Clarisa sudah selesai packing barang-barang yang akan ia bawa pulang ke Indonesia.
Tak banyak, hanya yang penting-penting saja.
Sisanya dibiarkan tetap di apartemen karena sesekali ia akan tetap kesini karena masih berkaitan dengan Rumah Sakit di pusat.
Menuju Rumah Sakit sekaligus berpamitan dengan rekan-rekannya sebagai salam perpisahan meski sesekali ia akan tetap berjumpa namun tetap saja ada rasa sedih yang namanya saat meninggalkan.
"Semoga lancar dan tetap semangat ya Dokter Clarisa. Kami percaya Rumah Sakit Cabang akan maju dan berkembang dan Dokter Clarisa akan tetap sukses dimanapun." Direktur Rumah Sakit saat menjabat tangan Clarisa yang saat ini sedang berpamitan.
"Dok, Saya akan kangen sama Dokter. Ya, tapi Dokter jangan lupa sama Kami ya." para perawat sedih karena kehadiran Clarisa membawa keceriaan dan senang bekerja sama dengan sosok humble seperti Dokter Clarisa.
Rekan-rekan sejawat tak lupa satu per satu memberikan salam perpisahan saling berjabat tangan dan turut mendoakan yang terbaik.
Tentu saja sebagai salah satu Doktrr terbaik pihak Rumah Sakit membuat acara kecil-kecilan untuk melepas kepulangan dan pemindahan tugas Dokter Clarisa.
Rasa haru tak terpungkiri di hati Clarisa.
Sepenuh hati berdedikasi terhadap profesi dengan lingkungan kerja yang sangat nyaman membuat Clarisa berat meninggalkan.
Namun hidup punya skala prioritas.
Bagai gayung bersambut, adanya tawaran dan pengajuan di ACC membuat langkah Clarisa semakin yakin bahwa ini pun ada campur doa dari keluarga yang begitu mengharapkan kepulangannya.
Memang sejak kuliah hingga kini, Clarisa banyak menghabiskan waktu di luar negeri.
Mungkin kini saatnya ia harus kembali dan berkumpul lagi bersama keluarganya.
"Ca, besok penerbanganmu jam berapa?"
"Malam Chris. Kenapa? Mau mengantarku?"
"Tentu. Aku akan mengantarmu."
Clarisa memang memilih menggubakan penerbangan komersil meski sang Daddy memaksa mengirim PJ untuk kepulangan putri kesayangannya tapi Caca yang memang lebih suka berbaur dan ia lebih menikmati perjalanannya seperti kebanyakan orang pada umumnya.
Chris mengajak Caca berjalan santai hingga akhirnya mereka rehat sejenak di sebuah restoran menikmati santap malam bersama.
"Ca, ini."
Sebuah kotak di sodorkan Chris ke hadapan Caca.
"Aku sudah lewat ulang tahunnya. Lagi pula Kamu sudah memberikan Aku kado saat itu."
"Ini anggaplah kenang-kenangan. Agar Kamu selalu ingat Aku."
"Jadi enak Aku. Kamu selalu saja repot-repot. Terima kasih."
Clarisa bukannya pasrah menerima. Toh seperti yang sudah-sudah, Caca sendiri akan kerepotan menolak sementara Chris dengan lihat tapi memaksa memberikan tanpa syarat ada penolakan.
"Semoga Kamu selalu ingat Aku terus. Ya ingatlah Aku sebagai sahabat terbaikmu."
Sejujurnya perih hati Chris dengan kata-kata yang ia ucapkan.
Tak ada realita seindah syair lagu.
Sahabat jadi Cinta.
Mustahil bagi Chris yang telah ditolak.
"Tanpa inipun Kamu akan selalu jadi sahabat terbaikku Chris. Terima kasih ya."
Anggukan Chris dengan senyuman yang ia paksakan meski ada rasa berat melepas orang yang ia cinta kembali pulang ke negara asalnya.
"Makanlah. Nanti pastamu keburu dingin."
"Kamu juga, tadi saat acara di Rumah Sakit Kamu tak makan ku lihat."
Teringat acara di Rumah Sakit, memang Chris adalah orang yang paling sedih rasanya akan kepulangan Caca ke tanah air.
Keesokan harinya, Seperti yang dijanjikan Chris sudah hadir menjemput Caca sekaligus akan mengantarkan ke bandara.
Detik demi detik terasa menyiksa meski ia memilih untuk tetap dekat setidaknya meski tak memiliki namun masih berada dekat dengan Clarisa.
"Sudah semua? Ada yang tertinggal?" tanya Chris saat melihat Caca sedang memastikan apa yang akan dibawa.
"Sudah."
"Yakin?"
Sejenak Caca kembali berpikir.
"Iya kok. Memang apalagi?"
"Hatiku."
Caca tahu Chris memang tak rela melepas kepulangannya meski pria itu berusaha tegar, namun Caca tak mau ia menerima Chris sekedar tak enak hati.
"Jangan bercanda. Aku pergi nanti Kamu juga sudah melupakan Aku."
"Tentu! Aku pasti punya pacar!" tawa Chris menguap di udara.
"Bagus kalau begitu. Ah kalau Kamu punya pacar kenalkan padaku ya!"
"Tentu. Kamu orang pertama yang aka Aku kabari. Kamu juga begitu ya. Janji?"
Chris mengacungkan jari kelingkingnya dihadapan Caca.
"Seperti anak kecil saja."
Caca menautkan jari kelingkingnya juga pada jari kelingking Chris.
"Ah sudah sampai. Kenapa jalan begitu lancar hari ini."
Keduanya sudah tiba dibandara.
"Ya memang disini jalan selalu lancar Chris. Kamu mau lihat jalanan macet? Datanglah kerumahku. Kamu akan bosan menunggu lampu merah yang lamanya bukan main."
"Ada-ada saja Kamu. Mana ada lampu merah selama itu?"
"Makanya sempatkan waktu dan datanglah. Kamu akan mendapati hal-hal unik di negaraku."
"Ah, ini yang tak akan bisa Aku lupakan saat sama Kamu. Bawel dan ceriwisnya Kamu bikin suasana selalu ceria."
Sorot mata kehilangan tampak terlihat jelas dalam netra biru milik Chris.
"Terima kasih ya sudah mengantarku. Kamu sehat-sehat dan makan yang teratur. Pak Dokter tapi suka lupa makan!"
"Kamu juga, selalu ceria dan sering-sering kabari Aku."
Keduanya bersalaman dan akhirnya saat yang Chris tak mau lihat adalah kala lambaian tangan Caca pergi menjauh sementara tak ada kesempatan untuk menahan.
"Bye Chris!"
Chris menjawab sambil melambaikan tangan dengan senyuman yang sebetulnya terasa getir dan pilu dihatinya.
"Bye Sweetheart." lirih nyaris tak terdengar.
"Kali ini Aku melepaskanmu, namun bila suatu saat ada kesempatan untuk Aku bisa kembali bersamamu, Aku tak akan pernah menyiakan saat itu." Chris menatap langkah terakhir Caca saat akan boarding dan tak lagi bisa ia lihat.
Disebuah landasan pesawat, Tuan Xander yang baru saja tiba dengan PJ nya sudah disambut oleh asisten pribadi sang Daddy.
"Tuan Muda. Tuan Besar sudah menunggu di Mansion."
Anggukan pria yang tanpa ekspresi itu memilih jalan menuju mobil yang menjemputnya.
"Sudah lama Aku tidak kembali."
Kilasan demi kilasan terbayang dalam benaknya akan memori puluhan tahun silam.
Menatap jalan dari balik kaca mobil, rupa banyak yang berubah.
Namun satu yang pasti, kabar terakhir yang ia dapat rupanya membaaa kebahagiaan tersendiri dihati yang selama ini sepi.
"Jika ada kesempatan sekali lagi, Aku tak akan menyia-nyiakan. Sudah terlalu lama Aku menunggu. Tapi, Aku tak mau melibatkanmu dalam persoalan pelik ini."
Helaan nafas itu seiring dengan usapan diwajah seolah menyiratkan jalan kebahagiaan yang sempat terangkai masih terjal untuk dilalui.
Rupanya dering ponsel mampu menyadarkan sang Tuan Muda dari lamunan.
"Halo."
"Ya Mom. Aku sudah dijalan. Mom sabar saja. Aku akan segera sampai."
"Ok. Bye Mom."
"Sudah lama sekali. Tapi Mom sepertinya selalu berenergi untuk mengomel!"
Senyuman yang nyaris tak terlihat itu terukir tipis di bibir sang Tuan Muda setelah mematikan ponselnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
Afternoon Honey
Chris 💔
2023-06-26
1
Yani
Akhir Caca pulang juga
2023-06-21
2
manda_
lanjut thor semangat buat up lagi ya ditunggu thor
2023-06-14
2