Tuan Luo dan Chien Wan berjalan mengikuti Fu Ming. Mereka melangkah menelusuri jalan setapak yang sempit dan tiba-tiba saja mereka berhadapan dengan lembah yang amat luas dan indah. Pepohonan tampak subur dan hijau diselingi oleh kilau warna bunga-bungaan. Rumput yang hijau menutupi tanah nan luas bagaikan permadani yang lembut. Bahkan udara di sana berbau harum, tak seperti di tempat lain.
Chien Wan memandang berkeliling sambil berjalan. Terkagum-kagum melihat pemandangan yang terhampar di hadapannya. Suasana di sana sangat nyaman dan tenang. Namun lamat-lamat terdengar suara yang bergaung indah bagai bunyi musik. Suara indah itu kadang muncul-kadang hilang. Jika Chien Wan memasang telinga, suara itu hilang. Namun jika Chien Wan tidak memikirkannya lagi, suara itu muncul lagi.
“Suara apa itu?” Akhirnya Chien Wan tak mampu menahan keingintahuannya.
Fu Ming tersenyum. “Itu bunyi pertemuan angin dari empat penjuru. Sebenarnya lembah ini dikelilingi bukit. Angin memantul ke segala arah sehingga menimbulkan bunyi gaung yang menyerupai musik. Itulah sebabnya tempat ini dinamakan Lembah Nada,” jelasnya. Lalu ia berhenti di depan sebuah bangunan yang megah. “Inilah kediaman Keluarga Ouwyang.”
Tuan Luo dan Chien Wan berdiri menatap bangunan yang besar dan kokoh itu. Tempat itu amat menawan. Indah dan anggun dalam kesederhanaannya. Tidak banyak ornamen atau ukiran di sana, namun entah bagaimana, memikat hati orang yang memandangnya.
Chien Wan langsung jatuh cinta pada tempat itu!
Saat Chien Wan tengah terkagum-kagum, tiga sosok perak yang berpakaian persis Fu Ming bermunculan.
“Mereka anggota Empat Tambur Perak lainnya,” kata Fu Ming.
Ketiga pria itu memberi hormat kepada Tuan Luo; Lo Hian, orang kedua penjaga gerbang barat; Kam Sien, orang ketiga penjaga gerbang timur; dan Hauw Lam, orang keempat penjaga gerbang selatan.
Mereka berempat mempersilakan Tuan Luo dan Chien Wan masuk dan meminta mereka menunggu di ruang tamu yang besar. Keduanya dipersilakan duduk sementara Empat Tambur Perak masuk untuk melaporkan kedatangan para tamu.
Tak lama kemudian datanglah Tuan Ouwyang Kuan diiringi oleh Empat Tambur Perak. Tuan Ouwyang Kuan adalah seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun. Wajahnya tampan dan lembut. Ia berpakaian berwarna keemasan dan berkilauan. Agaknya ciri orang Lembah Nada memang selalu berpakaian serba berkilau.
Chien Wan terpaku menatap pria itu. Ada semacam daya tarik pribadi yang memancar dari pria itu.
Tuan Luo meraih lengan Chien Wan dan menariknya berdiri.
“Apa kabar, Tuan Ouwyang?” sapa Tuan Luo sambil memberi hormat. Chien Wan mengikutinya. “Aku Luo Siu Man dari Wisma Bambu.”
Ouwyang Kuan tersenyum sambil balas menghormat. “Jangan sungkan, Tuan Luo. Kita bukan orang jauh. Nona Luo Sui She adik Anda dulu adalah murid Lembah Nada. Jadi sebenarnya kita masih ada hubungan keluarga,” katanya ramah. “Silakan duduk.”
Tuan Luo dan Chien Wan duduk di kursi masing-masing.
“Tuan Luo, apa kabarnya Nona Sui She?” tanya Ouwyang Kuan. Nadanya terdengar hati-hati.
Chien Wan langsung waspada. Ia memperhatikan raut wajah Ouwyang Kuan. Terlihat sinar mata yang aneh dan tampak penuh kerinduan kala ia menyebutkan ‘Nona Sui She’. Kenyataan ini bukannya tidak dilihat juga oleh Tuan Luo. Namun ia tak ingin menyinggung soal Sui She, jadi ia menjawab, “Dia baik-baik saja.”
Ouwyang Kuan tersenyum lega. “Syukurlah,” ucapnya. “O ya Tuan Luo, ada keperluan apa Anda datang ke Lembah Nada? Ada yang bisa kubantu?”
“Begini, Tuan Ouwyang,” ujar Tuan Luo, “muridku ini bernama Chien Wan. Dia sangat berbakat di bidang musik, terutama suling. Dia dapat memainkan lagu yang sangat indah dengan sulingnya. Aku merasa sayang jika bakat seperti itu didiamkan saja. Jadi aku mengajaknya ke sini dengan maksud meminta Anda untuk menerimanya menjadi murid.”
Mendengar hal itu, barulah perhatian Ouwyang Kuan beralih kepada Chien Wan. Ia menatap wajah pemuda itu dengan penuh selidik. Pemuda yang pendiam dan pemurung, pikirnya, tampak lemah dan tak bersemangat. Namun ada sesuatu dalam diri pemuda ini yang membuat Ouwyang Kuan tertarik dan nyaris tak dapat melepaskan pandangannya dari Chien Wan.
Ia menghela napas. “Sebenarnya aku sendiri bukan seorang peniup suling yang andal,” akunya. “Di Lembah Nada ini, semua orang memiliki kemampuan musik dengan spesialisasinya masing-masing. Aku misalnya, memilih harpa menjadi andalan. Satu-satunya peniup suling yang andal di tempat ini adalah ayahku Tuan Ouwyang Cu. Sayangnya ayahku telah memutuskan untuk mengasingkan diri. Beliau pergi untuk hidup mengembara dan tidak mau menerima murid lagi.”
Chien Wan merasa cemas. Dipandangnya Tuan Luo sekilas.
Tuan Luo mengerutkan kening. “Jadi bagaimana?”
Ouwyang Kuan tersenyum menenangkan. “Akan tetapi di sini banyak terdapat buku tentang suling. Aku sendiri juga sedikit memahami alat musik yang satu itu meski tidak sepandai ayahku. Aku tidak keberatan Chien Wan tinggal di Lembah Nada.”
Tuan Luo tersenyum gembira. “Cepat ucapkan terima kasih pada gurumu, Chien Wan!” suruhnya.
Namun sebelum Chien Wan memanggil ‘guru’, Ouwyang Kuan menggelengkan kepalanya dan berkata, “Jangan panggil guru. Aku tak pandai meniup suling, jadi aku tak bisa mengajarimu. Panggillah aku Paman Ouwyang saja!”
Chien Wan memandang Tuan Luo. Tuan Luo mengangguk.
“Terima kasih, Paman,” kata Chien Wan sambil memberi hormat.
Sejak saat itu, Chien Wan resmi diterima menjadi anggota Lembah Nada. Empat Tambur Perak menjadi kakak-kakak seperguruannya. Mereka semua menyukainya karena ia pendiam, tak banyak bicara namun selalu tekun dan patuh.
Tuan Luo menginap selama dua malam sebelum akhirnya kembali ke Wisma Bambu.
***
Sudah lima hari Chien Wan tinggal di Lembah Nada. Ia belum sempat melakukan apa-apa selain berkenalan dengan para penghuni lainnya dan menjelajah untuk mengenal tempat itu lebih dekat. Selama ini, ia baru mengenal Ouwyang Kuan—tentu saja, Empat Tambur Perak, dan para pelayan utama. Chien Wan tak pernah melihat keluarga Ouwyang yang lain. Ia agak heran juga karena Ouwyang Kuan ternyata tak memiliki pendamping.
Hari itu, Chien Wan pergi ke kaki bukit untuk meniup sulingnya. Kini ia sudah mengenal baik Lembah Nada dan ternyata tempat yang dirasanya paling nyaman adalah di kaki bukit dekat gerbang selatan Lembah Nada. Di sana suasananya tenang. Suara gaung angin di sana agak berbeda dengan di tempat lain. Ia menyukai bunyi tiupan angin dan menganggapnya musik latar yang cocok bagi permainan sulingnya.
Sesungguhnya ia merasa bosan dan kesepian. Selama lima hari ini ia hanya memperdalam ilmunya lewat buku-buku di perpustakaan musik Lembah Nada. Ouwyang Kuan memang serius melatihnya, namun yang diajarkannya adalah ilmu silat khas Lembah Nada. Ilmu meringankan tubuh, tenaga dalam, dan gerakan-gerakan silat yang aneh, yang semuanya mengandung unsur musik. Khas Lembah Nada.
Hari ini Chien Wan ingin menyendiri dan meniup Suling Bambu Hitamnya. Ia menarik napas dan mulai memainkan lagu ciptaannya sendiri. Mengalunlah lagu yang begitu indah dan menggugah sukma. Setiap nada yang mengalir merupakan tetesan embun yang membasahi jiwa raga. Siapa pun yang mendengarnya akan merasa tergugah dan terbawa, seolah terbang ke alam maya.
Perasaan Chien Wan hanyut dalam lagu yang dibawakannya. Sampai akhirnya lagu usai dan Chien Wan kembali ke alam nyata.
“Lagumu bagus sekali!” Terdengar suara yang mengalun lembut dan indah.
Chien Wan menoleh ke arah suara. Pemilik suara itu adalah seorang gadis remaja yang berwajah anggun dan jelita. Senyum gadis itu begitu memesona membuat hati Chien Wan terasa sejuk dan nyaman. Gadis itu mengenakan pakaian berwarna emas dengan potongan sederhana. Ia membawa harpa emas di tangannya. Harpa itulah yang menarik perhatian Chien Wan karena serupa dengan milik Ouwyang Kuan, hanya berukuran lebih kecil saja.
Chien Wan menunduk menatap sulingnya. “Terima kasih.”
Tanpa sungkan, gadis itu duduk di sisi Chien Wan. “Apakah lagu itu ciptaanmu sendiri?” tanyanya.
Chien Wan mengangguk.
“Kau sangat pandai. Sejak kapan kau mempelajari cara meniup suling?” tanya gadis itu lagi.
“Sejak enam tahun lalu,” jawab Chien Wan singkat.
Gadis itu memandang suling milik Chien Wan. “Sulingmu bagus sekali,” pujinya. “Kau sungguh pintar bisa menciptakan lagu sebagus itu. Aku belajar memainkan harpa sejak kecil namun belum bisa menciptakan lagu seperti kau.”
Chien Wan diam mendengarkan. Ia meresapi suara yang indah dan mengalun bagaikan musik itu. Betapa ia menyukainya!
Gadis itu kembali menatap Chien Wan sambil tersenyum. “Suatu hari nanti, bolehkah aku mengiringi permainan sulingmu dengan harpaku?” tanyanya penuh harap, sinar matanya penuh kesungguhan.
Chien Wan tidak bisa menolak permintaan gadis itu. Ia merasa sangat tertarik pada gadis itu, padahal ia tidak mengenalnya. Perlahan ia mengangguk.
“Sungguh?” seru si gadis dengan gembira.
Chien Wan mengangguk lagi.
“Jadi mulai saat ini kau akan berlatih bersamaku?”
“Ya,” sahut Chien Wan.
Senyum si gadis makin lebar dan bercahaya. “Oh, aku senang sekali! Terima kasih!” pekiknya girang.
Chien Wan tersenyum kecil.
“Siapa namamu?” tanya gadis itu seolah baru tersadar bahwa ia tak mengenal Chien Wan. “Dan mengapa kau ada di sini? Aku kok tak pernah melihatmu?”
“Aku Chien Wan. Aku baru ada di sini sejak lima hari lalu.”
“Hm... pantas aku tak pernah melihatmu,” gumam si gadis. “Selama lima hari ini aku disuruh berlatih di ruang harpa, jadi kita tak pernah bertemu. Aku Ouwyang Ping. Tuan Ouwyang Kuan adalah ayahku.”
Dalam hatinya Chien Wan agak terkejut. Jadi gadis yang begitu menawan ini adalah putri Ouwyang Kuan. Sungguh ramah sikapnya, sama sekali tidak angkuh dan memandang rendah orang lain. Padahal dia adalah nona Lembah Nada!
“Kau di sini untuk belajar musik?” tanya Ouwyang Ping.
Chien Wan mengangguk.
“Huh....” Ouwyang Ping mengeluh. “Kau tahu, keadaan di Lembah Nada sekarang sudah tidak seperti dulu. Tak seorang pun menguasai musik dengan mendalam, terutama suling. Semenjak kakekku mengasingkan diri. Ayahku sekarang memimpin Lembah Nada, tapi tak sehebat kakek. Maksudku, Ayah memang memiliki kepandaian silat yang sangat hebat dan pemetik harpa yang hebat, tapi tidak seperti kakek.”
Chien Wan mendengarkan keluhan Ouwyang Ping dengan penuh perhatian.
“Kata para pelayan, sebelum aku lahir Lembah Nada amat disegani di Dunia Persilatan. Namun sudah belasan tahun ini, kita selalu mengasingkan diri dari Dunia Persilatan. Anggota Lembah Nada tak pernah lagi ambil bagian di Dunia Persilatan. Ayahku cenderung menutup diri.”
Sudah belasan tahun. Mungkinkah keadaan ini dimulai tujuh belas tahun yang lalu, saat terjadi peristiwa yang menyebabkan Sui She sakit jiwa? Chien Wan tercenung. Apakah ada hubungannya?
“Kakak Wan?” tegur Ouwyang Ping heran.
Chien Wan tersadar dan cepat memusatkan kembali perhatiannya pada gadis itu.
“Sekarang ini ayahku lebih banyak mengurung diri di Lembah Nada dan tidak pernah mau peduli dengan urusan dunia luar. Bagus juga, sih. Tapi kan kadang-kadang aku ingin bermain ke kota,” bilang Ouwyang Ping.
“Ping-er, apakah kau sedang mengganggu Chien Wan?”
Ouwyang Ping terkejut, lalu menoleh. Tampaklah Ouwyang Kuan menghampiri mereka. Wajah pria itu tenang dan ramah, tampak amat baik hati.
Chien Wan berdiri. “Paman,” sapanya.
“Jadi kau sudah berkenalan dengan putriku rupanya,” senyum Ouwyang Kuan. “Yah, dia memang banyak bicara.”
“Ayah!” sergah Ouwyang Ping malu-malu.
“Ping-er, kau tidak boleh nakal pada Chien Wan, ya? Kau harus menghormatinya. Kau mesti memanggilnya kakak. Sekarang dia adalah kakak seperguruanmu, “ kata Ouwyang Kuan serius.
“Uh, Ayah!” gerutu Ouwyang Ping. “Ayah pikir aku ini nakal sekali, ya? Ayah jangan khawatir, aku akan menghormati Kakak Wan, “ janjinya.
Ouwyang Kuan tersenyum. Ia senang karena putrinya tampak menyukai Chien Wan. Sebenarnya Ouwyang Ping memang sangat kesepian di Lembah Nada. Karenanya ketika melihat Chien Wan, Ouwyang Ping merasa sangat senang.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 182 Episodes
Comments
Yanka Raga
😍🤩
2024-02-14
1
Eros Hariyadi
Lanjuuuutt Thor 😝😄💪👍🙏
2024-01-14
0
Eros Hariyadi
Berkenalan dengan Ouwyang Ping, Puteri Sang Ketua Lembah Nada Ouwyang-Kuan...😝😄💪👍👍👍
2024-01-14
0