Setelah Martin sudah pulih pasca dirawat di Rumah Sakit, Kini Daddy Alex mengumpulkan seluruh stakeholder untuk mengumumkan berita penting.
Tampak wajah semua yang hadir menunggu sang pucuk pimpinan perusahaan berbicara secara lugas mengenai penurus sekaligus pemegang pucuk pimpinan selanjutnya yang menggantikan Daddy Alex.
"Hari ini di hadapan Kalian semua, Saya secara resmi melimpahkan semua saham dan kepemimpinan Saya kepada putra Saya, Martin Alexander.
Sambutan tepuk tangan dan dukungan terlihat jelas manakala Martin diperkenalkan secara resmi sebagai pengganti sang Ayah melanjutkan kepemimpinan di Xander Corporation.
"Terima kasih atas kepercayaan Pimpinan sebelumnya yang telah memilih Saya dalam melanjutkan amanah ini dan Saya berharap dukungan serta dorongan dari semua pihak dalam memajukan Xander Corporation ke depannya. Harapan Saya, semua stakeholder bahu membahu serta tidak sungkan memberikan saran, kritik dan solusi yang sekiranya membangun serta tak lupa, tegur Saya apabila di kemudian hari langkah atau keputusan yang Saya ambil tidak berkenan dan bertentangan dengan visi dan misi perusahaan."
Martin menganggukan kepala selesai memberikan sambutannya di hadapan para stakeholder.
Selesai acara inti, Kini Daddy Alex mengajak Martin untuk masuk ke dalam ruangannya.
"Nak, mulai hari ini Dad sepenuhnya percayakan soal perusahaan kepadamu. Selain itu jangan lupa untuk terus menjaga semua yang Dad pernah katakan kepadamu. Mereka semakin gencar secara terang-terangan menyerang Kita dari segala arah. Dengan di publikasikannya dirimu sebagai penurus dari Keluarga Xander, Dad yakin mereka tidak akan tinggal diam. Jadi Kamu harus waspada dan bersiap-siap. Malam nanti Kita akan ada acara Gala Dinner. Salah satunya akan hadir Keluarga Tuan Nick. Dad harap Kamu bisa mengenal beliau sekaligus melindunginya." Dad Alex menepuk bahu sang putra sebelum keluar meninggalkan ruangan.
Sepeninggal Dad Alex, Martin berdiri menghadap kaca besar yang langsung menghadap jantung Ibukota.
Kini, tidak lagi Martin bisa bertindak secara diam-diam. Langkahnya tentu akan menjadi sorotan.
Bukan dirinya yang ia khawatirkan. Keluarganya dan keluarga Nick yang menjadi sasaran Bryan Webber tentunya.
"Aku tidak bisa lagi bersembunyi. Mulai sekarang, Aku akan datang secara terang-terangan." batin Martin.
Di Rumah Sakit, seperti rutinitas yang biasa di lakukan, setelah visit pasien, konsul pasien rawat jalan dan ada 1 kali operasi, Dokter Clarisa berencana hendak makan siang, namun langkahnya terhenti saat melewati counter nurse dimana sedang ditayangkan oleh NBC mengenai Xander Corporation yang saat ini berubah pucuk kepemimpinan.
Netra bulat dengan bulu mata yang lentik itu membola sempurna.
Kini Caca, menyadari, bahwa pria yang beberapa waktu ia tolong adalah pimpinan tertinggi Xander Corporation, sekaligus teman masa kecilnya, Martin Alexander.
Saat di tayangan televisi, video Tuan Alexander berjabat tangan dengan sang pemimpin baru yang tak lain adalah putra tunggalnya sukses menyita perhatian.
"Wah, masih muda, tampan, mapan dan Uh spek suami idaman banget!" begitulah celetuk para perawat yang menyaksikan tayangan yang disiarkan oleh NBC.
"Siang Dok!" seorang perawat baru menyadari kehadiran Dokter Clarisa di antara tatapan fokus penuh kekaguman mereka pada berita yang kini sedang ditayangkan.
Anggukan Clarisa dan segera beranjak pergi meninggalkan kaum hawa yang sedang memuja ciptaan Tuhan yang nyaris sempurna bila dipandang mata.
Saat memasuki ruangannya, Caca meletakkan sneli dan stetoskopenya.
Duduk merehatkan sejenak tubuh yang sedikit lelah.
Namun tak sebanding dengan rasa kaget dan penasaran dengan apa yang baru saja ia lihat.
Kilasan demi kilasan terlintas di benak dan pikiran Caca.
"Apakah dia pun tak mengenaliku sebagaimana Aku tak sadar bahwa itu dia?" batin Caca seolah tak percaya namun nyata adanya.
Semua tanya dan rasa penasaran bergulung menjadi sebuah tanda tanya besar dan rasa penasaran.
Tanpa sadar mata terpejam memikirkan semua yang terjadi belakangan.
Keanehan dan semua hal yang diluar nalar menjadi misteri tersendiri bagaikan sebuah kotak pandora.
"Dret,,,Dret,,,Dret."
Ponsel Caca bergetar.
Rupa sang Bunda menghubungi.
"Assalamualaikum Bun."
"Waalaikumsalam Kak. Sedang sibukkah?"
"Tidak Bun. Ada apa?"
"Kak, nanti malam Daddy meminta Kakak untuk ikut dalam gala dinner."
"Kita sekeluarga mendapat undangan dari Om Alex dan Tante Hania."
"Insha Allah Bun. Semoga tidak ada yang urgent lagi."
"Aamiin. Kakak sudah makan siang?"
"Belum Bun, baru saja selesai."
"Jangan lupa makan ya Kak. Ya sudah Bunda lanjut nanti ya. Assalamualaikum."
"Iya Bun terima kasih. Waalaikumsalam."
Sebelum meletakkan ponsel Caca juga melihat pesan sang adik, Nabil yang meminta sang Kakak ikut menemaninya di gala dinner sebagai perwakilan NBC mendampinginya.
Caca membalas pesan Adikknya kemudian meletakkan kembali ponselnya.
Rasa lapar yang tadi datang seketika hilang.
Menuntaskan tugasnya hingga sore kini Caca bersiap meninggalkan rumah sakit.
"Ya Dek, ada apa?"
Rupanya adik bungsunya, Nadhif yang menghubungi.
"Kakak masih di Rumah Sakit?"
"Ya tapi sudah mau balik. Kamu ikut kan ke acara itu?"
Tentu saja Nadhif pun sudah pasti tahu akan undangan gala dinner tersebut.
"Iya Kak, Aku datang tapi kayaknya terlambat deh! Kakak nanti kasih pengertian sama Dad dan Bunda ya. Tahu sendiri kan. Kalo Kakak yang ngomong pasti Dad dan Bunda lebih percaya."
"Kamu ini kebiasaan sekali. Memang ada apa sampai telat?"
"Ya ada deh Kak. Please ya Kak. Kakak kan Kakakku yang paling cantik, baik dan penyayang."
"Giliran ada maunya aja muji-muji! Caca mencebikkan bibirnya mendengar rayuan gembel sang adik.
"Ya dari pada Aku minta tolong Abang, sebelas dua belas dengan Dad! Yang Ada Aku kena semprot malah!" Nadhif malah curhat.
"Kakak bilangin Dad sama Abang Kamu!" Caca menggertak.
"Ah Kakak, Kakak itu kan Ibu peri, ga bakal tega deh Adik tampanmu ini kena omel Daddy dan Bunda. Iya kan? Iya Dong?"
"Ya sudah. Tapi segera nyusul kalau keperluan Kamu sudah beres ya Dek!"
"Siap Kakakku yang cantik, baik hati dan enteng jodoh!"
"Aamiin."
"Btw, Kakak dandan yang cantik ya! Mau ketemu calon suami pasti harus kece badai dong!"
"Kamu ya, jangan sembarangan kalo ngomong! Kakak batal bantuin Kamu deh!"
"Duh jangan dong Kakakku sayang, cantik! Ibalah dengan Adik kesayanganmu ini Kak!" Suara Nadhif di buat semelas mungkin.
"Ya sudah, sampai ketemu nanti ya."
"Siap Kak, Makasi ya Kak."
"Assalamualaikum."
"Eh iya Kak, Waalaikumsalam."
Caca hanya geleng kepala saja dengan ulah Nadhif sang bungsu dikeluarganya.
"Aku sendiri entah harus canggung atau ikut saja alur cueknya. Toh dia sendiri yang memulai seperti itu." Caca kembali teringat beberapa kali moment pertemuannya dengan pasien yang nyatanya adalah Martin.
Di Mansion Daddy Alex, tampak Mommy Hania sudah sibuk membantu sang putra bersiap.
Daddy Alex yang melihat istri tercintanya sibuk sejak tadi menghampiri.
"Mom, sedang apa sih?"
"Mom sedang membantu Martin bersiap."
Daddy Alex melirik ke arah Martin yang tak nyaman dengan sikap berlebihan sang Ibu meski ia menerima saja sejak tadi bila diminta pakai ini dan itu.
"Martin itu sudah dewasa Mom. Bukan lagi anak SD yang harus Mom perlakukan begitu. Lihat, anak Kita sudah dewasa, pria gagah dan tampan. Ya sebelas dua belas lah sama Dad!"
Martin tersenyum simpul mendengar penuturan sang Daddy yang narsis.
"Tapi Martin itu kayak Kanebo kering Dad! Ganteng, tapi Kaku!" ledek Mommy Hania pada putranya.
Mendengar ucapan istrinya Dad Alex segera membawa Mom Hania meninggalkan kamar Martin agar Martin bisa leluasa dari aturan sang Mommy yang sibuk menyiapkan ini dan itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
Yani
Ternyata Caca lupa dengan wajah Martin
2023-06-27
1
manda_
lanjut lagi thor up nya pasti caca canggung ketemu sama martin
2023-06-26
1
manda_
lanjut lagi thor up nya
2023-06-26
1