Ernest maupun teman-teman Aisya mendadak diam setelah sedetik sebelumnya mereka bereuforia karena Aisya menerima lamaran Ernest.
Angin di atas rooftop yang begitu kencang bahkan tak mampu menghempaskan keterkejutan mereka melihat Aisya dapat kembali berjalan.
"Itu---" tunjuk Ayu.
"MasyaAllah!" senyuman semerekah kerupuk tercipta di wajah Ernest.
"Sya??" mata mereka hampir bisa dijadikan telor mata batin karena membeliak membulat sempurna.
Aisya tertawa sambil mengangguk, "alhamdulillah."
Ernest kembali melebarkan senyumannya, dan dengan refleks mengangkat tubuh Aisya dan memutarnya karena rasa yang membuncah yang berlebihan.
"Alhamdulillah! ! Gue traktir lo semua di manapun sampe kenyang!!!" teriaknya.
"Asikkkkk!" seru mereka.
"Eh! Ernest!" jeritnya menutup mata karena rasa pusing dan terkejut. Belum lagi tangannya yang mencengkram jaket Ernest kencang takut jika tiba-tiba Ernest kesambet jin ivritts lalu melemparnya ke bawah gedung rumah sakit.
"Woy---woy! Belum halal oy," ujar Nistia.
"Auu nih! Maen gendong-gendong aja anak orang!"
Ernest menurunkan Aisya yang kleyengan dan terkekeh memijit tengkuknya sendiri, "maaf---maaf. Kelepasan."
Raudhah tengah menikmati masa pingitannya, tidak lama. Hanya hari ini saja berhubung esok hari acara akadnya dan Sandi, sebagai pelabuhan terakhirnya.
Setelah berkelana mencari imam idaman, pilihan keluarganya tetap menjadi pilihan terbaik.
"Teh, pernah kepikiran ngga sih sekarang-sekarang di otak teteh, apa kabarnya a Ahsan? Sama siapa dia sekarang...." celetuk Aisya, ketika kedua adik kaka ini tengah memakai masker di wajahnya sambil rebahan di kasur Raudhah. Percayalah, Aisya merasa seperti pengantin baru karena kamar Raudhah sudah dipasangi kain disepanjang dindingnya, belum lagi ranjang yang disulap bak ranjang raja, dipakein tirai segala takut diintip toke.
Salon wedding bahkan membubuhkan hena di punggung tangan hingga sebatas pergelangan Raudhah. Pokoknya calon manten ini udah mirip-mirip mayat hidup aja, baringan tanpa melakukan gerakan apapun selain bernafas dan ngomong yang mirip lagi kumur-kumur.
Raudhah seketika membuka matanya dan melirik Aisya dari samping dengan gerakan slow motion persis adegan action film laga, sorot matanya terlihat agak meredup seolah ada rasa rindu yang begitu kecil terpancar disana namun kemudian ia tepis semua prasangka dan rasa itu, karena kini jalan mereka sudah berbeda.
Terkadang perjalanan cinta memang tak selalu berakhir bahagia, ataupun berakhir bahagia meskipun tak menjadikan dua menjadi satu.
Bibirnya mulai terbuka sedikit, meskipun terasa kaku dan harus hati-hati, ia mulai buka suara, "ada. Apa kabar dia, lagi ngapain, sama siapa?" jawab Raudhah menatap langit-langit kamarnya yang terlihat lebih menarik dari wajah adiknya, karena disana cicak-cicak lagi pada ikut maskeran biar keliatan kinclong besok, ngga kalah sama mantennya.
"Terus besok a Ahsan diundang ke acara teteh sama a Sandi?" tanya Aisya penasaran.
Raudhah mengangguk tanpa ragu, "putus hubungan pacar, bukan berarti putus juga silaturahmi. Justru do'a mantan pun sama mujarabnya dengan do'a tamu lain. Siapa tau kan, kita pernah bikin dosa di masa lalu yang ngga kerasa sama dia. Itu artinya kita udah mendzolimi dia. Kalo di do'akan kan lumayan, do'a orang terdzolimi di dengar Allah..."
Aisya mengulum dan melipat bibirnya kencang-kencang demi tidak tertawa lepas, hingga ujung-ujungnya ia tertawa seperti robot, kaku.
"Jahat, bilang orang terdzolimi!"
"Kamu sih, belum ngerasain rasanya putus! Coba bayangin, tiap hari ketemu, tiap hari jalan, sayaaanggg banget, hampir tiap ngga ketemu ngerasa kangen, tapi ternyata dia berhenti buat perjuangin kamu waktu kamu minta dia seriusin kamu dengan alasan keluarganya ngga pernah mau menerima hubungan pacaran, lebih baik langsung dihalalkan takut khilaf, padahal dulu kamu sampe mesti ngumpet-ngumpet buat ketemu dia, alasan dia yang ngga masuk akal, pake nuduh abi--umi---aa terlalu kolot, gimana kalo nanti kita nikah, katanya dia bakalan tertekan sama keluarga kita..." balas Raudhah semakin yakin meninggalkan Ahsan yang ternyata tidak se-gentle itu.
"Dunia berasa runtuh buat buat teteh Sya, meskipun akal sehat berkata kalau itu artinya Allah sudah menyiapkan jodoh lain untuk teteh, tapi tetep aja nyeseknya sampe sini!" lanjutnya menunjuk dadha.
Aisya mengangguk setuju, beruntung Ernest tak se-pengecut itu, "kenapa a Ahsan ngga mau coba disuruh serius sama teteh? Apa dia emang ngga ada niatan serius?" tanya Aisya digelengi Raudhah, "ngga tau. Mungkin, bisa jadi begitu. Alasannya sih karena belum punya apa-apa buat seriusin teteh. Padahal abi--umi juga ngga nuntut apapun. Dia juga malah jelek-jelekin keluarga kita, dengan bilang keluarga kita terlalu kolot."
"Jangan sampe Ernest kaya gitu," lanjutnya.
Aisya menggeleng cepat, "alhamdulillah Ernest ngga kaya gitu orangnya. Ai emang belum pernah ngerasain putus sama Ernest, karena Ai sama Ernest ngga bilang kita pacaran, teh. Tapi di ldr in sama digantungin perasaannya itu sama-sama ngga enak, dan Ai ngga suka." jawab Aisya membayangkan rasanya saat Ernest di Mesir tanpa kabar apapun padanya.
"Eh iya---" Raudhah tersentak membuat Aisya menoleh.
"Ernest udah ada kemajuan? Atau masih diem di tempat?" tanya nya lebih tertarik membahas tentang adiknya.
Aisya tersenyum usil, "ada deh. Kepo!" Aisya beranjak dari kasur Raudhah berniat keluar dari sana, "Ai udah selesai maskerannya! Mau liat orang rumah lagi sibuk apa?!"
"Ih, Aiiiii! Tolongin teteh ini gatel!" jeritnya tertahan. Namun Ai justru menutup pintu kamar Raudhah berjalan menuju kamarnya.
Bukannya membantu umi yang sedang sibuk-sibuknya, Aisya malah masuk ke dalam kamar teh Arin, dimana bayi kecil itu tengah terlelap di dalam kelambu ungu sendirian, "hay sayangggg! Sun tante dong!" kebetulan sekali pintunya tak terkunci malah terbuka sedikit meninggalkan celah, ada senyum gemas dari Aisya melihat keponakan gemoynya yang baru berusia belum genap seminggu itu.
Baru merasa senang bisa mendaratkan kecupannya di pipi keponakannya Humaira, ternyata singa galaknya ada disana baru saja selesai mengambil air wudhu dan menghadang sang adik.
"Eits! Udah ke air dulu belum?" tahan a Ikhwan yang berubah dari asad'nya keluarga jadi ayah yang super duper protektif, apalagi Aisya baru pulang dari kerjanya.
"Ih, udah! Ini ngga liat? Muka abis maskeran?! Udah dari tadi Ai pulang, cuma langsung masuk kamar penganten aja jadinya baru keliatan!" jawab Aisya.
"Ganti baju dulu, kalo bisa mandi dulu! Sana hushhh!" usir a Ikhwan seketika membuat Aisya cemberut dan bermuka masam, "ihh, belum apa-apa anaknya udah diposesifin. Gimana nanti kalo ada yang mau?! Auto di kepret ngga berenti-berenti!" tepuk Aisya di pintu kamar a Ikhwan yang baru saja Ikhwan tutup.
"Ish, pelit banget sih!" dumelnya menghentakan kaki menuju kamarnya.
Aisya mengerjapkan matanya, sungguh tak percaya jika ini dirinya. Meski bukan calon pengantin hari ini, wajah Aisya tak kalah cantik dari Raudhah dalam balutan kebaya coklat susu, bahkan terlampau cantik.
Ia bersama keluarganya sedang mengikuti tradisi adat sunda-jawa.
Raganya disana, namun netranya mengedar luas mencari sosok yang sejak tadi dicarinya. Namun harapannya mendadak terkikis saat tak jua menemukan sosok yang ia cari.
"Umi," bisik Aisya diberisiki suara sinden yang sedang mendendangkan kawih sunda.
"Mi----" Aisya setengah berbisik.
Umi menoleh, "kenapa?"
"Umi, ada liat Ernest sama keluarganya datang?" tanya Ai, pasalnya Ernest tak jua memberi kabar, padahal kemarin ia mengatakan akan datang di acara Raudhah hari ini.
Sebagai seorang manusia terlebih perempuan, Aisya cukup ingin menunjukan tampilan berbedanya hari ini pada Ernest, tapi sayangnya Ernest malah belum hadir.
"Kemana sih, kebiasaan!" decaknya kesal.
"Nest, mau ke rumah keluarga Aisya jam berapa? Kan acaranya pagi?" tanya mama Iren.
Ernest masih mengecek beberapa barang yang dipesannya, "nanti aja ma, nunggu Aisya kesel dulu!" kekehnya usil.
"Terus ini, mau dibawa semua?"
Ernest mengangguk, "mama bawa cincin aja..."
.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments
Happyy
😚😚
2023-11-03
1
Aisya mau dilamar Ernest yaaaa,,, ciye......
2023-07-06
1
Bubble
🤣🤣🤣🤣
2023-07-01
1