Tok!Tok!Tok!
Dokter Clarisa terbangun mendengar suara ketukan pintu kamarnya.
Semalam ia terjaga tak bisa memejamkan mata, baru beberapa saat saja tertidur kini sudah terbangun oleh suara ketukan dan panggilan dari orang di depan pintu.
Beranjak dari pembaringan segera membuka pintu.
"Maaf Dokter, pasien sudah siuman." salah satu bodyguard memberikan informasi.
Dokter Clarisa mengambil stetoskopenya dan segera bergegas ke ruang perawatan.
Disana tampak pria yang menjadi penghubung antara ia dengan sang pemilik Mansion Tuan Xander sudah beradabdi dekat pasien.
Dokter Clarisa memeriksa kondisi pasien.
Dengan seksama dan cermat memperhatikan segala tanda medis dan kondisi pasien.
Pasien memang sudah siuman namun belum bisa diajak berkomunikasi.
Baru gerak mata saja dan gerak jemari sedikit demi sedikit.
"Bagaimana kondisinya Dokter?"
"Pasien memang sudah siuman namun pasien masih harus istirahat karena masih lemah."
"Apakah pasien tidak bisa diajak berbicara?"
"Untuk saat ini belum, tapi besar harapan pasien akan segera bisa berkomunikasi lagi."
"Berapa lama lagi?"
"Itu yang masih belum bisa dipastikan. Memang ada apa?"
"Tidak. Hanya lebih cepat lebih baik."
Kepergian sang tangan kanan Boss keluar ruang rawat meninggalkan tanya dalam benak Clarisa.
"Sebenarnya apa yang mereka cari dengan pasien. Seperti ada yang dicari dan mereka tunggu?" batin Dokter Clarisa.
Dokter Clarisa melanjutkan memeriksa pasien sambil memberikan intruksi kepada perawat disana apa yang harus dilakukan untuk memantau kondisi pasien.
Disebuah ruangan, rupanya Tuan Xander yang telah mengetahui pasien sudah sadar tampak tak sabar untuk menggali informasi lebih dalam.
"Tuan, apakah itu tidak akan membuat Doktet Clarisa curiga?"
"Kamu atur bagaimana caranya. Yang pasti, jauhkan Dokter Clarisa dari pasien. Buat ia kembali ke Rumah Sakit. Aku tidak mau kalau sampai kali ini gagal."
"Baik Tuan. Permisi."
Sang tangan kanan memberikan hormat dan pergi bersama para bodyguard meninggalkan ruangan Tuan Xander.
"Lebih baik Kamu pergi dulu, Aku tidak mau Kamu semakin penasaran dan tahu yang sebenarnya. Maafkan Ca!" helaan nafas Tuan Xander begitu berat meski ia sendiri tak memungkiri senang bisa kembali berjumpa dengan wanita di masa lalunya.
Membuang rasa jenuh, Dokter Clarisa memutuskan jogging saja di pagi hari.
Sejujurnya ia penasaran seperti apa Tuan Xander si pemilik Mansion.
Apakah sebegitu sibuknya sampai-sampai untuk bertemu dengan dirinya begitu sulit.
Tentu saja aktivitas jogging Clarisa tak lepas dari pengawasan para bodyguard yang mengawasi.
"Heran, memangnya Aku tahanan, mengapa mereka mengawasiku. Padahal Aku hanya olahraga saja!" Clarisa menyadari para bodyguard membuntutinya.
Selesai jogging Clarisa langsung menuju kamarnya namun seorang Maid mendatangi Clarisa.
"Maaf Dokter, apakah Dokter mau dibuatkan sesuatu untuk sarapan? Seperti Nasi Goreng Seafood?"
Clarisa mengerutkan dahinya, tak biasanya Maid bertanya, karena selalu saja saat Clarisa ke meja makan semua makanan sudah siap.
Dan kali ini bahkan menanyakan secara spesifik akan membuatkan nasi goreng seafood.
"Boleh. Terima kasih."
"Baik Dokter. Akan Kami siapkan. Kalu sudah siap akan Kami panggil Dokter untuk sarapan."
Maid memohon undur diri pada Clarisa.
"Mungkin kebetulan saja."
Clarisa akan sang Bunda yang sering membuatkan dirinya Nasi Goreng Seafood.
Sejak awal pertemuan dengan sang Bunda sambung memang Clarisa begitu sangat menyayanginya.
Wanita yang dengan tulus menyayangi dirinya selayaknya putri kandungnya sendiri bahkan lebih asik dibandingkan sang Daddy yang over protective.
"Jadi rindu sama Bunda. Bagaimana kondisi Oma ya? Apakah kali ini Aku harus benar-benar kembali?" Clarisa segera masuk kamar dan segera mandi karena tubuhnya penuh keringat setelah jogging.
"Tuan, Saya sudah menghubungi Wakil Direktur rumah sakit, dan mereka aka mengirimkan Dokter lain yang akan menggantikan Dokter Clarisa. Jadi hari ini Dokter Clarisa terkonfirmasi akan kembali ke Rumah Sakit."
"Bagus. Itu sudah seharusnya. Kamu urus kepulangannya. Buat ia tidak curiga."
"Baik Tuan. Permisi."
Sepeninggal sang tangan kanan Tuan Xander beranjak menuju jendela besar dalam ruang kerjanya.
"Aku masih sangat rindu padamu, namun saat ini lebih baik Kita tidak saling bertemu dulu. Cukup Kamu ingat aku yang dulu tanpa tahu siapa Aku saat ini." batinnya menolak meski inilah keputusan paling tepat saat ini.
Seleai mandi dan membersihkan diri sambil mematut diri dicermin, Dokter Clarisa dialihkan oleh panggilan ponselnya.
"Ya Dok?"
"Lalu bagaimana kondisi pasien?"
"Baiklah kalau memang seperti itu."
Dokter Clarisa mengakhiri panggilan telponnya bersama Wakil Direktur Rumah Sakit.
Sejujurnya, Dokter Clarisa masih ingin merawat pasiennya namun alasan Wakil Direktur memintanya kembali ke Rumah Sakit juga tidak salah.
"Kalau begitu Aku akan berkemas dan kembali ke Rumah Sakit."
Selesai menikmati sarapan, Dokter Clarisa menemui tangan Kanan Tuan Xander.
"Apakah Aku tidak boleh sekalioun berbicara dengan Tuan Xander? Paling tidak by phone?"
"Maaf Dokter, saat ini Tuan Xander sedang tidak bisa diganggu. Kalau ada pesan bisa sampaikan kepada Saya dan akan Saya sampaikan."
"Baiklah. Sampaikan salamku terima kasih sudah menjamuku di Mansionnya. Dan pasien akan dirawat oleh Dokter penggantiku yang akan dikirim oleh Rumah Sakit."
"Baik Dokter. Akan Saya sampaikan pesan Dokter kepada Tuan Xander."
Tangan Kanan Tuan Xander mengantar Dokter Clarisa kembali ke Rumah Sakit.
Namun diperjalanan Dokter Clarisa meminta diantar ke Apartementnya saja.
"Terima kasih." sesaat Dokter Clarisa turun.
"Sama-sama Dokter. Kalau begitu Kami permisi."
Setelah menurunkan bawaan Dokter Clarisa tangan kanan Tuan Xander pamit undur diri.
Rupanya tanpa sepengetahuan Dokter Clarisa di mobil berbeda, Tuan Xander mengikuti.
Melihat Dokter Clarisa meraih tasnya dan segera masuk ke Gedung Apartemennya ada rasa kehilangan.
"Kamu tak berubah, selalu baik dan ramah kepada siapapun." helaan nafas Tuan Xander sebelum ia meminta sang driver kembali jalan meninggalkan area gedung apartemen Clarisa.
Dokter Clarisa membuka unit Apartementnya.
Sengaja kembali ke Apartemen ingin sejenak rehat sebelum kembali ke Rumah Sakit dan berjibaku dengan kesibukannya.
Ponsel Clarisa berbunyi, ada notifikasi pesan masuk.
Rupanya Dokter Chris yang mengirim pesan.
Clsrisa membalas chat Dokter Chris, mereka sejenak berbalas pesan hingga diakhiri emoticon love yang dikiri. Dokter Chris pada Clarisa.
Clarisa hanya tersenyum, tak ada perasaan lebih pada rekan sejawatnya yang sudah dianggap sahabat tak lebih.
Bsru saja akan meletakkan ponsel rupanya sang Cinta pertama menelpon siapa lagi kalau bukan Daddy tercintanya.
"Assalamualaikum Dad."
"Waalaikumsalam Sayang. Sedang apa? Apa Kakak tidak merindukan Daddy?"
Seperti biasa, Daddy Nick selalu mendrama bila berkaitan dengan putri sulungnya.
"Ya Allah Dad, tentu Caca rindu sekali dengan Daddy, terutama rindu bawelnya Daddy!" Caca terkekeh setelah mengatakannya.
"Dasar nakal! Kak, kapan mau kembali kerumah. Oma sudah sering sakut dan sering menanyakan Kakak. Bunda dan Adik-Adik juga sudah rindu dengan Kakak. Kali ini bisakah Kakak pulang dan tinggal bersama Kami?" kali ini suara Daddy Nick melemah seakan rindu yang sudah menggunung mengharap kepulangan putrinya.
"Kakak sudah mengajukan ke Rumah Sakit untuk resign, tunggulah Dad. Sabar!"
"Daddy tidak sabar Sayang, Daddy, Bunda, Oma dan Adik-Adik sudah rindu sama Kakak. Apa perlu Daddy yang bicara pada Direktur Rumah Sakit? Daddy ini masih sangat berkuasa loh!" Daddy Nick begitulah.
"Dad, kalau Daddy melakukannya Kakak malah ga mau pulang. Janji ya kalau nanti Kakak pulang Daddy jangan ikut campur, biar Kakak seperti sekarang saja. Daddy percayakan pada putri cantik Daddy?"
"Ya Sayang. Kamu memang seperti Bunda. Kalian selalu bisa saja menahan Daddy."
"Itulah rezeki Daddy memiliki wanita-wanita tangguh di hidup Daddy." Caca tertawa dengan curhat colongan sang Ayah.
"Dad, nanti Kakak hubungi lagi ya. Kakak mau siap-siap ke Rumah Sakit. Salam untuk Oma, Bunda dan Nabil dan Nadhif."
"Insha Allah Daddy akan sampaikan. Ah Adik-Adikmu itu semakin besar semakin buat Daddu dan Bunda pusing. Apalagi Nadhif banyak saja tingkahnya!"
Caca tertawa mendengar curahan hati sang Daddy dan setelah keduanya benar-benar menutup telpon.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
Afternoon Honey
wah ada rahasia antara Xander dan Clarissa... jadi penasaran
2023-06-26
1
Yani
Caca ada negara mana 🤔
2023-06-13
3
manda_
lanjut thor semangat buat up lagi ya ditunggu thor kok gak ada notivikasih sih kl udah up ya
2023-06-11
3