Semenjak peristiwa malam itu, Ouwyang Ping menjadi sering melamun. Ia juga menjauhi Chien Wan. Ia berpikir, jika Chien Wan menyukai gadis lain tak ada gunanya ia berada di dekat Chien Wan. Semakin ada di dekat Chien Wan, ia tak akan bisa melepas Chien Wan. Jadi sebaiknya sejak sekarang ia menjauhinya.
Chien Wan sedih sekali karena gadis itu menjauhinya. Ia mengira Ouwyang Ping sudah muak padanya. Ia tak berani mendekati gadis itu. Lagi pula ia tak berharap terlalu jauh. Gadis itu putri penguasa Lembah Nada, sedangkan dirinya hanya seorang pemuda tanpa asal-usul. Bagaimana mungkin ia begitu lancang?
Jauh dari Ouyang Ping membuat Chien Wan tak bersemangat latihan. Hal ini tak luput dari pengawasan Tuan Ouwyang Cu.
“Huh!” dengusnya. “Inilah yang membuatku kesal kalau mempunyai murid remaja ingusan. Latihannya selalu terganggu oleh masalah asmara!”
Chien Wan menatap kaget. “Guru, aku tidak....” Ia mencoba membantah, namun ditukas oleh gurunya, “Kaupikir bisa membohongiku, ha? Kau malas latihan, konsentrasimu selalu terganggu, dan kau jadi sering melamun. Hal yang sama terjadi juga pada Ping-er. Ayya...! Kalian ini memang sudah keterlaluan!” omel Tuan Ouwyang Cu sengit.
Wajah Chien Wan memerah. “Guru....”
“Sudah! Sudah!” potong Tuan Ouwyang Cu. “Selama masalahmu dengan Ping-er belum selesai, kau jangan datang ke sini!”
Chien Wan diam sambil memegangi sulingnya. Ia bingung mendengar kata-kata gurunya, tak tahu harus berbuat apa. Ia berdiri terpaku bagai orang dungu.
Tuan Ouwyang Cu mendecak kesal. “Tunggu apa lagi? Pergi sana!” usirnya.
Chien Wan kaget, lalu cepat-cepat pergi.
“Merepotkan saja....” gerutu Tuan Ouwyang Cu.
Chien Wan pergi meninggalkan gurunya. Ia sangat pusing memikirkan bagaimana cara menyelesaikan masalah ini. Bagaimana sebaiknya cara yang tepat untuk mendekati Ouwyang Ping tanpa menyinggung perasaannya?
Dan sesungguhnya, bukan hanya masalah Ouwyang Ping saja yang membuatnya pusing. Sudah setahun lebih ia tinggal di Lembah Nada, namun ia belum berhasil mendapatkan informasi tentang kejadian yang menimpa Luo Sui She. Ia tidak pernah berhasil mengorek kisah itu. Para pelayan senior sangat tertutup dan pelayan lainnya baru bekerja selama beberapa tahun saja. Ditambah lagi ia bukan orang yang pintar mengorek keterangan.
Sambil menarik napas, Chien Wan duduk di bangku taman. Ia termenung.
“Chien Wan, kenapa melamun?”
Chien Wan tersentak dan menatap asal suara. Ternyata salah satu dari Empat Tambur Perak, Kam Sien. Selama ini ia jarang mengobrol dengan Empat Tambur Perak. Mereka bertugas menjaga gerbang, jadi jarang pergi ke rumah induk.
“Kakak Kam.” Chien Wan berdiri.
“Duduk lagi saja. Aku juga mau duduk di sini sebentar,” bilang Kam Sien. Ia menghenyakkan bokong gemuknya di bangku taman dekat Chien Wan. Di antara Empat Tambur Perak, Kam Sien punya bobot tubuh paling berat dan sifatnya paling periang. Ia juga senang mengoceh.
“Kakak Kam tidak bertugas?” tanya Chien Wan.
“Hoahh!” Kam Sien menguap. “Sedang istirahat, A Kim kusuruh menjaga gerbang sebentar. Tapi kau jangan bilang-bilang Tuan Besar, ya?” Ia mengedip jahil.
Chien Wan tersenyum.
“Bagaimana latihanmu?” tanya Kam Sien.
“Lumayan,” sahut Chien Wan enggan.
“Jangan kaget kalau Tuan Besar suka marah-marah. Dia selalu begitu. Tapi biasanya itu cuma di mulut saja. Hatinya sangat baik,” kata Kam Sien santai. “Kebalikan dari Nyonya Besar.”
“Nyonya Besar?”
“Mendiang Istri Tuan Ouwyang Cu. Beliau masih keturunan bangsawan, jadi agak pongah. Bicaranya manis, namun hatinya.... Astaga! Seharusnya aku tidak mengatakannya. Tidak baik membicarakan keburukan orang yang sudah meninggal.” Kam Sien melirik ke atas dan ke sekelilingnya. Untung saja tak ada orang.
Chien Wan heran. “Jadi, Kakak Kam tidak suka pada Nyonya Besar?”
Kam Sien celingukan melihat sekeliling, lalu membungkuk ke telinga Chien Wan. “Ini cuma di antara kita saja, ya? Selama hidupnya, Nyonya Besar selalu membuat suami dan anaknya makan hati dengan keangkuhannya. Delapan belas tahun yang lalu, Nyonya Besar memaksa putranya bertunangan dengan seorang putri bangsawan.”
Chien Wan langsung waspada. Delapan belas tahun yang lalu.
“Padahal Tuan Ouwyang Kuan sudah menjalin hubungan dengan seorang gadis.”
“Siapa?”
Kam Sien memandang Chien Wan. “Adik mantan gurumu, Luo Sui She.”
Chien Wan terpaku. “Lalu bagai....” Kata-katanya terputus karena tiba-tiba terdengar gerakan dari arah rumah.
Kam Sien melompat berdiri. “Aku pergi dulu, Chien Wan.”
Chien Wan memandangi kepergian Kam Sien. Ia merasa bodoh sekali. Mengapa tidak terpikirkan olehnya untuk bertanya pada Empat Tambur Perak tentang kejadian itu? Sudahlah, hibur hatinya. Masih ada kesempatan.
Ia berbalik hendak melangkah menuju kamarnya, namun tiba-tiba langkahnya terhenti. Ouwyang Ping berdiri di hadapannya. Wajah gadis itu agak pucat dan sedih. Chien Wan menelan ludahnya.
Ouwyang Ping diam saja, hanya memandangnya. Sebenarnya ia ingin sekali menyapa Chien Wan, namun tidak bisa. Hatinya sangat rindu pada Chien Wan, tetapi gengsi melarangnya menyapa terlebih dulu.
Lama mereka bertatapan, namun tak ada yang memulai pembicaraan. Tak ada yang mau menyapa lebih dahulu, yang satu karena gengsi dan lainnya karena takut menyinggung perasaan. Akhirnya Chien Wan tak tahan lagi terus menerus diam seperti itu. Ia sadar, selama ia tidak menyapa terlebih dahulu, mereka akan terus saling mendiamkan.
“Ping-er....”
Bibir Ouwyang Ping membuka sedikit. Ia ingin menyambut ucapan pemuda itu namun ditahannya.
“Ping-er, mengapa kau menjauhiku? Apa aku berbuat salah?” tanya Chien Wan pelan.
Mendengar nada suara itu, pertahanan Ouwyang Ping akan harga dirinya pun runtuh. Matanya berkaca-kaca, lalu ia menghambur memeluk Chien Wan. Dibenamkannya wajahnya di dada pemuda itu. Wajah Chien Wan memerah.
“Kakak Wan, maaf... maaf... aku yang salah,” isak Ouwyang Ping. “Seharusnya aku tidak boleh marah-marah padamu. Tapi aku kesal, habis... habis....” Ouwyang Ping berkata tersendat-sendat, “habis kau hanya memperhatikan Luo Ting Ting....”
Seketika Chien Wan sadar akan apa yang terjadi. Ouwyang Ping cemburu! Ya. Gadis itu cemburu pada Luo Ting Ting serta tali sutra putih yang dihadiahkan olehnya. Ia menghela napas, lalu mengangkat tangannya ke rambut halus gadis itu. Dibelai-belainya rambut yang begitu lembut dan harum itu.
“Ping-er, kau salah paham....” ucap Chien Wan pelan. “Aku tak pernah memikirkan Nona Luo sekali pun. Mengenai tali sutra putih, itu Cuma kuanggap sebagai hadiah perpisahan darinya. Aku hanya menganggapnya sebagai adik, dan dia juga hanya menganggapku sebagai kakak.”
Ouwyang Ping mengangkat wajahnya yang basah. “Sungguh?”
Chien Wan mengangguk.
Betapa leganya hati Ouwyang Ping melihat anggukan Chien Wan yang demikian mantap itu. Ia kembali meletakkan kepalanya di dada Chien Wan. Bagi gadis berusia empat belas tahun itu, Chien Wan adalah cinta pertamanya. Ia tak rela kehilangan perasaan yang membahagiakan ini.
Chien Wan menghela napas. Kini masalahnya dengan Ouwyang Ping telah usai. Ia takkan bisa mengelak lagi dari perasaannya. Ia harus mengakui bahwa ia pun memiliki perasaan yang mendalam pada gadis remaja itu. Perasaan itu sama sekali berbeda dari perasaannya pada orang lain, tak bisa dilukiskan.
Ouwyang Ping melepas pelukannya. Wajahnya tampak merah, namun terlihat sangat berkilauan. Ia mengambil suling besi Chien Wan yang diselipkan di ikat pinggang, lalu dengan gerakan yang menyentuh hati dipeluknya suling itu. Ditekankannya benda itu di dadanya. Ia meluapkan perasaan hatinya lewat perbuatannya karena ia tak tahu mesti berkata apa.
Chien Wan terpaku memandangnya. Sekarang ia takkan pernah bisa memandang suling besinya tanpa mengingat kejadian ini. Ia akan selalu terkenang akan hari ini manakala ia meniup suling besi itu.
***
Ketika Chien Wan latihan hari berikutnya, ia memandangi sulingnya lekat-lekat dan memejamkan matanya. Yang terbayang di pelupuk matanya adalah sosok Ouwyang Ping yang tengah mendekap sulingnya. Timbul kehangatan di hati Chien Wan. Di tengah-tengah perasaan itu, ia meniup sulingnya dan meniup nada-nada sederhana.
Tuan Ouwyang Cu terkesiap. Tak disangka. Akhirnya keluar juga nada-nada sederhana yang begitu jernih dan bersih. Padahal suling itu sama sekali bukan suling yang baik. Kualitasnya sangat rendah karena sengaja dibuat untuk melatih tehnik meniup. Tangan Tuan Ouwyang Cu mencengkeram jubahnya sendiri.
Sebentar lagi...! Sebentar lagi musik para dewa akan berkumandang ke seluruh jagat raya! Musik yang tiada duanya di dunia, lahir dari sebuah bakat luar biasa yang digabung dengan ketekunan yang hampir-hampir tidak masuk akal. Musik yang akan berkumandang mengharumkan kembali nama Lembah Nada!
Chien Wan membuka matanya. Untung saja saat itu Tuan Ouwyang Cu telah berhasil menguasai diri. Sama sekali tak tampak keharuannya tadi. Wajahnya tetap sinis dan tak acuh seperti biasa.
“Lumayan,” komentarnya dingin. “Sekarang, mulai meniup dengan pengerahan tenaga dalam!”
Chien Wan mengangguk patuh dan mulai berlatih lagi.
Semenjak saat itu, latihannya berjalan lancar. Makin lama Chien Wan makin pandai. Tuan Ouwyang Cu semakin ketat melatihnya. Berbagai macam tehnik diajarkannya pda Chien Wan. Tehnik tingkat tinggi dalam meniup suling seperti pemindahan suara jarak jauh dan halusinasi pendengaran, sampai suara suling dengan pengerahan tenaga dalam hingga menghasilkan suara yang memekakkan telinga. Semua itu membuat Chien Wan semakin ahli.
Tuan Ouwyang Cu juga mengajarkan rahasia nada yang dapat mempengaruhi pikiran manusia sehingga menimbulkan ilusi. Rahasia ini merupakan ilmu yang berbahaya karena dapat mengacaukan pikiran lawan yang paling tangguh sekali pun. Hanya orang-orang yang mempelajari ilmu ini yang dapat menangkalnya.
Ouwyang Ping tak mau kalah. Ia terus melatih kemampuannya memetik harpa. Ayahnya terus mengawasi latihannya dengan seksama. Ia memiliki bakat yang sempurna dalam hal harpa. Ketekunannya juga mengagumkan. Ayahnya sangat bagga terhadapnya.
Kemajuan mereka berdua menjadi bahan perbincangan di Lembah Nada. Kedua anak muda itu sangat berbakat, juga sangat bersemangat. Mereka berdua pasti akan mengharumkan kejayaan Lembah Nada. Dengan adanya mereka berdua, reputasi Lembah Nada sebagai tempat bermukimnya orang-orang sakti dengan kemampuan musik menakjubkan akan terangkat.
Chien Wan tidak terpengaruh dengan pandangan kagum terhadap dirinya. Ia dibebani perasaan tidak enak. Sekarang seluruh jiwa raganya sudah menjadi milik Lembah Nada, demikian pula kesetiaannya. Namun ia juga berhutang budi pada Tuan Luo dan harus membantunya mengorek informasi. Ia kebingungan.
Kepada siapa ia harus memberikan kesetiaannya jika masalahnya memang terlalu berat? Jika peristiwa yang menimpa Luo Sui She itu sangat mengerikan dan melibatkan orang Lembah Nada, terutama keluarga Ouwyang, pastilah berakibat permusuhan di antara mereka. Lalu bagaimana dengan Chien Wan? Kepada siapa dia akan berpihak?
***
“Mengapa kau murung akhir-akhir ini?”
Pertanyaan penuh tuntutan itu dikemukakan oleh Tuan Ouwyang Cu pada suatu hari seusai latihan yang cukup berat, dan Chien Wan kurang berkonsentrasi.
Chien Wan terperangah mendengar pertanyaan itu. “Maksud Guru?”
“Kau pasti punya masalah lagi!” tuduh gurunya ketus.
“Aku....”
“Dan bukan dengan Ping-er,” tukas Tuan Ouwyang tidak sabar. “Kau ini bocah dengan sejuta masalah! Apa berkaitan dengan keluarga penolongmu?”
Chien Wan terkejut. Apa yang sudah diketahui Tuan Ouwyang?
“Luo Siu Man seorang yang protektif dengan anggota keluarganya. Tidak mungkin dia dengan sukarela menyerahkanmu untuk menjadi anggota Lembah Nada kalau tidak ada udang di balik batu!”
Seketika itu juga wajah Chien Wan berubah pucat. “Guru, aku....”
“Jangan salah!” Kembali Tuan Ouwyang menukas. “Kau sudah masuk ke Lembah Nada. Artinya kau adalah anggota Lembah Nada. Di sini statusmu adalah murid dan anggota yang sah! Di sana kau hanya pelayan. Aku tidak akan mengizinkanmu kembali ke sana sebagai pelayan!”
“Guru, aku berhutang budi pada mereka. Mereka menyelamatkanku dan memberikanku tempat tinggal. Mereka juga memberikanku persahabatan. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya,” keluh Chien Wan.
Tuan Ouwyang Cu berkacak pinggang. “Katakan padaku. Apa yang mereka minta untuk kaukerjakan?”
Chien Wan menghela napas. Tak ada gunanya merahasiakan semua ini dari Tuan Ouwyang Cu. Maka ia menceritakan keadaan Luo Sui She dan permintaan Tuan Luo agar dia menyelidiki penyebab gangguan jiwa Sui She.
Wajah Tuan Ouwyang berubah muram. “Sui She gila?” gumamnya.
“Guru tidak tahu? Katanya, Nona Sui She mulai sakit semenjak pulang dari Lembah Nada.”
“Aku tahu dia sakit!” dengus Tuan Ouwyang. “Guru macam apa aku ini jika tidak tahu bahwa muridnya mengalami guncangan emosi? Tapi aku tidak tahu akan separah itu. Dia pulang tanpa berpamitan padaku, hanya pada istriku.”
“Jadi, Nona Sui She dulu adalah murid Guru juga?”
“Ya. Selain suling, aku juga ahli memetik kecapi. Dia berbakat memainkan alat musik yang satu itu.”
“Guru tahu mengapa dia sakit?” tanya Chien Wan hati-hati.
“Tentu saja. Dia mencintai anakku!” geram Tuan Ouwyang Cu. “Tapi anakku yang tolol itu malah setuju untuk menikah dengan gadis pilihan mendiang istriku!”
“Jadi, sakitnya Nona Sui She karena patah hati?”
“Ya!”
Chien Wan menghembuskan napas. Ternyata cuma karena itu! Tetapi mengapa bisa sampai gila? Selemah itukah hati perempuan yang bernama Luo Sui She, yang kehilangan akal sehatnya karena putus cinta? Ataukah semua perempuan akan seperti itu jika patah hati?
“Aku tidak tahu detilnya seperti apa. Aku selalu tidak peduli dengan urusan anak muda!” gerutu Tuan Ouwyang Cu. “Sudah! Nanti kaulaporkan saja pada Luo Siu Man informasi yang kaudapat dariku. Kalau dia masih belum puas, suruh menghadap aku!”
“Ya, Guru,” jawab Chien Wan patuh. Hatinya menjadi agak lega.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 182 Episodes
Comments
Eros Hariyadi
Lanjuuuutt Thor 😝😄💪👍🙏
2024-01-14
1
Eros Hariyadi
Ternyata Lou Sui-She sakit kejiwaan karena patah hati karena mencintai Ouwyang-Kuan...😝😄💪👍👍👍
2024-01-14
1
Jimmy Avolution
Ayo
2023-10-26
2