DM'A_part 5

Acara Raudhah berjalan dengan lancar, cincin emas bergaya polos tersemat di jari manisnya. Dan acara pernikahannya akan digelar 2 minggu dari sekarang.

Raudhah dengan sengaja dan usil menunjukan tangannya ala-ala pengacara kondang pada Aisya.

"Aku dong udah dilamar! Sebentar lagi udah ngga jomblo lagi kaya kalian!" ucapnya usil memajukan punggung tangannya ke depan Aisya dan Sifa yang tengah nyemil.

Aisya menepis dan menepuk tangan Raudhah, "sombong!" cebik Aisya dan Sifa.

"Tangan teteh ih, banyak kumannya kena puding Ai!" gerutunya.

"Enaknya orang sombong gini digimanain Sya?" tanya Sifa seraya mengunyah ciki.

"Diempanin ke gorilla yang lagi kawin!" jawab Aisya sekenanya sambil melahap puding cepat-cepat yang tengah ia nikmati. Bukannya sakit hati Raudhah tergelak puas, sementara yang lain sedang bercengkrama bersama di ruang tamu bersama Ernest yang baru saja pulang.

"Aduhhh, ini jomblo-jomblo makan terus euy! Ngga takut gendut gitu?" tanya teh Arin mengusap perut buncit yang sudah mendekati hpl.

Raudhah semakin puas tergelak saat teh Arin ikut mencibir keduanya tanpa sengaja, dan semakin maju saja bibir Aisya dan Sifa.

"Bisa ngga sih, kita bekap aja mulut teh Raudhah?!" tanya Sifa si calon adik ipar Raudhah.

"Bisa---bisa, Di laci ada lakban, ambil aja Fa!" jawab Aisya.

Sandi dan Ernest ikut bergabung di meja makan, "pantesan tambah gendut, makan terus sih..." Ernest mengambil duduk di samping Aisya dan menopang dagunya menghadap Aisya membuat Aisya merona salah tingkah.

Dan rasa ini, adalah rasa yang selalu ada jika Ernest ada di sampingnya, sudah begitu lama Aisya tak merasakan perasaan ini.

Aisya mengusap lembut wajah Ernest untuk pertama kalinya setelah 5 tahun tak bertemu, "aku ngga gendut!"

"Mau ngga kalo kuajakin jalan?" tanya Ernest.

"Sekarang?" tanya mengangkat kedua alis.

Ernest mengangguk. "Kemana?" tanya Aisya.

"KUA," singkatnya.

"Asik," kekeh Sandi.

"Aahhhhhhh, Sifa sama siapa atuh?! Ai udah ada adamnya!" rengek Sifa ditertawai Raudhah sang calon kakak ipar.

"Nih, sama toples ciki aja!" jawab kakaknya Sandi menumpukan siku di kepala kursi ruang makan.

"Jalan keluar sebentar sambil cari angin sore, kangen mie ayam mang kumis euy, masih ada ngga?" tanya Ernest.

"Masih!!" bukan Aisya, tapi Raudhah, Sifa, Sandi dan teh Arin.

"Yu jajan yuk!" ajak A Ikhwan tak membiarkan Ernest berduaan begitu saja dengan Aisya, "belum mahromnya, ngga boleh berduaan." Ucapnya lantang menganggap keduanya masih terlalu kecil untuk pergi berduaan, padahal usia keduanya sudah menginjak 23 tahun.

Aisya melirik pada Ernest seakan meminta pendapatnya, kemudian Ernest mengangguk menyetujuinya.

"Kuyy lah! Sandi yang bawa mobil!" ajaknya.

Moment yang harusnya berkangen-kangen ria sebagai ajang melepas rindu dan dihabiskan berduaan saja jatuhnya jadi mirip rombongan hajat karena masih dengan batik dan baju semi kebaya.

Dengan dibantu a Ikhwan, Aisya turun dari mobil, "kamu tadi refleks bisa berdiri, mau aa anter ketemu dokter Dewi engga, besok?"

Aisya menggeleng, "besok Ai kerja, a...nanti aja minggu depan," jawab Aisya.

"A, biar aku yang dorong?" tawar Ernest diangguki Ikhwan. Aroma kuah celupan mie dan sayur menguar ketika mang Kumis membuka tutup panci, bersama aroma ayam bumbu kecapnya.

Ernest dengan sengaja melambatkan langkahnya demi bisa mencuri-curi berduaan dengan Aisya, membiarkan yang lain berebut kursi duluan.

"Apa kabar, my'Hawa? Udah lama ngga ketemu, ngga pernah denger kabar kamu lagi, terakhir waktu 5 tahun lalu," ucapnya seiring putaran pelan roda kursi.

Aisya tersenyum miring, "seperti yang kamu liat, aku masih dengan kursi rodaku.." jawab Aisya menghentikan dorongan Ernest. Ia lantas memutari Aisya dan berjongkok di depannya, menaruh kedua tangan di pangkuan Aisya.

"Ngga sehari pun aku ngga inget kamu, Sya. Udah mirip puasa yang ngga berkesudahan, nahan rindu sampai gila," ucap Ernest.

Kini mata bening itu menatap Ernest dalam penuh arti, "5 tahun, kamu sudah menjadi lulusan dengan gelar cumlaude, sudah pasti banyak perusahaan atau lembaga yang pengen kamu kerja disana, 5 tahun rambut kamu jadi agak gondrong..." Aisya tertawa renyah mengacak rambut Ernest lalu merapikannya kembali dan bermuara mengusap rahang tegas Ernest.

"Kamu tau aku cumlaude dari mana?" kedua alis itu saling bertaut.

"Mama Iren, aku denger juga dari mama Iren, kalo kamu banyak yang meminang, bahkan sudah ada rekomendasi untuk jadi pengajar juga disana," jawab Ai tersenyum merona.

"Apa kamu mau ikut aku ke Mesir? Kita bangun rumah tangga disana?" Aisya mendengkus lembut dan menggeleng, "aku mau disini. Aku masih betah di Indonesia."

Ernest mencubit pipi Aisya, "kalo gitu waktuku di Mesir sudah selesai. Karena pintu rumahku sudah menunggu. Dan aku ngga mau dia terlalu lama menunggu lagi, takut keburu disamber orang lain,"

Aisya tertawa renyah namun sejurus kemudian ia menghentikan tawanya, "aku masih segini-gini aja Nest, apa kamu masih mau terima aku?" jujur saja Aisya merasa kerdil di depan Ernest, Ernest yang sekarang jauh lebih sempurna lagi.

"Untuk itulah aku disini, keliatan banget sih ngga bisa tanpa aku'nya!" jawab Ernest pede.

"Ihhh, pede abis!" cibir Aisya. Tiba-tiba Ernest menepuk jidatnya, "aduh lupa euy!"

"Kenapa?"

"Barangku ketinggalan di tas, tasnya di rumah kamu tadi."

"Penting?"

"Penting banget! Itu separuh cinta aku buat kamu," jawab Ernest yang langsung mendapatkan pukulan di lengannya dari Aisya.

"Serius ih!" ketus Aisya.

"Dua rius, cantik! Eh, sejuta rius deh!" balas Ernest.

"Barang apa emangnya?" tanya Ai.

"Kalo dikasih tau bukan kejutan atuh!"

"Ih, jangan sampe aku mati penasaran Ernest!" matanya melotot.

"Gentayangan dong?! Mau dong digentayangin!" gombalnya lagi, ciri khas Ernest, Aisya mencebik separuh tertawa, ia begitu bahagia Ernestnya sudah kembali.

"Hey, anak muda! Jadi nge'mie ayamnya ngga?! Udah dipesenin nih, mau pada dimakan atau cuma mau ngalangin jalan aja disitu?!" a Ikhwan bersuara di meja pojok kanan, dimana teh Raudhah dan Sifa bahkan sudah berebut sendok sambal.

Ernest berdiri dan kembali mendorong kursi Aisya, "5 tahun ngga ketemu dan tau kabar kamu, kamu makin cantik, Sya. Makin bikin rindu!"

Aisya menautkan alisnya, "Nest, kamu belum pulang ke rumah?" Aisya mendongak mengingat Ernest dan kopernya.

"Belum."

"Ih!" omel Aisya, "bukannya pulang dulu malah langsung kesini?! Orang rumah pasti pada nanyain!"

"Ngga apa-apa, udah ngga kuat nahan kangen aku'nya!" jawab Ernest, "takut mati penasaran karena ngga ketemu kamu," tirunya seperti ucapan Aisya tadi.

Aisya tertawa dan menepuk tangan Ernest yang terbalut kemeja.

Ikhwan dapat melihat kembali binar semangat dan bahagia di mata Aisya hari ini.

.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Happyy

Happyy

🤗🤗

2023-11-02

2

Mukmini Salasiyanti

Mukmini Salasiyanti

wan... a'.....
euiiiiii
kooperatif dong....... 😂
asyekkkkkkkkk

2023-08-04

1

tria ulandari

tria ulandari

gmna gak gila krna rindu coba ,, tiap menit detik hari diabetes di gombalin terus 😂😂

2023-06-29

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!