Aisya menyenggol-nyenggol pipi tembem yang bak bapau milik keponakan barunya, "hay bayiii!" sapanya gemas.
Apalagi saat sesekali bayi itu mencari-cari sumber kehidupan milik ibunya dan menguap, benar-benar ingin melahapnya, sampai-sampai Aisya menggigiti jarinya sendiri saking gemasnya.
"Lucu banget ya Allah!" Raudhah mencomot pipi adiknya keras hingga Aisya mengaduh, "teteh ih! Yang lucu dedek, yang dicomot Ai!" sewotnya.
"Kalo nyomot dedek nanti dia sakit, pipinya merah, luka, kalo kamu kan engga!" jawabnya.
Baru kali ini ia melihat bayi yang baru dilahirkan, dan itu sangat menggemaskan, kebahagiaan tak luput sedetik pun dari keluarga Aisya saat ini, terlebih Ikhwan dan Arin yang sudah resmi jadi orangtua baru.
"Mi, itu dedek udah 2 jam belum di 'nen-in lagi," ucap Ikhwan sangat hati-hati dan tak mau sampe miss jadi ayah siaga.
"Alahhhh, umi!" tawa Raudhah dan Aisya mencibir atas gelar baru Arin yang baru saja terucap lirih dari mulut Ikhwan.
"Jomblo mah da gitu, bawaannya sirik! Kasian, ngga bisa abi--umi'an!" balas Ikhwan pada kedua adiknya itu.
"Eh sorry yah! Ra udah mau nikah!" imbuh Raudhah seraya melipat-lipat kain samping gendongan tak ada kerjaan di kursi yang disediakan di ruang rawat Arin.
Sementara Aisya masih berdiri sambil memandangi keponakan chubby nya itu di atas ranjang bayi di dalam ruangan.
"Sombong, lagian Ai ngga sirik!" ketus Aisya.
Abi sudah berada di ruangan, tak ada bentuk rasa syukur yang lebih baik selain dari do'a.
"Alhamdulillah, cucu abi...lancar ya Wan?" tanya abi segera pulang ketika mendengar 2 kabar bahagia sekaligus.
"Alhamdulillah abi, dibawa aa kesini pas udah pecah ketuban, langsung pembukaan lengkap tapi harus disobekin sama dijahit!" adu Arin cepat sebelum suaminya yang menjawab saking antusiasnya.
Umi tersenyum, "pengalaman pertama, masyaAllah."
Kemudian pandangan abi berpindah pada Aisya, "MasyaAllah, anak abi juga bisa jalan lagi,"
Aisya berjalan menghampiri abi-nya, "alhamdulillah abi, gara-gara refleks nolongin teteh!" ia menghambur memeluk abi seraya menitikan air matanya kembali, masih belum percaya jika ia bisa berjalan kembali, padahal banyak juga yang menderita penyakit sepertinya dan tak berhasil sembuh, masyaAllah mukzijat itu memang ada.....
Aisya mengabari Ernest jika ia memiliki kejutan selain dari memberinya kabar bahwa teh Arin sudah melahirkan. Hingga jadinya Ernest datang di sore hari.
"Assalamualaikum!"
Bukan Ernest yang membuka pintu dan mengucapkan salam, namun para perawat yang membawa serta bunga dan balon.
"Wa'alaikumsalam..."
"Maaf pak, ada kiriman boleh ditaruh kesini?" tanya salah seorang perawat dan security rumah sakit, ia tampak sesak dan penuh.
Melihat banyaknya barang bawaan yang bikin repot pembawanya tak mungkin a Ikhwan dan teh Arin menolak, "i...iya sus, tapi kiriman dari siapa, ya?"
"Tadi sih dari laki-laki, tapi ngga mau disebut namanya. Cuma mau dipanggil pahlawan tanpa tanda jasa," jelas si suster.
Aisya hampir menyemburkan tawanya, begitupun Raudhah dan umi--abi, karena mereka sudah tau siapa pengirim barang-barang ini dengan nama yang antimainstream, karena terakhir kali mereka menerima ujungnya rumah mereka mirip rumah duka atau grand opening usaha.
"Ernest pasti," Ikhwan merotasi bola matanya.
"Awas hati-hati!" dengan langkah masuk yang agak kesusahan membawa boneka berwarna pink dan coklat sebesar Aisya sampai-sampai menutupi dirinya sendiri.
"Ampun, Ernest---Ernest...." umi menggelengkan kepalanya, padahal Raudhah sudah berdecak kagum tertawa, "widihhh, ck--ck! Bonekanya bisa dipake tidur sama dedek ini mah! Gantiin bapaknya!"
"Bilang makasih sama Ernest, Ai. Tapi ini teteh sama aa gimana bawa pulangnya?" tanya Arin masih memperhatikan suster dan satpam membawa sekumpulan balon hati berwarna pink, ungu dan putih.
Namun ada satu yang membuat Aisya terkekeh-kekeh sejak tadi, di balon-balon itu terdapat ucapan do'a terbaik untuk anak Ikhwan.
*Semoga menjadi wanita sholeha mirip siti Aisya*....
*Makhluk Allah paling sexy mirip Aisya*....
*Pribadi menyenangkan seperti Aisya*....
"Aamiin."
*Murah senyum tidak seperti Aisya, karena senyum adalah ibadah dan sedekah*....
"Kok Ai? Ernest apa-apaan sih!" alisnya berkerut. Dan terakhir, balon yang dibawa oleh satpam itu berbeda dari yang lain karena warna birunya sendirian.
"Loh, kok yang ini beda sendirian?" disaat yang lain mengagumi gerombolan balon yang hampir memenuhi setengah langit-langit kamar rawat Arin, Aisya mengernyit bertanya pada security.
"Yang ini katanya buat tantenya," Security menyerahkan balon itu pada Aisya.
Aisya menerima, dibaliknya balon tersebut.
***Will you be mine, Aisya***?
Aisya mengerjap membaca itu, lalu melihat ke arah pintu ruangan berharap jika Ernest disana namun nyatanya hanya ada perawat dan security yang keluar lalu menutup pintu kamar.
Drrrtttt
Drrrtttt
Aisya merogoh ponsel dari saku cardigannya, "Ernest?"
"Assalamu'alaikum----"
Tiba-tiba saja di layar ponselnya penuh oleh teman-teman semasa SMA'nya dan Ernest, ada Gibran, Nistia, Ardi, Ajeng, bahkan Ayu dan Retno disana yang langsung bernyanyi bersama sambilmembawa-bawa balon jika diangkat bersamaan maka barisan mereka akan membentuk kalimat will you be mine, Aisya!
"Siap---siap!"
"Dia indah meretas gundah....
Dia yang selama ini kunanti,
Membawa sejuk memanja rasa,
Dia yang selalu ada untukku,
Tetaplah bersamaku, jadi teman hidupku....berdua kita hadapi dunia
Kau milikku milikmu, kita satukan tuju, bersama arungi derasnya waktu...
Kau milikku, ku milikmuuuu....."
Aisya tertawa renyah, mau-maunya teman-temannya itu menuruti keinginan gila Ernest. Kini Ernest muncul di depan mereka dengan gitar akustiknya dan ikut bernyanyi, sementara yang lain hanya jadi suara 2 saja. Nampak oleh Aisya Ernest dengan kaos dan jaket juga celana jeans.
"Aisya," panggilnya lirih diantara irama petikan gitar.
"Tetaplah bersamaku, jadi teman hidupku, berdua kita hadapi dunia, kau milikku milikmu, kita satukan tuju, bersama arungi derasnya waktu....."
"Bila di depan nanti, banyak cobaan untuk kisah cinta kita, jangan cepat menyerah....kau punya aku, ku punya kamu, selamanya akan begitu....."
Aisya menutup mulutnya spechless dengan aksi Ernest, "Sya, will you be mine?" tanya nya di akhir lagu.
"Sya! Terima! Terima!!!" seru Ardi.
"Njir ih, lo mah nginjek kaki gue!" sewot Nistia yang terinjak Ardi, mereka malah rusuh di belakang sana membuat moment romantis ini malah jadi moment canda tawa.
"Sya terima Sya! Buruan, kasian gue nih, dari tadi dijemur gini kepanasan nih!" ujar Gibran.
"Berisik oyyy!" Ernest menoleh.
"Emangnya kalian lagi dimana?" tanya Aisya terkekeh.
"Di rooftop rumah sakit!" teriak Ajeng.
"Ha?! Kenapa ngga kesini aja?" tanya Aisya segera beranjak dari duduknya dan pamit pada yang ada di ruangan untuk menjumpai mereka.
"Kalo di ruangan teh Arin kasian takut berisik, ganggu pasien lain juga." jawab Ernest.
"Oke tunggu aku kesana," balas Aisya ingin menemui mereka semua dengan menekan tombol lift meskipun ia harus naik ke atas tangga darurat satu lantai karena lift tak sampai rooftop.
Angin cukup kencang bertiup di atas rooftop, begitupun saat Aisya membuka pintu rooftop, rok panjang dan jilbabnya berterbangan bebas tertiup angin,
Senyumnya terukir tatkala melihat Ernest dan teman-temannya ada disana.
"Sya....akhirnya datang!"
Ernest menatapnya lekat, "jadi?"
Si pipi merona itu semakin merona ketika angin berhembus menyapu kulitnya, "i will...."
"Yesssss! Kawin! Kawinnnn!" teriak mereka, Aisya tertawa renyah.
.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments
Happyy
😻😻😻
2023-11-03
1
Mukmini Salasiyanti
😀😁😆😅😅😂
aaaaaaa co cweeettttttttttt
2023-08-04
1
Niken Yuli Asmoro
nunggu up
2023-06-28
1