DM'A_part 13

Dengan mendorong kotak cincin beludru merah di meja, Ernest mantap melamar Aisya langsung di hadapan keluarganya.

"Ai ngga mau nikah sama dia!" jawab Aisya lirih dari atas tangga. Tatapannya berbayang, tanda jika air matanya turun lagi. Kadung kesal, jadinya rasa senang mendadak menguap ke angkasa.

Ernest benar-benar keterlaluan, padahal Aisya sudah bela-belain nangis sampe berda rah-da rah, tapi pemuda ini malah dengan mantapnya melamar Aisya.

Kenapa juga ia sampai lupa jika Ernest adalah dewa jahil! Bisa sampe amnesia gini, kalo Ernest makhluk terusil di gugusan bima sakti.

Ai turun mengejutkan semua orang termasuk Ernest, tampilannya semrawut masih berkebaya dan berjilbab. Tanpa ingin menjelaskan apapun, Aisya berbelok ke arah dapur.

"Ai..." lirih abi dan umi.

"Ini....ekhem." Grandpa berdehem mencoba mencerna situasi yang terjadi.

Bukan cuma grandpa yang spechless, namun semuanya termasuk keluarga Aisya.

"Sorry---sorry semua, ini salah Ernest. Sebentar!" menyadari kesalahan dan amukan Aisya, Ernest beranjak dan menyusul Aisya dengan membawa kotak cincin itu.

Raudhah terkekeh dan melipat bibirnya, "nah kan. Kena tulahnya, itu dia ngambek," kekehnya baru menyadari jika sejak di acaranya, Aisya uring-uringan gara-gara pemuda di depannya.

"Sya...." panggil Ernest, "aku minta maaf, aku salah. Niatnya kasih surprise buat kamu, tapi di luar dugaan kamu malah ngambek beneran..." ia nyengir kuda, sementara Aisya tak mau menatapnya barang sedetik, takut luluh.

"Ayo dong, masa surpriseku berakhir gagal?"

"Ngga lucu!" sengitnya melipat kedua tangannya di dadha, setelah menolak lamaran Ernest tadi di tangga. Sekali-kali pemuda itu harus ngerasain di prank juga.

"Sya. Masa aku yang mau ngasih kejutan, malah aku yang terkejut?!" bujuk Ernest, Aisya membelakangi Ernest untuk menaruh gelas kotornya, tanpa Ernest tau sebenarnya Aisya sudah tersenyum geli.

"Ada saatnya kamu tuh bisa becanda, ada saatnya kamu harus serius. Dan menurutku, sekarang tuh ngga pantes dibecandain Ernest!" ia memutar badannya dan berkata penuh nada amarah, meski tertahan.

"Tau ngga aku gimana tadi? Udah kaya kucing sakit, nungguin kamu! Bukan buatku aja, tapi rasa menghargai kamu atas acara teteh."

Ernest diam demi membiarkan Aisya mengeluarkan semua uneg-uneg di dhada.

"Iya tau."

Ernest meraih tangan Aisya yang sempat mendapat penolakan awalnya, "kalo marah harus apa?"

Aisya diam, meski hatinya sudah menjawab.

"Kalo masih marah harus ngapain?" tanya Ernest lagi.

Aisya masih diam, namun kembali hatinya yang menjawab.

"Masih marah juga, harus apa?" tanya nya kembali.

"Please forgive me, aku cuma rindu wajah kesel kamu..." Ernest menggenggam tangan Aisya, lalu dengan tanpa permisi memasukan lingkaran emas itu di jemari Aisya, tanpa penolakan hanya Aisya memalingkan wajahnya ke lain arah sambil mendengus, *modus*.

"Nah gini kan jarinya makin cantik!" puji Ernest pada tangan Aisya yang sudah tersemat cincin khitbah darinya.

"Kamu maksa!" dumel Aisya.

"Ya ngga apa-apa, kamunya juga ngga nolak kok..." balasnya terkekeh. Acara dilanjutkan saat Ernest membawa Aisya ke ruang depan.

Baru saja disibukan dengan pernikahan Raudhah, kini keluarga Aisya sudah kembali mengundang tetangga dengan pernikahan Aisya---Ernest. Tepat 2 minggu setelah pernikahan Raudhah.

Mungkin tetangga akan berpikir, nih orang duitnya ngga abis-abis! Kenapa ngga sekalian sih, boros amplop nih!

Aisya menyerahkan undangan berbentuk seperti buku beberapa lembar pada rekan-rekan satu kantornya.

"Wah, Ai...tau-tau nikah aja?! Kapan pacarannya?!" tanya Wildan. Dan jawabannya adalah tidak, Aisya tidak pernah menjalin hubungan pacaran dengan Ernest.

"Kenalan lama," jawab Aisya. Tidak semuanya Aisya undang, hanya orang-orang penting dan yang berada di circlenya saja, karena Aisya dan Ernest tidak berencana bikin pesta ngalahin royal weddingnya keluarga Buckingham atau anak sultan.

Ernest merapikan seluruh data diri, ia bermaksud mengambil gelar magister di Indonesia saja, lalu setelahnya mencari pekerjaan disini.

"Kamu apa-apaan Nest, belum cukup gelar kamu di Mesir. Sekarang apa lagi yang kamu cari? Bagi grandpa, gelar kamu tidak penting, yang penting kamu mau meneruskan bisnis grandpa. Itu akan cukup membiayai hidup kamu, Aisya dan anak-anak kamu nanti!"

Ernest tersenyum simpul pada grandpa, "bukan masalah gelar grandpa. Tapi pendidikan yang tak akan pernah puas. Ernest adalah calon imam, Aisya bekerja di tempat bergengsi dengan usahanya sendiri, sementara Ernest....mengandalkan harta turunan grandpa? Dunia pasti akan menertawakan, kalaupun Ernest akan menjadi seorang atasan, sudah pasti gelar menjadi satu pandangan tersendiri oleh karyawan. Masa iya pendidikan Ernest tidak lebih tinggi dari karyawan, hanya sarjana strata 1, maka mereka akan menggurui Ernest." ujarnya.

"Maksud kamu, kamu tak mau meneruskan bisnis grandpa gitu?" tanya grandpa agak bernada sewot.

Ernest menggeleng, "bukan. Tapi lebih ingin membuktikan diri kalau Ernest mampu membawa dan membimbing Aisya juga bisnis grandpa, bahwa Ernest adalah pemimpin yang teladan dan cukup disegani, minimal dengan pendidikan."

Grandpa mencebik dengan gaya khas anak remaja, "dengan kata lain kamu tidak mau meneruskan bisnis grandpa, Ernest. Tidak usah berbelit-belit!" tukas grandpa pergi berlalu meninggalkan kamar Ernest.

Ernest menghela nafasnya, perasaan orangtua begitu sensitif.

"Kamu yakin masuk kampus lagi?" tanga Aisya meminum teh manis lemon hangatnya, sore ini Ernest menjemputnya dan mengajak Aisya makan di kedai sate dan tengkleng.

"Yakin, aku memang memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Tapi bukan berarti membatalkan rencana ambil magister."

"Aku malu," Ernest kembali melahap sate miliknya.

"Malu kenapa? Kan ngga telan jank?" sahut Aisya.

Ernest terkekeh sebentar, "malu sama calon makmumku. Masa kamu kerja, aku pengangguran. Malu sama gelar cumlaude ku, masa ngga jadi apa-apa," jawabnya.

Aisya mengangguk paham, "minimalnya, Sya. Aku punya kontribusi untuk negriku," tambah Ernest.

"Iya aku paham. Kamu mau kerja di lembaga milik negri atau jadi tenaga pengajar, kaya dosen misalnya. Dengan gelar magister kamu sudah mumpuni untuk jadi dosen, di mesir aja kamu udah ditawarin jadi dosen? Kontribusi untuk negri, right?" Aisya kembali mengambil sate miliknya dan melahapnya.

Namun Ernest menggeleng, "kontribusi untuk negri dengan kuliah di dalam negri. Kan aku bayar, jadi uangnya masuk kantong kampus dalam negri bukan kampus Kairo!"

Uhukk-uhukkk! Aisya menyambar teh miliknya karena tak menyangka jawaban Ernest akan segaring itu, itu mah jawaban otaknya kaum rebahan!

"Dasar sableng!" Ernest terkekeh.

"Mas, satenya satu porsi lagi ya!" teriak Ernest.

"Yang bener aja, buat siapa?!" tanya Aisya, pasalnya yang di meja saja belum habis.

"Buat aku lah. Udah lama ngga makan sate madura...di Mesir mana ada!"

"Masa?! Setauku disana juga ada penganan daging apalagi kambing?!"

"Maksudku ngga ada sate madura yang jualnya orang Madura asli, mana pake baju merah putih gini!" jawabnya.

Ingin sekali Aisya menyiramkan teh miliknya itu pada calon suaminya ini, dari dulu sampai sekarang, sifat absurd dan usilnya itu sudah menda rah daging!

.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Happyy

Happyy

😘😘

2023-11-03

1

Niken Yuli Asmoro

Niken Yuli Asmoro

ditunggu upnya

2023-07-05

1

mommyanis

mommyanis

semoga lancar acara nikahannya yang sebentar lagi.klo mao kembali k Kairo harap dibawa serta Aishanya,jangan sampai LDR an,g enak dan banyak uji nyalinya 😌😌😌😌.lebih baik salah satu mengalah dg ikut sama pasangannya,demi kesejahteraan bersama 😁😁😁😁😁😁😁

2023-07-04

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!