa dua buntalan pakaian, miliknya dan milik Ouwyang Ping. Ia memang selalu membawakan buntalan pakaian Ouwyang Ping karena tidak tega melihat gadis itu membawa benda lain di samping harpanya yang berat itu.
Ouwyang Ping berjalan di samping Ting Ting, sepenuhnya menyadari bahwa sejak tadi Ting Ting berulangkali meliriknya dengan pandangan ingin tahu.
Mereka tiba di kamar Ting Ting.
“Nah, Nona Ouwyang. Ini kamar Ting Ting. Kau istirahat saja di sini,” kata Sen Khang ramah.
“Terima kasih, Kakak Luo.” Ouwyang Ping tersenyum manis.
Sen Khang merasa jantungnya berdebar menerima senyum menawan itu ditujukan padanya. Namun ia cepat-cepat menutupi keterpesonaannya dengan senyum lebar.
Chien Wan mendekati Ouwyang Ping dan menyodorkan buntalan pakaian gadis itu.
Ouwyang Ping menerimanya dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya menggenggam harpa. “Terima kasih, Kakak Wan.”
Ting Ting memperhatikan semua itu dengan hati panas. Betapa lembutnya tatapan Ouwyang Ping pada Chien Wan! Dan betapa intimnya panggilan Chien Wan pada Ouwyang Ping! Sedang terhadapnya? Chien Wan memanggilnya nona, seolah ingin menciptakan jarak di antara mereka.
Ia membuka pintu kamarnya. Sejak tadi tak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya yang ditujukan pada Ouwyang Ping. Ia masuk mendahului Ouwyang Ping yang terdiam di depan pintu karena Ting Ting tidak mempersilakannya masuk.
Ting Ting meliriknya. “Mengapa kau diam saja? Masuklah.”
Ouwyang Ping mengangguk, lalu masuk dan menutup pintu kamar. Ia meletakkan harpanya di atas meja dan menaruh buntalan di lemari kecil, di samping buntalan Ting Ting yang berwarna merah. Lalu ia duduk di kursi dekat meja. Tangannya meraih kain sutra dari dalam saku dan mulai mengelap harpa emasnya. Ia tetap membisu karena tak tahu harus berkata apa.
Ting Ting-lah yang kemudian tak tahan dengan kesunyian itu.
“Jadi kau saudara seperguruan Kakak Wan, ya?”
Ouwyang Ping menoleh dan tersenyum. “Benar.”
“Pasti hubungan kalian erat sekali,” terka Ting Ting dengan nada cemburu yang tak bisa disembunyikan.
Ouwyang Ping merasakan kecemburuan yang demikian besar itu. Rupanya dugaannya selama ini tidak meleset. Ting Ting memang menyukai Chien Wan lebih dari perasaan seorang adik terhadap kakaknya. Ia teringat saat dirinya sendiri merasakan kecemburuan yang teramat dalam terhadap tali sutra putih yang diikatkan Ting Ting di suling Chien Wan.
“Kami... biasa latihan bersama,” jawab Ouwyang Ping hati-hati.
Ting Ting merengut. Lalu ia mengalihkan pandang ke arah harpa emas Ouwyang Ping.
“Harpamu bagus. Kelihatannya berat sekali. Apa kau tidak capek membawanya ke mana-mana?”
Ouwyang Ping menggeleng. “Bagi seorang pemusik, alat musik adalah nyawanya. Tanpa harpa ini hidupku tak ada artinya. Jika aku sampai kehilangan harpa ini, aku lebih baik mati!” jawabnya dengan nada mantap.
Ting Ting bergidik ngeri. Kesungguhan gadis ini begitu menakutkan! Sorot matanya begitu mantap dan tak ragu-ragu saat mengucapkan pernyataan tadi. Ting Ting teringat bahwa dulu ia pernah melihat sorot mata yang sama. Ya. Tiga tahun lalu saat Chien Wan berkeras untuk pergi ke Lembah Nada. Tak ada siapa pun yang bisa menggoyahkan niatnya. Chien Wan juga, sama seperti Ouwyang Ping, menganggap sulingnya sebagai nyawanya.
Suka atau tidak, Ting Ting terpaksa mengakui kecocokkan mereka.
***
“Ceritakanlah pengalamanmu, Chien Wan!” pinta Meng Huan antusias.
“Ya, bagaimana kehidupanmu di Lembah Nada?” tambah Sen Khang penuh minat.
Chien Wan mengangguk kecil. Lalu ia menceritakan semua yang telah dialaminya di Lembah Nada. Mulai dari saat kedatangannya di Lembah Nada, kemudian pertemuannya dengan seluruh penghuni Lembah Nada, sampai pertemuannya beberapa hari kemudian dengan Ouwyang Ping. Dikisahkannya pula perjumpaannya dengan Tuan Ouwyang Cu yang lalu mengangkatnya sebagai murid.
Berbagai peristiwa yang dialaminya di sana, latihan-latihannya yang berat dan aneh, penderitaannya kala melaksanakan semua latihannya. Semua itu diceritakannya pada kedua pendengarnya yang membelalakkan mata dengan takjub.
“Wuahhh!!” seru Sen Khang setelah Chien Wan mengakhiri kisahnya. “Pengalamanmu sungguh luar biasa!”
Chien Wan mengangkat bahu dengan risih. Ia tak terbiasa berbicara panjang lebar seperti itu.
“Hanya untuk melatih suling saja bisa seberat itu?” seru Meng Huan.
Chien Wan mengangguk.
“Nona Ouwyang juga berlatih seberat kau?” tanya Sen Khang.
Chien Wan mengangguk. “Hanya saja dia dilatih oleh ayahnya. Aku tidak tahu bagaimana awalnya. Saat bertemu denganku, ia sudah sangat menguasai permainan harpa. Ia cuma tinggal mendalaminya.”
Sen Khang tersenyum menggoda. “Hubunganmu dengannya sangat erat, bukan?”
“Apa maksudmu?” Chien Wan kaget digoda begitu.
“Ah, ayolah! Jangan pura-pura,” senyum Sen Khang. “Kaupikir aku buta sehingga tak bisa melihat sikap kalian? Dia kelihatan sayang sekali padamu. Kau juga begitu penuh perhatian padanya!”
Chien Wan diam saja.
“Aku tahu itu!” seru Sen Khang sambil tergelak penuh kemenangan. “Iya, kan?” usiknya sambil menyodok lengan Chien Wan penuh canda.
Chien Wan melirik sekilas. “Katanya sudah tahu, mengapa masih tanya?”
“Wah! Kau benar-benar beruntung,” puji Sen Khang sambil menggaruk-garuk keningnya.
Meng Huan memandang Chien Wan dengan serius, sama sekali tidak tersenyum. “Lantas, Ting Ting bagaimana?”
Chien Wan kaget. “Maksudmu?”
Meng Huan mendecak. “Kau ini!” sergahnya. “Kau kan tahu, sejak dulu Ting Ting menyukaimu. Sekarang kau berhubungan dengan gadis lain. Bagaimana perasaannya kalau dia tahu?”
Chien Wan terdiam. Ia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Sejak dahulu ia tak pernah menyukai Ting Ting lebih dari sekadar adik. Ia tidak memiliki perasaan romantis sedikit pun terhadap Ting Ting.
“Chien Wan, kenapa diam saja?” kata Meng Huan kesal.
“Kau mau dengar pengalaman kami, Chien Wan?” sela Sen Khang cepat-cepat. Ia tak mau mereka bertengkar saat mereka baru saja berjumpa lagi.
Chien Wan mengangguk lega. Meng Huan agak kesal, namun tidak membantah.
“Setelah kau pergi ke Lembah Nada, kami berlatih di bawah bimbingan ayahku. Namun ayahku merasa ilmu yang diajarkannya masih belum cukup. Saat itulah kami kedatangan seorang pendekar tua yang ternyata masih satu perguruan dengan ayahku. Beliau masih terhitung paman guru ayahku. Kami bertiga diangkatnya menjadi muridnya.
“Guru melatih kami sesuai dengan bakat kami. Aku dilatih dengan ilmu tangan kosong karena Guru bilang aku memiliki tenaga yang kuat. Sedangkan Meng Huan dan Ting Ting diajari ilmu pedang, karena mereka lincah.
“Guru tinggal di Wisma Bambu selama hampir dua tahun untuk melatih kami. Setelah itu beliau pergi. Beliau terbiasa berkelana dan tak kerasan jika harus lama-lama di satu tempat. Beliau bilang, dua tahun menetap di satu tempat merupakan keajaiban untuknya.” Sen Khang mengakhiri ceritanya sambil tertawa terkekeh-kekeh.
“Guru orang yang periang dan lucu,” sambung Meng Huan, yang agaknya sudah melupakan kekesalan hatinya. “Kami semua menyayanginya. Sayang sekali kau tidak ikut belajar darinya.”
“O ya. Kau ke sini untuk menghadiri pertemuan para pendekar, bukan?” sela Sen Khang.
Chien Wan mengangguk. “Guruku menyuruh kami mewakili Lembah Nada.”
“Kalau begitu sama. Ayahku juga berhalangan, jadi kami yang disuruh pergi. Kebetulan, sejak dulu aku ingin bertemu dengan Ketua Persilatan. Kauingat, Chien Wan? Dulu kita pernah berpapasan dengannya di kedai teh?” kenang Sen Khang.
Chien Wan mengangguk.
“Kapan?” tanya Meng Huan penuh minat.
“Dulu, sewaktu... kau pulang untuk menghadiri pemakaman ayahmu,” ujar Sen Khang hati-hati.
Wajah Meng Huan agak suram mengenang kejadian menyedihkan itu.
“Apa kabar Paman khung?” tanya Chien Wan.
“Paman Khung baik-baik saja. Dia masih tetap pendiam seperti dulu. Tidak mau bicara jika tak ada yang penting,” bilang Meng Huan.
“Persis kau!”
Celetukan Sen Khang membuat tawa Meng Huan meledak.
“Apa kabar Tuan dan Nyonya?”
“Baik. Mereka sehat-sehat saja.”
“Dan... bibimu?”
Tawa Sen Khang lenyap. Keningnya berkerut saat teringat tugas yang diberikan ayahnya pada Chien Wan. Tugas rahasia yang tak ada seorang pun yang tahu selain Chien Wan, ayahnya, Paman Khung, dan dia sendiri. Ia tak mungkin bertanya tentang tugas itu di hadapan Meng Huan karena mereka tak ingin siapa pun tahu.
“Masih sama,” ucapnya pelan.
Meng Huan tak merasa curiga. Ia tahu soal Luo Sui She. Menurutnya tak ada yang aneh jika Chien Wan menanyakan keadaan Sui She. Bagaimana pun Chien Wan pernah tinggal di Wisma Bambu, jadi pasti memiliki keprihatinan juga terhadap seluruh penghuninya.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 182 Episodes
Comments
Atek Jong
waktu itu belum ada cincin ruang ya. pantesan pake buntelan segala/Grievance/
2024-08-10
0
Eros Hariyadi
Lanjuuuutt Thor...😝😄💪👍🙏
2024-01-15
0
Eros Hariyadi
Bagaimana tuuhh... menyelesaikan cinta segitiga tanpa harus merusak tali persahabatan diantara mereka...😄😝💪👍👍👍
2024-01-15
0