Dinner

Clarisa menuju Cafe yang sudah dijanjikan untuk bertemu dengan Chris.

Rupanya ada yang tak sabar bertemu, padahal Clarisa sudah sampai di parkiran Cafe namun Chris menghubunginya.

"Aku sudah diparkiran Chris."

"Iya."

"Ok."

Clarisa menutup ponselnya mengambil tas sebelum keluar dari mobil.

Sementara Chris yang setelah dari toilet menghubungi ponsel sang wanita pujaan hati tanpa sadar berjalan fokus dengan ponsel di pandangannya tak sengaja menabrak seseorang.

"Maaf." Chris menyadari kecerobohannya menabrak seorang pria bertubuh tinggi dengan berjaket kulit hitam plus kacamata.

Sekilas pria yang ditabrak Chris berhenti sejenak memandang sesaat kemudian memilih pergi tanpa menjawab kata-kata Chris.

Chris mengerutkan dahi melihat respon pria yang ia tabrak pergi tanpa menjawab apapun.

"Dor!"

"Astaga Ku kira siapa! Ayo Aku sudah hampir lumutan menunggumu."

Rupanya Clarisa yang mengejutkan Chris.

Keduanya kini duduk berhadapan di table yang sengaja dipesan dalam ruangan privat oleh Chris.

"Wow! Apakah hari ini ada sesuatu yang spesial?"

Clarisa melihat sekeliling dan ia melihat sesuatu yang indah.

Dekorasi binga dan lilin-lilin kecil ditambah suasana pemandangan yang tembus pandang menghadap danau dengan sinaran bulan menambah syahdu dan romantis malam ini.

Chris hanya tersenyum. Dalam hatinya ingin sekali ia langsung mengatakan bahwa Kamulah seseorang yang spesial untuk melengkapi malam yang indah ini.

"Aku sudah memesankan makan malam Kita. Semoga Kamu suka." kata-kata itu yang mampu Chris ucapkan pada akhirnya.

Setelah makanan terhidang, Chris dan Clarisa menikmati santap malamnya ditemani alunan musik dari gesekan biola bersuara indah yang sengaja di pesan Chris melengkapi makan malamnya bersama Clarisa malam ini.

Sang pemusikpun undur diri setelah menyelesaikan sebuah lagu.

"Tidak biasanya Kamu begini? Apa ada yang spesial malam ini? Bukan gayamu romantis begini." Clarisa meneguk air menetralkan linguanya.

"Ca, Kamu akan kembali ke negaramu? Kapan?"

Suara pelan namun terdengar begitu dalam dari Chris dipahami Clarisa bahwa sang lawan bicara dalam mode serius.

"Sepertinya lusa Aku akan kembali. Kenapa? Kamu takut rindu ya sama Aku?" Canda Clarisa.

"Ya, Aku akan merindukan Kamu." terdengar suara Chris serius dengan wajah yang tidak bercanda.

"Kamu ini, kan Kita bisa telp, chat arau zoom." Clarisa masih meladeni dengan santai meski ada firasat dengan semua yang Chris siapkan malam ini.

"Ca, sejujurnya Aku tahu Kamu mengerti apa yang Aku rasakan padamu selama ini. Aku hanya ingin menegaskan bahwa perasaanku padamu tidak main-main. Aku serius menyukai. Apakah masih bisa Aku berusaha untuk terus berharap?"

Clarisa tahu selama ini perasaan Chris dan perhatian yang Chris berikan padanya lebih dari sekedar Kakak Tingkat dan Rekan seprofesinya namun ada hati yang Chris siapkan untuk Clarisa bila ia mau menerimanya.

Clarisa akui, Chris pria yang baik, sopan dan menyenangkan.

Pria yang cocok jika dijadikan pasangan.

Namun kembali lagi, hati terkadang tak bisa dipaksakan. Atau mungkin belum.

Perasaan Clarisa pada Chris selama ini hanya sebatas kenyaman sebagai teman dan sahabat baik.

Entah mengapa sulit rasanya mengubah perasaan itu menjadi sesuatu yang lebih seperti cinta.

Helaan nafas Clarisa sebelum memulai kata mungkin terdengar sebagai bentuk awal penolakan bagi Chris.

Meski begitu, Chris masih perharap suatu saat perasaannya bisa terbalas dan Clarisa bisa membalas perasaannya lebih dari seorang sahabat.

"Chris, terima kasih atas semua kebaikanmu selama ini. Jujur Aku bahagia bisa mengenalmu, denganmu Aku nyaman dan merasa memiliki sahabat. Kamu pribadi yang baik dan sangat menyenangkan. Aku juga akan rindu denganmu. Tapi maafkan jika perasaanku kepadamu sebatas sahabat dan Kamu adalah sahabat paling baik yang pernah Aku kenal. Maafkan jika Aku kembali menyakitimu, namun Aku tidak mau berbohong dan berpura-pura menerimamu karena itu hanya akan menyakitimu dan melukai persahabatan Kita." Clarisa berat mengakui kenyataan yang ia rasakan di hadapan Chris.

Kejujuran memang terasa pahit, namun berbohong dengan pura-pura menerima bukankah hanya akan menyisakan luka dan kepalsuan?

"Maafkan Aku, jika apa yang Aku katakan menyakiti hatimu dan melukai perasaanmu. Tolong Kamu jangan marah, Aku tidak bisa jauh dari sahabat terbaikku yaitu Kamu."

Sakit!

Ya!

Sejujurnya kenyataan kadang terasa pahit.

Kejujuran terkadang menyesakkan dada.

Namun apakah manisnya kebohongan akan berlagsung selamanya.

Chris sadar, hati tak bisa dipaksakan.

Hati dan Cinta, memiliki radarnya sendiri untuk menentukan kepada siapa akan berlabuh dan menepi.

Meski Ia mencintai namun bila ia tak cinta, apakah harus berakhir?

Chris tak sepicik itu.

Terlalu sayang bila ia harus kehilangan Caca sebagai seorang sahabat meski untuk menjadi seseorang yang spesial nampaknya sudah tak ada harapan.

"Aku sedih. Aku baru saja ditolak! Tapi Aku senang Kamu masih akan merindukanku. Maaf bila membuatmu tak enak hati akan apa yang Aku katakan. Baiklah, janji ya Kamu akan terus berkomunikasi denganku meski Kamu sudah kembali ke negaramu."

Senyuman itu memang terasa dipaksakan oleh Chris.

Namun Chris tak mau kehilangan Caca bila ia harus menjauh.

"Tentu! Kau kan tahu Aku akan pindah ke negara mana dan kota apa. Nomor ponselkupun Kau hapal!"

"Ya, kalau suatu saat Kamu tak mengabariku atau Ghosting, Aku akan menyusulmu langsung ke negaramu!"

"Owww. Menakutkan sekali! Sudah, sepertinya melow-melow begini tak cocok dengan Kita."

"Ah, Sayang sekali! Tak seperti ini Aku lebih baik mengajakmu makan di street food saja!" canda Chris.

"Oh gitu! Ok, Suatu saat Kamu berkunjung ke negaraku, akan Aku ajak Kamu makan kaki lima!"

"Kaki Lima?" Chris mengerutkan dahi.

"Sudah tak usah Kamu pikirkan. Lanjutkan saja makanan Kita."

Sementara diruang lain dalam Cafe tersebut nyatanya ada pertemuan 4 mata antara Tuan Xander dengan seseorang.

Setelah selesai dengan pembicaraan mereka, si tamu pergi tinggallah Tuan Xander sendiri dalam ruang VIP itu.

"Bukankah itu Dokter yang menjadi rekan kerjanya?"

"Sedang apa mereka disini?"

"Tuan, Maaf, Tuan Besar menghubungi Saya, menanyakan Tuan."

"Biarkan saja dulu, nanti Aku yang akan telpon balik. Sekarang siapkan jet pribadi malam ini Aku akan kembali!"

Tuan Xander beranjak lebih dulu dan keluar dari ruangan.

Tanpa sengaja ia melihat Clarisa dan Chris keluar dari ruangan yang sejenis sambil tertawa bercanda lepas.

Sorot mata itu begitu tajam menyaksikan keakraban keduanya meski yang dipandangi tak sedikitpun menyadari ada netra tajam memandang keduanya.

"Tuan,"

Tuan Xander sadar, segera iya memasang kembali kacamata hitamnya bergegas keluar dari Cafe.

"Mau kemana lagi Kita?" Chris bertanya pada Caca.

"Aku mau langsung pulang saja. Aku lelah sekali hari ini."

"Wah, apakah Kamu butuh jasa tukang pijat?" canda Chris.

"Sejak kapan Kamu alih profesi Chris. Ada-ada saja!"

Sesaat Chris melihat pria yang tadi ia tabrak sedang berjalan terburu-buru meninggalkan Cafe.

"Ada apa Chris?" Caca melihat Chris memandang ke arah pintu.

"Tidak ada apa-apa. Ayo Kita pulang!"

Terpopuler

Comments

Afternoon Honey

Afternoon Honey

nyimak bacaan 📖

2023-06-26

1

Viviana Chan

Viviana Chan

hai kak ayo mampir baca novel aku, sekalian kasih saran.
critanya, tentang anak kandung yg tertukar, setelah ketemu ortu asli diperlakikan seperti orang asing.
1. putri yang terabaikan.

2023-06-13

2

Yani

Yani

Lanjut ttp semangat thor 🙏🙏🙏💪💪

2023-06-13

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!