Setelah melewati berjam-jam di udara, akhirnya Clarisa menginjakkan kakinya di tanah kelahirannya.
Seperti yang sang Bunda katakan, driver mereka sudah menjemput Caca di bandara.
"Selamat datang Non."
"Terima kasih Pak."
Caca menikmati perjalanan menuju Mansion Daddy Nick.
Sudah lama ia tak pulang.
Saat sampai di rumah, betapa Caca tak memungkiri rasa bahagia dan rindu yang kini segera terobati akhirnya bisa berkumpul dengan keluarga adalah hal yang paling membahagiakan.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Senyuman Caca mengembang manakala disambut dengan pelukan hangat wanita yang kini tak lagi muda meski masih terlihat cantik menawan.
"Bunda."
Caca memeluk Khalisa sang Bunda begitupun Khalisa memeluk erat putri tercintanya yang sangat ia rindukan.
"Kakak, alhamdulillah sudah sampai." Khalisa mengusap lembut pipi putrinya yang kini telah tumbuh menjadi wanita dewasa nan cantik mempesona.
"Daddy."
Clarisa memeluk sang Ayah yang meski usianya kini tak lagi muda namun aura ketampanan dan kharisma seorang Nicholas Bryan masih tak dapat diragukan.
Nick memeluk putri tersayangnya dengan erat.
Rasanya baru kemarin ia melihat tumbuh kembang putrinya, kini waktu terasa cepat berlalu, putri kecilnya sudah menjadi wanita cantik dengan prestasi yang membanggakan.
"Sayang. Bagaimana perjalananmu?"
"Alhamdulillah lancar Dad. Uban Daddy sudah hampir sepenuh kepala. Wah Daddy sudah tua!" canda Caca.
Khalisa tentu saja tersenyum dengan ocehan sang putri.
"Eits, walau rambut Daddy sudah banyak yang putih tapi tetap ganteng maksimal. Iya kan Bunda?" Nick mencari dukungan istri tercintanya.
"Ternyata Cucu Oma yang cantik sudah pulang. Sudah rindu dengan Oma?"
Caca melihat Oma Marisa yang kini sudah sepuh perlahan menghampirinya.
"Oma."
Caca memeluk wanita baya yang sejak kecil selalu menyayanginya terlebih sejak kepergian Ibu kandung Caca.
"Maafkan Caca Oma. Maaf Caca naru kembali."
Rasa haru cucu dan nenek itu menular pada semua yang menyaksikannya.
"Jangan pergi lagi ya. Disini saja dengan Oma. Lagi pula, adik-adikmu juga sudah kembali. Kamu pokoknya diaini saja." Oma tampak tak rela jika melepas cucu tertuanya lagi.
"Iya Oma. Sipp." Caca memberikan jempol.
"Ayo, Kakak kangen tidak dengan masakan Bunda? Bunda sudah masak makanan kesukaan Kakak."
Kali ini Khalisa menggandeng Caca membawanya menuju ruang makan.
"Selalu Bun. Bahkan Caca selalu ingat rasa masakan Bunda. Ah senangnya kembali ke rumah."
"Daddy, tolong panggilkan Nadhif dan Nabil." Khalisa meminta suaminya memanggil kedua putra mereka.
"Kakak merindukan Kami juga."
Rupanya yang namanya disebut sudah berada di hadapan mereka segera setelah tahu sang Kakak telah kembali.
"Tentu saja Kakak rindu Kalian!"
Caca memeluk kedua adiknya.
"Kakak jadi merasa imut diantara Kalian. Mengapa Kalian tinggi sekali sih!"
"Kami tidak hanya tambah tinggi Kak, tapi tambah Tampan. Iya kan Bang?" Nadhif meminta dukungan Abangnya Nadhif.
Meski keduanya adalah anak kembar namun Nick dan Khalisa tetap memberlakukan panggilan Abang untuk yang lahir lebih dulu meski hanya berbeda beberapa menit saja.
"Kalian itu tinggi dan tampan menurun dari Daddy!" Nick tak mau kalah.
"Daddy tapi sudah tua. Kalau Aku dan Abang kan masih muda." jawab Nadhif pada sang Ayah.
Sementara Nabil hanya tersenyum, memang jika sang Daddy dan Nadhif sudah bertemu keduanya ada saja yang di selisihkan.
"Heran Oma, ga Daddynya ga anaknya kalau dekat ribut tapi kalau jauh rindu!" Oma Marisa tersenyum melihat kelakuan anak dan Cucunya.
"Abang rindu dengan Daddy? Kalau Aku sih rindu sama Bunda, Oma, Kakak dan Abang."
Sifat Nadhif itu cerminan layaknya Nick, gengsian sementara Nabil mengambil cool dan dinginnya.
"Dasar Kalian berdua, Ayo temani Kakak makan saja. Kakak sudah rindu sama masakan Bunda."
"Nah betul tuh Kak. Ayo Bang, Kita makan. Daddy ga usah diajak ya!"
Begitulah Nadhif senang sekali bercanda dengan sang Ayah meski ia juga sangat menyayangi Nich bahkan diam-diam begitu mengidolakan sang Daddy.
"Daddy sih pasti selalu ada tempat, ya kan Bun?"
"Ah, Bunda sih selalu mendukung Daddy." Nadhif yang selalu saja tak habis pikir kedua orang tuanya masih romantis di usianya yang sudah senja.
"Ayo Kita makan. Kalo ribut terus kapan makannya." kali ini Oma Marisa mengingatkan.
Makan malam kali ini begitu meriah.
Kebersamaan bisa berkumpul bersama keluarga tentu menjadi moment yang selalu dinantikan.
Selepas makan malam, keluarga yang baru saja berkumpul lagi dalam formasi lengkap masih asik berbincang sambil melepas rindu.
Rasanya baru kemarin Nick melihat anak-anak masih kecil dan kini mereka sudah tumbuh dewasa bahkan sudah memiliki jalan hidupnya masing-masing sesuai dengan passion dan keahliannya masing-masing.
Meski Nick seorang pebisnis, ia tak peenah memaksakan anak-anaknya mengikuti jejaknya.
Sebagai orang tua, baik Nick maupun Khalisa memberikan kebebasan kepada putri dan putra mereka memilih karir dan apa yang akan mereka tekuni.
Saat ini, hanya Nabil yang ikut seperti sang Daddy menjadi seorang pebisnis.
Memang terbukti Nabil sama dengan sang Daddy sangat piawai dalam mengelola perusahaan.
"Daddy ingin menyampaikan sesuatu kepada Kalian. Daddy diminta untuk mencalonkan diri sebagai Gubernur. Menurut pendapat Kalian bagaimana?"
Kali ini Nick meminta pendapat dari ketiga putra putrinya.
Sebelumnya Nick sudah meminta pendapat Ibu dan Istrinya kali ini ketiga anaknya yang sudah dewasa dan matang dimintai pemikirannya masing-masing.
"Menurut Kakak bagaimana?" Nick pertama meminta pandangan Caca sebagai putri tertuanya.
"Kalau memang Daddy bisa menjaga amanah dan tetap berkomitmen dengan amanah tersebut dan tentu untuk membantu memajukan masyarakat Caca dukung. Tapi jangan sampai dengan kekuasaan yang ada Daddy menjadi lupa diri dan tidqk amanah. Caca percaya Daddy sudah memikirkannya masak-masak. Dan Daddy juga pasti sudah mempertimbangkan resiko yang akan Daddy terima setelah mengemban amanah tersebut."
Kali ini Nick melirik ke putranya Nabil.
"Kalau pendapat Abang, Daddy mampu membawa amanah tersebut hanya saja Abang ingin agar Daddy tetap mawas diri, bagaimanapun berkecimpung dalam dunia politik akan banyak sekali bersinggungan dengan intrik kotor yang terkadang bisa menjatuhkan juga. Tapi Abang yakin Daddy sudah memikirkan hal tersebut dengan masak-masak."
"Menurutmu bagaimana Nadhif? Kamu kan dekat dengan Masyarakat, bagaimana?"
"Ya Nadhif sih mendukung Daddy maju mencalonkan diri, namun Dad harus selalu ingat, Daddy harus selalu pro rakyat. Jangan seperti yang sudah-sudah, obral janji tanpa bukti."
"Nick, Mom selalu mendoakanmu yang terbaik. Jika memang sekarang panggilan hatimu menjadi pemimpin maka lakukanlah tapi ingat amanah dan bertanggung jawab." Oma Marisa mengingatkan.
"Betul Mas, niatkan semua karena ibadah dan membantu. Jadikan kepercayaan yanh dinerikan kepada Mas sebagai modal Mas dalam bekerja dan lakukan semua karena Allah. Minta petunjuk kepada Allah. Insha Allah, Allah akan memantapkan hati jika memang Allah meridhoi langkah Mas." Khalisa tak pernah bosan mengingatkan sang suami.
"Terima kasih. Insha Allah Daddy akan ingat selalu pesan Kalian."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
Ibroatul Hasanah
jdi calon gubernur mna ni Dedy Nick
2023-07-13
1
Yani
Kabarnya ustad Salman dan keluarganya gimana?
2023-06-21
2
🌺awan's wife🌺
wahhh Dady Nick mau ikut Pilgub,,,,kalo jadi gubernur dia akan dinobatkan sebagai gubernur tertampan dong🤭🤭🤭🤭
2023-06-15
2