Gala Dinner 2

"Ekhem!"

Suara deheman seseorang membuat Caca menoleh ke belakang memastikan sumber suara.

Disaat menoleh kedua netra saling bertrubukan, mengunci sejenak, terdiam saling menunggu sebelum saling menyapa.

"Hai." Caca dengan canggung memilih menyapa lebih dulu.

"Sudah makan?" disaat banyak kata yang mau dilontarkan namun akhirnya hanya kalimat itu yang keluar dari bibir pria yang 2 kali menjadi pasiennya.

Bukannya menjawab, Caca malah mati gaya menghadapi tatapan dingin dari sang mantan pasien.

Seakan dingin dan hembusan udara disekeliling menjadi lebih peka terdengar indera.

"Terima kasih." Martin buka suara setelah hening menguasai keduanya.

"Untuk?" kini Caca balas menatap mata yang menyorot lekat pada dirinya seakan hendak banyak berkata-kata meski singkat tanpa untaian kata yang terucapkan pada akhirnya.

"Sudah menyelamatkanku beberapa kali." tanpa melepas dan tak berniat memutuskan pandangan seakan tak rela bila saat mengedip wanita dihadapannya hilang seketika.

"Sudah menjadi tugas Saya, berusaha membantu pasien Saya, Tuan Xander." Caca sengaja menyebut nama yang digunakan saat menjadi pasiennya itu.

"Maaf." suara Martin lirih.

"Ga masalah. Setiap orang punya privasi. Begitupun Kamu. Sebagai pasien itu hak Kamu untuk menjaha privasi Kamu."

"Hai, Kalian sedang asik ngobrol?"

Arsenio menghampiri Caca dan Martin.

"Martin, Aku masih terkejut, Salut dan selamat untuk Kamu." Arsen dengan semangat.

"Oh ya, Kamu datang ya ke reuni SD kita." Arsen menepuk lengan Martin.

"Ca, Kamu harus datang juga. Aku bakal jemput Kamu." Arsen nyatanya lebih gerak cepat.

Tatapan Martin sulit diartikan hingga Caca dipanggil sang Bunda untuj diajak pulang.

"Aku duluan ya." pamit Caca.

"See you soon Ca. Next time Kita hang out bareng ya." Arsen melambaikan tangan.

"Terima kasih sudah hadir." Martin menatap langkah Caca yang semakin menjauh.

"Aku pamit pulang ya Martin. Sekali lagi Selamat dan Sukses buat Kamu bersama Xander Corporation."

"Terima kasih."Martin membalas jabat tangan relasi bisnis sekaligus teman SDnya yang pamit pulang.

Di Mansion Daddy Nick, setelah kembali dari Gala Dinner mereka masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat.

Begitupun Caca, langsung masuk ke kamarnya.

Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian dengan piyama tidur Caca merebahkan tubuhnya di ranjang besarnya.

Caca kembali teringat pertemuannya dengan Martin di Gala Dinner.

Sikap dan pembawaan Martin masih sama dengan dulu malah kini Caca melihat banyak sisi lain dari teman kecilnya itu.

"Entah apa yang Kamu sembunyikan? Aku tidak tahu." batin Caca berbicara sendiri.

Ponsel Caca bergetar.

Beberapa pesan masuk salah satunya ada dari Arsen.

Menanyakan apakah ia sudah sampai.

Sekedar berbalas pesan dengan Arsen nyatanya ada panggilan telpon dengan Chris.

"Hai, apa kabar?" suara renyah Cjris terdengar ditelinga Caca.

"Baik, Kamu sendiri gimana?" Caca balik bertanya.

"Aku kangen sama Kamu. Ah ga asik rasanya disini sepeninggal Kamu! Ga ada yang bisa Aku ajak makan!" begitulan Chris dengan gayanya seperti biasa.

"Wah kasihan sekali sahabatku ini! Jangan sampai Kamu jadi kurang gizi loh!" Caca meladeni candaan Chris.

"Bagaimana disana? Maksudku di Rumah Sakit Cabang?" Chris menanyakan pekerjaan Caca.

"Ya lancar, menyenangkan." Caca menjawab sesuai dengan apa yang ia rasakan.

"Aku yakin Kamu akan sukses dimanapun." Chris mendukung.

"Oh ya Ca, sepertinya 2 minggu lagi Aku akan kesana. Direktur mengirim perwakilan untuk kunjungan dan Aku senang sekali bisa bertemu denganmu." Chris tampak bahagia menyampaikan kabar.

"Sungguh? Wah, bagus kakau begitu. Aku tunggu Kamu disini." jawab Caca senang.

"Ya, Kamu harus bawa Aku mengenal negaramu terutama makanan-makanan enak disana." Chris menagih janji.

"Ya. Aku ingat." jawab Caca.

"Oke. Lain kali Kita lanjutnya. Disana sudah malam ya? Selamat istirahat." Chris sebelum pamit mengakhiri obrolannya.

"Kamu juga sehat selalu ya! Bye Chris!"

"Bye!"

Lain di Mansion Daddy Nick lain pula dengan Martin yang kini merebahkan tubuh lelahnya diranjang besar masih lengkap memakai pakaian yang ia kenakan saat Gala Dinner.

Helaan nafas dari pria yang kini menjadi pimpinan tertinggi Xander Corporation begitu berat.

Netranya seakan mengawang memikirkan bagaimana dan apa yang harus ia lakukan kedepannya.

Banyak hal yang menjadi pertimbangan terutama dalam mendekati wanita yang sejak dulu telah tersimpan dihati.

Namun mengapa terasa begitu sulit, karena memang ada banyak hal yang masih harus Martin tutupi demi keselamatan banyak orang termasuk keluarga Nick, orang tua Caca.

"Aku senang bisa melihatmu lagi dalam kondisi Kamu tahu siapa Aku. Tapi Aku belum sepenuhnya menunjukkan bagaimana perasaanku meski keinginan itu begitu besar."

Bohong jika Martin tidak panas manakala dengan santainya rekan bisnis sekaligus teman SD mereka Arsenio terang-terangan menunjukkan ketertarikan pada Caca.

"Aku takut, bila mendekatimu dan mengklaim dirimu berdiri disisiku akan membuat hidupmu dan keluargamu menjaga tidak aman."

"Sejujurnya Aku ingin lebih dekat, mengatakan padamu bagaimana perasaanku tapi ada rasa takut akan suatu saat Kamu akan terbawa dalam arena bahaya dan Aku tidak ingin terjadi apa-apa padamu."

Martin mengusap wajahnya kasar.

Sejak dulu, banyak sekali hal-hal ia harus kendalikan yak sebebas orang kebanyakan.

Namun terlalu egois bila Martin hanya memikirkan perasaannya saja sementara keluarganya membutuhkan dirinya terlebih Martin jaga betul kesehatan sang Mommy.

Tok,Tok,Tok!

Pintu yang tak terkunci membuat Daddy Alex mudah masuk ke kamar sang putra.

"Belum tidur Nak?"

Daddy Alex mendekati Martin yang kini sudah bangkit dari ranjangnya.

"Belum Dad. Belum mengantuk." Martin kini duduk menghampiri sang Daddy yang terlebih dahulu menempati sofa di kamar Martin.

"Tadi hampir saja Kita kecolongan! Untung saja pengawal bisa segera melacak dan semua tetap berjalan dengan lancar tanpa gangguan." terdengar kelegaan dari Daddy Alex saat menceritakan apa yang terjadi saat Gala Dinner.

"Ya, syukurlah Dad. Para tamu pun tak ada yang menyadarinya." Martin juga bersyukur masalah kecil bisa terselesaikan dengan baik dan rapi.

"Martin, Kamu sudah mengenal satu persatu keluarga Om Nick, Daddy harap kedepannya Kamu bisa leboj dekat agar Kamu bisa dengan mudah melindungi mereka.

Raut wajah Martin menampakkan kebimbangan dan itu yerbaca oleh Daddy Alex.

"Ada apa Nak?"

"Tidak Dad. Hanya saja rasanya sulit. Terutama bila harus dekat dengan Caca."

"Nak, Dad tahu, Kami sejak dulu tertarik dengan Caca putri Om Nick. Apa yang membuatmu sulit?"

"Aku hanya takut, bila mereka tahu seperti apa Kita dengan segala latar belakang Kita, apakah mereka masih mau berhubingan dengan kekuarga Kita Dad?"

"Kamu takut Caca tidak bisa menerima latar belakangmu?" tebak Daddy Alex.

"Ya. Itu juga yang Aku khawatirkan Dad."

Sambil menepuk bahu sang putra,"Dad yakin Kamu pasti bisa. Dan Dad yakin, keinginanmu tulus untuk melindunginya. Jadi berdoalan semoga Caca bisa menerimamu dengan segala latar belakang ini."

Terpopuler

Comments

Yani

Yani

Maap banyak typo thor 🙏🙏🙏

2023-06-27

2

Arifin

Arifin

lanjut tjor

2023-06-26

2

🌺awan's wife🌺

🌺awan's wife🌺

kamu gak mendekati Caca pun dia dan keluarga ny sudah jadi incaran Bryan Lo tin,,,,jadi mendingan dekati saja,,, pelan2 pasti bisa jujur

2023-06-26

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!