Strategi

"Tuan silahkan."

Tuan Alex memasuki sebuah rawat di rumah sakit dimana sang putra baru saja ditangani.

Martin hendak bangun namun sang Daddy memintanya agar beristirahat saja.

"Mommy?" Martin seketika teringat sang Ibu mengkhawatirkan wanita yang menjadi surganya.

"Tenang. Mommy ada di rumah sedang istirahat."

Anggukan Martin seiring deru nafasnya menghembus lega mengetahui Mommynya tak mengetahui apa yang saat ini terjadi.

Sambil menghembuskan nafas, Daddy Alex menatap lekat pada sang putra.

Martin tahu dan bisa membaca kekhawatiran sang Ayah.

"Dad, maaf mereka berhasil lepas. Tapi Aku pastikan akan segera menemukan mereka dan menghabisinya!"

Helaan nafas Tuan Alex menyiratkan banyak hal.

"Sudah tahu Dokter yang menolongmu?"

"Ya Dad."

Saling menukar pandang dan memahami satu nama yang dimaksud.

Sebaiknya Kamu pikirkan perkataan Daddy waktu itu.

Jika sekarang saja mereka berani menyerangmu secara terbuka, tak menutup kemungkinan mereka juga akan menyerang keluarga Tuan Nick.

"Tapi Dad-"

"Bukan sesuatu yang buruk Nak, pikirkan. Segera ambil keputusan. Sekarang istirahatlah. Daddy harus segera kembali. Mommymu bisa curiga nanti."

Sementara Clarisa baru saja masuk ke halaman rumah.

"Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Mengambil tangan kedua orang tuanya bergantian ia mencium tangan Daddy dan Bundanya.

"Daddy dan Bunda belum tidur?"

"Belum Sayang. Daddy mana bisa tidur, putri Daddy belum pulang."

"Caca tadi ada operasi dadakan Dad. Ada pasien yang butuh tindakan darurat."

"Kakak sudah makan? Bunda siapkan ya?"

"Besok saja Bun, Kakak lelah sekali ingin segera istirahat saja."

"Ya sudah kalau begitu. Istirahatlah. Jangan lupa perhatikan dirinya Sayang. Jangan sampai Bu Dokternya malah sakit." Daddy Nick mengusap kepala sang putri.

"Kak, Bunda dan Daddy istirahat dulu ya."

"Iya Bun. Selamat istirahat Dad, Bun."

Sepeninggal kedua orang tuanya, Caca juga segera masuk kamarnya.

Tubuhnya letih dan keinginannya segera mandi dan tidur.

Pagi menjelang, ayam berkokok dan suara azan terdengar di seluruh penjuru.

Daddy Nick seperti biasa menunaikan 2 rakaatnya di Masjid bersama kedua putranya sedangkan Bunda Khalisa dan Caca memilih shalat masing-masing di kamar mereka.

Sebelum memulai hari, Keluarga Nick menyempatkan sarapan bersama dengan seluruh anggota keluarga.

"Semalam Kakak dapat salam dari Tante Hania." Bunda Khalisa saat sedang mengambilkan sang suami makanan ke piring.

"Cie Kakak, sepertinya aroma-aroma perjodohan nih!" bukan Nadhif namanya kalau tak ada celetukan konyol.

"Heran tuh mulut ada aja yang diomong!" Caca membulatkan matanya pada sang adik bungsu.

"Kak, semalam Tante Hania ingin sekali ngobrol sama Kakak, mau konsul soal kesehatannya." Bunda Khalisa menceritakan apa yang disampaikan oleh Mommy Hania kepada Caca.

"Dad, sepertinya perusahaan Om Alex mengajukan proposal. Tapi disana tertera nama Martin Alexander. Apakah itu putra Om Alex?"

"Iya. Martin putranya Om alex. Silahkan saja. Sekarang Kamu sudah Dad percayakan soal perusahaan. Kamu pasti tahu mana yang terbaik bagi perusahaan." jawab diplomatis Daddy Nick.

"Nadhif, bagaimana hotel dan resort?" kali ini Daddy Nick meminta laporan kepada si bungsu.

"Lancar Dad." jawab santai Nadhif.

"Kayaknya Kamu happy sekali Dek. Pasti ada apa-apanya ya?" kali ini Caca mencurigai sang adik.

"Aku kan memang selalu happy Kak! Memang Abang, mukanya kayak kanebo kering begitu!" Nadhif dengan enteng mengatai Abangnya.

"Masha Allah, anak sholeh Bunda, yang satu diemnya kebangetan yang satu cunihinnya kebangetan!" Bunda Khalisa hanya bisa geleng kepala.

"Aku tuh bukan cunihin Bun, tapi ramah, tidak sombong dan rajin menabung." Nadhif membanggakan diri.

Lirikan Nabil pada sang adik dan hanya bisa menarik nafas cukup terlihat ia sebal dengan kenarsisan si bungsu di keluarganya.

"Ya,Ya,Ya suka-suka kamu saja Dek! Dad, Bun, Kakak berangkat duluan ya. Assalamualaikum."

Caca berpamitan sambil mencium tangan kedua orang tuanya.

"Abang juga Dad, Bun. Assalamualaikum."

Nabil melakukan hal yang sama, berpamitan mencium tangan ayah dan ibunya sebelum pamit.

"Waalaikumsalam." Daddy Nick dan Bunda Khalisa kompak menjawab salam kedua putra putrinya.

Melihat keduanya sudah berangkat, Daddy Nick menatap si bungsu yang masih asik duduk bersama mereka.

"Kamu ga berangkat Dhif?".

"Aku agak siangan Dad. Dad hari ini ada jadwal kampanye lagi?"

"Iya. Ada beberapa titik yang Dad harus datangi."

"Dhif, dengerkan Bunda Nak." Binda Khalisa kini menatap anak bungsunya meski sudah dewasa terkadang tingkah Nadhif sering membuat sang Ibu sport jantung.

"Ada apa Bun?"

"Daddy sekarang sudah masuk dan bergelut di dunia yang banyak sekali menjadi sorotan banyak orang. Bunda harap Kamu bisa menjaga diri dan membawa dirimu lebih baik Nak. Terkadang Kita berlaku baik dan benar saja ada saja fitnah yang bisa membuat reputasi keluarga menjadi buruk. Bunda yakin outra Binda anak sholeh, anak yang baik, anak yang tahu batasan namun Kita jarus menjaga diri jangan sampai ada fitnah dari luar ketika melihat celah dan kesempatan." Bunda Khalisa memberikan wejangan.

"Iya Bun. Aku sadar dan selalu ingat wejangan Bunda. Dad juga tak perlu khawatir, insha Allah Aku akan selalu menjaga nama baik keluarga."

Daddy Nick dan Bunda Khalisa tak pernah membedakan antara anak yang satu dengan yang lain.

Semua diperlakukan sama. Jika ada yang perlu dinasehati keduanya akan memberikan wejangan dengan bijaksana tanpa menyudutkan.

"Dad, kemarin ada proposal masuk dari sebuah company yang mengajak hotel kita untuk menjadi tempat perjamuan bisnis relasi mereka. Namun Nadhif sedikut kurang sreg."

"Memang ada apa?" Daddy Nick menyeka sudut bibirnya selesai menghabiskan suapan terakhir sarapannya.

"Mereka memberikan penawaran besar meski tahu di tanggal yang mereka sedang fully book. Seakan tiada hotel lain saja."

"Coba Kamu cek, telusuri dengan benar. Dad hanya tidak mau kalau berkaitan dengan pencalonan Dad. Banyak sekali belakang yang dengan halus memberikan penawaran ini dan itu namun ujung-ujungnya ada maksud dengan pencalonan Dad."

"Wah benar juga Dad. Baiklah, Nanti Nadhif akan croscek lagi."

"Ya, Dad percaya sama Kamu Nak. Kamu bisa menyelesaikannya."

Di Mansion Tuan Alex, tampak Mommy Hania mendatangi kamar sang putra yang nyatanya kosong.

"Dad, apa Martin sudah berangkat?" Mommy Hania menanyakan pada suaminya dimana keberadaan putranya.

"Martin semalam mengabarkan, ia ada urusan di luar negeri. Martin kasihan kalau hafus membangunkan Mom." Daddy Alex memberikan alibi.

Dengan wajah cemberut Mommy Hania duduk bergabung di meja makan.

"Mom, hari ini temani Daddy ya?"

"Mau kemana Dad?"

"Dad, ingin pacaran sana Mommy!" Tuan Alex mengedipkan sebelah matanya.

"Inget umur Dad! Malu tahu!" meski wajahnya cemberur namun rona pipi Mommy Hania tetap saja tak bisa disembunyikan.

"Ini yang buat Daddy selalu jatuh cinta sama Mommy setiap hari." Daddy Alex mengecup kening sang istri dengan mesra.

"Ih Daddy! Malu, tuh si bibi cekikikan lihat Kita!"

"Gapapa Mom! Namanya juga lagi kasmaran!"

"Hahahaha,,, sudah pantas jadi Opa masih ngomong kasmaran!"

"Ya anggap saja Opa Gaul Mom!"

Terpopuler

Comments

manda_

manda_

lanjut thor semangat buat up lagi ya ditunggu thor semoga bahagia selalu ya buat semuanya

2023-06-23

3

Yani

Yani

Ya jangan " Bryan yang mau ngajak kerjasama dengan Nadhif

2023-06-23

2

Reny Saputro

Reny Saputro

semangat

2023-06-23

3

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!