Aisya menatap Ernest lekat, tak sedetik pun ia berkedip, takut hilang lagi dari pandangan, takut jika ini hanya mimpi.
Ernest sudah berpamitan pada umi, abi, a Ikhwan, teh Arin dan Raudhah, juga keluarga Sandi. Mengingat ia belum pulang ke rumah sama sekali, Ernest terpaksa harus menyudahi terlebih dahulu pertemuan sang rindu.
"Ai anter sampe depan------depan pintu kamarnya Ernest!" ucap Aisya meniru gaya gombalan Ernest. Ernest tertawa renyah saat Aisya dicibir dan disoraki oleh kakak-kakaknya.
"Jiwa pejuang cintaku kembali setelah bertemu kamu," bisik Ernest, Aisya tertawa lirih nan renyah, serenyah wafer 2000an.
"Apa sih bisik-bisik?!" sewot Sifa, iri melihat keseruan Aisya dan Ernest.
"Ada deh! Jomblo diharap melimpir!" jawab Aisya.
Aisya mendorong roda kursi di samping Ernest yang membawa koper, "anak-anak apa kabar?" tanya Ernest.
"Baik, mereka juga kangen kamu."
Ernest mengulas senyuman simpul, "aku lebih kangen kamu ketimbang kangen mereka," jawabnya.
"Aku tau."
"My'hawa, makasih kamu sudah mau menunggu aku...5 tahun bukan waktu yang sebentar," Ernest memutar berlutut di depan gadis yang menurutnya masih sama seperti dulu, masih tetap cantik, tetap menggemaskan, tetap pintar dan tetap menjadi hawanya.
"Makasih juga kamu sudah mau berjuang, berjuang untuk memantaskan diri, berjuang untuk memelihara rasa itu." jawab Aisya.
"Karena do'amu di setiap malam," tukasnya. Aisya mengusap rambut Ernest lalu merapikannya sedikit, "tiap hari aku berdo'a, biar para malaikat jaga hati kamu, mata kamu, telinga dan raga kamu untuk aku...." akui Aisya.
Ernest mendengus senang, "alhamdulillah. Berasa terhormat selalu ada di setiap do'a-do'anya orang cantik, karena do'a adalah silahul mukmin (senjatanya orang mukmin) dan sebaik-baiknya tempat memohon adalah Allah."
Belaian lembutnya berhenti di telinga Ernest, "bilang sama aku, kalo kamu bukan mimpi semu, karena aku ngga mau bangun lagi setelah ini, Nest. Bilang aku, kalo kamu ngga akan pernah pergi lagi dari sini, Nest..."
Ernest kembali mengangguk dalam, "insyaAllah ya khumaira." (pipi yang merona)
Sebenarnya Ernest berniat melamar Aisya saat ini, namun ia mengurungkan niatannya dan memilih mencari waktu yang pas yaitu setelah pernikahan Raudhah saja, agar ia bisa bicara terlebih dahulu pada keluarganya termasuk grandpa.
"Kalo gitu, nanti aku bisa dong ya, minta hadiah dibacain Ar-rahman sama kamu? Cie, udah fasih baca Al-Qur'an dong?!"
"InsyaAllah," jawabnya berbisik.
Titt!
Keduanya menoleh mendapati sebuah mobil berhenti di depan, "taksi onlinenya udah datang, aku pulang dulu ke rumah...istirahat yang banyak, biar besok siap aku jemput!"
"Kemana?" tanya Aisya.
"Besok kerja jam berapa?" Ernest balik bertanya.
"Jam 8," jawab Aisya, Ernest mengangguk, "see you my'Hawa, assalamu'alaikum!" ia melambaikan tangan.
"Wa'alaikumsalam."
Perlahan, sosok Ernest hilang ditelan mobil lalu pergi semakin menjauh dari Aisya.
Gadis itu melambaikan tangannya singkat.
Ernest memilih pulang ke rumah grandpa terlebih dahulu, tempatnya terakhir kali saat di Bandung, rumah terakhir sejak ia diusir papa Edo.
Ernest menatap penuh haru rumah ini, "finally! Home sweet home!"
Ernest melangkahkan kakinya masuk, pak Urip masih setia berjaga pos depan dekat pagar rumah, 5 tahun berlalu ia masih suka kopi hitam di dalam cangkir plastik, hanya saja ubannya yang semakin bertambah banyak.
"Assalamu'alaikum."
Pak Urip yang berjaga mengernyitkan dahinya, "a Ernest?!"
"Pak, apa kabar?!"
"A Ernest?! MasyaAllah!" serunya segera menghambur membuka gerbang pagar.
"Ya Allah a! Meni *sono*!" ia menyalami cucu majikannya itu yang telah lama tak pulang ke Bandung, banyak perubahan yang terjadi di diri Ernest terlebih bahasa yang cukup signifikan, meskipun tak menghilangkan ciri khas Ernest-nya. Sementara ia sendiri, masih begitu-begitu saja. (**Kangen**)
"Alhamdulillah, pak."
"Alhamdulillah, a ganteng lah sekarang mah! Udah jadi lulusan terbaik juga, hebat! Kenapa ngga ada kabar kalo a Ernest pulang?! Jadi saya bisa sambut atau jemput."
Ernest mengulas senyuman, "ngga apa-apa pak, lagian saya pulang dadakan."
"Grandpa?"
Raut wajah pak Urip meredup perlahan menunjukan jika sesuatu telah terjadi selama Ernest pergi, "bapak seperti biasa, a. Sekarang mah sering keluar masuk rumah sakit. Kadang dar ah tinggi yang naik, kadang juga kolesterol sama gula."
Ernest mengangguk paham, menepuk pundak security yang telah mengabdi di rumah grandpa selama kurang lebih 10 tahun itu.
"Penyakit tua," senyum Ernest, "kalo gitu saya masuk pak,"
"Oh iya a, silahkan atuh!" angguknya sopan nan segan.
"Grandpa..." panggilnya, "anybody home?" Ernest masuk ke ruangan, dimana juru selamat tertempel di setiap ruangan. Grandpa masih tetap dengan keyakinannya.
Sesosok pria senja yang semakin terlihat tua dengan tongkat kesayangannya turun.
"Ernest?!"
"Grandpa," ia langsung menyalami sosok pria tua itu, "kenapa ngga kabari grandpa kalo kamu pulang hari ini?! Grandpa bisa suruh orang buat jemput kamu. Kesini dengan siapa?" Grandpa melirik belakang badan Ernest yang tak ada siapapun, Ernest benar-benae hanya berteman koper dan tas ranselnya saja.
"Ngga ada grandpa, Ernest balik sendiri, papa sama mama pun ngga tau, Ernest pulang dadakan karena kepalang rindu rumah...." jawabnya.
Senyum usil grandpa terbit hingga ekor matanya tak lagi bisa menyembunyikan kulit keriput yang berlipat-lipat kaya lapisan mile crepe.
"Rindu rumah atau rindu anak gadis Huda?" tembak grandpa tepat sasaran, ia tertawa, "jangan pikir grandpa ngga tau otak cetek kamu, Nest!"
Ernest terkekeh geli, grandpa selalu tau apa yang ada di pikirannya.
"Sudah bertemu?" keduanya duduk di sofa dengan Ernest yang membuka kemejanya, lalu Ernest bangkit sejenak untuk mengambil minum di dapur.
"Iceu! Tolong ambilkan minum!"
"Grandpa, ngga usah. Biar Ernest ambil sendiri aja," balas Ernest mengurai senyuman.
Demikian pula dengan grandpa, sepulang dari menuntut ilmu, kepribadian Ernest semakin terlihat matang, belum lagi prestasinya yang mampu menyabet gelar cumlaude di universitas ternama.
Dan sepertinya Ernest adalah orang yang cocok untuk meneruskan tampuk kekuasaan bisnisnya.
Ernest kembali dengan segelas air mineral dingin lalu ia duduk kembali, "Ernest sudah bertemu Aisya, grandpa. Ernest ingin melamar Aisya, tapi waktu tadi kesana ternyata di rumah Aisya sedang mengadakan prosesi lamaran,"
Grandpa mengerutkan dahinya, "lamaran, siapa? Aisya?!! Yang benar saja, masa si Huda kasih anak gadisnya buat orang lain!" grandpa meninggikan intonasi bicaranya.
"Iya. Abi Huda memang memberikan anak gadisnya pada orang lain. Bukan Aisya, tapi teh Raudhah...."
Air muka grandpa langsung cerah kembali setelah sempat mendung dan hampir menurunkan petirnya.
"Terus?"
"Ngga enak kalo Ernest khitbah Aisya, waktu keluarga Aisya sibuk mempersiapkan pernikahan teh Raudhah. Jadi nanti saja jika acara teh Raudhah sudah selesai," jelas Ernest diangguki grandpa, lalu sejurus kemudian grandpa berdecih, "cih! Dasar anak tak tau diuntung! Kamu pulang setelah jadi bang toyib langsung menemui Aisya, lalu grandpa kamu anggap apa?! Hah?!" tanya grandpa sengak.
Ernest hanya bisa nyengir kuda, sesoleh-solehnya manusia khilaf adalah satu hal wajar, apalagi kalo urusan hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments
Happyy
😘😘
2023-11-02
1
🇵🇸🇮🇩 гเรภคչเ๔คภєคгŦค🌽
Ada yg lebih penting Opa di hatinya Ernest, makanya mentingin di sana
2023-07-28
2
so sweet deh Ernest n Aisya,,,🥰🥰
2023-07-06
1