DM'A_part 15

Bukan hanya Aisya yang jantungnya terpompa begitu cepat, seperti sedang lomba marathon, tapi pun Ernest.

Dulu, ia sudah tak aneh melihat sesuatu yang indah milik perempuan meski belum pernah menyentuh apalagi menjamahnya. Seakan properti privasi milik lawan jenis baginya bukanlah barang langka untuk dilihat, termasuk Caroline yang selalu mengumbar aurat di depannya demi sebuah perhatian.

Namun Aisya, seperti ia akan mendapatkan sesuatu yang begitu berharga di dunia. Jelas saja, Aisya pasti begitu menjaga auratnya dari siapapun adam selama hidupnya, dan hari ini gadisnya itu akan menyerahkan semuanya pada Ernest.

"Aku buka ya?" ijin Ernest menelan saliva sulit.

Aisya mengangguk, "oke." Aisya bahkan memejamkan matanya malu.

Satu persatu peniti dan jepitan terbongkar, begitupun lembaran tipis dalamaaan jilbab Aisya yang mulai Ernest singkabkan melewati kepala Aisya.

Mulai terlihat kulit seputih susu tulang selang ka milik Aisya yang mulus, semakin ke atas menampakan surai hitam Aisya terikat satu nampak sedikit lepek karena seharian ditutup meski tak dapat dipungkiri rambut Aisya cukup wangi memabukan.

"Aku mandi dulu, ya." Kini terlihat wajah cantik tanpa jilbab menghalangi, masyaAllah.

Aisya menggigit bibir bagian bawahnya menunggu jawaban Ernest yang justru melihatnya penuh dambaan, seolah telinganya tak mendengar ucapan meminta ijin dari Aisya, tangannya terulur ke arah ikatan rambut Aisya dengan gerakan jakun yang naik turun.

"Nest," lirihnya menggumam, Aisya hanya bisa diam saat Ernest menarik penuh kelembutan ikatan yang sontak menjatuhkan seluruh surai indah Aisya dalam sekali gerakan.

Surai hitam terawat tanpa terjamah barang-barang extension ataupun hair do yang beresiko merusak kesehatan rambut. Rambut panjang sepunggung yang sedikit bervolume namun lembut itu pas untuk wajah chubby Aisya.

Ernest semakin jatuh cinta dibuatnya, ia menarik senyuman tersihir, "selama kenal kamu, bahkan saat Caroline narik jilbab kamu dulu...aku baru tau kalo kamu sedang menyimpan sesuatu yang cantik disini...."

Wajahnya merah merona, Aisya menyarangkan tepukan sayangnya di lengan Ernest, "ngga usah ngerayu, aku udah biasa makanin gombalan kamu," Aisya beranjak dari duduknya berusaha menetralkan hati yang sudah mulai meleleh, jangan sampai nanti ia ambruk sebelum sampai di kamar mandi.

Tanpa diduganya, Ernest ikut beranjak dan menarik Aisya hingga menubruk dadhanya, tangannya langsung mengunci Aisya dalam dekapannya.

"Nest!" Ia bergerak gelisah dalam dekapan Ernest, cukup panik karena baru pertama kalinya ia berada dalam pelukan seseorang terlebih karena perasaannya pada Ernest adalah perasaan suka dan sayang.

Ernest terkekeh lucu melihat respon Aisya, "kamu takut banget, Sya."

"Ck, apaan sih! Aku mau mandi!" galaknya menaruh kedua telapak tangannya di dadha Ernest dengam sedikit gemetar, jujur saja ia begitu nervous menyentuh Ernest. Padahal tidak sekali Ernest dan dirinya pernah berpegangan tangan, tapi hari ini bawaannya kaya orang baru kenal terus nyentuh-nyentuh. Apakah gejala penyakit malam pertama sekonyol ini? Gelagapan ngga jelas!

"Ngga usah mandi dulu deh, kayanya aku suka wangi keringet kamu..." rayu Ernest.

Aisya tertawa garing, "jawaban kamu kaya orang ngga waras, lepasin Nest. Aku gerah, mau mandi dulu..." pinta Aisya kembali bergerak gelisah meminta Ernest melepaskannya, seolah Ernest adalah orang jahat yang berniat meruda pakksaa dirinya.

"Abis itu alesan kamu luluran dulu di dalem, ketiduran? Inget ya, kalo di kamar mandi tuh ngga boleh lama-lama, sesungguhnya kamar mandi ini dihadiri setan, hadist riwayat Ahmad dan Abu Daud."

"Tau. Aku ngga pernah mandi lama-lama,"

"Boong, ngga percaya. Perempuan kalo di kamar mandi suka lama, kalo gitu aku mandiin biar cepet," jawab Ernest membuat mata Aisya membeliak.

"Suth! Ngga nerima penolakan, yu masuk!" giring Ernest cepat-cepat sebelum Aisya angkat bicara, Ernest bahkan sudah membekap Aisya sebelumnya saat mulut Aisya hendak buka suara.

"Ernest ih! Ya udah ngga usah mandi----ngga usah mandi!" tukas Aisya. Aisya tak mau jika malam pertamanya berakhir di kamar mandi, NO! BIG NO! Meskipun ada hadist yang menyatakan jika mandi bersama pasangan bernilai pahala, namun untuk saat ini ia belum siap kalo mesti dimandiin.

Ernest kembali menyunggingkan senyumnya, katakanlah ia sudah tak kuat menahan. Jika itu dapat menjabarkan perasaan membuncah yang sedang ia rasakan sekarang, Ernest tak keberatan. Karena memang saat ini....sedetik setelah melihat Ai tanpa jilbabnya dan kecantikan yang selama ini Aisya simpan, jiwa lelakinya mendadak menguasai.

Aisya menarik nafasnya panjang mencoba meredakan degupan yang bertabuh seperti genderang perang, Ernest melepaskan Aisya dan melangkah ke arah pintu kamar keduanya. Udara dingin di kawasan ini memang membuat Aisya misuh-misuh, kenapa harus se-mendukung ini sih, hawanya!

Terdengar putaran kunci yang diputar Ernest di kamar resort keduanya sementara Aisya masih mematung di tempatnya berdiri, hingga pelukan Ernest dari belakang mampu mengejutkannya. Belum lagi hidung Ernest yang melesak masuk menembus rambutnya, membuat Aisya seketika merinding, karena ia tau Ernest sedang menyesap aromanya rakus.

Sentuhan-sentuhan lembut namun sedikit rakus dari Ernest mampu memancing jiwa sen sualitaas Aisya ikut bangkit. Aliran da rahnya ikut terasa serr...serrr...ketika tangan-tangan Ernest bergerak menjamahnya, begitupun dengan mulut dan hidungnya.

Ernest memutar badan Aisya, "you're mine..." bisik Ernest, bibir Aisya tetap terkatup, seolah hanya ingin mendengar dan merasakan dengan khusyuk serangan-serangan yang Ernest berikan.

Ernest menarik dagu Aisya agar sedikit mendongak, awalnya Ernest mengecup singkat lalu melihat bibir mungil nan merah Aisya, tak cukup sebentar dan singkat, ia kembali mengecupnya, "manis..." akuinya membuat Aisya tersenyum, "kaya apa?"

"Kaya madu," jawab Ernest, Aisya cengengesan dibuatnya padahal keduanya sedang tak berjarak, cekikikan Aisya kemudian memelan dan berhenti ketika netranya menangkap arah netra Ernest yang kembali mengunci pergerakan bibirnya.

Lambat namun pasti, kedua tangan Aisya balas merambat naik ke leher Ernest untuk mengalung nyaman disana. Mesra dan in tim ternyata tak semenakutkan kelihatannya, Aisya akui itu.

Itu kenapa para muda-mudi jaman sekarang banyak yang melakukan zina karena memang tak dipungkiri sexx adalah hal yang menyenangkan dan nikmat sampai-sampai dosa yang menanti di depan sana saja tak diindahkan.

Ernest yang lebih paham tentang hal in tim begini, tentu saja menjadi nahkodanya malam ini, ia tak mau terburu-buru untuk langsung menyerbu Aisya layaknya binatang di pengalaman pertama mereka, ia ingin menikmati sesi demi sesi yang menjadi tahapan sebuah sexx.

"Dulu, aku mati-matian nahan buat ngga nyentuh atau bayangin hal jorok apalagi ceweknya itu kamu," jujurly Ernest.

"Takut dosa?" tembak Aisya menatap pahatan luar biasa indahnya milik Tuhan dengan tanpa beban, merekam setiap detiknya untuk ia simpan sebagai memori malam pertamanya dan Ernest.

"Iya. Karena aku hargain dan hormatin kamu...." jawab Ernest, lalu pandangan Ernest jatuh pada leher putih Aisya yang kemudian dengan sendirinya jemari Ernest menyingkirkan setiap helaian rambut Aisya yang menutupinya.

Aisya mengerutkan dahi dengan apa yang dilakukan Ernest, karena kini Ernest sudah memiringkan kepalanya, sejurus kemudian lengu han dan thesahan Aisya menjadi backsound kisah malam pertama mereka saat Ernest menyarangkan mulut nakalnya di leher Aisya.

.

.

.

.

.

.

To be continued 😁😂

Terpopuler

Comments

Happyy

Happyy

😚😚😚

2023-11-03

1

◌ᷟ⑅⃝ͩ● Marlina Bachtiar ●⑅⃝ᷟ◌ͩ

◌ᷟ⑅⃝ͩ● Marlina Bachtiar ●⑅⃝ᷟ◌ͩ

selamat ya Ernest dan Aish 💕👏👏👏

2023-07-11

1

mommyanis

mommyanis

owwwwwwwwwww.....🙈🙈🙈🙈🙈🙈🙈🙈🙈🙈🙈🙈🙈🙈

2023-07-10

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!