DM'A_part 17

Aisya menggigit jarum pentul dengan giginya seraya bercermin, memasang jilbab di kepala yang menjadi penutup aurat atas dirinya dari khalayak ramai, taukah ia, Ernest nyengir-nyengir ngeri melihatnya menjepit benda tajam itu di giginya? Salah-salah mangap, ketelen deh tuh benda tajam!

"Sya, itu ditaruh di meja aja bisa kan? Nanti kalo ketelen gimana?" kritiknya merujuk pada jarum pentul.

Aisya hanya melirik dari pantulan cermin kecil miliknya yang ia taruh di depan meja.

Ia cabut itu dari gigi lalu disematkannya itu di kerudung, "ngga Nest, aku udah biasa kok..." jawabnya merapikan sisi-sisi jilbab hingga terlihat rapi sempurna.

Ernest menghampiri Aisya yang sudah menutupi aib pribadinya, dimana sepanjang leher jenjang Aisya penuh dengan noda kerak membandel hasil seni Ernest semalam.

Tanpa permisi tanpa berkata, Ernest membungkuk dan menumpukan dagunya di pundak Aisya hingga sisi wajah mereka bersentuhan lembut nan in tim, meskipun sebagiannya terhalang kain jilbab yang Aisya kenakan. Kalo udah halal gini, bawaannya ya pengen nempel-nempel aja, kalo bisa lem di toko akan ia siramkan di tubuhnya biar bisa dempet-dempetan terus.

Cup!

Kecupan di pipi istrinya itu mendarat dari si bibir usil hingga kini si chubby berubah kemerahan, "jangan cantik-cantik, nanti orang lain suka..." bisiknya. Aisya melirik ke arah Ernest dengan wajah yang semakin merona, "gombal!" ketusnya.

"Udah selesai kan? Kita check out...jangan lama-lama lagi disininya, aku udah gerah lagi kalo ditinggalin cuma berdua sama kamu di kamar, bawaannya pengen buka-bukaan!" selorohnya dihadiahi cubitan dari Aisya, "mesum terus bawaannya, sekarang!"

Ernest menyipitkan matanya menatap Aisya, "ngga boleh gituh?" tanya Ernest yang di-diamkan saja oleh Aisya.

Sepasang tangan itu saling menggenggam erat diantara langkah keluar dari resort yang cukup tersohor di kawasan ini. Penganten baru memang gitu bawaannya, jalan aja gandengan terus mirip truk kontainer.

Beda dengan pasangan lawas, yang kalo jalan aja udah ngga tau nyungseb dimana pasangannya.

Sejenak Aisya tersenyum kecil tatkala melintasi area outdoor dimana baru kemarin Ernest mengucap ijab sehidup semati di depan abi dan semua saksi pernikahan keduanya.

Hari ini mereka akan berangkat ke kantor dimana Ernest mendaftarkan perjalanan umrohnya bersama sang hawa, ia mengembalikan kunci kamar pada pegawai hotel lalu melangkah menuju pintu keluar dengan setia menggenggam tangan Aisya, *takut Ai digondol maling*.

"Kenapa dadakan sih?" ketus Aisya bertanya. Semalam Ernest memberikannya hadiah perjalanan umroh tapi pagi ini ia sudah harus melaksanakan manasik umroh di kantor perjalanan haji dan umroh.

"Engga dadakan sih sebenernya...." jelas Ernest menjeda ucapannya.

Ernest mengulas senyuman, "Ini udah aku re-schedule loh. Karena awalnya aku daftarin bukan untuk tanggal ini... Untung aja yang punyanya temen kang Rama, jadi bisa schedule ulang..." akui Ernest nyengir membuat Aisya menaikan kedua alisnya.

"Emangnya kamu daftarin nama kita kapan?" tanya Ai.

"Waktu aku pulang. Niatku mau kasih surprise buat kamu."

Ia kembali menarik senyuman miringnya, "tapi manusia memang hanya bisa berencana, semuanya Allah yang memutuskan. Aku pikir rencanaku bisa mulus kaya jalan tol, datang ke rumah kamu---kasih kamu cincin sambil bilang maukah kamu menikah denganku terus kita nikah, dan pergi umroh, tapi ternyata..." jeda Ernest membuka pintu mobilnya agar Aisya bisa masuk, kemudian ia menyusul masuk di bangku pengemudi.

"Ternyata kamu gagal paham, lari kabur dari tempat acara karena ngira a Sandi mau khitbah aku," lanjut Aisya mencibir.

Ernest menggeleng, "tapi ternyata aku harus nunggu dulu sampe teh Raudhah nikah, baru bisa nikahin kamu...." ralat Ernest beralibi, bisa saja ia ngeles dan sukses bikin Aisya melemparkan tawanya, "bisa ae ngelesnya!"

Aisya menatap jalanan sekitar yang nampak bergerak ketika mobil melaju membelah kesibukan pagi.

"Masih jam 7 gini, mau nyari sarapan ngga? Tadi di resort belum sempet sarapan?" Lelaki ini menjatuhkan netranya pada arloji si pergelangan sebelah kanan.

"Boleh,"

Ernest menthesah kedinginan, "udah lama euy, ngga jalan-jalan di Bandung! Ada yang beda sama jalanan----mau jadi tour guide aku engga? Dimana tempat sarapan yang enak?" tanya Ernest melirik istrinya.

\*\*\*

Bukan restoran atau cafe angkringan, melainkan hanya gerobak nasi kuning biasa nan sederhana, namun cukup mengundang selera dan ramai. Ernest memarkirkan mobilnya di samping gerobak nasi kuning bersama beberapa motor yang terparkir. Sementara Aisya sudah memesan nasi dan memilih tenpat duduk.

Catat, jalan berdua perdana setelah menikah adalah sarapan di pinggir jalan! Cakep! Ernest menyugar rambutnya dan menghampiri Aisya untuk duduk di sampingnya.

"Iket kek rambutnya, atau pakein jepitan gitu?!" omel Aisya menyugar rambut Ernest, "dulu ngga segondrong ini deh!"

Ernest mengangguk, "iya gantengan sekarang ya?" alisnya naik turun membuat gidikan bahu dari Aisya tercipta. Rupanya sikap narsis Ernest mengundang pandangan orang di samping mereka sepaket rasa gelinya. Ernest memang ganteng mereka akui itu, tapi mbok ya jangan diumbar-umbar gitu lah, kan mereka jadi jijay bin geli! Yang jelek auto ngaca di piring.

Sadar akan pandangan orang padanya dan Aisya, bukannya Ernest merasa risih atau malu, ia justru mencolek pelanggan ibu-ibu di sampingnya.

"Bu, saya ganteng kan ya?" alisnya naik turun, berikut Ernest yang menyugar rambutnya, Aisya sontak menghadiahinya dengan tepukan keras di lengannya.

Si ibu malah mengu lum bibirnya, begitupun pelanggan yang ada di sekeliling mereka.

"Ernest apa-apaan ih, ngga tau malu!" cicit Ai.

"Ganteng a...ganteng!" jawab si ibu tertawa, "ganteng lah mirip Taehyung!"

Ernest mengerutkan dahinya dan menoleh pada Aisya, "Taehyung, *saha*?" tanya nya sontak membuat si bapak yang tengah minum tersedak. (siapa?)

"Artis a, artis negri ginseng!" jawab yang lain gatal juga tak ikut menimpali.

Aisya sudah mengusap kening tanda malu, kendati begitu suasana yang awalnya hanya masing-masing dan kebanyakan diam lebih pada suara beradu alat makan lebih riuh dan seru dengan adanya Ernest.

Dua piring nasi kuning dengan isian lauk yang sudah Aisya pilih tersaji di depan keduanya, "alhamdulillah!" seru Ernest, baru saja Aisya hendak mengambil sendoknya dengan sengaja Ernest mengambil sendok milik Aisya.

"Itu sendok kamu, ngapain ngambil sendok aku?"

Sesendok nasi kuning dan lauk disodorkan di depan mulutnya, menghentikan omelan ketus Aisya.

"Aaaaa?!" pinta Ernest.

"Nest aku bisa sendiri,"

"Tau. Ngga bosen apa, 23 tahun makan sendiri? Ngga mau gitu disuapin Taehyung kw?" tanya nya menggoda.

"Dasar gila ih," cibir Aisya pelan.

"Gila karenamu...." jawabnya. Aisya mau tak mau melahap nasi yang disuapkan Ernest ke dalam mulutnya di depan beberapa pengunjung lain, di pinggir jalan pula!

"Suapan pertama dari suami, ngga mau diposting?"

Aisya menatap horor, "ih ngapain! Malu!" ia berseru.

"Baru tau aku, kalo disuapin suami itu aib..." ujar Ernest menyendok nasi untuknya.

"Ya bukan gitu, kurang penting aja buat disebarin. Cukup aku, kamu, sama Allah aja yang tau sikap manis kita...." balas Aisya merebut sendok di meja.

Ernest mengulas senyum usil, "jahat ih! Terus mereka kamu anggap apa? Debu-debu berterbangan?" tunjuknya pada pelanggan nasi kuning lain. Ernest tertawa melihat wajah lucu istrinya itu.

"Gini deh, kalo sama kamu tuh ngga bisa buat ngga emosi..." manyunnya.

.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Lia Bagus

Lia Bagus

Alhamdulillah q masih di gandeng suami kalo lagi jalan walaupun udh 13 tahun nikah 🤗

2024-09-01

0

Happyy

Happyy

🤗🤗

2023-11-03

1

🇵🇸🇮🇩 гเรภคչเ๔คภєคгŦค🌽

🇵🇸🇮🇩 гเรภคչเ๔คภєคгŦค🌽

Kalau jalannya sama anak iya yg di gandeng tangan anaknya , tapi kalau Lagi bedua masih pegangan tangan kok 😂

2023-08-07

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!