Selepas perjumpaan temu kangennya dengan teman kecilnya, Caca kembali ke Mansion.
Rupanya sang Adik Nabil juga sudah kembali dari kantor.
Mobil mereka bisa bersamaan masuk dan bertemu saat memarkirkannya di garasi.
"Kak, baru balik?" sapa Nabil pada sang Kakak.
"Iya. Kamu sendiri?" Caca balik bertanya.
"Alhamdulillah tadi habis meeting dengan Klien, jadi Aku langsung pulang." Jawab Nabil.
"Assalamualaikum." ucap salam kompak kedua putra putri Nick.
"Waalaikumsalam." Oma Marisa menjawab salam kedua cucunya.
Baik Caca dan Nabil bergantian mencium tangan Oma dan saling menanyakan kabar bagaimana aktivitas masing-masing.
"Bunda dan Daddy kemana Oma?" Caca mencari keberadaan kedua orang tuanya.
Sementara Nabil duduk disebelah sang Oma menoleh sambil menunggu jawaban.
"Daddy dan Bundamu ada acara di luar. Daddymu sudah mulai disibukkan dengan program kampanye. Mereka akan sibuk dalam beberapa waktu ke depan. Kalian sudah makan?" Oma Marisa balik tanya.
"Sudah Oma. Oh Ya Oma, dapat salam dari Chate." Caca teringat salam Chate untuk Oma dan Bundanya sebenarnya ada untuk Nabil juga.
"Chaterine? Ah, temanmu itu yang jadi Artis dan Model ya? Wah Oma senang sekali lihat dia. Tambah cantik saja. Bagaimana kabarnya?" Oma Marisa memang beberapa kali melihat Chate di beberapa iklan dan acara TV.
"Baik Oma. Oh iya Dek, Chate juga titip salam buat Kamu. Kamu kenalkan dengan teman Kakak itu? Katanya dia pernah ketemu Kamu di acara award yang NBC selenggarakan." Caca menunggu reaksi sang Adik.
Respon sekilas hanya berupa anggukan yang diberikan Nabil pada sang Kakak.
"Kamu ini Nabil, seperti Daddymu saja. Jangan terlalu Kaku dan Dingin. Nanti perempuan malas dekat Kamu." Oma Marisa mengingatkan sang Cucu yang memiliki karaktek saat Nick muda dulu.
"Iya Dek. Chate itu cantik loh! Kamu ga naksir sama dia?" Caca malah semakin menggoda sang Adik.
"Kakak saja dulu yang menikah, Aku sih gampang." jawab enteng Nabil.
"Itu jelas Nabil. Tapi Kamu itu masa kalah sama Nadhif. Tapi jangan seperti Nadhif juga. Oma sampai pusing!" Oma Marisa memang dibuat geleng kepala dengan cucu laki-lakinya yang satu lagi.
Jika Nabil lebih cuek, dingin dan masa bodo dengan perempuan, berbeda dengan Nadhif yang mendapat julukan Casanova di antara teman-temannya.
Sikapnya yang ramah dan humble membuat cewek-cewek klepek-klepek hanya dengan melihat Nadhif tersenyum.
"Nadhif sih memang ganjen Oma!" jawab Nabil dengan enteng.
"Eiits! Siapa yang Abang maksud ganjen! Aku itu hanya ramah saja Bang! Masa di sapa cewek-cewek diam saja. Aku kan hanya balas sekedarnya!" Nadhif yang bari saja keluar lift mendengar pembicaraan Oma dan Kakaknya.
"Jadi balas DM cewek-cewek juga bagian dari keramahan ya Dek?" Caca ssmakin mengompori sang Adik bungsu.
"Pokoknya, urutanmu terakhir Nadhif. Jangan nyerobot antrian!" Oma Marisa mengingatkan sang Cucu bungsu yang memang agak sedikit Don Juan.
"Tenang saja Oma, Sebagai Adik yang baik, Aku tuh bakal mempersilahkan Kakak-Kakakku yang Cantik dan Tampan, Yang paling Ku sayangi seantero jagat raya ini untuk menikah lebih dulu. Kalau Aku sih woles saja Oma. Tapi kalau ada yang nyangkut di hati, sepertinya patut di coba."
Begitulah Nadhif, sambil tertawa ia senang saja menggoda sang Oma yang memamg terpancing dengan ulah jahilnya.
"Ya jangan sampai setiap tikungan ada Dhif! Oma pusing. Bundamu apalagi. Pesan Oma pada Kalian, pilih pasangan yang benar. Yang baik akhlaknya, seiman dengan Kita, dan menyayangi Kalian. Dan buat Kalian para laki-laki, awas! Oma bakal sunat Kalian kalau sampai buka cabang! Satu Suami dan Satu Istri! Awas saja!"
Begitulah Oma Marisa, meski usianya sudah lanjut usia tak bosen memberikan nasihat kepada para cucunya yang meski sudah dewasa namun tetap bagi Oma Marisa layaknya cucu-cucu kecilnya.
"Kak, di luar negeri ga ada gitu yang nyangkut bule?" Nadhif sambil mengunyah snack kepo dengan urusan pribadi Kakaknya.
"Kamu pikir jemuran gitu bisa nyangkut!" Caca menyubit perut sixpack sang Adik.
"Awww! Sakit Kak! Ya masa begitu, lama-lama di sana ga dapat pacar Bule!" tak jera Nadhif masih komentar.
Sementara Nabil mendengarkan ocehan Kakak dan Adiknya hanya geleng kepala.
Nabil sendiri lebih banyak menjadi pendengar jika sudah berkumpul bersama keluarganya.
"Cubit sedikit saja masa kesakitan. Katanya rajin ngegym!" Caca mencebikkan bibirnya pada sang Adik Bungsu.
"Ya ga gitu juga Kak!" Nadhif mengelus perut yang dicubit sang Kakak.
"Oh Iya Oma. Bulan ini Oma sudah kontrol?" Caca mengingatkan Oma Marisa.
"Ah Oma hampir saja lupa. Kak, Oma sebetulnya malas sekali kontrol. Malas minum obatnya."
Terkadang ada rasa jenuh juga meminum obat dan mendengarkan saran Dokter.
"Jangan begitu Oma. Kan banyak manfaatnya. Nanti Kakak langsung yang dampingi Oma Check Up ya." Caca sengaja begitu agar sang Oma kembali termotivasi.
"Ah, senangnya punya Cucu Dokter!"
"Kalau sama Aku senang tidak Oma?" Nadhif kali ini gak kalah mengambil hati Omanya.
"Oma tuh sebenarnya sayang sama Kamu, tapi pusing menghadapi sifatmu yang cunihin begitu!"
"Smash terus Oma! Cucumu ini kan bukan genit, tapi hanya ramah!" Nadhif tak mau kalah.
Saat yang lain sibuk bercanda Nabil sudah angkat pantat hendak menerima telpon sepertinya urusan pekerjaan.
"Oma Aku angkat telpon dulu ya." pamit Nabil pada Oma sebelum beranjak.
"Heran Oma, Punya Cucu laki-laki, kembar, tapi sifatnya bagai Bumi dengan Langit! Yang satu Kayak Es Balok! Satu Lagi ga bisa lihat jidat licin!"
"Nadhif sih Oma, jangankan yang cantik, Kambing di bedakin juga dia godain!" Caca melet ke arah sang Adik.
"Enak saja! Aku tuh punya selera Kak! Buktinya yang dekati Aku cantik-cantik,-" Nadhif meliukkan tangannya seperti membentuj sebuah body gitar spanyol.
"Kamu ini! Awas saja. Bunda akan laporin Kamu ke Bundamu! Biar nanti sama Bundamu dipondakkan saja di pesantren Om Salman!"
"Ya Allah Oma. Dari dulu ancamannya ga berubah. Eh, tapi Aku velom pernah sih dekat sama cewek-cewek yang model ukhti-ukhti begitu! Kayaknya seru deh!"
"Kamu pikir main games!" Kini Oma Marisa yang gantian menyubit perut Nadhif.
"Ampun Oma! Aduh, Aku kalau udah dekat Kakak dan Oma, pasti jadi korban KDRT!" Nadhif mengusap perutnya yang menjadi sasaran Oma Marisa.
"Kali ini bukan ancaman lagi! Kalo Kamu masih genit begitu, Oma langsung telpon Om Salman minta Om Kamu bawa Kamu buat mondok dipesantrennya!"
"Uh ngeri sekali! Ah Bunda kenapa tidak ada disini, Aku tak ounya perlindungan."
"Udah gedek Dek! Malu masa masih mau berlindung di ketek Bunda!" Caca kini mencubit hidung bangir sang Adik.
"Duh badanku remuk deh!" Nadhif mengusap-usap hidung mancungnya yang kali ini jadi sasaran.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
Yani
Ya pengen tau kabarnya keluarga ustad Salman
2023-06-21
1
Arifin
lanjut thor
2023-06-18
2
manda_
lanjut thor semangat buat up lagi ya ditunggu keluarga yg kompak dan harmonis
2023-06-18
2