Visitasi

"Pagi Dok!" Seorang perawat menyapa Dokter Clarisa yang melintasi koridor Rumah Sakit.

"Pagi." Jawab Dokter Clarisa dengan senyum mengembang.

Sesampai diruangan tentu saja beberapa dokumen siap untuk ditandatangani olehnya namun tak lama perawat masuk.

"Dok, jadwal visit pasien di ruang VVIP." perawat pendamping mengingatkan.

"Ayo."

Dokter Clarisa kini sedang memvisit pasien yang semalam baru saja operasi dan ia meminta untuk tetap dirawat di Rumah Sakit.

"Baik Dok." hanya itu saja jawab sang pasien.

Dokter Clarisa tampak tidak tenang saat memeriksa pasiennya, dikarenakan kabar yang ia lihat di televisi mengenai sang Ayah saat sedang mengunjungi dapil.

Sepeninggal Dokter Clarisa, sang pasien masih terus menatap langkah sang Dokter hingga benar-benar tak lagi terlihat.

"Tuan, Tuan besar telpon."

Di daerah pemilihan sedang dilaksanakan kampanye Daddy Nick dengan pasangan Kampanyenya berlangsung meriah.

Masyarakat yang penasaran ingin melihat langsung datang berbondong-bondong sang calon gubernur yang biasa hanya bisa mereka lihat di televisi dan media sosial.

Banyak para kaum hawa yang meminta berfoto bersama Daddy Nick meski tentu saja sejumlah pengawalan ketat mengiringi langkah sang calon gubernur.

Namun di saat bersamaan, nyatanya ada oknum yang membuat kegaduhan.

Lantas saja para pengawal yang ada disana langsung sigap mengamankan sang cagud dan cawagub beserta pasangan keduanya ke dalam mobil.

Sementara Masyarakat yang hadir pun menjadi panik dan tak tahu mengapa bisa ada penyusup yang membuat onar.

Beruntung pasangan cagub dan cawagub berhasil diamankan dan tak ada satupun masyarakat yang menjadi korban.

"Kami sudah mengamankan oknum Pak. Selanjutnya akan diuris oleh pihak yang berwajib." salah satu pengawal mengabarkan.

"Terima kasih. Pastikan Masyarakat tetap aman. Mereka jangan sampai jadi korban."

"Kamu gapapa Sayang?"

Dalam mobil yang membawa mereka Daddy Nick menanyakan kondisi Bunda Khalisa yang sempat shock atas kejadian tak terduga.

"Aku gapapa Mas. Mas sendiri apakah ada yang terluka?"

Bunda Khalisa masih ingat betul saat dimana oknum tersebut mengeluarkan senjata tajam sebelum berhasil diringkus oleh para pengawal.

"Alhamdulillah Mas gapapa. Sudah, Kamu yang tenang ya. Aku akan pastikan apa motif oknum tersebut."

Daddy Nick membawa Bunda Khalisa dalam dekapannya menenangkan sang istri yang masih terlihat shock dan lemas.

Tentu saja kabar tersebut sampai dengan cepat dan terdengar oleh Tuan Alex.

"Ini tidak bisa dibiarkan. Kemarin Martin. Sekarang Nick. Sepertinya harus segera dibereskan!"

Tuan Alex menghubungi seseorang dan tampak berbicara dengan wajah yang tegang.

Kediaman Daddy Nick.

Mendengar bahkan melihat sendiri sang Ayah menjadi sasaran tindak kejahatan dari oknum yang belum diketahui asal dan motifnya membuat ketiga anak-anak Daddy Nick langsung pulang mengkhawatirkan kondisi sang Ayah.

"Dad!" Caca yang saat masuk Mansion melihat Sang Ayah duduk ditemani Bunda Khalisa segera memeluk erat penuh rasa khawatir.

Bersamaan pula kedua putranya yang menghampiri saat baru sampai terlihat jelas wajah kecemasan terhadap kondisi sang Ayah dan meminta penjelasan.

"Daddy tidak apa-apa. Kalian jangan khawatir." Daddy Nick menentramkan ketiga anak-anaknya.

"Dad, ini tidak bisa dibiarkan. Harus diusut dan dicari tahu apa motif pelaku tersebut." wajah serius Nabil penuh kecemasan.

"Betul Dad. Tindakannya sangat berbahaya dan sengaja. Bisa membahayakan." dukung Nadhif.

"Dad, benar tidak terluka?" Caca begitu khawatir sambil menelisik tubuh sang Ayah.

"Dad tidak terluka. Kalian pasti terkejut. Insha Allah Dad baik-baik saja."

Bunda Khalisa tahu, ucapan menenangkan sang Suami dalam upaya meredam ketiga anak-anaknya yang terliihat tegang.

"Dad akan lebih berhati-hati dan akan meminta pengawalan ekstra ke depannya saat menggunjungi dapil."

Hari berganti dan Daddy Nick sudah mendapat laporan mengenai oknum yang mencoba melakukan tindakan penyerangan terhadap dirinya.

"Bagaimana Mas?" Bunda Khalisa dengan mata penuh tanya tak sabar mendengar penjelasan suaminya terkait pengakuan pelaku.

"Polisi mengatakan pelaku tidak memiliki kesehatan mental yang baik."

Tampak raut wajah kecewa dari mimik Bunda Khalisa seolah ia tak percaya namun ia masih menunggu penjelasan sang suami.

"Sayang, sudah jangan terlalu khawatir. Mas akan urus semuanya. Jangan cemas ya. Kalau Kamu cemas seperti ini Mas malah tidak tenang."

Melihat raut wajah sang Istri menegang dengan kekhawatiran aaat ini Daddy Nick coba menenangkan.

"Bohong kalau Aku tidak takut Mas. Saat kejadian, Aku melihat sendiri pelaku menghunus pisau itu hendak melukai Mas. Alhamdulilkah para pengawal berhasil mencegah dan tak ada korban jiwa. Tapi kekhawatiranku tak bisa berhenti. Aku takut ke depannya akan kembali terulang hal-hal seperti ini."

Perasaan istri dimanapun sama, sekuat apapun, setegar apapun bila sang belahan jiwa terancam keselamatannya tentu akan membuat ketakutan dan cemas berlebih.

"Sayang, terima kasih Kamu sudah mengkhawatirkan Mas. Tapi jangan terlalu dibawa pikiran. Kamu tahu apa yang Mas lakukan semua berniat baik. Insha Allah, kedepannya Kita akan lebih waspada dan pengawalan akan Mas mibta ditingkatkan. Mas butuh dukunganmu. Kalau Kamu resah dan gelisah bagaimana Aku bosa tenang?"

Daddy Nick memahami betul rasa panik dan ketakutan sang istri.

"Tapi, siapa kira-kira yang memiliki niat tidak baik pada Mas. Apa ada saingan bisnis Mas? Atau Mas punya musuh yang tidak peenah Aku tahu?"

"Sayang, jangan berburuk sangka. Kamu selalu mengingatkan Mas agar tetap berprasangka baik."

"Astahfirullah. Maafkan Aku Mas. Maafkan Aku ya Allah. Aku hanya manusia biasa yang akan merasakan takut juga bila suamiku terancam bahaya seperti kemarin. Mengingatnya saja Aku lemas Mas." Bunda Khalisa menutup wajahnya seolah enggan mengingat saat kemarin waktu di TKP.

"Iya, Mas bisa mengerti apa yang Kamu rasakan. Tapi sudah ya, Mas ga mau Kamu terus kepikiran. Nanti sakit. Kalau Kamu sakit Mas sedih."

"Mas ini, Aku sedang cemas begini, sempat-sempatnya gombal dan nakal!"

"Memang kenapa? Sama istri sendiri, boleh dong!"

Disaat keduanya sedang mesra-mesraan, Caca yang mengetuk kamar kedua orang tuanya diizinkan masuk oleh keduanya.

"Maaf Dad, Bun. Makan malam sudah siap. Ayo Kita makan dulu." Caca salting sendiri melihat kedua Daddy dan Bundanya masih romantis saja meski usia keduanya sudah senja.

"Tuh Dad, malu!"

"Gapapa Sayang, Biar putri Kita cepat ingin menikah!"

Kedua pasangan paruh baya yang masih mesra diusia pernikahan mereka meski sudah lama kini bergabung di meja makan dimana kedua putra kembarnya sudah menunggu.

"Duh, Bunda sama Daddy bikin jiwa jomblo meronta! Iya kan Bang?" Nadhif selalu saja ada komentar.

Sedangkan Nabil, sang Kakak yang di sapa tak berniat menanggapi celotahan adiknya.

"Iya dong! Daddy kan sama Bunda memang selalu mesra! Iya kan Bun?"

"Sudah makan yuk." Bunda Khalisa dengan semu merah malu karena ketiga anaknya menatap kedua orang tuanya sambil senyum-senyum.

Terpopuler

Comments

Yani

Yani

Bohong pasti orang suruhan si Brian

2023-06-27

1

Reny Saputro

Reny Saputro

semangat

2023-06-24

3

manda_

manda_

lanjut thor semangat buat up lagi ya ditunggu thor keluarga yang romantis bahagia selalu ya

2023-06-24

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!