DM'A_part 8

Assalamu'alaikum, aku pulang jam 4, Nest.

Ketik Aisya lalu kirim. Entah apa yang sedang ia lakukan yang jelas, Ernest belum membacanya bahkan sudah 15 menit berlalu.

"Ish, kebiasaan!" Aisya menaruh ponselnya kasar di meja samping komputer. Mungkin ada trauma tersendiri bagi Aisya tidak mendapatkan jawaban segera dari Ernest, namun ia pun tak berani untuk posesif.

Ernest sedang berada di rumah papa Edo, seperti biasa...seakan tak belajar dari kejadian sebelumnya, kedua orangtuanya ini sibuk dengan dunianya sendiri.

Ia melongokan kepala membuka pintu kamar sang adik Erja, yang kini sudah usia SMA, pemuda itu masih terlelap dengan bertelan jank dada selagi musik underground menggema di setiap sudut kamarnya, barang-barang yang cukup berantakan tak karuan, bahkan kaus kaki tergeletak layaknya bang kaii tikus.

Ernest mematikan AC kamar Erja berikut pemutar musiknya.

"Ja," coleknya di punggung Erja. Tapi pemuda itu tak bergeming, setelah Ernest mencolek ketiga kalinya ia baru menggeliat.

"Bang ah! Ngapain dimatiin sih?!" sengitnya.

"Udah siang ini, Ja. Lo tu jadiin siang bak malam, malam bak siang...tidur lo percuma, ngga akan bisa gantiin kualitas tidur malam!"

Bukannya bangun Erja malah semakin menenggelamkan wajah rupawan dan dadha atletis anak remajanya di balik guling.

"Lo tuh cowok Ja, siapa yang mau nerusin usaha papa kalo lo-nya aja kaya gini? Pemalesan, jangan dibiasain!"

Ia berdecak, "banyak cingcong lo bang. Siapa juga yang mau nerusin bisnis papa, lo aja!" suaranya teredam guling.

"Ja, abang itung sampe 3 kalo lo ngga bangun gue siram satu ranjang?!" ancam Ernest. Adik lelakinya itu, Ernest tau Erja seperti dirinya, doyan balapan liar....dulu! Tapi Erja tak seperti dirinya yang pintar, dan rajin serta rapi. Erja 4 kali lipat lebih nakal.

"1...."

"2...."

"3....." tak ada pergerakan dari Erja, Ernest segera melangkah ke arah kamar mandi, mengambil shower dan menyalakan airnya ke dalam ember kecil.

Byurrrrr!

Kasur Erja beserta si penghuninya basah kuyup disiram Ernest, sontak saja Erja terperanjat, "bang ah! Elahhhh! Masuk keyakinan lain bikin lo sarkas! Mirip di berita-berita!" sengitnya langsung melompat ke bawah.

"Lo korban berita. Bukan sarkas, tapi disiplin, biar hidup lo ngga berantakan. Gue tebak lo bakalan penyakitan di umur 30an kalo gaya hidup lo kaya gini terus, begadang, rokok, minuman, ngga pernah hirup udara sejuk, makanan instan/ junkfood. Terlebih lo jarang ibadah!"

"Beresin kamar lo, udah mirip sarang setan." Ernest berlalu keluar dari sana.

Lain halnya dengan Ersa, adik perempuannya itu sama seperti dirinya yang pintar, namun sayangnya angkuhnya bukan main.

"Abang inget pulang juga?"

Ernest tersenyum mengacak rambut panjang Ersa yang sudah duduk di ruang tengah seraya memangku kamus bahasa korea.

"Selama 5 tahun ini, siapa yang suka nengokin grandpa?" tanya Ernest.

Ersa menggidikan bahunya, "Ersa sibuk sekolah. Bang, Ersa pengen ke Korea, sma disana, terus kuliah disana juga! Kaya abang di mesir kemaren, Ersa mau cari kost'an." Gadis itu mengutarakan keinginannya.

"Kenapa mesti Korea?" tanya Ernest, "mau ambil jurusan apa, disana?"

"Emhhh, ngga tau masih mikir..."

"Yang penting Ersa mau kesana, disana gudangnya bintang-bintang idola, Ersa mau bikin semua orang terkhusus temen-temen ngiri!"

"Bermimpi dan mengejar cita-cita itu hukumnya wajib, tapi bukan untuk alasan unfaedah apalagi buat sombong sama orang, itu riya Ersa..." jelas Ernest, Ersa malah berdecih, "cih, so bijak ah! Bang Ernest ngga asik!" ketusnya.

"Papa---mama pulang jam berapa?" tanya nya melirik jam di pergelangan tangan, selagi Ersa menggidikan bahu tak peduli, "ngga tau. Ntar juga balik kalo capek!"

"Astagfirullah,"

"Terus kamu sama Erja, siapa yang awasin?" tanya nya lagi.

"Ih abang apaan sih, bang Erja sama Ersa udah gede kali! Ngga usah diawasin, lebay deh!" gadis itu memutar bola matanya.

Setau Ernest, kedua orangtuanya akan hadir nanti menjelang magrib, "ya udah kalo gitu. Abang ada urusan dulu, nanti balik lagi kesini..."

Kondisi keluarganya semakin kacau dengan pola pengasuhan ala papa Edo dan mama Iren, menjadi beban pikiran tersendiri untuk Ernest. Semakin saja ia mempertimbangkan tawaran dari ex dosennya itu.

Matanya jatuh tertumbuk di layar pipih, pesan dari si pipi merona sudah ada sejak 4 jam yang lalu, dan Ernest langsung tancap gas menuju tempat Aisya bekerja.

"Sya, dijemput?" tanya Anya.

Aisya menggeleng, "ngga tau Nya. Kayanya mau pesen online aja," jawab Aisya.

Gadis berjilbab ini mendorong kursinya beriringan bersama Anya diantara para pegawai yang berhamburan keluar bak segerombolan ikan sarden.

"Ya udah, pesen dari sekarang. Nunggunya lama..." ujar Anya.

"Hm, kamu duluan aja Nya...Ai ngga apa-apa kok," balasnya. Keluar bersama Anya yang telah menenteng kunci motor miliknya, Aisya dikejutkan dengan panggilan Ernest.

"Assalamu'alaikum..."

"Wa'alaikumsalam. Maaf aku ngga bisa jemput my'hawa..."

Air muka Aisya sekeruh air selo kan, ada gurat kekecewaan darinya, "oh...ya udah ngga apa-apa, aku pesen taxi online aja," jawab Aisya redup.

"Aku sibuk soalnya," kekeh Ernest.

"Iya ngga apa-apa," cicitnya lagi.

"Kamu ngga mau tau gitu aku sibuk ngapain?"

Sementara Aisya yang sibuk mengontrol emosinya, Anya sudah terkikik-kikik dari tadi dengan gestur seseorang dari ujung mata, kenapa juga Aisya terlalu sibuk bergulat dengan emosi sampai-sampai tak melihat di depan sana seseorang sedang menatapnya.

"Sibuk apa emangnya?" tanya Aisya menghela nafas.

"Sibuk mandangin kamu..." jawab Ernest, sontak saja Aisya mengedarkan pandangannya ke arah sekitar, dan netra bulatnya tertumbuk pada seorang lelaki yang tengah bercengkrama lewat telfon padanya sembari memandangnya tersenyum, Ernest juga melambaikan tangannya dari jarak 15 meter.

Anya menyemburkan tawanya.

"Ernest ih!" Aisya mematikan telfonnya sepihak, Ernest selalu saja menggodanya.

Ernest berjalan ke arah Aisya, "assalamu'alaikum, my'hawa....taksi online menuju dawai asmara, lautan kebahagiaan, dan pulau cinta siap menjelajah rasa bersamamu..." ucapnya, membuat Aisya inhin menggetok kepala Ernest.

"Aaaahhhhh manisnya kalian ih!"

"Gue Anya, temen Aisya!" Anya mengulurkan tangannya pada Ernest, namun Ernest mengatupkan kedua tangan di depan dadha, "Ernest, calon imam Aisya Nurul Huda..."

Puk!

Aisya benar-benar menepuk pan tat Ernest dengan tasnya.

"Dikirain ngga akan jemput!"

"Pasti jemput dong Sya, masa engga. Aku ngga mau keduluan sama malaikat buat jemput kamu..."

"Malaikat apa? Izrail gituh?! Ih jahat!" sewot Aisya semakin mengerucutkan bibirnya, dan Anya belum ada 5 menit dengan pasangan ini sudah tergelak habis-habisan. Yang satu doyan ngusilin plus gombal yang satu ambekan.

Ernest terkekeh, "malaikat Raqib, Sya. Suudzon ah! Ya udah yuk, jadi kan mau ke taman?" tanya Ernest mengambil alih handle kursi roda.

Aisya mengernyit, "kok taman, kan aku mau ke rumah sakit, Nest. Terapi... Kamu lupa?"

"Maksud aku taman cinta, jangan ngegas dulu lah, nanti aku makin cinta!" jawab Ernest, Anya kembali tertawa.

"Ya udah Sya, aku duluan kalo gitu. Liat kalian berdua jadi pengen pacaran!"

.

.

.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Lia Bagus

Lia Bagus

astaghfirullah
ga ada akhlak nih adik² kamu nest

2024-08-31

0

Happyy

Happyy

💖💖

2023-11-02

1

Mukmini Salasiyanti

Mukmini Salasiyanti

Nest..... Nestt..
ingat..
blm mahrom....

2023-08-04

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!