Lingkungan Baru

Pagi yang cerah secerah suasana di kediaman Daddy Nick yang kini menikmati santap pagi dengan anggota keluarga lengkap menambah semangat dan semakin nikmat saja.

Oma Marisa tersenyum melihat anak, menantu dan para cucunya berkumpul di meja makan.

Diperhatikan satu persatu tak terasa mengalir airmata dari wajah wanita baya yang kini berada ditengah-tengah para kesayangannya.

"Mom?" Khalisa memperhatikan sang Ibu Mertua yang tampak basah pipinya namun tersenyum bahagia.

"Mom tidak apa Sayang. Mom hanya bahagia. Senang sekali hari ini bosa melihat Kalian semua disini menemani Oma. Semoga selalu bisa setiap saat seperti ini hingga saat Oma harus menutup mata."

Memang tak bisa dipungkiri seiring bertambah usia rasa sensitif dan perasaan seseorang semakin lembit dan perasa.

"Oma bakal panjang umur. Oma harus sehat. Oma tak ingin melihat Kak Caca menikah?" terkadang sikap ceria dan ramai Nadhif sangat menolong dikala saat-saat seperti ini.

"Kenapa jadi bawa-bawa menikah si Dek! Oma pasti panjang umur. Kami semua selalu mendoakan kesehatan dan Oma akan berumur panjang." Caca menghampiri Oma Marisa memeluk dengan kasih sayang.

"Iya. Oma akan sehat. Kalian juga, harus sering berada didekat Oma ya. Apalagi Abang, meski sekarang sudah sibuk di perusahaan tapi harus bisa bagi waktu dengan keluarga."

Sejak resmi menggantikan sang Ayah menjadi pimpinan di NBC, tentu saja kesibuan sang eksekutif muda nan tampan rupawan, Nabil tentu seperti sang Daddy yang sangat sibuk.

Sementara setelah mendapat restu dan dukungan daei keluarganya, Nick mantap menerima pencalonan dirinya sebagai Gubernur dan akan disibukkan dengan kegiatan kampanye.

Tentu saja garis haluan yang berubah membuat sang Istri dengan setia mendampingi Nick terlebih saat ini putra dan putri mereka sudah memiliki karir masing-masing hingga Bunda Khalisa bisa fokus mendampingi sang suami melaksanakan masa kampanye.

"Iya Oma." jawab singkat Nabil terhadap permintaan sang Oma.

"Kak, hari ini sudah mulai praktek? Daddy harap Kakak juga bisa jaga kesehatan. Tanggung jawab Kakak sekarang bertambah besar. Tapi Daddy yakin Kakak bisa mengembannya dengan baik." Nick berpesan pada sang putri sulung.

Baik Nick maupun Khalisa tak pernah memaksa dengan pilihan karir ketiga anak-anaknya.

Bukan soal sulit bagi Nick membuat Rumah Sakit untuk sang anak namun Nick melihat bagaimana Caca dengan segala kemampuannya dan memang Caca bisa berkarir sesuai passion dan memang Nick akui putrinya ini sangat bertalenta dalam bidangnya.

Begitupun Caca, meski ia adalah putri seorang Nicholas Bryan namun bukan berarti ia hanya mendopleng nama besar sang ayah, Caca bisa membuktikan dengan segenap kemampuannya dan pilihan karirnya saat ini bahwa ia juga bisa sukses dalam bidang yang ia pilih.

"Terima kasih Dad, Bunda. Insha Allah Kakak akan selalu ingat pesan Kalian."

Setelah berpamitan dengan keluarganya, hari ini Caca mulai beraktivitas di lingkungan kerja barunya.

Seperti yang sudah direncanakan, Caca akan menjabat sebagai Wakil Direktur di Rumah Sakit saat ini.

Langkah dan semangat Dokter Clarisa rak pernah surut.

Kini saat langkah itu sudah memasuki Rumah Sakit dimana ia akan mulai bertugas Caca dengan semangat menemui pihak yang memang sudah menyambut kedatangannya.

"Selamat pagi Dokter Khalisa. Selamat datang di Rumah Sakit Kami." salam dan peyambutan yang dilakukan oleh Direktur Rumah Sakit saat menjabat tangan Dokter Clarisa.

"Pagi Pak Direktur. Terima kasih atas sambutannya. Dan Saya juga mohon kerjasamanya." balasa jabat tangan Dokter Clarisa.

Setelah acara perkenalan dan pelantikan sebagi Wakil Direktur Rumah Sakit, Dokter Clarisa diantarkan menuju ruangannya.

"Jika ada yang Dokter perlukan kabari Saya." ucap salah seorang perawat yang ke depannya akan mendampingi jadwal praktek Clarisa sebelum meninggalkan sang Wakil Direktur diruangan barunya.

"Terima kasih Sus."

"Saya permis Dok."

"Ya."

Sepeninggal Suster yang mengantar, Clarisa merapikan beberapa barang yang ia bawa untuk ditata dalam ruangan barunya.

Dokter Clarisa membuka jendela yang berada diruang tersebut.

Pemandangan yang indah terlihat dari balik jendela ruangannya yang langsung menghadap taman di Rumah Sakit.

Terlihat banyak pasien yang sedang mencari angin atau sekedar melepas bosen selama di rawat di Eumah Sakit.

Hari ini Dokter Clarisa belum menjalankan tugasnya praktek namun ia akan berkeliling, melihat situasi lingkungan kerjanya dan mengunjungi departeman yang menkadi spesialisasinya.

Seperti siang ini, selepas shalat dzuhur Dokter Clarisa memvisit pasien-pasien yang menjadi tanggung jawab departemennya.

Pembawaan yang ramah dan humble membuat Dokter Clarisa cepat digemari tidak hanya oleh para pegawai Rumah Sakit namun para pasien yang ia kunjungi.

"Jika melihat perkembangan Nyonya, dan dari catatan Dokter yang menangani, kondisi pasca operasi Nyonya berangsur membaik."

"Syukurlah Dokter. Maaf, Saya baru melihat Dokter? Apakah Dokter yang lama digantikan?" tanya pasien yang divisitasi oleh Dokter Clarisa.

"Tidak Nyonya, Dokter yang akan menangani Nyonya akan tetap sama. Saya saat ini hanya mengecek pasien-pasien dan memastikan kondisinya baik-baik saja." Dokter Clarisa menjawab.

"Perkenalkan, ini Wakil Direktur Kami, Dokter Clarisa." jawab seorang perawat menjelaskan.

"Wah, masih muda sekali. Cantik. Apakah Dokter sudah menikah?" pasien yang berusia seumur sang Oma malah menanyakan pertanyaan pribadi.

"Belum. Saya belum menikah." Dokter Clarisa tersenyum.

"Kalau begitu Dokter Clarisa mau tidak Saya kenalkan dengan Cucu Saya?"

Bukan hal yang aneh dan mengejutkan bagi Clarisa.

Sering sekali ia mendapati hal-hal seperti saat ini.

"Kalau begitu Saya permisi untuk melihat pasien yang lain. Semiga Nyonya cepat sembuh."

"Oma!"

Seseorang masuk ke dalam ruang pasien disaat bersamaan dengan Dokter Clarisa dan perawat yang akan keluar dari ruangan pasien.

Sesaat pria itu menatap kepada Dokter yang baru saja keluar memeriksa Omanya.

"Kamu ini kebiasaan sekali. Ah Kamu juga telat sekali datang." pasien yang nyatanya Oma dari pria tersebut memberi kode kepada cucunya agar duduk didekatnya.

"Oma masuk Rumah Sakit kenapa baru bilang?" sang Cucu langsung protes.

"Memang Kamu memikirkan Oma. Kamu sama saja seperti orang tuamu yang sangat sibuk! Mana memperhatikan Oma!" rajuk sang nenek pada cucu tercintanya.

"Maafkan Arsen Oma. Aku memang baru saja mengetahui kalau Oma sakit.

"Ya sudah, sini!"

Begitulah kasih sayang seorang nenek yang tak akan habis kepada cucunya.

"Hei Arsen Kamu itu tadi telat datang. Coba Kamu datang lebih cepat. Oma baru saja dapat calon cucu mantu!"

"Oma ini, selalu saja soal itu jika bertemu dengan Aku."

"Kamu ini, anak nakal! Usiamu sudah cukup untuk menikah!"

"Iya Oma. Aku akan menikah tapi nanti."

"Nanti kapan Arsen. Nunggu lebaran monyet!"

"Ada-ada saja Oma! Oma kenapa tidak makan. Masih utuh begitu makanannya. Aku suapi ya!"

"Kamu memang cucu kesayanganku."

"Cucu Oma memang hanya Aku saja. Memang ada yang lain."

Terpopuler

Comments

emak diwi

emak diwi

ya ditimpuk sepatu Ama si Caca itu 🤣🤣🤣

2023-11-04

0

M

M

wah arsen teman sekelas caca waktu SD yg suka ambil makanan caca

2023-08-20

1

Yani

Yani

Siapa tu Arsen ?

2023-06-21

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!