Silahturahmi

"Selamat Pagi Dok!"

Sapa beberapa perawat yang melintasi Clarisa dan dibalas senyuman serta sapaan oleh sang Dokter.

Seperti biasa Dokter Clarisa menjalani aktivitasnya di Rumah Sakit.

Dari mulai tugasnya sebagai Dokter maupun Wakil Direktur diselesaikan dengan lancar.

"Permisi Dok, ini ada dokumen dan beberapa laporan yang harus Dokter tanda tangani." seorang pegawai Administrasi membawa tumpukan ordner ke hadapan Dokter Clarisa.

"Letakkan saja di meja, nanti Saya akan periksa dan tanda tangani."

"Baik Dok terima kasih. Permisi."

Selesai praktek di poli selesai dan ada 1 tindakan operasi Dokter Clarisa melanjutkan pekerjaan yang lain sebagai Wakil Direktur.

Terdengar suara ponsel berdering.

Rupanya Bunda Khalisa yang memanggil.

"Assalamualaikum Bunda."

"Waalaikumsalam Kakak. Sedang sibuk Kak?"

"Tidak Bunda. Ada apa Bun?"

"Kakak hari ini pulang jam berapa?"

Clarisa melirik jam tangan "Insha Allah sekarang bisa pulang lebih awal. Memang kenapa Bun?"

"Kak, nanti malam ada yang mau berkunjung. Kalau bisa Kakak pulang ya."

"Siapa Bun?"

"Temannya Daddy dan Bunda."

"Ok. Insha Allah Kakak akan segera pulang."

"Kalau begitu Bunda mau lanjut temani Daddy ya. Kakak jangan lupa ya nanti pulang lebih awal."

"Iya Bun."

"Ya sudah kalau begitu, Bunda tutup telponnya ya. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Barusa saja mengakhiri telpon, nyatanya ponsel Clarisa kembali berdering, kali ini dari Chate.

"Halo Bu Dokter. Lagi sibukkah?"

"Hai Chate. Ga kok. Btw, ada apa nih?"

"Kamu belum baca group ya?"

"Ah, iya, belum lihat. Ada apa tuh?"

"Minggu ini Kita kumpul sama teman-teman. Kamu bisa datang?"

"Insha Allah bisa." Caca setelah mempertimbangkan.

"Nah gitu dong! Tuh ada yang udah kepo sama Kamu Ca di group. Dibalas dong!"

"Siapa?"

"Arsen!"

"Oh!"

"Kok Oh sih! Ya sudah, nanti lanjut lagi ya. Bye Bu Dokter!"

"Bye Chate."

Kali ini selesai sudah sesi Caca nerinyeraksi di telpon dan kembali melanjutkan pekerjaannya.

Sementara di sebuah Mall tampak seorang paruh baya di temani oleh pria tampan yang sejak tadi menjadi incaran para SPG yang melayani sang Oma saat berbelanja.

"Oma, kenapa mesti Arsen sih yang nemenin Oma belanja. Kan biasanya juga Oma ditemani Asisten Oma!" Arsen menggerutu kesal.

"Kamu itu kan tahu, siapa lagi yang bisa menemani Oma selain Kamu. Ngarepin Mami Kamu sama aja mengharapkan hujan dilangit! Papi dan Mami Kamu tuh selalu sibuk kerja! Mana ada waktu buat Oma!"

"Ya tapi Aku juga sibuk Oma!"

"Ga ada tapi-tapian!"

"Oma Aku ke toilet sebentar ya."

"Iya. Jangan lama-lama. Awas Kamu kabur!"

"Ya Ampun Oma. Masa kabur. Ya enggak lah."

Sepeninggal Arsen sang Oma masih asik berbelanja sedangkan Arsen yang sudah tak tahan ingin pipis segera menuju toilet dengan terburu-buru hingga menabrak seseorang.

Arsen yang sudah kadung kebelet tak memperhatikan langkah dan segera masuk toilet tanpa menyadari ponsel orang yang ditabraknya terlempar.

Melihat sang Boss mengalami kejadian tak terduga hampir saja para bodyguard hampir bertindak namun segera dicegah sang Tuan.

"Tak usah diperdulikan."

"Tapi Tuan-"

Sambil memberikan kode dan para bodyguard memberikan anggukan kepala sebagai tanda mengerti.

Suasana berbeda di daerah pemilihan dimana Daddy Nick didampingi Bunda Khalisa beserta sang wakil sedang melakukan kampanye.

Masyarakat begitu antusias bersalaman dengan sang calon Gubernur.

Tak sedikit pendukung terutama kaum Ibu-Ibu yang begitu menatap memuja pada sang calon Gubernur.

Meski usia Daddy Nick tak lagi muda namun soal pesona jangan diragukan lagi, tetap saja ibarat kelapa semakin tua semakin banyak sari patinya.

"Pak Cagub ganteng banget ya! Ya Allah seneng banget lihatnya!"

Begitulah komentar para Ibu-Ibu di dapil Daddy Nick saat sang Calon Gubernur berkeliling menyapa masyarakat.

"Sayang, kenapa kok wajahnya beye begitu?"

Nick tak sedikitpun melepaskan tangan sang istri selama ia berkampanye.

"Mas seneng ya, banyak pengagumnya."

"Kamu cemburu? Sayang, hatiku sejak dulu, kini hingga nanti hanya untuk Khalisa Humaira seorang."

"Dasar politisi Gombal!" jawab Khalisa.

Nick tersenyum bahagia melihat sang istri sedang mode cemburu tapi membuat ia semakin gemas saja.

"Sayang, Mas jadi kepingin cepat pulang."

"Loh, bukannya masih ada 1 tempat lagi ya?"

"Habis melihat Kamu merajuk begini, Mas jadi pingin bulan madu lagi!"

"Dasar. Udah tua Mas malu sama umur!"

"Usiaku boleh tua, tapi urusan itu Kamu kan sudah membuktikannya sendiri." Daddy Nick berbisik di telinga sang istri sambil menaukkan alisnya.

"Dasar!" Bunda Khalisa mencubit pelan pinggang sang suami.

"Duh, Pak Cagub mesra banget ya sama istri, jadi bikin iri saja!"

Begitulah komentar para Ibu-Ibu saat melihat keromantisan sang calon pemimpin mereka.

Di Masion Tuan Alex, Kedua pasangan paruh baya sedang bersiap untuk mengunjungi dan bersilahturahmi tampak mencoba menghubungi sang putra yang sejak tadi masih tak terangkat.

"Martin ini kemana sih Dad!" Mommy Hania bolak balik menghubungi putranya namun belum ada jawaban.

"Mungkin masih ada urusan kantor."

"Tapi Mommy sudah bilang dan pesan wakti-wanti agar ikut silahturahmi ke Mansion Tuan Nick."

"Ya sudahlah Mom. Biarkan saja. Kali ini Kita saja dulu berdua. Lain kali masih ada Waktu."

"Heran deh Mom, punya anak satu sudah banget. Nanti Mom iket saja!"

"Memang Martin anak kecil. Dia sudah dewasa Mom. Biarkanlah Martin mengurus urusannya."

"Tapi bagi Mom, Martin masih putra Mom yang perlu dibawelin Dad! Apalagi soal jodoh! Huh, rasanya Mom kepingin sekali lihat Martin segera menikah!"

"Jangan terlalu dipaksakan. Anak laki-laki berbeda Mom! Apalagi sekarang Martin sudah dewasa. Ia berhak menentukan masa depannya sendiri termasuk pendamping hidupnya kelak."

"Tapi sampai kapan Dad? Memang pernah Martin mengenalkan perempuan sebagai pacarnya? Apalagi calon mantu, huh rasanya Mom sudah ga sabar ingin menjodohkan saja!"

"Memang mau dijodohkan dengan siapa?"

"Gimana kalau Kita tanyakan pada Tuan Nick Dad, bukankah Caca itu teman sekelas Martin dulu. Siapa tahu mereka cocok!"

"Mom ini. Kita kesana mau silahturahmi. Sudah lama Kita tidak bersua dengan mereka."

"Ya, berharapkan kan boleh Dad. Siapa tahu ucapan Mom menjadi doa."

"Dad bantu aamiinkan saja. Mana yang terbaik untuk Martin Dad akan ikut memberikan restu."

"Ayo Mom. Kita sudah janji, jangan sampai terlambat tak enak dengan Tuan Nick."

"Ayo Dad!"

Dokter Clarisa menyelesaikan pekerjaannya dan ia ingat pesan sang Bunda diminta pulang cepat.

Melihat notifikasi ponselnya Caca segera membuka pesan.

"Hai Ca, apa kabar? Kamu sibukkah?"

"Aku rindu sekali sama Kamu. Kamu rindu Aku ga?"

"Oh ya. Bagaimana disana? Kamu betah di Rumah Sakit yang sekarang?"

Deretan pesan dari Chris yang baru sempat terbaca oleh Caca.

Caca pun meluangkan waktu sejenak membalasa deratan pesan dari sahabatnya itu.

Terpopuler

Comments

Yani

Yani

Siapa ya yang bertabrakan dengan Arsen?
Apakah Martin

2023-06-21

2

manda_

manda_

lanjut thor semangat buat up lagi ya ditunggu thor saingan martin banyak tuh

2023-06-21

2

Reny Saputro

Reny Saputro

semamgat

2023-06-21

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!