Ernest menghela nafasnya lega dan menerima Aisya dalam rangkulannya.
Tak ada keluhan yang berarti lagi, ketimbang hanya beberapa menit, jam mereka berpisah karena jelas keduanya pernah berpisah lebih lama dari ini.
"Mau jajan ngga?" alisnya naik turun.
"Boleh. Lumayan aus emmm tadi pas disana."
Sempat Aisya berpikir akan kesulitan menyamakan pendapat, tapi ternyata para pedagang di dekat masjidil Haram kebanyakan sudah fasih berbahasa Indonesia, membuatnya dan Ernest tak kesulitan untuk membeli beberapa barang dan kudapan yang mereka inginkan.
Koper kembali di gusur, hari ini adalah hari mereka akan hijrah dari Mekkah ke Madinah. Setelah melaksanakan sunnah Thawaf 'Wada, makan siang dan check out hotel. Rombongan pergi ke Madinah, ada yang menggunakan bus, ada pula yang menggunakan kereta cepat.
"Nest, udah pesen tiket?"
"Kang, saya sama istri naik kereta cepat aja. Biar berasa dibawa sama flash!" kekehnya.
Kang Tio melemparkan tawa renyahnya, "mangga (silahkan), yang penting nanti ketemu di hotel terus kita check in. Saya bimbing yang naik bus, Nest. Nanti disana ketemu bu Dini ya..."
"Siap. Kalo gitu kita pamit kang! Assalamu'alaikum," ujar Ernest bersama Aisya yang mengangguk sopan.
"Ya! Wa'alaikumsalam."
Aisya menatap jalanan yang dilewati, tak lupa mengabadikan perjalanan keduanya termasuk sosok Ernest yang juga melihat ke arah luar jendela kereta.
"Hijrah ke Madinah ya?" alisnya naik turun ke arah Aisya.
"Yaaa---nanti botak dong kamu?" kekeh Aisya menyentuh rambut gondrong Ernest.
"Tetep suka ngga?" tanya Ernest.
Aisya nenyipitkan mata dan terlihat berpikir, "emhhh, liat nanti aja...jelek ngga ya?" tawanya.
"Awas aja kalo ngga suka. Aku uber kamu sampe mimpi, kaya diikutin tuyul..."
"Mau tidur dulu engga? Kayanya kamu kurang tidur kemaren?" tanya Aisya.
Ernest menggeleng, "udah biasa. Kamu kalo mau tidur, tidur aja...biar aku yang jagain," Ernest menepuk-nepuk pundaknya agar Aisya dapat bersandar.
Istrinya itu mengulas senyuman tipis, mengerti akan apa yang di maksud Ernest.
"Sekarang tuh udah ngga takut dosa lagi..." Aisya menaruh kepalanya begitu saja disana, memposisikan tempat ternyaman untuk dirinya beristirahat sejenak selama perjalanan, "kalo dulu rasulullah bersama Abu Bakar, hijrah ke Madinah jalan kaki sama naik unta, ambil rute memutar karena lari dari kejaran kaum Quraisy, Abu Bakar cuma bawa uang 5 dirham karena seluruh harta yang beliau punya hanya segitu-gitunya....kita udah enak pake kereta cepat ya, by..." kekeh Aisya, "bekel uang juga segepok!"
Ernest tertawa renyah demi mendengar ocehan Ai sebelum terlelap, "terus, mau kaya rasul?" tanya Ernest memainkan ujung jilbab Aisya, sontak istrinya menggeleng, "istiqomah itu berat, biar rasul saja..." jawab Aisya, dan tawa Ernest kembali meledak. Ia kembali mendusel-dusel hidungnya, mencium aroma maskulin tubuh Ernest lalu menyimpannya sebagai pengantar tidur.
Ernest merasakan getaran di ponselnya ketika Aisya sudah tak lagi terasa pergerakannya selain dari bernafas teratur. Ia pun melirikan pandangan ke arah wajah damai Aisya yang terpejam, pertanda istrinya sedang beristirahat.
"Siapa?" tangan-tangan kuat Ernest merogoh ponsel di sakunya.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*Ersa\*\*\*\*\*\*\*\*\*
*Bang, masih lama ngga umrohnya? Bisa tolong Ersa*?!
Alisnya berkerut demi melihat pesan dari adiknya.
*Belum, baru juga hari ke 5 dari total 9 hari agenda. Kenapa*?
Ersa
*Erja, bang. Erja hamilin anak gadis orang*!
"*Astagfirullah*!" Ernest lirih berucap. Ia buru-buru menaruh ponselnya kembali ke dalam saku melihat pergerakan dari Aisya, namun hanya gerakan kecil tak berarti.
Ernest kembali melihat ponselnya yang ternyata Ersa kembali mengirimkan pesan untuknya.
Ersa
*Erja ngga mau tanggung jawab bang, dia mau gugurin tuh anak*.
*Papah---mamah ngga tau*.
Ernest menaikan alis dan menggelengkan kepalanya, kelakuan adik lelakinya itu sungguh sudah diluar batas. Ingin sekali ia menghantam kepala Erja dengan batu pondasi rumah.
"Bikin malu!" Ernest berdecak kesal. Dan pesan singkat dari Ersa itu telah mengganggu pikiran Ernest selama perjalanan menuju Madinah.
Mereka sudah sampai di Madinah, bertemu dengan bu Dini sesuai intruksi dari Kang Tio.
Melihat ada yang tak beres dengan ekspresi Ernest sejak tadi, Aisya memiringkan kepalanya, "kenapa?"
"Aku?" tanya Ernest menunjuk dirinya sendiri.
Aisya menggeleng ketus, "bukan! Sahabat rasul! Ya kamu lah, ada yang dipikirin? Ada yang lupa?"
Ernest menggeleng, "engga." Segera Ernest mengontrol air mukanya agar Aisya tak curiga. Bukan ia ingin menyembunyikan masalah namun ia tak mau hal ini mengganggu ibadah dan bulan madu keduanya.
"Check in aja kang Nest!" bu Dini membetulkan posisi kacamatanya di depan lobby hotel.
"Oh oke."
"Saya masih nunggu rombongan yang naik kereta cepat. Istirahat aja dulu lah, biar otot-otot pada ngga kaku.." senyumnya hangat.
Ernest dan Aisya mengangguk paham.
Langkah keduanya membawa mereka ke dalam kamar hotel, "aduh ngga kuat, kebelet. Cepetan bukain, by." Ujar Aisya sejak tadi menahan pi pis.
Saat pintu di buka Aisya langsung berlari ke arah pintu kamar mandi. Kebetulan sekali, Ernest menggunakan kesempatan itu untuk berusaha menghubungi Erja, "yank! Aku ke bawah dulu ya, ketemu bu Dini sebentar ada yang kelupaan!"
"Jangan lama-lama!" teriak Aisya dari dalam kamar mandi.
"Engga. Paling setaun!" jawab Ernest berseloroh dan berlalu.
Dengan hati yang menggebu-gebu, Ernest menscroll dan mencari nomor adik lelakinya itu.
Tuutt---tuuttt----
Awalnya Erja belum mengangkat panggilan Ernest, sampai-sampai lelaki yang siap mewarisi tahta grandpa itu menggertakan giginya.
Hingga pada menit ke 5, Erja akhirnya mengangkat panggilan Ernest.
Hallo. Terdengar suara serak nan berat menandakan jika Erja baru saja bangun tidur.
"Elu kemana aja, Ja?!" sengit Ernest.
Ck. Apa sih bang?!
"Jawab gue Ja. Apa bener yang Ersa bilang sama gue, kalo lo----" Ernest menghentikan ucapannya disaat yang bersamaan dengan Erja yang menimpali, "buntingin Husna?"
Dan demi apa, Ernest menukikan alisnya, ia cukup tersentak ketika adiknya itu dengan mudah dan santainya menjawab telah menghamili anak gadis orang lain.
"Ja! Lo tuh!"
Astagfirullah...helaan nafas Ernest panjang ketika amarah terasa menguasai, mungkin jika Erja tengah di depannya, Ernest sudah menggeretnya naik ke lantai 30 lalu mendorongnya.
Ck. Udah lah bang. Jaman gini mah udah lumrah....toh si Husna juga mau-mau aja gue nikmatin, si alnya gue lupa pake pengaman, jadi deh. Abang ngga usah khawatir, ini gue udah nemu klinik ab orsi yang bagus.
"Si alan! Stop lo bikin dosa, Ja. Nikahin pacar lo itu, kalo lo masih hargai mamah--papah, grandpa dan gue. Atau gue jamin, sepulangnya gue dari sini lo abis Ja!" ancam Ernest kelewat kesal.
Nikah?! Erja terkekeh disana, yang bener aja bang! Ogah, gue masih SMA! Lo ngga mikir orang bakalan ngomong apa!
Ernest benar-benar sudah di ambang kemarahannya, kepalanya bahkan mulai berdenyut karena tak dapat melampiaskan kekesalannya.
"Harusnya lo pikir itu sebelum lo lakuin hal terkutuk itu, Ja!" sengitnya bernada tinggi, sesekali Ernest celingukan agar tak membuat heboh pengunjung hotel.
Ngga usah muna, bang. Gue juga yakin dulu lo pernah gitu sebelum merit sama Aisya.
Ernest menggertakan giginya, tangannya terkepal kuat, "jaga omongan lo!"
Udah lah bang. Sans aja! Ngga usah dibikin ribet sama panik gini. Toh kita sama-sama masih SMA.
"Si alan. Nikahin dia Ja. Jangan jadi pengecut, bikin malu nama keluarga!"
Erja malah terkekeh sumbang, kaya abang engga aja! Waktu mutusin keluar dari keyakinan. Abang juga udah nampar nama baik papa-mama sama grandpa. Lagian abang ngotot amat sih! Ya udah abang aja yang nikahin, keyakinan abang ngga larang abang punya istri dua kan?!
"Baji ngan." Ernest mematikan panggilannya takut jika ia tak bisa lebih lama menahan amarahnya, "astagfirullah...ampuni hamba ya Allah." lirihnya.
"Ngga ada terbersit di otak gue, buat khianatin kepercayaan yang udah gue jaga selama 6 tahun!" gumamnya kembali memasukan ponsel ke dalam saku celananya dan melangkah menuju kamar lagi, khawatir Aisya mencarinya karena terlalu lama di luar.
Lo urungin niatan lo buat nyuruh cewek lo ab orsi, sampai gue balik ke Indo. Atau gue abisin lo, Ja! Lo tau kan gimana gue, dan gue masih gue yang dulu!
Terpaksa Ernest menggunakan, cara kekerasan pada adiknya itu demi menyelamatkan nyawa yang tak berdosa dan marwah sebuah keluarga.
Ernest membuka pintu kamar dimana Aisya sudah bersidekap dengan bibir manyun, "lama!"
"Assalamu'alaikum my'hawa! Di luar mendung euy! Soalnya bidadari surganya cemberut gini!" ujarnya terkekeh.
"Kamu boong ya, barusan bu Dini malah nelfon aku, katanya minta kamu turun buat konfirmasi kedatangan!"
Ernest sedikit tersentak kaget, niat jelek memang selalu berakibat buruk, "bukan boong, cuma di tengah jalan aku mules...jadi melimpir sebentar, terus lupa nyamperin lagi bu Dini.." jawabnya kembali berbohong, ia tak mau sampai acaranya dan Aisya berantakan karena Aisya minta pulang.
Maafin aku Sya,
Mungkin inilah cobaan awal pernikahannya bersama Aisya sekaligus ujian keimanannya.
.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments
Danny Muliawati
knp hrs booong kan sdh halal
2025-03-28
0
Lia Bagus
astaghfirullah erja 🤦🤦
2024-09-01
0
Efrida
jgn blg ernest yg nikahin nti nya....
2023-09-03
1