Siapa Dia

Dokter Clarisa tampak berjaga dan waspada.

Jujur ia bisa merasakan sesuatu yang tak biasa terhadap orang-orang yang membawanya.

Banyak tanya dalam benak wanita cantik berprofesi Dokter yang banyak sekali di idolai tidak hanya oleh pasien-pasiennya namun rekan sefrofesinya juga tak jarang menaruh rasa suka.

Mobil hitam yang ditumpangi sang Dokter berhenti di sebuah pelataran Mansion yang sangat mewah.

Seorang bodyguard membuka pintu mobil dan mempersilahkan Dokter Clarisa untuk keluar.

"Silahkan Dokter." Seorang pria berjas hitam memakai kacamata lengkap dengan alat pengintai terpasang ditelinganya.

Dokter Clarisa keluar mobil sambil berdoa memantapkan langkah dan meluruskan niatnya bahwa saat ini ia memang ditugaskan untuk merawat pasiennya.

"Selamat datang Dokter. Silahkan Anda beristirahat dulu. Saya akan menunjukkan kamar pribadi Anda." Seorang pria paruh baya bersama 2 orang berseragam Maid mendampinginya.

"Dokter semua keperluan Dokter di kamar sudah Kami siapkan. Jika ada yang diperlukan Dokter bisa memanggil Kami." 2 orang Maid mohon izin sebelum meninggalkan kamar yang akan ditempati oleh Dokter Clarisa.

"Tuan, Dokter yang akan merawat sudah datang. Apakah Tuan mau bertemu?" seorang pria berbadan tegap membungkukkan kepala di hadapan pria yang sedang duduk membelakangi arah pintu masuk.

"Pastikan Dokter itu bisa membuatnya sadar dan mengakui perbuatannya. Jangan biarkan Dokter itu pergi sebelum tugasnya selesai."

Tanpa berbalik hanya suara bariton saja yang terdengar memerintah.

"Baik Tuan."

Sepeninggal para bodyguard, ia melirik pada ponsel yang menerangkan identitas Dokter Clarisa secara terperinci.

"Jadi dia rupanya?"

Sementara di Rumah Sakit, Dokter Chris mencari keberadaan Dokter Clarisa namun tak menemukannya.

"Aku menugaskan Dokter Clarisa menangani pasien di luar Rumah Sakit. Dokter Chris tak perlu ikut campur. Bukankah Dokter bukan siapa-siapanya?"

Tentu saja dalam rasa penasarannya mencari keberadaan sang wanita pujaan tentu informasi yang ia terima menarik atensi Dokter Chris.

"Mengapa harus Dokter Clarisa?" Dokter Cris bertanya menelisik.

"Lakukan saja tugas Anda di Rumah Sakit ini Dokter." Sambil menepuk bahu Dokter Chris sang Wakil Direktur pergi meninggalkannya.

Dokter Chris mencoba menghubungi ponsel Dokter Clarisa dan ia tak menemukan jawaban.

Kembali ke Mansion, Dokter Clarisa selesai membersihkan diri, mencoba berbaur dengan lingkungan baru yang kini menjadi area kerjanya.

Clarisa memandang sekeliling Mansion, meski ia juga bukan berasal dari kalangan biasa namun Clarisa akui Mansion ini begitu besar dan megah.

Namun aneh rasanya Mansion seluas ini mengapa tak ada pemiliknya.

Clarisa bahkan belum diizinkan bertemu dengan sang pemilik dengan alasan sedang sibuk.

"Maaf Dokter perlu sesuatu?" sapa salah seorang Maid yang memang ditugaskan melayani Dokter Clarisa.

"Saya akan memeriksa pasien, dimana ruangannya?"

"Mari Saya antar."

Dokter Clarisa mengikuti dan ia dibawa di sebuah ruangan yang cukup luas dan lokasinya yerpisah dalam Mansion.

Clarisa mengamati ruang yang penuh dan lengkap alat medis.

Selayaknya ruang VVIP Rumah Sakit namun ini berada disebuah Mansion.

Dokter Clarisa mendapati pasien yang memang ia tangani di Rumah Sakit.

Dokter Clarisa memeriksa kondisi pasien.

"Bagaimana Dokter? Apakah pasien akan segera siuman?"

Dokter Clarisa berbalik, nyatanya ia bertemu lagi dengan pria yang membawanya ke Mansion.

"Kondisi pasien masih belum sadar, namun semua organ vital berfungsi dengan baik, seharusnya besok atau lusa pasien bisa siuman."

"Apakah tidak ada cara lain agar pasien segera siuman?"

"Mengapa harus segera? Kondisi medis pasien sudah menunjukkan perubahan yang lebih baik jadi bersabarlah."

"Tunggu!" Dokter Clarisa mencegah saat pria berkas itu hendak pergi.

"Saya ingin bertemu dengan pemilik Mansion. Siapa dia?"

"Maaf Tuan Xander saat ini sedang sibuk. Dokter baru bisa bertemu lain kali."

"Aneh sekali. Sesibuk apa dia?" gumam Dokter Clarisa saat orang yang lebih tepatnya seperti robot itu pergi meninggalkannya.

Sungguh, kalau bukan karena tugasnya dan tanggung jawabnya senagai seorang Dokter, Dokter Clarisa tak nyaman berada ditempat asing yang notabene terkesan misterius ini.

Seperti saat ini, Para Maid menjamu Clarisa di meja makan namun ia hanya seorang diri yang berada dimeja makan dan dipersilahkan untuk makan.

"Kalian tidak ikut makan bersamaku?" Clarisa bertanya pada para Maid yang menemaninya disekitar meja makan.

"Maaf Dokter, Tuan Xander memerintahkan Kami untuk menjamu Dokter." jawab salah satu Maid.

"Makanan ini terlalu banyak untukku sendiri. Lagi pula kenapa Kalian tidak makan saja bersamaku, Aku mana mungkin bisa menghabiskan ini semua. Ayo makanlah bersamaku atau Aku tidak jadi makan."

Dokter Clarisa sengaja menggertak agar ia tidak sepi dan sendirian makan di meja kosong dengan lauk pauk yang lengkap dan terhidang bagai sang raja yang akan bersantap.

"Maaf Dokter tapi,-" Maid tersebut menghentikan kata-katanya setelah seorang bodyguard memberikan kode bahwa ikuti saja perintah sang Dokter.

Dokter Clarisa tersenyum manakala para maid dan bodyguard mau menurutinya dan makan bersama.

Sementara di ruang lain tampak sang pemilik Mansion sedikut menarik sudut bibirnya melihat dari layar cctv akan kejadian Dokter Clarisa dan para pegawainya di ruang makan.

"Kamu memang tidak berubah. Masih saja bawel!"

"Tapi, Bagaimana kalau sampai dia tahu?"

"Tidak!"

"Dia tidak boleh tahu!"

Malam semakin larut, Dokter Clarisa kembali mengecek pasiennya sebelum ia kembali ke ruang istirahat di Mansion.

Clarisa sejak tadi lupa bahwa ponselnya yang sedang di charger kini ia ambil dan memeriksa apakah ada pesan yang masuk.

Banyak pesan dari rekan kerjanya salah satunya dari Dokter Chris.

Clarisa membalas seperlunya kemudian ia juga melihat ada panggilan dari sang Daddy.

Clarisa kembali menghubungi sang Daddy namun tak ada jawaban.

"Mungkin Daddy disana sudah tidur." Clarisa kembali meletakkan ponselnya di nakas.

Meski malam semakin pekat dan jarum jam terus bergerak ke kanan, namun kantuk tak kunjung menghampiri Clarisa.

Clarisa menuju balkon yang terdapat dalam kamar menikmati semilir udara malam, terasa membuai lembut dan memanjakan raga yang lelah.

Tak jauh dari tempat Clarisa berdiri, rupanya sang pemilik Mansion memperhatikan tamu istimewanya sambil menatap lekat pada wanita yang tak pernah ia duga akan ia temui setelah puluhan tahun lamanya.

Entah perasaan apa yang ada namun saat ini satu yang pasti ketakutan dan lebih baik menyembunyikan identitas diri adalah hal yang paling utama.

"Aku pernah berkata padamu agar jangan lupakan Aku, namun mengapa harus disaat seperti ini pertemuan Kita harus terjadi."

"Kamu tumbuh dengan baik dan menjadi seorang wanita cantik dengan prestasimu dan profesi cemerlangmu. Aku bangga akan dirimu.

"Namun Aku rasa belum waktunya Kita bertemu dan saling mengetahui karena bukan disaat seperti ini Aku menginginkan pertemuan Kita setelah sekian lama dan Aku ingin Kamu masih mengingatku seperti apa yang ada dalam memorimu kala itu."

Suara hati yang belum dapat tersampaikan sedikit terobati dengan memandang wajah cantik yang selama ini ia rindukan meski masih harus bersabar untuk sekedar saling menyapa.

Terpopuler

Comments

🌺awan's wife🌺

🌺awan's wife🌺

apakah Martin jadi seorang mafia,,,ato mungkin dia sedang berseteru dg max max saudara tuan Alex,,,,🤔🤔🤔🤔

2023-06-15

2

Leon wijaya

Leon wijaya

lanjut

2023-06-10

2

Sri Noviyanti

Sri Noviyanti

terlalu dikit cerita nya thor nanggung bcany tidak seru

2023-06-10

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!