DM'A_part 3

Hari demi hari dijalani mengalir seperti air, kemana takdir Allah membawa maka disitu nasib manusia bermuara.

Aisya masih tetap berada di kursi rodanya, meski ada perkembangan kesehatan, tapi itu tak cukup signifikan.

"Dok, kalo Aisya minta jadwal terapi minggu depan dimajuin gimana?" tanya nya membenahi pakaian dan memutar roda kursinya menghampiri dokter fisioterapinya itu.

Ia masih terus berikhtiar demi kesembuhan, karena Aisya percaya Allah tak akan pernah tidur, mukjizat itu nyata adanya. Jika Allah berkehendak semuanya akan terjadi.

"Emhhh, liat jadwal dulu sebentar ya?! Kalo ruangannya kosong, terus saya juga lagi ngga ada jadwal terapi, bisa kita rubah harinya....sebentar," wanita ini merogoh ponsel dan menghubungi seseorang.

Aisya menatap penuh harap selagi dokter Dewi mengecek jadwalnya pada asisten perawat.

Senyum tercetak lebar ketika Aisya mendengar kabar baik dari obrolan dokter Dewi yang berhasil telinganya tangkap.

"Bisa dok?" tukas Aisya bertanya dengan mata berbinar.

"Bisa, alhamdulillah." Dokter Fisioterapi Aisya itu tersenyum hangat.

"Alhamdulillah!"

"Salam buat umi mu, Sya."

"Pasti dok, makasih. Kalo gitu Aisya pamit, assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam," ia tersenyum simpul melihat Aisya, ada rasa getir namun salut pada gadis itu, Aisya adalah pasien termuda yang diterimanya 5 tahun lalu. Di usia semuda itu, Aisya mengalami kelumpuhan, namun gadis itu tak pernah mengeluh apalagi menyerah untuk kesembuhan.

Support system yang dimiliki Aisya begitu kuat.

"Gimana?" tanya Raudhah yang mengantar Aisya terapi untuk ke.....entah, mereka tak menghitung berapa banyak usaha demi kesembuhan Aisya. Cicitan roda masih setia menemani hari-hari Aisya.

"Alhamdulillah bisa teh," jawabnya cepat. Setidaknya terapi-terapi ini mencegah Aisya dari komplikasi seperti organ kaki yang menyusut karena lamanya ia tak berjalan dan membiasakan otot-otot kakinya agar bisa berjalan kembali.

Raudhah mendorong kursi Aisya ke depan lobby rumah sakit, dimana mobil taksi online sudah menunggu mereka.

"Aku udah ngajuin cuti kak, buat acara minggu depan..." ujar Aisya.

"Beneran, bisa?"

Aisya mengangguk, "bisa dong, Ai kan udah setaun kerja disana..."

Prospek kerja bidang astronomi memang begitu prestisius, dan Aisya cukup beruntung bisa diterima bekerja di lembaga koordinasi kementrian riset.

°°°°°°

Ernest memasukan beberapa potong pakaiannya ke dalam koper. Cukup sudah! Ia tak bisa lagi menahan rindu yang selama 5 tahun ini ia tahan.

Dan hari ini, ia akan kembali menanyakan perasaannya pada Aisya, gadis yang selama ini selalu menghiasi bunga tidurnya, gadis yang selama ini menjadi alasannya tetap memperjuangkan mimpi.

"Apa kabar kamu, my'Hawa? Kamu rindu aku ngga? Kebangetan kalo ngga!" gumamnya bermonolog seraya merapikan barang-barangnya.

Netra hitam Ernest jatuh pada selembar surat dari sang mantan dosen yang memintanya menjadi asisten dosen, dan rekomendasi untuk meneruskan pendidikan magisternya di Al Azhar agar nantinya ia di promosikan sebagai dosen setelah gelar cumlaude didapatnya saat lulus kemarin.

Ada lengu han kasar dari Ernest saat ia meraih surat itu, Ernest kembali membaca dengan seksama dan duduk di tepian ranjang, menimbang-nimbang muara dari keputusannya nanti.

Gelar dan prospek kerja perstisius di depan mata, perjuangannya selama duduk di bangku kuliah dan jauh dari keluarga membuahkan hasil yang manis. Selangkah lagi ia bisa meraih apa yang dicita-citakan untuk menjadi seseorang yang dikenal di bidang fisika, tidak menutup kemungkinan ia akan menjadi guru besar.

Namun, memang ada sesuatu yang harus dikorbankan bukan? Waktu, jarak, pikiran, dan....Aisya. Bagaimana jika Aisya menyerah dengan hubungan jarak jauh mereka, sekarang saja...ia tak tau bagaimana keadaan Aisya, sedang apa gadis itu! Ck!

Ernest tak akan ragu lagi, ia melipat surat itu menjadi 2 dan memasukannya di saku koper lalu bergegas memeriksa semua inci kamar kostnya.

"Nest, jadi pulang kau ke Indonesia hari ini?" tanya Iko, sesama mahasiswa asal Indonesia. Pria kriwil pendek bergamis putih ini baru saja keluar dari dalam kamar kost'nya dan bersandar di pintunya.

"Jadi, Ko." angguk Ernest seraya memutar kunci kamar.

"Ha, berapa lama kau balik?" tanya nya lagi.

"Sampai dapat jawaban," kekeh Ernest menyugar rambut yang agak gondrong, beberapanya ia ikat dengan karet jepang, namun tetap saja anak-anak rambutnya mencuat keluar nakal.

"Jawaban apa, cinta?!" tembak Iko tertawa keras. Iko terkejut saat Ernest mengangguk membenarkan jawabannya.

"Wah, awak punye kekasih kah akhi?!" tanya Indra ikut menimpali, ia baru saja beres makan memasak mie instan dan jongkok di gawang pintu kost'annya sambil memegang mangkok beralaskan kaosnya karena mie masih panas, seketika aroma kuah soto khas mie instan menguar memenuhi selasar kost-kost'an yang Ernest dan beberapa mahasiswa asal negri Melayu serumpun tempati.

"Bukan kekasih, calon makmum!" jawab Ernest terkikik.

"Bah, betul? Kalau begitu kita tunggu tanggal baiknya!" jawab Iko diangguki Indra yang sibuk menyeruput mie dan kuahnya, sejurus kemudian Iko bergabung berjongkok di samping Indra dan merebut mangkoknya meminta jatah premannya.

"Salut sayeu pada awak, 5 tahun bukan waktu sebentar, tanpa ikatan, tanpa kabar berita. Awak yakin kah cik Aisya masih single?" tanya Indra sangsi. Ernest diam mendengar pertanyaan dari Indra layaknya patung, karena sejujurnya ia pun memiliki pertanyaan yang sama dengan yang Indra tanyakan.

Lalu ia meloloskan nafas kasar dan mantap menjawab, "insyaAllah!"

Jika ia memang Hawa-nya, maka Allah akan menjaga mata, hati dan perasaan Aisya sampai Ernest kembali.

"Ya sudah lah! Tunggu apa lagi, berangkat lah kau. Jangan sampai si Aisya kau itu menunggu terlalu lama arjunanya yang tak balik-balik karena kelamaan silaturahmi dengan spinx!" tawa Iko kembali keras mengisi setiap sudut kost'an.

Ernest tersenyum lebar, siap menggeret kopernya.

"Oh ya, tawaran mister Omar bagaimana? Kau ambil?! Mau kau bawa si Aisya jadi teman cleopatra?" tanya Iko.

"Masih saya pikirkan," jawab Ernest. "Kalau gitu saya pamit dulu Ko, nanti kalau pulang kabari saya. Siapa tau kita bisa janjian bertemu?!"

Iko mengokei dengan jempol karena mulutnya penuh dengan mie, sampai-sampai mie itu masih menggelantung di mulutnya.

"Assalamu'alaikum!"

"Wa'alaikumsalam..."

Di antara cuaca panas Ernest menghentikan taksi menuju bandara.

"Tunggu aku kembali, Sya."

Ernest tersenyum lebar, ia tidak membawa oleh-oleh apapun lhas negri piramida untuk keluarga papa--mama, grandpa, ataupun keluarga Aisya. Hanya oleh-oleh kecil untuk Aisya.

Lelaki itu bersandar di bangku pesawat kelas bisnis, lalu menatap dua buah tiket umroh.

MUKADIMAH UMROH, TOUR AND TRAVEL

"Sesuai janjiku Sya. Akan kubawa kamu ke jabal rahmah sesuai janjiku."

Kemudian ia memasukan itu ke dalam tas gendong bersama sebuah kotak cincin pilihannya dari salah satu jewelry terkenal di Mesir. Lalu ditatapnya pemandangan di luar jendela pesawat, perjalanan akan cukup lama maka ia akan pakai untuk tidur saja.

.

.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Rina Raisya

Rina Raisya

bismillah y nest

2023-11-03

2

Efrida

Efrida

kok aku yg deg2an

2023-09-02

2

Mukmini Salasiyanti

Mukmini Salasiyanti

dah dig dug aqu......

2023-08-04

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!