Berakhir pekan bersama keluarga tercinta begitupun dengan Keluarga Nick.
Kedatangan Ustadz Salman dan keluarga menambah suasana menjadi lebih ramai.
"Jadi Kakak sekarang akan stay di Indonesia kan?" Dira duduk didamping keponakan tercintanya, Caca.
"Iya Tante. Tan, Triplet ga ikut?" Caca menanyakan ketiga sepupunya.
"Menyusul. Paling sebentar lagi sampai." jawab Dira.
Sementara para perempuan mengobrol apapun selagi ada waktu bertemu, para pria juga tak mau kalah berbincang apa saja.
"Kamu sudah mantap mencalonkan diri sebagai Gubernur Nick?" Ustadz Salman kini duduk menikmati kopinya bersama sang Adik Ipar.
"Insha Allah Kakak Ipar. Bantu doa dan dukungannya ya."
"Insha Allah, Aku akan selalu mendoakanmu, dan yang terpenting niatkan sebagai ibadah Nick." pesan Ustadz Salman.
"Insha Allah Kak. Jangan bosan dan sungkan ingatkan Aku selalu. Aku butuh support agar langkahku tetap berada dijalan yang benar. Tegur Aku ya bila suati saat Kakak Ipar melihat ada yang salah dalam tindakanku."
"Kamu pasti bisa Nick. Aku yakin, dengan niat baikmu untuk memajukan dan mengembangkan daerah Kota, Insha Allah, Allah akan menuntun hati dan tindakanmu." Ustadz Salman menepuk bahu sang Adik Ipar.
Rupanya ketiga anak Ustadz Salman datang bersamaan.
Ketiganya bergantian mencium tangan Om dan Tantenya saat berjumpa dan saling tegur sapa dengan Kakak Sepupunya.
"Ustadz Kita sudah sampai!" sapa Nadhif pada Ibrahim.
Ibrahim yang disapa Nadhif mengangguk sambil tersenyum saja.
Kepribadian Ibrahim tak ubahnya sang Abi, Ustadz Salman.
"Bang, kemarin Aku panggil Abang tidak dengar. Mentang-mentang lagi jalan sama model cantik. Pacar baru Bang?" Adam yang memiliki kepribadian serupa Nadhif malah ember menceritakan hal yang Nadhif tahu akan menyita perhatian sang Bunda.
"Wah Bang Nadhif, Playboy Kabel juga!" Naura sang bungsu, putri Ustadz Salman nyeletuk.
"Suits! Kalian ini, bisa tidak sih, ga ngegosip!" Nadhif memberikan kode agar tak membahas lebih lanjut takut Bundanya mendengar.
Dira dan Khalisa sibuk menyiapkan makanan untuk mereka sambil memperhatikan anak-anak mereka dan para suami yang sedang asik mengobrol.
"Mbak, ga nyangka ya. Waktu cepat sekali berlalu. Rasanya baru kemarin Kita melahirkan mereka kini mereka semua sudah dewasa." Dira menatap anak-anak dan keponakannya.
"Ya, Aku saja rasanya baru kemarin melihat mereka bayi tapi seakan waktu berlalu begitu cepat, tak terasa anak-anak Kita sekarang sudah besar-besar dan mereka sudah cocok untuk berumah tangga.
"Ah, ya, mereka akan menikah, akhirnya Kita kembali berdua saja ya Mbak dengan suami." Dira menerawang.
"Sudah kodratnya seperti itu Dir. Dulu Kita yang seperti itu, kini giliran anak-anak Kita yang akan memiliki jalan hidup dan keluarganya masing-masing.
"Oh ya Mbak, sudah mulai masa kampanye ya? Aku doakan semoga Adik Ipar lolos dan memenangkan pemilu."
"Doakan yang terbaik ya, Doakan juga agar Mbak bisa mendampingi Daddy Nick untuk terus berada di jalur yang benar dan tidak tergoda dengan hal-hal yang menyimpang."
"Aamiin. Insha Allah, Kakak Ipar orang yang amanah. Semoga apa yang Kakak Ipar perjuangkan menjadi keberkahan bagi semua masyarakat yang akan dipimpinnya."
"Aamiin."
Kedua Mommy-Mommy yang sudah mulai berusia senja namun masih cantik memanggil anak-anak dan suami mereka untuk menikmati santapan yang telah disediakan.
Selesai makan dilanjutkan shalat berjamaah dan sedikit bermuhasabah serta bertukar pikiran menjadi kegiatan rutin yang biasa mereka lakukan bersama.
Spesialnya kali ini anak-anak terkumpul lengkap jika sebelumnya banyak yang tidak bisa ikut karena masih berada diluar negeri.
Tak ada yang paling membahagiakan bagi para orang tua disaat bisa berkumpul dengan anak-anak mereka.
"Ibrahim, acara tausyiah yang Kamu pandu memiliki respon yang baik. Aku berencana untuk menambahkan slot waktu tayangnya menjadi 2 kali seminggu, menurutmu bagaimana?" tanya Nabil pada sepupunya yang juga menjadi Ustadz di acara tausyiah di NBC.
"Alhamdulillah Bang, namun untuk tambahan slot Ibrahim harus menyesuaikan dulu dengan kegiatanku di pesantren dan Kampus."
"Ya Kamu aturlah. Kabari Abang jika sudah mendapat celahnya agar baiknya seperti apa." jawab Nabil.
Kedua pria yang sama dewasa, sama tampan dan tidak pecicilan seperti adik-adik mereka.
Jika dilihat, Nabil dan Ibrahim adalah Nick dan Salman versi muda.
Sedangkan Nadhif dan Adam memiliki karakter yang sama, sedikit nyeleneh, humble dan santai.
Jika ditanya paras wajah keempatnya tak diragukan lagi, keempatnya memiliki wajah yang tampan.
"Bunda, Tante, Kakak lagi buat apa?" kini Naura menghampiri ke dapur melihat ketiganya sedang membuat minuman dan kudapan.
"Cemilan dan minuman. Naura, Kamu lagi sibuk apa sekarang?" tanya Khalisa pada keponakan perempuannya.
"Tuh Tante Khalisa sekarang yang tanya sama Kamu. Umma pusing Naura, kalo Umma yang tanya Kamu kan tak pernah serius." Dira menyela jawaban.
"Umma mah begitu, Naura itu mau santai dulu."
"Naura, Kamu bukannya suka desain pakaian ya, kenapa Kamu ga buka butik saja?" Caca memberi saran.
Naura bukannya menjawab ia melirik memberi kode seakan mengatakan belum ada izin dari sang Umma.
"Kenapa Kamu lirik-lirik Umma?"
"Kalau Kamu memang serius menekuni hal tersebut, diseriusi saja Naura. Kamu kuliah dijurusan itu dan Kamu memang menyukai desain, sekalian saja Kamu tekuni hobi itu siapa tahu jadi passion Kamu kedepannya." Caca memberikan saran.
"Benar kata Kak Caca. Asal Kamu tak bosenan saja! Kamu harus tekun dan serius mengerjakannya. Jangan setengah-setengah." pesan Dira.
"Tapi Abi setuju apa tidak Umma?" tanya Naura.
"Kenapa Abi harus melarang, selama apa yang Kamu buat tidak melanggar aturan agama dan bisa bermanfaat bagi banyak orang, terutama untuk para wanita muslimah."
Kini Ustadz Salman angkat bicara saat mendengat penuturan sang putri.
"Tapi Aku belum pernah membuat desain pakaian muslimah. Bagaimana?" Naura memang mengikuti sang Umma berhijab namun selama ini desain pakaian yang ia buat belum yang memakai hijab, itulah sebabnya ia takut kepada Abinya bila menekuni passionnya itu.
"Ya itu kan bisa Kamu pelajari dan banyak berlatih. Jadikan apa yang Kamu kerjakan menjadi kebaikan dan bermanfaat bagi orang lain. Sehingga tidak hanya ada tanggung jawabnya disana tapi bernilai ibadah juga." pesan sang Abi pada putri tercintanya.
"Iya Abi. Naura akan pikirkan."
"Ayo Kita ngemil dulu." ajak Khalisa kepada semua anggota keluarganya.
Sementara di sebuah Mansion, Tampak keluarga yang sedang duduk berbincang sekedar mengobrol.
"Mommy serius mau kembali terjun di butik? Daddy takut Mommy lelah. Lagi pula selama ini kan sudah ada orang yang menghandlenya. Mommy tinggal terima laporan."
"Setelah kembali ke Indonesia rasanya lebih sehat. Mommy malah bosan Dad kalau hanya di Mansion saja."
"Ya sudah tapi kalau sampai Mommy kelelahan Daddy tak mau ya. Pokoknya kesehatan Mommy yang paling penting."
"Iya Daddy. Makanya Martin, Kamu cepat kasih Mommy Mantu. Biar Mommy punya teman agar tidak bosan."
"Mommy kenapa tidak hubungi teman-teman Mommy di sini? Rasanya itu lebih mudah dibanding meminta putra Kita cari istri." canda Daddy Alex sambil menyindir sang putra.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
Yani
Senangnya akhirnya tau juga kabar keluarga ustad Salman
2023-06-21
2
Rukmawati Milzon
lanjut thor
2023-06-20
1
Zain All Insany
lanjut kak..💪💪
2023-06-20
1