DM'A_part 4

Ernest sengaja tak memberikan kabar pada siapapun termasuk grandpa dan mama Iren, jika hari ini ia pulang.

...Soekarno-Hatta International Airport...

Ernest menurunkan earphone dan menggantungkannya di leher, alis tebalnya mengernyit karena silau.

"Hm, Jakarta." Ia masih harus menempuh perjalanan lagi ke Bandung untuk bisa sampai di rumah Aisya.

Ernest menscroll ponsel dan memesan taksi online untuk kemudian sampai di garasi travel mobil yang dipesannya menuju Bandung. Mungkin ia akan sampai di Bandung sore, dan memilih tidak menunda-nunda perjalanannya, cukup melelahkan memang, namun hatinya kadung darurat rindu.

Sebotol air mineral menjadi pengobat lelah dan haus ditemani musik pop Indonesia dari penyanyi pria Indonesia yang sedang naik daun.

Mobil berjenis minibus ini melaju setelah terisi hampir penuh, dengan mengutamakan kenyamanan penumpang ia berangkat dari Jakarta menuju Bandung melewati tol.

5 tahun ia berada di Mesir, datang kembali ke Indonesia terasa banyak yang berbeda, entah itu cuaca atau kondisi jalanan, meski tetap sama macetnya.

Hawa dingin mulai terasa sejuk menyentuh permukaan kulit, Ernest menatap keluar jendela.

"Bandung, i'm home."

"Caheum--caheum, ledeng a! Yo langsung masuk!"

"St hall!"

Teriakan para kernet angkutan umum terasa menggelikan di telinga Ernest, benar ia telah pulang.

Titt!

Seorang pria paruh baya menyembulkan kepalanya dari dalam mobil, "a Ernest?"

"Iya," Ernest masuk ke dalam taxi online pesanannya.

////

Aisya sudah siap dengan kebaya berwarna pink soft senada dengan jilbab dan rok satinnya.

"Anak umi cantik," Umi mengusap lembut kedua pundak Aisya. Putri bungsu yang semakin cantik nan dewasa meskipun masih manja dan usil.

"Cantik dong mi, kan perempuan!" tawanya menyusun potongan kue di atas piring di ruang makan.

"A Sandi sama keluarganya udah dimana, mi?" tanya Aisya.

"Katanya sih udah deket, kamu siap-siap, panggilin Raudhah di kamarnya..." umi kembali masuk ke dapur, diangguki Aisya.

"Teteh! Kata umi turun! Lama amat dandannya!" teriak Aisya menggulirkan roda kursi. Tak ada jawaban dari Raudhah, Aisya mencari dimana keberadaan kakaknya itu.

Langkah kaki Ernest membawanya ke sebuah rumah yang sangat ia rindukan, ke rumah yang dulu sering menjadi tujuannya berkelana. Masih bercat putih dengan aksen biru telur asin. Entah catnya yang awet atau memang abi Huda selalu memperbarui dengan cat baru namun warna sama.

Rumah yang menjadi kenangan ia untuk pertama kalinya memikirkan tentang keyakinan yang indah.

Namun ada yang berbeda, Ernest mengerutkan dahinya berlipat-lipat saat turun dari taxi online, bahkan ia belum sempat pulang ke rumah dan memilih singgah terlebih dahulu ke rumah sang Hawa. Rindu yang kian hari kian menggunung tak bisa ia tahan.

Aisya mendorong kursi roda, sebenarnya sedikit demi sedikit ia sudah bisa menggerakan kaki, namun tak banyak pergerakan, hanya baru dapat menggeser posisinya beberapa centi saja, untuk selebihnya ia belum dapat berbuat lebih.

Gadis itu mencari dimana Raudhah berada, hingga ia menemukan pintu rumah yang terbuka.

"Aisya?" gumam Ernest membenarkan posisi tali tas ransel di pundaknya dengan satu tangan masih menggenggam kuat handle koper.

Tiba-tiba saja sebuah mobil hitam melintas di depan Ernest berada dan berhenti tepat di depan rumah Aisya.

Dari dalam mobilnya keluar sesosok lelaki muda dengan batik parang coklat bersama keluarganya.

DEG !

Siapa lelaki itu, Aisya pake....mata Ernest meneliti namun hatinya sulit menerima logika jika kini rumah Aisya seperti sedang mengadakan sebuah acara lamaran.

Memory 5 tahun lalu memutar bak kaset yang ter-rewind di otak Ernest, sepasang anak remaja dengan seragam SMA saling bertaut janji.

Aku masih punya janji sama kamu,

Apa?

Membawamu ke Jabal Rahmah,

Kalo gitu aku tunggu,

Ernest mengurungkan niatannya melangkah lebih dalam lagi.

"Assalamu'alaikum!" seru keluarga Sandi, pandangan Aisya langsung mengarah keluar, bersama keluarganya yang keluar dari dalam.

Namun netranya menangkap sesosok lain jauh di belakang Sandi dan keluarga, "Ya Allah!"

Netra keduanya jatuh ke tempat satu sama lain hingga saling tatap tak dapat terhindarkan lagi.

"Aisya..."

"Ernest..."

Jantung Aisya hampir tak berdetak sepersekian detik, melihat seseorang yang mustahil ia lihat kini ada di pandangan.

Aisya melolong di tempatnya, ia bahkan masih ingat dengan wajah tegas namun usil itu, yang selalu melemparkan kalimat rayuan dan gombalan untuknya, meski kini jauh lebih dewasa, tapi wajah itu tak sedetik pun Aisya lupa.

Ernest, Nest! teriak Aisya lirih dalam hati, kenapa ia jadi mendadak bisu.

"Ini bukan mimpi kan?!"

"Ai," tegur Sandi menyentuh pundak yang terbalut jilbab dan pakaian itu. Bukannya mendengar, Aisya langsung memutar roda kursinya sekencang mungkin saat sepatu warrior Ernest bergerak menjauh.

"Ernest!!!!" teriak Aisya lirih nan kencang.

"Nest!"

Teh Raudhah bahkan a Ikhwan, abi dan umi melihat itu.

Hati Ernest remuk saat melihat Sandi menyentuh pundak sang hawa, ia rasa itu acara lamaran, dan lelaki itu jelas ada hubungan dengan Aisya, ia bermaksud berbalik memutar badannya, namun Aisya begitu lirih memanggil namanya.

Kenapa ia harus setakluk itu oleh Aisya, apalagi ketika....

Bluggghhhh!

Karena memutar terlalu kencang dan tak terkendali, jalan yang dilewati pun tidak mulus terkesan banyak turunan, kursi roda Aisya jatuh membuat gadis itu jatuh ke halaman rumahnya.

"Ai!"

Sakit, Aisya tak dapat mengejar lagi Ernest untuk kesekian kalinya. Aisya terisak kencang, karena kembali gagal mengejar Adam-nya.

Dapat Aisya rasakan, tangan umi, tangan Sandi dan teh Raudhah membantu Aisya.

"Kamu tuh mau kemana?!"

"Mau ngejar Ernest, mi!" Aisya berusaha kuat bangkit hingga akhirnya atas tekadnya ia berhasil berdiri dengan kedua kakinya untuk pertama kalinya lagi.

"Ha? MasyaAllah!"

Namun kembali ia terjatuh lagi, hingga tangan asing memegang lengannya, "udah 5 tahun masih belajar jalan? Kalah sama bayi dong!"

Aisya mendongak dan menangis terisak sambil tertawa.

"Assalamu'alaikum my Hawa..."

PLAKKK!

Aisya menampar pipi Ernest, "kamu jahat tau ngga!"

"Assalamu'alaikum abi, umi...a Ikhwan, teh..." sapa Ernest membantu Aisya duduk di kursi roda yang dibawa a Ikhwan untuknya.

"Ernest, masyaAllah...." umi menangkup rahang Ernest.

"Wa'alaikumsalam. Saya kira kamu sudah melupakan adik saya, Nest." a Ikhwan menyunggingkan senyuman miring lalu menepuk-nepuk pundak Ernest.

Ernest menggeleng, "Aisya tempat saya pulang, a."

"Ini?" tanya Sandi.

"Iya, a Sandi...ini Ernest. Calon Aisya, jadi setelah a Sandi sama teh Raudhah nikah nanti giliran Aisya, ya kan Nest?"

Ernest tidak mengiyakan atau bilang tidak membuat Aisya menatapnya sengit dan menggembungkan pipinya, ciri khas Aisya, membuat Ernest tertawa, she is my Aisya.

"Ya sudah, masuk kita lanjutkan acara.... Ernest, ikut ke dalam...ini acara khitbah Raudhah..."

"Abi, umi...teh, aa...kalau boleh, Ernest mau ajak Aisya sebentar keluar setelah acara, boleh?"

"Kemana?" tanya Ikhwan bereaksi.

.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Lia Bagus

Lia Bagus

yeyyyy tebakanku bener kalo a sandi tuh calonnya teh Raudhah

2024-08-31

1

Happyy

Happyy

💖💖💖

2023-11-02

1

Istrinya Minyoongi 💜

Istrinya Minyoongi 💜

achh ka sin membuat ku syok jantung nihh🤭🤭ku kira aisya yg mao lamaran 🤦🤗

2023-09-16

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!