Uhukk--uhukkk!
"Iceu! Tolong ambilin oksigen saya!"
Ernest melolong dalam hati, "grandpa, sejak kapan pake oksigen?" tanya nya.
"Sejak kamu ngga tau." jawabnya asal jeblag saja.
"Grandpa sudah uzur, tinggal nunggu dijemput malaikat, Ernest. Ini hanya usaha untuk memberikan waktu sedikit, biar tidak terlalu menderita di dunia," jelasnya terkadang jengkel dengan tubuh rentanya yang sedikit-sedikit bermasalah, mungkin memang sudah waktunya turun mesin.
"Ini pak," asisten rumah tangga muda yang belum pernah Ernest liat sebelumnya menyerahkan sebuah inhaler oksigen pada grandpa.
"A..." angguknya lungguh melihat Ernest, pemuda itu hanya melirik sekilas lalu mengangguk dan kembali fokusnya pada grandpa, "sudah lama pakai itu?"
Grandpa masih terbatuk-batuk kecil nan sesak lalu kemudian mengangguk seraya menghirup oksigen, satu zat yang memang teramat dibutuhkan manusia biar bisa hidup.
"Bumi sudah terlalu banyak polusi. Entah tubuh grandpa yang sudah tak bisa menyaring oksigen dengan benar lagi, memang hidup di bumi itu hukum rimba, Nest. Siapa yang kuat dia yang bertahan. Orang tua kaya grandpa ini bukan tandingan polusi bumi..." jawabnya menghirup lega, kemudian Iceu kembali menyerahkan obat dan segelas air minum putih untuk grandpa.
"Obat apa itu grand? Darah tinggi? Diabetes? Kolesterol?" tanya Ernest lagi kini mendekati grandpa.
Grandpa terkekeh kecil, "ceu! Ini cucu saya, lama di Mesir ternyata jadi cerewet, mengalahkan nenek-nenek!" ujar grandpa.
Iceu tersenyum mengangguk, selagi Ernest mengulas senyuman saat dibilang mirip nenek-nenek oleh aki-aki.
Kini Iceu tak ada lagi di ruangan tengah, hanya menyisakan Ernest dan grandpa, "Nest."
"Apa grandpa bisa berbicara serius?" tanya nya kini dengan air muka yang tidak seperti barusan.
Ernest melirik jam di dinding yang sudah menunjukan waktu isya, "Oke grandpa, Ernest dengerin grandpa ngomong, tapi apa Ernest bisa ke kamar sebentar? Sudah waktunya isya? Nanti kita sambung lagi.."
"Ah iya! Grandpa sampai lupa, kalo cucu grandpa ini harus absen! Ya sudah lah...." tangan-tangan tua itu mempersilahkan Ernest untuk melakukan kewajibannya.
Kakinya berpijak kembali di lantai kamar, sejak kepergiannya 5 tahun yang lalu....kamar ini tak berubah sedikit pun, kendati demikian ia tetap bersih.
Ernest mendengkus geli, seraya berjalan lebih dalam. Bahkan fotonya bersama Aisya dan teman-teman, foto Aisya seorang ketika di taman mini tepatnya di depan anjungan rumah Bagonjong.
Ada senyuman lebar sekaligus geli, "masyaAllah...do'a gue langsung diijabah Allah, padahal belum log in." tangan itu terulur mengambil frame foto Aisya yang tersenyum manis.
"Rumah Bagonjong, papahku turunan minang. Siapa tau nanti punya jodoh turunan minang,"
Ia merogoh ponsel dan memotret kembali frame foto Aisya remaja.
Beautiful girl for beautiful palace, kirimnya pada Aisya.
Inget ngga, aku pernah bilang kalo kamu bakal punya jodoh turunan Minang? See, insyaAllah my'Hawa....insyaAllah!
Ting!
Aisya baru saja selesai dan membuka mukenanya, mendengar suara ponsel berdenting ia meraihnya di meja samping. Seulas senyuman manis tercipta di bibirnya, "masih disimpen dong!" kekehnya renyah.
InsyaAllah
Jawab Aisya, singkat, padat dan jelas. Padahal Ernest sudah berucap panjang lebar, namun seperti dulu...Aisya hanya akan menjawabnya pendek.
Kini Ernest duduk di kursi ruang kerja grandpa, ia masih memakai kemeja kokonya meski tak sarungan.
Dibelainya beludru biru dongker sebagai alasnya duduk, "pak tua ini hanya tinggal menunggu waktu, Nest." tangan-tangan keriput itu mengusap deretan buku-buku tebal, setebal foundation ben cong.
"Grandpa nih, ngomong apa sih? Jodoh, rejeki, maut itu urusan Tuhan, you know that."
"I know." Ia memutar badannya menatap cucu paling besarnya itu duduk dengan wajah tenang nan bercahaya, "maka dari itu, grandpa tak tau kapan Tuhan akan mencabut nyawa pak tua ini, di usia senja begini, grandpa hanya mau diam dan menikmati masa-masa mendekatkan diri pada Tuhan."
Ditatapnya seluruh gambar diri, pencapaiannya dari nol hingga sekarang, perjuangan keras demi meraih kekuasaan tertinggi saat ini.
"Papa mu, sudah memiliki bagiannya sendiri. Begitupun Iren, patutnya ia mengurus anak-anak dan keluarga dengan benar. Lihat adik-adikmu sekarang Nest, Erja...kelayapan setiap malam, balapan liar, kadang berurusan dengan pihak berwajib. Ersa...selalu ingin pergi ke negri ginseng, adik perempuanmu itu, ingin menetap disana yang menurutnya negara paling keren.
"Kakakmu Hilma, sudah ikut bersama suaminya dan hanya meminta bagian properti, sementara bisnis harus tetap berjalan. Bagaimana nasib bisnis grandpa jika tanpa kepala?"
Ernest menggaruk kepalanya, sejak dulu sebenarnya ia tidak terlalu suka dunia bisnis.
"Grandpa hanya percaya kamu, tolong pikirkan itu."
Ernest menggeliat dalam duduknya dan menyugar rambut, Aisya benar rambut Ernest memang lebih panjang dibanding sewaktu SMA.
"Assalamu'alaikum!"
Aisya memutar badannya ketika mendapati seseorang bersandar di kap mobil, "Neng cantik, sudsh siap?"
Aisya terkikik, "kalo driver onlinenya gini mah Aisya mau setiap hari dijemput lah!" katanya. Ernest menaikan kacamata hitamnya hingga ia bertengger di atas kepalanya.
"Boleh, tapi dibayarnya ngga mau pake rupiah..." jawab Ernest menyambut dan mendorong kursi roda Aisya.
"Terus pake apa? Pound Mesir?" tanya Aisya, "tapi aku punya nya rupiah, gimana dong, kang?"
"Bukan, khusus buat driver yang ini pake kasih sayang!" jawabnya manja. Aisya meninju lengan Ernest, "gombal! Aku kangen motor kamu,"
"Boleh. Nanti kuantar jemput pake motor, tapi kalo kamu udah bisa jalan lagi, gimana?"
"Yahhh lama dong!" wajahnya menguarkan gurat kekecewaan.
"Engga. Aku yakin kamu bisa, kan sekarang ada aku disini, masa kamu masih leye-leye terapinya?! Semangat calon nyonya Ernest!" ucapnya, bersiap menaikan Aisya ke jok samping pengendara.
"Pulang jam berapa, biar nanti aku engga telat?" tanya Ernest. Namun Aisya malah membeliak terkejut, "ha?!!! Kamu telat? Berapa bulan?!" Aisya tertawa berkelakar.
"Bukan aku yang nanti telat datang bulan, tapi kamu....kalo nanti sudah halal, yuk berangkat, jangan sampe aku ijab kabul disini nanti!"
"Kamu ngga repot gitu, antar jemput aku? Janganlah nanti kamu kerepotan...takutnya lagi sibuk, baru balik juga kan," ujar Aisya begitu Ernest masuk ke dalam mobil setelah memasukan kursi roda Aisya.
"Iya ya, kamu ngga sadar gituh? Aku masih pengangguran!" jawab Ernest menyalakan mesin mobil. Sudah 5 tahun kurang lebih ia tak berkendara, bahkan SIM saja ia belum memperpanjang, mungkin sudah bau bang kaii.
Tapi kemudian ia menghela nafas seraya tersenyum usil, "tapi deh! Kamu mah kan kenyang ya, cuma dikasih makan cinta juga!"
Ernest tergelak, "tiap pagi aku bilang aku cinta kamu, terus kamu minum air putih, siangnya aku bilang ana uhibbuki fillah terus kamu minum lagi, malemnya aku bilang i love you kamu minum lagi, alhamdulillah kenyang!" jelas Ernest sukses bikin pagi Aisya penuh derai tawa.
.
.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments
Happyy
🤗🤗🤗
2023-11-02
1
Mukmini Salasiyanti
mulai....
mulai....
TuGo comeback!!!! 🤣🤣🤣
2023-08-04
1
🇵🇸🇮🇩 гเรภคչเ๔คภєคгŦค🌽
Ya ampun si Aa bikin si neng mesem²🤪
2023-07-28
2