"Hai Ca, apa kabar? Kamu sibukkah?"
"Aku rindu sekali sama Kamu. Kamu rindu Aku ga?"
"Oh ya. Bagaimana disana? Kamu betah di Rumah Sakit yang sekarang?"
Deretan pesan dari Chris yang baru sempat terbaca oleh Caca.
Caca pun meluangkan waktu sejenak membalas deratan pesan dari sahabatnya itu.
Tok! Tok! Tok!
Dokter Clarisa segera meletakkan ponselnya dimeja dan mempersilahkan seseorang masuk yang mengetuk pintu ruangannya.
"Maaf Dok, ada pasien Emergency di IGD dan butuh tindakan segera!" jelas seorang perawat datang memberitahu.
"Baik, Kita kesana dan siapkan segala keperluannya!"
Dokter Clarisa tentu saja akan bertindak profesional jika menyangkut profesinya, ia meletakkan ponselnya di meja karena memiliki priorotas yang lebih penting saat ini.
Di Mansion Daddy Nick, tampak kedua sahabat lama yang baru saja bertemu kini melepas rindu dan saling bertukar obrolan.
"Nick, Aku betul-betul salut. Rasanya memang Kamu pantas menjadi Gubernur Kami." Tuan Alex dengan senyum bangga mendukung sahabatnya.
"Terima kasih. Semoga langkahku Allah berikan jalan dan terus dalam lindungannya serta arahannya." Daddy Nick menanggapi.
Selagi kedua pria sedang membahas pekerjaan dan bagaimana kegiatan mereka di usia senja, Bunda Khalisa dan Mommy Hania tak kalah seru dengan obrolan mereka.
"Oh jadi Oma Marisa sedang Umroh ya? Wah kangen sekali Aku ingin ketemu Oma padahal." jawab Hania.
"Iya Baru saja kemarin. Btw Kamu menghilang begitu saja Hania. Kami rindu sama Kamu. Tadinya Dira mau ikut kesini, tapi harus mendampingi suaminya ada acara di luar kota." jawab Khalisa.
"Yah Aku juga kangen betul dengan Dira. Wah pasti triplet sudah dewasa sekarang."
"Maafkan Aku Khalisa, bukannya tak memberi kabar. Tapi sebetulnya selama di luar negeri Aku sempat sakit lama. Selain itu saat pandemi kemarin Aku pun terpapar covid 19 sampai berada di ruang ICU selama 50 hari. Aku terkena Pheumonia. Pemulihannyapun tidak sebentar. Alhamdulillah sekarang sudah sembuh. Ah, rasanya kala itu Aku seperti akan meninggalkan dunia ini. Namun Allah masih memberiku kesempatan." kenang Hania dengan segala pengalaman hidupnya.
"Masha Allah. Maafkan, Aku tidak tahu Kamu sakit. Allah maha menyembuhkan. Alhamdulillah sekarang Kamu sudah sehat. Tapi apakah masih rajin check up? Jangan mengabaikan kesehatan. Ingat masih ada anak-anak Kita yang tentu butuh perhatian dan waktu Kita." Khalisa mengusap lembut lengan Hania.
"Nah itu dia. Selama kepindahanku disini Aku belum Check Up lagi. Mau kembali ke Luar Negeri rasanya malas sekali. Oh Iya, Caca sudah jadi Dokter, siapa tahu Aku bisa berkonsultasi dengannya." jawab Hania.
"Caca sekarang sudah jadi Dokter Spesialis Bedah. Coba saja Kamu ngobrol langsung dengan Caca. Siapa tahu ia bisa merekomendasikan rekan sejawatnya untuk menangani Kamu." jawab Khalisa.
"Pasti Caca sekarang tumbuh cantik dan hebat. Dia memiliki Ibu sepertimu yang liar biasa. Ngomong-ngomong apakah hari ini Caca pulang cepat?" tanya Hania.
"Sepertinya ada sesuatu yang Emergency di Rumah Sakit. Karena sebelumnya Caca mengatakan akan pulang lebih awal."
"Ya namanya juga Dokter, tentu di Rumah Sakit akan menjadi prioritas utamanya."
"Btw, apakah Martin juga ikut denganmu kembali kesini?" Kali ini Khalisa menanyakan putra sahabatnya.
"Iya. Martin beberapa waktu lalu diminta kembali oleh Daddynya. Kami sudah cukup tua untuk mengurus sendiri perusahaan."
"Iya anak-anakku pun begitu. Kini urusan perusahaan sudah di handle mereka. Tapi qadarulloh, Daddynya anak-anak malah dipinang untuk maju pilkada."
"Tak apa Khalisa. Selama itu niat baik dan mulia. Bukankah memang perlu ada orang atau pemimpin ya betul-betul berjuang untuk masyarakat? Aku takin Tuan Nick mampu mengemban amanah itu."
"Aamiin. Semoga Allah kabulkan segala doa baik dari semuanya."
"Ngomong-ngomong, apakah Caca audah punya pacar atau calon?" kini Hania mencoba apa tang ia utarakan pada Suaminya sebelum sampai di Mansion Nick kepada Khalisa.
"Sepertinya belum. Kamipun sebagai orang tua tidak pernah mendesak dan memberikan kebebesan kepada mereka memilih pasangan hidupnya kelak."
"Aku sebetulnya ingin sekali putra putri Kita bisa bersama, maksudku Martin dan Caca bisa berkenalan, ya mereka mencoba dekat, siapa tahu ada jodohnya Khalisa."
Mendengar kata-kata jujur Hania Khalisa tersenyum.
"Memang, tidak salah Hania, sebagai orang tua Kita berusaha memberikan yang terbaik untuk putra putri Kita. Terutama soal jodoh. Namun Kita juga harus mengerti, bagaimanapun mereka punya hati dan perasaan yang tentunya dalam hal itu mereka akan menemukan pasangan dan seseorang yang klik di hati. Kita doakan saja yang terbaik agar anak-anak Kita kelak mendapat pendamping yang terbaik menurut Allah." Khalisa memberikan pandangannya.
"Aamiin."
Disisi lain, terjadi tembak menembak antara Tuan Xander dan Tim melawan Bryan Cs.
Sayangnya mereka berhasil kabur, lebih tepatnya Bryan Cs berhasil lolos dari kepungan Tuan Xander dan Tim.
"Tuan, perut Anda terluka. Kita harus ke Rumah sakit."
Kesadaran Tuan Xander seketika hilang dan langsung di bawa oleh timnya ke Rumah Sakit terdekat.
Kini dalam ruang operasi Dokter Clarisa sedang melakukan tindakan pada sang pasien yang berada dalam keadaan tak sadarkan diri saat ia masuk ke ruangan tindakan.
Dengan cekatan dan teliti serta konsentrasi penuh hampir 2 jam akhirnya Dokter Clarisa berhasil menyelesaikan tugasnya.
"Bagaimana keadaan Tuan Kami Dokter?"
Baru saja keluar dari ruangan operasi Dokter Clarisa sudah diberondong pertanyaan oleh kumpulan pria berjas hitam.
Seseorang tampak tak asing bagi Khalisa meski ia sendiri lupa apakah pernah bertemu atau sekedar de javu.
"Kondisi pasien saat ini masih belum sadar pasca operasi. Namun kondisi kritisnya sudah terlewati. Dan pasien masih harus di rawat di Rumah Sakit secara intensif." jawab Dokter Clarisa.
"Baik Dok." jawaban singkat.
Kembali ke Mansion Daddy Nick tampak seseorang menghubungi Daddy Alex.
"Nick, maaf Kami sepertinya harus pulang. Lain waktu Kami akan berkunjung kembali atau jika ada waktu luang Kami akan mengundang Kamu dan Khalisa ke tempat Kami." pamit Daddy Alex.
"Yah, padahal Aku masih kangen dengan Khalisa Dad. Khalisa kalau begitu, Aku pamit ya. Lain waktu Kita me time, ajak Dira sekalian."
Kedua wanita paruh baya yang masih cantik itu bercipika cipiki dan berpelukan sebelum benar-benar berpisah.
"Terima kasih Alex sudah menyempatkan datang ke kediaman Kami. Kami pun berterima kasih atas undangannya. Insha Allah Kami akan menyempatkan datang bersilahturahmi." jawab Daddy Nick.
"Kalau begitu Kami pulang dulu ya, Assalamualaikum."
"Hati-hati di jalan. Waalaikumsalam." jawab Daddy Nick dan Bunda Khalisa membalas lambaian tangan Mommy Hania.
"Kenapa Kita buru-buru pulang Dad, Mom masik asik ngobrol dengan Khalisa." protes Hania pada sang suami.
"Maafkan Daddy Mom, tapi baru saja Daddy lupa, sudah janji dengan rekan bisnis, dan ia sudah menunggu. Taoi Mommy tak perlu mendampingi, Mommy istirahat saja ya. Daddy tidak mau Mommy capek."
"Daddy juga, jangan pulang terlalu malam. Ingat kesehatan." pesan Mommy Hania.
"Iya Sayang."
Dalam kepala Daddy Alex tentu sedang berpikir keras mengenai kabar yang ia terima saat dikediaman Nick.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
bysa47😍😍
Martin dah dua kali kamu d selamat ka perantara sama caca
2023-06-22
1
🌺awan's wife🌺
Martin terluka lagi
2023-06-22
1
Yani
Yang di tangani Caca ternyata Martin
2023-06-22
1