Dilema Cinta Pertama

Semenjak peristiwa malam itu, Ouwyang Ping menjadi sering melamun. Ia juga menjauhi Chien Wan. Ia berpikir, jika Chien Wan menyukai gadis lain tak ada gunanya ia berada di dekat Chien Wan. Semakin ada di dekat Chien Wan, ia tak akan bisa melepas Chien Wan. Jadi sebaiknya sejak sekarang ia menjauhinya.

Chien Wan sedih sekali karena gadis itu menjauhinya. Ia mengira Ouwyang Ping sudah muak padanya. Ia tak berani mendekati gadis itu. Lagi pula ia tak berharap terlalu jauh. Gadis itu putri penguasa Lembah Nada, sedangkan dirinya hanya seorang pemuda tanpa asal-usul. Bagaimana mungkin ia begitu lancang?

Jauh dari Ouyang Ping membuat Chien Wan tak bersemangat latihan. Hal ini tak luput dari pengawasan Tuan Ouwyang Cu.

“Huh!” dengusnya. “Inilah yang membuatku kesal kalau mempunyai murid remaja ingusan. Latihannya selalu terganggu oleh masalah asmara!”

Chien Wan menatap kaget. “Guru, aku tidak....” Ia mencoba membantah, namun ditukas oleh gurunya, “Kaupikir bisa membohongiku, ha? Kau malas latihan, konsentrasimu selalu terganggu, dan kau jadi sering melamun. Hal yang sama terjadi juga pada Ping-er. Ayya...! Kalian ini memang sudah keterlaluan!” omel Tuan Ouwyang Cu sengit.

Wajah Chien Wan memerah. “Guru....”

“Sudah! Sudah!” potong Tuan Ouwyang Cu. “Selama masalahmu dengan Ping-er belum selesai, kau jangan datang ke sini!”

Chien Wan diam sambil memegangi sulingnya. Ia bingung mendengar kata-kata gurunya, tak tahu harus berbuat apa. Ia berdiri terpaku bagai orang dungu.

Tuan Ouwyang Cu mendecak kesal. “Tunggu apa lagi? Pergi sana!” usirnya.

Chien Wan kaget, lalu cepat-cepat pergi.

“Merepotkan saja....” gerutu Tuan Ouwyang Cu.

Chien Wan pergi meninggalkan gurunya. Ia sangat pusing memikirkan bagaimana cara menyelesaikan masalah ini. Bagaimana sebaiknya cara yang tepat untuk mendekati Ouwyang Ping tanpa menyinggung perasaannya?

Dan sesungguhnya, bukan hanya masalah Ouwyang Ping saja yang membuatnya pusing. Sudah setahun lebih ia tinggal di Lembah Nada, namun ia belum berhasil mendapatkan informasi tentang kejadian yang menimpa Luo Sui She. Ia tidak pernah berhasil mengorek kisah itu. Para pelayan senior sangat tertutup dan pelayan lainnya baru bekerja selama beberapa tahun saja. Ditambah lagi ia bukan orang yang pintar mengorek keterangan.

Sambil menarik napas, Chien Wan duduk di bangku taman. Ia termenung.

“Chien Wan, kenapa melamun?”

Chien Wan tersentak dan menatap asal suara. Ternyata salah satu dari Empat Tambur Perak, Kam Sien. Selama ini ia jarang mengobrol dengan Empat Tambur Perak. Mereka bertugas menjaga gerbang, jadi jarang pergi ke rumah induk.

“Kakak Kam.” Chien Wan berdiri.

“Duduk lagi saja. Aku juga mau duduk di sini sebentar,” bilang Kam Sien. Ia menghenyakkan bokong gemuknya di bangku taman dekat Chien Wan. Di antara Empat Tambur Perak, Kam Sien punya bobot tubuh paling berat dan sifatnya paling periang. Ia juga senang mengoceh.

“Kakak Kam tidak bertugas?” tanya Chien Wan.

“Hoahh!” Kam Sien menguap. “Sedang istirahat, A Kim kusuruh menjaga gerbang sebentar. Tapi kau jangan bilang-bilang Tuan Besar, ya?” Ia mengedip jahil.

Chien Wan tersenyum.

“Bagaimana latihanmu?” tanya Kam Sien.

“Lumayan,” sahut Chien Wan enggan.

“Jangan kaget kalau Tuan Besar suka marah-marah. Dia selalu begitu. Tapi biasanya itu cuma di mulut saja. Hatinya sangat baik,” kata Kam Sien santai. “Kebalikan dari Nyonya Besar.”

“Nyonya Besar?”

“Mendiang Istri Tuan Ouwyang Cu. Beliau masih keturunan bangsawan, jadi agak pongah. Bicaranya manis, namun hatinya.... Astaga! Seharusnya aku tidak mengatakannya. Tidak baik membicarakan keburukan orang yang sudah meninggal.” Kam Sien melirik ke atas dan ke sekelilingnya. Untung saja tak ada orang.

Chien Wan heran. “Jadi, Kakak Kam tidak suka pada Nyonya Besar?”

Kam Sien celingukan melihat sekeliling, lalu membungkuk ke telinga Chien Wan. “Ini cuma di antara kita saja, ya? Selama hidupnya, Nyonya Besar selalu membuat suami dan anaknya makan hati dengan keangkuhannya. Delapan belas tahun yang lalu, Nyonya Besar memaksa putranya bertunangan dengan seorang putri bangsawan.”

Chien Wan langsung waspada. Delapan belas tahun yang lalu.

“Padahal Tuan Ouwyang Kuan sudah menjalin hubungan dengan seorang gadis.”

“Siapa?”

Kam Sien memandang Chien Wan. “Adik mantan gurumu, Luo Sui She.”

Chien Wan terpaku. “Lalu bagai....” Kata-katanya terputus karena tiba-tiba terdengar gerakan dari arah rumah.

Kam Sien melompat berdiri. “Aku pergi dulu, Chien Wan.”

Chien Wan memandangi kepergian Kam Sien. Ia merasa bodoh sekali. Mengapa tidak terpikirkan olehnya untuk bertanya pada Empat Tambur Perak tentang kejadian itu? Sudahlah, hibur hatinya. Masih ada kesempatan.

Ia berbalik hendak melangkah menuju kamarnya, namun tiba-tiba langkahnya terhenti. Ouwyang Ping berdiri di hadapannya. Wajah gadis itu agak pucat dan sedih. Chien Wan menelan ludahnya.

Ouwyang Ping diam saja, hanya memandangnya. Sebenarnya ia ingin sekali menyapa Chien Wan, namun tidak bisa. Hatinya sangat rindu pada Chien Wan, tetapi gengsi melarangnya menyapa terlebih dulu.

Lama mereka bertatapan, namun tak ada yang memulai pembicaraan. Tak ada yang mau menyapa lebih dahulu, yang satu karena gengsi dan lainnya karena takut menyinggung perasaan. Akhirnya Chien Wan tak tahan lagi terus menerus diam seperti itu. Ia sadar, selama ia tidak menyapa terlebih dahulu, mereka akan terus saling mendiamkan.

“Ping-er....”

Bibir Ouwyang Ping membuka sedikit. Ia ingin menyambut ucapan pemuda itu namun ditahannya.

“Ping-er, mengapa kau menjauhiku? Apa aku berbuat salah?” tanya Chien Wan pelan.

Mendengar nada suara itu, pertahanan Ouwyang Ping akan harga dirinya pun runtuh. Matanya berkaca-kaca, lalu ia menghambur memeluk Chien Wan. Dibenamkannya wajahnya di dada pemuda itu. Wajah Chien Wan memerah.

“Kakak Wan, maaf... maaf... aku yang salah,” isak Ouwyang Ping. “Seharusnya aku tidak boleh marah-marah padamu. Tapi aku kesal, habis... habis....” Ouwyang Ping berkata tersendat-sendat, “habis kau hanya memperhatikan Luo Ting Ting....”

Seketika Chien Wan sadar akan apa yang terjadi. Ouwyang Ping cemburu! Ya. Gadis itu cemburu pada Luo Ting Ting serta tali sutra putih yang dihadiahkan olehnya. Ia menghela napas, lalu mengangkat tangannya ke rambut halus gadis itu. Dibelai-belainya rambut yang begitu lembut dan harum itu.

“Ping-er, kau salah paham....” ucap Chien Wan pelan. “Aku tak pernah memikirkan Nona Luo sekali pun. Mengenai tali sutra putih, itu Cuma kuanggap sebagai hadiah perpisahan darinya. Aku hanya menganggapnya sebagai adik, dan dia juga hanya menganggapku sebagai kakak.”

Ouwyang Ping mengangkat wajahnya yang basah. “Sungguh?”

Chien Wan mengangguk.

Betapa leganya hati Ouwyang Ping melihat anggukan Chien Wan yang demikian mantap itu. Ia kembali meletakkan kepalanya di dada Chien Wan. Bagi gadis berusia empat belas tahun itu, Chien Wan adalah cinta pertamanya. Ia tak rela kehilangan perasaan yang membahagiakan ini.

Chien Wan menghela napas. Kini masalahnya dengan Ouwyang Ping telah usai. Ia takkan bisa mengelak lagi dari perasaannya. Ia harus mengakui bahwa ia pun memiliki perasaan yang mendalam pada gadis remaja itu. Perasaan itu sama sekali berbeda dari perasaannya pada orang lain, tak bisa dilukiskan.

Ouwyang Ping melepas pelukannya. Wajahnya tampak merah, namun terlihat sangat berkilauan. Ia mengambil suling besi Chien Wan yang diselipkan di ikat pinggang, lalu dengan gerakan yang menyentuh hati dipeluknya suling itu. Ditekankannya benda itu di dadanya. Ia meluapkan perasaan hatinya lewat perbuatannya karena ia tak tahu mesti berkata apa.

Chien Wan terpaku memandangnya. Sekarang ia takkan pernah bisa memandang suling besinya tanpa mengingat kejadian ini. Ia akan selalu terkenang akan hari ini manakala ia meniup suling besi itu.

***

Ketika Chien Wan latihan hari berikutnya, ia memandangi sulingnya lekat-lekat dan memejamkan matanya. Yang terbayang di pelupuk matanya adalah sosok Ouwyang Ping yang tengah mendekap sulingnya. Timbul kehangatan di hati Chien Wan. Di tengah-tengah perasaan itu, ia meniup sulingnya dan meniup nada-nada sederhana.

Tuan Ouwyang Cu terkesiap. Tak disangka. Akhirnya keluar juga nada-nada sederhana yang begitu jernih dan bersih. Padahal suling itu sama sekali bukan suling yang baik. Kualitasnya sangat rendah karena sengaja dibuat untuk melatih tehnik meniup. Tangan Tuan Ouwyang Cu mencengkeram jubahnya sendiri.

Sebentar lagi...! Sebentar lagi musik para dewa akan berkumandang ke seluruh jagat raya! Musik yang tiada duanya di dunia, lahir dari sebuah bakat luar biasa yang digabung dengan ketekunan yang hampir-hampir tidak masuk akal. Musik yang akan berkumandang mengharumkan kembali nama Lembah Nada!

Chien Wan membuka matanya. Untung saja saat itu Tuan Ouwyang Cu telah berhasil menguasai diri. Sama sekali tak tampak keharuannya tadi. Wajahnya tetap sinis dan tak acuh seperti biasa.

“Lumayan,” komentarnya dingin. “Sekarang, mulai meniup dengan pengerahan tenaga dalam!”

Chien Wan mengangguk patuh dan mulai berlatih lagi.

Semenjak saat itu, latihannya berjalan lancar. Makin lama Chien Wan makin pandai. Tuan Ouwyang Cu semakin ketat melatihnya. Berbagai macam tehnik diajarkannya pda Chien Wan. Tehnik tingkat tinggi dalam meniup suling seperti pemindahan suara jarak jauh dan halusinasi pendengaran, sampai suara suling dengan pengerahan tenaga dalam hingga menghasilkan suara yang memekakkan telinga. Semua itu membuat Chien Wan semakin ahli.

Tuan Ouwyang Cu juga mengajarkan rahasia nada yang dapat mempengaruhi pikiran manusia sehingga menimbulkan ilusi. Rahasia ini merupakan ilmu yang berbahaya karena dapat mengacaukan pikiran lawan yang paling tangguh sekali pun. Hanya orang-orang yang mempelajari ilmu ini yang dapat menangkalnya.

Ouwyang Ping tak mau kalah. Ia terus melatih kemampuannya memetik harpa. Ayahnya terus mengawasi latihannya dengan seksama. Ia memiliki bakat yang sempurna dalam hal harpa. Ketekunannya juga mengagumkan. Ayahnya sangat bagga terhadapnya.

Kemajuan mereka berdua menjadi bahan perbincangan di Lembah Nada. Kedua anak muda itu sangat berbakat, juga sangat bersemangat. Mereka berdua pasti akan mengharumkan kejayaan Lembah Nada. Dengan adanya mereka berdua, reputasi Lembah Nada sebagai tempat bermukimnya orang-orang sakti dengan kemampuan musik menakjubkan akan terangkat.

Chien Wan tidak terpengaruh dengan pandangan kagum terhadap dirinya. Ia dibebani perasaan tidak enak. Sekarang seluruh jiwa raganya sudah menjadi milik Lembah Nada, demikian pula kesetiaannya. Namun ia juga berhutang budi pada Tuan Luo dan harus membantunya mengorek informasi. Ia kebingungan.

Kepada siapa ia harus memberikan kesetiaannya jika masalahnya memang terlalu berat? Jika peristiwa yang menimpa Luo Sui She itu sangat mengerikan dan melibatkan orang Lembah Nada, terutama keluarga Ouwyang, pastilah berakibat permusuhan di antara mereka. Lalu bagaimana dengan Chien Wan? Kepada siapa dia akan berpihak?

***

“Mengapa kau murung akhir-akhir ini?”

Pertanyaan penuh tuntutan itu dikemukakan oleh Tuan Ouwyang Cu pada suatu hari seusai latihan yang cukup berat, dan Chien Wan kurang berkonsentrasi.

Chien Wan terperangah mendengar pertanyaan itu. “Maksud Guru?”

“Kau pasti punya masalah lagi!” tuduh gurunya ketus.

“Aku....”

“Dan bukan dengan Ping-er,” tukas Tuan Ouwyang tidak sabar. “Kau ini bocah dengan sejuta masalah! Apa berkaitan dengan keluarga penolongmu?”

Chien Wan terkejut. Apa yang sudah diketahui Tuan Ouwyang?

“Luo Siu Man seorang yang protektif dengan anggota keluarganya. Tidak mungkin dia dengan sukarela menyerahkanmu untuk menjadi anggota Lembah Nada kalau tidak ada udang di balik batu!”

Seketika itu juga wajah Chien Wan berubah pucat. “Guru, aku....”

“Jangan salah!” Kembali Tuan Ouwyang menukas. “Kau sudah masuk ke Lembah Nada. Artinya kau adalah anggota Lembah Nada. Di sini statusmu adalah murid dan anggota yang sah! Di sana kau hanya pelayan. Aku tidak akan mengizinkanmu kembali ke sana sebagai pelayan!”

“Guru, aku berhutang budi pada mereka. Mereka menyelamatkanku dan memberikanku tempat tinggal. Mereka juga memberikanku persahabatan. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya,” keluh Chien Wan.

Tuan Ouwyang Cu berkacak pinggang. “Katakan padaku. Apa yang mereka minta untuk kaukerjakan?”

Chien Wan menghela napas. Tak ada gunanya merahasiakan semua ini dari Tuan Ouwyang Cu. Maka ia menceritakan keadaan Luo Sui She dan permintaan Tuan Luo agar dia menyelidiki penyebab gangguan jiwa Sui She.

Wajah Tuan Ouwyang berubah muram. “Sui She gila?” gumamnya.

“Guru tidak tahu? Katanya, Nona Sui She mulai sakit semenjak pulang dari Lembah Nada.”

“Aku tahu dia sakit!” dengus Tuan Ouwyang. “Guru macam apa aku ini jika tidak tahu bahwa muridnya mengalami guncangan emosi? Tapi aku tidak tahu akan separah itu. Dia pulang tanpa berpamitan padaku, hanya pada istriku.”

“Jadi, Nona Sui She dulu adalah murid Guru juga?”

“Ya. Selain suling, aku juga ahli memetik kecapi. Dia berbakat memainkan alat musik yang satu itu.”

“Guru tahu mengapa dia sakit?” tanya Chien Wan hati-hati.

“Tentu saja. Dia mencintai anakku!” geram Tuan Ouwyang Cu. “Tapi anakku yang tolol itu malah setuju untuk menikah dengan gadis pilihan mendiang istriku!”

“Jadi, sakitnya Nona Sui She karena patah hati?”

“Ya!”

Chien Wan menghembuskan napas. Ternyata cuma karena itu! Tetapi mengapa bisa sampai gila? Selemah itukah hati perempuan yang bernama Luo Sui She, yang kehilangan akal sehatnya karena putus cinta? Ataukah semua perempuan akan seperti itu jika patah hati?

“Aku tidak tahu detilnya seperti apa. Aku selalu tidak peduli dengan urusan anak muda!” gerutu Tuan Ouwyang Cu. “Sudah! Nanti kaulaporkan saja pada Luo Siu Man informasi yang kaudapat dariku. Kalau dia masih belum puas, suruh menghadap aku!”

“Ya, Guru,” jawab Chien Wan patuh. Hatinya menjadi agak lega.

Bersambung.

Terpopuler

Comments

Eros Hariyadi

Eros Hariyadi

Lanjuuuutt Thor 😝😄💪👍🙏

2024-01-14

1

Eros Hariyadi

Eros Hariyadi

Ternyata Lou Sui-She sakit kejiwaan karena patah hati karena mencintai Ouwyang-Kuan...😝😄💪👍👍👍

2024-01-14

1

Jimmy Avolution

Jimmy Avolution

Ayo

2023-10-26

2

lihat semua
Episodes
1 Wisma Bambu
2 Paviliun Taman Belakang
3 Paman Khung
4 Chi Meng Huan
5 Suling Bambu Hitam
6 Ting Ting Diculik
7 Ketua Persilatan
8 Misi ke Lembah Nada
9 Empat Tambur Perak
10 Ouwyang Ping
11 Diangkat Menjadi Murid
12 Latihan Keras
13 Dilema Cinta Pertama
14 Bahagia di Lembah Nada
15 Berpetualang Bersama
16 Tiba di Kota Lok Yang
17 Reuni
18 Pertemuan Para Pendekar
19 Tuan Muda Chang
20 Penampilan Perdana
21 Hati ke Hati
22 Hati yang Luka
23 Di Bukit Merak
24 Dewa Seribu Wajah
25 Mencari Chi Meng Huan
26 Terperangkap
27 Rencana Chang Fei Yu
28 Kelelawar Hitam
29 Bebas
30 Melarikan Diri
31 Pertarungan
32 Pertarungan di Perbatasan
33 Menuju Wisma Bambu
34 Berjumpa Paman Khung
35 Penolakan Paman Khung
36 Kemball ke Lembah Nada
37 Pulang
38 Paman Khung Sakit Keras
39 Menuju Wisma Bambu
40 Mengurus Paman Khung
41 Luo Sui She Sembuh!
42 Ibu?
43 Leontin Penguak Rahasia
44 Terkuaknya Rahasia Masa Lalu
45 Dia Adikku
46 Berpisah
47 Kewajiban
48 Merindukannya
49 Harpa Kencana
50 Masa Lalu Sung Cen I
51 Masa Lalu Sung Cen II
52 Masa Lalu Sung Cen III
53 Keputusan A Ming
54 Dua Tahun Kemudian
55 Partai Kupu-Kupu
56 Luo Sen Khang Bertemu Ouwyang Ping
57 Pulang ke Lembah Nada
58 Kenangan Masa Silam
59 Reuni Dengan Sung Siu Hung
60 Di Lembah Nada
61 Cemburu
62 Rencana Tuan Ouwyang Cu
63 Berseteru
64 Perjodohan
65 Amarah Chang Fei Yu
66 Perjalanan Luo Sen Khang dan Ouwyang Ping
67 Di Partai Kupu Kupu
68 Pengkhianatan Cheng Sam
69 Penyelidikan
70 Berita Tentang Bukit Merak
71 Berselisih Jalan
72 Awal Bencana
73 Prahara di Wisma Bambu
74 Amarah dan Nestapa
75 Duka Hati Chien Wan
76 Wisma Bambu Berkabung
77 Kebencian dan Amarah
78 Isu di Dunia Persilatan
79 Berpisah Dengan Kui Fang
80 Wu Kui Fang Mencari Bukti
81 Rencana Pendekar Sung
82 Ke Lembah Nada
83 Ouwyang Kuan dan Luo Sui She ke Wisma Bambu
84 Mencari Kamus Silat Tung Pei
85 Orangtua Chien Wan Disandera
86 Luo Sen Khang Gusar
87 Para Pendekar di Wisma Bambu
88 Luo Sen Khang Menyandera Ouwyang Ping
89 Luo Sen Khang Terjebak
90 Dua Luo Sen Khang
91 Derita Luo Ting Ting
92 Penyesalan Luo Sen Khang
93 Pertengkaran Dua Pecinta
94 Luo Ting Ting Mengandung
95 Wu Kui Fang Bertemu Chien Wan
96 Di Partai Kupu Kupu
97 Wu Kui Fang Diculik
98 Selamat
99 Mendiskusikan Bukti yang Didapat
100 Cheng Sam Kembali Berulah
101 Upaya Mencari Jejak Cheng Sam
102 Hati yang Berbunga
103 Perguruan Elang Merah
104 Keluarga Kam
105 Cheng Sam Kembali Lolos
106 Masa Lalu Cheng Sam
107 Niat Luo Sui She
108 Kedatangan Chien Wan
109 Kasih Persaudaraan
110 Kesalahpahaman
111 Kegelisahan Wu Kui Fang
112 Kisah Masa Lalu
113 Rencana Pertunangan
114 Cinta Chi Meng Huan
115 Dua Hati Menyatu
116 Perjanjian di Kotaraja
117 Perjalanan Chang Fei Yu
118 Kabar Pernikahan Luo Ting Ting
119 Kedatangan Tuan Ouwyang Cu
120 Kehamilan A Ming
121 Musuh yang Sebenarnya
122 Kebencian yang Mendalam
123 Chien Wan Terluka
124 Ketulusan Hati Chang Fei Yu
125 Chien Wan Sadarkan Diri
126 Rencana Keberangkatan
127 Menuju Pulau Ginseng
128 Guru Chi Meng Huan
129 Tiba di Pulau Ginseng
130 Menetap Sementara di Pulau Ginseng
131 Berlatih di Pulau Ginseng
132 Chien Wan Sembuh
133 Janji Tuan Ouwyang Cu
134 Bakat Sung Siu Hung
135 Kesedihan A Ming
136 Derita Luo Ting Ting
137 Tuan Chang Mengunjungi Putranya
138 Chang Fei Yu Melamar
139 Hari-Hari Bahagia di Pulau Ginseng
140 Buah Dewa
141 Janji Tuan Ouwyang Cu
142 Pulang
143 Pernikahan
144 Amarah Chi Meng Huan
145 Penyusup
146 Masalah di Partai Kupu-Kupu
147 Wu Kui Fang Membela Sam Hui
148 Sam Hui Diserang
149 Pertemuan Tahunan
150 Pengkhianatan Wie Yun Cun
151 Kemunculan Para Pendekar
152 Pertempuran
153 Luo Sen Khang Galau
154 Ketua Persilatan Mengundurkan Diri
155 Tuan Ouwyang Melamar
156 Kelelawar Hitam Membawa Berita
157 Chi Sien Lung
158 Kelahiran Anak Ting Ting
159 Menjenguk Ting Ting
160 Meninggalkan Partai Kupu-Kupu
161 Bukit Ayam Emas
162 Nyaris Celaka
163 Serangan Chi Meng Huan
164 Ketua Persilatan yang Baru
165 Kembali ke Wisma Bambu
166 A Ming Melarikan Diri
167 A Ming Terkena Racun
168 Peringatan Setahun Kematian Tuan dan Nyonya Luo
169 A Ming Pergi
170 Bencana di Partai Kupu-Kupu
171 Duka yang Mendalam
172 Kelelawar Hitam
173 Chang Yi Hang Diculik
174 Usaha Pencarian
175 Menitipkan Sien Lung
176 Pertempuran
177 Tuan Ouwyang Cu Tewas
178 Terbersit Penyesalan
179 Akhir Hidup Chi Meng Huan
180 Pernikahan di Lembah Nada (End)
181 Terima Kasih
182 Epilog
Episodes

Updated 182 Episodes

1
Wisma Bambu
2
Paviliun Taman Belakang
3
Paman Khung
4
Chi Meng Huan
5
Suling Bambu Hitam
6
Ting Ting Diculik
7
Ketua Persilatan
8
Misi ke Lembah Nada
9
Empat Tambur Perak
10
Ouwyang Ping
11
Diangkat Menjadi Murid
12
Latihan Keras
13
Dilema Cinta Pertama
14
Bahagia di Lembah Nada
15
Berpetualang Bersama
16
Tiba di Kota Lok Yang
17
Reuni
18
Pertemuan Para Pendekar
19
Tuan Muda Chang
20
Penampilan Perdana
21
Hati ke Hati
22
Hati yang Luka
23
Di Bukit Merak
24
Dewa Seribu Wajah
25
Mencari Chi Meng Huan
26
Terperangkap
27
Rencana Chang Fei Yu
28
Kelelawar Hitam
29
Bebas
30
Melarikan Diri
31
Pertarungan
32
Pertarungan di Perbatasan
33
Menuju Wisma Bambu
34
Berjumpa Paman Khung
35
Penolakan Paman Khung
36
Kemball ke Lembah Nada
37
Pulang
38
Paman Khung Sakit Keras
39
Menuju Wisma Bambu
40
Mengurus Paman Khung
41
Luo Sui She Sembuh!
42
Ibu?
43
Leontin Penguak Rahasia
44
Terkuaknya Rahasia Masa Lalu
45
Dia Adikku
46
Berpisah
47
Kewajiban
48
Merindukannya
49
Harpa Kencana
50
Masa Lalu Sung Cen I
51
Masa Lalu Sung Cen II
52
Masa Lalu Sung Cen III
53
Keputusan A Ming
54
Dua Tahun Kemudian
55
Partai Kupu-Kupu
56
Luo Sen Khang Bertemu Ouwyang Ping
57
Pulang ke Lembah Nada
58
Kenangan Masa Silam
59
Reuni Dengan Sung Siu Hung
60
Di Lembah Nada
61
Cemburu
62
Rencana Tuan Ouwyang Cu
63
Berseteru
64
Perjodohan
65
Amarah Chang Fei Yu
66
Perjalanan Luo Sen Khang dan Ouwyang Ping
67
Di Partai Kupu Kupu
68
Pengkhianatan Cheng Sam
69
Penyelidikan
70
Berita Tentang Bukit Merak
71
Berselisih Jalan
72
Awal Bencana
73
Prahara di Wisma Bambu
74
Amarah dan Nestapa
75
Duka Hati Chien Wan
76
Wisma Bambu Berkabung
77
Kebencian dan Amarah
78
Isu di Dunia Persilatan
79
Berpisah Dengan Kui Fang
80
Wu Kui Fang Mencari Bukti
81
Rencana Pendekar Sung
82
Ke Lembah Nada
83
Ouwyang Kuan dan Luo Sui She ke Wisma Bambu
84
Mencari Kamus Silat Tung Pei
85
Orangtua Chien Wan Disandera
86
Luo Sen Khang Gusar
87
Para Pendekar di Wisma Bambu
88
Luo Sen Khang Menyandera Ouwyang Ping
89
Luo Sen Khang Terjebak
90
Dua Luo Sen Khang
91
Derita Luo Ting Ting
92
Penyesalan Luo Sen Khang
93
Pertengkaran Dua Pecinta
94
Luo Ting Ting Mengandung
95
Wu Kui Fang Bertemu Chien Wan
96
Di Partai Kupu Kupu
97
Wu Kui Fang Diculik
98
Selamat
99
Mendiskusikan Bukti yang Didapat
100
Cheng Sam Kembali Berulah
101
Upaya Mencari Jejak Cheng Sam
102
Hati yang Berbunga
103
Perguruan Elang Merah
104
Keluarga Kam
105
Cheng Sam Kembali Lolos
106
Masa Lalu Cheng Sam
107
Niat Luo Sui She
108
Kedatangan Chien Wan
109
Kasih Persaudaraan
110
Kesalahpahaman
111
Kegelisahan Wu Kui Fang
112
Kisah Masa Lalu
113
Rencana Pertunangan
114
Cinta Chi Meng Huan
115
Dua Hati Menyatu
116
Perjanjian di Kotaraja
117
Perjalanan Chang Fei Yu
118
Kabar Pernikahan Luo Ting Ting
119
Kedatangan Tuan Ouwyang Cu
120
Kehamilan A Ming
121
Musuh yang Sebenarnya
122
Kebencian yang Mendalam
123
Chien Wan Terluka
124
Ketulusan Hati Chang Fei Yu
125
Chien Wan Sadarkan Diri
126
Rencana Keberangkatan
127
Menuju Pulau Ginseng
128
Guru Chi Meng Huan
129
Tiba di Pulau Ginseng
130
Menetap Sementara di Pulau Ginseng
131
Berlatih di Pulau Ginseng
132
Chien Wan Sembuh
133
Janji Tuan Ouwyang Cu
134
Bakat Sung Siu Hung
135
Kesedihan A Ming
136
Derita Luo Ting Ting
137
Tuan Chang Mengunjungi Putranya
138
Chang Fei Yu Melamar
139
Hari-Hari Bahagia di Pulau Ginseng
140
Buah Dewa
141
Janji Tuan Ouwyang Cu
142
Pulang
143
Pernikahan
144
Amarah Chi Meng Huan
145
Penyusup
146
Masalah di Partai Kupu-Kupu
147
Wu Kui Fang Membela Sam Hui
148
Sam Hui Diserang
149
Pertemuan Tahunan
150
Pengkhianatan Wie Yun Cun
151
Kemunculan Para Pendekar
152
Pertempuran
153
Luo Sen Khang Galau
154
Ketua Persilatan Mengundurkan Diri
155
Tuan Ouwyang Melamar
156
Kelelawar Hitam Membawa Berita
157
Chi Sien Lung
158
Kelahiran Anak Ting Ting
159
Menjenguk Ting Ting
160
Meninggalkan Partai Kupu-Kupu
161
Bukit Ayam Emas
162
Nyaris Celaka
163
Serangan Chi Meng Huan
164
Ketua Persilatan yang Baru
165
Kembali ke Wisma Bambu
166
A Ming Melarikan Diri
167
A Ming Terkena Racun
168
Peringatan Setahun Kematian Tuan dan Nyonya Luo
169
A Ming Pergi
170
Bencana di Partai Kupu-Kupu
171
Duka yang Mendalam
172
Kelelawar Hitam
173
Chang Yi Hang Diculik
174
Usaha Pencarian
175
Menitipkan Sien Lung
176
Pertempuran
177
Tuan Ouwyang Cu Tewas
178
Terbersit Penyesalan
179
Akhir Hidup Chi Meng Huan
180
Pernikahan di Lembah Nada (End)
181
Terima Kasih
182
Epilog

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!