Di Sebuah Mansion yang megah namun terasa begitu sepi bagi sepasang paruh baya yang sedang menanti kehadiran putra tunggal mereka yang telah lama belum pulang.
"Mom." Wanita yang kini duduk bersama pria seumurnya menoleh segera bangkit begitu tahu suara yang ia rindukan kini ada di hadapannya.
Pria gagah dengan balutan jaket hitam membalas pelukan hangat penuh kerinduan seorang Ibu kepada putra satu-satunya yang kini akhirnya kembali le pelukannya.
Pria baya yang tak lain adalah suaminya berjalan mendekat menghampiri keduanya yang tengah melepas rindu.
"Dad. Aku disini."
Hanya anggukan yang diberikan pria yang ia panggil Daddy meski sorot mata teduh jelas tersirat dari netra yang mulai menua.
Ketiganya kini duduk menikmati santap malam dengan berbagai hidangan.
"Sayang, Mom senang sekali. Akhirnya Kita bisa berkumpul bersama lagi. Jangan pergi lagi ya. Mommu dan Daddy sudah tua. Siapa yang akan menjaga Kami kalau Kamu tidak disini."
Padahal tak sedikit bodyguard yang mengawal kedua orang tuanya.
Kemanapun kedua orang tuanya melangkah tak lebij dari 100 meter para bodyguard selalu stand by mengawasi.
Namun begitulah perasaan seorang Ibu, manakala putra tunggal kesayangannya yang sejak dulu memilih menimba ilmu diluar negeri hingga betah stay disana sampai kini akhirnya mau kembali.
"Bagaimana kesehatan Mom? Daddy bilang Mommy sering sakit."
Setegar dan sehebat apapun ia diluar sana tetap saja ketika berhadapn dengan pemilik surganya, sura khawatir dan penuh kelembutan tersuguh sebagai bukti kasih sayang.
"Mom sakit karena terlalu merindukan putra tersayang Mom."
Mommy Hania memang kini tak lagi muda. Perasaannya lebih sensitif terlebih anak satu-satunya jauh dari dirinya.
"Mom, sudah dramanya. Biarkan Martin makan dulu. Ia pasti lelah dan lapar. Rindu pula dengan masakan Mommynya." Daddy Alex menggenggam tangan istri tercintanya yang sejak tadi merajuk di hadapan sang putra.
"Daddy ini meledek Mommy ya? Martin tahu, Kalau Mommynya ini tak pandai memasak." Meski sudah tua tapi kemesraan Daddy Alex dan Mommy Hania tak lekang oleh waktu.
Melihat bagaimana kedua orang tuanya tak pernah berubah meski rambut keduanya sudah mulai banyak memutih membuat bahagia dihati Martin.
Mommy Hania tak henti-hentinya mengajak sang putra ngobol apapun, melepas rindu yang telah menggunung.
"Mom, istirahat. Sudah malam." ajak Daddy Alex.
"Iya Mom. Mommy istirahat ya." bujuk Martin.
"Ok, baiklah tampan-tampan kesayangan Mom. Mo. Akan istirahat. Tapi jangan pergi ya. Besok Mommy akan lanjut mengobrol lagi sama Kamu."
"Iya Mom."
"Malam Sayang."
"Malam Mom."
Selepas kedua orang tuanya beranjak menuju kamsr mereka, Martin memilih menuju taman belakang sekitaran pool.
Disana Martin mencari udara segar.
Rasanya sudah lama ia meninggalkan Mansion dan kini ia sudah berada disini lengkap dengan segala memorinya dimasa lalu.
Sekilas terlintas pertemuan singkatnya dengan Caca.
Semburat senyum terukir indah di wajah pria yang kini lebih banyak berekspresi datar.
"Ekhem."
Martin menoleh kebelakang, rupanya Daddy Alex yang menghampirinya.
"Mom sudah tidur Dad?"
"Sudah. Kamu belum istirahat Nak?"
"Dad, sebetulnya apa yang membuat Daddy memintaku pulang?"
Martin kini menatap pria baya yang masih tampak berkharisma dengan segudang rahasi masa lalunya.
"Mereka kembali Nak."
Martin paham maksud sang Ayah.
"Bukankah mereka sudah dibereskan?"
"Bryan Weber. Ia akan membalaskan dendam kematian Ayahnya. Dan itu akan menjadi ancaman tidak hanya bagi Keluarga Kita."
Martin mengerutkan dahinya.
"Maksud Daddy?"
"Kamu masih ingat Uncle Nick rekan bisnis Daddy? Rupanya dulu keluarga mereka semoat bermasalah dengan Pamanmu. Dan Daddy dengar, Bryan akan membuat perhitungan kepada siapapun yang dianggap menjadi penyebab kematian Ayahnya Max Webber."
"Kita habisi saja Dad."
"Kali ini melibatkan pihak lain. Dan Daddy tidak mau keluarga Tuan Nick menjadi sasaran balas dendam Bryan."
"Lalu?"
"Daddy mau Kamu melindungi mereka."
"Kita bisa mengirimkan secara rahasia pengawal untuk mengawasi Keluarga Uncle Nick."
"Tidak cukup Martin."
"Lantas?"
"Kamu harus menjadi bagian Keluarga Uncle Nick."
"Aku semakin tidak mengerti. Katakan saja apa niat Dad sebenarnya."
"Nikahilah putri Uncle Nick."
"Jangan bercanda Dad! Daddy memintaku hanya untuk main drama seperti ini. Aku lebih baik kembali."
"Martin!"
Suara berat Daddy Alex menghentikan langkah Martin yang sudah berbalik hendak pergi.
"Daddy tahu. Selama ini Kamu menghindari Clarisa karena latar belakang keluarga Kita. Daddy tahu sejak dulu Kamu menyukainya. Kini saatnya Kamu melindungi dia."
Martin tak mengindahkan kata-kata Daddy Alex memilih pergi menuju kamarnya.
Dalam kamar Martin seolah meleoas amarahnya.
Sejak mengetahui seperti apa latar belakang kekuarganya dan segala konflik yang tak berkesudahan di internal keluarga besar mereka hingga Martin harus terlibat dengan Dunia Mafia yang sudah menjadi akar dari Kakeknya, Ayah Daddy Alex ia memilih pergi mengubur perasaannya dan menjauh dari lingkungan sekitarnya.
Tapi kini, situasi sulit dihadapi Martin dimana ia harus melindungi keluarga Uncle Nick dan wanita yang ia cintai selama ini.
"Bukan dengan cara ini Aku ingin bersamamu, tapi mengapa semua begitu rumit?" batin Martin seakan perih.
"Aku bukan Martin yang dulu, Entah audah berapa nyawa yang habis lewat tanganku. Aku tak pantas berada disisimu."
"Tapi, berurusan dengan keturunan Max Webber, bahkan Bryan Webber lebih gila dari Ayahnya. Aku tidak mau sampai terjadi apa-apa denganmu. Tuhan! Aku bisa gila hanya dengan membayangkannya saja!"
Tinju Martin terlepas membentur kaca di kamarnya hingga pecah berkeping-keping.
Darah segar mengalir dari jemari hingga pecahan kaca menancap bebas menghujam buku-buku jemari yang tak sedikitpun terasa perih.
Lebih perih hatinya yang tak bisa membayangkan jika Caca, tahu siapa dia sebenarnya sekarang.
Segala rasa, gundah berkecamuk dalam benak Martin.
Disatu sisi ia seharusnya senang, bahwa ada kesempatan bisa berdekatan dengan Caca namun disisi lain, ia tak siap akan kenyataan yang sebenarnya jika Caca tahu seperti apa ia sekarang.
Ponsel Martin berdering.
Sebuah notifikasi pesan masuk.
Martin meraih melihat apa yang terkirim pada ponselnya.
"Bagaimana, rupanya Dokter Cantik ini sudah ada di negaranya. Ah, Aku sangat bahagia jika bisa menculiknya dan bersenang-senang dengan wanita secantik Clarisa Aurora Bryan."
Martin meremat ponselnya tak lama ia menghubungi nomor itu.
"Kurang ajar Kau Bryan! Tak akan kubiarkan sehelai rambutpun Kau sentuh dia! Jika Kau berani macam-macam, Ku pastikan tidak hanya Kau yang mati tapi seluruh keluargamu!"
Panggilan ponsel Martin dimatikan dan suara tawa terdengar renyah disebrang sana sebelum komunikasi mereka terputus.
"Tak bisa dibiarkan. Aku akan lakukan cara. Bagaimanpun demi keselamatan Caca, apapun akan Aku lakukan!"
Martin mengepal tangannya dan tak lama ia menelpon seseorang berbicara secara gamblang penuh siasat.
"Baik Tuan, Kami akan laksanakan!"
Setelah menutup telponnya Martin menatap sisa cermin yang berantakan,
"Aku akan melindungimu dengan segenap nyawaku!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
Yani
Konflik yang rumit
2023-06-21
1
manda_
lanjut thor semangat buat up lagi ya ditunggu thor
2023-06-19
2
Lilis mulyati
msalh ini lebh rumit bkan mlibatkan kluarga nick tpi jga klurga khalista krna ini smua berawal dri keslhan papanya dira yg dlu hmpir mnjdokan dira max seandainya itu tdak trjdi sdah pasti martin akan hdup bhgia dngan caca.ayoo martin kmu hrus lindungi caca dna sluruh kelurganya bla perlu bkerjasma dngan smua anggota laki2 dri klurga salman dira dan jga adik2 caca
2023-06-19
4