Kembali Ke Rumah Sakit

Setelah rehat sejenak, Dokter Clarisa kembali ke Rumah Sakit menjalankan kewajibannya seperti biasa.

"Hai Ca!" Dokter Chris menyapa.

"Hai!" jawab Dokter Clarisa sambil berjalan menuju ruangannya.

"Ku dengar Kamu sudah tidak merawat pasien itu. Bagaimana kondisinya?"

"Sudah siuman namun masih membutuhkan perawatan intensif, namun Wakil Direktur memintaku kembali."

"Oh ya, Kamu sudah tahu bahwa Rumah Sakit Kita akan mengutus Dokter untuk meninjau ke Indonesia mengenai cabang Rumah Sakit Kita yang ada disana."

"Ya, dan Aku mengajukan diri untuk terbang kesana."

"Wah Kamu pulang kampung dong!"

"Sebetulnya kedua orang tuaku memang memintaku kembali."

"Jadi, Kamu akan balik?"

"Aku sedang mempertimbangkannya."

"Aku akan kehilangan dirimu kalau itu benar terjadi."

Dokter Chris menghentikan langkahnya tepat didepan ruang Dokter Clarisa.

"Hei! Aku itu hanya pindah negara, bukan pindah alam!"

Caca membuka ruangannya yang telah seminggu ia tinggalkan.

Sambil meletakkan tas di kursi dan meraih snelinya yang tergantung untuk ia pakai.

"Aku tidak sedang bergurau Ca, Kalau Kamu kembali kenegaramu, Aku akan merasa kehilangan."

Sorot mata Dokter Chris berubah teduh namun menatap lekat pada wajah wanita cantik yang mencuri hatinya.

"Kamu ini sejak dulu senang sekali gombal! Sayangnya Aku ini sudah hapal! Ga mempan!"

Caca membuka pc di hadapannya berniat membuat laporan.

"Malam ini, Kita dinner yuk!"

"Boleh."

"Kalau begitu, kabari saja Kamu selesai jam berapa. Siang ini Aku juga ada jadwal operasi. Kemungkinan sore sudah selesai."

"Baik Pak Dokter!"

"Aku keluar dulu ya, jangan kangen!"

Chris melempar senyum sebelum.ia meninggalkan ruang Dokter Clarisa dan menutup kembali pintu.

Clarisa hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat tingkah Chris.

Telpon di Ruangan Claris berdering.

"Ya Halo."

"Baik Dok, Saya akan kesana."

Panggilan telpon berasal dari ruang Direktur Rumah Sakit.

Clarisa diminta untuk menemuinya diruangan.

"Siang Dok."

Clarisa menyapa Direktur Rumah Sakit saat memasuki ruang pimpinan Rumah Sakit itu.

"Siang Dokter Clarisa. Silahkan duduk."

Ucapan terima kasih dan anggukan diberikan oleh Clarisa sebelum ia duduk seperti yang dipersilahkan.

"Begini Dokter Clarisa, Saya sudah menerima pengajuan resign Dokter terkait dengan kepulangan Dokter ke Indonesia. Namun seperti yang Dokter tahu Rumah Sakit Kita membuka cabang di Indonesia. Dan Dokter juga bersedia bila Kami meminta untuk bertugas disana. Jadi Kami dari pihak Rumah Sakit akan mengabulkan kepulangan Dokter Clarisa namun tetap bekerja di Rumah Sakit Cabang Kami. Bagaimana?"

"Baik Dok. Saya menerima penawaran itu. Kapan Saya bisa segera kembali?"

"Dokter Clarisa bisa menyelesaikan dulu jadwal yang sudah ada di bulan ini. Terkait dengan kepulangan sekaligus pemindahan ke Rumah Sakit Cabang, semua akan diurus oleh bagian kepegawaian."

"Baik kalau begitu, ada lagi Pak Direktur?"

"Oh ya, untuk kedepannya, Kami tetap akan memantau perkembangan Cabang Rumah Sakit di Indonesia. Sekaligus Saya akan memposisikan Dokter Clarisa sebagai Wakil Direktur disana."

"Baik kalau begitu. Saya permisi."

Sepeninggal dari Ruang Direktur, Dokter Clarisa banyak berfikir.

Memang sesuai harapannya ia akan kembali ke tanah air dan bisa berkumpul dengan keluarganya.

Namun, beban tanggung jawabnya semakin besar.

Terlebih jabatan Wakil Direktur Rumah Sakit akan membuat Clarisa semakin sibuk.

"Semoga Aku bisa mengemban amamah besar ini."

Sementara di Mansion pasien yang semula dirawat oleh Dokter Clarisa sudah bisa berbicara.

Nyatanya Dokter yang menggantikan Clarisa bukan Dokter dari rumah sakit yang sama namun Dokter yang memang sengaja didatangkan secara pribadi agar rahasia mereka tetap terjaga.

"Cepat katakan, siapa yang menyuruhmu!" ancam tangan kanan Tuan Xander.

Tentu saja bukan sekedar ancaman kata-kata tapi bisa dibayangkan bagaimana cara Mafia bekerja agar pelaku dan tawanannya cepat bukan mulut, tentu dengan penyiksaan.

Dengan nafas tersengal ditambah penyiksaan yang diterima terlebih kondisi yang belum pulih akhir mengaku juga.

"Tuan Bryan."

Dengan lirih dan pasrah akhirnya mengaku juga.

Langkah pasti dengan tatapan setajam silet siap membunuh sang mangsa, Tuan Xander berjalan mendekat siap menerkam lawannya.

"Bryan Weber?" memastikan apakah nama yang disebut benar adanya.

Dengan susah payah sang tawanan mengangguk membenarkan.

Tak butuh waktu lama, Lirikan serta kode yang diberikan Tuan Xander rupanya sudah sangat dipahami oleh sang tangan kanan.

Dengan sekali tarik sang tawanan segera di bereskan sebelum sempat meraung memohon iba meminta pengampunan.

Namun tampaknya belas kasih Tuan Xander tak menyisa lagi dalam darahnya.

Suara tawanan perlahan melemah dan menjauh setelah dibawa dari ruangan tempat Tuan Xander berada.

"Tuan selanjutnya apa yang harus Kami lakukan?" tanya sang tangan kanan setelah menyerahkan sang tawanan pada eksekutor.

"Siap penerbangan, Aku akan kembali!"

"Baik Tuan, permisi."

Helaan nafas panjang terdengar berat dari tarikan sepenuh dada sambil sorot mata menerawang memikirkan bagaimana kelanjutannya.

"Aku kembali, dan Aku akan pastika keluargaku baik-baik saja."

"Kali ini, Aku kembali pergi meninggalkan perasaanku, demi menjaga keselamatan keluargaku."

"Berat, sangat berat. Disaat saat saja Aku merasakan bahagia bisa kembali melihatnya, namun takdir masih mengujiku untuk kembali berpisah."

Seperti yang dijanjikan, Dokter Chris sudah selesai dengan operasi dan segera menghubungi Caca.

"Oh begitu, Aku jadi pergi duluan?"

Helaan nafas Chris terdengar melemah.

"Ok, tapi awas, Kamu jangan sampai lupa. Aku menunggumu Ca!"

"Ok. See you later."

Dokter Chris memasukan ponselnya dan bersiap pulang duluan karena Clarisa ada operasi mendadak.

Sementara Dokyer Clarisa dengan segenal hati dan penuh dedikasi kini sedang berjuang menyelamatkan nyawa pasiennya di ruang operasi.

Wanita cantik bertangan dingin itu seperti biasa sukses dan berhasil menangani pasiennya.

Ada rasa lega dan bersyukur, Caca sangat bahagia dan puas bila selesai menangani pasien dan berhasil.

Meski lelah sering kali meyambangi tubuh rampingnya namun Caca merasakan bahagia yang tak terlukis manakala pasien yang ia tangani selamat dan bisa ditolong.

Meski semua adalah murni kehendak Allah, namun saat paling membagiakan bagi seorang Dokter terutama Clarisa adalah saat ia melihat wajah lega pihak keluarga yang menanti dengan harap cemas saat ia melakukan tugasnya.

"Dok, hari ini operasi terakhir dan sudah tidak ada jadwal lagi untuk Dokter. Apakah Dokter mau disiapkan makanan?" salah seorang perawat yang biasa mendampingi Clarisa menawarkan.

"Saya langsung pulang Sus, Kalau nanti ada perkembangan apapun yang berkaitan dengan pasien hubungi Saya."

"Baik Dok."

Clarisa keluar ruang operasi dan membersihkan diri sebelum ia kembali keruangannya bersiap pulang.

Sambil memeriksa ponselnya ia menerima pesan yang dikirim Dokter Chris.

"Ada-ada saja dia!"

Sebuah gambar selfie Dokter Chris yang sudah ada di Cafe tempat mereka janjian sambil tersenyum manis.

Clarisa kemudian memeriksa chat masuk nyatanya dari kedua adik kembarnya yang mengatakan bahwa mereka akan kembali ke Indonesia setelah selesai menempuh perkuliahan dan sudah selesai wisuda.

Terpopuler

Comments

Afternoon Honey

Afternoon Honey

nyimak bacaan📖

2023-06-26

1

Yani

Yani

Martin kayanya mau pulang juga ke indinesia

2023-06-13

2

Arifin

Arifin

lanjut thor

2023-06-12

3

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!