DM'A_part 18

Koper digeret menuju kantor yang telah bersuasana ramai oleh calon jama'ah umroh, begitu sibuk orang berpamitan pada keluarga yang hendak pergi beribadah itu.

Begitupun Ernest dan Aisya. Umi, abi, beserta mama Irene yang sudah tau dengan keberangkatan mereka hari ini tak luput mengantarkan sepasang pengantin baru itu.

"Hati-hati, nanti sesampainya disana jangan lupa kabarin," pesan umi.

"Jangan lupa bikin cucu buat mama! Balik kesini, udah bawa kabar baik!" permintaan itu terucap lirih dari bibir merah mama Irene.

Aisya cukup terhenyak mendengarnya, setidaknya permintaan mama Irene sempat membuatnya tersinggung, khawatir dan insecure dengan dirinya sendiri.

Dipandangnya Ernest dengan nyalang, gimana kalo apa yang dibilang dokter bener? Kalo aku akan susah memberikan keturunan untuk Ernest, bahkan tidak bisa. Aisya bergelut dengan pikirannya sendiri, ada kekhawatiran tersendiri.

Ernest mengerjap menenangkan dan merangkul Aisya, mengusap pundak istrinya lembut, "insyaAllah ma, kalau Allah udah kasih nitipin amanah dan rejeki anak, Ernest sama Ai ngga nolak." Jawab Ernest pada mama, sadar akan kekhawatiran Aisya, Ernest mengusap pipi sehalus pualam istrinya penuh kelembutan, "insyaAllah."

Langkah mereka semakin menjauh masuk ke dalam bus, jadwalnya sore ini mereka harus sudah berangkat dari bandara menuju Jeddah.

Ia melirik nomor kursi miliknya di boarding pass, "Nest. Itu di depan kayanya."

Anggukan cepat diberikan Ernest sebagai jawaban.

Ernest masih memasukan tas ke dalam kabin bagasi di atas kepala mereka, sementara Ai sudah duduk manis memposisikan pan tat biar nyaman selama penerbangan, matanya menatap lurus ke arah jendela bulat pesawat.

Ucapan mama Irene masih terasa terngiang-ngiang di telinga Aisya, meskipun Ai mencoba mengusirnya namun permintaan seorang ibu itu cukup bikin kepikiran.

Ernest tau apa yang dipikirkan Ai, ia mencoba melongokan kepalanya ke arah pandangan Aisya, "ada Jackie Chan ya?" tanya Ernest, sontak membuat Aisya mengernyit dan menoleh ke samping, dimana Ernest wajah Ernest tak berjarak dengannya, "hah? Mana?!"

"Yee, aku nanya. Ada Jackie Chan di bawah sana? Abisnya kamu anteng banget liat kesana!" pungkas Ernest. Aisya berdecak kesal, "ih! Ngga lucu, Nest!" ketusnya manyun, Ernest terkekeh.

"Ya kali aja kan, Jackie Chan mau lepas kita pergi umroh!" jawab Ernest, "liat apa sih? Apa yang disana lebih cakep dibanding yang disamping kamu?"

"Kita mau honeymoon, Sya. Bukan mau jalanin program anak...kamu tau artinya honeymoon? Bulan madu, hari-hari yang diisi sama moment manis nan romantis sekalian ibadah bersama, bukan bawa beban hati dan pikiran..." jedanya menggenggam tangan Aisya.

"Lepaskan semua beban yang baru saja kamu bawa barusan dari mama." pintanya.

"Bukannya kamu yang bilang, kalau kamu percaya Allah, bukannya kamu bilang kuasa Allah tak ada tandingannya? Manusia hanya bisa mengkaji sesuai apa yang terjadi di bumi, tapi Allah yang menciptakan....termasuk keturunan," Ernest mengecupi punggung tangan Aisya yang sudah tersemat cincin nikah darinya.

"Jika Allah sudah berkehendak Dia-lah yang berhak memberikan keputusan nasib hidup seseorang, bukan dokter. Kamu percaya Tuhan kita kan?" tanya Ernest. Aisya mengangguk dengan helaan nafas lega, "percaya, cuma khawatir aja. Takut kalo ternyata penyakitku kemaren berimbas dan jadi trouble. Sebagai seorang perempuan, seorang istri, sebagai seorang menantu, aku takut bikin kamu, mama, papa, grandpa kecewa..." jawab Aisya menatap Ernest dengan sorot mata memelas.

"Itu artinya kamu ngga percaya kuasa Allah, sayang." Ernest meraih kepala Aisya dan mengecupnya manis.

"Termasuk kamu ngga percaya kegagahan si juniorku!" kekeh Ernest, Aisya menepuk dadha Ernest, "ngga usah mulai mesum disini!" sengitnya melotot bersamaan dengan Ernest yang mengurai dekapannya beralih mencapit wajah Aisya yang chubbynya ngga ada obat, menurut Ernest, Aisya tak berubah meski 6 tahun lebih telah berlalu, sejak ia pertama bertemu dengan Aisya.

Aisya masih nampak cantik, menggemaskan dan chubby seperti dulu, bahkan julukannya kini bertambah satu, makhluk Tuhan paling sexy!

"Ngga papa, udah punya stiker halalan toyibban!" jawabnya genit. Aisya memejamkan matanya sepanjang perjalanan, akhir-akhir ini ia selalu tidur larut karena menyanggupi permintaan Ernest yang memberikan nafkah batin, katanya, padahal sihh emang Ernest'nya saja yang doyan makan Aisya.

Bandara King Abdul Azis, pesawat yang ditumpangi Aisya--Ernest dan jama'ah lain sudah sampai disana. Mereka melewati proses imigrasi dan bagasi terlebih dahulu.

"Welcome di negrinya para syuhada! Tadaaa!" Ernest berseru layaknya host acara vacation, dengan batik khas mukadimah tour berwarna orange dan hitam plus id card menggantung bersama kamera ia memotret Aisya dengan wajah bantalnya, "semalem ngeronda ya néng?! Pules banget tidurnya?!" kekeh Ernest.

"Apa sih!" Aisya menyingkirkan sorot kamera dari wajahnya.

"Udah selesai nih, yuk!" ajak Aisya manja.

"Yuk."

Aisya dan Ernest naik ke dalam bus bersama jama'ah lainnya untuk menuju ke hotel.

Sepanjang jalan yang dilewati dapat Aisya rasakan hati damai berada di kota ini, terlebih ketika nyatanya hotel yang menjadi tempatnya menginap tak jauh dari Masjidil Haram, hanya berjarak sekitar 200 meter saja, kemegahan Masjidil Haram bisa terlihat dari kamarnya menginap.

"MasyaAllah...." matanya penuh binar ketakjuban.

Bentuk kuasa Tuhan yang menggetarkan kalbu dan seluruh jiwa, untuk pertama kalinya kedua pasang remaja yang sudah beranjak dewasa ini menatap dengan sorot mata penuh kekaguman dari pinggir jalan puncak Masjidil Haram.

Ada senyuman bahagia diantara keduanya ketika jema'ah lain sibuk mengeluarkan barang-barangnya dari bus.

"Alhamdulillah," bisik Aisya sungguh terharu.

"Iya, alhamdulillah...pengalaman wisata religi pertamaku, kuhabiskan sama orang yang memang aku mau sejak awal...kamu," jawab Ernest menatap Aisya dengan sorot mata full of love.

Aisya menoleh, bersama angin malam yang berhembus sejuk di antara sibuknya kota, waktu seakan berhenti untuk keduanya, siluet bayangan sepasang remaja yang baru saja mengenal cinta tergambar jelas diantara Aisya dan Ernest.

"Masuk yuk, aku belum isya..." ajak Aisya, "imami aku, hubby...." pinta Aisya meraih tangan Ernest dan menggenggamnya erat.

Ernest mengulas senyuman simpul, "my pleasure."

Aisya membawa tas selempang di pundaknya, sementara Ernest menggusur koper besar dengan tangan kiri dan tangan kanan yang setia menggenggam tangan Aisya masuk ke dalam hotel.

"Kang Tio," sapa Ernest pada salah satu pembimbing sekaligus pengurus Mukadimah tour.

"Eh, Nest. Gimana? Udah ketemu kamarnya?"

"Baru mau ke kamar,"

Tio tersenyum pada Aisya juga, "oh, sok atuh...istirahat dulu weh lah. Nanti jangan lupa makan malam, besok lanjut ibadah thawaf, shai, sama tahallul di Masjidil Haram."

"Siap kang, nuhun."

"Iya sok, saya urus dulu yang lain Nest. Selamat beristirahat!" ia mengatupkan kedua tangannya pamit.

"Kang Tio, kenal?"

"Dia yang bantuin re-schedule. Temen kang Rama, karena dia kita bisa berangkat kemaren sesuai rencana..." Aisya mengangguk paham.

"Ya udah, kamu juga udah capek. Bersih-bersih dulu lanjut berjama'ah..."

Aisya mengangguk setuju.

.

.

.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Happyy

Happyy

👍🏻👍🏻

2023-11-03

1

Fitria_194

Fitria_194

mama iren. itu adik2nya ernest yg segambreng aja gk ke urus. gk usah nuntut cucu dulu deh.

2023-07-16

1

mommyanis

mommyanis

bu,itu anak dan mantunya mau pergi beribadah.cukup dg mengiringinya do'a semoga ibadahnya lancar,jangan dibebani dg hal yang membani hati...

2023-07-16

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!