Sandi dan Raudhah saja sudah sah menjadi sepasang pengantin baru, sementara Aisya...ia justru manyun dipojokan kaya burung lagi nahan mules.
Bahkan hingga akhir acara, Ernest tak kunjung datang. Aisya hampir menangis dibuatnya.
Ia tak ingin menghubungi Ernest, kesannya kaya ngarepin amplop! Saking kesalnya, Ai melempar begitu saja handphonenya di kasur, ngga berani lempar ke lantai karena belum punya gantinya.
"Dasar cowok br3ng sek!" hardiknya. Seumur-umur, baru kali ini Aisya marah sampe tak bisa mengontrol mulutnya.
Aisya menjatuhkan dirinya hingga terjerembab di kasur. Ia bukannya manja atau melow, 5 tahun ditinggal tanpa kabar, Aisya cukup tabah, tapi ditinggal tanpa kabar setelah diberi janji manis itu sakitnya tak ada obat.
Kalau sekarang Ernest seperti itu, maka tidak menutup kemungkinan ke depannya Ernest juga seperti itu, mudah mengumbar janji mudah pula mengingkari.
Aisya masih mengunci dirinya di kamar, kebaya yang dikenakannya saja belum sempat ia buka termasuk higheelsnya.
Gadis ini masih sibuk menumpahkan seluruh rasa kesalnya dalam tumpukan selimut dan sprei, kali aja barang-barang itu mau mendengar Aisya menangis dan mengumpat.
"Ernest tuh tega! Benci!" ujarnya menggumam teredam selimut.
Raudhah tengah makan bersama Sandi, hampir 5 jam berdiri menyalami tamu layaknya manequin bikin betis berasa segede singkong gorilla! Bikin pundak berasa bawa beban besi lifter Indonesia di sea games, dan perut keroncongan.
Kini acara sudah selesai, menyisakan tempat yang masih berantakan bersama rasa lelah. Meski acara sudah berakhir, kendati demikian...ini adalah awal perjalanan biduk rumah tangga Raudhah dan Sandi.
Umi---abi pun tak kalah capek, satu keluarga ini masih berteman sepiring nasi lengkap dengan bistik, capcay, sambel goreng ati dan kentang serta kerupuk.
"Berasa ada yang kurang, ya?!" ujar Raudhah.
"Apa?" tanya Sandi sang suami yang berada di sampingnya.
"Sambel?" tembaknya lagi.
"Bukan, bukan a..." tukas Raudhah.
"Bukan makanannya,"
"Ai, mana mi?" tanya abi.
"Ha, iya! Pantesan ada yang kurang, Ai kemana?!" tembak Raudhah merasa satu pikiran dengan abi.
"Di kamar mandi, mungkin." tebak Ikhwan, "coba Ikhwan cari," inisiatifnya beranjak, melihat kedua orangtuanya sedang makan, tak etis rasanya hal itu harus mengganggu keduanya.
"Ai!" lantangnya memanggil-manggil sang adik.
Tak jua mendapatkan jawaban, Ikhwan mencarinya ke atas, dimana kamar Aisya berada.
"Ai," panggilnya lagi.
Langkahnya yang hendak mengetuk pintu kamar Aisya harus terhenti karena panggilan Arin dari kamar, "aa, sini dulu sebentar ih! Tolongin Arin," jeritnya.
"Iya, iya sebentar." jawabnya memutar badan dan kembali setelah sempat membuka handle pintu kamar Aisya namun pintu itu terkunci, itu artinya Aisya ada di dalam, "kebiasaan tidur mau ashar. Yang mantenan siapa yang ke bo siapa," dengus geli Ikhwan.
Mobil Ernest sudah berbelok di depan blok perumahan Aisya, bersama keluarganya. Ada grandpa, papa Edo dan mama Iren.
Kedua adiknya tak mau ikut, mereka memilih dunianya sendiri ketimbang ngikut acara yang bagi mereka membosankan, paling-paling cuma obrolan kolot nan kalem, bisa-bisa mati melongo kalo cuma angguk-angguk tak paham sambil basa-basi bareng orangtua.
Jiwa muda mereka tak cocok menyatu dengan acara begituan.
"Hah, gara-gara rencana konyol kamu. Grandpa di cap tak datang di acara Huda!" ia mengetuk karpet karet, alas mobil dengan tongkatnya.
"Bukan ngga datang, grandpa. Tapi telat... Telat bukan berarti ngga datang," jawabnya melihat sang kakek dari rear vision karena Ernest yang mengemudi.
Suara halus mesin mobil berhenti di depan kediaman Aisya.
Bahkan halamannya saja belum sempat dibersihkan, kursi-kursi hajatan masih berserakan memenuhi halaman rumah bersama tirai-tirai latar acara. Panggung tempat para pengisi acara hiburan pun masih sepenuhnya berdiri kokoh sepaket alat-alat musik.
Mungkin para personel band, masih di belakang membereskan sound'nya.
"Nah kan, liat! Liat itu, acara udah selesai Nest!" geram grandpa sewot membuat Ernest terkekeh.
"Kan memang rencana cucu papa begitu, orang-orang kondangan sat-set takut makanannya keburu abis. Nah ini, nunggu semuanya ludes dulu!" setuju papa Edo yang juga ikut kesal, karena harus melewatkan meriahnya acara. Masa iya ngamplop cuma dapet liat bekasan tempat acara doang!
"100 buat papa!" seru Ernest yang justru tak tersindir atau sakit hati dengan ucapan grandpa dan papa'nya. Mama Iren hanya diam tak mau ikut berdebat.
Karena halaman masih cukup berantakan dan penuh, Ernest terpaksa memarkirkan mobilnya di depan rumah Aisya.
"Ini ada kan orangnya di rumah?" tanya mama Iren.
"Ya pasti ada lah! Masa orang hajat ngga ada di rumah." cebik papa Edo santai saja dengan membawa beberapa paper bag. Dosa sekali Ernest meminta para orangtua membawakan barang untuk meminang Aisya.
Dengan menyingkirkan kursi dari jalannya melangkah, Ernest memikirkan padanan kalimat yang akan ia ucapkan nanti. Apalagi jika mengingat, kemungkinan besar Aisya yang marah dan murka padanya.
Rawrrrr, Ernest terkekeh geli membayangkan wajah ketus Aisya.
"Assalamu'alaikum..." salamnya mengetuk pintu rumah dan memanjangkan lehernya ke dalam.
1 kali, 2 kali belum ada respon dari dalam. Kali ketiga Ernest kembali mengucapkan salamnya.
"Eh, itu di luar ada yang salam? Denger engga?" telunjuknya mengacung ke atas udara. Sekejap semuanya diam ditengah obrolannya.
"Assalamu'alaikum..."
"Bener mi!"
"Wa'alaikumsalam."
"Ernest bukan, Mi? Suaranya kaya Ernest!" ujar Raudhah.
Umi sudah selesai dengan makannya begitupun abi. Perempuan yang telah melahirkan Aisya itu melangkah ke depan demi melihat tamu yang datang.
"Ya Allah!"
"Bu Iren!"
"Umi Hanifah," kedua ibu ini memang sudah kenal, meski jarang bertemu. Namun tak ada rasa cemburu, iri ataupun dengki diantara keduanya terkhusus umi.
"Masuk---masuk, Nest!"
"Assalamu'alaikum umi...maaf baru hadir," imbuhnya digelengi umi, "tak apa, jangan dibikin repot atau tak enak hati," balasnya lembut.
"Huda!" sapa grandpa.
"Pak Pradiawan!" balas abi, "masyaAllah! Lama tidak bertemu, pak. Apa kabar?!" abi menyalami grandpa dan papa Edo.
"Baik. Baik...."
Mereka digiring masuk, bersama dengan para orangtua yang sudah heboh bercengkrama, begitu memasuki ruang tengah, Ernest bertemu dengan sepasang pengantin baru, teh Arin dan a Ikhwan, namun tak menemukan Aisya disana.
"Teh," alisnya mengkerut.
Raudhah tersenyum miring, "pasti nanyain Ai kan?" tembak Raudhah usil, siapa lagi yang akan dicari Ernest kalo bukan Aisya, tidak mungkin Ernest nyariin si Milky, kucing persia milik keluarga Aisya.
Ernest terkekeh, karena maksud yang belum ia utarakan sudah tertebak Raudhah.
"Ai di kamar, tidur kayanya. Kaya ngga tau aja dia kan ke bo." hardik Raudhah.
"Kenapa nih, telat? Acaranya jadi keburu selesai, padahal kalau tadi bisa liat hiburannya. Kalo sekarang kan cuma tinggal sisa-sisanya aja?" tanya abi.
"Ini si Ernest! Dia kata, kepengen bikin surprise buat Aisya! Dasar konyol," desis grandpa kesal mengingat itu.
Mereka tertawa mendengarnya, "surprise apa nih, Nest?" tanya teh Arin penasaran.
Ernest memandang grandpa, papa dan mamanya.
Raut wajah dengan senyuman lebar itu kini berubah menjadi serius, membuat suasana yang tersetting menjadi sedikit tegang karena rasa penasaran setengah mati.
"Niat kedatangan Ernest, dengan membawa Grandpa, papa, dan mama, insyaAllah adalah.....ingin meminang Aisya untuk Ernest persunting menjadi istri..."
Seseorang yang baru turun dari lantai atas dengan wajah sembabnya mematung di tempat.
.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments
Lia Bagus
hooh ih s Ernest usil..tuh si ai lagi nangis kejer dikamar wkwk
2024-09-01
0
Happyy
👍🏻👍🏻
2023-11-03
1
🍭ͪ ͩ🍌 ᷢ ͩ👙⃠𝐀𝐈𝐒𝐘𝐀𝐇¹⁵
surprise 👏👏👏👏👏👏🤣🤣🤣🤣
2023-07-06
1