DM'A_part 9

Peluhnya sebesar-besar biji jagung, Aisya begitu berusaha diantara pegangannya pada handle besi.

Kakinya terasa berat, mungkin karena 5 tahun lamanya ia tak berjalan.

Ernest berdo'a untuk kesembuhan Aisya, peristiwa kelam itu sungguh membuatnya merasa jika ialah penyebab atas kemalangan yang terjadi pada Aisya.

"Ayo Sya, biar bisa naik si kuda pony lagi!" ujar Ernest menyemangati.

Terapis dan dokter Aisya melirik pada Ernest, "cieee, kali ini bukan Raudhah atau umi yang anter, tapi cowok ganteng nih!" goda suster Endah.

"Siapa, Sya? Calon?" alis dokter Dewi naik turun.

Aisya hanya mengulas senyum merona dan kembali pada fokus utamanya, melangkah.

"Sedikit-sedikit aja Sya, jangan di push terlalu keras tapi gigih! Percaya deh, pasti bisa!" Aisya mengangguk atas afirmasi positif itu.

"Subhanallah, subhanallah!" komat-kamitnya, kaki Aisya melangkah seinci demi seinci.

"Ayo Sya, abis ini aku traktir es krim!" Ernest sampai menghampiri gadisnya yang berbaju pasien dengan jilbab instan senada dan bertelan jank kaki.

"Ini juga usaha aku udah poll!" sengit Aisya ketus pada Ernest, "kamunya sana!" usir Aisya.

"Aku disini aja buat jadi tim hore, masa tim hore diemnya dipojokan..." debat Ernest kekeh berada di samping Aisya.

"Tapi ada kamu jadinya ganggu, akunya grogi!"

"Masa grogi, nanti kalo sekamar gimana? Masa mau pingsan tiap hari?" tanya Ernest membuat Aisya geram sementara dokter Dewi sudah mengulas tawa renyah bersama suster Endah.

"Ernest!" mata itu kembali membeliak, ekspresi Aisya yang begini bikin Ernest greget pengen nyium.

"Waduhh, kalo nikah rame nih tiap hari," imbuh dokter Dewi.

"Iya. Rame, rame berantem dok!" tanpa sadar Aisya sudah bisa berjalan jarak 2 meter hingga di ujung handle besi.

"Ha?! MasyaAllah!"

"Alhamdulillah,"

Pipi merona itu merekah menatap Ernest.

"Coba dilancarin lagi nanti Sya, kalau di rumah. Jangan hanya saat terapi disini saja."

"The power of love, right?" bisik Ernest dari samping.

Seminggu berlalu, dan kini rumah Aisya sedang sibuk mempersiapkan pernikahan Raudhah.

Aisya tidak lagi diatas kursi roda, ia memilih membiasakan diri dengan besi penyangga demi bisa berjalan kembali.

"Itu teh siapa, Ra...yang di ujung kompleks teh namanya, ibu...." umi mengetuk-ngetuk pelipisnya dengan pulpen seraya berpikir dan mengingat-ingat nama tetangga, nama tetangga tuh udah mirip angin lalu, suka lupa!

"Umi aja ngga tau, apalagi Ra..yang jarang ngumpul sama ibu-ibu." jawabnya menuliskan nama dari daftar orang-orang yang akan diundang.

Aisya berjalan selangkah demi selangkah menuju dapur, berniat membuat teh manisnya sendiri dengan tidak memakai lagi kursi roda. Sudah sejak seminggu lalu ia memutuskan memakai besi sanggahan untuk belajar berjalan.

"Ernest ngga kesini, Sya?" teh Raudhah sedang menyiapkan sarapan untuk a Ikhwan, sesekali ia meringis sambil mengusap lembut perutnya demi meminimalisir rasa sakit. Sepertinya ia sudah akan melahirkan, karena sejak semalam rasa mules yang dirasakan tak hilang jua, bahkan semakin intens pagi ini.

Suara riuh telur yang beradu dengan minyak panas menjadi latar dapur hari ini.

"Engga teh. Ernest lagi ngurusin pemulangan barang-barangnya yang belum sempet kebawa dari kost'an di Kairo." jawab Aisya menaruh beberapa sendok teh gula pasir ke dalam gelas miliknya.

"Ernest ke Kairo lagi?" teh Arin menoleh, Aisya terkekeh, "ya engga atuh teh, lewat temennya yang masih ngekost disana, barang-barang penting aja sih. Kalo kaya kasur mah dibagiin..." Aisya menoleh hingga kini ia bisa melihat tampang kakak iparnya itu.

Ada kernyitan di dahi Aisya, "teteh kenapa?" dengan peluh yang deras mengucur di dahi dan garis wajah teh Arin, Aisya cukup khawatir.

"Kayanya teteh mau lahiran, Ai..." ia sudah tak dapat lagi menahan rasa sakit di wajahnya hingga kini Arin terpaksa menarik kursi di ruang makan yang bersatu dengan dapur.

"Hah? Teteh mau lahiran sekarang...aa tau?" Aisya ikut panik hingga menghentikan adukan tangannya di gelas dan kini beranjak berjalan menghampiri Arin.

"Belum kayanya, sebenernya udah dari semalam. Tapi teteh belum bilang soalnya takut cuma mules pengen buang hajat aja atau sakit perut penyakit..." keluhnya kini dengan raut wajah pias.

Arin bangkit dari duduknya, dan membawa piring demi baktinya pada sang suami.

Namun baru ia berjalan beberapa langkah,

Syurrrr!

"Teteh! Itu!"

"Awww...." Teh Arin hampir saja terjatuh, namun dengan sigap dan refleksnya, Aisya melepas pegangan pada handle besinya dan setengah berlari menyongsong Arin.

"Aa! A ikhwan, Umiiiii!" teriak Aisya.

Seketika para penghuni rumah langsung berhamburan ke arah dapur.

"Ya Allah!"

"Arin,"

"Teteh!"

Ikhwan segera menggantikan posisi Aisya yang menahan beban istrinya, "kenapa ini?"

"Aa, air ketuban Arin udah pecah..." tunjuknya ke bawah. Aisya sedikit meringis, cukup ngilu juga engselnya membuat gerakan refleks kilat begitu.

"Bawa ke rumah sakit, a!"

"Tolong ambilin kunci mobil, Ra!" pinta a Ikhwan ketika istrinya sudah tak kuasa menahan ejanan.

"Jangan dulu di ejanin Rin," ujar umi. Raudhah berlari mencari kunci mobil, sementara Aisya yang cukup terkejut juga dengan gerakan kakinya masih terpaku menatap kakinya sendiri, "Ai bisa jalan? Ai bisa jalan!!! Ai bisa jalan umi!!!" ia terisak dalam syukur.

"MasyaAllah! Alhamdulillah!" Umi memeluk Aisya sambil menangis.

"Alhamdulillah,"

"Coba ya umi, coba!" Aisya mengurai pelukannya, lalu dengan tanpa berprgangan ia mencoba berjalan.

Tap-----tap-----

Dengan isakan bahagia, Aisya berjalan lancar tanpa menggunakan alat bantu apapun lagi.

"Alhamdulillah ya Allah!" Umi menutup mulutnya sambil sesenggukan, 5 tahun mereka berjuang dan berusaha. Pada akhirnya Allah mengabulkan do'a dan ikhtiar Aisya.

"Ini malah pada nang---masyaAllah!" Raudhah berlarian tak jelas bolak-balik mengambil tas perlengkapan Arin sebelum mobil Ikhwan benar-benar pergi.

Raudhah menutup mulut yang menganga saking terkejut, "Ai...."

Aisya mengangguk cepat, "Ai bisa jalan teh, tanpa harus pake alat lagi!" Air mata di pipinya bukanlah air mata kesedihan, melainkan rasa haru karena perjuangannya selama 5 tahun lebih tak sia-sia.

Umi mengambil lap dan mengelap bekas kucuran air ketuban Arin yang tergenang di lantai dapur.

"Siapa yang mau ke rumah sakit nemenin aa?" tanya Raudhah.

"Umi."

"Ai!"

Ucap umi dan Aisya kompak.

Raudhah menatap keduanya, "ya udah lah semuanya aja samaan!" langkahnya cepat diangguki umi dan Ai.

"Abi telfon abi!" panik umi, wajarlah, kelahiran bayi Arin dan Ikhwan ini adalah kelahiran yang sangat ditunggu-tunggu setelah hampir 10 tahun mereka menunggu kehadiran seorang bayi, sekaligus cucu pertama abi dan umi.

"Ai pelan-pelan neng, jalannya. Jangan langsung dikasih setelan cepet!"

Aisya terkekeh-kekeh bahagia, dan orang yang harus ia kabari adalah Ernest juga dokter Dewi.

Namun di balik rasa bahagia yang membuncah, terselip satu kekhawatiran tersendiri di benak Aisya, yang sebetulnya tak perlu ia risaukan karena semua nasib dan takdir manusia ada di tangan Allah.

"*Efek samping dan dampak dari kelumpuhan yang Aisya derita ini adalah, dapat mempengaruhi terhadap sistem reproduksi Aisya*..."

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Lia Bagus

Lia Bagus

ya Allah terharu 😭
Alhamdulillah ya neng ai

untuk teh arin semoga lancar ya persalinannya

2024-08-31

0

Lia Bagus

Lia Bagus

Alhamdulillah

2024-08-31

0

Lia Bagus

Lia Bagus

💪💪💪💪 neng ai

2024-08-31

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!