Sementara di sebuah Mansion, tampak pemuda yang terbaring mulai membuka matanya.
"Tuan, Anda sudah siuman?"
"Berapa lama Aku tertidur?"
"24 jam tuan. Perlu Saya kabari orang tua Anda?"
"Tidak usah. Bagaimana? Apakah sudah Kalian temukan mereka?"
"Saat ini Kami masih melacaknya."
"Cari sampai ketemu. Aku akan buat perhitungan!"
"Baik Tuan. Kami permisi."
Beberapa pria ber jas hitam memberikan hormat sebelum mereka meninggalkan ruangan dimana seorang pemuda terbaring.
Sambil memegang ponsel, ia mendapat informasi mengenai Dokter yang berhasil menyelamatkan nyawanya.
Tampak wajahnya berekspresi sulit untuk diartikan.
Kembali di Rumah sakit.
"Sore Dokter!" sapa beberapa perawat yang melihat kehadiran Dokter Clarisa di koridor IGD.
"Sore." dengan senyuman khasnya Dokter Clarisa dengan ramah menjawab sapaan mereka yang menyapanya.
"Ca!"
Rupanya Dokter Chris memanggilnya dengan sambil berlari menyusul langkah Dokter cantik yang selalu ramah itu.
"Hai!" Caca menjawab sapaan Chris yang kini berjalan sejajar denganya.
"Baru datang?" Chris menatap wanita cantik yang sejak lama mencuri hatinya meski tak ada respon lebih yang Caca berikan dari sekedar rekan kerja.
Anggukan Caca sambil tersenyum menjawab sapaan Chris tentu membuat pria yang memiliki banyak pengagum di Rumah sakit itu merekah tersenyum.
"Terima kasih ya. Kamu selalu saja tahu seleraku. Aku kenyang sekali tadi. Berkatmu Aku jadi makan dengan enak." Caca menghampiri counter perawat melihat beberapa rekam media pasien yang memang ditanganinya sebelum visit.
Chris tampak senang karena Caca seperti biasa menerima perlakuan Chris yang memang sedikit berlebih tepatnya perhatian yang lebih dari sekedar seorang rekan kerja.
"Chris, kenapa Kamu masih disini, jam praktek dan jagamu sudah selesai bukan?" Caca menutup rekam medis terakhir ditangannya.
"Hari ini Aku menggantikan Dokter Anwar yang berhalangan. Jadi hari ini Aku akan jaga bersamamu."
Chris sengaja mengambil kesempatan itu dengan tujuan agar bisa bersama Caca seharian dan ada sesuatu yang akan ia bicarakan kepada sang wanita pujaan.
Caca menganggukan kepala memahami perkataan Chris sebelum ia melaksanakan kewajibannya didampingi perawat.
"Aku akan visit pasien dulu ya. Sampai ketemu nanti."
Caca pergi bersama perawat yang mendampinginya meninggalkan Chris yang masih menatap langkah demi langkah kepergian sang pujaan hati.
"Aku akan utarakan perasaanku kali ini Ca. Aku tak akan menunggu lagi." Chris berucap dalam hati seraya tersenyum merekah.
Sementara Caca melaksanakan tugasnya memvisit pasien-pasiennya satu persatu.
Dokter Clarisa memang dikenal dan menjadi favorit di Rumah Sakit tersebut.
Pasien rawat jalannyapun sangat antri.
Kepiawaaian dan sikap ramahnya menjadi daya tarik bagi para pasien untuk dengan suka rela diperiksa dan mendapat penangan medis dengan Dokter muda namun bertangan dingin ini.
"Dokter, apakah Saya akan baik-baik saja setelah operasi?" seorang pasien yang sedang divisit tampak ragu dan ada rasa takut menjalani operasi yang akan dilakukan.
"Insha Allah. Ini adalah langkah terbaik dalam kasus Ibu. Semoga setelah pembedahan akan lekas sembuh dan tidak lagi merasakan sakit." Dokter Clarisa berusaha menenangkan salah satu pasiennya yang akan menjalani Operasi Usus Buntu.
"Tapi Saya mau Dokter yang melakukan operasinya ya." kembali sang pasien meyakinkah bahwa ia tak mau Dokter lain yang menanganinya.
"Insha Allah. Yang penting Ibu relaks, dan percaya kepada Allah bahwa semua akan berjalan dengan lancar. Dan satu lagi, ikuti saran medis yang Kami berikan ya." pesan Dokter Clarisa.
Pasien tersebut menganggukan kepada sebelum Dokter Clarisa meninggalkan ruang rawatnya.
Tengah malam, IGD Rumah Sakit kedatangan pasien dengan luka diseluruh tubuh dan pasien dalam keadaan tak sadarkan diri.
Dokter Clarisa yang saat itu baru saja selesai memeriksa pasien sehera dihubungi agar segera menuju IGD.
"Dokter, pasien tidak sadarkan diri. Ada luka tempak di dadanya. Saturasi oksigennya rendah dan pasien membutuhkan transfusi darah golongan B." jelas perawat yang menjelaskan.
"Kita akan melakukan tindakan. Hubungi Dokter Chris untuk datang kesini. Hubungi juga Bank darah untuk menyiapkan stok golongan darah B."
Dokter Clarisa bersiap diri untuk melakukan operasi pengeluaran peluru yang kini bersarang di dada sang pasien.
Dengan penuh konsentrasi tinggi, Dokter Clarisa berusaha semaksimal mungkin menyelamatkan pasien dihadapannya yang berada dalam ambang hidup dan mati.
Tak kurang dari 6 jam Dokter Clarisa berusaha sekuat tenaga bersama para medis lain yang turut maksimal memberikan pertolongan terbaik mereka.
Akhirnya masa kritis pasien yang ditangani telah berlalu.
Peluru berhasil dikeluarkan, dan pasien sudah dalam keadaan pasca operasi.
Masa kritis sudah terlewati namun masih harus dirawat dalam ruang ICU untuk melihat perkembangan selanjutnya.
Dokter Clarisa keluar ruanh operasi bersama dengan Dokter Chris.
"Ca, sebaiknya istirahat dulu. Kamu pasti lelah." Chris mengikuti Caca hingga menuju ruangan istirahat para Dokter.
"Kamu juga. Aku mau keruanganku saja."
"Ca, nanti Kita balik bersama ya." Chris menahan langkah Caca yang akan meninggalkan ruangan.
"Aku masih akan memantau kondisi pasien tadi."
Caca menjawab sebelum ia meninggalkan ruangan sambil tersenyum meski tubuhnya lelah.
Disebuah Mansion.
Brakkkkk!!!
"Bawa dia kesini! Aku mau Kalian bawa dalam keadaan hidup!"
"Tapi Tuan, saat ini dia berada di Rumah sakit tempat Tuan kemarin dirawat. Dan-"
"Aku tidak perduli! Bawa kehadapanku sekarang juga!"
"Baik Tuan! Kami permisi." Para penjaga berjas hitam memberikan hormat sebelum meninggalkan ruangan sang Tuan.
"Dia harus tetap hidup!"
Pria dengan tatapan tajam dan sorot mata penuh kebencian mengeratkan rahangnya sambil mencengkram apapun yang berada dalam genggamannya.
Di Rumah Sakit kegaduhan terjadi.
Dokter Clarisa yang melihatnya segera menghampiri.
"Ada apa ini?"
"Dokter yang menangani pasien ini?"
"Iya. Lalu?"
"Kami meminta untuk pemulangan pasien ini dan Kami akan memindahkan ke Rumah sakit lain."
Clarisa mengingat-ingat, ia sadar pria-pria yang kini menemuinya adalah orang-orang yang sama dengan orang-orang yang ia temui beberapa hari lalu.
"Pasien dalam masa observasi setelah dilakukan tindakan. Apa hubungan Anda dengan pasien?" Dokter Clarisa harus memastikan.
"Dia adalah keluarga Kami. Jadi tolong Dokter berikan saja izin kepada Kami untuk bisa membawa pasien itu sekarang juga."
Baru saja Clarisa akan menyela tiba-tiba wakil saja wakil Direktur Rumah Sakit menghampirinya dan memanggil Dokter Clarisa untum berbicara.
"Tapi kondisi pasien masih dalam masa observasi Dok." Dokter Clarisa memberikan opininya.
"Untuk itu, Saya tugaskan Kamu untuk melakukan perawatan intensif kepada pasien itu di luar Rumah Sakit ini. Tidak usah banyak tanya. Lakukan saja apa yang Aku katakan Dokter Clarisa."
Sudah bukan rahasia umum bahwa kedekatak sanh Wakil Direktur dengan pemilik Rumah Sakit bukan sekedar rumor belaka.
Bila sudah mengambil keputusan tak ada yang bisa menentang.
"Sekarang, Dokter Clarisa ikut bersama para Tuan-Tuan itu dan Saya minta Dokter laksanakan saja tugas yang memang menjadi kewajiban Dokter."
Clarisa tak mau bermasalah dengan sang Wakil Direktur ia hanya peduli dengan keselamatan pasiennya.
"Baik. Saya akan lakukan tugas dan tanggung jawab Saya!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
༄𝑓𝑠𝑝⍟🥀⃞🕊️⃝ᥴͨᏼᷛtrisak⃟K⃠👏
Lanjut torgreget bacanya
2023-07-05
1
Afternoon Honey
nyimak bacaan 📖
seru nih...
2023-06-26
1
SHINICHI KUDO
Ceritanya seru
2023-06-16
2